Bagi kebanyakan orang, kata “Rumah” dan “Keluarga” adalah simbol perlindungan, tempat di mana raga dan jiwa bisa beristirahat dengan tenang dari kerasnya dunia luar. Namun, bagaimana jika tempat yang seharusnya paling aman itu justru menjadi sumber bahaya yang paling mengancam nyawa dan kewarasanmu? Bagaimana jika sosok yang seharusnya menjadi tameng terdepan pelindungmu, justru menjadi monster yang paling menakutkan?
Namaku Alesha. Ini bukanlah sekadar cerita fiksi atau skenario film drama yang sengaja dibuat untuk memancing air mata. Ini adalah rentetan kepingan hidupku yang hancur, sebuah perjalanan panjang menembus lorong gelap penuh trauma, cemoohan, pelecehan, hingga ancaman yang menghancurkan jiwa. Aku membagikan kisah nyata ini dengan satu harapan pasti, agar setiap perempuan di luar sana yang sedang terperangkap dalam neraka yang sama tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Kehancuran fondasi hidupku dimulai jauh sebelum aku benar-benar mengerti arti kata perpisahan. Saat usiaku baru menginjak lima tahun, kedua orang tuaku bercerai. Bukan perpisahan yang baik-baik, melainkan sebuah akhir yang dipenuhi pengkhianatan karena ayahku berselingkuh dan sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap ibuku.
Sejak saat itu, hak asuhku jatuh ke tangan ibuku. Karena ibuku harus bekerja keras mengajar sebagai guru di sekolah demi menghidupi kami, aku akhirnya dititipkan dan dirawat oleh nenekku dari pihak ibu. Tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah di rumah ternyata membawa petaka tersendiri ketika aku mulai memasuki usia Sekolah Dasar (SD).
Anak-anak seusiaku yang belum mengerti apa-apa sering kali bertanya dengan polos namun menusuk, “Alesha, ayahmu ke mana?” Karena aku sendiri saat itu masih terlalu kecil dan belum paham apa itu perceraian, aku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan mereka. Ketidaktahuanku itu justru menjadi bumerang. Teman-temanku mulai menjadikan hal tersebut sebagai bahan ejekan. Aku sering diledek, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena aku berbeda dari mereka yang memiliki keluarga utuh.
Setiap hari sepulang sekolah, aku hanya bisa menangis sendirian. Kesedihan itu begitu pekat hingga air mata seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas masa kecilku. Aku selalu menangis dan bertanya-tanya, di mana ayahku berada, namun ibuku selalu memberikan jawaban yang sama, ayah sedang kerja jauh.
Penderitaan di sekolah itu baru sedikit mereda ketika aku akhirnya dipindahkan ke sekolah lain yang lokasinya berdekatan dengan rumah nenekku. Di sana, aku mulai bisa bernapas lega karena lingkungan baruku bisa menerimaku dengan baik. Sayangnya, kelegaan itu hanyalah jeda singkat sebelum badai yang jauh lebih besar menghantamku di dalam rumahku sendiri.

Orang sering berkata bahwa kejahatan paling keji sering kali datang dari orang-orang terdekat. Aku membuktikan pepatah mengerikan itu dengan tubuh dan mentalku sendiri.
Di masa kecilku, aku tidak hanya harus berjuang melawan bullying di luar rumah, tetapi juga harus menghadapi teror memuakkan di dalam rumah. Pelakunya adalah paman tiriku sendiri, suami dari bibiku (kakak kandung ibuku).
Pamanku ini memiliki kebiasaan yang sangat tidak wajar dan menjijikkan. Saat aku masih kecil, ia sering kali dengan sengaja ikut tidur di ranjang, berbaring tepat di sampingku. Dalam keheningan malam, tangannya mulai menjalar menyentuh pahaku. Tidak berhenti sampai di situ, ketakutanku memuncak setiap kali aku harus membersihkan diri, karena ia kerap kali diam-diam mengintipku saat aku sedang mandi.
