Teror Mistis di Studio Penyiaran Radio Tua

Teror Mistis? Pernahkah kalian membayangkan bagaimana rasanya terjebak di dalam sebuah ruangan kedap suara yang pengap, sementara di luar sana, sesuatu yang tak kasat mata baru saja menunjukkan eksistensinya dengan cara yang beringas?

​Bagi sebagian orang, siaran radio di malam hari adalah teman yang menghangatkan suasana. Namun bagiku, sebuah malam di pertengahan tahun 2010-an telah mengubah pandanganku selamanya tentang apa yang sebenarnya mengintai di balik sunyinya malam. Ini adalah kisah mistis nyata tentang pengalaman hororku sebagai seorang penyiar radio freelance. Sebuah memori kelam yang tidak akan pernah bisa kuhapus dari ingatanku.

​Denah Ganjil dan Ruang Kedap Suara yang Membakar

Denah Ganjil dan Ruang Kedap Suara yang Membakar

​Kala itu, sekitar tahun 2010-an, aku masih berstatus sebagai penyiar freelance di sebuah stasiun radio swasta yang cukup ternama di kota kami. Jadwalku lumayan padat, dan kebetulan aku sering mendapatkan jatah siaran di jam prime time, tepatnya dari jam 8 hingga 10 malam. Format siaranku adalah duet, yang artinya aku selalu ditemani oleh seorang partner siaran. Mari kita sebut saja partner andalanku ini dengan nama Rendra.

​Kantor kami sebenarnya mengelola dua stasiun radio yang berbeda segmen. Radio tempatku bernaung mengudara khusus untuk segmen anak muda dan berlokasi di lantai 1. Sementara itu, stasiun radio dengan segmen dewasa beroperasi dari lantai 2.

​Jika digambarkan, tata letak lantai 1 tempatku bekerja cukup unik dan panjang. Dari depan, terdapat halaman dan ruang resepsionis. Masuk lebih ke dalam, ada ruang admin dan keuangan, yang pintu pembatasnya selalu dikunci rapat setiap jam 5 sore setelah para staf pulang. Di bagian paling belakang, barulah terdapat kerajaan kami, lorong khusus penyiar, kabin siaran, ruang rekaman, ruang pemancar, sebuah pantry kecil, kamar mandi, WC, dan sebuah ruangan kosong yang sering disebut ‘bekas WC’.

​Kabin siaran kami tidak terlalu besar, hanya berukuran sekitar 3×4 meter. Yang membuatnya terasa sedikit mengintimidasi di malam hari adalah desain dindingnya, tiga perempat bagian dari kabin itu terbuat dari kaca tembus pandang yang menghadap langsung ke lorong dan ruangan lain di kantor. Jika ada sesuatu yang lewat di luar, kami dari dalam studio bisa melihatnya dengan sangat jelas.

​Malam itu adalah hari Rabu. Sejak zaman stasiun radio itu berdiri, program unggulan di hari Rabu jam 8 hingga 10 malam adalah cerita misteri dan horor. Kami biasanya membacakan cerita kiriman pendengar, membagikan pengalaman mistis kami sendiri, atau menerima telepon langsung dari pendengar yang ingin berbagi kisah seram mereka.

​Hari itu, aku sudah stand by di studio sejak sore karena aku memiliki jadwal siaran program lain dari jam 6 hingga 8 malam. Rendra, partnerku, biasanya datang mepet mendekati jam 8 malam.

​Ada satu masalah besar malam itu, AC di kabin siaran kami sudah rusak selama dua atau tiga hari terakhir. Katanya freon-nya habis dan teknisi belum sempat memperbaikinya. Normalnya, AC di ruangan itu dinginnya minta ampun, bahkan bisa membuat kami sesak napas jika siaran pagi. Namun malam itu, kondisinya berbalik 180 derajat.

​Bayangkan sebuah studio rekaman yang didesain kedap suara, tanpa ada satu pun saluran ventilasi udara, dan AC-nya mati total. Hawanya luar biasa pengap, sumpek, dan panasnya bukan main.

