SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

​Udara di dalam ruang ganti eksklusif Elegance Model Management mendadak terasa setipis kertas.

​Maya berdiri mematung di depan meja riasnya. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan. Matanya menatap nanar ke arah dua buah benda yang baru saja meluncur keluar dari amplop cokelat misterius tersebut.

​Sebuah foto polaroid billboard raksasa wajahnya, yang telah dicoret-coret secara brutal dengan spidol merah menyerupai darah, bertuliskan huruf kapital: PALSU.

​Dan di sebelahnya… sebuah plastik ziplock kecil berisi gumpalan tisu dengan noda pekat berwarna merah kehitaman. Noda darah mutasi yang menebarkan ancaman bisu namun mematikan.

​Jantung Maya berdentum liar, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang memekakkan telinga. Tangannya yang bersuhu dingin mencengkeram tepi meja kaca tersebut hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

​Sari.

​Wanita gila itu ternyata tidak sekadar menggertaknya di dalam toilet mal waktu itu. Sari, dengan obsesi kelam yang kini telah sepenuhnya berubah menjadi kegilaan murni, rupanya telah menyalin atau menyimpan sebagian dari bukti mengerikan itu sebelum Maya merebutnya.

​Tisu berdarah hitam ini adalah Pedang Damocles yang kini berayun, tergantung hanya sehelai rambut, tepat di atas urat nadi karier dan nyawa Maya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Maya membalikkan foto polaroid yang dirusak tersebut.

​Tepat seperti firasat buruknya, di balik kertas foto yang tebal itu, terdapat sebuah pesan ancaman. Pesan itu ditulis menggunakan spidol hitam dengan penekanan yang sangat kuat, hingga tintanya nyaris merobek tekstur kertas:

“JAM 11 MALAM INI. GUDANG KOSONG BLOK C DI BELAKANG AREA BONGKAR MUAT GRAND ATRIUM. DATANG SENDIRI. BAWA UANG DUA MILIAR RUPIAH TUNAI. ATAU BESOK PAGI, TISU DARAH HITAM INI DAN SEMUA CERITA TENTANG KEBUSUKANMU AKAN ADA DI MEJA REDAKSI SEMUA STASIUN TELEVISI… DAN DI TANGAN RANDY ADHITAMA.”

​Membaca deretan kalimat bernada ancaman pemerasan itu, napas Maya tersengal hebat. Dadanya naik turun dengan kasar.

​Dua miliar rupiah.

​Sari tidak lagi sekadar menuntut kepuasan ego untuk menjatuhkan saingannya. Wanita itu kini menuntut uang tebusan yang akan menghancurkan likuiditas keuangan Maya. Sari tahu betul seberapa besar nilai kontrak yang Maya dapatkan dari kampanye Lumière Merveille, dan ia ingin merampasnya.

​Terlebih lagi… Sari dengan sangat cerdas dan licik menyebutkan nama Randy Adhitama.

​Sari tahu bahwa perlindungan dari sang miliarder adalah sumber kekuatan utama Maya saat ini. Jika Randy melihat bukti bahwa Maya adalah sebuah “produk palsu” yang berdarah hitam dan membusuk dari dalam… pria perfeksionis yang memuja kemurnian itu pasti akan murka. Randy akan membuang Maya ke jalanan tanpa ampun, atau lebih buruk lagi, menghabisinya karena dianggap menipu perusahaan.

​Kepanikan yang luar biasa pekat menelan sisa-sisa kewarasan Maya sore itu.

​Ia mundur selangkah, menabrak kursi riasnya hingga jatuh terduduk. Kepalanya berdenyut nyeri seolah mau pecah.

Apa yang harus aku lakukan? batinnya menjerit putus asa.

​Insting pertamanya adalah menghubungi Kiki. Meminta agensi untuk mengirimkan bodyguard bayaran dan membereskan wanita gila ini.

​Namun pikiran itu langsung ia tepis mentah-mentah. Jika Kiki tahu ada orang yang memeras Maya dengan bukti tisu berdarah aneh dan berbau mayat, Kiki pasti akan menuntut penjelasan medis. Kiki mungkin pria yang menyenangkan, tapi ia pada dasarnya adalah seorang pebisnis murni. Jika Kiki mengendus keanehan pada biologi Maya, pria itu bisa saja berbalik mengkhianatinya demi menyelamatkan nama agensinya.

​Opsi kedua melintas di kepalanya adalah menghubungi Randy Adhitama.

“Apa pun yang membuatmu tidak bisa tidur… katakan padaku. Aku akan melenyapkannya dari dunia ini untukmu.”

​Janji miliarder itu bergema kembali di telinganya, menawarkan sebuah jalan keluar yang luar biasa menggoda. Dengan kekuasaan tanpa batas milik Randy, nyawa seorang cleaning service seperti Sari bisa dihilangkan dari peta Jakarta hanya dalam waktu hitungan jam.

​Namun, Maya segera menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia menolak ide itu dengan rasa takut yang murni.

Tidak. Ia sama sekali tidak boleh melibatkan Randy dalam hal ini.

​Randy menyanjungnya karena ia mengira Maya adalah sebuah keajaiban genetik. Kemurnian absolut yang tak pernah disentuh oleh bahan kimia. Jika Randy mengirimkan orang-orangnya untuk membereskan Sari, mereka pasti akan menemukan dan menyita plastik ziplock itu. Mereka akan menyelidiki cairan hitam tersebut. Dan ketika laboratorium canggih perusahaan Randy menelitinya… mereka akan menemukan bahwa Maya adalah sebuah anomali biologis yang mencuri produk eksperimen mereka.

