Tetesan kopi hitam pekat merembes perlahan di sela-sela lantai parket kayu.
Cairan gelap itu menyebar dari pecahan cangkir keramik yang baru saja hancur berantakan di dekat kaki telanjang Maya. Uap panas masih mengepul tipis dari genangan kopi tersebut.
Namun… suhu di dalam apartemen penthouse mewah itu terasa seolah baru saja terjun bebas, anjlok melampaui titik beku.
Maya berdiri mematung layaknya sebuah patung porselen yang baru saja kehilangan nyawanya.
Sepasang mata elangnya membelalak lebar. Tatapannya terkunci mati pada layar televisi plasma raksasa di ruang tengah, yang terus menyiarkan berita evakuasi kepolisian dari Gudang Blok C, Grand Atrium Mall.
“…kondisi korban ditemukan dalam keadaan koma… sebagian besar wajah dan lengannya meleleh dan hancur… menyerupai luka bakar akibat cairan zat kimia atau asam keras ekstrem…”
Suara bariton pembawa acara berita itu terus berdengung.
Kalimat itu bergema memantul di dinding-dinding kepala Maya, menciptakan sebuah resonansi kengerian yang meluluhlantakkan sisa-sisa kewarasannya pagi ini.
Sari kritis. Wajahnya meleleh. Dagingnya hancur.
Ingatan Maya berputar mundur dengan kecepatan brutal. Ia membedah ulang setiap detik yang terjadi di dalam gudang berkarat itu tadi malam.
Ia ingat dengan sangat jelas. Sangat, sangat jelas. Saat Sari melemparkan sebotol penuh asam klorida pekat itu… seluruh cairan mematikan tersebut menghantam wajah dan bahu Maya.
Tidak ada satu tetes pun yang memercik kembali ke arah Sari.
Dan ketika Maya melepaskan kunciannya, membiarkan Sari jatuh, lalu berjalan merayap keluar dari pintu gulung… Sari masih meringkuk di lantai dalam keadaan fisik yang utuh tanpa goresan sedikit pun. Hanya akal sehat wanita itu saja yang telah hangus terbakar oleh pemandangan darah hitam yang hidup.
Jadi… siapa yang melakukan ini pada Sari?
Bagaimana mungkin tubuh wanita malang itu ditemukan pagi ini oleh polisi dalam kondisi daging yang meleleh secara mengerikan?
Hanya ada satu jawaban yang bisa diterima oleh logika yang telah terdistorsi oleh horor biologis ini.
Ada pihak ketiga. Entitas lain.
Sesosok eksistensi yang sedari tadi malam berada di dalam bayang-bayang gudang tersebut. Berdiri diam tak bernapas di balik tumpukan manekin bekas.
Sosok itu mengawasi setiap gerak-gerik Maya. Mendengarkan setiap ancaman pemerasan yang dilontarkan Sari. Lalu… entitas itu memutuskan untuk turun tangan langsung sebagai ‘eksekutor pembersih’ tepat setelah Maya pergi meninggalkan gudang.
Sosok ini tidak menggunakan pisau, tali, atau peluru untuk membungkam Sari.
Sosok ini menggunakan metode eksekusi yang secara spesifik dirancang untuk mengirimkan sebuah pesan berdarah kepada Maya. Menyiksa Sari dengan zat asam hingga wajahnya meleleh adalah sebuah pernyataan dominasi absolut.
Sebuah pesan tanpa kata yang berbunyi, Aku melihatmu. Aku tahu apa yang kau sembunyikan. Dan aku yang mengendalikan permainan ini.
Maya mundur selangkah dengan napas terengah.
Tumitnya tak sengaja menginjak pecahan keramik cangkir kopinya. Ujung tajam keramik itu menusuk kulit telapak kakinya. Namun, telapak kakinya yang telah kebas dan menebal menjadi porselen sama sekali tidak merasakan sayatan benda tajam itu. Tidak ada darah yang menetes.
Paranoia, murni dan tak terkendali, meledak di dalam otaknya.
Jika sosok ini mengawasinya hingga ke gudang paling terpencil dan gelap di belakang mal… itu berarti sosok ini mengetahui setiap langkahnya.
Mengetahui rutinitasnya. Mengetahui di mana ia tinggal. Mengetahui semua kebohongannya.
Dengan napas yang tersengal-sengal liar, Maya memutar tubuhnya. Ia menatap liar ke sekeliling ruang tamu apartemen studionya yang sangat luas dan terang.
Tiba-tiba, kemewahan ruangan seharga puluhan juta per bulan ini terasa seperti sebuah sangkar kaca yang transparan.
Jendela floor to ceiling yang menyajikan pemandangan kota yang menakjubkan dari lantai dua puluh ini… kini terasa seperti mata raksasa yang sedang memata-matainya dari luar gedung.
”Di mana kamu?” bisik Maya dengan suara parau yang bergetar. Ia memutar kepalanya dengan gerakan patah-patah menyapu ruangan. “Apakah kamu ada di sini? Di dalam kamarku?!”
Tanpa memedulikan riasan wajahnya yang sudah rapi paripurna untuk jadwal fitting pakaian hari ini, Maya menjatuhkan dirinya ke lantai.
