Kabar tentang seorang anak bunuh ibu kandung belakangan ini berseliweran di linimasa media sosial, memancing amarah dan air mata jutaan netizen. Bagi kebanyakan orang, itu hanyalah sebuah berita kriminal yang melintas di layar ponsel yang membuat dahi berkerut sejenak sebelum jari kembali menggulir layar. Namun bagiku, tragedi viral itu bukanlah sekadar rentetan teks berita. Itu adalah realitas mengerikan yang terjadi hanya beberapa meter dari dinding kamarku. Sebuah neraka yang tercipta di dunia nyata, merenggut nyawa wanita paling berhati malaikat yang pernah kukenal.
Namaku Tari (bukan nama sebenarnya), dan aku adalah tetangga sekaligus sahabat terdekat dari almarhumah, sebut saja beliau Ibu Hanum. Rumah kami hanya dipisahkan oleh sekat tembok tipis di sebuah gang padat penduduk. Tulisan ini kubuat dengan tangan yang masih gemetar, bukan untuk mengais sensasi, melainkan sebagai katarsis atas rasa bersalahku yang tertinggal, sekaligus peringatan bagi siapa pun bahwa kehancuran sebuah keluarga sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang kita abaikan.

Ibu Hanum adalah potret janda tangguh yang hidupnya hanya didedikasikan untuk satu tujuan, yaitu kebahagiaan putra tunggalnya. Mari kita panggil pemuda itu Dewa (nama samaran). Suami Ibu Hanum sudah meninggal sejak Dewa masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak saat itu, bahu Ibu Hanum yang ringkih harus memikul beban ganda sebagai ayah sekaligus ibu.
Setiap pagi, sebelum azan Subuh berkumandang, aku sudah mendengar suara ketukan wajan dari dapur Ibu Hanum. Beliau adalah penjual nasi uduk dan aneka gorengan. Aroma harum bawang goreng dan pandan dari rumahnya selalu menjadi alarm alami bagiku. Hasil dari berjualan nasi uduk itulah yang digunakan Ibu Hanum untuk menyekolahkan Dewa, membelikan pakaian yang layak, hingga mengkreditkan sebuah motor agar anak kebanggaannya itu tidak malu bergaul dengan teman-temannya.
”Biarlah Ibu yang capek, Tar. Yang penting Dewa bisa jadi orang, nggak diremehkan tetangga,” ucap Ibu Hanum suatu sore saat kami sedang duduk mengupas bawang di terasnya. Matanya selalu berbinar penuh harap setiap kali menyebut nama Dewa.
Dewa di masa remajanya adalah anak yang penurut. Ia sering membantu ibunya mengangkat barang dagangan. Tutur katanya lembut, dan ia selalu menyalami warga jika berpapasan di gang. Namun, waktu dan lingkungan perlahan mengikis kepolosan itu. Siapa sangka, anak laki-laki yang dulu sering menangis jika ibunya sakit, kelak akan menjadi algojo yang mencabut nyawa wanita yang telah melahirkannya.

Perubahan Dewa tidak terjadi dalam semalam. Itu seperti rayap yang memakan tiang kayu perlahan-lahan dari dalam, hingga akhirnya rumah itu rubuh tanpa sisa. Lulus dari Sekolah Menengah Atas, Dewa kesulitan mencari pekerjaan tetap. Ia mulai bergaul dengan anak-anak jalanan di ujung kampung yang kerap nongkrong hingga pagi buta.
Perlahan, Dewa mulai mengenal dunia gelap di balik layar ponselnya, judi online dan pinjaman online (pinjol).
Awalnya, Ibu Hanum tidak menaruh curiga. Beliau mengira anaknya hanya bermain game biasa. Namun, gelagat Dewa semakin tak terkendali. Ia mulai sering membentak ibunya. Motor yang dulu dibelikan ibunya dengan susah payah, tiba-tiba lenyap. Alasan Dewa, motor itu dipinjam teman dan hilang. Padahal, warga kampung tahu persis motor itu telah digadaikan untuk membayar utang judi.
Barang-barang di rumah Ibu Hanum mulai menghilang satu per satu. Mulai dari tabung gas, televisi layar datar berukuran kecil, hingga cincin kawin peninggalan almarhum suami Ibu Hanum. Setiap kali Ibu Hanum bertanya, Dewa akan mengamuk, membanting pintu, dan melontarkan kata-kata kotor yang tak pantas diucapkan oleh seorang anak.
Aku sering melihat Ibu Hanum menangis diam-diam di depan rumah saat menjemur pakaian. Ketika kutanya, beliau hanya tersenyum getir, “Namanya juga anak muda, Tar. Lagi cari jati diri. Doakan saja Dewa cepat sadar.”
Kesabaran Ibu Hanum benar-benar seluas samudra, meski air mata itu perlahan berubah menjadi darah.

