Cahaya matahari pagi yang menyilaukan menembus masuk melalui jendela kaca raksasa paviliun tamu.
Sinar keemasan itu jatuh tepat, menyinari sesosok tubuh yang tergeletak diam tak bergerak di atas karpet tebal berbulu putih di tengah kamar tidur.
Maya membuka matanya perlahan.
Kelopak matanya terasa luar biasa berat. Seolah ia baru saja terbangun dari sebuah tidur panjang yang mematikan, yang berlangsung selama seratus tahun di dasar neraka.
Hal pertama yang menyapa kesadarannya pagi itu… bukanlah rasa sakit yang mengoyak-ngoyak otot perutnya seperti semalam. Bukan pula kepanikan liar akan mutasi tumor parasit yang membelah dirinya dari dalam rahim modifikasinya.
Hal pertama yang ia sadari pagi ini adalah… sebuah sentuhan.
Rasa dingin.
Bukan rasa dingin kriogenik yang membekukan tulang dari gel mutiara. Bukan pula rasa dingin hampa dari pasta abu-abu penstabil.
Melainkan, ini adalah suhu dingin yang sangat natural. Suhu dingin alami dari embusan Air Conditioner sentral paviliun, yang menyapu lembut permukaan kulit lengan dan pipinya.
Maya tersentak pelan. Matanya seketika membelalak lebar. Jantungnya berpacu dalam hitungan seketika.
Ia mengangkat tangan kanannya yang telanjang. Dengan napas tertahan, ia menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke atas permukaan lantai kayu jati di dekat batas karpet.
Sensasi itu mengalir masuk! Bagaikan kilat listrik yang menyambar dan menghidupkan kembali seluruh sistem saraf pusatnya yang mati.
Ia bisa merasakan tekstur serat kayu tersebut. Ia bisa merasakan debu halus di atasnya. Ia bisa merasakan suhu dingin dari pelapis lantai yang memoles ujung jarinya.
Dengan napas yang mulai memburu liar karena ketidakpercayaan absolut, Maya mencubit kulit lengan kirinya. Sangat kuat.
”Aw!”
Sebuah rintihan kecil meluncur keluar secara refleks dari bibirnya.
Rasa perih yang sangat nyata, tajam, dan manusiawi merambat naik dari titik cubitannya menuju reseptor rasa sakit di otaknya.
Ia tidak lagi kebas! Ia tidak lagi mati rasa!
Maya buru-buru mendudukkan tubuhnya. Ia menundukkan wajahnya, menatap ngeri ke arah perutnya yang semalam menjadi pusat kengerian absolut.
Gaun sutra burgundy yang ia kenakan semalam ke konservatori kaca, kini kondisinya sangat mengenaskan. Gaun mahal itu kusut masai, kotor, dan robek di beberapa bagian akibat ia bergulingan menahan sakit di lantai.
Namun… di balik kain sutra yang robek di bagian perut itu… tak ada lagi benjolan aneh yang bergerak.
Ia meraba perut bawahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. Ototnya kembali rata, kencang, dan padat.
Tidak ada denyut jantung kedua. Tidak ada pergerakan parasit yang mencari jalan keluar. Semuanya telah hancur. Parasit itu telah dilebur, dibunuh, dan disintesis ulang oleh gel merah muda tersebut.
Maya berdiri dengan gerakan cepat. Ia menatap kedua tangannya sendiri dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyentuh wajah porselennya. Ia mengusap leher jenjangnya. Ia merasakan setiap detail sentuhan jari-jarinya dengan kejernihan sensorik yang sudah berbulan-bulan hilang darinya.
”Aku bisa merasakannya…” bisiknya dengan suara yang bergetar. Ia menyentuh bibir merahnya sendiri. “Tuhan… aku kembali hidup.”
Gel kental berwarna merah muda pucat itu, formula iblis yang disintesis secara brutal dari penderitaan, daging, dan jiwa Sari, ternyata bukanlah sekadar penekan mutasi biasa.
Itu adalah sebuah produk yang telah disempurnakan (upgraded version).
Gel daging itu tidak hanya menghancurkan embrio parasit di perutnya. Zat itu juga secara ajaib merajut ulang seluruh sistem saraf sensoriknya yang mati. Formula itu menghubungkan kembali kulit porselennya dengan otak manusianya. Meruntuhkan dinding isolasi yang selama ini mengurungnya dalam wujud manekin patung.
Maya tertawa pelan.
Tawanya membesar, menggema nyaring di dalam kamar mewah yang luas itu. Ia merasa seolah baru saja dilahirkan kembali. Ia telah memenangkan pertarungan melawan batas biologinya sendiri.
Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu kamar mandi marmer.
Ia melepaskan sisa-sisa gaun burgundy-nya yang hancur, memutar tuas shower air panas, dan membiarkan air mengguyur tubuh telanjangnya.
Sensasi air hangat yang membasuh kulit porselennya membuat Maya memejamkan mata. Ia mendesah panjang penuh kenikmatan yang luar biasa.
Ia bisa merasakan setiap butiran air itu menetes melewati lehernya, turun membelai lekuk punggungnya, dan membasahi kakinya. Ini adalah sebuah kemewahan biologis yang jauh melebihi nilai kontrak miliaran rupiahnya.
Ia berdiri mematung di bawah pancuran selama hampir setengah jam. Merayakan kebangkitan indra perabanya yang telah lama mati.
