SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

​Kengerian itu ternyata memiliki tekstur. Ia memiliki warna, dan ia memiliki bau.

​Di dalam kamar tidur utama paviliun tamu yang dikelilingi oleh sistem keamanan sekelas instalasi militer, Maya berdiri mematung di depan koper terbukanya.

​Jari-jarinya yang sedingin es mencengkeram tepi kotak hitam matte tersebut hingga buku-buku jarinya memutih. Seolah ia sedang mencekik leher iblis yang baru saja menyeretnya jatuh ke dasar neraka ini.

​Matanya membelalak lebar, terkunci kaku pada isi jar kaca membulat di hadapannya.

Jar itu seharusnya kosong.

​Ia telah mengikisnya hingga ke dasar kaca untuk memahat perut dan kakinya secara brutal.

​Namun kini… wadah kaca itu terisi penuh hingga menyentuh batas ulir tutup logamnya. Gel kental di dalamnya tak lagi berwarna seputih mutiara murni yang memancarkan cahaya.

​Warnanya kini adalah merah muda yang sangat keruh.

​Di dalam kepadatan gel tersebut, terdapat guratan-guratan halus berwarna merah gelap yang berputar lambat. Teksturnya menyerupai daging sapi segar yang digiling sangat halus menjadi sebuah emulsi kosmetik.

​Aroma wangi tanah steril sehabis hujan yang dulu selalu menguar dari gel mutiara itu… kini telah terkontaminasi.

​Dari dalam jar tersebut, menguar bau anyir darah segar yang samar, dicampur dengan aroma zat asam kimia klorin yang sangat tajam dan membakar hidung.

​Maya merasa lambungnya dipelintir dengan sangat brutal.

​Ia menutup segel kotak hitam itu dengan bantingan keras. KLIK!

​Gadis porselen itu berbalik. Ia berlari terhuyung-huyung melintasi kamar tidurnya yang luas, menerobos masuk ke dalam kamar mandi marmer, dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kloset.

​Ia memuntahkan seluruh isi perutnya.

​Hanya ada cairan asam lambung dan air putih yang keluar, karena ia nyaris tidak makan apa pun seharian ini akibat matinya indra pengecapnya. Tubuhnya berguncang hebat oleh spasme atau kejang otot yang dipicu oleh rasa jijik yang telah melampaui batas toleransi psikologis manusia.

​Ia terbatuk-batuk keras, menyandarkan keningnya ke dinding pualam yang dingin. Air mata kepanikan mengalir deras dari matanya.

​Sang Dalang gila itu… tidak hanya bisa menyusup ke dalam Estate yang dijaga oleh puluhan mantan tentara bayaran ini. Dalang itu telah mengirimkan sebuah pasokan baru untuknya. Sebuah refill.

​Dan bahan baku dari gel merah muda itu… Maya tidak perlu menjadi seorang ilmuwan forensik untuk menyimpulkan dari mana asalnya.

​Sari ditemukan dengan wajah dan lengan yang meleleh akibat asam klorida pagi tadi. Dan sore ini, jar kosong Maya terisi oleh gel berwarna daging segar yang berbau asam kimia.

​”Tuhan… aku mengoleskan manusia ke tubuhku…” rintih Maya dengan suara parau yang pecah berkeping-keping. “Aku… aku kanibal. Tubuhku adalah kuburan bagi daging mereka.”

​Kesadaran itu menghancurkan seluruh sisa-sisa pembenaran logis yang selama ini ia bangun.

​Kecantikan porselennya, kehalusan kulitnya, simetri rahangnya… semuanya dibayar lunas menggunakan esensi kehidupan dan penderitaan orang lain yang disintesis paksa menjadi cairan kosmetik.

​Sang Dalang mengeksekusi orang-orang. Mengambil jaringan biologis mereka. Memprosesnya entah di laboratorium gila macam apa. Lalu, menyajikannya di dalam kotak ini agar Maya bisa terus bertahan hidup sebagai boneka mahakaryanya.

​Maya memeluk dirinya sendiri di atas lantai kamar mandi. Paranoianya meledak liar dan tak terkendali.

​Jika Dalang itu bisa masuk ke kamar super ketat ini dan mengisi ulang kotaknya… berarti tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang aman baginya.

​Benteng kaca dan beton milik Randy Adhitama ini hanyalah sebuah ilusi keamanan. Sang Dalang bisa berada di mana saja. Mungkin ia menyamar sebagai salah satu pelayan bisu di rumah ini. Mungkin ia meretas sistem keamanan biometrik itu dari jauh.

​Atau yang paling mengerikan… mungkin Sang Dalang memang sudah berada di dalam rumah ini sejak awal.

​Pikiran Maya kembali tertuju pada pria yang baru saja membawanya ke sini. Randy.