​Karena bagian office (admin, keuangan, dan pimpinan) sudah pulang semua sejak sore, otomatis manusia yang tersisa dan beraktivitas di gedung itu hanyalah kami para penyiar, baik di lantai 1 maupun lantai 2. Untuk mengatasi udara panas yang menyiksa, kami memutuskan untuk membuka pintu kabin siaran lebar-lebar. Kami tidak khawatir suara dari luar akan masuk dan mengganggu siaran (bocor), karena jarak antara studio kami di bagian belakang dengan jalan raya di depan gedung lumayan jauh.

​Malam itu terasa tenang, setidaknya sampai program horor itu dimulai.

​Tawa yang Mengundang Bencana

Tawa yang Mengundang Bencana

​Tepat pukul 8 malam, intro program horor kami mengalun. Lampu On-Air menyala merah menyala. Aku dan Rendra mulai menyapa pendengar setia kami, membangun atmosfer misteri dengan nada suara yang direndahkan. Kami membuka saluran telepon bagi siapa saja yang ingin berbagi pengalaman horor secara live.

​Seperti biasa, selalu ada saja pendengar yang antusias menelepon. Namun, malam itu, ada satu penelepon yang ceritanya terasa sangat janggal. Gaya bicaranya terbata-bata, alur ceritanya melompat-lompat, dan secara keseluruhan, kisah horor yang ia sampaikan terasa sangat tidak masuk akal.

​Sebagai penyiar, kami sudah terlatih untuk mendeteksi mana pendengar yang bercerita dari pengalaman nyata dan mana yang sekadar mengarang bebas. Penelepon malam itu menceritakan kisah pertemuannya dengan sosok pocong, namun detailnya terlalu didramatisir sehingga terdengar konyol. Jika seseorang tidak jago merangkai kebohongan, kejanggalannya akan sangat mudah terendus.

​Meski begitu, profesionalisme harus tetap dijaga. Aku dan Rendra mendengarkan ceritanya dengan seksama, sesekali memberikan tanggapan empati seolah-olah kami percaya sepenuhnya.

​Setelah cerita penelepon itu selesai, kami masuk ke sesi jeda. Kami memutar sebuah lagu dan rangkaian iklan yang durasinya sekitar 5 menit. Sesaat setelah fader mic kami turunkan, menandakan suara kami tak lagi mengudara, pertahanan kami runtuh.

​Aku dan Rendra langsung tertawa terbahak-bahak. Kami membahas kembali cerita horor si penelepon tadi dengan nada setengah tidak percaya dan cenderung mengejek. Entah kerasukan apa, malam itu kami merasa sangat berani. Kami malah menjadikan sosok hantu pocong yang dibahas si penelepon sebagai bahan candaan di dalam studio.

​Kami bercanda lepas, seolah lupa bahwa kami sedang berada di sebuah gedung tua, di malam hari, saat sedang membawakan program yang memang “mengundang” energi-energi tak kasat mata.

​Suara Bantingan di Keheningan Malam

​Suara Bantingan di Keheningan Malam

​Jeda iklan hampir berakhir. Kami merapikan tawa, kembali ke mode serius, dan menaikkan fader mic. Kami kembali on-air, melanjutkan obrolan dan berpindah untuk membahas cerita-cerita horor lainnya yang sudah disiapkan oleh tim redaksi.

​Aku sedang asyik berbicara di depan mikrofon (cuap-cuap), dengan Rendra duduk di seberangku. Posisi Rendra merangkap sebagai operator mixer dan komputer siaran, sementara posisiku duduk membelakangi dinding kaca, namun sangat dekat dengan pintu studio yang sedari tadi terbuka lebar.

​Di tengah kalimatku, saat suasana radio sedang hening dan hanya diisi oleh suaraku… tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan dari luar studio.

BRAAAKKK!

​Suaranya sangat keras, tajam, dan menggema di lorong belakang. Itu adalah suara benda berbahan plastik keras yang dibanting ke lantai ubin dengan kekuatan penuh. Ya, bukan sekadar jatuh, benda itu jelas-jelas DIBANTING.