Seminggu sebelum malam jahanam itu, hawa di sekitar kontrakan kami terasa sangat tidak nyaman. Gang yang biasanya ramai oleh anak-anak bermain, mendadak terasa suram. Ibu Hanum juga terlihat sangat pucat dan sering sakit-sakitan. Wajahnya menua sepuluh tahun lebih cepat.
Puncaknya terjadi pada hari Kamis sore. Aku mendengar keributan hebat dari sebelah rumah. Suara Dewa menggelegar, memecah keheningan sore.
”Pokoknya Dewa butuh uang tiga juta hari ini juga, Bu! Kalau nggak, Dewa bisa mati dibunuh orang!” teriaknya kalap.
”Ibu uang dari mana, Nak? Uang tabungan sudah habis kamu ambil minggu lalu. Jualan ibu lagi sepi. Sabar dulu, ya? Ibu pinjam ke tetangga dulu,” suara Ibu Hanum terdengar bergetar, penuh ketakutan bercampur isak tangis.
”Alah! Omong kosong! Jual sertifikat rumah ini! Gitu aja repot!” bentak Dewa lagi, disusul suara benda pecah. Piring porselen kesayangan Ibu Hanum hancur berkeping-keping.
Aku sempat berlari ke luar, berniat melerai. Namun, saat aku berdiri di depan pintu rumah mereka, Ibu Hanum keluar dengan wajah sembab. Beliau menggeleng pelan ke arahku, seolah memohon agar aku tidak ikut campur. “Nggak apa-apa, Tar. Biasa, anak laki-laki lagi emosi,” bisiknya mencoba tegar, meski ujung bibirnya bergetar hebat.
Aku mundur. Dan itulah keputusan yang akan kusesali seumur hidupku. Seandainya hari itu aku bersikeras melapor ke ketua RT atau memanggil warga, mungkin kasus ini tidak akan pernah menghiasi layar kaca televisi kita.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Aku sedang terjaga karena insomnia, asyik membaca buku di bawah lampu remang.
Tiba-tiba, dari sebelah rumah, terdengar suara keributan yang jauh lebih mengerikan dari biasanya. Kali ini bukan sekadar bentakan. Aku mendengar suara benturan benda keras yang berkali-kali menghantam sesuatu. Bukk! Bukk! Bukk! Lalu, disusul oleh rintihan parau yang menyayat hati.
“Astaghfirullah, Nak… Ampun, Nak… Ini Ibu, Nak… Sakit… Allahu Akbar…”
Suara itu adalah suara Ibu Hanum. Suaranya tidak keras, lebih mirip cicitan orang yang saluran napasnya tercekik. Jantungku memompa darah dengan kecepatan gila. Tubuhku membeku di atas kasur. Logikaku menyuruhku berlari keluar, berteriak, menggedor pintu. Namun, rasa takut yang luar biasa mencengkeram kakiku.
Aku mencoba menempelkan telingaku ke tembok pemisah rumah kami.
”Makanya kasih uangnya! Dasar pelit! Sama anak sendiri pelit!” Suara Dewa terdengar mendesis, sangat dingin, bukan seperti manusia, melainkan iblis yang telah kehilangan kewarasannya.
Terdengar lagi satu benturan yang sangat keras. BRAK! Sesuatu yang berat jatuh ke lantai.
Setelah itu… hening. Keheningan yang sangat pekat, sangat mematikan. Tidak ada lagi rintihan Ibu Hanum. Tidak ada lagi bentakan Dewa. Hanya suara rintik hujan di genteng yang mengisi ruang kosong itu.
Aku meringkuk di pojok kasur, berdoa sambil menangis tanpa suara. Membodohi diriku sendiri dengan pikiran bahwa mungkin Ibu Hanum hanya pingsan, atau Dewa sudah pergi dari rumah. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok itu.

Sinar mentari pagi tidak membawa kehangatan hari itu, melainkan menguak tabir kengerian yang membuat seluruh kampung menjerit histeris.
Pukul 06.00 pagi, warga mulai beraktivitas. Aku memberanikan diri keluar rumah. Pintu rumah Ibu Hanum sedikit terbuka. Tidak ada aroma nasi uduk. Tidak ada suara wajan. Hanya bau anyir yang sangat menyengat, mirip bau karat besi yang dicampur darah segar, menguar dari celah pintu.
Ketua RT kami, Pak Harno, kebetulan sedang lewat untuk pergi ke masjid. Karena merasa curiga melihat pintu terbuka dan bau aneh itu, ia mengajakku masuk untuk mengecek.
”Bu Hanum? Bu…” panggil Pak Harno sambil mendorong pintu perlahan.
Langkah kami terhenti di ruang tengah. Pemandangan di depan kami membuat kakiku seketika lemas hingga aku jatuh terduduk di lantai. Perutku bergejolak hebat, dan aku langsung muntah di tempat.
Di atas karpet plastik bermotif bunga yang sudah berubah warna menjadi merah pekat, tubuh Ibu Hanum tergeletak tak bernyawa. Kondisinya sungguh tidak manusiawi. Wajah yang selalu tersenyum ramah itu kini hancur lebur akibat hantaman benda tumpul. Di samping tubuhnya yang kaku, tergeletak sebuah cobek batu berukuran besar yang biasa ia gunakan untuk mengulek sambal nasi uduk, cobek yang sama yang ia gunakan untuk mencari nafkah demi membesarkan anak pembunuhnya.
Darah ada di mana-mana. Memercik ke dinding, merendam pakaian daster lusuh yang ia kenakan. Mata Ibu Hanum sedikit terbuka, menatap kosong ke langit-langit atap, seolah menyimpan seribu tanya: Mengapa kau lakukan ini, anakku?
”Ya Allah! Gusti Pangeran! Tolong! Ada pembunuhan!” jerit Pak Harno dengan suara bergetar hebat.
Dalam hitungan menit, rumah kecil itu dikepung warga. Jerit tangis, umpatan kemarahan, dan raung sirine polisi segera memenuhi udara pagi. Tragedi ini meledak, menjadi konsumsi publik, dan menyebar cepat bagai api melahap jerami kering.