​Miliarder itu menyangkal keberadaan produk instan dengan argumen sains yang sangat meyakinkan di meja makan. Tapi… bagaimana jika itu semua adalah kebohongan tingkat tinggi seorang sosiopat?

​Bagaimana jika Randy adalah psikopat yang menciptakan formula ini, memberikannya pada Maya secara diam-diam di bawah panggung, lalu menikmati pertunjukan dari jauh melihat bagaimana Maya menghancurkan jiwanya sendiri demi kesempurnaan?

​Namun… jika Randy adalah dalangnya, mengapa pria itu harus bersusah payah membawanya dan melindunginya di Estate ini?

​Mengapa tubuh Maya, secara biologis, sangat membutuhkan kehadiran fisik pria itu untuk menstabilkan mutasi selnya dan membunuh rasa sakitnya?

​Maya menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa. Otaknya tidak sanggup lagi merangkai teka-teki yang benang merahnya selalu berujung pada jalan buntu.

​Ia memaksa dirinya untuk bangkit berdiri. Ia menyalakan keran wastafel, berkumur, dan membasuh wajahnya berkali-kali dengan air es hingga rasa mual itu sedikit mereda.

​Dengan langkah gontai, ia kembali ke kamar tidurnya.

​Ia mengambil kotak hitam itu, membungkusnya dengan beberapa lapis sweater tebal, dan menyembunyikannya di dalam brankas baja yang tertanam di dinding lemari. Ia menguncinya dengan kode kombinasi angka yang hanya ia yang tahu.

​Ia bersumpah tidak akan pernah menyentuh gel merah muda menjijikkan itu. Ia lebih baik mati menahan rasa sakit jika efek withdrawal menyerang, daripada harus mengoleskan sisa-sisa daging Sari ke kulitnya.

​Lagipula, ia meyakinkan dirinya sendiri… ia tidak membutuhkan gel itu saat ini.

​Di paviliun ini, di wilayah kekuasaan absolut Randy Adhitama, udara seolah dipenuhi oleh partikel tak kasat mata yang menidurkan parasit di dalam perutnya. Selama ia berada di dekat sang miliarder, tubuh porselennya akan tetap stabil.

​Simbiosis yang mengerikan itu telah mengikat nasibnya secara mutlak pada sang miliarder.

​Tiga hari berlalu sejak Maya resmi pindah ke Estate Bukit Sentul.

​Kehidupan di dalam karantina emas itu adalah definisi dari kemewahan yang luar biasa hampa.

​Setiap pagi, Maya terbangun di ranjang yang seprainya diganti setiap hari dengan benang sutra Mesir berkerapatan tinggi. Sarapan disajikan dengan anggun di balkon paviliunnya yang menghadap langsung ke hutan pinus yang berkabut tebal. Makanan yang disajikan adalah karya koki bintang Michelin, dihias bagai karya seni yang terlalu indah untuk dimakan.

​Namun bagi Maya… yang lidahnya telah kehilangan kemampuan mengecap rasa manis dan gurih… kaviar termahal dan roti panggang lapis emas itu terasa sama hambar dengan mengunyah kardus basah.

​Ia hanya memakannya secara mekanis, sekadar untuk memberikan energi kalori bagi sel-sel tubuh modifikasinya agar tidak mati kelaparan.

​Pelayan yang bertugas di paviliun itu benar-benar bergerak tanpa suara. Mereka tidak pernah berbicara padanya, tidak pernah menatap matanya secara langsung, dan hanya menunduk hormat setiap kali berpapasan di lorong.

​Tidak ada televisi yang menyiarkan berita luar di kamarnya. Tidak ada akses koran.

​Kiki mengurus seluruh pembatalan jadwalnya di Jakarta dengan alasan media bahwa Maya sedang menjalani “Retret Eksklusif” demi persiapan kampanye global Lumière Merveille.

​Maya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Ia adalah seekor burung kenari langka yang dikurung di dalam sangkar emas.

​Satu-satunya hal yang membuat Maya merasa bahwa ia masih hidup dan ‘berfungsi’ secara biologis, adalah saat malam tiba.

​Tepat pada pukul tujuh malam, setiap harinya, seorang kepala pelayan akan datang membawakan sebuah gaun malam desainer yang baru, lengkap dengan sepatu heels dan perhiasan berliannya. Pelayan itu akan memberikan pesan yang selalu sama: “Bapak Randy mengundang Nona Maya untuk makan malam di bangunan utama.”

​Makan malam bersama Randy adalah ritual yang menjadi candu akut bagi Maya.

​Bukan karena kelezatan makanannya. Melainkan karena efek biologis yang ditimbulkan oleh kehadiran fisik pria itu.