​Suara itu berasal dari arah ruang makan atau pantry yang terletak tidak jauh dari letak kamar mandi.

​Aku terdiam seketika. Rendra mematung. Kami berdua yang tadinya sedang asyik siaran langsung bertatapan dengan mata terbelalak. Waktu seolah berhenti berdetak. Kami sangat yakin, seratus persen yakin, bahwa tidak ada satu orang pun di lantai 1 selain kami berdua. Pintu belakang yang menuju halaman pun terkunci rapat dan tidak ada tanda-tanda terbuka sama sekali.

​Terjadi silent moment (jeda senyap) yang sangat canggung selama kurang lebih 10 detik di udara. Otak kami berusaha mencerna suara apa itu, sementara ketakutan mulai merayap naik dari ujung kaki hingga ke tengkuk.

​Lewat kode lirikan mata yang panik, aku perlahan bangkit dari kursiku dan dengan cepat menutup pintu studio hingga tertutup rapat. Rendra yang menyadari kepanikanku segera mengambil alih mikrofon. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia melanjutkan siaran seadanya dan buru-buru memilih untuk kembali masuk ke jeda iklan. Ia bahkan memasukkan playlist lagu yang agak panjang dan banyak, semata-mata untuk memberi kami waktu menenangkan diri dari rasa syok.

​Kini, kami berdua terkurung di dalam studio bersuhu sauna.

​Aku dan Rendra tidak berani melangkah keluar dari kabin siaran. Dengan pintu yang kini tertutup rapat, kondisi studio yang tanpa AC itu berubah menjadi neraka kecil. Panasnya luar biasa, pengap, dan keringat mulai mengucur deras membasahi pakaian kami.

​Namun, rasa takut lebih mendominasi daripada rasa gerah. Selama sekitar 10 menit lagu diputar, kami hanya berani mengintip dari balik kaca studio yang mengarah ke ruang makan—sumber suara bantingan tadi. Lorong itu remang-remang dan kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Misteri Gayung Yang Tak Masuk Akal

Misteri Gayung Yang Tak Masuk Akal

​Setelah beberapa belas menit terkurung, Rendra mulai gelisah. Keringatnya sudah bercucuran. Ia benar-benar tidak tahan lagi dengan hawa panas yang membakar di dalam studio tertutup itu. Dengan sisa-sisa keberaniannya, Rendra mengajakku untuk mengecek situasi di luar.

​”Kita cek, yuk. Gerah banget ini, bisa mati lemas kita di dalam,” bisiknya.

​Aku mengangguk ragu. Pelan-pelan, sangat pelan, kami membuka pintu studio. Langkah kami mengendap-endap menyusuri lorong menuju arah pantry dan kamar mandi. Persis seperti anak kecil yang takut ketahuan orang tuanya karena pulang larut malam. Jantungku berdegup kencang, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

​Dan ketika kami tiba di area belakang, kami melihat benda yang menjadi sumber suara mengerikan tadi. Benda yang membuat kami nyaris berhenti bernapas. Anda bisa menebak benda apa itu?

GAYUNG!

​Ya, sebuah gayung plastik berwarna usang yang biasanya selalu berada di dalam bak mandi kantor. Kini, benda itu tergeletak begitu saja di lantai ruang belakang yang difungsikan sebagai ruang makan.

​Jika diukur berdasarkan denah kantor, gayung itu berada sekitar 2 meter dari pintu kamar mandi, tergeletak sejajar dengan bangku tengah di ruang makan.

​Satu pertanyaan besar langsung menghantam pikiran kami berdua: “Kok bisa?”

​Tanpa berunding lagi, kami berdua langsung berbalik badan dan lari ngibrit kembali ke dalam studio. Kami membanting pintu studio dan menguncinya rapat-rapat. Bodo amat dengan hawa panas yang menyiksa. Bodo amat bajuku basah kuyup oleh keringat seperti orang yang baru selesai lari maraton. Rasa takut bahwa ada sosok tak kasat mata yang akan menampakkan diri membuat kami memilih untuk direbus hidup-hidup di dalam ruangan kedap suara itu.