Selesai mandi, Maya mengenakan sebuah bathrobe berbahan handuk tebal berwarna putih bersih. Ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan kecil yang menghadap ke jendela di paviliunnya.
Di atas meja makan marmer bundar, seorang pelayan wanita muda sedang sibuk menata sarapan pagi.
Menu hari ini adalah roti panggang sourdough dengan alpukat tumbuk, sepotong salmon asap segar, dan secangkir teh chamomile hangat beraroma menenangkan.
Melihat hidangan tersebut… perut Maya langsung bereaksi normal. Air liurnya berkumpul penuh kerinduan di rongga mulutnya.
Maya duduk di kursi makan dengan gerakan yang jauh lebih luwes dan percaya diri dari biasanya.
Ia tidak menunggu pelayan itu selesai menuangkan teh. Ia langsung mengambil sepotong roti panggang itu dengan tangannya, dan menggigitnya dengan gigitan besar.
Renyahnya kulit roti yang terbakar. Creamy-nya alpukat yang gurih. Dan rasa asin asap dari daging salmon mentah itu… meledak di dalam mulutnya bagaikan kembang api.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Kepalanya mendongak ke belakang.
Ini luar biasa. Rasanya kembali! Semua indra pengecapku kembali! batinnya bersorak kegirangan.
Kenikmatan manusiawi yang sempat dirampas habis oleh pasta abu-abu sialan itu… kini telah sepenuhnya direstorasi oleh darah Sari.
Namun… di tengah kunyahannya yang rakus dan penuh gairah itu, ujung mata Maya menangkap sebuah gerakan yang sangat canggung dari sisi mejanya.
Pelayan wanita muda di dekatnya itu tampak gugup. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat teko keramik.
Pelayan itu tak sengaja meneteskan sedikit air teh panas ke atas meja marmer putih, saat sedang menuangkannya ke dalam cangkir Maya. Sebuah noda kecokelatan sebesar koin logam terbentuk di dekat piring makan Maya.
Pelayan muda itu terkesiap kaget. Ia buru-buru mengambil serbet kain dari saku celemeknya untuk mengelap noda tersebut dengan panik.
”M-maaf, Nona Maya… saya sangat ceroboh. Saya kurang hati-hati,” cicit pelayan itu dengan suara bergetar ketakutan.
Dulu, Maya yang asli—gadis cleaning service yang tahu betul bagaimana rasanya membuat kesalahan kecil di tempat kerja dan dimaki atasan pasti akan langsung tersenyum lembut. Ia akan membantu mengelap noda itu, dan berkata bahwa itu bukan masalah besar. Ia sangat tahu ketakutan yang dirasakan oleh seorang pekerja rendahan.
Namun pagi ini… saat Maya menatap noda teh kecil di atas meja pualam itu…
Sebuah reaksi yang luar biasa asing, gelap, dan memuakkan meledak di dalam kepalanya.
Rasa jijik. Rasa muak yang luar biasa pekat terhadap ketidakbecusan kelas bawah.
Mata elang Maya menyipit setajam silet. Ia menghentikan kunyahannya seketika.
Ia meletakkan sisa roti di tangannya dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh penekanan ke atas piring keramik. Sentuhannya menciptakan suara benturan garpu yang sangat mengintimidasi di keheningan ruangan.
”Kamu buta?”
Kata-kata itu meluncur mulus dari bibir merah Maya.
Suaranya tidak membentak. Melainkan mengalun sangat datar, sangat dingin, dan dipenuhi oleh arogansi murni yang meneteskan racun.
Pelayan muda itu membeku kaku di tempatnya. Wajahnya seketika pucat pasi. Tangannya yang sedang memegang serbet gemetar di udara.
”M-maaf, Nona… saya benar-benar tidak sengaja…”
”Aku tidak bertanya apakah kamu sengaja atau tidak,” potong Maya.
Maya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melipat kedua lengannya di dada, lalu menatap pelayan itu dari ujung sepatu hingga ujung kepalanya dengan tatapan yang luar biasa merendahkan.
Tatapan itu persis sama. Sama persis dengan cara seorang mandor kebersihan mal memandang bawahan yang paling dekil.
”Aku bertanya,” cecar Maya, memiringkan kepalanya sedikit. “Apakah matamu itu buta, atau otakmu yang memang terlalu lamban dan miskin gizi untuk sekadar menuangkan teh ke dalam cangkir tanpa berceceran?”
Pelayan itu menunduk dalam. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya. “M-maafkan saya, Nona…”
”Meja ini terbuat dari marmer Italia murni,” kata-kata Maya mengalir dengan kelancaran yang menakutkan, penuh dengan kesombongan kelas.
”Kalau noda teh murahanmu itu membekas di sana… gajimu sepuluh tahun sebagai babu di rumah ini pun tidak akan pernah cukup untuk memolesnya kembali.”
Maya mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan jijik.
”Singkirkan tangan kotormu dari mejaku. Dan panggil kepala pelayan ke sini sekarang juga,” perintah Maya mutlak. “Aku tidak mau melihat wajah udikmu melayaniku lagi hari ini. Keluar.”
Air mata langsung jatuh menetes di pipi pelayan muda itu. Ia membungkuk berkali-kali dengan tubuh gemetar hebat.