​Setiap kali Maya melangkah melintasi koridor kaca yang menghubungkan paviliunnya dengan mansion utama, ia bisa merasakan perubahan pada tingkat selulernya. Rasa tegang, kecemasan tumpul yang mencekik, dan kengerian akan bayang-bayang di sudut ruangan… perlahan-lahan menguap ke udara. Digantikan oleh sebuah ketenangan absolut yang luar biasa memabukkan.

​Aroma musk, vetiver, dan kayu sandalwood yang menjadi ciri khas Randy adalah morfin cair bagi jiwa Maya yang retak.

​Di dekat pria itu, Maya merasa aman dan tak terkalahkan. Di dekat pria itu, ancaman dari Sang Dalang terasa sangat jauh dan tak berdaya menyentuhnya.

​Malam itu, di hari keempat pengasingannya.

​Pelayan membawakan sebuah gaun sutra panjang berwarna merah anggur. Gaun itu memiliki model kerah V-neck yang membelah dada cukup rendah, dan belahan rok asimetris yang mengekspos seluruh kaki jenjang porselennya saat ia melangkah.

​Maya merias wajahnya sendiri dengan riasan minimalis. Ia mengikat separuh rambutnya ke belakang, dan membiarkan sisa rambut panjangnya jatuh bergelombang di punggung.

​Ia melangkah keluar dari paviliunnya. Suara ketukan stiletto-nya menggema konstan di sepanjang koridor kaca yang disinari cahaya bulan dan temaram lampu taman.

​Saat ia tiba di ruang makan utama mansion, kepala pelayan menghentikannya.

​”Mohon maaf, Nona Maya. Bapak Randy malam ini tidak menjamu Anda di ruang makan,” ucap pelayan itu sambil membungkuk. “Beliau menunggu Anda di Konservatori Kaca di sayap utara.”

​Maya mengerutkan keningnya sedikit, namun ia mengangguk patuh.

​Ia diantar menyusuri lorong-lorong berlantai marmer gelap yang dihiasi patung-patung perunggu era Renaissance. Rumah ini terlalu besar, terlalu dingin, dan terlalu sepi, menyerupai sebuah museum tua yang ditinggalkan oleh peradaban.

​Di ujung lorong sayap utara, terdapat sebuah pintu kaca raksasa berbingkai besi tempa hitam yang kokoh. Pelayan itu membukakan pintu untuknya, lalu mundur tanpa suara.

​Maya melangkah masuk. Dan seketika, ia merasa seperti melangkah menembus portal ke dimensi lain.

​Konservatori (rumah kaca) itu adalah sebuah ruangan raksasa berbentuk kubah. Seluruh dinding dan atapnya terbuat dari kaca transparan, membiarkan cahaya miliaran bintang dan bulan purnama menyinari isinya secara langsung.

​Suhu di dalam ruangan ini diatur sangat spesifik, hangat dan luar biasa lembap, menyerupai iklim hutan hujan tropis di pedalaman.

​Namun, yang membuat napas Maya tertahan bukanlah arsitekturnya. Melainkan isi dari rumah kaca tersebut.

​Ribuan bunga anggrek mekar memenuhi setiap sentimeter sudut ruangan. Anggrek yang tergantung di pot-pot tembaga di udara, anggrek yang merambat di pilar-pilar batu alam, dan anggrek langka yang ditanam di dalam kotak-kotak kaca berukir di lantai.

​Dan yang paling tidak masuk akal secara botani… seluruh bunga anggrek di ruangan itu berwarna hitam pekat.

​Bukan ungu gelap atau merah marun tua yang sekilas terlihat hitam. Melainkan hitam murni seperti arang yang menyerap cahaya.

​Kelopak-kelopaknya mengkilap seperti lapisan lilin. Bunga-bunga itu memancarkan aura keindahan yang luar biasa mematikan, megah, namun menyiratkan duka dan aura kematian yang mendalam. Aroma bunga-bunga itu sangat pekat, manis namun sangat memabukkan, bercampur dengan kelembapan udara buatan.

​Di tengah lautan anggrek hitam itu, terdapat sebuah area lapang berlantai kayu jati. Di sana, sebuah meja bundar kecil telah ditata dengan dua buah kursi beludru dan sebotol anggur merah yang sudah dibuka.

​Randy Adhitama berdiri di sana.

​Pria itu membelakangi Maya. Ia tidak mengenakan jas formalnya malam ini. Ia hanya mengenakan kemeja sutra hitam berlengan panjang yang digulung rapi hingga ke siku, dan celana bahan berwarna senada.

​Ia sedang memegang sebuah alat penyemprot air kecil berbahan perak. Dengan sangat telaten dan penuh kasih sayang, pria itu menyemprotkan embun buatan ke kelopak salah satu anggrek hitam yang merambat di pilar terdekat.

