Keheningan di dalam kamar tidur utama yang mewah itu… terasa seperti sebuah beban fisik yang meremukkan tulang rusuk.
Maya masih berlutut di atas karpet mewahnya.
Kedua matanya yang anehnya tak lagi mampu memproduksi air mata emosional akibat efek sisa pasta abu-abu di otaknya menatap nanar pada objek di hadapannya.
Sebuah plastik ziplock transparan yang diletakkan dengan sangat presisi di atas bantal tidurnya.
Di dalam plastik itu, sebuah gigi geraham manusia yang masih berlumur darah segar tergeletak diam. Namun… eksistensi gigi itu berteriak dengan volume yang melampaui batas kewarasan manusia normal.
Pesan yang ditulis dengan darah merah di atas robekan kertas itu “Satu ancaman telah kubereskan. Kemurnianmu tetap terjaga.” adalah sebuah proklamasi dominasi yang absolut.
Sang Dalang tidak memerlukan kamera pengintai canggih untuk mengawasinya.
Dalang itu… entitas psikopat itu… bisa menembus dinding beton lantai dua puluh. Ia bisa menyelinap ke dalam apartemen dengan sistem keamanan biometrik paling ketat di Jakarta tanpa memicu alarm. Dan ia meletakkan trofi kematian ini tepat di titik paling suci dalam hidup Maya di tempat Maya menyandarkan kepalanya setiap malam.
Logika Maya mulai merangkai skenario terburuk.
Jika Dalang itu bisa meletakkan gigi berdarah ini di sini tanpa bersuara… batin Maya, napasnya memburu berderak di tenggorokan bagai pecahan kaca. Maka dia juga bisa berdiri di samping ranjangku saat aku tertidur pulas. Dia bisa mengawasi setiap tarikan napasku. Dia bisa menyentuh wajah porselenku… atau bahkan, dia bisa membelah perutku dengan pisau bedah jika dia mau.
Kepanikan absolut nyaris meledakkan jantungnya.
Namun… sisi sosiopatnya, satu-satunya mekanisme pertahanan mental yang lahir dari pasta abu-abu terkutuk itu perlahan bangkit menerobos kepanikan tersebut.
Maya sadar, ia tidak boleh berteriak. Ia tidak boleh pingsan.
Jika ia hancur menangis sekarang, maka Sari telah menang dari alam baka. Dan Sang Dalang akan mendapatkan kepuasan penuh dari teror psikologis yang ia ciptakan ini.
Dengan tangan porselen yang bergerak kaku layaknya mesin mekanis, Maya memungut plastik ziplock itu dari atas kasur.
Bau karat pekat dari darah segar seketika menyengat indra penciumannya, memicu rasa mual yang melilit lambungnya. Ia menahan napas, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Ia tidak bisa membuangnya ke tempat sampah dapur. Ia juga mutlak tidak bisa membuangnya ke dalam kloset lagi. Sang Dalang telah membuktikan bahwa sistem pembuangan bawah tanah bukanlah tempat yang aman untuk menyembunyikan bukti darinya.
Benda ini harus dimusnahkan hingga ke tingkat molekuler. Harus dimusnahkan secara kimiawi malam ini juga.
Maya membuka lemari kabinet di bawah wastafel marmer. Ia menarik sebotol besar cairan pemutih industri (bleach) dan sebotol cairan pembersih kerak keramik berbahan asam klorida tinggi yang sengaja ia beli dari supermarket tadi pagi untuk membersihkan noda cairan hitam.
Maya menuangkan kedua cairan kimia sangat berbahaya itu ke dalam sebuah mangkuk kaca tebal di dalam wastafel.
Percampuran dua zat kimia reaktif itu menciptakan sebuah pelarut asam yang langsung mendesis keras. Cairan itu bergejolak, mengeluarkan kepulan asap gas beracun berwarna kekuningan yang seketika membuat mata Maya perih dan berair.
Tanpa ragu sedetik pun, Maya membuka plastik klip itu. Ia menjatuhkan kertas catatan dan gigi geraham berdarah tersebut tepat ke dalam mangkuk berisi cairan asam mendidih itu.
Ssssshhhh…
Darah segar yang menempel di gigi itu langsung berbuih liar. Warnanya memudar seketika menjadi cokelat pucat. Sementara kertas catatan berisi pesan ancaman itu hancur melebur menjadi bubur dalam hitungan detik.
Gigi geraham manusia yang keras itu membutuhkan waktu jauh lebih lama. Namun lambat laun, lapisan kalsiumnya mulai terkikis habis oleh reaksi kimia klorin yang sangat keras tersebut.
Maya berdiri mematung di depan wastafel selama hampir satu jam penuh.
Ia menatap kosong ke dalam mangkuk kaca itu. Ia menghirup asap klorin yang menyesakkan paru-paru tanpa berkedip, membiarkan matanya memerah. Ia terus menunggu hingga seluruh bukti teror dan trofi kematian itu larut sempurna menjadi genangan cairan keruh yang tak bisa lagi dikenali oleh ilmu forensik manapun.
Setelah yakin semuanya hancur, ia memutar keran. Ia menuangkan cairan asam beracun itu ke dalam lubang pembuangan, menyalakan air panas hingga titik maksimal, dan membilas wastafel porselen itu berulang-ulang kali.
Selesai. Secara fisik, ancaman dari Sang Dalang telah ia musnahkan.
Namun… secara psikologis… racun ketakutan itu telah menyebar dan menginfeksi seluruh sistem sarafnya.