Ia merangkak dengan cepat seperti orang kesetanan. Ia menyingkap karpet bulu domba tebal di bawah sofa, mencari kabel tersembunyi atau mikrofon penyadap. Kosong. Tidak ada apa-apa.
Ia bangkit berdiri, berlari menuju rak televisi.
Maya membongkar tumpukan buku-buku desain interior tebal yang hanya ia beli sebagai pajangan. Ia menarik dan melempar setiap laci ke lantai. Ia meraba bagian belakang televisi datar tersebut, mencari lensa kamera rahasia sekecil jarum.
Tangannya bergerak dengan kecepatan panik, merusak susunan rapi apartemennya sendiri.
Ia berlari ke kamar mandi. Ia membuka penutup ventilasi udara dengan paksa hingga kuku porselennya menggores besi. Ia memeriksa celah langit-langit gypsum, meraba bagian belakang cermin besar, dan membongkar tempat sampah.
Maya menelusuri setiap inci dari apartemen mewahnya selama hampir dua puluh menit penuh, dengan napas memburu dan dada yang terasa mau pecah.
Hasilnya nihil. Bersih total.
Tidak ada kamera CCTV tersembunyi. Tidak ada alat penyadap audio. Tidak ada perangkat elektronik asing.
Namun… ketiadaan alat pengintai itu justru tidak membuat Maya merasa lega.
Sebaliknya, fakta itu mengonfirmasi sebuah ketakutan yang jauh lebih dalam, dan jauh lebih purba. Sesuatu yang melampaui nalar teknologi manusia.
Sang Dalang tidak membutuhkan kamera CCTV resolusi tinggi atau alat penyadap murahan untuk mengawasinya setiap detik. Dalang itu memiliki akses pengintaian yang jauh lebih intim dan lebih mengerikan dari perangkat mana pun.
Maya menunduk, mengangkat kedua tangannya yang bergetar. Ia menatap lekat-lekat kedua telapak tangannya sendiri. Ia menatap pori-pori kulit porselennya yang sempurna dan kebas.
Aku adalah alat pengintainya, batin Maya merintih pedih, menyadari kebenaran mutlak itu.
Sel-sel buatan yang kini membentuk daging, otot, dan tulangnya, sel-sel yang ia curi dari kotak iblis itu adalah ciptaan mutlak dari sang dalang.
Formula itu mungkin memiliki keterikatan dimensi, atau gelombang frekuensi biologis dengan penciptanya. Sang Dalang tidak perlu melihat dari luar ruangan, ia bisa melihat dari dalam tubuh Maya. Ia bisa merasakan kapan Maya panik, kapan Maya bermutasi, dan ia selalu tahu persis di mana mahakarya biologisnya ini sedang bernapas.
Maya merosot duduk di tengah ruang tamunya yang kini berantakan dipenuhi buku dan barang yang berserakan.
Ia memeluk kedua lututnya sendiri. Di tengah ketidakmampuannya untuk merasakan emosi kesedihan yang mendalam akibat efek sisa pasta abu-abu di otaknya… rasa teror primal ini tetap berhasil menembus pertahanannya.
Ia terjebak. Uang puluhan miliar di rekeningnya sama sekali tidak bisa membeli jalan keluar dari penjara tubuhnya sendiri.
Kring! Kring! Kring!
Ponselnya, yang tergeletak di atas island bar marmer dapur, berdering keras memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Maya tersentak hebat hingga bahunya melompat.
Ia menatap ponsel itu dari kejauhan selama beberapa detik, seolah benda persegi itu adalah detonator bom waktu. Nama yang tertera berkedip di layar adalah ‘Kak Kiki’.
Ia harus kembali bekerja. Dunia komersial tidak peduli pada hancurnya kewarasan seorang model di dalam apartemennya.
Di luar pintu apartemen berlapis baja ini, ia adalah The Fierce Unknown, dewi porselen yang sempurna, anggun, dan tak tersentuh. Jika ia membatalkan jadwal hari ini secara sepihak tanpa alasan medis yang jelas, agensi akan rugi miliaran, dan Randy Adhitama pasti akan mempertanyakan profesionalitasnya secara langsung.
Maya memaksa tubuhnya yang kaku untuk berdiri.
Ia berjalan perlahan ke arah meja bar. Ia memejamkan mata, mengatur ritme napasnya, dan menarik topeng sosiopatnya kembali menutupi wajahnya. Ia menggeser layar untuk menjawab panggilan tersebut.
”Halo, Kak Kiki,” sapa Maya.
Suaranya mengalir sangat tenang, merdu, dan sedingin es. Tidak ada sedikit pun jejak kepanikan atau isak tangis dari wanita yang baru saja membongkar apartemennya sendiri karena paranoid.
“Morning, Superstar!” sapa Kiki dari seberang telepon dengan nada riang yang tak pernah luntur. “Mobil agensi kita udah nunggu di lobi bawah apartemen kamu, ya! Kamu udah siap turun kan? Desainer dari Paris udah nungguin kita di butik eksklusifnya di Senayan buat fitting gaun gala agung buat minggu depan.”
”Saya turun sekarang, Kak,” jawab Maya singkat.
Ia menutup teleponnya.