​Bahkan saking ketakutannya, malam itu setelah siaran selesai pukul 10 malam, aku menolak untuk berjalan sendiri. Aku meminta tolong security untuk menjemput dan mengantarku sampai ke depan pintu keluar.

​Mengapa kami begitu ketakutan hanya karena sebuah gayung mandi yang jatuh? Bagi orang awam yang tidak melihat lokasinya, mungkin itu terdengar sepele. Tapi bagi kami, ada fakta-fakta logis yang patah malam itu, yang membuktikan bahwa jatuhnya gayung itu bukanlah kejadian alami:

  1. Posisi Awal: Gayung kamar mandi di kantor kami posisinya selalu direndam di dalam bak air. Tidak pernah diletakkan di tepi bak, apalagi di lantai.
  2. Perbedaan Tinggi Lantai: Posisi lantai kamar mandi, WC, dan pantry itu desainnya menurun, sekitar 10 hingga 15 cm lebih rendah dari lantai ruangan lain (ruang makan/lorong). Sangat tidak masuk akal sebuah benda jatuh, lalu ‘menggelinding’ naik ke permukaan yang lebih tinggi sejauh 2 meter.
  3. Pintu yang Keras: Pintu kamar mandi kami agak rusak dan lumayan keras. Jika dibuka, pintu itu biasanya tidak pernah bisa terbuka penuh. Jadi, kemungkinan gayung itu tidak sengaja jatuh, lalu memantul keluar melewati celah pintu dari dalam bak mandi pun persentasenya sangat kecil, nyaris mustahil.
  4. Hukum Fisika: Benda itu berbahan dasar plastik tebal. Plastik tidak memiliki daya pantul (mental) seperti bola karet. Kalaupun benda itu terjatuh dan memantul, pantulannya tidak akan mungkin tinggi dan melompat sejauh 2 meter ke ruang makan. Posisi jatuhnya gayung itu jelas menunjukkan satu hal, Benda itu dilempar oleh ‘seseorang’.
  5. Karma Tawa: Ingat apa yang kami lakukan beberapa menit sebelumnya? Kami cekikikan, tertawa meremehkan, dan menjadikan sosok astral sebagai bahan candaan di tengah malam saat membawakan program horor. Kami merasa ini adalah teguran langsung.
  6. Reputasi Gedung: Rahasia umum di kalangan staf bahwa gedung kantor kami ini memang terkenal dengan cerita horornya, terutama di area tangga, ruangan kosong bekas WC di dekat kamar mandi, dan kabin siaran di lantai 2.

​Setelah malam yang mengerikan itu, aku dan Rendra punya peraturan tak tertulis, Kami tidak pernah lagi berani gaduh, bercanda berlebihan, atau takabur ketika sedang siaran program horor. Anggap saja, malam itu kami baru saja disentil dan ditegur dengan keras oleh ‘penghuni’ senior yang tak terlihat.

Rahasia Tembok Kantor

Rahasia Tembok Kantor

​Apakah gangguan mistis di stasiun radio kami berhenti sampai di insiden gayung melayang itu? Tentu saja tidak. Itu hanyalah puncak gunung es dari rentetan teror gedung tua yang mendiami tempat kerja kami.

​Rasa penasaranku yang tinggi membuatku perlahan menggali sejarah gedung ini. Berdasarkan penuturan dari seorang admin senior yang sudah paling lama bekerja di kantor tersebut, terungkaplah sebuah kebenaran yang membuat bulu kuduk berdiri.

​Gedung kantor kami itu, pada zaman dahulu kala, aslinya adalah sebuah rumah tinggal keluarga. Pantas saja tata letaknya terasa ganjil untuk sebuah kantor. Memang, jika dilihat dari fasad depan, bangunan ini sudah dipugar dan tidak kelihatan seperti rumah. Tapi begitu Anda masuk ke bagian tengah hingga lorong belakang, tempat studio kami berada, bentuk dan auranya masih persis seperti rumah hunian tua.