Apartemen seharga puluhan juta per bulan ini tidak lagi terasa seperti sebuah istana langit. Tempat ini kini terasa seperti sebuah kotak kaca transparan yang diletakkan di tengah laboratorium.
Maya menyadari sebuah kenyataan yang luar biasa pahit. Ia tidak memiliki tempat persembunyian lagi di muka bumi ini. Di mana pun ia berada, di balik beton setebal apa pun… selama ia membawa dan memakai daging transmutasi iblis ini di tubuhnya… Sang Dalang akan selalu bisa melacak keberadaannya.
Tiba-tiba… sebuah rasa nyeri yang sangat familiar menusuk pangkal lehernya.
Maya tersentak pelan. Tangannya meremas pinggiran wastafel.
Rasa nyeri itu merambat cepat. Diikuti oleh sebuah sensasi gatal yang luar biasa tajam, menjalar jauh di bawah lapisan dermis kulit porselennya. Otot-otot di bahu kanannya mulai menegang keras. Dagingnya berkedut-kedut liar dengan ritme yang sama sekali tidak wajar.
Nekrosis. Tubuh modifikasinya sedang bereaksi keras terhadap stres ekstrem yang baru saja ia alami. Sel-sel buatan di dalam tubuhnya yang telah kehabisan pasokan gel mutiara sejak perombakan besarnya kini mulai menunjukkan tanda-tanda dehidrasi biologis dan pemberontakan fatal.
Tidak. Kumohon… jangan sekarang, rintih Maya dalam hati.
Ia mencengkeram bahunya sendiri dengan sangat kuat dari luar baju. Ia berusaha menekan dagingnya secara manual, berharap bisa menghentikan kulitnya agar tidak menyusut, membusuk, atau bermutasi menjadi tumor tulang seperti semalam.
Namun, tekad baja seorang manusia tidak akan pernah bisa melawan reaksi seluler.
Rasa gatal itu semakin menjadi-jadi. Menyerupai ribuan serangga karnivora yang sedang menggerogoti serat ototnya dari dalam untuk mencari jalan keluar. Sensasi dingin yang membekukan sumsum tulang mulai merayap naik dari tulang belakangnya, melumpuhkan fungsinya.
Dalam keputusasaan yang membutakan pandangannya, ingatan Maya kembali pada satu-satunya momen di mana tubuhnya pernah merasa sepenuhnya stabil, tenang, dan aman… tanpa menggunakan setetes pun gel iblis tersebut.
Aroma musk maskulin yang mahal. Kehangatan dari sebuah kemeja sutra hitam. Tatapan sepasang mata elang yang sedingin gletser.
Randy Adhitama.
Miliarder penguasa Lumière Merveille itu.
Kehadiran fisik pria itu, suaranya, dan entah bagaimana feromon yang dipancarkan oleh tubuh pria itu… bertindak layaknya anestesi biologis yang luar biasa kuat bagi segala anomali yang terjadi di dalam anatomi Maya.
Maya tidak tahu bagaimana sains medis bisa menjelaskan hal ini. Mungkin ketegasan dan dominasi absolut dari seorang predator puncak alfa seperti Randy… memberikan sebuah sinyal penakluk pada sel-sel parasit di tubuh Maya untuk tunduk dan berhibernasi.
Atau mungkin… ini hanyalah sebuah reaksi psikosomatis ekstrem, sebuah ilusi rasa aman yang diciptakan oleh otaknya sendiri saat ia berada di dekat pelukan pria paling berkuasa di ibu kota.
Apa pun alasan saintifiknya… Maya tidak peduli lagi malam ini.
Saat ini, tubuhnya yang rusak dan jiwanya yang terancam menuntut kehadiran pria itu. Layaknya seorang pecandu narkotika yang sedang mengalami sakaw hebat dan membutuhkan suntikan morfin murni.
Tarikan gravitasi pelindung dari sosok Randy terasa begitu absolut. Tarikan itu menarik sel-sel biologis Maya dari jarak berkilometer jauhnya, memaksanya untuk menyerah.
Maya berlari terseok-seok keluar dari kamar mandi menuju nakas kamarnya. Ia menyambar ponselnya.
Tangannya bergetar sangat hebat saat ia mencari dan menekan nama kontak Kiki.
Jam digital di layar ponselnya menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Waktu yang sangat tidak wajar untuk menelepon. Namun Maya tidak peduli. Ia harus bertemu pria itu besok pagi. Jika tidak, ia akan gila dihantui teror, atau lebih buruk lagi, dagingnya akan hancur membusuk di apartemen ini.
Panggilan itu baru tersambung setelah nada dering kelima yang panjang.
“Ngggh… Halo…? Maya? Sayang… ini jam setengah dua pagi lho. Ada apa? Ada kebakaran di apartemen kamu?!” suara Kiki terdengar sangat serak, khas orang yang baru saja terbangun kaget dari tidur lelapnya.
”Kak Kiki… maaf mengganggu malam-malam. Tapi ini sangat penting,” ucap Maya cepat.
Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat profesional, dingin, dan mendesak. Ia mati-matian menutupi getaran ketakutan dan rasa ngilu di tubuhnya.
”Aku perlu bertemu dengan Randy Adhitama. Besok pagi. Secepat mungkin.”
Terdengar suara gemerisik selimut dari seberang telepon. Kantuk Kiki sepertinya langsung menguap seratus persen mendengar nama bos besarnya disebut dengan nada darurat.
