Maya berlutut di atas lantai kayu ek ruang kerjanya. Napasnya berderak hebat.
Tangannya yang gemetar menarik gumpalan rambut hitam kelam itu dari dalam rongga mulutnya. Semakin ia menariknya, helaian rambut basah itu terasa semakin panjang, seolah akar rambut tersebut tertanam jauh di dalam dinding lambungnya.
Rasa mual dan kengerian absolut mengaduk-aduk isi perutnya.
”Ukh!”
Dengan satu tarikan kasar yang menyakitkan, gumpalan rambut itu akhirnya terlepas sepenuhnya. Maya melemparnya ke lantai dengan rasa jijik yang tak terlukiskan.
Rambut panjang yang basah oleh liur dan darah hitam itu menggeliat pelan selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdiam layaknya parasit yang mati kehabisan udara.
Maya mendongak. Matanya yang merah menatap nanar ke arah tabung kaca di atas meja.
Bola mata Sari yang kusam itu masih mengambang di dalam cairan formalin. Benda itu menatap Maya. Menghakiminya. Mengingatkannya bahwa kutukan dari masa lalu ini hidup, bernapas, dan menolak untuk diam.
Tiba-tiba, suara bisikan serak kembali bergema di dalam tengkorak Maya.
“Tolong… panas…”
Itu suara Sari. Suara yang berasal dari memori seluler gel daging merah muda yang ia oleskan ke perutnya semalam. Sel-sel mati itu kini berontak, mencoba mengambil alih kesadaran Maya dari dalam.
Maya memegangi kepalanya dengan kedua tangan. “Berhenti… kumohon berhenti!”
“Gue bakal tarik lo ke neraka, May…”
Rasa gatal yang luar biasa brutal mulai menyengat dari balik kulit wajahnya. Daging porselennya berkedut liar. Kutukan itu kelaparan. Kutukan itu menuntut untuk merobek kewarasannya malam ini juga.
Maya tahu, ia tidak akan bisa bertahan sendirian di paviliun ini.
Pasta abu-abu penenangnya telah habis. Akal sehatnya berada di ambang kehancuran total. Hanya ada satu hal, satu entitas di dunia ini yang bisa membungkam suara-suara gaib di kepalanya dan menidurkan parasit di sel tubuhnya.
Randy Adhitama.
Maya harus menemukan pria itu. Sekarang juga.
Tanpa memedulikan perintah Randy yang melarangnya keluar dari paviliun, Maya bangkit berdiri. Ia mengusap mulutnya dengan punggung tangan, lalu berlari keluar dari ruang kerja tersebut.
Gadis porselen itu berlari menyusuri lorong paviliun dengan kaki telanjang.
Gaun sutranya berkibar di belakangnya. Ia mendorong pintu keluar paviliun, melangkah masuk ke dalam koridor jembatan kaca yang menghubungkan paviliun tamu dengan mansion utama.
Suhu malam di lorong kaca itu sangat dingin. Badai hujan masih mengguyur kawasan Bukit Sentul, memukuli atap kaca koridor dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Namun Maya tidak merasakan kedinginan itu. Di dalam tubuhnya, darahnya sedang mendidih oleh teror.
Ia berlari melewati para pelayan bisu yang sedang membersihkan lorong. Para pelayan itu menunduk kaget, tak berani menghentikan langkah sang tamu VVIP yang terlihat seperti orang kesetanan.
Maya menerobos masuk ke dalam bangunan utama mansion.
Rumah raksasa itu sangat hening dan temaram. Ia tidak tahu di mana tepatnya ruang kerja Randy berada. Ia hanya mengandalkan insting biologisnya. Ia mengikuti tarikan gravitasi dari aroma vetiver dan musk maskulin yang mengambang tipis di udara.
Langkahnya membawanya menaiki tangga pualam melingkar menuju lantai tiga.
Di ujung lorong yang gelap, seberkas cahaya putih kebiruan memancar dari celah bawah pintu ganda berbahan kayu eboni hitam. Maya mendekati pintu itu. Bau musk maskulin itu semakin pekat tercium.
Tanpa mengetuk, Maya mendorong pintu eboni itu hingga terbuka lebar.
Ruang kerja pribadi sang miliarder itu sangat luas dan bergaya maskulin gelap. Dindingnya dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Di tengah ruangan, Randy Adhitama sedang berdiri menghadap jendela kaca raksasa yang diguyur hujan.
