Mobil SUV mewah antipeluru berlapis baja itu merayap membelah jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan.
Kendaraan raksasa itu bergerak dengan kehalusan mesin V8 yang nyaris tanpa suara. Di dalam kabin penumpang belakang yang kedap suara, waktu terasa berjalan sangat melambat. Ditarik oleh sebuah gravitasi keheningan yang membuai di antara Maya dan Randy Adhitama.
Maya masih duduk bersandar kaku.
Ia membiarkan tubuh kurusnya tenggelam di dalam pelukan kemeja sutra hitam kebesaran milik sang miliarder. Aroma vetiver, wangi tembakau cerutu mahal, dan musk maskulin yang menguar dari serat-serat kain itu… bekerja bagaikan obat bius dosis tinggi bagi sistem saraf biologisnya.
Di balik kulit porselen perut bagian bawahnya yang tertutup kain, sebuah keajaiban kelam sedang terjadi.
Entitas parasit embrio mutasi yang sebelumnya berdenyut liar dan mengancam untuk merobek kewarasannya di dalam trailer kini benar-benar terlelap.
Tidak ada pergerakan. Tidak ada kedutan daging. Tidak ada detak jantung kedua.
Semuanya diam mematung. Seolah-olah, monster kecil di dalam rahimnya itu ditundukkan secara mutlak oleh sebuah otoritas predator yang jauh lebih tinggi dan lebih mematikan yang duduk di sebelahnya ini.
Maya menoleh sedikit. Ia mencuri pandang ke arah pria yang duduk bersandar santai di sebelahnya.
Randy sedang memejamkan mata. Pria itu membiarkan cahaya lampu jalanan yang berkelebat masuk melalui kaca film gelap menyapu rahang perseginya secara bergantian.
Pria di sebelahnya ini adalah sebuah teka-teki berjalan. Randy memiliki kekuasaan dan kekayaan untuk menghancurkan hidup seseorang, atau membeli sebuah pulau, hanya dengan satu jentikan jari.
Namun malam ini… pria berdarah dingin itu melepaskan kemejanya hanya untuk menghangatkan seorang gadis yang, secara teknis, hanyalah salah satu dari ribuan bawahannya.
”Kau menatapku seolah aku adalah sebuah anomali fisika yang harus kau pecahkan rumusannya, Maya.”
Ucapan Randy tiba-tiba memecah kesunyian kabin. Suara berat dan seraknya mengalun tenang, sementara matanya masih terpejam erat.
Maya tersentak pelan. Tertangkap basah. Jantungnya berdegup satu ketukan lebih cepat.
”Saya hanya… sedang berpikir,” jawab Maya hati-hati, mengatur nada suaranya agar tetap elegan.
”Berpikir tentang apa?”
”Kebaikan Anda hari ini, Randy,” Maya menelan ludah. “Menghentikan syuting, memberikan kemeja Anda, dan membawa saya pulang secara pribadi… itu bukanlah tindakan standar yang biasa dilakukan oleh seorang CEO kepada model barunya.”
Randy membuka sepasang matanya perlahan. Ia menoleh, menatap lurus ke wajah Maya.
Tatapan elang yang segelap malam itu kembali menembus pertahanan gadis porselen di hadapannya. Melucuti segala keangkuhan artifisial yang Maya bangun.
”Aku bukan pria yang terbiasa melakukan ‘kebaikan’, Maya. Tolong jangan salah paham,” jawab Randy.
Nada suaranya sangat datar, namun memancarkan sebuah kejujuran yang brutal dan menakutkan.
Pria itu sedikit menggeser duduknya. Ia mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Maya, membuat aroma maskulinnya semakin pekat mengurung ruang napas gadis itu.
”Apa yang kulakukan hari ini di pinggir kolam renang bukanlah sebuah kebaikan. Ini adalah pemeliharaan aset.”
”Aset?” ulang Maya pelan.
”Benar. Aku sedang mengamankan investasiku dari tangan-tangan ceroboh yang tidak tahu cara memperlakukan sebuah mahakarya,” bisik Randy. Matanya menelusuri lekuk rahang Maya. “Kau adalah aset perusahaanku. Dan aku tidak membiarkan asetku rusak karena kedinginan.”
Maya terdiam. Sudut bibir merahnya tanpa sadar tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis yang getir.
Di masa lalunya yang kelam, jika ada pria di pinggir jalan atau di mal yang menyebutnya sebagai ‘aset’ atau ‘barang’, Maya pasti akan merasa sangat terhina, direndahkan, dan marah.
Namun… entah bagaimana logika sinting di kepalanya bekerja malam ini. Saat kata-kata posesif itu keluar dari mulut seorang Randy Adhitama, kata-kata tersebut sama sekali tidak terdengar seperti sebuah perendahan martabat.
Sebaliknya, kata-kata itu terdengar seperti sebuah sumpah perlindungan yang tak tertembus peluru.
Diakui sebagai aset paling berharga oleh pria ini… berarti ia akan dijaga, dibela, dan dilindungi dengan seluruh kekuatan penuh dari sebuah kerajaan bisnis raksasa. Ia tidak akan pernah tersentuh oleh kemiskinan lagi.
”Kalau begitu,” bisik Maya.
Ia memberanikan diri menatap balik sepasang mata gelap tersebut, menantang dominasi sang miliarder dengan sisa egonya. “Pastikan Anda menjaga aset ini dengan sangat baik, Randy.”
Sebuah seringai tipis, sangat menawan namun luar biasa berbahaya, terbit di bibir pria itu.
Randy mengangkat tangan kanannya perlahan. Lalu, dengan sebuah sentuhan yang sangat lembut namun membakar, punggung jari telunjuk pria itu menyentuh sisi rahang porselen Maya. Mengusapnya sekilas, memberikan sensasi setruman, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali.
”Aku selalu menjaga apa yang menjadi milikku… dengan cara yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun,” balas Randy pelan.