“Ketemu Bos Randy? Pagi-pagi buta? Ada apa, May?!” cecar Kiki, suaranya kini melengking panik. “Ada masalah sama draf kontrak kampanye yang baru? Atau ada desainer atau sutradara yang kurang ajar sama kamu hari ini?!”
”Bukan. Ini menyangkut masalah keamanan fisikku, Kak,” dusta Maya. Ia mulai merangkai alibi manipulatif yang paling sempurna untuk memancing tindakan agensi.
”Malam ini… saat aku pulang… aku menemukan tanda-tanda bahwa ada penguntit gila yang berhasil menerobos sistem keamanan apartemenku.”
“APA?!” jerit Kiki di seberang sana.
”Mereka menyusup ke kamarku. Dan mereka meninggalkan sesuatu yang sangat mengganggu di atas bantal tidurku,” lanjut Maya dengan intonasi yang mematikan. “Aku tidak merasa aman di sini, Kak.”
Maya menarik napas, membiarkan keheningan mengunci perhatian Kiki.
”Randy pernah menjanjikan perlindungan mutlak padaku jika aku bersedia menjadi aset eksklusifnya,” ucap Maya menuntut. “Aku ingin menagih janji itu secara personal kepadanya besok pagi… sebelum aku melaporkan hal ini ke media dan mengendus kelalaian agensi.”
Sebuah keheningan sesaat yang sangat panik melanda jalur komunikasi itu. Kata ‘penguntit’ dan ‘keamanan aset’ adalah dua kata sakti di dunia hiburan yang bisa membuat agensi dan PR (Public Relations) mana pun terkena serangan jantung.
“Astaga naga! Stalker?! Orang gila mana yang bisa nembus apartemen VVIP itu?!” Kiki memekik tertahan. “Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?! Nggak ada yang dilukain kan fisiknya?! Kenapa kamu nggak lapor polisi dari tadi?! Eike kirim tim bodyguard agensi ke sana sekarang juga ya buat nyisir lokasi?!”
”Aku tidak apa-apa secara fisik. Dan jangan pernah kirim polisi ke sini, Kak,” potong Maya cepat dan sangat tegas.
”Kalau polisi datang dengan sirene malam-malam, wartawan gosip akan mencium baunya. Dan kampanye Lumière Merveille yang mengedepankan citra elegan dan tak tersentuh… akan langsung rusak oleh skandal murahan seperti ini. Saham bisa turun.”
Maya memijat bahunya yang berkedut nyeri. “Aku ingin menyelesaikannya secara tertutup. Tolong hubungi asisten pribadi Randy sekarang juga. Aku harus bertemu dengannya besok pagi di kantor pusatnya. Ini sangat krusial, Kak.”
Kiki terdengar menelan ludah dengan keras. Pria itu menyadari kebenaran tak terbantahkan dari argumen Maya.
“O-oke. Oke, kamu bener, May. Bos Randy emang paling benci skandal publik murahan,” ucap Kiki menyetujui. “Eike bakal telepon asisten pribadinya sekarang juga biar dapet jadwal pagi. Kamu kunci pintu apartemenmu rapat-rapat! Besok jam delapan pagi teng, mobil lapis baja dari agensi yang bakal jemput kamu dan langsung jalan ke markas besar Lumière.”
”Terima kasih banyak, Kak Kiki.”
Maya langsung memutuskan sambungan telepon. Ia melempar ponselnya ke kasur.
Ia merosot turun ke lantai, menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin. Rasa nyeri di lehernya masih terus berdenyut. Pembusukannya menuntut penawar mutiara yang tak bisa ia berikan malam ini.
Maya memeluk lututnya erat-erat. Ia menahan siksaan fisik biologis dan teror mental itu sendirian di dalam kamar mewahnya. Matanya tak terpejam, menghitung setiap detik siksaan yang berlalu di jam dinding, hingga matahari akhirnya terbit dari ufuk timur.
Pukul 08:30 pagi.
Gedung pusat Lumière Merveille menjulang luar biasa tinggi, membelah cakrawala kawasan SCBD Jakarta.
Berbeda dengan gedung perkantoran komersial biasa yang berdesain ramah, markas besar kerajaan bisnis kosmetik dan farmasi ini dirancang dengan arsitektur yang sangat futuristik, kaku, dan intimidatif.
Fasad luar gedung itu seluruhnya terbuat dari kaca obsidian gelap yang menolak pantulan cahaya matahari. Menciptakan siluet sebuah monolit raksasa misterius yang seolah menyerap segala sesuatu di sekitarnya ke dalam kehampaan.
Ini bukanlah tempat yang memancarkan energi kultus gaib atau sekte rahasia yang klenik.
Tempat ini adalah kuil kapitalisme absolut. Monumen kesombongan ilmu pengetahuan medis, dan simbol dominasi kekayaan manusia terhadap alam.
Mobil SUV Mercedes lapis baja yang membawa Maya meluncur mulus memasuki area parkir bawah tanah khusus eksekutif.
Kiki, yang wajahnya masih terlihat sedikit pucat karena panik dari semalam, sudah berdiri menunggu dengan cemas di dekat lift privat. Lift khusus itu dijaga oleh dua pria berbadan tegap berjas hitam, lengkap dengan alat pendengar melingkar di telinga mereka.
”Maya! Thank God kamu aman utuh!” Kiki langsung berlari menyambut Maya saat gadis itu turun.