​Mendengar langkah Maya, Randy meletakkan penyemprot perak itu dan memutar tubuhnya perlahan.

​Mata elang pria itu langsung mengunci sosok Maya.

​Tatapan Randy menelusuri gaun sutra merah anggur yang membalut tubuh gadis porselen itu. Tatapannya menyapu dari belahan dadanya yang mulus tanpa cacat, turun ke pinggang, hingga ke ujung kakinya. Sebuah kilatan pemujaan yang sangat gelap dan posesif terpancar dari mata sang miliarder.

​”Selamat malam, Maya,” sapa Randy. Suaranya yang husky dan dalam mengalun membelah kelembapan ruangan. “Kau terlihat… melampaui batas definisi mahakarya malam ini.”

​”Selamat malam, Randy,” balas Maya pelan.

​Ia berjalan mendekat. Aroma pria itu langsung membungkusnya secara total, menyuntikkan dosis ketenangan biologis ke dalam otot-otot perutnya yang sempat kaku.

​”Ruangan ini… luar biasa,” puji Maya tulus, memutar pandangannya. “Aku belum pernah melihat anggrek berwarna hitam murni seumur hidupku.”

​Randy tersenyum tipis. Ia melangkah menghampiri meja bundar tersebut dan menarik salah satu kursi beludru untuk Maya.

​”Kau tidak akan pernah melihatnya tumbuh di tempat lain, Maya. Anggrek hitam murni secara genetik tidak pernah ada di alam liar,” jelas Randy setelah Maya duduk.

​Pria itu kemudian menuangkan anggur merah ke dalam dua gelas kristal mahal.

​”Semua bunga di ruangan ini adalah hasil rekayasa genetika tingkat tinggi dari laboratorium botani pribadiku. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengisolasi pigmen warna, menekan gen dominan, dan memaksa tanaman ini berevolusi menjadi sesuatu yang sama sekali baru.”

​Randy duduk di kursi seberangnya, menyilangkan kakinya dengan santai. Pria itu mengangkat gelas kristalnya, mengamati cairan merah darah di dalamnya dengan tatapan analitis.

​”Banyak ahli botani konservatif yang mengutuk keras proyekku ini. Mereka bilang aku merusak kehendak alam,” lanjut Randy.

​Matanya kini beralih, menatap lurus ke dalam bola mata Maya dengan intensitas yang nyaris membakar.

​”Mereka bilang mutasi ini adalah sebuah kejahatan terhadap kemurnian biologi. Tapi… lihatlah sekelilingmu, Maya. Apakah ini terlihat seperti sebuah kejahatan? Ataukah ini terlihat seperti sebuah kesempurnaan yang akhirnya terbebas dari batasan evolusi yang membosankan?”

​Maya menelan ludah. Tangannya meremas serbet di pangkuannya.

​Kata-kata Randy… metafora tentang rekayasa genetika, tentang mutasi paksa, tentang menembus batasan biologi… semuanya terdengar terlalu presisi. Terlalu tajam. Menohok langsung pada rahasia gelap yang bersarang di dalam anatomi tubuh Maya sendiri.

Apakah pria ini sedang membicarakan bunga? Ataukah ia sedang menggunakan bunga sebagai perumpamaan untuk membicarakan wujudku? Paranoia kembali beriak kecil di sudut pikiran Maya yang mati rasa. Namun riak ketakutan itu segera diredam oleh feromon menenangkan yang menguar dari tubuh sang predator tampan di hadapannya.

​”Ini sangat indah, Randy. Sangat indah, namun… entah kenapa terlihat sangat menyedihkan,” jawab Maya jujur, matanya menyapu kelopak-kelopak hitam yang kaku itu. “Bunga-bunga ini memancarkan warna kematian.”

​”Kematian hanyalah sebuah fase yang harus dilewati, Maya. Keabadian adalah tujuan utamanya,” Randy meletakkan gelasnya.

​Pria itu mencondongkan tubuhnya melintasi meja bundar kecil itu, mengikis jarak di antara wajah mereka berdua.

​”Tahukah kau hal paling istimewa dari anggrek hitam ciptaanku ini?” bisiknya.

​Maya menggeleng pelan, terpaku pada kedalaman mata elang pria tersebut.

​”Bunga-bunga ini tidak akan pernah layu,” bisik Randy. Suaranya berubah menjadi sangat serak, menyimpan sebuah obsesi yang luar biasa pekat.

​”Kami telah memodifikasi struktur selulernya. Selama ruangan ini mempertahankan suhu, kelembapan, dan nutrisi sintetis yang tepat… kelopak mereka tidak akan pernah membusuk. Mereka akan terus mekar. Beku dalam kesempurnaan absolut. Terkunci selamanya dari kerusakan waktu.”