Maya berjalan ke arah cermin di lorong. Ia merapikan sedikit kerah blazer hitam Dior-nya. Ia melangkah santai melewati pecahan cangkir keramik dan tumpahan kopi di lantai tanpa memedulikannya, lalu menyambar tas desainer mahalnya dari meja.
Ia membuka pintu apartemen, melangkah keluar, dan mengunci pintu tersebut rapat-rapat. Mengunci seluruh ketakutan dan traumanya di dalam ruangan itu.
Perjalanan menuju butik eksklusif di kawasan Senayan memakan waktu hampir satu jam karena terjebak kemacetan pagi ibu kota.
Di dalam kabin mobil van mewah yang sejuk, Kiki sedang sibuk memilah-milah deretan email penawaran kerja dan kontrak di tabletnya. Maya duduk menyilang kaki di sebelahnya, mengenakan kacamata hitam desainer berukuran besar yang menutupi separuh wajahnya.
Matanya terus menatap keluar jendela mobil, mengamati wajah-wajah pejalan kaki dan pengendara motor yang melintas di samping mereka.
Setiap kali ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam, memakai topi menutupi wajah, atau pria berjas yang berdiri diam di trotoar… jantung Maya berdegup lebih cepat.
Paranoianya membuat setiap orang asing di jalanan Jakarta terlihat seperti utusan Sang Dalang yang sedang dikirim untuk mengawasinya.
”May, by the way… kamu udah denger berita heboh pagi ini belum?” tanya Kiki tiba-tiba. Suaranya memecah lamunan kelam Maya.
Tubuh Maya menegang kaku di balik kursi kulit yang empuk. Di balik kacamata hitamnya, matanya memicing waspada.
”Berita apa, Kak?” tanya Maya, mengatur nada suaranya agar terdengar datar dan tak acuh.
”Itu lho, yang lagi viral banget di Twitter sama grup WhatsApp gosip anak-anak mal pagi ini,” Kiki meletakkan tabletnya di pangkuan. Raut wajah pria nyentrik itu berubah menjadi sedikit bergidik ngeri.
”Ada cleaning service di Grand Atrium Mall, tempat kerja kamu dulu, yang ditemuin kritis nyaris mati di gudang kosong belakang tadi pagi,” cerita Kiki bersemangat. “Katanya sih mukanya hancur meleleh parah kena siram air keras. Ih, ngeri banget ya dunia sekarang, May! Orang bisa sejahat dan sebarbar itu sama sesama manusia cuma gara-gara dendam.”
Kiki menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis, menunjukkan rasa simpatinya.
”Tapi yang bikin merinding misterius tuh, May… pas evakuasi, beberapa satpam mal yang eike kenal deket bilang, kalau di sekitar tubuh perempuan itu nggak ditemuin jerigen, botol kaca, atau sisa cipratan air keras sama sekali di lantai.”
Maya menahan napasnya. Tangannya meremas tali tasnya.
”Dan herannya lagi,” lanjut Kiki, mencondongkan tubuhnya ke arah Maya seolah berbagi rahasia negara. “Lantai beton gudang yang dia tempatin juga nggak ikut meleleh atau berasap sama sekali! Padahal cairan asam sekuat itu kan harusnya ngerusak dan ngebakar beton di sekitarnya. Polisi forensik lagi pusing banget nyari tahu itu ulah siapa dan pakai zat kimia apaan.”
Mendengar detail laporan investigasi itu meluncur dari mulut Kiki, Maya harus mengerahkan seratus persen kemampuan akting sosiopatnya untuk tidak muntah atau gemetar ketakutan di kursi itu.
Tidak ada sisa botol air keras di tempat kejadian? Maya membatin dengan liar, otaknya bekerja keras.
Padahal aku melihat dengan mata kepalaku sendiri botol kaca itu pecah berkeping-keping di lantai setelah Sari menyiramkannya padaku semalam! Sang Eksekutor tak berwajah itu ternyata bukan hanya menyiksa Sari dan melelehkan daging wajahnya… namun entitas itu juga dengan sangat teliti membersihkan tempat kejadian perkara.
Membersihkan pecahan kaca. Menghapus jejak asam klorida di lantai beton. Namun, secara spesifik dan sengaja, entitas itu membiarkan tubuh Sari hancur tanpa merusak lingkungan sekitarnya. Menghancurkan Sari menggunakan sebuah zat perusak biologis yang jelas bukan berasal dari dunia manusia normal.
Sebuah pembersihan bukti yang sangat rapi, tanpa cela, dan sempurna. Pekerjaan seorang predator tingkat tinggi yang memiliki kekuasaan absolut atas materi.
”Mengerikan sekali,” jawab Maya dengan nada suara yang sangat datar dan diatur sedemikian rupa.
Ia membuat responsnya terdengar seolah berita itu tak lebih dari sekadar kabar burung murahan yang tidak memiliki kaitan emosional apa pun dengannya. “Kuharap polisi segera menemukan pelakunya.”
”Iya, amit-amit deh jabang bayi. Jangan sampai hal-hal barbar dan kriminal kayak gitu kejadian di lingkungan high class kita,” Kiki kembali mengambil tabletnya, merasa puas dengan respons Maya.
