Tragedi 101 Ilustrasi dan Pemicu yang Tak Terduga

Tragedi 101 Ilustrasi ~ Ada beberapa kenangan dalam hidup yang ingin sekali kita hapus, namun justru kenangan itulah yang menempel paling erat di dinding ingatan. Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah masa pencarian jati diri yang penuh tawa. Namun bagiku, dan teman-teman sekelasku di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), ada satu semester yang mengubah cara pandang kami tentang hidup, kematian, dan beban tersembunyi yang dipikul seseorang.

​Ini adalah kisah nyata tragedi 101 ilustrasi, sebuah peristiwa kelam yang terjadi beberapa tahun lalu. Sebuah momen shocking yang tak terlupakan, yang mengajarkan kami bahwa senyum paling lebar seringkali menyembunyikan luka paling dalam.

​Persahabatan di Tengah Garis dan Warna

Persahabatan di Tengah Garis dan Warna

​Sebagai mahasiswa DKV, hidup kami berkutat pada garis, warna, konsep, dan tentu saja: begadang. Di kelasku, komposisinya cukup unik. Dari sekian banyak mahasiswa, hanya ada lima orang perempuan, termasuk aku. Sisanya adalah laki-laki. Meski minoritas, kami tidak pernah merasa terasing. Justru sebaliknya, kelas kami adalah definisi dari kata “solid”.

​Kami bukan sekadar teman kuliah yang bertemu saat jam mata kuliah dimulai dan bubar saat dosen keluar. Kami adalah keluarga. Mengerjakan tugas studio bersama sampai pagi, berbagi mie instan di kosan teman, hingga saling bahu-membahu saat ada yang kesulitan dengan software desain.

​Di antara riuh rendah suara tawa di kelas kami, ada satu sosok yang selalu menjadi pusat gravitasi kebahagiaan. Mari kita sebut dia Elian.

​Elian adalah mahasiswa perantauan dari Indonesia Timur. Secara fisik, dia mudah dikenali, tetapi yang membuatnya istimewa adalah karakternya. Dia adalah definisi orang yang “ngocol”, humoris, dan sangat dermawan. Elian sering sekali mentraktir kami, terutama kami yang berlima (geng cewek ini), makan di kantin tanpa alasan yang jelas.

​”Makan saja, biar kalian semangat bikin tugasnya,” begitu katanya seringkali sambil tertawa lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih kontras dengan kulitnya yang eksotis. Matanya selalu berbinar, seolah tidak ada beban hidup yang mampu meredupkan cahayanya. Tidak ada satu pun dari kami yang menyangka, bahwa di balik tawa renyah dan dompetnya yang selalu terbuka untuk teman-teman, Elian sedang memikul gunung masalah yang siap meletus kapan saja.

​Kedatangan Dosen Baru dan Standar yang Menguncang

Kedatangan Dosen Baru dan Standar yang Menguncang

​Semester baru dimulai dengan angin perubahan, yang awalnya kami anggap segar, namun belakangan terasa mencekam. Kami kedatangan seorang dosen baru untuk mata kuliah inti DKV. Sebut saja beliau Pak Adrian.

​Pak Adrian memiliki rekam jejak yang mentereng. Beliau adalah lulusan luar negeri dan sebelumnya pernah mengajar di universitas internasional. Tentu saja, gaya mengajarnya berbeda 180 derajat dengan dosen-dosen lokal yang biasa kami hadapi. Beliau membawa standar global, disiplin baja, dan ekspektasi yang melangit.

​Secara pribadi, aku sebenarnya tidak memiliki masalah dengan cara mengajar Pak Adrian. Sebagai mahasiswa desain, aku sadar bahwa dunia industri nanti akan jauh lebih kejam daripada ruang kelas. Aku punya caraku sendiri untuk menyerap ilmu dan beradaptasi dengan tekanan. Namun, tidak semua orang memiliki mekanisme pertahanan diri yang sama.

​Masalah dimulai ketika Pak Adrian memberikan sebuah tugas yang membuat seisi kelas menahan napas.

​”Untuk minggu depan,” katanya dengan nada datar namun tegas, “Saya ingin kalian membuat 101 ilustrasi yang berhubungan dengan proses branding. Ingat, 101 sketsa tangan. Kualitas harus terjaga. Tidak ada alasan.”

​Satu minggu. 101 ilustrasi.

​Gelombang protes tertahan langsung terasa di ruangan itu. Gerutuan-gerutuan kecil mulai terdengar begitu beliau melangkah keluar kelas.

​”Gila, ini bukan satu-satunya matkul kita!” keluh salah satu teman.

“Tugas nirmana aja belum kelar, ditambah ini?” sahut yang lain.

