Menjadi saksi dari delusi haus liur kematian adalah sebuah kutukan traumatis yang menghancurkan kewarasanku hingga ke akar-akarnya. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku mengunci rapat memori kelam ini di sudut paling gelap dalam kepalaku. Setiap kali aku melewati hamparan perkebunan yang sepi atau mencium aroma manis getah tanaman yang menguar di udara malam, perutku selalu mual. Tanganku kembali gemetar, dan napasku terasa dicekik oleh tangan tak kasat mata.
Namaku Ratna. Kisah yang akan kalian baca ini bukanlah fiksi, legenda urban, atau dongeng pengantar tidur untuk menakuti anak-anak. Ini adalah rekam jejak murni dari sejarah kriminal paling biadab dan tak masuk akal yang pernah mencoreng negeri kita di akhir dekade 90-an.
Namun, kengeriannya, manipulasi psikologisnya, dan ritual sinting di balik tragedi ini adalah seratus persen fakta. Ini adalah cerita tentang bagaimana keputusasaan manusia bisa dimanfaatkan oleh sosok psikopat berdarah dingin yang bersembunyi di balik jubah kesucian.

Desa kami dulunya adalah sebuah permukiman agraris yang tenang di salah satu sudut pulau Sumatera. Mayoritas penduduknya hidup dari hasil bertani atau bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu berskala besar yang mengelilingi wilayah kami. Di ujung desa tersebut, tinggallah seorang pria paruh baya yang sangat dihormati oleh warga. Sebut saja ia Mbah Sura.
Mbah Sura bukanlah sosok yang menakutkan atau berwajah garang. Sebaliknya, ia adalah pria yang murah senyum, bertutur kata sangat lembut, dan sering memberikan sumbangan untuk acara-acara desa. Ia dikenal sebagai “orang pintar” atau dukun pengobatan alternatif. Berbeda dengan dukun palsu yang sering memeras harta pasiennya, Mbah Sura menetapkan tarif yang sangat seikhlasnya.
Karena reputasinya yang dermawan dan karismatik, rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Namun, ada satu hal yang membedakan tamu Mbah Sura dengan tamu dukun lainnya, yaitu mayoritas dari mereka adalah perempuan.
Perempuan-perempuan ini datang dari berbagai latar belakang. Ada yang datang dari desa sebelah, ada pula wanita-wanita berpakaian mewah yang sengaja mengendarai mobil dari ibu kota provinsi. Motivasi mereka bermacam-macam, namun akarnya sama, yaitu keputusasaan. Mereka datang untuk meminta pelaris dagangan, meminta susuk agar disayang suami yang gemar berselingkuh, hingga meminta doa agar segera mendapatkan jodoh.
Di tengah masyarakat yang masih memegang erat kepercayaan mistis, Mbah Sura dianggap sebagai dewa penolong. Tidak ada satu pun dari kami yang menyadari bahwa senyum kebapakan Mbah Sura adalah jebakan mematikan, dan rumahnya adalah pintu gerbang menuju neraka.

Kecurigaanku bermula pada pertengahan tahun 1997. Saat itu, sahabat terdekatku sejak kecil, Ningsih, sedang mengalami masa-masa paling hancur dalam hidupnya. Suaminya baru saja meninggalkannya demi wanita lain, meninggalkannya dengan status janda yang saat itu masih dianggap sebagai aib sosial di kampung kami.
Ningsih menjadi sangat tertutup dan sering menangis sendirian. Suatu sore, ia datang ke rumahku dengan wajah yang sedikit lebih cerah. Matanya memancarkan secercah harapan yang sudah lama tidak kulihat.
”Rat, aku sudah menemukan solusinya,” bisik Ningsih sambil menggenggam tanganku erat. “Aku mau ke tempat Mbah Sura. Katanya, Mbah Sura punya ritual khusus untuk mengikat kembali sukma suami yang kabur. Syaratnya cuma satu, ritualnya harus dilakukan tengah malam, tepat pada hari weton kelahiranku.”
Mendengar hal itu, perasaanku langsung tidak enak. “Ningsih, kamu jangan aneh-aneh. Kalau siang hari tidak apa-apa kamu ke sana, tapi ini tengah malam? Laki-laki dan perempuan berduaan malam-malam melakukan ritual, itu tidak wajar. Jangan pergi, Rat. Uangmu bisa habis.”
Ningsih menggeleng cepat. “Mbah Sura tidak minta uang, Ratna! Beliau orang suci. Lagipula ini demi masa depanku. Malam ini jam sebelas aku akan ke sana. Tolong rahasiakan ini dari ibuku, ya? Besok pagi aku pasti sudah pulang.”