Mobil SUV itu berhenti dengan sangat mulus.
Mereka telah tiba di area drop off lobi apartemen mewah tempat Maya tinggal.
Supir pribadi Randy bergegas keluar dan membukakan pintu belakang untuk Maya. Angin malam Jakarta yang lembap dan dingin seketika menyergap masuk ke dalam kabin, mencoba mengusir kehangatan intim dari dalam sana.
Maya bersiap untuk melangkah keluar. Ia meraba kerah kemeja sutra hitam yang membalut tubuhnya, berniat untuk melepaskannya dan mengembalikannya pada pria itu.
”Tidak perlu dilepas,” cegah Randy.
Suara baritonnya menghentikan gerakan tangan Maya. Pria itu bersandar kembali ke kursinya, menatap Maya dari dalam bayang-bayang kabin yang gelap.
”Bawa saja kemeja itu bersamamu ke atas,” lanjut Randy santai. “Anggap saja sebagai tameng kecil untuk memastikan kau bisa tidur nyenyak malam ini… tanpa gangguan ‘masalah pribadi’ yang kau sebutkan tadi.”
Maya tertegun. Ia menatap kemeja sutra mahal di tubuhnya, lalu menatap mata pria itu yang seolah mengetahui bahwa Maya sedang bertarung melawan monster di dalam dirinya sendiri.
”Terima kasih, Randy.”
”Selamat malam, Maya. Beristirahatlah. Mulai besok, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”
Maya mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dengan kaki jenjangnya, dan pintu mobil berlapis baja itu ditutup dari luar.
Gadis porselen itu berdiri mematung di lobi yang diterangi lampu kristal benderang. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut kemeja hitam itu erat-erat. Matanya terus menatap mobil SUV mewah tersebut melaju pergi, membelah malam, hingga benar-benar lenyap di tikungan jalan raya.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan matanya dan radar telinganya, Maya membalikkan badan dan melangkah cepat menuju lift penghuni.
Ia menempelkan kartu akses VVIP-nya, dan pintu lift perunggu itu terbuka. Ia melangkah masuk sendirian.
Saat pintu baja lift itu tertutup rapat dan mesin mulai bergerak naik menuju lantai dua puluh… jarak fisik antara Maya dan mobil Randy perlahan-lahan semakin menjauh.
Di dalam kotak lift itu, aroma musk dan vetiver dari kemeja Randy mulai menipis, perlahan bercampur dan terkalahkan oleh bau pengharum ruangan otomatis lift yang menyengat.
Dan tepat pada detik aroma pria itu memudar…
Dug… dug…
Sebuah kedutan yang sangat halus, namun luar biasa tajam dan menyakitkan, menusuk dinding rahim modifikasinya dari dalam.
Napas Maya seketika tercekat.
”Aargh!”
Ia mencengkeram perut bagian bawahnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak panik. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding cermin lift, tubuhnya mendadak gemetar hebat. Keringat dingin merembes keluar.
Entitas parasit di dalam perutnya… daging hidup yang tadi tertidur pulas dan jinak akibat hawa penstabil mutasi dari pasta abu-abu yang entah bagaimana diperkuat secara magis oleh keberadaan Randy kini mulai menggeliat bangun kembali.
Begitu jarak fisik antara molekul tubuh Maya dan pria itu melebar, efek penawar penekan dari kehadiran sang miliarder seakan terputus sinyalnya. Tumor itu kembali kelaparan.
Kepanikan yang luar biasa brutal menampar sisa-sisa akal sehat Maya di dalam lift sempit tersebut.
Ia menyadari sebuah fakta yang sangat mematikan.
Ia tidak hanya bergantung pada kontrak kerja pria itu untuk menjadi kaya. Anatomi tubuhnya, nyawanya, kewarasannya… secara harfiah dan biologis membutuhkan keberadaan Randy Adhitama di sisinya untuk tetap stabil dan tidak membusuk.
Pria itu adalah penawar racun yang berjalan.
Sebuah simbiosis parasitisme yang luar biasa mengerikan baru saja tercipta tanpa ia sadari. Ia adalah parasit bagi formula itu, dan Randy adalah inang bagi keselamatannya.
Jika aku ingin menghentikan daging monster di dalam tubuhku ini dari pertumbuhan yang akan merobek perutku… batin Maya meronta, napasnya memburu. Aku harus memastikan bahwa aku selalu berada di dekat pria itu.
Ia menatap pantulan wajahnya yang ketakutan di cermin lift.
Aku harus membuat pria itu terus menginginkanku. Menahanku. Dan mengunciku di sisinya selamanya.
Ting. Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Maya berlari tertatih menyusuri lorong menuju pintu apartemennya.
Ia mengunci diri di dalam kamarnya. Ia tidak melepaskan kemeja sutra hitam itu. Sepanjang malam, Maya meringkuk ketakutan di atas kasur king sizenya. Ia membungkus wajahnya dengan kerah kemeja Randy.
Ia menghirup sisa-sisa aroma maskulin pria itu dalam-dalam ke dalam paru-parunya. Menghirupnya dengan rakus layaknya seorang pecandu narkotika yang sedang mengalami sakaw hebat.
Dan ajaibnya… hanya dengan cara menyedihkan itulah, denyutan tumor di perutnya perlahan-lahan mereda. Entitas itu kembali turun ke dalam fase dorman yang rapuh, membiarkan Maya melewati malam tanpa harus dibedah dari dalam oleh anaknya sendiri.
Dua bulan kemudian.
Waktu adalah sebuah ilusi yang melesat dengan kecepatan cahaya, terutama saat seseorang sedang berdiri di puncak dunia.
Ramalan Randy Adhitama pada malam itu terbukti menjadi sebuah kenyataan absolut. Kehidupan Maya tidak pernah lagi sama.
Kampanye besar-besaran Lumière Merveille diluncurkan seperti sebuah serangan udara militer yang meluluhlantakkan seluruh industri kecantikan nasional.