Kiki sama sekali tidak menyadari… bahwa ‘monster barbar’ yang ia bicarakan dengan penuh simpati itu, sedang duduk dengan sangat elegan tepat di sebelahnya. Menyembunyikan kedua tangannya yang dingin, yang tak bisa merasakan sentuhan, di balik tas mahalnya.
Setibanya di butik mewah milik desainer internasional tersebut di kawasan Senayan, Maya langsung disambut oleh rentetan prosedur penyambutan yang sangat profesional dan berlebihan.
Butik dua lantai itu ditutup total untuk umum pagi ini demi privasinya.
Selusin asisten desainer berseragam hitam, beberapa penjahit profesional yang membawa pita ukur, dan sang kepala desainer asal Prancis sendiri… sudah berdiri berbaris menunggu kehadirannya di lobi butik.
”Ah, magnifique! Akhirnya sang muse cantik kita tiba,” sapa sang desainer, Monsieur Laurent, dengan logat Prancis yang sangat kental. Pria paruh baya itu langsung melangkah maju dan memberikan ciuman pipi kiri dan kanan pada Maya.
”Mari masuk ke dalam, cherie. Kita lihat bagaimana gaun agung ini memeluk tulang-tulang sempurnamu untuk acara Gala minggu depan,” ajaknya antusias.
Maya diarahkan menuju ruang fitting VVIP yang berukuran raksasa. Ruangan itu dikelilingi oleh cermin tiga ratus enam puluh derajat, dengan pencahayaan lampu studio yang terang benderang.
Ia diminta untuk melepaskan pakaian kasualnya, hanya menyisakan pakaian dalam berpotongan minim di tubuhnya.
Sementara itu, empat orang penjahit wanita membawa masuk sebuah gaun berekor panjang dengan sangat hati-hati. Gaun itu berwarna perak metalik, terbuat dari ribuan kepingan sisik logam ringan dan jahitan kristal asli yang berkilauan menyilaukan mata.
Saat gaun mewah itu mulai dipakaikan ke tubuh Maya, ia bisa merasakan dengan jelas betapa beratnya gaun tersebut.
Ritsleting di bagian sisi pinggang ditarik dengan sangat ketat ke atas. Kain logam itu memeluk setiap inci lekuk pinggang dan pinggulnya, menekan kulit porselennya tanpa memberikan ruang ekstra sedikit pun untuk bernapas.
”Tahan napas sedikit ya, Nona Maya. Kain ini memang dirancang khusus seperti korset besi zaman pertengahan untuk memperbaiki postur tubuh hingga batas maksimal,” instruksi salah satu asisten penjahit wanita.
Asisten itu mulai menarik tali pengikat gaun di bagian punggung belakang Maya dengan sekuat tenaga, mengikat simpulnya hingga kain itu membungkus Maya layaknya perisai.
Tekanan fisik mekanis dari gaun metalik itu luar biasa kuat dan menyiksa.
Jika Maya adalah wanita dengan biologi manusia normal, tulang rusuknya mungkin sudah terasa nyeri, organ dalamnya tertekan, dan ia pasti akan kesulitan menarik oksigen ke paru-parunya. Ia mungkin akan pingsan dalam lima belas menit.
Namun, bagi tubuh modifikasi Maya yang jaringan dagingnya telah mengeras menjadi porselen padat dan saraf sensoriknya telah mati kebas… tekanan brutal itu sama sekali tidak menyakitkan. Ia bahkan tidak perlu menahan napas.
Hanya saja… tekanan mekanis yang ekstrem dan konstan ini kembali membangkitkan sebuah ketakutan logis di kepalanya.
Ini mengingatkannya pada kejadian di backstage beberapa minggu lalu, saat kalung choker perhiasan mencetak lekukan permanen yang cacat di lehernya akibat fase plastisitas.
Tubuhnya memang kebal terhadap rasa sakit. Tapi tubuhnya sangat rapuh terhadap tekanan benda berat dalam waktu lama jika ia kehabisan gel penstabil bentuk.
Dan saat ini… Maya tidak memiliki satu tetes pun gel mutiara iblis di apartemennya. Jar kacanya sudah kosong. Jika tulang rusuk porselennya melesak amblas ke dalam, atau pinggangnya menciut penyok secara permanen mengikuti cetakan gaun besi ini… ia tamat.
Maya menatap pantulannya di cermin bundar yang mengelilinginya.
Di dalam cermin itu, ia terlihat seperti seorang kesatria valkyrie berbalut zirah kristal pelindung. Cantik tak tertandingi. Namun di saat yang sama, ia terkurung lemas dalam sangkar logam yang perlahan-lahan meremukkan tubuh buatan yang ia banggakan.
”Sempurna. Luar biasa. Lipatan asimetris di bagian pinggulnya jatuh dengan presisi matematis,” puji Monsieur Laurent.
Sang desainer menangkupkan kedua tangannya di depan dada, matanya berbinar-binar memuja lekuk tubuh Maya. “Tapi… saya rasa kita perlu memotong sedikit ujung bahunya agar leher jenjangmu terlihat lebih absolut dan menonjol.”
Sang desainer mengambil sepasang gunting tajam dan sebuah bantalan yang penuh dengan jarum pentul berbahan baja. Ia melangkah mendekati punggung Maya.