Pria itu sedang memegang segelas whiskey. Ia masih mengenakan kemeja sutra hitamnya, namun lengannya kini digulung hingga ke siku. Ia sedang berbicara bahasa Prancis dengan nada suara yang sangat mematikan melalui earpiece bluetooth di telinganya.
Mendengar pintu terbuka dengan kasar, Randy menghentikan kalimatnya. Pria itu menoleh perlahan ke belakang.
Mata elang sang miliarder langsung menajam saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintunya.
”Aku akan meneleponmu lagi. Eksekusi semua penahan sahamnya sekarang,” perintah Randy dalam bahasa Prancis yang fasih, lalu memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
Randy meletakkan gelas whiskey-nya ke atas meja. Tubuh tegapnya berbalik sepenuhnya menghadap Maya.
Aura kemarahan yang tertahan menguar pekat dari tubuh pria itu. Garis rahangnya mengeras.
”Aku ingat dengan sangat jelas, aku telah memberikan perintah mutlak agar kau tidak keluar dari paviliunmu malam ini, Maya,” tegur Randy. Suaranya rendah, namun bergema seperti guntur yang mengancam.
Maya tidak menjawab. Napasnya memburu.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dan feromon maskulin Randy menyapu indra penciumannya… suara jeritan Sari di dalam kepalanya seketika mereda. Rasa gatal yang menyiksa wajahnya langsung surut perlahan-lahan.
Pria ini benar-benar penawarnya. Pria ini adalah obat biusnya.
Maya melangkah maju. Ia menutup pintu eboni di belakangnya dengan rapat.
”Kau tidak mendengarku?” tuntut Randy. Pria itu melangkah mendekat. Matanya memindai keadaan Maya yang kacau balau. Rambut gadis itu berantakan, dan kakinya telanjang menginjak karpet. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau gemetar seperti ini?”
”Tolong aku…” bisik Maya parau.
Suaranya pecah oleh keputusasaan yang murni. Pertahanan ego supermodel-nya hancur tak bersisa. Ia berjalan terhuyung menghampiri pria itu.
”Sesuatu… sesuatu mencoba masuk ke dalam kepalaku, Randy,” rintih Maya. Air mata kepanikan jatuh membasahi pipi porselennya. “Suara-suara itu… rasa sakit ini… aku tidak sanggup lagi sendirian di sana.”
Melihat kerapuhan absolut dari mahakarya yang biasanya begitu angkuh itu, kemarahan di mata Randy perlahan memudar. Digantikan oleh sebuah insting protektif yang sangat gelap dan posesif.
Saat Maya berada tepat di hadapannya, lutut gadis itu kehilangan tenaga.
Maya nyaris ambruk ke lantai, namun kedua lengan kokoh Randy melesat dengan cepat. Pria itu menangkap tubuh Maya, menahan pinggangnya dengan kuat agar tidak terjatuh.
”Bernapaslah, Maya. Kau aman sekarang,” bisik Randy.
Suara husky pria itu bergetar tepat di telinga Maya. Hawa panas dari tubuh sang miliarder seketika meresap menembus gaun sutra tipis Maya. Menyetrum jutaan sel modifikasi di tubuh gadis itu untuk tunduk dan diam.
Maya memejamkan mata. Ia menghirup aroma musk pria itu dalam-dalam, layaknya orang tenggelam yang akhirnya menemukan oksigen.
Tangannya secara refleks merambat naik, mencengkeram kemeja sutra hitam di dada Randy dengan sangat erat. Ia menyandarkan dahinya ke bidang dada pria itu, membiarkan detak jantung Randy yang stabil menenangkan kekacauan di kepalanya.
”Jangan suruh aku kembali ke paviliun itu malam ini,” mohon Maya disela isaknya. “Kumohon. Jangan usir aku.”
Randy menundukkan wajahnya. Ia menatap puncak kepala Maya yang bersandar pasrah di dadanya.
Bagi sang miliarder, pemandangan ini adalah sebuah kepuasan psikologis yang tak tertandingi. Kesempurnaan anatomi yang ia puji-puji ini, ternyata sangat rapuh dan secara mutlak bergantung pada perlindungannya.
”Aku tidak akan mengusir apa yang sudah menjadi milikku,” jawab Randy absolut.
Pria itu melepaskan pelukannya di pinggang Maya. Lalu, dengan sebuah gerakan yang sangat maskulin dan penuh kuasa, Randy membungkuk dan mengangkat tubuh Maya ke dalam gendongannya dengan sangat mudah.