Wajah porselen Maya terpampang secara agresif di setiap sudut strategis kota metropolitan. Wajahnya mendominasi billboard raksasa di bundaran HI. Menyala terang di layar LED gedung-gedung pencakar langit SCBD setiap malam. Memonopoli halaman depan majalah gaya hidup paling elit seAsia Tenggara. Dan menghiasi etalase puluhan gerai kosmetik mewah di seluruh pusat perbelanjaan elit.
Tagline kampanye raksasa tersebut “Kemurnian yang Tak Tersentuh” menyatu dengan sangat sempurna dengan aura dingin, elegan, dan fierce yang selalu dipancarkan oleh Maya di setiap posenya.
Popularitas Maya meledak tak terbendung.
Ia tidak hanya menjadi model, ia menjadi fenomena pop kultur baru. Gadis-gadis dari kalangan sosialita kaya raya hingga remaja kelas menengah ke bawah memuja struktur rahangnya. Mereka membuat tren meniru riasan matanya, dan mencari tahu segala hal tentang dirinya di internet.
Namun, Maya tetap menjadi sebuah misteri yang tak terpecahkan.
Agensi Kiki, atas perintah langsung, mutlak, dan didanai penuh oleh Randy, membangun sebuah tembok privasi tingkat dewa untuk Maya.
Tidak ada satu pun wawancara mengenai masa lalunya. Tidak ada talkshow. Tidak ada akses paparazzi untuk mengulik kehidupannya sebelum menjadi model. Segala jejak digital atau catatan tentang ‘Maya si cleaning service‘ seolah dihapus bersih dari muka bumi oleh tangan-tangan tak kasat mata.
Maya telah bertransformasi total menjadi sebuah entitas yang hidup di atas awan. Menatap dunia yang kotor dari balik kaca jendela antipeluru.
Malam ini, adalah salah satu puncak dari perayaan kemenangannya di dunia sosialita.
Sebuah acara Gala Charity tahunan yang diselenggarakan oleh asosiasi pengusaha konglomerat Asia digelar di ballroom utama Hotel Mulia. Ini adalah acara super eksklusif di mana para triliuner, pejabat tinggi negara, dan selebritas kelas A berkumpul. Mereka datang untuk menyumbangkan miliaran rupiah hanya demi sebuah jepretan kamera dan prestise sosial.
Maya melangkah memasuki ballroom raksasa yang bertabur lampu kristal tersebut. Dan seperti biasa, gravitasi ruangan seketika berpusat padanya.
Ia mengenakan gaun sutra emerald gelap yang dirancang khusus selama sebulan oleh desainer ternama Eropa. Gaun itu memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang mengintimidasi.
Rambut hitamnya disanggul sangat elegan, mengekspos leher porselennya yang dihiasi oleh kalung berlian biru, sebuah mahakarya bernilai puluhan miliar yang dipinjamkan langsung oleh rumah perhiasan keluarga kerajaan demi acara ini.
Namun… bukan hanya gaun sutra mahal atau berlian raksasa itu yang membuat ratusan mata di ruangan tersebut tak berani berkedip.
Yang membuat para tamu VVIP itu menahan napas adalah sosok pria yang berjalan menapaki karpet merah tepat di samping Maya. Pria itu berjalan dengan tangan kanan yang melingkar sangat posesif, namun protektif, di pinggang belakang Maya.
Randy Adhitama.
Selama dua bulan terakhir, rumor tentang hubungan spesial antara sang miliarder dingin pemilik Lumière Merveille dan Brand Ambassador utamanya telah menjadi gosip paling panas dan liar di kalangan elit.
Malam ini… adalah pertama kalinya mereka berdua tampil secara publik berdampingan di sebuah acara resmi. Sebuah deklarasi tanpa kata.
Randy mengenakan setelan jas tuxedo hitam berbahan vicuña langka, dipadukan dengan dasi kupu-kupu sutra yang disematkan sempurna di lehernya. Ketampanannya yang luar biasa maskulin dan dominasinya yang tak terbantahkan, bersanding dengan kecantikan surealis porselen Maya.
Kehadiran mereka berdua menciptakan sebuah pemandangan visual yang membuat pasangan mana pun di ruangan megah itu seketika terlihat redup, kusam, dan tak berarti. Mereka berdua terlihat seperti dewa dan dewi yang turun dari Olympus, sedang menginspeksi rakyat kerajaannya.
”Bernapaslah, Maya,” bisik Randy tepat di telinga gadis itu.
Suara Randy yang serak dan berat mengalir mulus, menembus alunan merdu musik orkestra yang sedang dimainkan di panggung depan. Hembusan napas hangat pria itu membelai kulit leher Maya, memicu getaran seluler yang familiar di balik tulang selangkanya, menidurkan parasit di dalam perutnya.
”Aku sedang bernapas, Randy,” balas Maya pelan.
Senyum elegan di bibir merah Maya tak sedikit pun luntur saat ia membalas sapaan anggukan hormat dari seorang menteri di seberang ruangan.
”Kau menegang. Otot punggungmu kaku seperti batu di bawah telapak tanganku,” Randy sedikit mempererat tekanan tangannya di pinggang gaun emerald Maya. Ia menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya menembus kain sutra tipis tersebut. “Apakah ada seseorang di ruangan ini yang berani mengganggumu?”
Maya menolehkan kepalanya sedikit, menatap profil samping wajah Randy yang dipahat tegas. Jantungnya berdegup dengan ritme yang memabukkan.
Selama delapan minggu ini, kedekatan mereka berkembang dengan intensitas yang sangat berbahaya.
Tidak ada pernyataan cinta yang murahan. Tidak ada adegan romantis dengan bunga mawar yang klise. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi tarik-ulur kekuasaan yang kompleks, dialog-dialog tajam yang penuh teka-teki, dan sebuah rasa saling membutuhkan yang sangat gelap dan parasitik.