Pria itu memeriksa wajah porselen gadis itu dari ujung dahi hingga dagu dengan panik. “Eike udah atur semuanya subuh tadi. Asisten pribadi Randy ngasih kita slot waktu cuma lima belas menit.”
Kiki merapikan blazer Maya. “Bos besar lagi mood kerja keras hari ini dan agak tegang. Jadi kita langsung naik ke lantai atas. Jangan muter-muter ngomongnya nanti, ya. Langsung ke inti masalah keamanan kamu.”
Maya tidak menjawab kecerewetan Kiki. Ia hanya mengangguk pelan.
Pagi ini, ia mengenakan setelan blazer wanita berwarna putih tulang dengan potongan bahu yang sangat tajam, dan celana bahan lurus yang menjuntai menutupi separuh sepatunya. Ia memadukannya dengan kemeja sutra hitam di dalamnya.
Penampilannya memancarkan kekuatan absolut seorang wanita karier kelas atas. Sebuah kontras yang sangat ironis dengan jiwanya yang sedang hancur lebur ketakutan, dan tubuhnya yang sedang menahan rasa sakit di dalam.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift berdinding cermin gelap.
Saat lift itu melesat naik menembus gravitasi dengan kecepatan tinggi tanpa suara, Maya memejamkan matanya rapat-rapat.
Rasa gatal dan nyeri di bahu kirinya semakin agresif menggerogoti. Daging di bawah kulit porselennya berkedut pelan secara konstan, menuntut untuk dilepaskan dari kurungan kulitnya.
Maya mencengkeram pegangan tas mahalnya dengan sangat, sangat erat hingga otot lengannya kaku dan mati rasa. Ia harus menahan setiap dorongan naluriah untuk menggaruk kulitnya atau menjerit di depan Kiki.
Ting. Pintu lift terbuka di lantai enam puluh, lantai puncak teratas dari gedung monolit tersebut.
Udara di lantai eksekutif ini terasa jauh lebih dingin dari lantai lainnya di ibu kota. Udaranya disaring melalui filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) kualitas laboratorium medis, yang membuat pasokan oksigen di sana terasa luar biasa steril, murni, dan hampa bau apa pun.
Tidak ada kubikel karyawan yang bising. Tidak ada suara mesin tik, mesin fotokopi, atau telepon yang berdering.
Lantai ini terbentang sangat luas dan hening. Sepanjang lorongnya dihiasi oleh berbagai karya seni patung kontemporer bernilai miliaran rupiah. Lorong itu berujung pada sepasang pintu kayu eboni hitam raksasa setinggi tiga meter.
Asisten pribadi Randy, seorang pria muda berwajah kaku tanpa ekspresi dengan setelan jas abu-abu, mengangguk sopan pada Kiki. Ia lalu mendorong dan membukakan pintu ganda tersebut.
”Bapak Randy sudah menunggu Anda di dalam, Nona Maya,” ucap asisten itu singkat dan sangat formal.
Kiki menepuk punggung Maya pelan, memberinya semangat. “Masuklah, Sayang. Eike tunggu di luar sini aja. Tunjukin ke dia kalau kamu bukan cewek lemah yang gampang diintimidasi.”
Maya melangkah masuk sendirian ke dalam ruangan itu. Pintu eboni raksasa itu ditutup dari luar. Tertutup dengan suara klik mekanis yang sangat berat. Sepenuhnya mengisolasi Maya dari sisa dunia luar.
Ruangan kantor utama sang CEO itu luasnya nyaris menyamai sebuah lapangan basket kecil tertutup.
Tiga sisi dindingnya secara penuh terbuat dari kaca smart-glass. Kaca itu memperlihatkan pemandangan kota Jakarta 360 derajat, seolah-olah seluruh ibu kota itu berada di bawah telapak kaki sang pemilik ruangan.
Lantainya dilapisi marmer hitam murni yang memantulkan bayangan. Dan tepat di tengah ruangan yang megah itu, terdapat sebuah meja kerja raksasa. Meja itu bukan terbuat dari kayu, melainkan terbuat dari satu lempengan batu alam utuh berwarna abu-abu gelap, yang belum pernah Maya lihat sebelumnya seumur hidupnya.
Di balik meja batu itu, duduklah Randy Adhitama.
Miliarder muda itu pagi ini mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan kerah kaku yang tegak. Dasi sutra hitamnya sedikit dilonggarkan di leher. Ia juga mengenakan rompi jas berwarna abu-abu gelap yang mempertegas bidang dadanya.
Randy sedang menatap tajam ke arah layar monitor komputer mutakhir lengkung di depannya. Jari-jarinya yang panjang dan terawat mengetik sesuatu di keyboard kaca dengan kecepatan konstan.
Bahkan saat pintu eboni terbuka dan Maya melangkah masuk, Randy sama sekali tidak segera mendongak.
Otoritas pria ini begitu pekat dan mendominasi. Sikapnya itu membuat tamu mana pun yang masuk merasa sangat kecil, tidak berdaya, dan tidak signifikan. Memaksa mereka untuk menunggu dengan patuh hingga sang raja berkenan memberikan sedetik atensinya.
Maya berjalan perlahan melintasi hamparan ruangan marmer hitam itu. Suara ketukan stiletto-nya menggema pelan namun tegas.
Begitu ia mencapai jarak sekitar tiga meter dari meja batu raksasa tersebut… dan aroma vetiver serta musk maskulin yang sangat khas dari tubuh Randy menembus indra penciuman Maya…
Keajaiban biologis itu terjadi lagi.