Itu adalah senyum terakhir yang kulihat dari wajah sahabatku.
Keesokan harinya, Ningsih tidak kembali. Dua hari berlalu, rumahnya tetap kosong. Tiga hari kemudian, ibunya mulai menangis histeris keliling desa mencari anaknya. Ketika aku memberanikan diri memberitahu ibu Ningsih dan kepala desa bahwa tujuan terakhir Ningsih adalah rumah Mbah Sura, warga beramai-ramai mendatangi rumah dukun tersebut.
Mbah Sura menemui kami di teras rumahnya dengan wajah yang sangat tenang. Ia bahkan menyajikan teh hangat untuk kepala desa.
”Ningsih memang datang ke mari tiga hari yang lalu,” kata Mbah Sura dengan suaranya yang lembut dan penuh simpati. “Tapi dia hanya sebentar. Setelah saya berikan air doa, dia langsung pamit pulang. Katanya dia mau pergi menyusul suaminya ke kota. Saya pikir dia sudah memberitahu keluarganya.”
Logika warga desa yang polos dengan mudah dibungkam oleh wibawa sang dukun. Mereka memercayai skenario itu. Lagipula, hilangnya seorang janda yang sedang stres sering kali dikaitkan dengan pelarian diri. Kasus itu ditutup begitu saja.
Namun, di dalam hatiku, alarm bahaya berdering kencang. Ningsih tidak membawa sehelai pun pakaian dari lemarinya. Ningsih tidak membawa kartu identitasnya. Ningsih tidak mungkin pergi ke kota tanpa memberitahuku. Dan yang paling mengerikan, aku menyadari bahwa Ningsih bukanlah perempuan pertama yang “pergi ke kota” setelah mengunjungi rumah Mbah Sura dan tidak pernah kembali lagi.

Rasa bersalah karena tidak berhasil menahan Ningsih malam itu terus menghantuiku hingga aku tidak bisa tidur. Memasuki minggu kedua setelah kepergian Ningsih, dorongan untuk mencari kebenaran mengalahkan rasa takutku.
Aku tahu Mbah Sura selalu melakukan ritual khususnya pada malam-malam tertentu, terutama pada malam Jumat Kliwon. Berbekal senter kecil yang kubungkus dengan kain hitam agar cahayanya redup, aku mengendap-endap keluar rumah tepat pukul setengah dua belas malam. Tujuanku adalah hamparan perkebunan tebu yang berbatasan langsung dengan pekarangan belakang rumah Mbah Sura.
Udara malam itu terasa sangat berat dan lengket. Suara jangkrik bersahut-sahutan, namun entah mengapa, suasana terasa begitu mencekam. Semak belukar dan batang-batang tebu yang menjulang tinggi setinggi dua meter menyembunyikan tubuhku dengan sempurna.
Dari tempat persembunyianku, sekitar dua puluh meter dari pekarangan rumahnya, aku melihat cahaya redup dari lampu templok (pelita minyak). Mbah Sura tidak sendirian. Ada seorang wanita muda bersamanya. Kulihat dari pakaiannya, wanita itu bukan orang desa kami. Ia tampak kebingungan, namun tetap mengikuti instruksi Mbah Sura dengan patuh.
Aku menahan napas. Mataku tak berkedip menatap adegan di depanku.
Mbah Sura telah menggali sebuah lubang di tanah. Kedalamannya kira-kira setinggi pinggang orang dewasa.
”Silakan turun ke dalam, Nduk,” suara Mbah Sura terdengar lamat-lamat terbawa angin. Nada bicaranya sama persis seperti saat ia menyapa warga di siang hari, lembut, menenangkan, tanpa ancaman sedikit pun. “Ini adalah bagian dari ritual penyatuan unsur bumi. Berdirilah di dalam, nanti Mbah akan menimbun tanahnya sampai sebatas pinggangmu.”
Wanita itu tampak ragu. “T-tapi Mbah, gelap sekali. Memangnya harus ditimbun tanah?”
”Hanya sebentar, Nduk. Tahan sedikit. Pusatkan pikiranmu pada hajat yang kamu inginkan. Mbah jamin, besok pagi semua penderitaanmu akan selesai.”
Terhipnotis oleh janji palsu dan aura sang dukun, wanita malang itu turun ke dalam lubang. Mbah Sura mulai mencangkul tanah, menimbun tubuh bagian bawah wanita itu hingga ia benar-benar terkunci, tak bisa bergerak atau melarikan diri. Posisinya diatur sedemikian rupa agar wajahnya menghadap lurus ke arah rumah Mbah Sura.
