Jalanan aspal yang basah memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang, menciptakan bayangan panjang yang seolah menari-nari mengiringi perjalananku. Bagi sebagian orang, malam adalah waktunya beristirahat, namun bagi kami para pengemudi logistik, malam adalah sahabat sekaligus musuh yang mematikan. Ini adalah kisah horor supir truk yang meruntuhkan logikaku sebagai manusia biasa. Sebuah pengalaman yang terjadi sekitar satu bulan lalu di sebuah gudang di wilayah Jawa Barat, di mana aku dipaksa menjadi saksi atas penderitaan tak kasat mata dari sebuah tragedi masa lalu yang belum tuntas.
Aku bukan tipe orang yang penakut. Bertahun-tahun hidup di jalanan, tidur di bak truk, dan melintasi hutan belantara di tengah malam sudah menjadi makananku sehari-hari. Namun, malam itu berbeda. Ada sesuatu yang menunggu di gudang itu. Sesuatu yang seharusnya sudah terkubur tenang, namun bangkit menuntut keadilan dengan cara yang paling mengerikan.

Gerimis malam itu terasa menusuk tulang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 19.00 WIB, tetapi langit sudah gelap pekat seolah menelan bumi. Aku baru saja pulang dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Mata ini rasanya berat sekali, sisa lelah perjalanan panjang masih menggelayut di pelupuk mata. Harapanku untuk tidur nyenyak di rumah kontrakan musnah ketika ponsel bututku bergetar di atas meja.
Sebuah pesan suara masuk via WhatsApp. Itu dari Bos-ku.
“Bayu… malam ini juga kamu berangkat ke gudang sendirian aja ya. Kamu angkut kalsium buat ke toko Haji Ian di Ciwidey. Ongkos sama surat jalan udah saya titipin sama anak buah saya di gudang. Kamu berangkat sendiri aja, saya lagi di luar kota,” suara Bos terdengar mendesak.
Helaan napas panjang keluar dari mulutku. Menolak perintah Bos sama saja cari masalah, apalagi di situasi ekonomi yang sedang sulit ini. Meski berat hati, aku meneguk sisa kopi hitam yang sudah dingin, menyambar jaket, dan bergegas memanaskan mesin truk.
Perjalanan menuju gudang terasa sunyi. Hanya suara wiper yang berdecit menyapu air hujan di kaca depan yang menemaniku. Sekitar pukul 21.30 WIB, aku tiba di lokasi gudang. Gudang itu terletak agak terpencil, jauh dari pemukiman warga, dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan gelap.
Aktivitas muat barang berjalan lancar. Para kuli panggul bekerja cepat memindahkan karung-karung kalsium ke atas bak trukku. Namun, ada yang aneh. Mereka bekerja dalam diam, jarang bercanda, dan seolah ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan itu. Tepat pukul 23.00 WIB, muatan selesai.
”Bang, kami balik duluan ya. Kunci gerbang sama gudang titip di Abang aja nanti kasih ke penjaga pas keluar,” ujar salah satu kuli dengan tergesa-gesa.
Dalam sekejap, suara motor mereka menderu menjauh, meninggalkan aku sendirian di tengah gudang besar yang sunyi. Hanya ada aku, trukku, dan suara rintik hujan yang mulai reda.

Segalanya terasa beres. Surat jalan sudah di tangan, terpal sudah terikat rapi. Aku naik ke kabin, memutar kunci kontak, dan mesin diesel truk menyala dengan gagah. Aku siap berangkat menuju Ciwidey.
Namun, takdir berkata lain.
JESSSSSSSSSS…
Suara desisan tajam terdengar dari arah belakang. Hatiku mencelos. Aku tahu persis suara itu.
”Sialan!” umpatku sambil memukul setir. Ban belakang kempes.
Kenapa harus sekarang? Kenapa harus saat aku sendirian di tempat sepi ini? Dengan perasaan dongkol setengah mati, aku turun dari truk. Benar saja, ban belakang sebelah dalam gembos total. Mau tidak mau, aku harus mendongkrak dan menggantinya sendiri di tengah malam buta.