​Randy mengangkat tangan kanannya perlahan. Jemarinya yang panjang dan kokoh melewati batas meja, terulur ke arah wajah Maya.

​Maya tidak menghindar. Ia menahan napas, membiarkan pria itu menyentuhnya.

​Buku-buku jari Randy mengusap garis rahang Maya yang tirus dan tegas. Sentuhan kulit hangat pria itu bergesekan dengan kulit porselen Maya yang kebas dan sedingin marmer.

​Kontras antara kehidupan yang berdenyut panas dan kesempurnaan yang membeku itu… menciptakan sebuah percikan erotisme yang sangat gelap dan rumit di antara mereka berdua.

​”Saat aku pertama kali melihatmu di balkon mal hari itu… dan saat aku mengamatimu dari dekat di studio tempo hari…”

​Ibu jari Randy membelai pelan bibir bawah Maya yang dipoles lipstik merah bata. Belaian itu memberikan tekanan yang sangat lembut namun menuntut absolutisme.

​”Aku melihat esensi yang sama dengan bunga-bungaku ini di dalam dirimu, Maya.”

​Napas Maya tertahan hebat. Jantungnya bergemuruh liar, memompa darah ke seluruh tubuhnya, menciptakan ilusi bahwa ia masih bisa merasakan debaran romansa selayaknya manusia normal. Sentuhan Randy di bibirnya mengirimkan gelombang kejut yang membungkam seluruh sisa pertahanan logikanya.

​”Kau bukan manusia biasa yang bisa rusak dan keriput oleh waktu,” bisik Randy.

​Wajah pria itu semakin mendekat, hingga Maya bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam bola mata gelap pria itu.

​”Kulitmu… rahangmu… kesempurnaan anatomi ini… ini adalah mahakarya yang menentang hukum alam. Aku tidak akan membiarkan dunia luar yang kotor menyentuhmu. Aku akan menguncimu di dalam kesempurnaan ini, menjagamu… agar tidak pernah layu.”

​Kata-kata kepemilikan itu seharusnya terdengar seperti ancaman kurungan dari seorang psikopat.

​Namun bagi telinga Maya yang telah dirusak oleh keputusasaan dan efek pasta abu-abu… kata-kata itu adalah deklarasi cinta yang paling indah dan paling mengamankan yang pernah ia dengar.

​Ia ingin menjadi milik pria ini. Ia ingin dilindungi oleh predator puncak ini agar tak ada lagi hantu tanpa wajah atau monster dari masa lalunya yang berani mendekat.

​Maya memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan rahangnya bersandar lebih dalam pada telapak tangan Randy. Sebuah gestur penyerahan diri yang total.

​Ia menatap mata pria itu dengan tatapan yang memancarkan dominasinya sendiri. Sebuah keangkuhan seorang ratu yang akhirnya tunduk secara sukarela pada raja yang tepat.

​”Maka jagalah aku, Randy,” balas Maya dengan suara parau yang bergetar. “Pastikan aku tidak pernah layu di tempat ini.”

​Seringai tipis di bibir Randy menghilang. Digantikan oleh ekspresi lapar yang sangat maskulin dan kelam.

​Pria itu menangkup wajah Maya dengan sebelah tangan, menarik wajah gadis itu sedikit lebih dekat melintasi meja. Ia seolah berniat untuk menciumnya, untuk menelan sisa-sisa jiwa manusia yang masih bersembunyi di dalam bibir porselen tersebut.

​Tarikan napas mereka beradu. Jarak bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter.

​Maya menutup matanya. Ia membiarkan dirinya jatuh sepenuhnya ke dalam jurang gravitasi sang predator.

​Namun…

​Tepat pada detik ketika napas hangat Randy nyaris menyapu bibir Maya… sebuah bunyi mekanis yang sangat nyaring dan kasar memecah atmosfer intim tersebut.

BZZZZZT! BZZZZZT!

​Ponsel pribadi Randy, yang terletak di saku celananya, bergetar dan berdering dengan nada alarm darurat yang sangat agresif.

​Gerakan Randy terhenti mendadak. Pria itu mematung dengan bibir yang hanya berjarak sehelai kertas dari bibir Maya. Sebuah desahan napas yang sangat berat, sarat akan rasa frustrasi dan kemarahan yang ditekan paksa, keluar dari hidung Randy.

​Perlahan, dengan keengganan yang sangat terlihat jelas, Randy menarik tangannya dari wajah Maya dan memundurkan tubuhnya. Ia mengambil ponselnya dari saku, menatap layar yang berkedip dengan warna merah menyala.

​Raut wajah miliarder yang tadinya dipenuhi oleh kabut gairah obsesif itu seketika berubah seratus delapan puluh derajat.