Seketika itu juga… rasa nyeri yang membakar di bahu Maya mereda secara drastis.
Kedutan daging pemberontak di balik kulit porselennya berhenti total. Sensasi gatal yang menyiksa kewarasannya sepanjang malam… lenyap secepat asap rokok yang ditiup angin badai.
Hawa panas kepanikan dan stres di dalam otaknya seolah diguyur oleh sebuah ketenangan es yang absolut.
Kehadiran fisik pria ini, gelombang dominasi yang memancar darinya, dan aura predator yang dikeluarkannya… kembali bekerja layaknya morfin cair murni yang langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah otak Maya.
Maya mematung berdiri di sana. Ia mengembuskan napas yang tak disadari ia tahan sejak dari lift, membiarkan dadanya merosot lega.
Rasa sakit fisiknya benar-benar hilang tanpa bekas. Tubuhnya kembali menjadi baja berlapis porselen yang sempurna dan kebas.
Sebuah kenyataan yang menjijikkan menampar logikanya, Ia benar-benar telah menjadi sebuah parasit biologis, yang mutlak membutuhkan inang emosionalnya ini untuk bertahan hidup dan tetap waras.
”Kiki memberitahu asistenku pagi ini… bahwa apartemen tingkat tinggi dengan sistem keamanan biometrik seharga seratus juta sebulan yang agensi sewakan untukmu… berhasil dibobol oleh seorang penguntit amatir semalam.”
Suara bariton Randy yang sangat dalam dan berat memecah kesunyian ruangan. Suaranya memotong udara seperti pisau bedah.
Pria itu akhirnya berhenti mengetik. Ia perlahan mengangkat wajah tampannya. Ia menatap Maya dengan sepasang mata elang yang sedingin dasar palung laut.
Tidak ada senyum menyambut di wajahnya hari ini. Hanya ada sebuah perhitungan yang mematikan.
”Apakah ceritamu itu benar, Maya?” tanya Randy pelan, menekan setiap sukukata. “Ataukah… itu hanya alasan dramatis murahan yang sengaja kau buat, karena kau merindukan perhatianku setelah acara makan malam rahasia kita?”
Pertanyaan bernada skakmat itu sangat tenang, namun menusuk langsung ke inti ego dan harga diri Maya.
Meskipun tubuh biologisnya merasa sangat lega berkat pria ini, harga diri Maya sebagai The Fierce Unknown menolak mentah-mentah untuk diinjak atau diremehkan begitu saja. Sisi sosiopatnya kembali bekerja dengan presisi perlindungan diri yang sempurna.
”Saya bukan tipikal wanita rendahan yang kekurangan perhatian, hingga harus mengarang cerita konyol hanya untuk menemui Anda di jam kerja, Randy,” balas Maya dengan nada sedingin es.
Maya menatap lurus tanpa gentar ke dalam mata kelam pria itu. Ia melangkah maju mendekati meja batunya.
”Seseorang… entah bagaimana caranya menembus sistem… masuk ke dalam kamarku semalam,” ujar Maya tegas. “Mereka berdiri di sampingku, dan meninggalkan sebuah benda di atas bantal tidurku. Sebuah ancaman yang sangat eksplisit.”
Alis tebal Randy sedikit bertaut. Ekspresi datarnya bergeser satu milimeter. Menyiratkan sebuah ketertarikan yang sangat gelap.
Pria itu bersandar perlahan di kursi kulit besarnya, lalu menautkan jemari panjangnya di atas perut.
”Sebuah benda?” tanya Randy merendahkan suaranya. “Apa itu?”
”Hanya sebuah paket ancaman klasik,” dusta Maya dengan sangat lancar dan tanpa berkedip. Ia menyembunyikan fakta tentang gigi berdarah Sari dan tisu hitam tersebut dalam-dalam.
”Sebuah foto billboard-ku yang dirusak dengan tinta darah, dan beberapa barang pribadi yang membuktikan bahwa mereka benar-benar mengawasiku setiap detik.”
Maya mencondongkan tubuhnya sedikit, menumpukan tangannya di tepi meja batu milik Randy.
”Intinya, apartemen mahal itu tidak lagi aman untukku,” tuntut Maya. “Aku adalah wajah utama dari Lumière Merveille. Jika seorang maniak penguntit berhasil menyentuhku, melukaiku, atau menculikku besok pagi… nilai saham dan seluruh investasi yang kau banggakan itu akan hancur berantakan di media.”
Maya menatap tepat ke ulu hati Randy.
”Kau pernah berjanji akan menjadikanku wanita paling tak tersentuh di benua Asia. Aku datang ke sini pagi ini… untuk menagih janji perlindungan itu, Tuan Adhitama.”
Keheningan yang luar biasa tegang menggantung tebal di antara mereka berdua di ruangan raksasa tersebut. Dua predator yang saling menatap tanpa suara, saling mengukur dominasi dan kekuatan psikologis masing-masing.
Bagi Randy Adhitama… gadis yang berdiri di depannya ini adalah sebuah anomali yang luar biasa menarik.
Wanita lain dari kalangan artis atau sosialita, jika mengalami hal ini, pasti akan datang kepadanya sambil menangis histeris. Mereka akan memohon perlindungan dengan air mata murahan dan bersujud di lututnya.
Tapi gadis porselen di depannya ini?