Aku mengambil dongkrak dan kunci roda, lalu mulai bekerja. Keringat dingin mulai bercampur dengan hawa dingin malam. Suasana gudang yang tadinya hening, tiba-tiba terasa “ramai” oleh suara-suara yang tidak seharusnya ada.
Saat aku sedang memutar dongkrak, telingaku menangkap suara air gemericik.
Byur… Byur…
Suara itu berasal dari kamar mandi gudang yang letaknya tak jauh dari tempat trukku parkir. Jelas sekali terdengar seperti ada orang yang sedang mandi, menciduk air dari bak mandi.
”Astaghfirullahaladzim…” gumamku.
Bulu kudukku meremang. Siapa yang mandi jam segini? Para kuli sudah pulang semua. Penjaga gudang posisinya di pos depan yang jauh. Logikaku berusaha menepis rasa takut. Mungkin keran bocor, pikirku.
Tapi teror itu tidak berhenti di situ.
BLUGGGGG…
Tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh. Aku menoleh kaget. Sebuah karung kosong yang tadinya tertumpuk rapi di sudut gudang, tiba-tiba jatuh sendiri ke lantai seolah didorong oleh tangan tak terlihat. Jantungku mulai berdegup kencang tak karuan.
”Siapa lagi yang jahil tengah malam…” batinku berperang dengan rasa takut.

Aku mencoba mengabaikan gangguan itu dan kembali fokus pada ban truk. Posisiku saat itu setengah tiarap di kolong truk untuk membuka baut ban. Pandanganku terbatas, hanya melihat aspal dan bagian bawah sasis truk.
Saat itulah, mata ini melihat sesuatu yang tidak akan pernah bisa kuhapus dari ingatan.
Di sela-sela kolong truk, aku melihat sepasang kaki. Bukan kaki manusia normal yang menapak tanah, tapi kaki yang melayang sedikit di atas permukaan. Penasaran bercampur ngeri, mataku menelusuri sosok itu ke atas.
”ASTAGHFIRULLAHALADZIM!”
Teriakan itu tertahan di tenggorokan. Di sana, di tengah kegelapan gudang, berdiri sosok makhluk yang mengerikan.
Wajahnya hancur tak berbentuk. Kulit tubuhnya gosong dan mengelupas seperti habis terbakar hebat. Lidahnya menjulur keluar panjang, dan matanya… matanya melotot nyaris keluar dengan darah segar yang terus mengucur deras. Di jidatnya terdapat lubang besar yang menganga. Bau anyir darah bercampur bau daging gosong langsung menyeruak masuk ke hidungku, membuat perutku mual seketika.
Itu bukan manusia. Itu dedemit penunggu gudang ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku sebagai supir, aku merasakan ketakutan yang melumpuhkan. Lututku gemetar hebat, keringat dingin mengucur deras membasahi baju. Yang lebih mengerikan, makhluk itu tidak diam. Dia melayang mendekatiku.
Gesturnya bukan ingin menyerang, tapi seolah-olah memelas. Dia mendekat seakan ingin meminta tolong atau memberitahukan sesuatu yang sangat penting.
Telingaku berdenging, dan tiba-tiba terdengar suara rintihan yang menyayat hati. Suara itu terdengar sangat dekat, seolah dibisikkan tepat di telingaku.
“Tuluuuuuuuuung…. tuluuuuuuuung… panaaaaaasss… tuluuuuuuuung kaaaaaaang…. abdi panaaaaaaasssssss… aaaarrrrggghhhhhh… peuriiiiiiiiihhhhhhhh….” (Tolong… tolong… panas… tolong Kang… saya kepanasan… aaarrghh… perih…).
Tangisan itu begitu pilu, penuh penderitaan. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… Qullu nafsin daiqotul maut…” Mulutku komat-kamit membaca doa sebisa mungkin. “Siapa itu minta tolong… Allahu Akbar… Kenapa ya Allah mata saya dikasih lihat makhluk begitu… Ya Allah…”.