Maya terkesiap pelan, namun ia tidak menolak. Ia justru melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh pria itu, menyembunyikan wajahnya di perpotongan bahu Randy.
Randy membawa Maya berjalan melintasi ruang kerja tersebut, membuka sebuah pintu tersembunyi yang mengarah langsung ke dalam kamar tidur pribadinya.
Kamar itu sangat luas, didominasi warna gelap, dengan sebuah ranjang berukuran super besar di tengahnya.
Randy membaringkan tubuh Maya dengan sangat lembut di atas kasur bersprei hitam tersebut. Pria itu berdiri di sisi ranjang, menatap gadis porselen yang kini berbaring di wilayah kekuasaannya.
Maya menatap balik ke arah Randy dari atas kasur.
Ketakutannya akan monster dan bola mata Sari perlahan-lahan menguap tanpa bekas. Digantikan oleh sebuah letupan adrenalin baru. Sebuah insting biologis purba yang mendesaknya untuk menyatukan dirinya secara total dengan sang inang pelindung. Tubuhnya yang mati rasa, entah bagaimana, mendambakan sentuhan pria ini untuk merasa utuh.
”Kau bilang kau bisa melenyapkan apa pun yang mengganggu pikiranku,” bisik Maya. Suaranya berubah serak, sarat akan gairah yang lama terpendam di balik kekosongannya.
Maya mengulurkan satu tangannya yang lentik. Ujung jarinya menyentuh ikat pinggang kulit yang dikenakan Randy.
”Lenyapkan ingatanku malam ini, Randy. Lenyapkan semuanya,” tantang Maya pelan, matanya memancarkan kedalaman yang mematikan.
Mata elang Randy menggelap seketika. Sebuah api primitif menyala di dalam pupil sang miliarder.
”Sesuai permintaanmu, Queen.”
Randy melepaskan ikat pinggang dan kemejanya dalam satu gerakan kasar yang elegan, melemparkannya ke lantai. Pria itu naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh tegapnya mengurung Maya di bawahnya.
Di bawah cahaya temaram lampu tidur, struktur otot dada dan perut Randy terlihat seperti pahatan patung Romawi kuno. Sempurna dan penuh bekas luka halus dari masa lalu yang tak pernah ia ceritakan.
Tangan besar Randy merengkuh wajah Maya. Jemarinya menelusuri rahang porselen gadis itu dengan penuh pemujaan, sebelum akhirnya ia menundukkan wajahnya.
Bibir mereka bertabrakan.
Bukan sebuah ciuman yang lembut atau penuh keraguan. Melainkan sebuah ciuman yang luar biasa menuntut, buas, dan sarat akan dominasi absolut.
Napas Maya tercekat saat bibir Randy melumat bibirnya. Pria itu merampas seluruh sisa oksigen di paru-parunya.
Meskipun saraf sensorik di kulit wajah Maya telah lama kebas, namun secara neurokimia di dalam otaknya, ciuman ini meledakkan ribuan kembang api. Gesekan kulit mereka yang kontras, kulit Randy yang panas terbakar gairah, dan kulit Maya yang sedingin marmer menciptakan sebuah sensasi simbiotik yang luar biasa memabukkan.
”Kau terlalu sempurna untuk dunia luar,” erang Randy di sela-sela ciuman mereka.
Tangan pria itu bergerak turun, menarik perlahan ritsleting gaun sutra Maya dari samping. Gaun mahal itu terlepas, mengekspos setiap inci dari mahakarya porselen yang selama ini Maya sembunyikan.
Mata Randy tak berkedip menatap keindahan anatomi buatan di bawahnya. Dari tulang selangka yang tegas, lekuk perut yang datar, hingga kaki yang jenjang. Pria itu menatapnya layaknya seorang raja yang sedang mengagumi harta karun terbesarnya.
”Ini milikku,” klaim Randy dengan suara berat, menunduk dan mencium perpotongan leher Maya.
Sentuhan bibir basah dan panas pria itu di lehernya mengirimkan gelombang kejut yang mematikan seluruh suara rintihan Sari di kepalanya.
Malam itu, di tengah badai hujan yang mengamuk di perbukitan Sentul, Maya menyerahkan sisa-sisa terakhir dari jiwa manusianya.
Penyatuan mereka bukanlah sekadar hubungan fisik antara pria dan wanita. Itu adalah sebuah ritual simbiosis kelam. Sebuah penyatuan antara ciptaan biologis yang putus asa, dengan sang penguasa yang memiliki penawarnya.