​Rahangnya mengeras seperti beton. Mata elangnya kembali menajam seperti silet bedah. Auranya yang hangat dan protektif berubah seketika menjadi sedingin gletser, memancarkan krisis tingkat tinggi.

​Maya membuka matanya perlahan. Hatinya mencelos, merasakan kehilangan instan dari kehangatan sentuhan pria itu. Kekosongan kembali merayap.

​Randy menggeser layar ponselnya. Ia mengangkat telepon itu ke telinganya tanpa repot-repot menyapa.

​”Bicara,” perintah Randy pendek. Suaranya memancarkan otoritas seorang komandan militer di tengah perang.

​Maya duduk diam di kursinya. Ia memperhatikan perubahan drastis pada pria di depannya. Ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh orang di seberang telepon, namun ia bisa melihat dengan jelas bagaimana buku-buku jari Randy yang memegang ponsel memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat.

​”Berapa jumlah yang terbakar?” tanya Randy, matanya menyipit.

​Ada jeda sesaat dari seberang sana.

​”Semuanya?!”

​Suara Randy meninggi setengah oktaf. Sebuah pertunjukan emosi negatif yang sangat langka dan mustahil terjadi pada pria sedingin es tersebut.

​”Tahan pihak kepolisian setempat dan jurnalis di luar perimeter. Jangan biarkan satu orang pun masuk ke area laboratorium bawah tanah. Aku akan terbang ke sana sekarang juga.”

​Randy memutus sambungan telepon itu dengan membanting ibu jarinya ke layar. Ia memutar tubuhnya, menatap Maya dengan raut wajah yang sangat tegang dan kaku.

​”Ada apa, Randy?” tanya Maya. Suaranya memancarkan kekhawatiran yang nyata.

​”Sebuah insiden fatal di salah satu fasilitas pabrik utamaku di Singapura,” jelas Randy dengan tempo bicara yang cepat. Pria itu berdiri dan merapikan kerah kemejanya.

​”Sebuah ledakan besar menghancurkan seluruh sayap penelitian rahasia, dan saham perusahaanku di pasar Asia mulai anjlok malam ini juga.”

​Randy menatap arlojinya. “Aku harus memimpin dewan direksi dan krisis ini secara langsung di sana. Helikopter pribadiku sedang disiapkan di helipad atap mansion ini untuk membawaku ke bandara Halim sekarang juga.”

​Jantung Maya berdegup kencang. Namun bukan karena khawatir pada nilai saham pria itu. Sebuah kepanikan biologis yang sangat purba tiba-tiba menyambar otaknya.

​Randy akan pergi.

​Miliarder ini akan meninggalkan Estate ini malam ini juga. Pria yang menjadi jangkar kewarasannya, pria yang feromonnya menjadi obat bius penekan parasit mutasi di dalam rahimnya, akan terbang ribuan kilometer menjauh darinya menyeberangi lautan.

​”K-kau… kau akan pergi? Berapa lama?!”

​Maya tanpa sadar langsung berdiri dari kursinya. Suaranya bergetar hebat. Topeng elegannya retak berkeping-keping.

​Ia melangkah maju dengan terburu-buru, tangannya tanpa sadar menggapai lengan kemeja Randy, mencengkeramnya erat. Sebuah tindakan putus asa dari seorang pecandu yang akan kehilangan dosis obat satu-satunya.

​Melihat reaksi kepanikan Maya yang sangat frontal dan tak terduga ini, Randy terdiam sejenak.

​Pria itu menatap tangan Maya yang mencengkeram lengannya, lalu menatap mata gadis itu. Ia melihat ketakutan murni di sana. Bukan ketakutan seorang kekasih yang sedih akan ditinggal tugas, melainkan ketakutan seseorang yang akan dihukum mati.

​Randy mengangkat tangan kirinya. Ia menutupi tangan Maya yang mencengkeram lengannya dengan sentuhan menenangkan.

​”Hanya dua puluh empat jam, Maya. Paling lama empat puluh delapan jam,” ucap Randy dengan nada yang sedikit melembut, mencoba menenangkan muse kesayangannya yang tiba-tiba histeris.

​”Fasilitas keamanan di Estate ini akan dijaga dengan protokol tingkat maksimum selama aku pergi. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu dari luar. Kau aman di sini bersamaku, ataupun tanpa aku.”

Kau tidak mengerti! jerit Maya di dalam batinnya, air mata kepanikan mulai menggenang. Yang mengancamku bukan manusia di luar sana! Yang mengancamku ada di dalam tubuhku sendiri! Namun ia tak mampu menyuarakan kata-kata itu. Mulutnya terkunci rapat oleh rahasia pencuriannya sendiri.