Aku tidak kuat. Aku menutup mata rapat-rapat, lalu merangkak mundur dan langsung melompat masuk ke dalam kabin truk. Aku membanting pintu dan menguncinya rapat. Mataku terpejam erat, tak berani melihat keluar lagi.

Di dalam kabin truk, dengan napas tersengal-sengal, aku langsung menelepon kepala gudang yang bernama Pak Dadan (Nama Samaran).
“Halo…. ada apa Bay, kamu udah dimana sekarang posisinya?” suara Pak Dadan terdengar riang.
Aku tidak bisa menahan rasa takutku. “Halo… Mang ya Allah… cepetan ke gudang Mang… Allahurobbi, cepetan Mang… cepettaaannnnn,” rengekku putus asa, lupa diri.
“Kamu kenapa bay, kamu belum berangkat ya, ada apa di gudang… ngomong yang jelas,” tanya Pak Dadan bingung.
“Ya Allah Maaaaaaang…. ini di gudang ada apanya maaaaaang…. cepetan kesiniiii….”
Tak lama kemudian, suara motor Pak Dadan terdengar dari kejauhan. “Iya.. iyaaa…. Tunggu ya, jangan takut,”.
Begitu Pak Dadan datang, barulah keberanianku pulih sedikit. Dia menghampiri trukku dengan wajah cemas.
Setelah aku menceritakan semua pengalaman mengerikan itu, dari suara mandi, karung jatuh, hingga sosok bermuka hancur dan suara tangisan minta tolong, Pak Dadan terdiam. Wajahnya berubah sendu. Sambil menemaniku mengganti ban truk yang sempat terbengkalai, dia mulai bercerita tentang sejarah kelam gudang ini.
“Bay… kamu gak tau ya dulu disini ada kejadian gara-gara pinjaman uang yang menyebabkan satu orang tewas akibat blower meledak tertimpa badannya sendiri, kondisi mayatnya mengenaskan, kepalanya hampir putus, isi perutnya keluar,” ujar Pak Dadan perlahan.
Nama korban itu adalah Rohman (Nama Samaran). Dulu, ada tiga pekerja lepas di sini, Jajang, Rohman, dan Peloy. Rohman meminjam uang kepada Jajang dan Peloy karena istrinya mau melahirkan. Janji melunasi setelah gajian, tapi meleset.
Terjadilah perkelahian yang tidak seimbang. Rohman dihajar habis-habisan oleh Jajang, lalu ditendang keras oleh Peloy hingga jatuh tepat ke mesin blower. Rohman tewas seketika di tempat dengan kondisi mengerikan. Pelakunya kini sedang menjalani proses hukum.
Semenjak kejadian itu, gudang ini sering terjadi hal-hal di luar nalar. Para pekerja sering gonta-ganti karena ketakutan melihat penampakan Rohman yang arwahnya belum tenang.
“Kamu disini tengah malam termasuk berani bangett, kamu tau kan itu yang kuli angkut begitu beres mereka langsung pada pulang, itu karena mereka tau disini itu sering kayak gini, bahkan mereka pernah lihat yang lebih ngeri lagi,” tambah Pak Dadan sambil membantuku mengencangkan baut ban.
Malam itu, setelah ban selesai diganti, Pak Dadan menemaniku hingga aku benar-benar menyalakan mesin dan meninggalkan area gudang angker tersebut.
Di sepanjang jalan menuju Ciwidey, aku terus berdoa. Bau minyak wangi untuk mayat masih tercium samar di dalam kabin trukku, tapi aku berusaha tidak menghiraukannya. Aku tidak mau mencelakai diri sendiri karena rasa takut.
Kadangkala melawan rasa takut dalam diri sendiri bukanlah perkara mudah. Namun, satu hal yang pasti, kisah ini mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang berjalan beriringan dengan kita, dan terkadang, mereka hanya ingin didengar, meski dengan cara yang salah.