​Tapi, kami sadar kami tidak punya pilihan. Minggu itu menjadi minggu neraka bagi kami. Warung kopi di sekitar kampus penuh dengan anak-anak kelas kami yang menggambar seperti orang kesurupan. Lingkaran hitam di bawah mata menjadi riasan wajib kami. Kami semua berjuang, mengeluh, tapi terus menggoreskan pena di atas kertas.

​Hari Penghakiman di Ruang Kelas

Hari Penghakiman di Ruang Kelas

​Satu minggu berlalu dengan sangat lambat namun berakhir terlalu cepat. Hari pengumpulan tugas pun tiba. Suasana kelas pagi itu tegang. Bau spidol, kertas, dan keringat dingin bercampur di udara. Hampir semua mahasiswa berhasil menyelesaikan tugas tersebut, atau setidaknya, menyelesaikannya sebagian besar. Beberapa teman yang tidak mencapai angka 101 masih diizinkan mengumpulkan, meski dengan catatan pengurangan nilai.

​Pak Adrian duduk di depan, memanggil nama satu per satu, memeriksa tumpukan kertas dengan tatapan tajam.

​Hingga akhirnya, nama Elian dipanggil.

​”Elian,” panggil Pak Adrian.

​Elian maju ke depan. Langkahnya pelan. Tidak ada tawa “ngocol” yang biasa ia bawa. Ia berdiri di depan meja dosen dengan tangan kosong.

​”Mana tugas kamu?” tanya Pak Adrian.

​Hening.

​Elian tidak menjawab. Fakta yang kemudian terungkap membuat kami semua ternganga, Elian sama sekali tidak menyelesaikan satu pun dari 101 ilustrasi yang ditugaskan. Kertasnya kosong.

​Amarah Pak Adrian meledak.

​Beliau langsung memarahi Elian di depan kami semua. Menggunakan bahasa khas dosen desain senior yang sedang kecewa berat, tajam, menusuk, dan tanpa filter. Anak desain pasti paham bagaimana rasanya ketika dosen sudah masuk ke mode “maki-maki”. Rasanya harga diri dikuliti lembar demi lembar.

​”Kamu niat kuliah tidak? Kalau tidak sanggup mengikuti standar saya, keluar saja!” Suara Pak Adrian menggema di ruang kelas yang sunyi senyap.

​Cukup lama Elian berdiri di sana, menjadi sasaran amarah. Dia hanya menunduk. Tidak membantah, tidak mencari alasan. Kami yang melihatnya dari bangku penonton merasa campur aduk, takut, kasihan, dan bingung. Kenapa Elian yang biasanya rajin bisa tidak mengerjakan sama sekali?

​Namun, di ujung kemarahannya, Pak Adrian masih memberikan sedikit belas kasih, atau mungkin ultimatum.

​”Saya beri kamu waktu dua hari,” kata Pak Adrian dengan nafas yang masih memburu. “Selesaikan tugas itu. Bawa ke meja saya lusa. Sekarang kembali ke tempat dudukmu.”

​Elian berjalan kembali ke kursinya dengan gontai. Aura keceriaannya lenyap tak berbekas. Melihat kondisinya yang begitu terpukul, naluri persahabatan di kelas kami langsung bekerja.

​Begitu kelas bubar, beberapa teman laki-laki langsung mengerumuni Elian. Mereka menepuk pundaknya, mencoba menyalurkan kekuatan.

​”Tenang aja, Yan. Entar kita-kita bantuin bikin deh,” hibur salah satu teman.

“Iya, kita keroyokan aja biar cepet kelar. Bisa dikumpulin lusa kok.”

​Elian hanya tersenyum tipis. Sangat tipis. Senyum yang menyiratkan terima kasih, namun matanya kosong.

​Berita Duka – Tragedi 101 Ilustrasi

Berita Duka - Tragedi 101 Ilustrasi

​Hari itu kuliah selesai lebih cepat dari biasanya. Mood kami sudah berantakan. Sebagian ada yang langsung pulang untuk mengejar tidur yang hilang seminggu ini, sebagian lagi masih nongkrong di kampus karena malas menghadapi kemacetan sore.

​Aku kebetulan mampir ke kosan seorang teman yang letaknya tidak jauh dari kampus. Kami mengobrol santai, mencoba melupakan ketegangan di kelas tadi pagi. Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Matahari mulai condong ke barat, memberikan cahaya oranye yang hangat.

​Tiba-tiba, ponsel kami berbunyi hampir bersamaan. Notifikasi dari grup WhatsApp kelas.

​Aku membuka pesan itu. Membacanya sekali. Tidak percaya. Membacanya lagi. Nafasku tercekat.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Guys, Elian ditemukan gantung diri di kosannya.”

Wait… what?

