Banyak orang mengira kekayaan mendadak adalah sebuah anugerah, padahal di keluarga kami, itu dibayar lunas dengan tumbal nyawa pesugihan hitam. Namaku Nisa, dan sampai detik ini, bau kemenyan dan anyir darah kering masih sering tercium tanpa sebab di kamarku.
Jika kalian pernah membaca kisah-kisah di internet tentang rumah mewah yang terbengkalai atau keluarga kaya raya yang hancur dalam semalam, percayalah, sebagian besar dari cerita itu bermula dari keputusasaan. Dan keputusasaan adalah pintu masuk paling lebar bagi iblis. Tulisan ini bukan untuk mencari sensasi. Ini adalah pengakuan dosa atas nama keluargaku, sekaligus peringatan bagi siapa pun yang pernah berpikir untuk mengambil jalan pintas menuju kekayaan.
Demi keselamatan diriku yang kini hidup dalam persembunyian, seluruh nama, nama desa, dan latar waktu secara spesifik telah aku samarkan. Namun, rasa takut yang membekukan tulang, tatapan kosong ibuku di rumah sakit jiwa, dan nisan saudara-saudaraku yang berjajar di pemakaman adalah bukti nyata bahwa iblis tidak pernah memberi tanpa meminta bayaran yang setimpal.

Aku lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara di sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa. Ayahku, sebut saja Bapak, awalnya adalah seorang pedagang kain yang ulet. Hidup kami sederhana, sangat pas-pasan. Aku masih ingat bagaimana Bapak sering dikejar-kejar debt collector (penagih utang) yang datang menggedor pintu rumah kami hingga larut malam.
Namun, segalanya berubah drastis pada awal tahun 2000-an.
Bapak menghilang selama dua minggu tanpa kabar. Ibu bilang Bapak sedang mencari pinjaman modal ke kerabat jauh di luar kota. Ketika ia pulang, ia tidak membawa koper berisi pakaian, melainkan sebuah tas ransel hitam besar yang terlihat sangat berat. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat Bapak tersenyum. Tapi itu bukan senyum lega, itu senyuman kaku, dingin, dan tatapan matanya terlihat kosong.
”Kita bakal pindah rumah, Bu. Utang kita lunas semua,” ucap Bapak malam itu di meja makan.
Hanya dalam waktu tiga bulan, bisnis Bapak meroket dengan cara yang tidak masuk akal. Toko kainnya yang dulu sepi tiba-tiba selalu kehabisan stok. Tengkulak dari kota-kota besar berebut membeli barang darinya. Kami pindah dari rumah petak berlantai semen ke sebuah rumah gedongan dua lantai yang dikelilingi pagar besi tinggi. Bapak membeli dua mobil baru secara tunai.
Sebagai anak remaja yang saat itu baru masuk SMA, aku tentu saja kegirangan. Namun, kemewahan itu datang dengan syarat-syarat yang ganjil.
Bapak merenovasi sebuah paviliun kecil di halaman belakang rumah baru kami. Ia menggembok pintu kayunya dengan rantai tebal. Tidak ada satu pun yang boleh masuk ke sana, termasuk Ibu. Bapak juga melarang keras kami menyapu rumah pada malam hari, dan setiap malam Jumat Kliwon, Bapak akan mengurung diri di paviliun itu hingga subuh.
”Bapak tuh sebenarnya bisnis apa sih, Bu? Kok aneh banget sampai punya kamar rahasia segala?” tanyaku suatu sore saat sedang membantu Ibu melipat baju.
Ibu menatapku dengan gelisah. Ia melirik ke arah halaman belakang sebelum menjawab dengan suara berbisik, “Hush, udah kamu diam aja. Nggak usah banyak tanya. Namanya juga orang bisnis, pasti ada ritual tolak balanya. Kita syukuri aja, Nduk, sekarang kamu bisa sekolah enak, nggak usah dengerin orang nagih utang lagi.”
Aku diam, tapi perasaanku mulai tidak enak. Ada aroma busuk yang sering menguar dari paviliun itu, bukan bau bangkai tikus, melainkan campuran antara wangi bunga melati yang sangat menyengat dan bau anyir seperti daging mentah yang dijemur di bawah terik matahari.

Harga pertama dari kekayaan kami dibayar dua tahun kemudian.
Kakak tertuaku, Mas Dimas, baru saja lulus kuliah dan berencana menikah. Ia pemuda yang sehat, tidak pernah punya riwayat penyakit parah. Suatu malam, ia sedang mengendarai motor menuju rumah tunangannya. Jalanan saat itu sepi dan tidak turun hujan.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah truk tronton melaju kencang tanpa menyalakan lampu. Truk itu menghantam Mas Dimas dengan telak.