Setiap sentuhan Randy, setiap embusan napasnya, dan setiap erangannya, bertindak sebagai jangkar yang mengikat sel-sel mutasi Maya agar tetap tunduk dan waras.
Maya membalas setiap ciuman itu dengan keputusasaan seorang pecandu. Ia mencengkeram bahu berotot Randy, membiarkan dirinya ditaklukkan, dimiliki, dan diubah sepenuhnya menjadi bayang-bayang sang miliarder.
Malam itu, rasa sakit, teror masa lalu, dan misteri Sang Dalang pengintai yang meletakkan bola mata itu… semuanya lenyap tanpa sisa. Terkubur di bawah lautan gairah dan desahan napas yang saling memburu hingga fajar menyingsing.
Enam Bulan Kemudian.
Udara musim gugur di kota Paris terasa sangat dingin dan menggigit kulit. Namun, hawa dingin itu sama sekali tidak menyurutkan kerumunan lautan manusia yang berdesakan di luar Grand Palais.
Ribuan kilatan lampu flash dari kamera paparazzi menyambar tanpa henti. Berkedip bagaikan badai kilat yang membutakan mata.
Pintu mobil Maybach hitam mengkilap terbuka.
Jeritan histeris dari para penggemar dan wartawan internasional seketika meledak, memekakkan telinga.
“Maya! Maya! Regarde ici! (Lihat ke sini!)”
“Maya! Over here, please!”
Maya melangkah turun dari mobil. Sepatu hak tinggi Louboutin-nya yang berwarna sol merah menapak anggun di atas karpet merah Paris Fashion Week.
Penampilan Maya malam itu adalah definisi mutlak dari kata ‘Tak Tersentuh’.
Ia mengenakan sebuah gaun haute couture berwarna emas cair (liquid gold) yang dirancang secara khusus oleh salah satu rumah mode legendaris Prancis. Gaun itu menempel di tubuhnya seperti aliran logam emas yang meleleh, menonjolkan setiap inci kesempurnaan anatomi porselennya tanpa ampun.
Rambut hitamnya yang berkilau dibiarkan tergerai panjang lurus, menyapu punggungnya. Riasan matanya sangat tajam, menyorotkan aura Fierce Unknown yang kini telah menjadi ikon fashion dunia.
Ia berjalan di atas karpet merah dengan keanggunan seorang ratu penguasa dunia.
Tidak ada lagi sisa-sisa gadis cleaning service malang yang dulu memungut sampah di basement mal. Maya yang sekarang adalah salah satu supermodel dengan bayaran tertinggi di dunia. Ia dibayar jutaan Dolar AS hanya untuk berjalan kurang dari sepuluh menit di atas panggung.
Di sekelilingnya, puluhan bodyguard berseragam jas rapi dari berbagai negara membentuk barikade ketat. Memastikan tak ada satu pun tangan manusia fana yang berani menyentuh kulit sang mahakarya.
Di ujung karpet merah, berdiri Kiki. Pria manajer itu mengenakan setelan jas karya desainer ternama, menangis haru melihat anak asuhnya dipuja oleh dunia.
Maya berhenti sejenak di tengah karpet merah. Ia membiarkan ribuan lensa kamera menangkap wajah porselennya dari berbagai sudut.
Kecantikannya ini benar-benar tidak wajar. Tidak ada satu pun pori-pori yang terlihat. Tidak ada garis halus. Tidak ada setitik noda. Kesempurnaannya yang konsisten selama setengah tahun terakhir telah memicu berbagai teori konspirasi di media internasional, namun tak ada yang bisa membuktikan apa pun selain keajaiban genetik.
Selesai berpose, Maya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam area VVIP Grand Palais.
Begitu ia masuk ke dalam ruangan berpilar marmer tersebut, alunan musik klasik menyambutnya. Di sudut ruangan eksklusif itu, duduk seorang pria yang memancarkan aura dominasi yang membuat para model internasional lain tak berani mendekat.
Randy Adhitama.
Sang miliarder kini telah memperluas sayap kerajaan Lumière Merveille-nya hingga ke benua Eropa. Penjualan produknya meledak tak terkendali berkat wajah Maya sebagai Brand Ambassador global mereka.
Melihat Maya mendekat, Randy berdiri. Pria itu mengenakan tuxedo hitam klasik yang membuatnya terlihat luar biasa menawan.
Randy mengulurkan tangannya. Maya menyambut tangan itu dengan senyum miring yang memabukkan, lalu membiarkan sang miliarder menarik pinggangnya mendekat dan mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibirnya di depan puluhan pasang mata elit dunia.