Pria Prancis itu mulai menusukkan jarum-jarum tajam itu ke lipatan kain gaun di sekitar area bahu dan punggung atas Maya, menandai area yang harus dipotong dan direvisi nanti.
Saat sang desainer bekerja dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan artistik… sebuah kesalahan kecil tak terduga terjadi.
Ujung salah satu jarum pentul berbahan baja antikarat itu menembus lapisan kain terlalu dalam. Jarum itu meleset, dan menusuk langsung menembus ke dalam kulit bahu belakang Maya.
”Oh, mon Dieu!”
Desainer itu terkesiap kaget. Ia buru-buru menarik tangannya menjauh, menjatuhkan beberapa jarum ke lantai.
”Maafkan saya! Maafkan kecerobohan saya, Maya! Apakah tusukan itu melukaimu? Saya benar-benar tidak sengaja menusuk kulitmu,” ucap pria itu panik, takut dituntut oleh agensi.
Maya, yang sama sekali tidak merasakan ujung tajam jarum itu menembus dagingnya berkat matinya saraf sensoriknya, tidak bereaksi apa-apa.
Ia hanya memutar lehernya dengan pelan, menatap datar ke arah sang desainer melalui pantulan cermin di depannya. Mata elangnya bahkan tidak berkedip menahan sakit.
”Tidak apa-apa, Monsieur. Lanjutkan saja pekerjaan Anda,” jawab Maya dengan nada sedingin es balok, seolah jarum yang tertancap di kulitnya itu hanyalah seekor nyamuk.
Sang desainer menelan ludah. Ia menatap bahu porselen gadis itu dengan sedikit ngeri dan takjub.
Jarum baja itu masuk cukup dalam, nyaris setengah sentimeter. Namun ajaibnya… tidak ada setetes pun cairan darah merah yang merembes keluar dari titik tusukan di kulit bahu Maya.
Kulit gadis itu tidak memerah, tidak robek seperti daging, dan tidak memar. Persis seperti lapisan karet silikon tebal pada manekin plastik yang baru saja ditusuk pin kertas.
Sebuah suasana canggung dan kebingungan yang sangat tidak mengenakkan mendadak menyelimuti ruang fitting raksasa tersebut. Para asisten penjahit saling berpandangan dengan kening berkerut.
Tepat pada detik ketegangan diam itu memuncak… pintu utama ruang fitting terbuka lebar tanpa ada yang mengetuknya dari luar.
Semua orang di dalam ruangan, termasuk Kiki dan sang desainer, refleks menoleh ke arah pintu dengan raut wajah kesal karena privasi artistik mereka diganggu dengan kasar.
Namun… kekesalan di wajah mereka menguap dalam hitungan detik. Kekesalan itu seketika berganti menjadi kepatuhan mutlak yang diiringi rasa segan, saat mereka melihat siapa pria yang berdiri di ambang pintu ganda tersebut.
Randy Adhitama.
Miliarder muda itu melangkah masuk dengan santai.
Aura dominasi absolut yang dibawanya langsung menyedot seluruh gravitasi dan oksigen di dalam ruangan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang tiga potong yang dirancang khusus dengan kesempurnaan seorang raja.
Wajahnya yang memahat garis maskulin yang keras dan angkuh, dipadukan dengan sepasang mata elang gelapnya yang tajam mengintimidasi. Kehadirannya membuat para asisten penjahit tanpa sadar menundukkan kepala mereka dan mundur beberapa langkah ke sudut dinding.
”Selamat siang,” suara husky dan berat Randy mengalun.
Suara itu membelah kesunyian canggung yang membeku. Ia sama sekali tidak menatap wajah Kiki, sang desainer, maupun para penjahit. Matanya hanya lurus tertuju pada bayangan tubuh Maya yang terpantul di puluhan cermin di ruangan itu.
”Kiki memberitahuku lewat email bahwa muse utamaku sedang mencoba zirah untuk acara Gala perusahaanku,” ucap Randy pelan, tangannya berada di dalam saku celana.
”B-Bapak Randy! Tentu saja, silakan masuk, Monsieur!” sang desainer Prancis langsung membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
Pria tua itu menyingkir dengan cepat dari sisi Maya, memberikan ruang absolut bagi sang CEO. “Kami merasa sangat terhormat Anda meluangkan waktu berharga Anda untuk mengecek langsung proses pengepasan ini.”
Randy mengabaikan sapaan menjilat itu. Ia berjalan perlahan dengan langkah tegap, mendekati Maya yang berdiri kaku layaknya patung dewi di atas alas kayu panggung fitting.
Langkah sepatu kulit pria itu tidak bersuara, namun kehadirannya terasa seperti badai petir yang menghantam ruang psikologis Maya.
Semalam, Maya mencurigai pria ini sebagai sang dalang sadis. Pagi ini, ia mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh dan menyalahkan entitas tak berwajah dari dimensi lain.
Namun saat Randy berdiri tepat di hadapannya… mencium aroma vetiver dan musk maskulin yang sama persis dengan yang ada di kemeja yang menemani ketakutannya di ranjang… batas antara ‘pelindung’ dan ‘predator psikopat’ di mata Maya kembali mengabur dengan sangat mengerikan.
Randy berdiri hanya berjarak satu lengan dari Maya. Ia menatap Maya dari ujung sepatu hak tingginya hingga ke puncak kepalanya.
