Ikan Misterius ~ Langit Jakarta di akhir tahun 1999 terasa lebih kelabu dari biasanya. Bukan hanya karena mendung yang menggelayut manja menahan hujan, tetapi juga karena sisa-sisa badai krisis ekonomi 1998 yang masih memporak-porandakan kehidupan rakyat kecil. Di sudut kota yang kumuh, di mana rumah-rumah petak berhimpitan seperti kotak korek api, aku menjadi saksi sebuah tragedi danau angker yang merenggut nyawa satu keluarga utuh dalam satu malam.
Ini bukan sekadar cerita horor tentang hantu atau jurig. Ini adalah kisah tentang kemiskinan yang mencekik, keputusasaan seorang ayah, dan misteri alam yang tak terjelaskan nalar. Sampai hari ini, setiap kali aku melihat danau yang tenang atau mencium aroma ikan goreng, ingatan itu kembali menyeruak, bau anyir, suara rintihan, dan deretan tubuh kaku yang terbujur seperti ikan pindang.

Kala itu, aku masih balita, namun cerita ini diwariskan oleh ibuku dengan detail yang teramat tajam hingga serasa aku mengalaminya sendiri. Orang tuaku mengontrak di sebuah kawasan kumuh dekat pasar. Dampak kerusuhan dan krisis moneter membuat banyak orang, termasuk orang tuaku, harus bertahan hidup dengan cara yang paling purba, menahan lapar.
Namun, nasib kami masih sedikit lebih beruntung dibandingkan tetangga depan rumah kami.
Di depan kontrakan kami yang sempit, tinggalah sebuah keluarga besar yang nasibnya jauh lebih memprihatinkan. Mari kita sebut kepala keluarganya Pak Iman (nama samaran) dan istrinya Ibu Siti (nama samaran). Mereka adalah potret nyata dari penderitaan rakyat kecil saat itu. Bayangkan, dalam satu petak kontrakan yang pengap, mereka tinggal berjejalan sebanyak 9 orang, terdiri dari pasutri dan ke-7 anak mereka yang masih kecil-kecil.
Pak Iman adalah seorang petugas kebersihan jalanan. Sosoknya kurus, kering, namun memiliki sorot mata yang tekun dan rajin luar biasa. Sementara Ibu Siti bekerja serabutan sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah.
Membayangkan hidup mereka saja dadaku sudah sesak. Ruangan sesempit itu harus menampung napas sembilan manusia. Kesulitan ekonomi bukan lagi tamu, melainkan penghuni tetap di rumah mereka. Jangankan untuk membayar uang sewa kontrakan, untuk sekadar mengisi perut pun mereka harus memutar otak setiap hari.
Ibuku sering bercerita dengan mata berkaca-kaca, bagaimana keluarga Pak Iman sering kali hanya makan mie instan sebanyak 1-2 bungkus yang direbus dengan kuah banyak, lalu dibagi untuk 9 orang. Bisa kau bayangkan rasa mie itu? Hambar, hanya terasa air panas dan sedikit aroma bumbu. Jika sedang ada rezeki lebih, yang mereka sebut sebagai kemewahan, mereka akan makan satu kaleng sarden kecil yang juga dibagi sembilan.
Dan yang paling miris, tak jarang mereka melewati hari tanpa makan apa-apa. Hanya air putih yang menjadi pengganjal lambung yang perih menahan lapar.

Hari itu, suasana di pemukiman kami terasa lembap. Ibu Siti sedang hamil lagi, atau setidaknya sedang mengalami fase yang biasa disebut orang Jawa sebagai nyidam. Dia sangat menginginkan makan ikan. Bagi orang berada, keinginan ini sederhana. Tapi bagi Pak Iman, permintaan istrinya adalah sebuah tantangan besar di tengah dompet yang kosong.
Pak Iman, sebagai suami dan ayah yang bertanggung jawab, tidak tega melihat istri dan ketujuh anaknya kelaparan. Sepulang dari menyapu jalanan dan membersihkan sampah kota, lelah di badannya tak ia hiraukan. Menjelang Maghrib, Pak Iman memutuskan untuk pergi ke sebuah danau yang tak jauh dari pemukiman kami.
Danau itu bukan danau wisata yang indah. Itu adalah genangan air luas yang dikelilingi semak belukar liar, tempat yang oleh warga sekitar dianggap angker. Banyak cerita urban legend yang beredar, mulai dari larangan memancing saat Maghrib, hingga kisah orang-orang yang tenggelam karena nekat berenang atau terpeleset lalu jasadnya lenyap begitu saja.
Tapi, Pak Iman adalah tipe orang yang realistis. Baginya, hantu tidak lebih menakutkan daripada melihat anak-anaknya menangis kelaparan. Dia tidak percaya takhayul. Yang ada di pikirannya hanya satu, dapat ikan, istri senang, anak kenyang.