​”Kumohon… selesaikan urusan itu dari sini lewat telepon. Jangan tinggalkan aku sendiri di tempat sebesar ini malam ini,” rintih Maya.

​Ia membuang jauh-jauh rasa malu dan ego supermodel-nya. Ia rela terlihat menyedihkan dan mengemis asalkan pria ini tidak pergi.

​Randy menghela napas panjang.

​Pria itu melepaskan tangan Maya dengan sangat lembut namun luar biasa tegas. Sebuah penolakan fisik yang menandakan bahwa bisnis dan kekuasaannya tidak akan pernah bisa ditahan oleh rengekan wanita mana pun.

​”Ini adalah krisis tingkat triliunan rupiah, Maya. Ini bukan masalah yang bisa kuselesaikan dari balik meja mansion,” Randy melangkah mundur. Ia mengambil jaket jas navy-nya yang tersampir di kursi, lalu kembali menatap Maya.

​”Tunggu aku. Habiskan waktumu di paviliun, nikmati semua fasilitasnya. Aku berjanji akan kembali sebelum malam kedua tiba.”

​Tanpa memberikan pelukan penenang atau ciuman perpisahan yang tadi nyaris terjadi, Randy memutar tubuhnya.

​Pria itu melangkah cepat keluar dari Konservatori Kaca. Langkah kakinya menggema tegas dan perlahan menghilang di balik lorong panjang, meninggalkan Maya sendirian di tengah lautan anggrek hitam yang kini terasa memancarkan aura kematian.

​Maya berdiri mematung di dekat meja. Tangannya menggantung lemas di udara.

​Suara baling-baling helikopter yang memekakkan telinga terdengar menderu dari arah atap mansion utama. Getarannya menggetarkan kaca-kaca konservatori di sekelilingnya. Beberapa menit kemudian, suara baling-baling itu bergerak menjauh, semakin pelan, dan akhirnya lenyap sepenuhnya, ditelan oleh keheningan malam perbukitan Sentul yang membekukan.

​Randy telah pergi.

​Dan seiring dengan kepergian sang inang pelindung itu… sisa-sisa aroma musk di udara konservatori perlahan memudar. Tersapu habis oleh bau manis busuk dari bunga-bunga modifikasi genetik di sekitarnya.

​Hanya butuh waktu kurang dari lima menit setelah helikopter itu lenyap dari jangkauan radar… batas toleransi biologis tubuh Maya pun hancur lebur.

Dug… dug… dug…

​Di balik gaun sutra burgundy-nya… tepat di bawah perut porselennya… entitas parasit itu terbangun dengan amarah yang luar biasa beringas.

​Denyutannya tidak lagi pelan seperti kemarin lusa. Denyutan kali ini sangat agresif. Parasit itu memukul-mukul lapisan otot rahim dan kulitnya dari dalam dengan sangat keras. Ia mencari jalan keluar. Ia menuntut asupan penderitaan untuk bertumbuh membelah sel.

​”Aaaaaakkh!!”

​Maya menjerit histeris. Suaranya melengking merobek keheningan malam.

​Ia jatuh tersungkur dengan keras di atas lantai kayu jati, mencengkeram perutnya dengan kedua tangannya yang memutih.

​Rasa sakitnya melampaui segala deskripsi penyiksaan yang ada di bumi. Daging perutnya terasa seolah sedang dibakar menggunakan cairan asam dari dalam ke luar. Otot perutnya merobek dirinya sendiri untuk memberikan ruang bagi entitas asing yang mulai membelah sel dengan kecepatan gila-gilaan.

​Ia bergulingan di lantai seperti cacing kepanasan. Ia menghancurkan tatanan anggrek hitam di sekitarnya. Pot-pot tembaga jatuh pecah berantakan. Kelopak-kelopak hitam yang diklaim abadi itu hancur terinjak oleh tubuhnya yang meliuk kesakitan.

​Hanya ada satu jalan keluar. Ia tidak punya pilihan lain untuk menghentikan pertumbuhan ini.

​Pasta abu-abu penenangnya telah habis total tak bersisa. Kekuatan penstabil Randy telah pergi. Jika ia tidak ingin perutnya meledak dan memuntahkan monster ke lantai ini malam ini juga, ia harus memberikan “makanan” yang diinginkan oleh parasit lapar tersebut.

​Ia harus menggunakan gel merah muda itu. Ekstrak segar dari daging Sari yang meleleh.

​Dengan napas yang tersengal hebat dan darah segar yang merembes dari bibirnya akibat gigitan giginya sendiri menahan sakit, Maya menyeret tubuhnya.

​Ia merangkak keluar dari konservatori, menembus lorong panjang yang gelap, merayap menuju paviliun tamunya. Jarak puluhan meter itu ia tempuh dengan air mata yang membanjiri wajahnya, meninggalkan jejak penderitaan seorang manekin yang menolak untuk hancur berkeping-keping.