​Dari penuturan admin senior tersebut, ia menceritakan sebuah tragedi kelam. Katanya, puluhan tahun silam, pernah ada kejadian memilukan di mana anak dari pemilik rumah bunuh diri di dalam salah satu ruangan. Ruangan tempat kejadian perkara itu adalah ruangan yang posisinya persis di sebelah kamar mandi lantai 1, yang kini dibiarkan kosong dan kami sebut sebagai ‘ruangan bekas WC’.

​Sejak bangunan itu dialihfungsikan menjadi kantor radio, ruangan itu aura kelamnya tidak pernah hilang dan sengaja tidak pernah dipakai lagi untuk aktivitas apa pun.

​Selain kejadian gayung dilempar yang menimpa kami berdua di lantai 1, rekan-rekan penyiar yang bertugas di radio segmen dewasa di lantai 2 juga memiliki buku harian horor mereka sendiri. Mereka sering kali ‘dikerjai’ oleh penunggu di sana.

​Pernah suatu ketika, seorang penyiar hendak naik tangga menuju lantai 2. Di pertengahan anak tangga, kakinya terasa seperti ada yang menjegal dengan kuat hingga ia nyaris tersungkur. Walaupun untuk berpikir positif, kami sering berdalih mungkin ia kurang hati-hati saat melangkah. Namun aura di tangga itu memang selalu terasa berat.

​Ada lagi kejadian yang dialami oleh penyiar lantai 2 yang kebagian jatah siaran pagi buta. Untuk siaran jam 6 pagi, otomatis penyiar tersebut harus sudah tiba di kantor sendirian pada jam 5.30 pagi untuk menyalakan pemancar sentral dan booting komputer siaran.

​Suatu pagi, penyiar tersebut datang saat langit masih gelap. Ia yang memegang kunci utama membuka pagar depan dan pintu-pintu utama yang jelas-jelas masih terkunci rapat dari dalam. Namun, saat ia melangkah masuk mendekati kabin siaran lantai 2, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada sesosok ‘orang’ sedang berdiri di dalam ruangan kecil di samping kabin siarannya.

​Secara logika, tidak mungkin ada maling atau staf lain yang masuk karena semua kunci berlapis masih utuh tergembok. Dengan jantung berdebar, penyiar itu memberanikan diri membuka pintu ruangan kecil tersebut. Dalam sekejap mata, sosok bayangan itu hilang tak berbekas seolah tersapu angin.

​Telepon Tengah Malam

​Namun, dari semua kisah di lantai 2, ada satu kejadian yang paling membuat merinding. Ini dialami oleh seorang penyiar senior yang membawakan program siaran ‘Tembang Kenangan’ pada jam 10 malam ke atas. Suasana malam dipadukan dengan lagu-lagu lawas melankolis rupanya memancing ‘mereka’ untuk ikut berpartisipasi.

​Penyiar ini sering kali diganggu lewat sambungan telepon. Di ruang siaran, jika ada telepon masuk, biasanya mesin penerima akan memberikan tanda berupa lampu merah yang menyala kedap-kedip, dan suara si penelepon akan langsung tersambung ke headphone penyiar sebelum diangkat ke udara.

​Malam itu, sekitar jam 11 malam, lampu merah berkedip. Si penyiar mengangkatnya. Di ujung telepon, terdengar suara seorang wanita yang sangat lirih dan pelan. Sesuai prosedur, penyiar itu menanyakan nama dan alamat untuk mencatat request lagu.

​Wanita misterius itu menyebutkan sebuah nama dengan nada datar. Kemudian, ia mulai menyebutkan alamatnya.

​Yang bikin horor dan membuat darah penyiar itu mendesir kencang adalah, Alamat yang disebutkan oleh penelepon wanita itu adalah alamat persis gedung kantor radio kami!