Kabar duka itu sampai ke rumah kami menjelang tengah malam. Ibu pingsan berkali-kali. Mbak Rina, kakak keduaku, menangis histeris hingga suaranya habis. Rumah mewah kami mendadak dipenuhi isak tangis dan para tetangga yang berdatangan untuk melayat.
Namun, di tengah kekacauan dan kesedihan yang menghancurkan itu, ada satu hal yang membuat darahku berdesir ngeri.
Aku melihat Bapak berdiri di teras depan. Ia sedang merokok, menatap nanar ke arah keranda jenazah anak sulungnya. Tapi ia sama sekali tidak menangis. Wajahnya sedatar tembok. Tidak ada setetes air mata pun di pelupuk matanya. Ia hanya menghela napas panjang, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, sebuah gumaman yang tanpa sengaja kudengar karena aku berdiri tepat di balik pintu kaca.
”Sudah waktunya… sudah jatuh tempo rupanya,” bisik Bapak dingin.
Keesokan harinya setelah pemakaman, kehidupan di rumah kami seolah dipaksa kembali normal oleh Bapak. Ia melarang Ibu meratapi kematian Mas Dimas berlarut-larut. Toko kainnya justru semakin besar, cabang-cabangnya dibuka di mana-mana. Orang-orang di luar sana memuji ketabahan Bapak, tapi di mataku, Bapak telah kehilangan sesuatu yang membuatnya menjadi manusia.

Satu tahun setelah kematian Mas Dimas, rumah kami tidak lagi terasa seperti tempat tinggal. Udaranya selalu berat dan pengap. Meskipun pendingin ruangan menyala maksimal, hawa panas seolah merayap dari lantai.
Saat itulah, kegilaan mulai menggerogoti Ibu.
Awalnya, Ibu sering mengeluh sulit tidur karena merasa ada yang mengawasinya dari sudut langit-langit kamar. Lalu, halusinasi itu berubah menjadi teror fisik. Suatu malam, aku terbangun karena mendengar jeritan Ibu yang melengking dari lantai bawah.
Aku dan Mbak Rina berlari menuruni tangga. Kami menemukan Ibu sedang meringkuk di sudut ruang keluarga, memeluk bantal sambil gemetar hebat. Matanya melotot menatap ke arah cermin besar yang menempel di dinding.
”Pergi! Pergi kamu! Jangan sentuh anak-anakku!” jerit Ibu sambil melemparkan asbak ke arah cermin hingga pecah berantakan.
”Bu! Ibu kenapa?!” Mbak Rina memeluk Ibu yang terus memberontak.
Ibu mencengkeram lengan Mbak Rina sangat kuat hingga kukunya menancap. Wajah Ibu pucat pasi, dipenuhi keringat dingin. “Kamu nggak lihat, Rin?! Dia di sana! Sosok hitam, tinggi besar! Matanya merah, badannya penuh bulu! Dia bilang dia lapar… dia bilang mau ambil jatahnya!”
Bapak keluar dari kamarnya dengan wajah tegang. Alih-alih menenangkan Ibu, Bapak justru menyeret Ibu masuk ke kamar secara paksa. “Kamu cuma kecapekan, Bu! Ngelantur ngomongnya! Nisa, Rina, masuk kamar kalian sekarang!” bentak Bapak.
Sejak malam itu, kewarasan Ibu perlahan-lahan runtuh. Ia mulai berbicara sendiri. Ia menolak makan makanan yang dibeli dari uang Bapak karena ia bilang makanan itu “bau amis darah”. Puncaknya, Ibu mencoba melukai Bapak dengan gunting jahit saat Bapak sedang tidur. Ibu terus berteriak histeris, sebuah kalimat yang akhirnya membuka tabir rahasia gelap keluarga kami.
”Bapakmu rakus, Nisa! Bapakmu utang nyawa sama iblis! Mas Dimas mati bukan karena kecelakaan! Dia dijadikan tumbal! Dan sekarang makhluk itu minta jatah lagi!” raung Ibu saat beberapa perawat pria dari rumah sakit jiwa mengikat tangannya untuk membawanya pergi.
Aku berdiri mematung di ambang pintu, air mata mengalir deras melihat Ibu dibawa paksa ke dalam ambulans RSJ. Mbak Rina menangis terduduk di lantai. Sementara Bapak hanya diam, memalingkan wajahnya. Malam itu, aku tahu bahwa apa yang diucapkan Ibu bukanlah delusi orang gila. Itu adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

Beberapa bulan setelah Ibu dirawat di RSJ, Bapak harus pergi ke luar kota selama tiga hari untuk urusan bisnis. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Rasa penasaran dan ketakutan yang menggunung membuatku nekat melakukan hal yang paling dilarang di rumah ini.