​Duniaku rasanya berhenti berputar sejenak. Otakku menolak memproses informasi itu. Baru tadi pagi kami melihatnya. Baru tadi siang teman-teman berjanji akan membantunya mengerjakan tugas. Bagaimana mungkin?

​Kami semua syok. Pertanyaan itu berputar di kepala kami semua, “Kenapa?”

Semua orang, termasuk aku, mengira Elian mengakhiri hidupnya karena masalah tugas 101 ilustrasi itu. Pikiran kami langsung tertuju pada kejadian di kelas tadi pagi.

​”Kenapa dia nekat? Kita kan udah sepakat mau bantuin dia beresin tugasnya?” tanya seorang teman dengan suara bergetar di tengah isak tangisnya.

​Kabar kematian Elian menyebar secepat kilat. Bukan hanya di kelas kami, tapi ke seluruh fakultas. Rumor liar mulai berhembus kencang. Narasi yang terbentuk di masyarakat kampus sangat sederhana namun mematikan, Seorang mahasiswa bunuh diri karena depresi ditekan oleh tugas dosen baru yang kejam.

​Kampus yang Diselimuti Kabut “Gloomy”

Kampus yang Diselimuti Kabut "Gloomy"

​Hari-hari setelah kepergian Elian, kampus terasa seperti rumah duka raksasa.

​Padahal, baru sebulan yang lalu kami melakukan foto kelas bersama. Di foto itu, Elian tertawa paling lebar, matanya berbinar, ekspresinya sangat hidup. Kini, melihat foto itu hanya mendatangkan rasa perih di dada. Bagaimana bisa seseorang yang terlihat paling bahagia ternyata adalah yang paling menderita?

​Dampak kejadian ini sangat masif. Dosen-dosen mata kuliah lain yang mengajar di kelas kami pun ikut terbawa suasana gloomy. Mood kami sekelas hancur lebur. Tidak ada semangat belajar. Dosen pun mengerti. Kegiatan kuliah berlangsung hampir seminggu dengan pola yang sama, Dosen masuk, memberikan tugas sekadarnya, kami mengumpulkan, lalu dibubarkan. Tidak ada diskusi, tidak ada tawa.

​Di balik layar, kejadian ini memancing pihak Dekanat Fakultas untuk bergerak. Investigasi dilakukan, meski tidak secara terbuka. Tekanan sosial terhadap Pak Adrian, dosen baru itu, semakin kuat.

​Tidak sedikit anak-anak DKV dari kelas lain yang ikut-ikutan menuduh. Mereka, yang mungkin juga punya masalah pribadi atau dendam terselubung karena pernah dimarahi Pak Adrian, menggunakan momen ini untuk “balas dendam”.

​”Gara-gara dosen itu tuh, anak orang sampai meninggal,” bisik-bisik di lorong kampus terdengar menyakitkan. Secara tidak langsung, mereka melabeli Pak Adrian sebagai “pembunuh”.

​Wali dosen kami akhirnya mengumpulkan kami. Beliau menanyai kami secara langsung tentang kronologi kejadian hari itu. Bagaimana Elian dimarahi? Seberapa keras kata-katanya? Bagaimana reaksi Elian? Kami menjawab apa adanya, dengan jujur, tanpa melebih-lebihkan, meski hati kami masih dipenuhi amarah dan kesedihan.

​Pengunduran Diri dan Kebenaran yang Terlambat

Pengunduran Diri dan Kebenaran yang Terlambat

​Selang beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar mengejutkan lainnya, Pak Adrian mengundurkan diri.

​Berita ini disambut dengan sorak sorai kemenangan oleh sebagian mahasiswa yang memang tidak menyukai gaya mengajarnya yang keras. Tapi jujur, bagiku pribadi, ada rasa yang disayangkan.

​Terlepas dari kejadian itu, aku harus mengakui bahwa secara keilmuan, Pak Adrian sangat kompeten. Cara mengajarnya membuka wawasan baru, dan beliau sebenarnya asyik jika kita bisa mengikuti ritmenya. Beliau tegas, ya. Mungkin terlalu tegas untuk karakter mahasiswa di sini yang terbiasa santai. Tapi apakah beliau pantas disalahkan sepenuhnya atas kematian Elian?

​Pertanyaan itu akhirnya terjawab beberapa waktu kemudian. Dan jawabannya menampar kami semua lebih keras daripada bentakan dosen manapun.

​Keluarga Elian, tepatnya kakaknya yang pertama kali menemukan jenazahnya, membuka suara kepada perwakilan kelas kami. Kakaknya menemukan suicide note (surat wasiat) yang ditinggalkan Elian.

​Isi surat itu mengubah segalanya.

​Elian memutuskan mengakhiri hidupnya bukan karena tugas 101 ilustrasi. Bukan karena dimarahi Pak Adrian. Itu semua hanyalah puncak gunung es.