Sesampainya di danau, keanehan mulai terjadi. Biasanya, memancing membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Namun sore itu, kail pancing Pak Iman seolah memiliki magnet. Belum ada satu jam ia duduk di tepian danau yang mulai gelap, ia sudah mendapatkan ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Berlimpah ruah.
Pak Iman girang bukan kepalang. Dia membayangkan wajah ceria anak-anaknya. Dia tidak menyadari, atau mungkin memilih mengabaikan tanda-tanda ganjil dari ikan hasil tangkapannya.
Saat diinterogasi di saat-saat terakhirnya, Pak Iman sempat menceritakan wujud ikan misterius itu. Jenisnya sekilas mirip campuran antara ikan bawal dan ikan petek. Tapi ada yang salah. Mata ikan-ikan itu melotot aneh, tidak seperti mata ikan wajar. Sisiknya pun kasar dan tebal, menyerupai sisik biawak. Lebih aneh lagi, sebagian ikan itu ada yang masih hidup menggelepar, namun ada juga yang sudah mati kaku saat ditarik dari air.
Hentah ikan siluman, ikan mutan, atau ikan yang terkontaminasi limbah beracun, Pak Iman tak peduli. Rasa lapar telah menutupi logikanya. Dia membawa pulang sekeranjang penuh “rezeki” itu dengan hati berbunga-bunga.

Sesampainya di kontrakan sempit itu, sorak sorai ketujuh anaknya menyambut kedatangan sang ayah. Bau amis ikan segera berganti menjadi aroma gurih ikan goreng yang menusuk hidung. Malam itu, keluarga Pak Iman menggelar pesta.
Semua anak berkumpul, berdempetan mengelilingi piring. Mereka melahap ikan goreng itu dengan rakus. Rasa lapar yang sudah menumpuk berhari-hari membuat mereka tak peduli pada rasa daging ikan yang mungkin berbeda. Bahkan, anak mereka yang masih balita pun ikut disuapi daging ikan tersebut.
Saking banyaknya hasil tangkapan Pak Iman, mereka bahkan menambah porsi makan. Ikan itu dilahap sampai habis tak bersisa, hanya menyisakan duri-duri di piring seng.
Setelah perut kenyang, rasa kantuk menyerang. Sebagian anak bermain sebentar di luar, sementara Pak Iman dan Ibu Siti beristirahat, bersandar di dinding kontrakan dengan perasaan lega yang luar biasa. Pukul 10 malam, lampu dimatikan. Mereka semua tidur lelap, bersiap untuk aktivitas esok hari. Anak-anak harus sekolah, dan orang tua harus kembali bekerja.
Tanpa mereka sadari, itu adalah tidur panjang yang akan mengantar mereka pada mimpi buruk abadi.

Matahari pagi mulai menyinari lorong-lorong kumuh Jakarta. Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Ibuku sedang menjemur pakaian di depan rumah ketika menyadari sesuatu yang janggal.
Biasanya, jam segini kontrakan Pak Iman sudah riuh. Suara anak-anak berebut kamar mandi, suara denting piring, atau suara Pak Iman bersiap kerja. Tapi pagi itu, pintu kontrakan mereka masih tertutup rapat. Hening. Senyap.
”Tumben banget, apa mereka kesiangan?” pikir ibuku.
. Kasihan jika anak-anaknya terlambat sekolah.
Ibuku mengetuk pintu.
Tok… Tok… Tok…
Tidak ada jawaban.
Ibuku mencoba memutar gagang pintu. Ternyata tidak dikunci. Perlahan, pintu kayu rapuh itu terbuka, dan seketika itu juga, bau yang amat menyengat menyerbu keluar. Bukan bau ikan goreng sisa semalam, melainkan bau muntahan yang amis dan anyir luar biasa.
Pemandangan di dalam ruangan 3×4 meter itu membuat jantung ibuku nyaris berhenti berdetak.
Mereka semua, sembilan orang itu tergeletak di lantai tikar. Mereka berjejer, tidur terlentang kaku, persis seperti ikan pindang yang dijajarkan di pasar. Lantai penuh dengan cairan muntahan. Wajah mereka pucat pasi, membiru, dengan mata yang sayu.
Dari sudut ruangan, terdengar suara lirih, sangat kecil, seperti cicit tikus yang sekarat.
“Toloong…”
Itu suara Pak Iman. Tubuhnya lumpuh, tak bisa bergerak, hanya matanya yang menatap nanar ke arah ibuku, memohon pertolongan di sisa napas terakhirnya.