Aku mengambil palu godam dari gudang perkakas. Di tengah malam yang sunyi, ditemani rintik hujan yang menyamarkan suara, aku memukul gembok rantai di pintu paviliun halaman belakang berkali-kali hingga besi itu patah.
Pintu kayu tua itu berderit terbuka.
Begitu aku melangkah masuk, aroma busuk yang sangat tajam langsung menyergap paru-paruku, membuatku refleks muntah di lantai. Ruangan itu sangat gelap, hanya diterangi oleh sebuah lampu tempel berwarna merah redup.
Aku menyalakan senter ponselku, dan pemandangan di dalam sana membuat lututku seketika lemas.
Tidak ada barang-barang bisnis di sana. Ruangan itu diubah menjadi tempat pemujaan yang menjijikkan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kecil yang ditutupi kain mori hitam. Di atasnya, berserakan kembang setaman yang sudah layu dan membusuk, mangkuk-mangkuk kecil berisi darah yang sudah mengering (entah darah ayam atau darah makhluk lain), dan sebuah kendi tanah liat.
Namun, bukan benda-benda klenik itu yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Di dinding tepat di atas meja pemujaan tersebut, tertempel foto-foto keluarga kami.
Ada foto Mas Dimas, foto Mbak Rina, fotoku, dan foto Ibu.
Aku mendekat dengan tangan gemetar parah. Foto Mas Dimas telah diberi tanda silang besar menggunakan spidol merah. Di bawahnya, terdapat secarik kertas kuning usang berisi tulisan aksara Jawa dan angka tahun kematian Mas Dimas.
Lalu mataku tertuju pada foto Mbak Rina. Di foto itu, tidak ada tanda silang. Tapi ujung-ujung fotonya sudah hangus terbakar sebagian, seolah sedang dipersiapkan untuk sesuatu.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Bulu kudukku berdiri semua. Telingaku menangkap suara geraman rendah dari arah sudut gelap di belakang pintu, suara seperti anjing besar yang sedang kelaparan, namun diiringi dengan suara napas manusia yang berat.
Ggrrrr…. heuuhhh…
Aku tidak menunggu untuk melihat wujud apa yang ada di sana. Aku menjerit ketakutan, berlari keluar secepat yang aku bisa, dan mengunci pintu rumah rapat-rapat. Malam itu aku meringkuk di bawah selimut, menyadari satu fakta paling kejam di dunia. Bapak tidak hanya mengorbankan Mas Dimas. Ia telah menggadaikan seluruh nyawa keluarganya kepada entitas pesugihan Buto Ijo, dan kami semua hanyalah daftar antrean kematian yang menunggu giliran.

Aku harus memberi tahu Mbak Rina. Aku harus membawanya kabur dari rumah ini sebelum Bapak pulang.
Keesokan paginya, aku menggedor kamar Mbak Rina. Namun pintu itu terkunci dari dalam. “Mbak! Buka pintunya, Mbak! Kita harus pergi dari sini sekarang!” teriakku sambil memutar kenop pintu dengan panik.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menakutkan.
Aku berlari mengambil kunci cadangan di ruang kerja Bapak. Saat aku berhasil membuka pintu kamar Mbak Rina, bau anyir seketika menyerbak. Mbak Rina terbaring kaku di atas kasurnya. Matanya terbelalak lebar menatap langit-langit kamar, memancarkan teror dan ketakutan yang sangat luar biasa. Mulutnya terbuka sedikit.
Ia sudah tidak bernapas.
Tidak ada luka tusuk, tidak ada tanda-tanda keracunan. Namun, saat aku menyentuh lehernya sambil menangis histeris, aku melihat ada lebam hitam pekat berbentuk cetakan tangan berukuran raksasa di sekitar leher dan dadanya. Sesuatu yang sangat besar, dengan tenaga yang bukan milik manusia, telah mencekiknya saat ia sedang tidur.
Mbak Rina menjadi korban kedua. Jatah tahunan iblis itu telah dibayar lunas oleh nyawa kakak perempuanku.
Kematian Mbak Rina menjadi berita heboh di desa kami. Dokter mendiagnosisnya terkena serangan jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest). Namun aku tahu kebenarannya. Saat Bapak pulang di hari pemakaman, aku menatapnya dengan penuh kebencian.
Malam harinya setelah semua pelayat pulang, aku mengkonfrontasi Bapak di ruang keluarga.
”Bapak yang bunuh Mas Dimas! Bapak yang bunuh Mbak Rina!” teriakku sambil menangis sejadi-jadinya, melemparkan foto-foto dari paviliun yang sudah kuambil sebelumnya ke wajah Bapak. “Bapak jual nyawa anak-anak Bapak sendiri demi uang haram ini! Manusia macam apa Bapak ini?!”