​Maya akan kehilangan tatapan memuja pria itu. Ia akan kehilangan perlindungan emasnya. Ia akan kehilangan segalanya.

​Satu-satunya jalan keluar yang tersisa… adalah menghadapinya sendiri.

​Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ingatan tentang ibunya, yang mengusirnya dengan tatapan hampa dari ruang perawatan rumah sakit beberapa jam yang lalu… kembali menghantam dada Maya tanpa ampun.

“Kamu adalah cangkang cantik yang dihuni oleh kesombongan. Kamu bukan anakku.”

​Kata-kata ibunya, penolakan mutlak dari satu-satunya manusia yang menjadi alasan awal Maya bertahan hidup dan mencuri… kini bertindak sebagai katalisator kegelapan di dalam jiwanya.

​Maya telah berkorban segalanya.

​Ia telah menyerahkan sisa kemanusiaannya pada pasta abu-abu penekan emosi. Ia telah menahan rasa sakit dari daging yang menyusut dan tumor tulang yang memberontak merobek punggungnya. Ia telah merangkak di lantai, menyikat genangan hitam bau bangkai sendirian di apartemen.

​Ia melakukan semua itu… menanggung beban kutukan iblis ini sendirian… namun dunianya justru menolaknya. Ibunya membuangnya.

​Dan kini… seorang wanita gila dari masa lalunya yang penuh penderitaan, mencoba untuk merampas satu-satunya hal yang masih Maya miliki, yaitu kekayaannya.

​Di dalam kesunyian ruang ganti yang steril itu, sebuah pergeseran psikologis yang luar biasa mengerikan dan gelap terjadi di dalam otak Maya.

​Air mata kepanikan yang tadinya menggenang di kelopak matanya… perlahan-lahan mengering. Tremor ketakutan di tangannya berhenti secara magis. Postur tubuhnya yang tadi merosot lemah, perlahan-lahan bangkit tegak.

​Pengaruh sisa pasta abu-abu penekan emosi di dalam sarafnya bereaksi terhadap stres ekstrem yang dialaminya. Zat itu menyuntikkan dosis apati yang absolut langsung ke saraf pusatnya.

​Maya bangkit berdiri.

​Wajah porselennya yang memukau kini tidak lagi memancarkan ketakutan atau kesedihan seorang korban. Wajah itu telah berubah total menjadi sebuah topeng pembunuh berdarah dingin. Sepasang mata elangnya menatap kosong ke arah pantulannya di cermin. Dingin. Mati. Dan sama sekali tidak menyiratkan sisa-sisa nurani.

​”Kamu menginginkan monster, Sari?” bisik Maya pada pantulannya sendiri.

​Suaranya mengalir sangat pelan, sangat datar, namun memuat intensitas kekejaman yang melampaui batas kewajaran manusia.

​”Maka malam ini… monster itu yang akan datang menemuimu.”

​Pukul 10:45 malam.

​Hujan badai kembali mengguyur ibu kota dengan brutal. Seolah langit Jakarta tidak pernah kehabisan air mata untuk menangisi dosa-dosa dan pengkhianatan yang terjadi di bawahnya.

​Petir menyambar ganas, cahayanya membelah langit malam yang pekat tanpa bintang.

​Sebuah taksi reguler berhenti di pinggir jalan raya yang gelap gulita. Lokasinya berada sekitar lima ratus meter dari area belakang Grand Atrium Mall.

​Tempat ini sangat sepi. Berada jauh dari gemerlap lampu neon pintu utama mal. Ini adalah area servis terbengkalai, tempat di mana truk-truk logistik menurunkan barang, tempat bertumpuknya tong sampah raksasa yang bau, dan deretan gudang-gudang tua milik mal yang sudah lama tidak beroperasi menunggu untuk direnovasi.

​Maya melangkah turun dari taksi. Ia membayar supir itu menggunakan beberapa lembar uang ratusan ribu tunai, menolak kembaliannya, lalu menutup pintu mobil. Taksi itu segera melaju pergi membelah hujan, meninggalkannya sendirian di tengah trotoar yang tergenang air keruh.

​Malam ini, Maya mengenakan pakaian yang sangat kontras dengan statusnya sebagai seorang supermodel miliarder.

​Ia tidak memakai gaun sutra mahal atau sepatu hak tinggi stiletto. Ia mengenakan celana jeans hitam ketat, sweter leher tinggi berwarna hitam pekat, jaket windbreaker tahan air yang menutupi tubuhnya, dan sepasang sepatu bot kulit tebal bersol datar.

​Kepalanya ditutupi oleh kupluk jaket (hood) yang ditarik rendah, menyembunyikan wajah porselennya dari rintik hujan dan pantulan cahaya.

​Di bahunya, ia menyandang sebuah tas ransel olahraga berukuran sedang.

​Di dalam tas tersebut, terdapat tumpukan uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah. Uang itu ia tarik terburu-buru dari berbagai cabang bank sore tadi. Ia tidak membawa dua miliar seperti yang diminta, karena waktu terlalu sempit untuk mencairkan uang tunai sebanyak itu tanpa menimbulkan kecurigaan pihak bank dan Kiki.

​Namun, lima ratus juta adalah umpan segar yang lebih dari cukup untuk memancing seekor lintah darat rakus keluar dari persembunyiannya.

​Maya berjalan menembus kegelapan dan hujan badai. Sepatu botnya menginjak genangan air berlumpur tanpa ragu.

​Suhu udara malam ini sangat dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, kulit modifikasi Maya yang telah kebas permanen sama sekali tidak merasakannya. Ia berjalan tegap, persis seperti sebuah cyborg mematikan yang sedang diprogram untuk menyelesaikan satu misi tunggal: eliminasi ancaman.