Bagi Randy, Maya adalah mahakarya seni bernyawa yang harus ia lindungi dan ia kuasai secara absolut dari dunia luar. Pria itu memanjakannya dengan kemewahan yang tak terbatas, mengontrol siapa saja yang boleh berbicara dengannya, dan menyingkirkan siapa pun yang berani merendahkannya di industri ini.
Namun bagi Maya… Randy adalah benteng kewarasannya. Kunci untuk tetap hidup.
Ketergantungan biologisnya pada kehadiran pria itu semakin parah setiap minggunya. Setiap kali ia berada jauh dari Randy lebih dari dua hari, rasa gatal di bawah kulitnya akan merayap, dan denyutan parasit di perutnya akan kembali menggeliat pelan meminta korban.
Namun, hanya dengan duduk di ruangan yang sama dengan Randy, menghirup aroma maskulinnya dari dekat, atau merasakan sentuhan tangannya di kulit porselennya… segala kutukan pembusukan itu seketika tertidur pulas.
Maya telah menjadi seorang pecandu tingkat akhir, dan Randy adalah satu-satunya obat penawar yang ia miliki di muka bumi ini.
”Tidak ada yang berani menggangguku di sini, Randy. Aku hanya… belum terbiasa menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang hartanya bisa membeli sebuah negara kecil,” jawab Maya dengan nada jujur yang sangat langka ia tunjukkan.
”Mereka memang bisa membeli sebuah negara, Maya. Tapi mereka tidak akan pernah bisa membelimu,” bisik Randy.
Sebuah klaim kepemilikan yang sangat arogan dan posesif, namun sukses besar membuat dada Maya menghangat dan merasa luar biasa aman.
”Kau adalah milik perusahaanku. Dan aku, tidak pernah berbagi aset utamaku dengan siapa pun di dunia ini,” tandas Randy.
Keduanya terus berjalan membelah kerumunan.
Saat mereka berdiri di dekat meja pualam panjang yang menyajikan menara sampanye, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan cerutu menyala di tangannya tiba-tiba melangkah maju. Pria itu dengan lancang menghalangi jalan mereka.
Pria itu adalah Hartono. Seorang taipan tambang batu bara yang sangat terkenal dengan skandal-skandal kotornya di dunia hiburan. Seorang predator tua yang merasa tumpukan uangnya bisa membeli segalanya, termasuk martabat manusia.
”Ah, Randy! CEO muda kita yang sedang naik daun!” sapa Hartono dengan suara keras dan tawa parau yang bergetar menjijikkan.
Hartono sepenuhnya mengabaikan etika privasi kaum elit. Pria tambun itu sama sekali tidak menatap wajah Randy. Matanya yang merah, basah, dan dipenuhi nafsu kotor langsung meluncur turun. Menelanjangi lekuk tubuh Maya dari dada, pinggang, hingga ke belahan tinggi gaunnya.
”Dan ini pasti si cantik misterius yang fotonya menutupi setengah jalanan Jakarta bulan ini,” lanjut Hartono, menjilat bibir bawahnya yang tebal.
Tanpa meminta izin atau basa-basi, ia mengulurkan tangannya yang basah oleh keringat dan bau cerutu murahan ke arah Maya.
”Perkenalkan, saya Hartono. Nona Maya yang cantik, jika Anda mulai bosan dengan kontrak kosmetik yang kaku dan membosankan, perusahaan saya selalu membuka pintu. Kami punya penawaran untuk private photoshoot dengan bayaran yang jauh lebih menggiurkan di atas kapal pesiar pribadi saya akhir pekan ini.”
Kalimat itu adalah sebuah pelecehan verbal tingkat tinggi. Sebuah tawaran prostitusi terselubung yang sangat eksplisit, dibungkus dengan tawaran uang kotor di depan umum.
Otot rahang Maya mengeras.
Sebelum ia sempat membalas dengan kalimat mematikan yang telah ia latih bersama Kiki, tangan Randy yang berada di pinggangnya tiba-tiba bergerak dengan kecepatan kilat.
Randy melangkah maju setengah tindak. Pria itu menempatkan postur tubuh tegapnya tepat di antara Maya dan Hartono, memotong total pandangan menjijikkan pria tambun itu dari tubuh Maya.
Suasana di sekitar mereka mendadak anjlok, turun hingga sepuluh derajat celcius.
Hawa membunuh yang sangat dingin, gelap, dan pekat meledak dari dalam tubuh sang miliarder. Hawa intimidasi itu begitu kuat hingga seolah membungkam suara musik orkestra di telinga orang-orang yang berdiri di dekat mereka.
Randy tidak menepis tangan Hartono yang terulur kotor itu. Ia hanya menatap pria paruh baya itu dalam diam.
Sebuah tatapan dominasi absolut tingkat predator alfa. Tatapan yang membuat tangan Hartono menggantung gemetar di udara karena ngeri, lalu perlahan-lahan turun dengan sendirinya tanpa disalami.
”Tarik kembali kata-katamu barusan, Hartono,” ucap Randy.
Suaranya tidak keras. Ia tidak berteriak marah atau membentak seperti preman jalanan. Nadanya sangat rendah, halus bagai beludru. Namun suaranya memancarkan sebuah ancaman kematian yang begitu nyata, hingga membuat beberapa sosialita di meja sebelah menahan napas ketakutan dan mundur beberapa langkah.
Wajah Hartono yang tadinya memerah arogan karena pengaruh alkohol, perlahan berubah pucat pasi seperti mayat.
”R-Randy… ayolah, jangan tegang begitu. Aku cuma bercanda sedikit. Sesama pengusaha besar kan kita biasa berbagi relasi—”
”Aku tidak akan mengulanginya dua kali,” potong Randy tajam.
Randy memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang segelap malam menancap tepat, menguliti kornea mata Hartono.