Polisi bergerak sangat cepat. Dewa ditangkap siang harinya di sebuah warung kopi tak jauh dari stasiun, saat ia sedang santai menyeruput kopi dan menghisap rokok seolah tak terjadi apa-apa. Jari-jarinya yang masih menyisakan bercak darah kering sedang sibuk menekan-nekan layar ponsel.
Saat Dewa digiring ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk rekonstruksi, emosi warga tak lagi bisa dibendung. Makian, lemparan batu, hingga percobaan amuk massa terjadi. Namun, yang paling membuat hati ini mendidih dan hancur berkeping-keping adalah ekspresi wajah Dewa.
Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Matanya kosong, dingin, dan datar.
Fakta investigasi dari kepolisian yang kemudian bocor ke media mengungkap motif yang sangat tidak masuk akal. Semua itu benar-benar hanya karena uang tiga juta rupiah. Dewa kalah telak dalam judi slot online dan dikejar utang oleh rentenir aplikasi. Ia memaksa ibunya menyerahkan surat tanah. Ketika ibunya menolak sambil menangis dan memeluk kaki Dewa, pemuda itu gelap mata. Ia mengambil cobek dari dapur dan menghantamkannya ke kepala ibunya berulang kali hingga sang ibu menghembuskan napas terakhirnya.
Setelah memastikan ibunya tewas, Dewa dengan keji menggeledah lemari pakaian ibunya, mengambil sisa uang receh hasil jualan, dan pergi begitu saja. Nyawa seorang ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan, menyusuinya, dan mengorbankan masa mudanya, ditukar dengan angka-angka digital di layar ponsel yang tak ada harganya.

Kini, Dewa harus mendekam di balik jeruji besi, menanti vonis hukum yang pastinya sangat berat. Namun, hukuman dunia seberat apa pun rasanya tak akan pernah cukup untuk menebus dosa menghabisi nyawa ibu kandung sendiri.
Pemakaman Ibu Hanum diiringi rintik hujan dan isak tangis ratusan pelayat. Aku berdiri di tepi liang lahat, menaburkan bunga dengan tangan gemetar. Di dalam hati, aku terus merapal kata maaf. Maaf karena aku menutup telinga di malam kejadian itu. Maaf karena aku tidak mendobrak pintu. Maaf karena aku membiarkan Ibu Hanum berjuang sendirian di detik-detik terakhir hidupnya.
Rumah sebelah kini kosong melompong. Diberi garis polisi berwarna kuning yang menyilang. Bau anyir darahnya mungkin sudah dibersihkan, tapi sisa-sisa kengeriannya akan terus menempel di dinding ingatanku.
Kasus ini menjadi viral, mengundang simpati dari seluruh negeri. Netizen beramai-ramai menghujat sang anak dan mendoakan sang ibu. Namun, setelah hype ini mereda, setelah berita ini tergantikan oleh gosip artis atau skandal politik terbaru, apa yang tersisa?
Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Kasus anak bunuh ibu kandung bukan semata-mata soal kriminalitas murni. Ini adalah puncak dari gunung es masalah sosial di masyarakat kita. Tentang rusaknya mental generasi muda yang terjerat candu digital seperti judi online, tentang tekanan ekonomi yang mencekik, dan tentang hilangnya empati di lingkungan bertetangga.
Jangan biarkan kesibukan membuat kita buta terhadap penderitaan orang di sekeliling kita. Jika Anda mendengar keributan yang mencurigakan, beranikan diri untuk bertindak. Jika Anda melihat seorang anak mulai tersesat, tegurlah. Dan yang paling penting, bagi kita yang masih memiliki orang tua, hargailah setiap tetes keringat mereka. Kasih sayang mereka tak bisa dibeli dengan uang, dan kehilangan mereka karena ketamakan adalah neraka yang akan Anda tanggung di dunia dan akhirat.
Semoga Ibu Hanum kini berada di tempat yang paling indah di sisi-Nya, terbebas dari segala rasa sakit dan beban dunia. Dan semoga, tragedi kelam di ujung lorong ini menjadi yang terakhir kali kita dengar di bumi ini.