Gadis ini datang dengan kepala tegak lurus. Ia menatapnya dengan arogansi yang menantang batas, dan dengan cerdas menggunakan logika bisnis saham untuk memaksanya bertindak sebagai pelindung.
Sebuah seringai tipis… sangat, sangat tipis… akhirnya terbit di sudut bibir sang miliarder. Seringai yang memancarkan rasa kagum yang sangat kelam terhadap ciptaannya sendiri.
”Kau benar-benar tidak tahu cara menundukkan kepalamu barang sedikit pun padaku, bukan?” gumam Randy pelan. Suaranya dipenuhi oleh nada posesif yang sangat kental.
Pria itu perlahan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang sangat tinggi menjulang mematikan di atas Maya.
Ia berjalan memutari meja batu gelap tersebut dengan gerakan yang sangat pelan, berwibawa, dan mematikan. Ia menghampiri Maya yang masih berdiri kaku.
Saat Randy berdiri tepat di hadapan Maya, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal tangan.
Maya harus sedikit mendongakkan kepalanya ke atas untuk bisa menatap mata pria itu. Aroma maskulin Randy membungkusnya secara total, membuat sel-sel mutasi pemberontak di dalam tubuh Maya mendengkur rileks dalam euforia biologis yang tunduk.
Randy mengangkat tangannya perlahan.
Dengan sebuah gerakan yang sangat intim dan sarat akan klaim kepemilikan, pria itu menyelipkan punggung tangan kanannya di lekuk pinggang Maya. Sementara tangan kirinya yang besar… menyentuh sisi rahang porselen gadis itu dengan lembut.
Kulit Maya masih kebas. Ia tak bisa merasakan kehangatan kulit pria itu di wajahnya. Namun secara kimiawi dari dalam, sentuhan posesif ini adalah segalanya yang ia butuhkan untuk tetap waras dari kutukannya.
”Kau datang menuntut janjiku, Maya,” bisik Randy.
Suaranya sangat dekat, menggetarkan udara di depan bibir Maya. Matanya yang gelap menelusuri setiap inci wajah sempurna gadis itu. Mencari retakan ketakutan di balik porselennya, namun hanya menemukan sebuah tantangan bertahan hidup yang indah.
”Dan aku… tidak pernah gagal dalam menjaga barang milikku sendiri,” deklarasi Randy mutlak.
Randy menggeser ibu jarinya, mengusap dagu Maya dengan tekanan halus.
”Aku tidak akan mengirim sepuluh bodyguard bodoh untuk sekadar berjaga di depan pintu apartemen sewaanmu. Itu metode pengamanan yang terlalu murah, amatiran, dan hanya akan menarik perhatian lalat media,” lanjut Randy sinis.
”Jika ada seseorang di luar sana yang berani mengklaim bahwa mereka bisa menyentuhmu dari balik bayang-bayang… aku akan memusnahkan pikiran itu dari kepala mereka bersama dengan nyawa mereka.”
Randy menatap tepat ke kornea mata Maya.
”Mulai hari ini. Detik ini juga. Kau akan angkat kaki dan pindah dari apartemen murahan itu.”
Maya menelan ludah. Jantungnya berdebar. “Pindah ke mana?”
”Ke dalam wilayahku,” jawab Randy absolut.
Suaranya tidak menyisakan ruang untuk penolakan. “Kau akan tinggal di sayap paviliun tamu di Estate pribadiku. Di kawasan pegunungan Bukit Sentul.”
”Rumah pribadimu?”
”Itu bukan sekadar rumah. Itu adalah sebuah benteng,” jelas Randy dingin. “Sistem keamanannya dirancang langsung oleh mantan kontraktor militer swasta. Udara yang kau hirup di sana disaring secara khusus. Staf yang bekerja di paviliun itu adalah orang-orang bisu yang hanya memiliki kesetiaan padaku. Tidak ada seekor lalat, atau penguntit jenis apa pun, yang bisa masuk melangkah ke properti itu tanpa izinku.”
Tawaran otoriter itu… bagi Maya… terdengar seperti sebuah paket penyelamatan yang diturunkan langsung dari surga.
Tinggal di dalam wilayah pribadi Randy berarti Maya akan mendapatkan pasokan konstan dari ‘anestesi biologisnya’. Ia akan dekat dengan pria ini setiap hari. Sel-sel mutasinya tidak akan berani lagi memberontak, dan ia tidak akan pernah lagi merasakan nyeri penyusutan atau gatal yang menyiksanya hingga ingin mati.
Dan yang terpenting… Sang Dalang psikopat dengan hadiah gigi berdarah itu juga mustahil bisa menembus benteng keamanan sekelas militer milik sang miliarder untuk menerornya di malam hari.
Namun… di balik semua kelegaan rasional dan biologis itu, bagian terdalam dari jiwa Maya tahu persis apa arti sesungguhnya dari tawaran ini.
Ini bukanlah sebuah kebebasan. Ini adalah sebuah karantina berlapis emas.
Ia sedang menyerahkan dirinya secara sukarela, untuk dikurung mati di dalam sangkar kaca raksasa milik seorang kolektor obsesif. Ia menukar satu teror kematian dengan teror kendali yang lain.
Ia berhasil melarikan diri dari ancaman hantu tak berwajah… hanya untuk menjatuhkan dirinya langsung ke dalam genggaman cakar seekor singa jantan yang menguasai hutan.