”Wanita yang berdiri di belakangku ini bukanlah barang murahan yang bisa kau tawar dengan koin recehan batu baramu. Menatapnya dengan cara menjijikkan seperti tadi… adalah sebuah penghinaan langsung terhadap investasiku. Dan aku sangat tidak menoleransi siapa pun yang berani merendahkan milikku di depanku.”
Randy melangkah selangkah lagi, menginvasi ruang personal pria tambun yang mulai berkeringat dingin itu.
”Singkirkan wajah busukmu dari hadapannya dalam waktu tiga detik,” bisik Randy dengan kekejaman yang elegan. “Atau aku akan memastikan, saham perusahaan tambangmu anjlok hingga ke dasar bumi besok pagi saat bursa efek dibuka. Kau tahu pasti aku memiliki cukup uang tunai untuk memusnahkan perusahaanmu tanpa perlu berkeringat, bukan?”
Keringat dingin membanjiri dahi Hartono hingga menetes ke kerah kemejanya.
Ia sangat mengenal reputasi Randy Adhitama. Pria muda di hadapannya ini bukanlah pengusaha berisik yang bermain dengan ancaman kosong. Randy adalah pembunuh berdarah dingin pemangsa perusahaan di lantai bursa saham. Sekali ia menjentikkan jari, ribuan karyawan Hartono bisa kehilangan pekerjaan besok.
”M-maaf… maafkan kelancangan mulut saya, Randy. Dan maafkan saya, Nona Maya,” gagap Hartono dengan tubuh gemetar hebat.
Wajahnya menunduk dalam, dipenuhi rasa malu yang menghancurkan sisa harga dirinya sebagai pria yang merasa berkuasa. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk mendebat, pria tambun itu berbalik dan setengah berlari menjauh dari kerumunan, memancing bisik-bisik mencibir dan tawa merendahkan dari tamu-tamu lain yang menonton.
Setelah hama itu pergi, Randy merapikan manset kemeja tuxedonya dengan gerakan yang luar biasa santai. Seolah ia baru saja mengusir seekor lalat kotor yang mengganggu pemandangannya.
Ia memutar tubuhnya kembali ke arah Maya. Tatapan membunuhnya lenyap seketika, menguap ke udara, digantikan oleh kelembutan protektif yang eksklusif hanya ia tunjukkan pada gadis porselen itu.
”Kau tidak apa-apa?” tanya Randy.
Tangannya kembali melingkar di pinggang Maya. Kali ini sentuhannya sedikit lebih erat, menarik tubuh Maya lebih dekat, memastikan gadis itu aman bernaung di bawah sisinya.
Maya menatap lurus ke dalam mata pria itu. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Ini adalah sebuah letupan adrenalin yang anehnya tidak disebabkan oleh rasa takut, melainkan oleh sebuah daya tarik romantis yang luar biasa kuat dan gelap. Pria ini baru saja menghancurkan harga diri seorang konglomerat tua di depan ratusan pasang mata publik… hanya karena sebuah tatapan kotor yang diarahkan padanya.
Janji perlindungan yang Randy ucapkan dua bulan lalu di restoran rahasia itu bukanlah sekadar bualan manis. Pria ini benar-benar menjadikannya wanita paling berharga dan tak tersentuh di benua ini.
”Aku baik-baik saja,” jawab Maya pelan.
Matanya memancarkan kedalaman emosi yang tak bisa lagi ia tutupi dengan pasta abu-abu. Tanpa sadar, didorong oleh insting biologisnya, Maya menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke bidang dada Randy. Ia mencari perlindungan murni, membiarkan aroma maskulin pria itu meresap dan menenangkan setiap jaringan saraf di tubuh modifikasinya.
”Selama aku berada di dekatmu… tidak ada yang berani menyentuhku,” bisik Maya.
Sebuah pengakuan jujur dari seorang gadis yang lelah bertarung, yang perlahan-lahan mulai menyerahkan sisa kewarasannya pada pesona mematikan sang miliarder.
Sudut bibir Randy melengkung tipis, membentuk senyum puas seorang penakluk. Jemari besarnya mengusap pelan kulit punggung Maya yang terbuka.
”Ingat itu baik-baik, Maya. Jangan pernah jauh dariku.”
Keesokan harinya. Pukul sebelas siang.
Mobil sedan mewah keluaran terbaru milik Maya, yang dikemudikan oleh supir agensi pribadi, berhenti dengan mulus di pelataran parkir Rumah Sakit Umum Pusat.
Maya turun dari mobil dengan mengenakan kacamata hitam desainer besar dan masker sutra. Ia berjalan melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat, diapit oleh tatapan kagum orang-orang.
Meskipun dua bulan telah berlalu dan hartanya terus menumpuk di rekening bank hingga nyaris menyentuh angka puluhan miliar rupiah, ada satu hal yang menyiksa Maya. Satu hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan setumpuk uang di dunia ini, yaitu waktu yang telah terbuang dan cinta yang mulai membusuk.
Maya melangkah menyusuri lorong kamar VIP yang sepi.
Dua orang pengawal pribadi berjas hitam yang disewa mahal oleh agensinya berjalan sigap di belakangnya, memastikan tidak ada wartawan infotainment atau penggemar gila yang berani menguntit aset mereka.
Setibanya di depan pintu kayu kamar 305, Maya menghentikan langkahnya. Ia memberikan isyarat tangan pada pengawalnya untuk berhenti dan menunggu di luar. Ia memutar knop pintu dan melangkah masuk ke dalam sendirian.
Udara di dalam ruangan luas itu terasa sangat dingin. Bau antiseptik lantai bercampur dengan aroma wangi bunga lili putih segar, yang ia minta dan bayar khusus untuk selalu diganti setiap hari oleh staf rumah sakit.
Di sudut ruangan, ibunya sedang duduk di kursi roda otomatis di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman hijau rumah sakit. Wanita tua itu sedang diam, menatap kosong ke arah pepohonan rindang di luar sana.