”B-baik, Nona. Mohon ampun, Nona. Saya akan panggilkan kepala pelayan.”
Gadis pelayan itu setengah berlari keluar dari ruang makan, menyisakan suara isakan tertahan yang menggema di lorong.
Maya menatap kepergian pelayan itu dengan sebuah senyum miring yang perlahan terukir di sudut bibirnya. Ia mengambil cangkir tehnya, lalu menyesap cairan hangat beraroma bunga itu dengan sangat anggun.
Gadis bodoh. Pekerjaan mudah sebagai pesuruh saja tidak becus, batin Maya mendengus angkuh.
Ia sama sekali tidak merasakan setitik pun rasa bersalah atas kekejamannya barusan.
Sebaliknya, ada sebuah sensasi kepuasan psikologis yang sangat memabukkan mengalir di dalam darahnya saat ia melihat pelayan itu menunduk ketakutan. Ia menikmati dominasi absolut itu. Ia menikmati kekuasaan untuk merendahkan dan menghina orang lain yang berada di bawah kastanya.
Maya tidak menyadari sebuah fakta mengerikan yang terjadi pada jiwanya pagi itu.
Kata-kata yang baru saja ia lontarkan, nada suaranya yang melengking merendahkan, dan senyum miringnya yang sinis penuh ejekan… adalah sebuah replika absolut dari gaya bicara Sari.
Gel merah muda itu tidak hanya memulihkan saraf sensoriknya. Gel itu tidak hanya menyerap penderitaan dan memori terakhir dari eksekusi wanita itu.
Maya, secara harfiah dan biologis, telah menelan dan menyerap esensi dari kepribadian Sari ke dalam struktur otaknya sendiri.
Percikan kesombongan, keangkuhan kelas sosial, dan rasa superioritas palsu untuk menyiksa dari mantan perisaknya itu… kini telah berakar, tumbuh, dan mekar sempurna berdampingan dengan ambisi gelap Maya.
Pukul sepuluh pagi.
Sebuah mobil SUV lapis baja dari agensi memasuki pelataran Estate Bukit Sentul dengan kecepatan agak tinggi.
Kiki melangkah keluar dari mobil dengan wajah yang luar biasa tegang dan bermandi peluh. Pria paruh baya itu berlari kecil melintasi koridor kaca menuju paviliun tamu.
Saat Kiki diizinkan masuk oleh kepala pelayan ke ruang tamu paviliun, ia melihat Maya sedang duduk bersantai di sofa kulit karamel.
Gadis itu mengenakan gaun rumah berbahan sutra merah marun yang elegan. Ia sedang memangku kakinya, sibuk mengoleskan cat kuku berwarna merah terang ke jemari kakinya.
Sebuah warna yang sebelumnya sangat dibenci Maya karena dianggap terlalu mencolok dan kampungan layaknya wanita penghibur. Namun entah mengapa… hari ini warna merah menyala itu terasa sangat cocok dan memuaskan untuknya.
”Maya! Astaga naga, Darling! Kamu lagi ngapain santai-santai ngecat kuku begini?!” seru Kiki panik.
Manajer itu melempar tas desainer besarnya ke atas meja kaca. Pria itu mengacak-acak rambut abu-abunya dengan frustrasi parah.
Maya meniup pelan kuku kakinya yang baru saja dicat.
Ia lalu menoleh ke arah manajernya dengan gerakan leher yang luar biasa anggun, sangat lambat, namun memancarkan intimidasi yang kaku.
”Selamat pagi juga, Kak Kiki,” sapa Maya. Suaranya mengalun sangat datar dan mendikte.
Ia menutup botol cat kuku itu perlahan tanpa memandang wajah pria itu. “Tidak perlu berteriak di ruang tamuku. Aku tidak tuli. Aku sedang menikmati hari liburku di rumah ini. Ada masalah apa sampai Kakak datang ke sini pagi-pagi dengan wajah pucat seperti melihat hantu?”
Kiki menelan ludah dengan susah payah.
Ia sedikit terkejut dengan gaya bahasa Maya yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan merendahkan. Biasanya, Maya akan langsung berdiri, membungkuk sopan, dan bertanya dengan nada khawatir jika Kiki panik.
Pagi ini? Gadis itu tidak beranjak sedikit pun dari posisinya, memperlakukan Kiki layaknya seorang asisten rendahan yang datang mengganggu waktu santai permaisuri.
”Bukan hantu, May, tapi ini lebih gila dari hantu!” Kiki menghempaskan tubuhnya duduk di sofa seberang, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan gemetar. “Kamu belum buka media sosial sama sekali pagi ini?!”
”Kakak tahu aku tidak suka membuang waktuku membaca ocehan sampah dari orang miskin di internet,” jawab Maya dengan sangat enteng, mengangkat sebelah alisnya.
Mata Kiki membelalak lebar.
Ia tidak pernah mendengar Maya yang notabene adalah gadis miskin bulan lalu menyebut kata ‘orang miskin’ dengan nada seangkuh dan senajis itu. Namun Kiki tidak punya waktu untuk membahas perubahan drastis sifat artisnya.
Kiki buru-buru mengeluarkan tablet kerjanya dan menggesernya ke hadapan Maya.
”Kasus Sari, May. Cleaning service yang mukanya ditemuin meleleh hancur di mal tempat kamu kerja dulu,” bisik Kiki. Suaranya ditekan sekecil mungkin seolah ia takut dinding paviliun miliarder ini disadap.