​Ia menyusuri pagar besi berkarat di sepanjang area bongkar muat. Hanya ada satu atau dua lampu jalan yang menyala berkedip-kedip, dikelilingi oleh ribuan laron yang beterbangan liar.

​Bau tumpukan sampah sayuran busuk dari restoran mal dan air selokan yang meluap memenuhi udara. Namun aroma itu tak mampu menembus penciuman Maya, yang kini hanya terfokus pada bau adrenalinnya sendiri.

​Langkahnya terhenti. Maya tiba di depan Gudang Blok C.

​Bangunan itu berupa struktur beton kusam dan seng baja bergelombang yang sudah dimakan karat. Pintu rolling door tertutup setengah, menyisakan celah sekitar satu meter dari tanah berdebu. Kegelapan total menganga dari balik celah tersebut.

​Maya berdiri di depan pintu itu sejenak. Hujan menderas membasahi punggung jaketnya.

​Ia menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya. Lalu ia menunduk dan merayap masuk melewati celah pintu gulung tersebut.

​Begitu ia masuk ke dalam, suara hujan di luar sedikit teredam, digantikan oleh suara gema tetesan air dari atap seng yang bocor menetes ke lantai. Udara di dalam gudang itu luar biasa apek, dipenuhi debu beton dan bau karat besi yang tajam.

​Lebar gudang ini kira-kira sebesar setengah lapangan sepak bola. Tempat itu dipenuhi oleh tumpukan palet kayu lapuk, manekin-manekin bekas dari department store yang dibuang bertumpuk tak beraturan seperti mayat plastik, dan sisa-sisa rak besi yang sudah keropos.

​”Sari,” panggil Maya.

​Suaranya menggema datar di dalam ruangan kosong itu. Tidak ada getaran. Tidak ada rasa takut sedikit pun.

​Dari ujung gudang yang paling gelap, tepat di balik tumpukan manekin bekas, terdengar suara gesekan sepatu di atas lantai beton.

Srek… srek…

​Sebuah cahaya kuning menyilaukan dari senter portabel mendadak menyala. Cahaya itu menyorot lurus menembus kegelapan dan langsung menghantam wajah Maya.

​Maya hanya menyipitkan matanya sedikit dari balik tudung jaketnya. Ia tidak menghalau cahaya itu dengan tangan, membiarkan matanya beradaptasi dengan silau.

​”Gue kira lo bakal bawa bodyguard sewaan miliarder lo itu… atau ngirim polisi intel ke sini,” sebuah suara yang serak, kasar, dan sarat akan kegilaan menggema dari balik cahaya senter tersebut. “Ternyata nyali lo lumayan gede juga ya, Cinderella palsu.”

​Sosok itu melangkah maju, menjauh dari bayang-bayang. Sari berdiri di sana.

​Penampilan Sari malam ini benar-benar telah melampaui batas kewarasan manusia normal. Wanita yang dulunya selalu membanggakan seragam birunya yang disetrika rapi dan wangi parfum mawarnya yang menyengat… kini terlihat seperti seorang gelandangan yang kehilangan arah hidup.

​Seragam kebersihannya sangat kotor, dipenuhi noda tanah dan pelumas mesin. Rambut lurusnya kusut masai, sebagian menempel di dahi dan pipinya yang dipenuhi keringat dingin. Wajahnya terlihat luar biasa cekung, tulang pipinya menonjol kaku, dan matanya merah menyala dipenuhi oleh urat-urat kelelahan yang parah.

​Sari terlihat seperti seseorang yang tidak tidur selama sebulan penuh, digerogoti oleh racun paranoia dan obsesinya sendiri.

​Di tangan kirinya, Sari memegang senter. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah botol kaca bening berukuran sedang yang berisi cairan bening agak kental.

​Dan di saku kemeja seragamnya, ujung plastik ziplock berisi tisu berdarah hitam itu menyembul sedikit. Bukti itu ada di sana.

​”Aku datang sendiri, persis seperti yang kamu minta,” ucap Maya dengan nada sedingin es.

​Maya mengangkat tangannya perlahan. Ia melepaskan tudung jaketnya ke belakang, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit lembap jatuh membingkai wajah porselennya. Wajah yang memancarkan kesempurnaan artifisial yang tak tersentuh di bawah sorot senter.

​Melihat wajah Maya yang begitu sempurna dan tak bercela, urat di leher Sari kembali menonjol. Kebencian murni memelintir wajah wanita itu menjadi sebuah seringai yang sangat buruk rupa.

​”Lo bawa uang gue?!” tuntut Sari, mengayunkan cahaya senternya ke arah tas ransel di bahu Maya.

​Maya menurunkan tas ransel itu secara perlahan. Ia membuka ritsletingnya lebar-lebar, dan memperlihatkan tumpukan uang kertas seratus ribuan yang terikat rapi di dalamnya.

​”Lima ratus juta,” ucap Maya datar. “Sisanya akan aku transfer setelah kamu menyerahkan bukti fisik itu padaku, dan memastikan di hadapanku bahwa tidak ada salinan foto lainnya.”

​Sari mendengus kasar. Ia meludah penuh rasa jijik ke lantai beton di dekat kakinya.

​”Lo pikir gue bodoh, May?! Lo pikir gue bakal percaya sama janji transfer dari penipu busuk kayak lo?!” teriak Sari histeris.

​Suaranya melengking memantul di dinding seng gudang.

​”Dua miliar tunai, atau nggak sama sekali! Lo ini udah jadi supermodel kaya raya! Lo tinggal di apartemen seharga puluhan miliar! Dan lo cuma bawa lima ratus juta recehan ini buat nebus nyawa lo?!”