Sebagai seorang anak kecil yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, aku membeku dalam ketakutan yang luar biasa. Aku tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis dalam diam, menggigit bibirku kuat-kuat, dan berdoa dalam hati memohon agar ibuku segera pulang dari tempat kerjanya untuk menyelamatkanku.
Hal yang paling menghancurkan hatiku hingga tak bersisa adalah fakta bahwa bibiku sendiri sebenarnya mengetahui kelakuan bejat suaminya. Namun, ia memilih untuk diam saja dan menutup mata seolah-olah tubuh keponakannya yang dilecehkan bukanlah sebuah masalah besar.
Kondisi ini semakin diperparah dengan status sosial mereka di mata masyarakat. Saat itu, bibiku adalah seorang tokoh masyarakat yang dihormati, sementara pamanku bekerja sebagai pegawai di kantor kecamatan. Pengaruh dan pandangan positif masyarakat terhadap mereka membuat posisiku semakin terpojok. Bagaimana mungkin seorang anak kecil dari keluarga pecah (broken home) bisa melawan dua sosok terpandang di lingkungannya? Aku hanya bisa menelan luka itu sendirian, membiarkan trauma demi trauma menumpuk menjadi gunung es di dalam jiwaku.

Semua trauma masa kecil itu meninggalkan bekas luka yang menganga lebar di dalam diriku. Namun, kehidupan seolah belum puas mengujiku. Puncak dari penderitaan fisik dan mentalku terjadi saat aku memasuki usia remaja, tepatnya di usia 18 tahun.
Aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang awalnya kuanggap bisa menjadi sandaran hatiku. Betapa bodohnya aku. Pria yang berstatus sebagai kekasihku saat itu justru menjadi pelaku pemerkosaan yang merenggut kehormatanku dengan cara yang sangat brutal.
Saat kejadian malam jahanam itu berlangsung, aku tidak pasrah begitu saja. Aku mencoba sekuat tenaga untuk melawan dan melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun, penolakanku justru memancing kemarahannya yang membabi buta. Ia mengambil sebuah botol minuman keras dan memukulkannya ke kepalaku berulang kali hingga kepalaku benjol parah. Seolah belum cukup menyiksaku, ia menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke tembok dinding dengan keras.
Rasa sakit di kepalaku membuat pandanganku berkunang-kunang. Di sela-sela rintihan kesakitan, aku menangis histeris dan memohon belas kasihan kepadanya agar ia menghentikan aksinya dan tidak menyentuhku. Namun, air mataku sama sekali tidak menggetarkan hati nuraninya. Tenaganya terlalu kuat, fisikku tak berdaya melawannya. Di malam kelam itu, aku diperkosa oleh pria yang seharusnya menyayangiku.
Dampak dari kejadian biadab itu begitu masif. Sampai saat ini, hanya dengan mendengar nama kota pesisir tempat di mana tragedi itu terjadi, tubuhku langsung bergetar hebat karena gemetar (tremor). Kenangan akan dinginnya tembok dan rasa sakit hantaman botol kaca itu terus menghantuiku. Syukurlah, berkat bantuan pria baik hati yang kini menjadi tunanganku, mantan kekasihku yang kejam itu akhirnya berhasil diseret ke pengadilan dan kini membusuk di dalam penjara.

Kalian mungkin berpikir bahwa setelah melewati perceraian orang tua, cemoohan teman, pelecehan dari paman, dan pemerkosaan brutal dari mantan kekasih, beban hidupku sudah mencapai batas maksimal yang bisa ditanggung seorang manusia. Aku pun berpikir demikian. Namun, aku salah besar.
Pukulan paling telak, hal yang paling membuatku hancur sehancur-hancurnya dan merasa sedih yang tiada tara, justru datang dari pria yang darahnya mengalir di nadiku. Ayah kandungku sendiri. Di mana sosok ayah yang seharusnya merengkuh dan melindungi anak perempuannya dari jahatnya dunia? Nyatanya, aku hidup dalam ancaman mencekam dari orang yang paling dekat secara biologis denganku.