Batin Maya mendengus sinis. Tentu saja ia sudah tahu. Semalam, ia ikut merasakannya saat Sari disiram air keras melalui memori gel itu.
”Beritanya makin gila pagi ini, May,” lanjut Kiki panik. “Polisi udah ngeluarin pernyataan resmi. Ini bukan kecelakaan kerja. Ini diklasifikasikan sebagai pembunuhan terencana dengan metode penyiksaan tingkat tinggi yang sangat sadis.”
Maya melirik sekilas ke arah layar tablet yang menyala.
Layar itu menampilkan tajuk berita portal gosip dengan huruf tebal: TRAGEDI ASAM GRAND ATRIUM: PENYIKSAAN MISTERIUS TANPA JEJAK.
”Lalu? Apa urusannya denganku, Kak?” balas Maya sangat santai.
Ia mengambil kikir kuku dari meja dan mulai merapikan ujung kuku ibu jarinya dengan ritme teratur. “Dunia ini memang penuh orang gila. Gadis cleaning service itu mungkin punya banyak musuh karena mulutnya yang tidak pernah disekolahkan.”
”May! Kok omonganmu sejahat itu, sih?!” Kiki memekik pelan, tak percaya dengan reaksi tanpa setitik pun empati dari gadis yang dulu dikenalnya sangat polos itu. “Gadis itu dulu temen satu kantormu, kan?! Temen satu divisimu! Lagian… urusan bahayanya bukan cuma itu!”
Kiki menunjuk layar tabletnya dengan jari telunjuk yang bergetar.
”Polisi mulai menggeledah loker dan barang-barang pribadi korban di basement mal,” lanjut Kiki, keringat dingin mulai membasahi kerahnya. “Ada rumor bocor dari informan orang dalam kepolisian. Polisi nemuin sebuah buku catatan kecil di lokernya Sari. Dan buku itu isinya… obsesi gila tentang kamu, May.”
Gerakan kikir kuku di tangan Maya terhenti sesaat di udara.
Namun ia segera melanjutkannya dengan ritme yang lebih lambat, menyembunyikan keterkejutannya. “Obsesi tentangku? Apa maksudnya?”
”Iya! Catatan itu isinya tulisan-tulisan aneh dan gila!” cecar Kiki histeris, matanya memancarkan kengerian nyata.
”Katanya Sari ini diem-diam nguntit kamu. Dia nulis soal kamu yang bukan manusia, soal darah warna hitam, soal muka palsu, dan gimana dia mau ngancurin karier kamu ke media!”
Kiki meremas lututnya sendiri.
”Polisi sekarang lagi nyelidiki rekaman CCTV di sekitar lokasi gudang malam kejadian itu. Kalau sampai mereka ngelihat pelat mobil agensi kita, atau nangkep jejak sepatu kamu di sekitar sana… kita semua bisa terseret, May!”
Napas Kiki memburu. “Polisi bisa aja narik opini liar, mikir kalau kamu yang nyewa pembunuh bayaran buat ngebungkam dan nyiksa Sari karena dia ngancem mau nyebar fitnah soal kamu!”
Maya meletakkan kikir kukunya. Berbunyi ting pelan di atas kaca.
Ia menatap Kiki dalam diam selama beberapa detik.
Di dalam kepalanya, sama sekali tidak ada kepanikan yang meledak seperti malam-malam sebelumnya. Otak sosiopatnya yang kini telah diperkuat secara permanen oleh kelicikan, arogansi, dan keberanian dari jiwa Sari bekerja merangkai perhitungan matematis dengan sangat jernih.
”Kak Kiki,” panggil Maya.
Suaranya merendah. Memancarkan dominasi absolut yang membuat Kiki tanpa sadar menahan napas.
”Apakah Kakak melihatku keluar dari apartemenku tadi malam? Atau dua malam yang lalu?”
”E-enggak… semalam kamu di sini terus kan?” jawab Kiki bingung, mencoba mengingat alibi hari itu.
”Tepat sekali,” Maya menyilangkan kaki telanjangnya dengan elegan, menatap manajernya dengan pandangan meremehkan.
”Aku berada di dalam wilayah pribadi Bapak Randy Adhitama sejak sore hari. Dan aku tidak pernah keluar sedetik pun dari paviliun ini. Puluhan kamera keamanan militer dan staf di Estate ini adalah saksi absolutku di pengadilan.”
Maya menyeringai dingin.
”Biarkan saja polisi tolol itu mencari rekaman CCTV di sekitar gudang kumuh itu sampai mata mereka buta. Mereka tidak akan pernah menemukan satu pun jejakku di sana. Karena malam kejadian itu, aku berada tertidur lelap di apartemenku di Jakarta Selatan. Buku catatan berisi karangan orang gila tidak akan pernah bisa dijadikan alat bukti di meja hijau, Kak.”
Maya benar seratus persen.
Malam saat ia secara fisik menghadapi Sari di gudang berkarat itu, adalah malam sebelum ia pindah ke Estate ini.
Ia pergi secara rahasia menggunakan taksi yang ia hentikan di pinggir jalan raya. Ia membayar dengan uang tunai tanpa jejak transaksi bank. Ia mengenakan pakaian gelap tertutup hoodie yang tidak mencolok. Hujan badai malam itu menghapus bersih semua jejak lumpur kakinya. Dan tidak ada satu pun kamera CCTV mal yang mengarah langsung menyorot ke pintu gudang mati tersebut.