​Sari tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar sangat kering, ganjil, dan menyedihkan, menggema menakutkan di antara tumpukan manekin bekas.

​”Lagian, lo pikir ini cuma soal uang, hah?!” Sari menghentikan tawanya mendadak. Matanya membelalak lebar menatap Maya. Ia menunjuk wajah Maya dengan senternya, tangannya bergetar karena emosi.

​”Gue muak, May! Gue muak ngeliat muka lo di setiap billboard jalanan ibu kota! Gue muak denger orang-orang tolol di mal muji-muji lo setiap hari, sementara gue harus terus nunduk ngepel kotoran sepatu mereka!”

​Dada Sari naik turun dengan cepat. “Lo itu dulunya cuma babu! Lo itu parasit dekil yang selalu nunduk ketakutan kalau gue lewat! Kenapa lo bisa ada di atas sana sekarang, hah?! Kenapa?!”

​Luapan amarah yang lahir dari jurang inferioritas itu meledak-ledak. Sari melangkah maju mendekati Maya. Jarak mereka kini hanya tersisa sekitar tiga meter.

​”Gue tahu lo bukan manusia, May,” bisik Sari dengan nada yang dipenuhi oleh teror psikologisnya sendiri.

​Wanita itu menatap Maya dari atas ke bawah, seolah sedang melihat iblis yang menyamar memakai kulit manusia.

​”Malam itu, di toilet VIP, gue mukul tangan lo pake gagang pel besi sekuat tenaga gue. Harusnya tulang lo patah. Tapi lo nggak ngerasa sakit sedikit pun. Tangan lo keras kayak batu pualam. Kulit lo nggak memar.”

​Sari merogoh saku kemejanya dengan tangan kanannya yang masih memegang botol. Ia menarik separuh ujung plastik ziplock berisi tisu berdarah hitam itu agar terlihat lebih jelas di bawah cahaya senter.

​”Dan cairan ini… darah lo yang warnanya hitam ini… gue udah lihat pergerakannya dengan mata kepala gue sendiri,” Sari menelan ludah. Suaranya bergetar antara ketakutan dan kepuasan dendam.

​”Tisu ini bau bangkai, May. Bau mayat busuk dari neraka. Lo pake ilmu hitam, kan?! Lo jual jiwa lo ke setan mana buat dapetin muka palsu ini?! Atau… atau lo ini mayat hidup yang dibangkitin lagi pake tumbal?!”

​Maya menatap wanita yang sedang meracau di depannya itu dengan tatapan kosong.

​Di dalam dada Maya, sistem sarafnya tidak memproduksi setitik pun rasa takut. Ia tidak merasakan ancaman. Ia hanya melihat Sari sebagai sebuah rintangan mekanis, sebuah hama yang harus ia singkirkan malam ini.

​”Kamu sudah terlalu jauh masuk ke dalam ilusimu sendiri, Sari,” jawab Maya dengan nada datar yang luar biasa konstan.

​Maya melangkah maju satu tindak. Sikap tubuhnya memancarkan dominasi predator yang absolut.

​”Tidak ada ilmu hitam. Tidak ada mayat hidup. Cairan hitam itu hanyalah efek samping pembuangan dari obat regenerasi sel ilegal kelas atas yang aku gunakan. Obat medis dari luar negeri yang harganya tak akan pernah mampu kamu beli dengan gaji cleaning service-mu seumur hidup.”

​”Pembohong!” jerit Sari, memutus rasionalisasi Maya.

​Sari mengacungkan botol kaca bening di tangan kanannya ke udara. Cairan di dalam botol itu berguncang.

​”Gue nggak peduli obat apa yang lo pake! Gue bakal ngebuktiin ke seluruh dunia kalau kecantikan lo ini palsu! Kalau lo nggak ngasih sisa uang dua miliar gue sekarang juga… gue bakal bawa tisu ini ke laboratorium forensik! Gue bakal laporin lo ke polisi! Gue bakal kasih tahu miliarder lo itu kalau dia lagi melihara monster berdarah hitam di ranjangnya!”

​Maya sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan maju mendekati Sari dengan tempo yang sangat pelan dan terukur. Langkah sepatu bot kulitnya berketuk konstan di atas lantai beton. Tuk… tuk…

​”Uangnya ada di dalam tas ini, Sari,” ucap Maya sangat dingin. “Ambil saja tasnya, berikan plastik itu padaku, dan kita selesaikan transaksi kotor ini sekarang. Jangan membuat dirimu sendiri celaka.”

​Melihat ketenangan Maya yang luar biasa tidak wajar di hadapan ancaman pemerasan, kepanikan Sari justru semakin memuncak. Ketenangan Maya bukanlah ketenangan seorang manusia, melainkan ketenangan sebuah mesin pembunuh.

​”Berhenti di situ! Jangan maju lagi, bangsat!” teriak Sari histeris. Tangan kanannya yang memegang botol kaca itu bergetar hebat membidik wajah Maya.

​”Lo tahu ini cairan apa, May?! Ini cairan pembersih kerak keramik lantai mal! Konsentrat asam klorida murni kelas industri! Kalau lo berani maju selangkah lagi… gue siram muka porselen kebanggaan lo ini pake asam! Kita lihat apakah obat regenerasi iblis lo itu bisa nyelametin muka lo kalau daging lo meleleh sampai ke tulang!”

​Mendengar ancaman air keras itu, langkah Maya seketika terhenti.

​Sebuah kilatan kalkulasi matematis berputar dengan sangat cepat di dalam otak sosiopatnya.