”Gaun yang sangat… restriktif,” komentar Randy pelan.
Mata pria itu menelusuri lekuk pinggang Maya yang tertekan sangat kuat oleh kain logam kristal tersebut. Seolah ia sedang menilai apakah gaun itu akan merusak ciptaan biologisnya. Pria itu kemudian mengangkat pandangannya, mengunci tatapan mata elang Maya.
”Apakah gaun berat ini menyakitimu, Maya?”
Pertanyaan itu terdengar sangat biasa bagi orang awam. Layaknya seorang atasan dermawan yang peduli pada kenyamanan fisik model Brand Ambassador-nya.
Namun bagi telinga Maya yang didera paranoia kelas berat… pertanyaan itu terasa memiliki makna ganda yang mematikan dan bernada ejekan.
Apakah tubuh modifikasimu hancur di bawah tekanan gaun ini? Apakah kau merasakan sakit setelah jarum itu menusuk kulit porselenmu barusan? “Saya tidak merasakan sakit sama sekali, Randy,” jawab Maya tak kalah tajam dan menantang. Ia membalas tatapan pria itu dengan keangkuhan dingin yang menolak untuk tunduk sedetik pun. “Sebuah gaun kain… tidak akan pernah bisa melukai saya.”
Seringai tipis, sangat menawan namun luar biasa manipulatif, perlahan terbit di bibir Randy.
Pria itu mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana jasnya. Lalu ia mengulurkan tangannya perlahan ke arah bahu Maya.
Jemari panjang dan kokoh sang miliarder menyentuh kulit bahu porselen Maya. Tepat dan sangat presisi… di titik kecil di mana jarum sang desainer baru saja menusuknya dalam-dalam.
Kulit Maya sedang kebas total. Ia tidak bisa merasakan kehangatan suhu tangan pria itu.
Namun, persis sama seperti kejadian di pinggir kolam renang tempo hari… sentuhan fisik ujung jari Randy membawa sebuah gelombang reaksi biologis gaib yang aneh di bawah lapisan daging porselennya.
Sebuah getaran resonansi elektromagnetik yang entah bagaimana… luar biasa menenangkan sel-sel buatan di dalam tubuhnya yang tegang. Rasa sesak di dada akibat tekanan sabuk gaun kristal itu seakan memudar. Digantikan oleh sebuah hawa nyaman yang mendamaikan saraf-saraf aslinya yang terperangkap di dalam.
Maya membenci dirinya sendiri karena reaksi murahan ini.
Ia membenci kenyataan biologis bahwa tubuh mutasinya membutuhkan sentuhan dari pria dominan ini untuk merasa stabil secara struktural. Padahal, di saat yang sama, separuh kewarasannya berteriak ketakutan bahwa pria tampan inilah yang menjebaknya dalam neraka tanpa jalan keluar ini.
”Kau memiliki tingkat ketahanan fisik yang luar biasa, Maya,” bisik Randy, menundukkan kepalanya.
Suara husky pria itu hanya bisa didengar oleh telinga Maya. Ibu jari Randy mengusap pelan kulit bahu Maya dengan sebuah gestur kepemilikan mutlak yang sangat frontal dan tanpa malu-malu.
”Tapi ingat ini baik-baik,” lanjut Randy. Tatapannya menembus hingga ke dasar jiwa Maya yang gelap. “Bahkan berlian alami yang paling keras sekalipun… bisa retak dan hancur berkeping-keping jika diletakkan di bawah tekanan yang salah.”
Randy menghentikan usapannya.
”Dan aku… sangat benci melihat barang milikku cacat sedikit pun.”
Randy menarik tangannya kembali, memutuskan kontak biologis yang memabukkan itu. Ia menoleh dengan tajam ke arah sang desainer Prancis yang masih berdiri kaku mematung di sudut ruangan.
”Kain logam ini terlalu menekan struktur anatominya,” perintah Randy dengan nada mutlak seorang diktator yang tak pernah menerima bantahan seumur hidupnya.
”Longgarkan bagian pinggang dan tulang rusuknya. Aku tidak ingin ia kesulitan bernapas di acara nanti atau merusak postur sempurnanya. Ganti berat kristal sintetis itu dengan sapphire asli yang lebih ringan kualitas terbaik.”
Randy membetulkan kancing jasnya. “Kirimkan total tagihannya langsung ke meja kantorku hari ini juga.”
Sang desainer mengangguk panik berkali-kali, mengusap keringat di dahinya. “B-baik, Pak Randy! Kami akan membongkar dan merombaknya sekarang juga sesuai pesanan Anda!”
Randy kembali menatap Maya sejenak. Ia memberikan sebuah anggukan pelan dan sangat berkelas pada gadis itu, tanda bahwa inspeksinya selesai.
Lalu, miliarder itu berbalik. Ia melangkah keluar dari ruang fitting raksasa itu sama tenangnya dan sama angkuhnya saat ia masuk. Ia datang bagaikan dewa badai, membalikkan seluruh tatanan, lalu pergi begitu saja meninggalkan sisa-sisa atmosfer yang luar biasa berat dan penuh tanda tanya.
Maya berdiri mematung di atas panggung kayu. Dikelilingi oleh ratusan pantulan dirinya sendiri di cermin.