Fisik ibunya terlihat jauh lebih sehat dibandingkan beberapa bulan lalu saat muntah darah. Pipinya yang dulu kempot kini sedikit berisi, napasnya terdengar normal tanpa bantuan selang ventilator, dan rambutnya yang beruban terlihat sangat bersih dan terawat. Secara medis, dokter menyatakan bahwa ia sudah nyaris pulih total dari komplikasi parunya. Uang Maya benar-benar telah menyembuhkannya.
Suster Siska, perawat VIP bergaji puluhan juta yang disewa Maya, sedang sibuk membereskan nampan makan siang di atas meja nakas.
Melihat Maya masuk dengan penampilan bak selebritas Hollywood, Suster Siska tersenyum canggung dan membungkuk sopan.
”Siang, Mbak Maya. Ibu baru saja selesai makan siangnya. Walaupun… yah, hanya habis beberapa sendok bubur seperti biasa,” lapor perawat itu dengan suara pelan dan sangat berhati-hati, berusaha keras tidak menyinggung perasaan majikan yang membayarnya mahal.
Maya mengangguk pelan. Ia melepaskan kacamata hitam dan maskernya, menaruhnya di dalam tas.
Wajah porselennya yang memukau memancarkan sebuah keletihan emosional yang tak bisa ditutupi oleh sapuan concealer mahal. “Terima kasih atas laporannya, Suster Siska. Tolong tinggalkan kami berdua sebentar.”
Setelah perawat itu menunduk dan keluar dari kamar, Maya melangkah perlahan mendekati kursi roda ibunya.
”Siang, Bu,” sapa Maya. Suaranya diatur sangat lembut, bergetar penuh harap, mencoba merajut kembali benang kasih sayang yang telah lama putus dan membeku di antara mereka.
Ibunya tidak menoleh sedikit pun. Wanita tua itu tetap mematung menatap ke arah jendela kaca, seolah putrinya yang berdiri di sebelahnya ini hanyalah embusan angin lalu yang tak memiliki wujud fisik.
”Maya bawa kabar baik hari ini, Bu,” lanjut Maya, berusaha terdengar ceria. “Dokter spesialis tadi pagi telepon Maya. Beliau bilang minggu depan Ibu sudah diizinkan pulang. Masa pemulihan intensifnya sudah selesai.”
Maya menarik sebuah kursi bundar kecil berlapis beludru dan duduk tepat di sebelah kursi roda ibunya. Ia memaksakan senyum yang paling hangat yang bisa ia bentuk.
”Dan Ibu tahu? Maya sudah menyiapkan sebuah rumah baru buat kita. Bukan apartemen sewaan lagi, Bu. Tapi rumah besar milik kita sendiri di kawasan elit Jakarta Selatan,” Maya berceloteh penuh semangat. “Ada taman luasnya di belakang, Bu. Persis banget seperti rumah yang selalu Ibu mimpikan waktu Maya masih kecil dulu. Nanti Ibu bisa jalan-jalan, nyiram tanaman di taman setiap pagi tanpa takut kehujanan.”
Keheningan yang luar biasa mencekik menjawab antusiasme Maya.
Tidak ada senyum bangga. Tidak ada ucapan syukur.
Ibunda Maya menarik napas panjang. Wajah keriputnya akhirnya berputar perlahan, menoleh dan menatap lurus ke arah Maya.
Tatapan mata tua itu… adalah tatapan yang menghancurkan jiwa Maya berkeping-keping.
Tidak ada amarah yang meledak-ledak di sana. Tidak ada kebencian yang menyala. Yang ada di dalam mata ibunya hanyalah sebuah kehampaan yang absolut. Sebuah keputusasaan diam dari seorang ibu, yang menyadari dengan penuh duka bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.
”Ibu tidak mau tinggal di rumah besar itu, Nduk,” suara ibunya terdengar luar biasa datar, parau, dan mati.
Senyum di wajah porselen Maya seketika memudar bagai lilin ditiup angin. Jantungnya mencelos jatuh.
”K-kenapa, Bu? Ibu nggak suka lokasi Jakarta Selatan? Atau Ibu mau cari rumah di daerah lain yang udaranya lebih dingin? Maya bisa beli rumah di mana pun Ibu mau sekarang. Kita punya uang yang sangat banyak di tabungan.”
”Uang miliaranmu itu memang bisa membeli seluruh rumah mewah di Jakarta ini, Maya,” balas ibunya. Kata-katanya mengalir pelan seperti racun yang membekukan aliran darah Maya. “Tapi setumpuk uangmu itu… tidak akan pernah bisa mengembalikan jiwa putriku yang asli.”
Wanita tua itu menatap wajah porselen Maya tanpa berkedip. Sorot matanya menyiratkan duka cita yang mendalam, seolah ia sedang menatap sebuah nisan kuburan.
”Kamu mungkin datang menjenguk ke sini setiap minggu. Kamu mungkin membayar gaji perawat yang paling mahal di rumah sakit ini. Kamu membelikan Ibu buah dan makanan yang harganya lebih mahal dari total biaya makan kita setahun penuh di kontrakan kumuh dulu,” lirih ibunya.
Tangan keriput sang ibu menunjuk dada Maya dengan gemetar.
”Tapi saat kamu duduk di sini… saat kamu menatap wajah Ibu… matamu itu kosong, Nduk. Sangat kosong.” Air mata mulai menetes dari mata tua itu. “Mata cokelat yang dulu selalu memancarkan kehangatan dan kejujuran di saat kita kelaparan itu… sudah mati. Digantikan oleh mata seorang wanita asing yang sangat kejam, yang hidupnya hanya tahu cara membeli penyelesaian masalah dengan lembaran uang.”
”Ibu… Maya mohon, jangan bilang begitu,” suara Maya bergetar hebat.