​Asam klorida konsentrasi tinggi. Jika cairan itu menyentuh kulit manusia normal, ia akan membakar jaringan epidermis secara instan. Cairan itu akan melelehkan daging, menghancurkan saraf hingga menimbulkan rasa sakit yang akan membuat korbannya kehilangan kesadaran karena shock, serta meninggalkan cacat luka bakar mengerikan seumur hidup.

​Namun… Maya tidak lagi memiliki biologi manusia normal.

​Kulit porselennya adalah hasil dari transmutasi biologis mematikan yang telah menebalkan jaringan selulernya menjadi sepadat marmer. Ia tidak lagi memiliki saraf sensorik yang hidup di bawah lapisan dermisnya untuk mengirimkan sinyal perih. Ia tidak akan merasakan panasnya luka bakar itu.

​Satu-satunya pertanyaannya adalah, apakah ikatan molekul kulit porselennya ini cukup kuat untuk menahan sifat korosif penghancur dari bahan kimia mematikan tersebut, tanpa menyebabkan penyusutan daging seketika?

​Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

​Dan Maya, yang telah kehilangan rasa takut manusianya, memutuskan untuk melakukan sebuah pertaruhan yang paling gila di dalam hidupnya malam itu.

​Jika ia mundur sekarang, Sari akan tahu bahwa ia punya kelemahan, dan wanita gila itu akan terus memerasnya hingga ia hancur.

​Ia harus menghancurkan sisa-sisa kewarasan Sari malam ini juga. Ia harus mematahkan mental wanita itu. Ia harus membuat Sari percaya sepenuhnya bahwa Maya adalah entitas iblis yang tidak bisa dibunuh oleh senjata manusia.

​Dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya datar, tak terbaca, dan sangat angkuh, Maya kembali mengangkat kaki kanannya. Ia melangkah maju satu tindak, menyerahkan dirinya pada bahaya.

​”Lakukan,” tantang Maya pelan, menatap lurus ke dalam bola mata Sari.

​Sari membelalakkan matanya. Urat kewarasannya putus seketika.

​Didorong oleh teror dan kebencian yang mendidih di otaknya, Sari mengayunkan tangan kanannya dengan kekuatan penuh. Ia melemparkan isi botol kaca air keras itu tepat mengarah ke wajah Maya.

Byuuuuur!

​Setengah liter cairan asam klorida pekat melayang di udara, menghantam wajah, leher, dan bahu kiri Maya dengan sangat telak dan brutal.

​Bau bahan kimia yang luar biasa tajam dan menyengat, berbau seperti belerang busuk yang dicampur kaporit padat, langsung meledak memenuhi udara di dalam gudang yang lembap tersebut.

​Cairan mematikan itu membasahi rambut hitam Maya. Menetes menuruni dahi, pipi, dan dagunya. Meresap ke dalam kerah turtleneck hitamnya.

​Di detik pertama cairan asam itu menghantam kulitnya, Maya memejamkan mata secara refleks.

​Di dalam kepalanya, ia menanti rasa sakit itu datang. Ia menanti rasa panas yang melepuhkan dagingnya. Ia menanti ototnya menyusut ke dalam atau tulangnya memberontak.

​Namun… tidak terjadi apa-apa.

​Sama sekali tidak ada rasa sakit. Tidak ada rasa panas seperti terbakar. Tidak ada sengatan perih di pori-porinya.

​Cairan asam keras kelas industri itu… terasa sama datarnya dengan guyuran air hujan di luar sana.

​Sari berdiri kaku dengan tangan kanan yang masih terangkat di udara setelah melempar cairan tersebut. Mulut wanita itu terbuka lebar, menanti jeritan penderitaan dari mulut Maya.

​Sari menanti kulit bidadari itu melepuh, berasap, dan meleleh jatuh ke lantai beton seperti tumpukan daging sapi busuk. Ia sangat ingin melihat Maya berguling-guling di lantai, memohon ampun dalam kesakitan yang absolut.

​Tetapi… pemandangan yang terhampar di depan mata Sari di bawah sorot cahaya senter kuning itu, adalah sebuah anomali fisika yang menghancurkan nalar.

​Maya perlahan membuka matanya kembali.

​Wajah porselen gadis itu masih ada di sana. Utuh. Sempurna.

​Tidak ada satu pun inci kulit yang melepuh. Tidak ada asap daging yang terbakar. Tidak ada rona kemerahan sekecil apa pun di pipinya.

​Cairan asam klorida yang mampu menghancurkan kerak semen itu hanya mengalir turun melewati lekuk rahang Maya, jatuh menetes ke atas bahu jaketnya, layaknya air embun biasa yang disiramkan ke atas permukaan kaca jendela yang sangat licin.

​Kulit modifikasi Maya, yang dibentuk dari formula mutiara entah berantah itu… nyatanya memiliki ketahanan struktur seluler yang mustahil ditembus oleh bahan kimia duniawi tingkat rendah. Ia kebal secara absolut. Ia benar-benar telah menjadi sebuah patung manekin yang hidup.

​Maya berdiri tegak. Ia membiarkan sisa asam mematikan itu menetes dari dagunya dan jatuh ke lantai beton.

​Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Sari yang kini membeku dalam horor terparah yang pernah dialami oleh seorang manusia.

​”Sudah selesai bermain-mainnya, Sari?” bisik Maya.

​Suaranya menggema memantul di dinding seng baja, terdengar datar seperti suara dewa kematian yang turun menjemput.

​Sari menjatuhkan botol kaca kosong di tangannya. Prang! Botol itu pecah berkeping-keping di lantai beton, namun Sari tak berkedip.

​”T-tidak… ini tidak mungkin…” racau Sari.

​Tubuh wanita itu bergetar sangat hebat hingga senter di tangan kirinya ikut berguncang liar. Matanya melotot menatap wajah Maya yang kebal terhadap asam mematikan itu.