Namun, apakah Maya punya pilihan lain pagi ini? Tidak. Antara mati membusuk hancur di apartemennya sendiri malam nanti, atau menjadi tawanan sang miliarder tampan… insting pelacurannya pada kehidupan memenangkan pertarungan telak di kepalanya.
”Baik,” jawab Maya tanpa berkedip sedetik pun. “Aku akan pindah hari ini juga.”
Senyum Randy perlahan melebar. Sebuah senyum kepuasan absolut dan kemenangan dari seorang raja yang baru saja berhasil mengunci pergerakan ratunya di atas papan catur.
”Pilihan yang sangat cerdas.” bisik Randy. “Asistenku akan mengurus semua pengepakan barang-barang pribadimu hari ini. Kau… tidak perlu kembali ke apartemen itu lagi seumur hidupmu.”
Sore harinya. Saat matahari mulai condong menyinari ufuk barat.
Sebuah iring-iringan tiga mobil Mercedes-SUV hitam mengkilap melaju berurutan keluar dari gerbang tol Sentul Selatan. Konvoi kendaraan antipeluru itu membelah jalanan perbukitan yang sepi, menanjak ke atas, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang rimbun dan mulai berkabut.
Maya duduk di mobil tengah.
Kali ini ia duduk sendirian di kursi belakang, menatap pemandangan hijau dari balik kaca gelap. Ia sedang diantar menuju tempat pengasingan barunya.
Pikirannya melayang jauh pada ibunya di rumah sakit, pada Pak Agus yang bekerja keras, dan pada Rani yang polos. Ia telah memutuskan seluruh komunikasi dengan dunia luar. Kiki akan mengatur segala macam alasan Public Relations di media mengenai kepindahannya ke luar kota demi “fokus pada syuting film tertutup”.
Ia telah sepenuhnya membuang kehidupan sosial manusianya demi mempertahankan wujud porselennya dari kehancuran.
Konvoi mobil itu berbelok tajam memasuki sebuah jalan pribadi yang diaspal mulus namun sangat panjang dan tersembunyi.
Di ujung jalan menanjak tersebut, sebuah gerbang baja raksasa berwarna hitam setinggi lima meter berdiri angkuh. Gerbang itu dijaga oleh pos keamanan yang dilengkapi deretan kamera berlensa ganda dan sensor pindai panas.
Setelah petugas keamanan memindai kendaraan, gerbang baja itu terbuka pelan tanpa suara. Mobil melaju masuk ke dalam kawasan Estate pribadi milik Randy Adhitama.
Pemandangan di balik gerbang itu sungguh menakjubkan mata… sekaligus luar biasa mengintimidasi jiwa.
Properti mewah itu berdiri terisolasi di atas tanah berhektar-hektar. Dikelilingi oleh tembok setinggi empat meter dan hutan pinus lebat yang bertindak sebagai benteng alami.
Bangunan utamanya didesain bergaya modern minimalis yang menyatu dengan tebing berbatu. Arsitekturnya didominasi oleh kaca-kaca gelap tahan peluru dan beton ekspos (brutalist architecture) yang memberikan kesan sangat dingin, megah, dan sama sekali tak tertembus dari luar.
Mobil SUV Maya tidak berhenti di lobi bangunan utama. Mobil itu terus melaju dan berhenti di depan sebuah sayap bangunan terpisah di sebelah kiri.
Bangunan itu terpisah sekitar lima puluh meter dari rumah utama, namun terhubung kuat oleh sebuah koridor jembatan kaca tertutup di lantai dua. Ini adalah Paviliun Tamu.
Seorang kepala pelayan rumah tangga, seorang wanita paruh baya berseragam formal rapi yang wajahnya sangat datar tanpa emosi, berdiri menyambut Maya di depan pintu paviliun.
”Selamat datang di Estate, Nona Maya,” sapa pelayan itu tanpa senyum. “Seluruh barang-barang pribadi Anda dari apartemen sudah kami pindahkan dan kami tata dengan rapi di dalam kamar Anda, sesuai dengan instruksi mutlak dari Bapak Randy. Silakan masuk.”
Maya hanya mengangguk pelan. Ia melangkah masuk menapaki lantai kayu ke dalam paviliun tersebut.
Interiornya luar biasa mewah. Namun terasa sangat steril dan tak bernyawa.
Tidak ada foto keluarga yang dipajang. Tidak ada dekorasi yang memancarkan kehangatan sebuah rumah. Hanya ada deretan furnitur kulit berkelas museum, lukisan abstrak dingin, dan pemandangan rimbunnya hutan pinus yang berkabut dari balik jendela kaca raksasa di ruang tamu paviliun.
Maya diantar menaiki tangga melingkar, menuju kamar tidur utama khusus untuknya di lantai dua paviliun tersebut.
Begitu masuk ke dalam kamar, ia melihat dua buah koper besar miliknya telah diletakkan di sudut ruangan dekat sofa. Lemari pakaian kayunya yang terbuka setengah sudah terisi penuh oleh gaun-gaun mahal miliknya yang dipindahkan dari apartemen.
”Saya akan meninggalkan Anda untuk beristirahat dengan tenang. Jika Anda membutuhkan sesuatu atau makanan, cukup tekan tombol interkom merah di samping ranjang Anda. Kami siaga dua puluh empat jam,” ucap pelayan itu dengan nada mesin.
Wanita itu kemudian membungkuk hormat, dan berjalan keluar. Menutup pintu kamar dengan sangat rapat dari luar. Klik.
Maya berdiri sendirian di tengah ruangan kamar yang sunyi senyap itu.