​Penyebab utamanya adalah permasalahan keluarga dan harga diri.

​Ternyata, Elian sudah dijodohkan sejak kecil oleh orang tuanya di kampung halaman. Itu adalah tradisi yang masih dipegang teguh oleh keluarganya. Elian menerima itu. Namun, beberapa hari sebelum kejadian, Elian mendapat kabar yang menghancurkan hatinya, Tunangannya membatalkan pertunangan tersebut secara sepihak.

​Alasannya? Sang wanita lebih memilih laki-laki lain.

​Bagi Elian, seorang laki-laki Timur yang memegang teguh kehormatan, ini bukan sekadar patah hati. Ini adalah rasa sakit yang bercampur dengan rasa malu yang luar biasa (siri’).

​Bayangkan beban yang ia pikul. Ia sangat menyayangi tunangannya itu. Keluarganya di kampung pun sudah menyiapkan segalanya untuk pesta pernikahan besar-besaran yang rencananya akan digelar setelah Elian wisuda nanti. Semua harapan itu, semua persiapan itu, hancur dalam sekejap. Dia merasa gagal sebagai anak, gagal sebagai laki-laki, dan gagal menjaga kehormatan keluarga.

​Di tengah badai emosi yang menghancurkan jiwanya itulah, tugas 101 ilustrasi datang.

​Ketika mentalnya sudah berada di titik nol, ketika jiwanya sudah rapuh karena pengkhianatan cinta dan rasa malu keluarga, bentakan di kelas hari itu menjadi pemicu terakhir. Itu adalah “trigger” kecil yang meledakkan bom waktu yang sudah berdetak lama di dadanya.

​Tugas kuliah itu hanyalah masalah kecil. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan bantuan teman-teman. Tapi bagi Elian yang sedang tenggelam, setetes air pun cukup untuk membuatnya tersedak dan mati lemas.

​Apa yang Kita Lihat Belum Tentu Kebenaran

​Mengetahui kebenaran itu membuat kami semakin terpukul. Ada rasa bersalah yang menyeruak.

​Kami teman sekelasnya. Kami sering makan bersamanya. Kami tertawa bersamanya. Tapi kami sama sekali tidak tahu bahwa dia sedang bertarung sendirian melawan rasa malu dan kehancuran hati yang begitu hebat. Topeng keceriaan yang ia pakai begitu sempurna, sampai-sampai kami tertipu mentah-mentah.

​Kejadian ini menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupku, melebihi semua teori desain yang pernah kupelajari.

​Aku belajar bahwa kita harus lebih peka. Bahwa pertanyaan sederhana seperti “Apa kabar?” atau “Lu oke nggak?” bisa sangat berarti. Aku belajar bahwa kita tidak boleh cepat menghakimi, baik itu kepada teman yang terlihat malas mengerjakan tugas, maupun kepada dosen yang terlihat kejam. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik layar kehidupan orang lain.

​Elian telah pergi. Dosen itu telah mundur. Hidup kami terus berjalan. Namun, di sudut ruang kelas itu, bayangan tawa Elian akan selalu ada.

​Untuk Elian, sahabat kami yang ceria. Maafkan kami yang terlambat menyadari lukamu. Tugasmu di dunia sudah selesai, kawan. Tidak ada lagi ilustrasi yang harus kau kejar.

Rest in Love, Elian. We’ll miss you.

Note : Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental atau memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional atau berbicara dengan orang terdekat. Anda tidak sendirian.

2 thoughts on “Tragedi 101 Ilustrasi dan Pemicu yang Tak Terduga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
Tumbal Amuk Massa, Jerit Roshan Khatoon di Tengah Keadilan Palsu

Tumbal Amuk Massa, Jerit Roshan Khatoon di Tengah Keadilan Palsu

Eksorsisme Kematian – Ritual Pengusiran Setan yang Membunuh Adikku

Eksorsisme Kematian – Ritual Pengusiran Setan yang Membunuh Adikku

Kutukan Papan Arwah – Satu-Satunya Laporan Resmi Kepolisian Tentang Hantu

Kutukan Papan Arwah – Satu-Satunya Laporan Resmi Kepolisian Tentang Hantu

Delusi Haus Liur Kematian – Pembantaian di Ladang Tebu

Delusi Haus Liur Kematian – Pembantaian di Ladang Tebu

Sindikat Eksploitasi Anak Jalanan Berkedok Panti Asuhan

Sindikat Eksploitasi Anak Jalanan Berkedok Panti Asuhan

Tumbal Nyawa Pesugihan Hitam – Kesaksian Anak Terakhir

Tumbal Nyawa Pesugihan Hitam – Kesaksian Anak Terakhir

Populer
No popular posts within this time range.