​”A-air keras itu… kenapa… kenapa kulit lo nggak meleleh?! L-lo… lo beneran bukan manusia! LO IBLIS!!”

​Jeritan histeris Sari merobek udara malam.

​Akal sehat wanita itu hancur lebur tanpa sisa. Ia membalikkan badannya dengan panik yang membutakan, berniat untuk berlari sejauh-jauhnya. Ia ingin melarikan diri dari monster yang tak bisa dilukai oleh senjata apa pun di dunia ini.

​Namun, Maya bergerak jauh lebih cepat.

​Didorong oleh adrenalin pembunuh yang tidak dibebani oleh rasa sakit fisik, Maya melesat maju. Tangan kanannya merangsek ke depan. Ia mencengkeram erat rambut panjang Sari yang kusut masai dari arah belakang, dengan kekuatan cengkeraman yang luar biasa brutal.

​”Aaakkhh!” jerit Sari saat langkah pelariannya terhenti paksa.

​Kepala Sari tertarik ke belakang hingga tulang lehernya berbunyi berderak mengerikan. Senter di tangannya terlepas dan menggelinding di lantai beton, menyorotkan cahayanya ke arah tumpukan manekin bekas yang berserakan.

​Maya menarik rambut Sari dengan sangat keras. Ia memaksa wanita itu mundur hingga punggung Sari membentur dada Maya. Maya memelintir lengan kiri Sari ke belakang punggungnya dengan kasar, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya dalam sebuah kuncian fisik yang tak bisa dilawan.

​Aroma parfum mahal Maya yang kini bercampur dengan bau tajam asam klorida mengurung penciuman Sari, membuat wanita itu menangis histeris.

​”Lepasin gue! Tolong! Jangan bunuh gue, monster! Tolong!!” rintih Sari, meronta-ronta dengan sisa tenaga keputusasaannya. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang kotor oleh debu.

​”Kau bilang aku iblis, Sari?” bisik Maya, mendekatkan bibirnya tepat ke telinga wanita yang sedang meronta itu.

​Suara Maya sangat pelan, sangat tenang. Sangat kontras dengan kegilaan yang terjadi di tangan mereka.

​”Jika aku iblis… lalu apa sebutan yang pantas untuk wanita yang setiap hari menyiksa seorang gadis miskin, yang hanya berusaha membiayai pengobatan ibunya yang sekarat tanpa kenal belas kasihan?”

​Tangan kiri Maya yang bebas merogoh dengan cepat ke dalam saku kemeja seragam biru Sari. Jari-jari dinginnya menggapai plastik ziplock kecil berisi tisu berdarah itu, lalu menariknya keluar.

​Bukti terakhir itu kini telah kembali ke tangannya. Rahasia mutiaranya kembali aman.

​Namun, ancaman dari mulut Sari belum sepenuhnya lenyap.

​Jika Sari dibiarkan hidup dan berbicara meracau pada media, meskipun tanpa bukti fisik, rumor tentang ‘kekebalan terhadap air keras’ dan ‘darah hitam’ akan tetap memancing kecurigaan jurnalis. Hal itu bisa menjadi bumerang yang menghancurkan kariernya.

​Maya mencengkeram rambut Sari semakin kuat. Ia menarik kepala wanita itu ke belakang hingga Sari meringis kesakitan menatap atap seng.

​Sisi sosiopat Maya berteriak untuk mematahkan leher wanita ini sekarang juga.

​Di tempat sepi ini, di tengah badai yang menderu, tidak akan ada yang mendengar jeritan patah tulang Sari. Ia bisa membuang mayatnya di antara tumpukan manekin bekas itu, dan tidak akan ada yang peduli pada seorang cleaning service yang menghilang.

​Tangan Maya yang memegang lengan Sari mulai memberikan tekanan yang mematikan. Ototnya mengencang. Ia berniat menyelesaikannya malam ini juga.

​Namun… di detik krusial ketika Maya hendak mengambil nyawa manusia pertamanya… sebuah fenomena supranatural yang sepenuhnya di luar kendalinya terjadi.

​Di dalam genggaman tangan kirinya… plastik ziplock yang berisi tisu bernoda darah hitam itu… tiba-tiba terasa panas.

​Bukan panas kiasan. Plastik klip bening itu benar-benar memancarkan hawa panas yang membakar kulit telapak tangannya.

​Maya menundukkan pandangannya. Ia melirik ke arah tangan kirinya yang menggenggam plastik tersebut.

​Di bawah pendaran cahaya senter yang tergeletak di lantai, Maya melihat sebuah pemandangan yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.

​Bercak darah hitam kental yang telah mengering selama berhari-hari di atas tisu di dalam plastik itu… kini mulai bergerak.

​Bercak itu tidak lagi kering. Cairan hitam pekat berbau bangkai itu mencair dengan sendirinya. Lendir itu berdesir, dan merayap perlahan menyusuri serat-serat tisu putih tersebut.

​Cairan itu bergerak beringas mencari jalan keluar. Seolah darah mati itu merespons kedekatan biologisnya dengan tubuh utama Maya yang sedang diliputi amarah, dan memancarkan aura kutukan tersebut.

​Lendir hitam itu mulai berdenyut, persis seperti tumor hidup di punggung Maya malam sebelumnya. Ia mengumpul, memadat di sudut plastik, dan… mulai merembes menembus dinding plastik klip yang seharusnya kedap udara tersebut. Asamnya melelehkan plastik itu.

​Kengerian murni menyetrum otak Maya.