”Jadi… berhentilah bertingkah seperti pecundang yang ketakutan, Kak,” titah Maya.
Ia berdiri dari sofanya, berjalan mengintimidasi mendekati Kiki. Ia menundukkan wajahnya, menatap Kiki dari atas.
”Kita berdua punya masalah bisnis yang jauh lebih penting untuk diurus pagi ini, daripada mengurusi sampah yang sudah dibakar oleh orang lain.”
Kiki menelan ludah, terpaku kaku di tempatnya.
Gadis porselen di depannya ini benar-benar terasa asing. Aura intimidasi, ketenangan, dan kekejaman yang dipancarkannya mengingatkan Kiki pada aura bos besarnya, Randy Adhitama. Dingin, angkuh, dan tidak memiliki setitik pun belas kasihan.
”M-masalah apa, May?” tanya Kiki terbata-bata.
”Jadwal kampanyeku bulan ini,” Maya memutar tubuhnya, berjalan menuju meja bar kayu dan menuangkan segelas air putih kristal untuk dirinya sendiri.
”Aku sudah membaca draf kontrak yang Kakak kirimkan pagi ini. Bayaran nilai kontrak dari Lumière Merveille memang sudah naik dua kali lipat secara eksklusif. Tapi… persentase potongan komisi untuk agensi masih di angka tiga puluh persen.”
Maya berbalik menatap tajam. “Itu tidak bisa aku terima.”
”A-apa? Tapi May, itu standar mutlak kontrak agensi di mana pun buat model pendatang baru—”
”Aku bukan model pendatang baru, Kak Kiki. Aku adalah Face of Lumière Merveille,” potong Maya tajam.
Ia menatap manajernya dengan kilatan mata elang yang menyiratkan ketamakan.
”Aku adalah tambang emas kalian. Tanpa wajahku, agensimu hanya akan kembali mengurusi model-model operasi plastik murah yang membosankan. Aku ingin potongan agensi diturunkan secara drastis menjadi lima belas persen. Efektif mulai hari ini.”
Maya mengangkat gelas airnya. “Dan aku tidak mau lagi menggunakan trailer gabungan saat syuting outdoor. Aku ingin trailer VVIP pribadiku sendiri. Ukuran penuh, dengan AC yang tidak berbunyi berisik seperti mesin giling.”
Kiki menganga lebar. Tuntutan sepihak itu sangat tidak masuk akal untuk seseorang yang baru berkarier kurang dari dua bulan. Itu adalah tuntutan seorang Diva kelas A yang sudah malang melintang selama sepuluh tahun di industri.
”May, kamu nggak bisa nuntut begitu aja! Manajemen pusat pasti bakal nolak, mereka—”
”Oh, mereka akan menerimanya, Kak,” seringai Maya tanpa ragu sedikit pun.
”Atau… haruskah aku menelepon Randy Adhitama secara personal siang ini? Aku bisa memintanya untuk membatalkan seluruh kerja sama perusahaannya dengan agensimu. Lalu memindahkanku secara eksklusif ke manajemen internal perusahaannya sendiri?”
Ancaman itu adalah sebuah skakmat.
Maya menggunakan nama sang miliarder sebagai palu godam untuk menghancurkan posisi tawar Kiki.
Kiki terdiam kaku. Ia tahu persis bahwa Randy Adhitama bisa melakukan hal itu dengan sangat, sangat mudah. Jika Maya merajuk pada bos besar yang memujanya itu, agensi Kiki bisa langsung gulung tikar besok pagi karena pemutusan kontrak paksa.
Kiki menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali total atas gadis yang selama ini ia anggap sebagai ‘boneka penurutnya’ ini. Boneka porselen itu kini telah memiliki taring berbisa, dan ia tidak segan-segan untuk menggigit putus tangan yang memberinya makan.
”B-baik. Eike… eike bakal urus revisi angka kontraknya hari ini juga ke pihak legal pusat,” Kiki menunduk kalah total. Suaranya terdengar sangat lelah dan ketakutan akan kehilangan ladang uangnya.
Ia buru-buru memasukkan tabletnya ke dalam tas. “Eike balik ke kantor Jakarta dulu, May. Kamu… kamu istirahat aja yang tenang di sini.”
”Bagus,” jawab Maya dingin.
”Ingat, Kak. Pastikan jangan ada satu pun media yang berani mengaitkan namaku dengan gadis udik yang mati itu. Bersihkan semuanya, atau Kakak yang akan kubersihkan.”
Maya memberikan perintah akhir tanpa repot-repot berdiri untuk mengantarkan Kiki ke pintu keluar.
Kiki bergegas berlari keluar dari paviliun itu layaknya orang yang sedang melarikan diri dari kandang singa betina yang terbangun.
Sepeninggal Kiki, Maya tersenyum puas sendirian.
Ia menatap kukunya yang berwarna merah menyala. Perasaan berkuasa ini benar-benar luar biasa. Ia tidak lagi peduli pada nasib siapa pun. Empati adalah kelemahan, dan ia baru saja mencabut sisa kelemahan itu dari akar-akarnya.
Sore harinya. Pukul lima sore.