​Seketika, hawa dingin menyelimuti tengkuk penyiar tersebut. Bersamaan dengan rampungnya wanita itu menyebutkan alamat kantor, mata si penyiar tanpa sengaja melirik ke arah kaca kabin siarannya. Dan di sana, di dalam ruangan kecil samping kabin lantai 2, terlihat ada sesosok wanita pucat sedang duduk menatap ke arahnya.

​Sosok itu terlihat cukup jelas karena desain ruangan lantai 2 didominasi oleh kaca tembus pandang. Si penyiar kaku, tak mampu bersuara. Namun, tak lama setelah mereka bertatapan dalam keheningan yang mematikan, sosok wanita itu perlahan memudar dan hilang dengan sendirinya.

​Syukurlah, dari sekian banyak gangguan dan penampakan yang terjadi di gedung itu, mulai dari gayung yang dibanting hingga penampakan sosok di lantai 2, entitas-entitas tersebut tidak pernah mengganggu atau melukai kami secara fisik. Mereka hanya sebatas menunjukkan presensi mereka, mengingatkan kami bahwa kami tidak bekerja sendirian di gedung tua tersebut.

​Renovasi

​Kini, tahun demi tahun telah berlalu. Kudengar kabar bahwa bangunan kantor dengan desain rumah tua itu sudah dirombak total oleh manajemen. Gedung itu telah dihancurkan dan diganti dengan konstruksi bangunan yang jauh lebih modern, meski masih mempertahankan struktur dua lantai.

​Apakah setelah direnovasi menjadi modern, gedung itu masih horor?

​Berdasarkan cerita teman-teman yang masih bekerja di sana, kalau malam hari suasananya lumayan bikin merinding juga. Mungkin karena letak bangunannya yang agak memanjang ke belakang sehingga terasa sepi jika staf office sudah pulang, atau mungkin… ‘mereka’ memang tidak pernah benar-benar pergi dari tanah tersebut.

​Adapun tentang diriku, aku secara pribadi memutuskan untuk berhenti menjadi freelance di stasiun radio tersebut pada bulan September 2015. Namun jangan salah sangka, keputusanku resign bukanlah karena aku menyerah pada cerita horor atau trauma dengan insiden gayung melayang itu. Aku pergi karena mendapatkan penawaran yang lebih baik, pindah ke stasiun radio lain untuk bekerja sebagai karyawan full-time.

​Meskipun begitu, pengalaman siaran malam diiringi panasnya studio kedap suara dan suara bantingan di lorong belakang itu akan terus menjadi salah satu pengalaman mistis paling nyata yang pernah kualami. Sebuah pengingat abadi bahwa di dunia ini, kita selalu berdampingan dengan dimensi yang tak kasat mata. Dan satu pelajaran terpenting: Jangan pernah menertawakan mereka yang tak terlihat, apalagi saat kegelapan malam telah menyelimuti tempatmu berpijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
Tumbal Amuk Massa, Jerit Roshan Khatoon di Tengah Keadilan Palsu

Tumbal Amuk Massa, Jerit Roshan Khatoon di Tengah Keadilan Palsu

Eksorsisme Kematian – Ritual Pengusiran Setan yang Membunuh Adikku

Eksorsisme Kematian – Ritual Pengusiran Setan yang Membunuh Adikku

Kutukan Papan Arwah – Satu-Satunya Laporan Resmi Kepolisian Tentang Hantu

Kutukan Papan Arwah – Satu-Satunya Laporan Resmi Kepolisian Tentang Hantu

Delusi Haus Liur Kematian – Pembantaian di Ladang Tebu

Delusi Haus Liur Kematian – Pembantaian di Ladang Tebu

Sindikat Eksploitasi Anak Jalanan Berkedok Panti Asuhan

Sindikat Eksploitasi Anak Jalanan Berkedok Panti Asuhan

Tumbal Nyawa Pesugihan Hitam – Kesaksian Anak Terakhir

Tumbal Nyawa Pesugihan Hitam – Kesaksian Anak Terakhir

Populer
No popular posts within this time range.