Di sinilah kewarasanku nyaris runtuh.

Setelah tubuh wanita itu setengah terkubur, Mbah Sura berjalan memutar ke arah belakang punggung korban. Wanita itu masih merapal doa dengan mata terpejam, mengira bahwa ia sedang dibersihkan dari nasib buruk.
Tiba-tiba, dari balik saku celananya, Mbah Sura mengeluarkan seutas kabel listrik tebal.
Dengan gerakan kilat yang sangat terlatih, sama sekali tidak mencerminkan pria tua yang lamban, Mbah Sura mengalungkan kabel itu ke leher korban dari arah belakang. Ia menarik kedua ujung kabel itu dengan sekuat tenaga dan menyilangkannya.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan agar tidak menjerit. Mataku terbelalak lebar. Keringat dingin membasahi seluruh punggungku.
Wanita itu meronta. Ia mencoba menjerit, namun kabel itu telah meremukkan pita suaranya. Tangannya menggapai-gapai ke udara, mencoba mencakar wajah Mbah Sura, namun karena separuh tubuhnya tertimbun tanah yang padat, ia kehilangan daya ungkit. Ia terjebak. Keputusasaan di wajah wanita itu di bawah temaram lampu pelita adalah visual paling mengerikan yang pernah kulihat.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit hingga perlawanan wanita itu melemah. Tangannya jatuh lunglai ke atas tanah. Kepalanya terkulai ke samping. Ia telah tiada.
Aku gemetar hebat hingga lututku tak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku terduduk di atas tanah basah perkebunan tebu. Lari, Ratna. Lari! otakku berteriak, namun tubuhku lumpuh oleh teror yang membekukan darah.
Namun, pembunuhan biadab itu ternyata belum selesai. Tindakan selanjutnya dari sang dukunlah yang membuat kasus ini menjadi anomali kriminal paling menjijikkan dalam sejarah.
Mbah Sura melepaskan jeratan kabelnya. Ia berjalan memutar, menatap wajah korbannya yang telah terbujur kaku dengan leher memar kebiruan. Ia tidak mengambil perhiasan korban. Ia tidak melucuti pakaiannya.
Mbah Sura justru berlutut. Ia memiringkan kepala korban, lalu menempelkan mulutnya ke mulut mayat yang baru saja ia bunuh. Ia mengisap sesuatu dari sana. Ia meminum air liur dari wanita yang nyawanya baru saja ia renggut paksa.
Aku membekap mulutku keras-keras saat perutku menolak pemandangan itu. Air mataku mengalir deras. Itulah delusi haus liur kematian yang selama ini ia sembunyikan. Di balik senyum kebapakannya, ia adalah monster penganut ilmu hitam yang percaya bahwa meminum liur wanita yang mati di tangannya akan memberikannya kesaktian yang tak terkalahkan.
Setelah menyelesaikan ritual gilanya, Mbah Sura melanjutkan menggali tanah dan mengubur seluruh tubuh korban di lubang yang sama. Ia meratakan tanahnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.
Malam itu, dengan tenaga yang tersisa, aku merangkak mundur menembus perkebunan tebu. Aku berlari sejauh dan secepat mungkin hingga kakiku berdarah terkena duri dan ranting. Aku tidak pulang ke rumah. Aku berlari terus hingga mencapai balai desa dan menggedor pintu rumah kepala desa dengan histeris.

Keesokan paginya, berbekal laporanku yang penuh histeria dan desakan dari beberapa keluarga yang mulai sadar akan hilangnya kerabat mereka, aparat kepolisian tingkat sektor dan resor akhirnya turun tangan. Mereka mendatangi rumah Mbah Sura.
Mbah Sura masih mencoba mempertahankan topeng ketenangannya. Ia tersenyum, menyilakan polisi masuk, dan menyangkal semua tuduhan dengan tutur kata yang tertata rapi. Namun, polisi tidak bodoh. Berbekal petunjukku tentang lokasi ritual semalam, unit identifikasi lapangan segera membawa anjing pelacak dan alat penggali ke area perkebunan tebu di belakang rumah sang dukun.
Hanya dalam waktu beberapa jam, kebohongan Mbah Sura terbongkar sepenuhnya.
Gundukan tanah pertama dibongkar. Bau busuk mayat yang menyengat seketika menguar ke udara siang yang terik. Polisi mengangkat sesosok jenazah wanita muda yang baru saja dibunuh semalam. Identitasnya kelak diketahui sebagai warga dari kabupaten seberang.