​Makhluk itu… entitas sel dari dalam tubuhnya yang ia keluarkan sebagai mimisan limbah beberapa malam lalu… ternyata masih hidup, dan ia memiliki kesadarannya sendiri. Cairan itu adalah perpanjangan dari kutukan yang mengikat jiwa Maya.

​Sari, yang kepalanya ditarik paksa ke belakang, kebetulan menolehkan matanya ke bawah dan ikut melihat pemandangan laknat tersebut.

​Mata wanita dominan itu membelalak hingga nyaris lepas dari kelopaknya.

​Sari melihat cairan hitam tebal berbau anyir mayat itu merembes menembus plastik di tangan Maya. Cairan itu menetes ke udara layaknya darah iblis hidup, lalu membentuk tentakel-tentakel lendir mikroskopis yang menggeliat-geliat di udara… mencari inang baru untuk dihisap.

​Pemandangan visual yang menentang hukum Tuhan itu… adalah pukulan final yang memecahkan sisa-sisa pilar kewarasan Sari menjadi debu.

​Sebuah jeritan yang sangat, sangat melengking, jauh lebih mengerikan dari jeritan kesakitan fisik mana pun meledak dari kerongkongan Sari.

​Itu adalah jeritan jiwa manusia yang hancur berkeping-keping. Jeritan karena akal sehatnya dipaksa menelan realitas dimensi gelap yang menolak logika medis.

​Maya, yang sebenarnya sama ketakutannya dengan Sari akan pergerakan benda hitam itu, refleks melepaskan cengkeramannya pada rambut dan lengan wanita tersebut.

​Begitu kunciannya terlepas, Sari jatuh terjerembap membentur lantai beton.

​Wanita itu tidak mencoba menyerang balik. Ia bahkan tidak mencoba berlari ke arah pintu keluar. Kakinya seolah lumpuh oleh teror absolut.

​Sari merangkak mundur dengan gerakan yang sangat kacau, menjauhi Maya layaknya menjauhi iblis pencabut nyawa. Ia menabrak tumpukan manekin hingga patung-patung plastik itu menimpanya.

​Air liur menetes dari sudut bibir Sari. Matanya melotot liar tak tentu arah, urat matanya pecah. Ia terus meracau, bergumam histeris tanpa makna.

​”D-darah… darahnya hidup… monster… m-monster… tolong… jangan makan gue… jangan tarik gue ke neraka…” racau Sari dengan suara yang bergetar pecah.

​Wanita itu mengusap wajahnya sendiri dengan tangan yang kotor oleh debu gudang, terus menangis sambil tertawa.

​Sari telah gila. Sepenuhnya, secara medis dan psikologis, gila.

​Akal sehatnya tidak mampu lagi memproses trauma visual tentang kulit yang kebal air keras, dan cairan darah hitam yang hidup mandiri. Ia tak lagi mengenal realitas. Ancaman wanita itu untuk menyebarkan berita ke media telah lenyap seketika. Ancaman itu digantikan oleh sel neurotik otak yang terbakar hangus akibat ketakutan.

​Maya berdiri mematung di tengah gudang. Napasnya memburu.

​Ia menatap plastik di tangannya. Cairan hitam bertentakel itu telah berhenti bergerak dan kembali membeku begitu Maya melepaskan genggaman amarahnya.

​Ia kembali menatap Sari. Wanita dominan itu kini meringkuk menyusut di sudut tumpukan manekin bekas. Sari memeluk lututnya, bergoyang ke depan dan belakang sambil menangis dan tertawa histeris dalam waktu bersamaan.

​Maya tak perlu mematahkan lehernya.

​Formula mutiara misterius ini, dengan eksistensi aura gelapnya telah mengeksekusi kewarasan Sari dengan cara yang jauh lebih kejam daripada kematian fisik. Menyiksanya di dalam penjaranya sendiri.

​Dengan tangan yang masih gemetar menahan mual, Maya memasukkan plastik ziplock itu ke dalam saku dalam jaket windbreaker-nya. Ia memungut tas ransel berisi uang lima ratus juta rupiah yang tadi ia jatuhkan di lantai, membiarkan tas itu penuh debu.

​Ia membalikkan badannya, meninggalkan gudang pengap yang dipenuhi bau bahan kimia keras dan tawa orang gila tersebut.

​Ia merayap keluar dari celah pintu gulung, membiarkan tubuhnya kembali diguyur oleh hujan badai Jakarta yang membekukan tulang.

​Misinya selesai. Buktinya aman. Ancaman Sari telah dibungkam selamanya.

​Keesokan paginya. Pukul 07:30 pagi.

​Maya sedang duduk bersantai di island bar marmer di dapur apartemennya. Ia menyesap secangkir kopi hitam pahit yang tak lagi bisa ia rasakan rasanya di lidahnya.

​Riasan wajahnya telah sempurna. Hari ini ia memiliki jadwal padat untuk melakukan fitting pakaian bersama desainer internasional yang dibooking Kiki.

​Sisa-sisa ketegangan pertarungan fisik semalam masih meninggalkan bayang-bayang nyeri di pundaknya, namun ia berhasil menekannya dalam-dalam menggunakan logika sosiopatnya. Cairan tisu berdarah itu telah ia bakar habis di wastafel kamar mandinya tadi malam, lalu abunya ia flush, memastikan tak ada sisa sel hidup yang bisa memberontak atau melarikan diri lagi.

​Televisi plasma raksasa di ruang tengah menyala terang. Menampilkan saluran berita lokal pagi hari dengan volume yang tidak terlalu keras. Maya hanya mendengarkannya sekilas sebagai latar belakang keheningan.

​Namun… sebuah headline breaking news yang dibacakan oleh pembawa acara berita dengan nada sangat serius, tiba-tiba menarik seluruh atensinya.