Pertahanan emosionalnya bobol. Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya. Efek pasta abu-abu di otaknya mungkin bisa mematikan kemampuannya untuk merasa takut pada hantu, namun rasa sakit akibat penolakan dari ibunya sendiri terbukti terlalu kuat untuk dibendung oleh zat kimia misterius manapun di dunia.
”Ibu sudah bicara panjang lebar dengan Pak Agus kemarin sore,” lanjut ibunya, dengan kejam mengabaikan rintihan putrinya. “Ibu memintanya tolong untuk mencarikan kontrakan kecil yang murah di dekat kampung kita yang dulu.”
”Apa?!”
”Kalau Ibu sudah diizinkan keluar dari rumah sakit ini minggu depan… Ibu akan pindah dan tinggal di kontrakan sana sendiri,” ucap ibunya final. “Ibu tidak akan menerima sepeser pun uang lagi dari hasil kerjamu, Maya. Biarkan Ibu hidup tenang dengan sisa-sisa kehormatan yang Ibu miliki, Nduk. Sebelum uang dan wajah kepalsuanmu ini benar-benar menenggelamkan kita semua ke dalam neraka jahanam.”
”TIDAK!”
Maya tiba-tiba membentak keras. Ia melompat berdiri dari kursinya dengan napas tersengal-sengal liar. Urat di leher jenjangnya menonjol. Kepanikan karena kehilangan, bercampur dengan rasa bersalah yang membunuh, meledak bermutasi menjadi kemarahan defensif.
”Kenapa Ibu selalu begini sama Maya?! Kenapa Ibu nggak pernah bisa menghargai sedikit pun pengorbanan maya?!” teriak Maya histeris, suaranya menggema memantul di dinding ruangan VIP itu.
”Aku melakukan ini semua demi Ibu! Demi nyawa Ibu!” Maya memukul dadanya sendiri. “Aku membuang sisa harga diriku! Aku merubah seluruh hidup dan wajahku! Aku bertarung sendirian melawan monster-monster gila di luar sana setiap malam… hanya supaya Ibu nggak mati membusuk kehabisan darah di ranjang berkarat itu! Dan ini balasan Ibu buat Maya?! Mengusirku?! Membuangku seperti sampah busuk yang menjijikkan?!”
Air mata kepedihan mengalir deras di pipi porselen Maya. Riasan mahalnya luntur. Ia terengah-engah, menatap ibunya dengan dada yang bergemuruh memancarkan amarah yang putus asa.
Namun, bukannya membalas teriakan itu dengan amarah… ibunda Maya hanya memalingkan wajahnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah pangkuannya.
Air mata tanpa suara menetes deras dari kelopak matanya yang menua. Air mata seorang ibu itu jatuh membasahi selimut tebal di pangkuannya.
”Anakku Maya yang asli… gadis kecil yang Ibu besarkan dengan kasih sayang itu… tidak akan pernah meneriaki ibunya yang sakit seperti itu,” bisik wanita tua itu. Suaranya nyaris tak terdengar, penuh dengan kepatahan hati yang mutlak.
Ibunya menggelengkan kepala pelan. “Kamu bukan anakku. Kamu hanyalah sebuah cangkang patung yang cantik… yang dihuni oleh iblis kesombongan. Tolong, tinggalkan Ibu sendiri sekarang. Ibu ingin istirahat.”
Kata-kata pengusiran itu adalah pukulan knockout terakhir bagi sisa kewarasan Maya siang itu.
Gadis porselen itu berdiri mematung. Kakinya terasa seperti dipaku dengan paku berkarat ke lantai rumah sakit. Ia menatap ibunya yang terus menunduk menangis, menolak untuk mengangkat wajah dan menatapnya lagi.
Dunia sempurna yang ia bangun susah payah dengan uang miliaran rupiah, kebohongan, dan pengorbanan berdarah, baru saja runtuh menimpa kepalanya.
Ia mungkin memiliki jutaan pemuja dan penggemar yang meneriakkan namanya di luar sana. Ia mungkin memiliki pelindung seorang miliarder paling ditakuti. Tapi siang ini, ia baru saja dicoret dari kehidupan dan kartu keluarga oleh satu-satunya wanita yang melahirkannya ke dunia. Ia menjadi yatim piatu yang kaya raya.
Dengan tangan gemetar parah, Maya meraih kacamata hitam besarnya dari dalam tas.
Ia memakaianya dengan kasar untuk menyembunyikan mata elangnya yang kini hancur berkeping-keping. Tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun lagi, Maya berbalik. Ia melangkah keluar dari kamar tersebut, membanting pintu kayu itu dengan cukup keras.
Meninggalkan ibunya yang merintih menangis dalam kesunyian kamar mewah tersebut.
Pukul empat sore di hari yang sama.
Mobil sedan Maya tiba di pelataran parkir kantor agensi Elegance Model Management. Ia datang untuk memenuhi jadwal fitting pakaian untuk proyek pemotretan besok pagi.
Emosi Maya benar-benar hancur berantakan. Ia seperti cangkang kosong yang berjalan.
Kacamata hitamnya tak pernah lepas menutupi sebagian wajahnya. Begitu masuk ke lobi agensi, ia mengabaikan sapaan hormat dari para staf resepsionis. Ia berjalan lurus membelah ruangan menuju ruang ganti pribadinya di ujung lorong dengan langkah yang menghentak kasar dan penuh kemarahan.
Begitu ia masuk ke dalam ruangan rias yang luas itu, Maya membanting pintu. Ia menarik kursi, duduk menghempaskan diri di depan meja rias, dan membuang tas mahalnya secara asal ke lantai keramik.
Ia melepaskan kacamatanya. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangan, menekan dahinya, mencoba mengatur napasnya yang sesak akibat tangisan yang terus ia tahan sejak dari rumah sakit tadi. Kepalanya berdenyut nyeri seolah mau pecah.
Krieet.
Suara engsel pintu ruang ganti yang terbuka perlahan dari luar membuat Maya mendongak. Matanya memancarkan tatapan membunuh.