Ia mengembuskan napas panjang. Ia selamat. Ia kini berada di dalam wilayah privasi paling aman di negara ini.
Jarak antara paviliun ini dan bangunan utama tempat Randy Adhitama berada hanya beberapa puluh meter saja. Dari kamarnya ini, ia bisa merasakan sisa-sisa efek radiasi penenang biologis dari pria itu menstabilkan anatomi sel-selnya di udara. Tidak ada rasa gatal. Tidak ada nyeri otot. Semuanya sangat hening.
Maya memutar tubuhnya. Ia berjalan pelan menuju koper berukuran sedang miliknya yang terletak di ujung sofa.
Itu adalah koper kanvas yang sangat khusus. Koper yang ia kunci sendiri dan tidak pernah ia biarkan diurus oleh asisten agensi Kiki. Di dalam koper itulah… ia selalu menyembunyikan tas clutch besar yang berisi kotak hitam matte misterius pembawa nyawa miliknya.
Maya membuka ritsleting koper tersebut. Ia hanya ingin memastikan kotak hitam itu aman tidak terguncang saat perjalanan.
Ia membelah tumpukan sweater rajut dan pakaian dalamnya, merogoh bagian dasar koper.
Tangannya menyentuh permukaan keras bertekstur matte dari kotak tersebut. Maya menariknya keluar dari tumpukan baju.
Namun…
Saat kotak porselen itu berpindah dan terangkat berada di tangannya… sesuatu terasa sangat salah.
Berat dari kotak itu… berbeda.
Saat ia meninggalkan apartemennya tadi pagi menuju kantor Randy, ia ingat betul bahwa dua dari tiga wadah di dalam kotak ini telah kosong total tanpa sisa. Dan satu botol serum darah hanya tersisa sepersepuluhnya.
Kotak ini secara logika seharusnya terasa sangat ringan dan kopong.
Namun saat ini… malam ini… kotak matte di telapak tangannya itu terasa jauh lebih padat dan berat.
Dengan tangan yang mendadak gemetar hebat diiringi hawa dingin di tengkuknya, Maya meletakkan kotak itu di atas ranjang putih. Jantungnya berdetak liar. Udara ber-AC di kamar mewah itu seketika terasa membekukan oksigen di paru-parunya.
Ia menarik segel magnetik kotak itu dengan ujung jarinya hingga berbunyi klik.
Penutup kotak itu terangkat terbuka.
Mata Maya membelalak sangat lebar. Memancarkan kengerian absolut yang seketika mematahkan seluruh sendi kewarasan logisnya. Napasnya terhenti mati di kerongkongan.
Di atas bantalan beludru hitam di dalam kotak itu… wadah-wadah kaca tersebut tidak lagi kosong.
Jar kaca bulat berukuran besar yang ia tahu pasti telah ia korek dan keringkan hingga tetes mutiara terakhir untuk merombak perut dan kakinya tempo hari, kini… telah terisi penuh kembali.
Gel kental berwarna mutiara itu kembali menumpuk penuh hingga nyaris menyentuh bagian dalam tutup logam peraknya.
Namun… ada sebuah perbedaan yang sangat fatal, sinting, dan mengerikan secara visual pada gel tersebut malam ini.
Warnanya tidak lagi seputih mutiara murni yang bercahaya seperti di awal.
Gel kental padat itu kini memiliki sebuah semburat rona merah muda pekat (pinkish hue) yang sangat kotor.
Warna gel itu… terlihat sangat identik dengan warna daging segar manusia yang baru saja dihancurkan, dilumatkan menggunakan mesin, dan dicampur rata menjadi cairan kimia.
Maya terhuyung mundur dengan kasar hingga punggungnya menabrak dinding kamar dengan keras.
Tangannya yang bersuhu es membekap mulutnya sendiri sekuat tenaga, berusaha mati-matian menahan jeritan ngeri yang siap mengoyak pita suaranya.
Sang Dalang gila itu… ternyata tidak hanya tahu di mana lokasi apartemennya berada. Sang Dalang tidak hanya sekadar bisa masuk menembus kamarnya untuk meninggalkan gigi.
Dalang psikopat itu juga mengikuti perpindahan barang-barang pribadinya! Dalang itu berhasil menyusup tanpa jejak ke dalam koper terkunci ini sebelum dipindahkan oleh supir agensi!
Dan yang paling mengerikan… yang paling menghancurkan kewarasannya malam ini…
Dalang itu telah “memberi makan” produk terkutuk ini secara manual! Dalang itu mengisi ulang persediaan kutukan ini secara penuh untuk Maya gunakan.
Mengisi jar gel porselen kosong itu dengan bahan baku daging yang benar-benar baru dan segar.
Bahan baku murni… yang secara absolut… didapat dari hasil ekstraksi pelelehan daging wajah dan lengan Sari… yang tubuhnya ditemukan hancur lebur di gudang belakang mal pagi tadi.
Di dalam benteng miliarder Randy Adhitama yang diklaim sebagai tempat paling aman dan tak tertembus di seluruh Asia ini… di tengah karantina emasnya yang mewah…
Maya menyadari dengan kengerian yang membuat lututnya kehilangan tulang. Ia tidak pernah melarikan diri dari jangkauan monster berdarah dingin.
Ia justru, dengan kesadarannya sendiri… baru saja mengundang dan membawa masuk Sang Dalang pembunuh itu untuk tinggal bersamanya di dalam sangkar megah ini.