Hujan rintik-rintik sisa badai kembali mengguyur kawasan perbukitan Sentul. Cuaca muram itu menyelimuti hutan pinus di luar dengan kabut putih yang sangat tebal, mengisolasi Estate dari peradaban.
Maya sedang duduk bersantai di depan meja rias di kamarnya.
Ia sedang telaten memoleskan lipstik mahal berwarna merah menyala ke bibirnya. Gerakan tangannya sangat presisi. Ia menatap pantulannya di cermin besar.
Tiba-tiba… ia menyadari sesuatu yang sangat janggal secara psikologis.
Cara tangannya memegang tabung emas lipstik itu… cara ia mengangkat jari kelingkingnya sedikit ke atas saat mengoleskan warna… itu bukanlah kebiasaannya. Seumur hidupnya, Maya selalu memegang lipstik murahan dengan canggung menggunakan seluruh kepalan jarinya. Cara memegang yang sok elegan namun agak berlebihan dan kampungan ini… ini adalah gaya spesifik yang selalu dilakukan oleh Sari setiap kali wanita itu bersolek memoles bibir di depan kaca toilet basement mal.
Bukan hanya itu. Maya baru menyadari bahwa sejak tadi pagi, tanpa ia sadari sedikit pun… otaknya terus menyenandungkan sebuah nada lagu dangdut koplo patah hati yang sangat spesifik. Sebuah lagu murahan yang selalu diputar berulang-ulang oleh Sari dari ponselnya saat sedang mengepel koridor.
Mata elang Maya menyipit tajam menatap bayangannya sendiri di cermin.
”Kau benar-benar ada di dalam sini, kan?” bisik Maya pelan pada pantulannya sendiri.
Ia menyentuh pipinya dengan kuku merahnya. “Rasa sombong ini… kelakuan kasar pada pelayan rendahan tadi… ini semua adalah milikmu, Sari.”
Ajaibnya, tidak ada nada ketakutan dalam suaranya. Hanya ada rasa ingin tahu yang sangat dingin.
Jika jiwa Sari memang telah menyatu secara permanen dengan jaringannya melalui perantara gel merah muda itu… Maya sama sekali tidak berniat untuk mengusirnya. Ia justru menikmati peningkatan kepribadian ini.
Kepolosan dan ketakutan Maya yang lama terlalu lemah untuk bertahan hidup di dunia kejam ini. Sifat arogan, agresif, dan dominasi murni dari sisa jiwa Sari… adalah senjata mental yang sangat sempurna untuk melengkapi wajah bidadarinya di depan publik.
Tepat saat ia merapatkan bibirnya untuk meratakan warna lipstik, sebuah bunyi ketukan halus terdengar dari pintu utama kamarnya.
”Masuk,” perintah Maya tanpa menoleh sedikit pun.
Pintu terbuka. Kepala pelayan wanita yang berwajah datar tanpa emosi itu melangkah masuk. Ia berhenti sopan di ambang pintu, dan membungkuk dalam.
”Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Nona Maya. Bapak Randy telah tiba dari Singapura tiga puluh menit yang lalu dengan helikopter,” lapor pelayan itu dengan nada formal.
Mendengar nama Randy disebut, jantung Maya refleks berdegup sedikit lebih cepat.
Sebuah reaksi kimiawi yang campur aduk. Antara rasa rindu dari sel tubuhnya yang kecanduan perlindungan biologis feromon pria itu, dan percikan gairah dari sisa-sisa sisi manusiawinya yang menunduk pada sang raja.
”Apakah beliau memintaku untuk segera menemuinya di ruang makan utama?” tanya Maya. Ia mulai berdiri dari kursi rias dan merapikan gaun sutra marunnya.
”Tidak, Nona,” jawab pelayan itu cepat. “Bapak Randy baru saja memerintahkan saya untuk memberikan sebuah telepon kepada Anda. Beliau ingin berbicara secara langsung dari ruang kerjanya.”
Pelayan itu melangkah maju. Ia menyodorkan sebuah ponsel satelit berlapis titanium hitam tebal yang terlihat sangat berat, rahasia, dan aman dari penyadapan sinyal apa pun dari luar.
Maya mengerutkan keningnya bingung.
Mengapa Randy harus meneleponnya menggunakan ponsel satelit rumah, padahal mereka berdua saat ini berada di satu properti Estate yang sama? Kenapa pria itu tidak menemuinya langsung, atau memanggilnya ke bangunan utama seperti biasa?
Dengan sedikit ragu dan kewaspadaan, Maya mengambil ponsel yang terasa dingin itu. Ia menempelkannya ke telinganya.
”Halo? Randy?” sapa Maya.
Suaranya tanpa sadar kembali melembut. Ia secara insting menanggalkan keangkuhan jiwa Sari yang sedari tadi meracuninya. Di hadapan sang predator alfa ini, insting Maya tahu ia harus bersikap sebagai pihak yang dilindungi dan patuh.
Hening sejenak dari ujung sana. Hanya terdengar suara embusan napas pria yang sangat berat dan statis (desis) elektronik satelit yang halus.
“Kau… terlihat sangat menikmati taring barumu yang tumbuh hari ini, Maya.”
Suara bariton Randy yang dalam, serak, dan berbahaya mengalun dari speaker ponsel itu. Frekuensi suaranya mengirimkan getaran yang langsung menyetrum tulang belakang Maya.