Tanpa pikir panjang, ibuku berteriak memanggil bapakku. Bapakku segera datang dan bersama warga lain membopong tubuh Pak Iman dan keluarganya satu per satu. Situasi di kampung kami menjadi gempar. Sirine ambulan, teriakan warga, dan tangisan menyatu menjadi kekacauan pagi itu.
Mereka dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Namun, takdir berkata lain. Racun atau kutukan itu bekerja terlalu cepat dan ganas.
Dari cerita yang kemudian kami dengar, kejadian mengerikan itu bermula tengah malam tadi.
Setelah tidur, salah satu anak terbangun karena sakit perut hebat. Dia muntah-muntah di kamar mandi. Tak lama kemudian, satu per satu saudaranya mengalami hal yang sama, mual, muntah hebat dan diare akut.
Ibu Siti, yang sedang hamil, mengeluh kepalanya pusing luar biasa, seolah diputar-putar. Pak Iman yang awalnya berpikir positif bahwa itu hanya “masuk angin” biasa, mencoba menenangkan keluarganya. Dia memberi mereka air putih dan menyuruh tidur lagi, berharap sakit itu hilang esok pagi.
Tapi kemudian, reaksi tubuh Pak Iman sendiri mulai tak terkendali. Tiba-tiba otot-ototnya terasa lemas, lumpuh total seperti tak bertulang. Kepalanya berat bukan main. Saking tidak kuatnya berdiri, Pak Iman pun muntah di atas kasur tikarnya.

Dalam kondisi lumpuh, dia memanggil istri dan anak-anaknya.
“Bu… Nak…”
Hening. Tidak ada sahutan. Wajah anak-anak dan istrinya sudah pucat pasi. Beberapa sudah tidak sadarkan diri setelah memuntahkan seluruh isi perut mereka. Pak Iman hanya bisa berbaring tak berdaya di antara tubuh orang-orang yang dicintainya, menyaksikan nyawa mereka melayang satu per satu dalam diam.

Hasil diagnosa dokter menyatakan mereka mengalami keracunan ikan yang parah.
Kenyataan pahit harus kami terima. Ibu Siti ternyata sudah meninggal dunia di dalam kontrakan sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Satu per satu anak-anak mereka yang lucu pun menyusul ibunya, menghembuskan napas terakhir selama dalam penanganan di ruang opname.
Pak Iman, sang kepala keluarga yang berniat membahagiakan keluarganya, bertahan sedikit lebih lama. Namun, racun itu sudah merusak organ-organ vitalnya. Tak lama setelah seluruh anaknya meninggal, Pak Iman pun ikut menyusul, pergi untuk selamanya.
Satu kampung heboh. Bagaimana mungkin ikan bisa membunuh 9 orang sekaligus dengan begitu cepat?
Desas-desus mistis pun merebak liar. Warga mengaitkan kejadian ini dengan danau angker tempat Pak Iman memancing. Banyak yang percaya bahwa ikan yang ditangkap Pak Iman dengan mata melotot dan sisik biawak itu adalah ikan siluman atau jelmaan penunggu danau yang marah karena diambil paksa.
Entah apa ada hubungannya dengan hal mistis atau murni keracunan neurotoksin dari ikan yang tidak layak konsumsi, yang jelas danau itu memang menyimpan misteri kelam. Banyak yang sudah menjadi korban di sana, entah tenggelam atau hilang tanpa jejak.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Kisah keluarga Pak Iman masih menjadi peringatan bagi kami. Kemiskinan memang bisa memaksa manusia melakukan apa saja, bahkan memakan sesuatu yang tidak lazim. Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk menjaga rahasianya.
Bagi kalian yang hobi memancing, berhati-hatilah. Jika alam memberikan sesuatu yang terlalu mudah atau terlihat ganjil, mungkin itu bukan rezeki, melainkan jebakan. Dan bagi keluarga Pak Iman, semoga mereka kini tenang di sana, di tempat di mana tidak ada lagi rasa lapar dan tidak ada lagi ikan beracun.
Rest in Peace, Pak Iman, Ibu Siti, dan ketujuh malaikat kecil kalian.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan kisah nyata yang diceritakan ulang dari sumber terlampir.