Pria itu baru saja menyelamatkannya dari tekanan fisik gaun yang berpotensi merusak anatominya. Sebuah tindakan perlindungan yang kembali membuai dan memutarbalikkan logikanya.
Apakah dia dalang psikopatnya? Ataukah dia hanyalah seorang miliarder arogan yang tak sengaja tubuhnya menjadi penawar biologis bagi kutukanku? Teka-teki di dalam kepala Maya ini terasa seperti labirin kaca yang tak memiliki jalan keluar. Menyesatkannya di antara batas teror dan gairah perlindungan.
Malam harinya. Pukul sembilan malam.
Setelah melewati hari yang luar biasa melelahkan secara fisik dan dipenuhi oleh kepalsuan duniawi yang memuakkan… Maya akhirnya kembali ke apartemen studionya.
Apartemen puluhan miliar yang kini terasa tak lebih dari sekadar sebuah ruang isolasi rumah sakit jiwa yang berlapis emas.
Ia masuk ke dalam. Ia mengunci pintu ganda berlapis baja itu, memastikan gerendelnya berbunyi klik dua kali. Ia melemparkan tas desainer serta sepatunya ke atas sofa kulit secara asal.
Apartemen ini masih terlihat sama persis seperti saat ia meninggalkannya pagi tadi. Rapi. Wangi pengharum lavender. Tidak ada jejak bau cairan pemutih klorin. Tidak ada tanda-tanda kerusakan.
Pintu kamar tidurnya yang engselnya rusak semalam, telah ia laporkan pada teknisi gedung siang tadi sebagai kerusakan mekanis biasa. Pintu itu kini telah diperbaiki dan terpasang kokoh kembali.
Maya berjalan gontai menyeret kakinya menuju dapur bersihnya. Ia berniat mengambil segelas air putih dingin untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
Saraf-saraf emosionalnya masih tertekan dan dibungkam oleh sisa-sisa pasta abu-abu penekan emosi. Efek obat itu memungkinkannya untuk bertindak sangat rasional di tengah apartemen yang mencekam ini, tanpa jatuh menangis histeris.
Ia menyalakan lampu dapur. Ia membuka pintu kulkas, mengambil botol air Fiji, dan menuangkan air dingin ke dalam gelas kristal.
Ia meminum air itu perlahan sambil memandangi ruang tamunya yang sunyi senyap.
Tidak ada pergerakan bayangan hitam di sudut ruangan. Tidak ada genangan cairan yang meleleh. Semuanya terasa sangat ‘normal’. Terlalu normal untuk sebuah tempat yang semalam menjadi arena perburuan monster.
Maya menyelesaikan minumnya. Ia meletakkan gelasnya di atas island bar, lalu berjalan mantap menuju kamar tidur utamanya untuk membersihkan wajahnya dan beristirahat. Ia sangat butuh energi tidur untuk pemotretan besok.
Langkah kaki telanjangnya menyentuh karpet kamar tidur yang sangat lembut.
Ia berjalan melewati ranjang king size-nya yang telah dirapikan dengan sangat sempurna oleh jasa layanan pembersih apartemen (room service) pagi tadi. Seprainya ditarik rata tanpa lipatan.
Namun…
Saat Maya melangkah menuju pintu kamar mandi di dalam kamar… ekor matanya menangkap sebuah anomali visual.
Sebuah kejanggalan yang ukurannya sangat kecil, namun memancarkan aura ancaman yang sangat mematikan.
Di atas ranjangnya yang luas. Di atas hamparan seprai sutra berwarna putih bersih tanpa noda itu… tidak sepenuhnya kosong.
Tepat di bagian tengah kasur. Diletakkan rapi di atas tumpukan bantal kepala yang ditata menjulang… terdapat sebuah benda asing.
Langkah kaki Maya terhenti mendadak.
Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan. Detak jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh, sebelum akhirnya kembali berpacu dengan ritme tak karuan yang menyakiti dada.
Hawa dingin kriogenik yang berbau anyir darah kembali merayap di tengkuknya.
Apartemen ini berada di lantai dua puluh. Ketinggian yang mustahil dipanjat. Ia memegang satu-satunya kartu akses mutlak untuk unit ini. Sistem keamanan kamera di gedung ini adalah yang terbaik di seluruh Jakarta. Pintunya terkunci rapat dari dalam dan luar. Tidak ada satu pun jendela balkon yang terbuka. Layanan pembersih ruangan sudah pulang sejak siang tadi.
Namun… seseorang. Atau sesuatu.
Sesuatu telah masuk menyelinap ke dalam kamar tidurnya saat ia sedang sibuk bekerja di butik. Berdiri menatap di sisi ranjangnya. Dan meletakkan benda itu dengan sangat, sangat hati-hati di atas bantal tidurnya. Sebuah pelanggaran privasi absolut.
Dengan napas yang tertahan dan kedua tangan yang gemetar hebat, Maya memutar tubuhnya. Ia melangkah mendekati sisi ranjang tersebut dengan gerakan yang sangat lambat dan waspada.
Semakin ia melangkah mendekat, wujud benda kecil itu semakin jelas terlihat di bawah pendaran cahaya lampu tidur yang temaram.