”Aku bilang aku butuh waktu sendirian! Jangan ada yang masuk!” bentak Maya keras. Ia mengira orang yang membuka pintu itu adalah salah satu stylist atau asisten cerewet Kiki yang masuk tanpa mengetuk.
Namun… tidak ada jawaban dari ambang pintu. Tidak ada orang yang masuk.
Maya menurunkan tangannya. Ia menyipitkan matanya yang sembap ke arah pintu.
Di atas lantai keramik, tepat di bawah celah pintu yang rupanya baru saja dibuka sedikit dan ditutup kembali dengan sangat cepat oleh seseorang dari luar… tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berukuran sedang.
Tidak ada nama pengirim di bagian depannya. Tidak ada prangko pos. Hanya sebuah amplop cokelat polos yang sengaja didorong masuk dari celah bawah pintu.
Naluri bahaya Maya seketika bangkit dari tidurnya.
Pertengkaran hebatnya dengan sang ibu sesaat terlupakan, menguap digantikan oleh kewaspadaan murni seekor predator yang mencium ancaman di wilayahnya.
Ia bangkit berdiri. Berjalan perlahan dan nyaris tanpa suara menuju pintu. Ia mencengkeram gagang pintu, menariknya terbuka dengan cepat, lalu menengok keluar ke arah lorong agensi.
Kosong.
Lorong itu sepi. Siapa pun penguntit yang meletakkan amplop itu telah berlari pergi dengan sangat cepat. Mungkin kabur melewati pintu tangga darurat di ujung lorong sebelum Maya sempat melihat punggungnya.
Maya menunduk. Ia memungut amplop cokelat itu dari lantai.
Permukaan kertas amplop itu terasa kasar, murah, dan sedikit kotor oleh debu. Jantungnya berdebar sangat kencang, memompa adrenalin saat ia berjalan mundur kembali ke meja riasnya.
Dengan tangan yang sedikit berkeringat dingin, Maya merobek ujung amplop bersegel lem tersebut. Ia memiringkan amplopnya, membiarkan isinya meluncur jatuh berserakan ke atas meja kaca.
Seketika itu juga… napas Maya terhenti total di pangkal tenggorokan. Matanya membelalak horor.
Benda pertama yang jatuh dari dalam amplop itu adalah sebuah cetakan foto polaroid berukuran sedang. Foto itu menampilkan sebuah papan billboard raksasa di jalan raya Sudirman, yang memajang wajah porselen Maya dalam kampanye megah Lumière Merveille.
Namun, foto kebanggaan billboard itu telah dirusak dengan sangat brutal oleh si pengirim.
Wajah cantik Maya di dalam foto itu telah dicoret-coret secara agresif menggunakan spidol merah tebal. Tintanya ditekan sangat kuat berulang kali hingga nyaris merobek ketebalan kertas polaroid tersebut. Kedua mata Maya di foto itu ditusuk berlubang menggunakan benda tajam.
Dan di bagian bawah foto yang dirusak itu… tertulis sebuah kata tunggal menggunakan tinta spidol merah gelap yang sekilas menetes mengerikan seperti darah kering dengan huruf kapital yang sangat berantakan dan penuh amarah:
”PALSU”
Dan bukan hanya foto mengerikan itu yang membuat lutut Maya seketika lemas kehilangan tulangnya.
Benda kedua yang jatuh meluncur dari dalam amplop itu… dan kini tergeletak manis berdampingan dengan foto tersebut… adalah sebuah mimpi buruk yang seolah kembali bangkit dari liang lahatnya.
Sebuah kantong plastik ziplock berukuran kecil.
Di dalam plastik klip transparan itu, terdapat sebuah gumpalan tisu yang telah mengeras. Di bagian tengah tisu tersebut, terdapat sebuah noda pekat berwarna merah kehitaman yang sangat gelap.
Itu adalah tisu berdarah hitam. Tisu yang sama persis dengan bukti yang ia rebut secara paksa dari tangan Sari dua bulan lalu di dalam toilet mal.
Tisu yang Maya ingat betul, dengan sangat yakin… telah ia robek, ia buang, dan ia flush ke dalam lubang kloset apartemennya hingga lenyap terseret air pada malam pertarungan itu.
Bagaimana benda laknat ini bisa ada di sini lagi? batin Maya menjerit histeris. Otaknya mengalami korsleting mencoba merangkai logika.
Apakah kloset apartemenku bermasalah malam itu dan tidak menelannya sampai habis? Tidak mungkin! Atau… atau apakah Sari sejak awal memiliki lebih dari satu bukti? Apakah wanita gila itu menyimpan cadangan potongan tisu berdarah itu untuk kembali mengancamku di saat aku sedang berada di puncak duniaku?
Maya mencengkeram tepi meja rias kaca itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat layaknya mayat. Tubuhnya bergetar hebat tak terkendali.
Sari ternyata tidak pernah menyerah. Wanita gila itu tidak pernah takut.
Ancaman pemusnahan karier dan kehidupan yang Maya lontarkan tempo hari… sama sekali tidak membuat wanita itu mundur ketakutan. Ancaman itu justru memaksa Sari masuk lebih dalam ke dalam bayang-bayang. Bersembunyi layaknya hantu, untuk menyusun rencana balas dendam yang jauh lebih terstruktur, lebih sabar, dan lebih mematikan.
Monster dari kehidupan masa lalunya kini telah menemukan jalan pintas untuk meneror kehidupan barunya. Menembus penjagaan ketat agensinya.
Di tengah kesendiriannya di ruang ganti yang sepi itu, di puncak kekayaannya yang bergelimang harta dan kemunafikan… Maya menyadari sebuah fakta yang membekukan darah.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai siang ini. Dan kali ini, musuh utamanya tidak hanya datang dari hantu di dalam cermin kamarnya, melainkan dari monster di dunia nyata yang kini siap menelanjangi dan membongkar seluruh rahasia daging porselennya di depan publik.