​Sesampainya di kamar tidurnya, Maya merangkak menuju lemari kayu. Ia menekan kode kombinasi brankas dengan jari-jari yang kaku dan berdarah, lalu menarik keluar kotak hitam itu dengan kasar.

​Ia membuka segelnya. Ia mengabaikan segala rasa jijik, moral, dan kemanusiaannya yang tersisa. Ia menyambar jar kaca berisi gel kental berwarna merah muda pucat yang berbau anyir bangkai tersebut.

​Ia membuka tutupnya dengan brutal hingga ujung kuku ibu jarinya patah dan berdarah.

​Sambil terisak keras menahan siksaan perutnya yang rasanya semakin membesar membelah pusarnya, Maya meraup gumpalan gel daging itu dengan jari telanjang. Ia langsung membalurkannya dengan kasar ke seluruh permukaan perutnya yang rata.

Ssssssssshh!

​Reaksinya sama sekali tidak sama dengan saat ia menggunakan gel mutiara putih.

​Begitu gel merah muda yang mengandung penderitaan dan jiwa Sari itu menembus pori-porinya… sebuah ledakan energi statis yang luar biasa masif menghantam jaringan otak Maya.

​Mata Maya membelalak lebar. Pupilnya melebar hingga batas maksimal menelan irisnya. Tubuhnya menegang sangat kaku di atas lantai, melengkung ke belakang seperti orang yang sedang kesurupan setan.

​Ini bukan sekadar regenerasi. Ini bukan sekadar pemulihan sel.

​Di detik gel daging itu menyatu dengan darahnya… sebuah invasi memori dan kesadaran mematikan dari sang pemilik daging meledak di dalam ruang kepala Maya.

​Tiba-tiba, Maya tidak lagi melihat pemandangan kamar mewahnya.

​Matanya dipaksa untuk melihat sebuah memori yang sangat brutal, disiarkan langsung ke saraf optiknya bagaikan film horor [Virtual Reality] yang tak bisa dihentikan.

​Ia melihat tumpukan manekin bekas di dalam gudang gelap. Ia mencium bau asam klorida yang tumpah di lantai beton. Ia merasakan dinginnya lantai beton saat merangkak ketakutan.

​Dan kemudian… dari sudut pandang dari bawah… ia melihat sepasang sepatu bot kulit hitam berjalan pelan mendekatinya dari arah kegelapan gudang.

​Seseorang bertubuh tinggi, mengenakan jas panjang, dan sama sekali tanpa wajah, berdiri menjulang di atasnya. Orang itu memegang jerigen kecil, lalu menuangkan cairan hitam mendidih tepat ke atas kepalanya.

​Rasa panas yang melelehkan wajah, rasa sakit saat kulit terkelupas dari tengkorak, dan rasa putus asa absolut meledak di seluruh saraf Maya secara real-time.

​Itu bukan memori Maya.

​Itu adalah kilasan ingatan terakhir dari Sari. Memori detik-detik saat Sari dieksekusi hidup-hidup. Memori yang terekam secara biologis di dalam dagingnya yang dihancurkan menjadi gel kosmetik.

“Toloong… panasss… toloonggg…” Suara jeritan Sari menggema bersahut-sahutan di dalam tengkorak Maya. Suara itu berbaur dan menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Jeritan itu tidak akan pernah berhenti berputar, karena Maya telah secara harfiah menyerap jiwa yang tersiksa itu ke dalam anatominya sebagai bahan bakar kecantikannya.

​Maya berteriak histeris. Sebuah lolongan panjang yang tidak terdengar seperti manusia normal, menggaruk kepalanya sendiri dengan sangat kuat hingga rambutnya rontok.

​Di dalam cermin besar di kamarnya, tubuhnya yang berguling kesakitan di lantai terpantul dengan jelas.

​Dan untuk sepersekian milidetik yang menghancurkan seluruh poros logikanya sebagai manusia… wajah porselen Maya yang cantik di cermin itu… berkedip.

​Bukan berkedip dengan mata elangnya yang indah. Melainkan berkedip dengan sepasang mata merah yang membelalak ngeri. Bola mata milik Sari, yang separuh wajahnya meleleh jatuh ke bawah.

​Maya kini bukan lagi sekadar seorang pengguna kosmetik kutukan. Maya baru saja bertransformasi menjadi sebuah kuburan berjalan. Inang penyerap jiwa bagi korban-korban Sang Dalang.

​Dan jiwa Sari yang dipenuhi amarah dendam, kini hidup dan berontak di dalam pembuluh darahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 32 ~ Simbiosis Emas

SIMETRI BAB 32 ~ Simbiosis Emas

Populer
No popular posts within this time range.