Maya tertegun kaku. Kalimat Randy barusan… bagaimana pria itu bisa tahu?
Bagaimana Randy tahu bahwa ia baru saja membentak pelayan hingga menangis dan mengancam manajernya dengan sangat arogan pagi ini? Padahal pria itu baru saja mendarat dari luar negeri setengah jam yang lalu!
”Apa maksudmu, Randy? Aku tidak mengerti,” jawab Maya, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil dan inosen.
“Pelayan muda yang kau bentak hingga menangis pagi tadi di ruang makan. Dan manajer yang kau peras kontraknya secara agresif siang ini,” suara Randy mengalir tanpa emosi.
Layaknya seorang dalang jenius yang sedang membacakan catatan pengamatannya terhadap seekor tikus putih di dalam labirin kacanya.
“Kau menggunakan namaku sebagai ancaman frontal… untuk mendapatkan apa yang kau mau, Maya.”
Darah Maya berdesir sangat dingin. Pria ini memonitor segalanya secara absolut. Seluruh staf di tempat ini melaporkan setiap tarikan napas dan gerakan bibirnya kepada sang CEO tanpa terkecuali.
”Mereka tidak pantas mendapatkan rasa hormatku, Randy,” jawab Maya defensif, mencoba menyeimbangkan dominasi psikologisnya agar tak terlihat ciut.
”Kau sendiri yang bilang padaku malam itu, bahwa dunia ini penuh dengan ular berbisa. Aku hanya memastikan posisiku aman dan dihargai. Apakah kau keberatan aku menggunakan namamu sebagai perisai?”
Sebuah tawa rendah dan luar biasa gelap terdengar bergetar dari ujung telepon. Tawa yang sangat menawan, namun sukses membuat seluruh bulu kuduk di leher Maya merinding ngeri.
“Sama sekali tidak, Sayangku,” balas Randy dengan nada puas. “Aku justru sangat menyukai ambisimu yang mulai liar. Sifat dominan dan kejam… sangat cocok dipadukan dengan kesempurnaan struktur tulang porselenmu.”
Suara Randy tiba-tiba menajam, mengiris seperti pedang es.
“Tapi… ingatlah satu hal ini baik-baik, Maya.” Ancaman itu diucapkan dengan pelan. “Kau bisa menggonggong pada siapa pun di dunia luar sana. Kau bisa menginjak siapa pun yang kau mau di industri ini. Tapi… jangan pernah lupa, siapa yang memegang dan mengendalikan rantai di lehermu.”
Peringatan itu dilontarkan dengan kelembutan yang sangat mematikan. Sebuah ancaman kepemilikan absolut yang diselubungi oleh pesona gentleman.
”Aku… aku tidak akan melupakannya, Randy,” bisik Maya, tubuhnya menegang menerima perintah itu.
“Bagus,” jawab Randy singkat dan mematikan. “Aku masih memiliki banyak ratusan laporan yang harus diselesaikan malam ini, terkait ledakan di fasilitas rahasiaku. Aku tidak akan menemuimu malam ini. Tetaplah di paviliunmu, jangan berkeliaran keluar.”
”T-tunggu, Randy,” cegah Maya cepat dengan suara panik, sebelum pria itu memutuskan sambungan.
Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Rasa butuhnya akan kehadiran fisik pria itu di dekatnya malam ini sangat besar.
”Hanya itu? Kau tidak ingin melihatku sama sekali setelah dua hari pergi meninggalkanku?”
“Absennya kehadiranku… akan melatih ketahanan sel biologismu, Maya,” balas Randy dengan sebuah kalimat yang membuat lambung Maya dipelintir tanda tanya. “Nikmati malammu. Dan… sampaikan salamku untuk tamu barumu malam ini.”
Klik. Sambungan diputus sepihak oleh sang miliarder.
Maya menurunkan ponsel satelit itu perlahan. Jantungnya bergemuruh liar tak beraturan.
Tamu barumu? Apa maksudnya dengan tamu baru?! Ia tidak mengundang siapa pun hari ini ke Sentul! Kiki sudah kembali ke Jakarta berjam-jam yang lalu dan tidak ada jadwal lain.
Maya menoleh patah-patah ke arah kepala pelayan yang masih berdiri kaku seperti robot di dekat pintu kamarnya.
”Siapa… siapa yang sedang berkunjung ke rumah ini?!” tanya Maya dengan nada panik. Aura keangkuhan Sarinya hancur berkeping-keping dalam sedetik, digantikan oleh teror murni.
Pelayan itu menundukkan pandangannya dengan sikap tenang.
”Sesuai dengan protokol keamanan Bapak Randy, ada sebuah bingkisan paket yang dikirimkan secara anonim siang tadi ke kantor pusat agensi Anda di Sudirman, Nona Maya.”
Maya berhenti bernapas.
”Bapak Randy, yang sedang memantau dari jauh, memerintahkan staf keamanan kami untuk segera mencegat bingkisan mencurigakan itu,” lanjut pelayan itu tanpa emosi.
”Tim keamanan mengambilnya secara paksa dari staf agensi, dan membawanya langsung kemari menggunakan helikopter setelah dipindai dengan aman di ruang screening bom.”
”B-bingkisan apa yang mereka bawa?!” desak Maya histeris, melangkah maju mendekati pelayan tersebut dengan mata membelalak.