Itu adalah sebuah plastik ziplock transparan berukuran kecil.
Bulu kuduk di sekujur tubuh Maya berdiri serempak sekeras kawat. Kakinya langsung lemas kehilangan tenaga.
Ia sangat mengenali plastik klip bening dengan garis merah di atasnya itu. Itu adalah plastik yang sama persis dengan plastik yang ia rebut dari tangan Sari di toilet mal.
Plastik yang telah ia robek. Plastik yang telah ia buang dan ia tekan siram (flush) ke dalam pusaran air lubang kloset kamar mandinya sendiri, hingga lenyap ditelan sistem selokan bawah tanah ibu kota, dua malam yang lalu.
Plastik itu telah kembali padanya.
Terselamatkan dari kedalaman sistem pembuangan limbah bawah tanah. Dicuci sangat bersih dari noda air kotor di bagian luarnya. Dan kini… diletakkan kembali ke atas tempat tidurnya sebagai sebuah monumen penderitaan dan teror psikologis tanpa batas.
Namun… yang membuat sisa-sisa kewarasan Maya akhirnya hancur berkeping-keping hingga ia jatuh berlutut keras di sisi ranjang… bukanlah keberadaan plastik itu sendiri.
Melainkan… apa yang ada di dalam plastik tersebut malam ini.
Di dalam plastik klip transparan itu, gumpalan tisu bernoda darah hitam yang sebelumnya meronta hidup, kini telah menghilang tanpa sisa.
Sebagai gantinya… tergeletak diam membeku di dasar plastik kedap udara itu… adalah sebuah gigi manusia.
Sebuah gigi geraham utuh berwarna kekuningan. Gigi yang masih berlumuran bercak darah merah segar. Di akar gigi itu, masih menempel sedikit serpihan gusi manusia yang sobek merah. Mengindikasikan dengan sangat jelas, bahwa gigi itu baru saja dicabut secara paksa dengan menggunakan tang dan metode yang sangat brutal dari rahang pemiliknya saat ia masih hidup.
Dan melihat ukurannya… itu jelas adalah gigi orang dewasa.
Di bawah plastik yang berisi gigi berdarah itu… terselip sebuah catatan kecil.
Kertas catatan itu bukanlah ditulis di atas kertas linen mewah dengan tinta perak milik perusahaan Randy. Melainkan, ditulis di atas sobekan kertas buku catatan garis biasa.
Tulisannya menggunakan noda dari cairan darah merah segar itu sendiri sebagai tintanya. Tarikan garis hurufnya terlihat berantakan, ditulis dengan gerakan tangan yang memburu, namun pesannya tersampaikan dengan presisi teror yang sangat luar biasa.
“SATU ANCAMAN TELAH KUBERESKAN.
KEMURNIANMU TETAP TERJAGA. JANGAN PERNAH MENGECEWAKANKU.”
Maya membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Ia berusaha meredam jeritan ngeri yang mengancam akan memecahkan pita suara dan gendang telinganya di keheningan malam itu.
Air mata keputusasaan yang panas, tumpah ruah menembus tameng sosiopatnya, membasahi wajah porselennya yang pucat pasi.
Ini adalah gigi Sari.
Bukti biologis dari pencabutan nyawa, atau bukti siksaan murni sebelum wajah wanita malang itu dilelehkan oleh entitas sang pembunuh.
Ketakutan absolut menelan jiwa Maya bulat-bulat, tanpa menyisakan harapan cahaya sedikit pun.
Sang Dalang gila ini… tidak hanya mengawasinya. Sang Dalang psikopat ini memiliki akses fisik yang tak terbatas, menembus beton dan baja, untuk masuk ke tempat paling suci dan paling pribadi dalam hidupnya.
Dalang itu bisa melayang menembus dinding apartemen lantai dua puluh. Ia bisa merogoh tangannya ke dalam selokan bawah tanah yang kotor untuk mengambil kembali barang bukti tisu hitam itu.
Dan yang paling sinting… Dalang itu meninggalkan trofi penyiksaan berdarahnya dengan rapi di atas kasur Maya. Layaknya seekor kucing buas yang sedang memberikan hadiah bangkai tikus berdarah kepada majikan yang dicintainya.
Maya meringkuk menangis di lantai parket, tepat di samping ranjang mewahnya. Dikelilingi oleh kesunyian apartemennya yang berharga puluhan miliar. Apartemen yang kini terasa tak lebih dari sebuah bilik hukuman mati yang berlapis emas.
Di malam penuh teror ini, Maya menyadari satu fakta pahit yang tak bisa lagi dibantah oleh logika kemanusiaan mana pun.
Ia tidak pernah, sedetik pun, memegang kendali atas hidupnya. Ia tidak mengendalikan kariernya, ia tidak mengendalikan harta miliaran di rekeningnya, maupun atas daging tubuhnya sendiri.
Ia hanyalah sebuah boneka porselen mahal yang rapuh, yang sedang dimainkan dengan penuh kasih sayang yang sakit di atas panggung teater berdarah.
Dan sosok psikopat tak berwajah di luar sana… sedang tertawa puas dalam kegelapan malam Jakarta. Menikmati setiap detik dari rasa teror yang perlahan melilit, dan mencekik leher boneka cantiknya yang tak berdaya.