Sebuah deklarasi kepemilikan yang membuat para wartawan di kejauhan menggila menekan tombol shutter.
”Kau baru saja membuat separuh wanita di Paris malam ini ingin mati karena iri, Queen,” bisik Randy di telinga Maya, sebuah senyum puas terukir di bibirnya.
”Biarkan saja mereka bermimpi, Randy,” balas Maya dengan nada angkuh. “Dunia ini memang tidak adil untuk mereka yang terlahir cacat.”
Keangkuhan itu meluncur begitu natural dari mulut Maya.
Selama enam bulan ini, dengan pasokan gel mutiara murni yang terus diisi ulang oleh Sang Dalang tanpa henti… dan dengan posisi ranjangnya yang kini berpindah secara permanen ke kamar Randy di mansion utama… Maya hidup tanpa setitik pun rasa takut.
Kehadiran Randy di ranjangnya setiap malam bekerja sempurna membungkam seluruh efek withdrawal dari tubuhnya.
Ia tidak pernah lagi mengalami mimisan darah hitam. Ia tidak pernah lagi memuntahkan rambut Sari. Dan tumor parasit di rahimnya benar-benar telah mati, menyusut hancur ditelan oleh stabilitas seluler yang ia dapatkan dari sang miliarder.
Simbiosis mereka berjalan dengan kejam namun sempurna. Maya memberikan kepuasan dan estetika tak ternilai bagi Randy, dan sebagai bayarannya, Randy menjadi perisai dan penawar biologis bagi kewarasan Maya.
”Kiki baru saja mengabari,” ucap Randy santai, memberikan segelas champagne kepada Maya. “Rekening investasi di Swiss milikmu telah menembus angka lima belas juta Dolar pagi ini. Apakah kau ingin membeli sebuah Château (kastil) kecil di wilayah selatan Prancis sebagai rumah singgah liburan kita?”
”Ide yang sangat brilian, Sayang,” jawab Maya memutar gelas champagne-nya.
Uang puluhan miliar. Ketenaran internasional. Cinta dari seorang miliarder tampan. Dan ibunya yang kini hidup terjamin di bawah perawatan medis premium, meski wanita tua itu tetap menolak untuk bertemu dengannya.
Hidup Maya saat ini adalah definisi dari surga di bumi. Ia berdiri di titik puncak gunung emas, memandang rendah segala hal di bawahnya.
Namun… di tengah gemerlapnya lampu chandelier Paris dan senyum kemenangan yang menghiasi bibirnya malam itu… Maya melupakan satu hukum alam yang paling mutlak.
Semakin tinggi seseorang terbang mendekati matahari, semakin sakit dan hancur tubuhnya saat ia jatuh menghantam bumi.
Di luar gedung Grand Palais yang megah itu. Jauh di dalam kerumunan lautan manusia yang gelap gulita.
Berdiri sesosok tubuh yang mengenakan jas hujan panjang (trench coat) berwarna hitam pekat. Wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang payung hitam yang ia pegang.
Sosok itu sama sekali tidak memegang kamera. Ia tidak ikut berteriak memanggil nama Maya.
Ia hanya berdiri mematung dalam diam. Mengawasi wajah porselen sang supermodel dari kejauhan melalui layar lebar yang terpasang di luar gedung.
Sebuah senyum miring yang luar biasa mengerikan, kelam, dan tanpa nurani… terukir perlahan di balik kegelapan payung tersebut.
Sang Dalang belum mati.
Dalang itu tidak pernah melupakan eksperimennya. Ia membiarkan boneka porselennya itu terbang bebas ke langit ketenaran. Ia sengaja memanjakan Maya dengan kekayaan absolut, membiarkan gadis itu merasakan puncak kenikmatan dunia, dan membuatnya merasa sangat, sangat aman di bawah perlindungan seorang miliarder.
Karena Sang Dalang tahu sebuah fakta psikologis yang paling sadis.
Penyiksaan yang paling menghancurkan bagi jiwa seorang manusia… bukanlah saat mereka disiksa dalam keadaan miskin dan menderita.
Penyiksaan yang paling mematikan… adalah saat mereka direnggut paksa dan dihancurkan berkeping-keping, tepat di detik ketika mereka merasa telah memiliki segalanya.
Waktu bermain untuk Maya telah habis. Waktu untuk menagih sisa-sisa jiwa dan daging mutasi itu… telah tiba.