“Pemirsa, sebuah penemuan mengejutkan terjadi pagi ini di area belakang pusat perbelanjaan elit Grand Atrium Mall, Jakarta Pusat. Pihak kepolisian baru saja mengevakuasi tubuh seorang wanita yang diidentifikasi sebagai pekerja kebersihan mal tersebut, dari dalam sebuah gudang kosong yang terbengkalai.”

​Tangan Maya yang memegang cangkir kopi terhenti kaku di udara.

​Jantungnya melewatkan satu ketukan yang sangat panjang. Matanya terpaku menatap layar televisi.

​Layar itu menampilkan cuplikan rekaman video amatir dari balik garis polisi kuning. Di dalam video itu, sebuah kantong mayat berwarna oranye tebal sedang dimasukkan dengan tergesa-gesa ke dalam mobil ambulans, di tengah guyuran sisa gerimis pagi.

“Menurut keterangan awal dari tim forensik di tempat kejadian perkara, kondisi korban ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan… sangat ganjil,” lanjut pembawa berita tersebut, wajahnya menyiratkan kengerian yang tak bisa disembunyikan meski ia seorang profesional.

“Tubuh korban, yang diidentifikasi bernama Sari, ditemukan dalam keadaan koma kritis. Namun, dengan kondisi fisik yang mengerikan. Sebagian besar jaringan kulit dan daging di area wajah serta lengan korban dilaporkan… meleleh dan hancur, menyerupai luka bakar akibat siraman cairan zat kimia atau asam keras ekstrem, yang menyisakan kerusakan permanen menembus hingga ke struktur tulang.”

Prangg!

​Cangkir kopi keramik mahal itu terlepas dari genggaman tangan porselen Maya. Jatuh menghantam lantai kayu parket dan pecah berkeping-keping.

​Kopi hitam pekat membasahi lantai, menodai karpet, namun Maya sama sekali tak memedulikannya.

​Maya berdiri kaku. Dadanya naik turun dengan ritme yang menggila. Darahnya membeku di setiap pembuluh nadinya.

Meleleh? Hancur akibat asam keras?

​Memori konfrontasi semalam berputar liar layaknya kaset rusak di dalam kepalanya.

​Semalam, Sari memang melemparkan sebotol penuh cairan asam klorida pekat itu. Namun cairan itu menghantam wajah dan bahu Maya, bukan Sari! Cairan mematikan itu luruh ke lantai beton dari wajah kebal Maya. Sari tidak terkena setetes pun air keras tersebut. Saat Maya meninggalkan gudang itu, Maya meninggalkan wanita itu dalam keadaan fisik yang utuh sempurna tanpa cacat, hanya saja kewarasannya yang hancur total akibat trauma psikologis.

​Lalu bagaimana mungkin… bagaimana secara logika pagi ini Sari ditemukan dalam keadaan daging wajah dan lengan yang meleleh seolah disiram asam keras?

​Sebuah kengerian absolut yang tak terbatas membongkar paksa seluruh pertahanan mental Maya pagi itu.

​Sari ditemukan dalam kondisi daging meleleh. Kondisi yang persis sama dengan sosok entitas wanita tak berwajah mengerikan yang menghantui mimpi buruk Maya di kamar! Kondisi yang persis sama dengan wujud cairan hitam limbah transmutasi biologis itu!

​Hanya ada satu penjelasan sinting yang bisa dirangkai oleh otak Maya yang sedang dilanda teror.

​Semalam, setelah Maya menyelesaikan misinya dan meninggalkan gudang berdebu tersebut… sesuatu yang lain masuk ke dalam gudang itu.

​Atau mungkin… sesuatu itu telah berada di sana sejak awal, mengawasi pertarungan berdarah mereka dari balik bayang-bayang gelap tumpukan manekin bekas tanpa Maya sadari.

​Seseorang, atau sesuatu yang mengetahui bahwa Sari mengancam eksistensi rahasia ‘produk mutiara’ tersebut, telah secara sepihak memutuskan untuk mengeksekusi wanita malang itu dengan tangannya sendiri.

​Menggunakan sisa zat asam yang tergenang di lantai beton, atau mungkin menggunakan metode biologis yang jauh lebih mengerikan… entitas itu melelehkan wajah Sari sebagai bentuk penyelesaian masalah.

​Sekaligus, sebagai sebuah pesan berdarah yang ditinggalkan khusus untuk Maya.

​Maya mundur selangkah demi selangkah. Napasnya terengah-engah menatap layar televisi yang terus memberitakan evakuasi tubuh hancur Sari dengan wajah pucat pasi.

Siapa yang melakukannya? Pria miliarder posesif di restoran mewah itu… Kiki yang selalu ceria dan mencari untung… ataukah sosok monster tanpa wajah yang merangkak keluar dari balik kotak hitam misterius itu?

​Maya menyadari dengan kengerian yang sangat menampar jiwanya, bahwa ia tidak pernah, dan tak akan pernah, sendirian di puncak menara gading ini.

​Sang Dalang yang sesungguhnya tidak pernah melepaskan pandangannya sedetik pun dari investasi biologisnya. Dalang itu mengawasinya. Melindunginya dari bayang-bayang.

​Dan kini… sang sutradara baru saja menunjukkan taring kekejamannya dengan membersihkan musuh Maya melalui cara yang paling biadab. Menyisakan sebuah teror psikologis yang menghancurkan logika, bahwa Maya, dengan segala kecantikan dan kekayaannya, nyatanya hanyalah sebuah bidak catur rapuh yang sedang dimainkan di atas papan kematian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 32 ~ Simbiosis Emas

SIMETRI BAB 32 ~ Simbiosis Emas

Populer
No popular posts within this time range.