Wajah Bapak pucat pasi melihat aku telah membongkar rahasianya. Ia tidak marah. Ia justru merosot ke lantai, menangis memegangi kakiku.
”Maafkan Bapak, Nduk… Bapak terpaksa,” isak Bapak dengan suara serak. “Dulu utang kita banyak. Bapak diancam mau dibunuh preman. Bapak gelap mata waktu ditawari kenalan pergi ke gunung itu. Bapak kira… Bapak kira tumbalnya cuma hewan atau umur Bapak sendiri. Bapak ditipu sama dukun itu, Nisa! Iblis itu mintanya darah daging Bapak sendiri! Kalau nggak dikasih, dia bakal hancurin semuanya!”
”Terus sekarang apa?!” bentakku, menarik kakiku menjauh dari sentuhannya seolah ia adalah penyakit menular. “Mas Dimas mati. Mbak Rina mati. Ibu gila. Tinggal Nisa sendirian! Bapak mau nunggu Nisa mati juga buat nebus harta sialan Bapak ini?!”
Bapak menggeleng kuat. “Nggak, Nduk. Bapak nggak akan biarin dia sentuh kamu. Malam ini kamu kemasi barang-barangmu. Pergi dari kota ini. Ganti namamu, jangan pernah hubungi Bapak lagi. Biar Bapak yang hadapi dia sendiri. Biar nyawa Bapak yang jadi ganti penutup utang ini.”
Aku tidak butuh disuruh dua kali. Tanpa membawa uang sepeser pun dari harta Bapak, aku hanya membawa beberapa helai pakaian dan uang tabungan jajan sekolahku. Malam itu juga, di tengah hujan badai, aku melarikan diri dari rumah terkutuk itu, meninggalkan ayah kandungku sendiri yang harus membayar dosa-dosanya kepada sang iblis.

Bertahun-tahun berlalu sejak pelarianku di malam badai itu. Aku memulai hidup baru dari nol di kota yang sangat jauh, bekerja serabutan, mengganti identitas, dan memutus semua hubungan dengan masa lalu.
Lima tahun setelah pelarianku, aku mendengar kabar dari seorang teman lama yang berhasil menghubungiku lewat media sosial. Ia bercerita bahwa rumah gedongan Bapak di kampung telah disita oleh bank karena bisnisnya tiba-tiba hancur total dalam hitungan bulan.
Lebih mengerikan lagi, teman lamaku itu menceritakan bagaimana Bapak meninggal dunia.
Bapak ditemukan tewas di dalam paviliun halamannya sendiri. Kondisinya sangat mengenaskan. Seluruh kulit tubuhnya menghitam dan melepuh seperti orang yang direbus hidup-hidup, namun tidak ada tanda-tanda kebakaran di ruangan tersebut. Dokter forensik bahkan bingung menyebutkan penyebab kematiannya. Penduduk desa berbisik-bisik bahwa Bapak mati ditarik paksa oleh “peliharaannya” sendiri karena sudah tidak ada lagi anggota keluarga yang bisa dijadikan tumbal.
Kini, aku sesekali menjenguk Ibu di rumah sakit jiwa. Ia tidak pernah sembuh. Ia terus memeluk boneka usang, menyanyikan lagu nina bobo, dan terkadang berteriak ketakutan ke arah bayangan di cermin.
Bagiku, kekayaan tidak pernah diukur dari seberapa besar rumahmu atau seberapa mahal mobilmu. Kekayaan sejati adalah ketika kamu bisa tidur dengan nyenyak di malam hari tanpa rasa takut, tanpa harus membayar tagihan darah kepada entitas yang tak kasat mata.
Pesugihan mungkin akan memberimu istana di dunia. Tapi percayalah, saat kontrak itu jatuh tempo, iblis tidak akan menerima uang untuk pembayarannya. Ia hanya akan menerima nyawa orang-orang yang paling kau cintai.
Disclaimer: Artikel ini adalah sebuah kisah naratif (True Crime/Urban Legend) yang diadaptasi dari rekam jejak kelam tragedi keluarga dan fenomena pesugihan yang sering terjadi di masyarakat Nusantara. Nama-nama tokoh, detail spesifik lokasi, serta waktu kejadian telah disamarkan secara menyeluruh untuk melindungi privasi pihak-pihak terkait dan menghindari asumsi liar maupun pencemaran nama baik. Tulisan ini dipublikasikan secara eksklusif untuk tujuan edukasi moral, peringatan bahaya keserakahan, dan hiburan bergenre Psychological/Supernatural Thriller. Kami di Gelap.id tidak mempromosikan, mendukung, maupun membenarkan segala praktik ilmu hitam, klenik, dan pesugihan dalam bentuk apa pun. Jadikan kisah ini sebagai pelajaran agar senantiasa mencari rezeki dengan cara yang baik dan mengedepankan akal sehat.