Namun, anjing pelacak kepolisian terus menggonggong. Tidak hanya pada satu titik, melainkan menyebar ke puluhan titik lain di sepanjang ladang tebu tersebut.
”Gali semuanya!” perintah komandan operasi saat itu dengan wajah tegang.
Selama berhari-hari berikutnya, desa kami berubah menjadi pusat perhatian nasional yang mencekam. Garis polisi dipasang melingkari area berhektar-hektar. Ekskavator dan tim forensik bekerja siang dan malam. Satu per satu, rahasia kelam ladang tebu itu diangkat dari perut bumi.
Mayat kedua ditemukan. Lalu mayat ketiga. Kelima. Kesepuluh.
Aku berdiri di pinggir batas garis polisi bersama ratusan warga lainnya, menangis meratapi kebodohan kami yang membiarkan iblis berwujud manusia hidup berdampingan dengan kami. Dan pada hari keempat penggalian, duniaku runtuh sepenuhnya. Dari salah satu lubang, polisi mengangkat kerangka yang masih mengenakan baju daster bermotif bunga matahari pudar. Baju itu adalah baju yang dipakai Ningsih di malam terakhir aku melihatnya.
Total, ada 42 kerangka dan jenazah wanita yang diangkat dari ladang tebu belakang rumah Mbah Sura.
Dalam interogasinya, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa penyesalan, Mbah Sura mengakui perbuatannya dengan bangga. Ia bercerita kepada penyidik bahwa belasan tahun yang lalu, almarhum ayahnya mendatangi mimpinya. Sang ayah membisikkan bahwa untuk menjadi pria paling sakti, kebal senjata, dan paling dihormati di dunia, ia harus membunuh 70 orang wanita dan meminum air liur mereka.
Semua korban dikuburkan dengan cara yang sama, kepala mereka dihadapkan ke arah rumah Mbah Sura. Ia meyakini bahwa arwah para korban itu akan terus menyembahnya dan memberikan kekuatan magis setiap kali ia duduk di teras rumahnya. Delusi mistis yang benar-benar absolut.
Mbah Sura akhirnya dieksekusi mati oleh regu tembak negara beberapa tahun kemudian. Ia tewas di hadapan moncong senapan, membuktikan bahwa ilmu kebal yang ia yakini dari menumbalkan 42 nyawa wanita tidak bersalah hanyalah omong kosong dan kegilaan belaka. Sang istri yang ternyata selama ini mengetahui dan menutupi perbuatan suaminya juga dijatuhi hukuman penjara.
Namun, eksekusi pelaku tidak pernah bisa menghapus memori warga desa.
Perkebunan tebu di desa kami akhirnya ditinggalkan. Para buruh menolak bekerja di sana. Aura kematian terlalu pekat menempel pada tanah tersebut. Banyak keluarga yang memilih pindah karena tidak sanggup hidup berdampingan dengan ladang pembantaian.
Kisah nyata ini adalah bukti paling telanjang bahwa kegelapan sejati tidak bersembunyi di tempat-tempat angker atau kuburan tua. Kegelapan sejati bersembunyi di balik senyuman orang-orang yang menjanjikan harapan manis saat kita sedang berada di titik terendah.
Bagi para pembaca, jadikan kisah ini sebagai benteng rasionalitas kalian. Ketika kehidupan menghantammu dengan kemiskinan, patah hati, atau penyakit, jangan pernah menyerahkan akal sehatmu kepada praktik-praktik mistis dan takhayul yang tidak masuk akal. Karena saat kau menyerahkan kewarasanmu atas nama keputusasaan, kau mungkin tidak akan menyadari bahwa kau sedang berjalan masuk ke dalam lubang galianmu sendiri.
Disclaimer: Artikel ini diadaptasi dari investigasi resmi Kepolisian Republik Indonesia terkait kasus pembunuhan berantai paling produktif di Nusantara pada akhir 1990-an (Kasus Ahmad Suradji / Dukun AS). Sudut pandang, nama pencerita (Ratna), dialog, dan setting waktu kejadian telah dinarasikan ulang serta disamarkan demi menjaga sensitivitas keluarga korban yang ditinggalkan, sekaligus menghadirkan pembawaan cerita (storytelling) yang kuat secara psikologis. Tulisan ini bertujuan murni sebagai edukasi sejarah kriminal, peringatan terhadap bahaya eksploitasi psikologis, serta kritik terhadap kepercayaan mistis yang menyesatkan.