Ayahku adalah seorang pengusaha di bidang penyewaan (rental) mobil yang cukup berkuasa. Alih-alih melindungiku, ia justru melemparkan ancaman yang begitu menjijikkan dan tak masuk akal sesaat setelah aku dinyatakan lulus sekolah.
Dengan tatapan dingin, ayahku mengatakan bahwa jika suatu saat aku berpacaran dan berani melewati batas, maka ia sendiri, ayah kandungku yang akan mengambil keperawananku.
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar tepat di ulu hatiku. Ancaman itu bukanlah sebuah gertakan sambal. Ayahku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ancaman pelecehan seksual dari ayah kandung sendiri meruntuhkan sisa-sisa kewarasanku.
Semenjak hari itu, hidupku sepenuhnya dikendalikan oleh ketakutan yang melumpuhkan. Aku menjadi sangat ketakutan untuk sekadar pulang atau berkunjung ke rumah ayahku. Padahal, di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat rindu ingin mengunjungi dan berdoa di makam kakek dan nenekku dari pihak ayah. Namun, rasa takut itu jauh lebih besar daripada rasa rinduku.
Ke mana pun aku melangkah, ke mana pun aku pergi, aku tidak pernah bisa merasa tenang. Ayahku selalu menebar teror psikologis dengan mengatakan bahwa ia memiliki jaringan luas dan akan selalu tahu di mana posisiku berada. Ia juga tak henti-hentinya mengancamku menggunakan kata-kata yang sangat kasar dan merendahkan martabatku sebagai seorang perempuan dan seorang anak.

Kehidupanku seolah berjalan di atas seutas tali tipis yang dipenuhi ketakutan. Ketakutan dari bullying di masa kecil, ketakutan akan pelecehan pamanku, ketakutan dari kekerasan seksual mematikan di usia remaja, dan yang paling parah, ketakutan akan kontrol absolut dan ancaman dari ayah kandungku sendiri.
Berada di posisi ini membuatku muak dan tidak kuat menahan beban sendirian. Aku pernah sampai pada titik di mana aku menyumpahi mereka semua, bahwa suatu saat nanti keluarga yang telah menorehkan luka sedalam ini akan dibuat hancur dan tidak akan diberikan muka sedikit pun di mata masyarakat. Aku bahkan meyakini bahwa, meski mereka kelak meninggal dunia, mereka tidak akan pernah mendapatkan keturunan lain selain diriku, satu-satunya keturunan yang masih hidup namun jiwanya telah mereka matikan.
Namun, terlepas dari semua rentetan neraka yang harus kulalui, aku menuliskan kisah ini dengan satu napas panjang, Tapi aku masih di sini.
Ya, aku masih bertahan hidup. Aku tidak membiarkan luka-luka itu mengakhiri ceritaku. Melalui masa pandemi beberapa tahun lalu, aku menemukan celah untuk kembali ke rumah ibuku dan memutus kontak yang membahayakan dari lingkungan toxic tersebut. Perlahan namun pasti, bersama orang-orang yang benar-benar peduli padaku, terutama tunanganku yang tulus menerima segala kelamnya masa laluku, aku belajar merangkai kembali puing-puing harga diriku yang sempat berserakan.
Melalui tulisan ini, aku ingin berseru kepada seluruh masyarakat luas, bacalah jeritan hati kami. Tolong, ciptakan ruang yang benar-benar aman untuk perempuan!
Sangat menyedihkan ketika menyadari bahwa tempat yang seharusnya menyajikan keamanan tanpa syarat, seperti rumah, keluarga, dan pelukan orang tua sendiri, ternyata bisa berubah menjadi sumber malapetaka paling mengerikan.
Untuk kalian, para perempuan, saudari-saudariku yang mungkin saat ini sedang membaca tulisanku dengan air mata menggenang di pelupuk karena mengalami hal serupa:
Kamu tidak sendirian. Kita bisa saling menguatkan. Jangan biarkan monster-monster itu menang dan mengambil alih hidupmu. Masa lalu kita mungkin penuh dengan noda darah dan air mata, tapi masa depan kita adalah milik kita sendiri untuk direbut kembali.