”Sebuah kotak kayu berukuran kecil, Nona,” jawab pelayan itu datar. “Staf keamanan telah meletakkannya di atas meja… di ruang kerja pribadi Anda di ujung paviliun sebelah.”
”Saya undur diri,” pamit pelayan itu, menunduk, dan berbalik keluar, meninggalkan Maya sendirian dalam kengerian yang kembali mencekik lehernya.
Maya membuang ponsel satelit itu ke ranjang. Ia setengah berlari keluar dari kamar tidurnya dengan kaki telanjang. Ia menyusuri lorong paviliun yang sepi, menuju ruang kerja kecil yang jarang ia gunakan di sudut bangunan.
Napasnya memburu liar. Pikirannya berteriak ngeri.
Sang Dalang gila yang mengeksekusi Sari itu… ternyata tidak berhenti! Jika sosok tak berwajah itu berani mengirimkan paket anonim menembus kantor pusat agensi di siang bolong, itu berarti ia terus mengikuti jejak Maya tanpa lelah.
Dan Randy… pria miliarder itu… pria itu mengetahui keberadaan paket tersebut! Ia mencegatnya dan dengan sengaja membawanya masuk ke dalam Estate ini.
Apakah Randy tahu isi paket mengerikan itu? Ataukah Randy memang dengan sengaja sedang mempermainkan psikologis Maya layaknya seekor tikus lab percobaan?!
Maya menerobos masuk ke dalam ruang kerja yang gelap gulita. Tangannya meraba dinding, menekan saklar lampu dengan kasar. Klik.
Lampu kristal di tengah ruangan menyala terang benderang.
Di atas meja kayu ek yang mewah, tepat di tengah-tengahnya, terdapat sebuah kotak kayu kecil berukuran sekitar sepuluh sentimeter persegi.
Kotak kayu itu tidak diikat dengan pita sutra. Kotak itu terlihat kusam, kuno, dan dikunci dengan sebuah kait logam kuningan yang berkarat.
Maya berjalan perlahan. Ia mendekati meja kayu tersebut layaknya seorang penjinak bom yang sedang mendekati sebuah peledak nuklir aktif yang bisa menghancurkan dunia.
Tangan kanannya yang gemetar hebat terulur ke depan. Ia menyentuh kait logam berkarat itu. Lalu menariknya ke atas.
Klik. Dengan sisa serpihan keberanian yang ia miliki, Maya mengangkat tutup kotak kayu tersebut secara perlahan.
Saat pandangan mata elangnya jatuh lurus ke dalam isi kotak tersebut… lutut Maya seketika kehilangan seluruh otot dan tenaganya.
Ia merosot jatuh. Ia harus mencengkeram tepi meja kayu ek itu kuat-kuat agar tubuhnya tidak jatuh pingsan ke lantai parket.
Matanya membelalak selebar mungkin. Memancarkan sebuah teror visual paling murni, paling absolut, dan paling menjijikkan yang pernah dirasakan oleh umat manusia.
Di dalam kotak kayu yang dilapisi kain beludru hitam kotor itu… tidak ada surat ancaman dari kertas linen. Tidak ada foto billboard yang dicoret-coret darah. Tidak ada gigi geraham berdarah.
Yang tergeletak diam di dalam sana… diawetkan mengambang di dalam sebuah tabung kaca kecil berisi cairan formalin bening… adalah sebuah bola mata manusia.
Sebuah bola mata utuh.
Lengkap dengan sisa-sisa urat saraf optik merah yang terpotong dan tercabut sangat kasar di bagian belakangnya. Bola mata itu berwarna putih kusam, seolah telah kehilangan semua cahayanya setelah daging wajah di sekitarnya dilelehkan oleh zat asam klorida mematikan semalam.
Dan yang paling mengerikan… yang menghentikan detak jantung Maya secara mutlak…
Warna iris mata (selaput pelangi) yang mengambang di tabung itu… adalah warna cokelat pudar yang sangat, sangat spesifik dan tak asing.
Warna iris mata yang sama persis… dengan mata yang selalu menatap Maya dengan kebencian dan hinaan setiap hari selama bertahun-tahun di basement mal.
Itu adalah bola mata milik Sari.
Sang Dalang psikopat ini… telah mengirimkan potongan tubuh korban transmutasinya secara live, menembus langsung ke dalam benteng perlindungan Maya yang berlapis baja.
Sebuah peringatan gaib nan absolut.
Menyatakan bahwa sejauh apa pun Maya berlari bersembunyi… setebal apa pun dinding beton kekuasaan seorang miliarder yang melindunginya… Maya tidak akan pernah bisa bersembunyi dari incaran iblis yang menagih sisa dagingnya.
Tiba-tiba… saat Maya sedang terpaku membeku dalam horor.
Sebuah rasa gatal yang sangat dalam, sangat mengganggu… sebuah gatal ganjil yang berasal dari memori jiwa Sari yang ia serap semalam… meledak gila-gilaan di dalam tenggorokan Maya.
Maya terbatuk hebat. Sangat keras dan berdahak.
Ia mundur menjauhi meja, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia terbatuk menyiksa hingga tubuh kurusnya melengkung ke depan.
Perutnya berkontraksi dengan brutal dari dalam. Sesuatu yang terasa sangat basah, padat, dan menyumbat jalan napasnya… meronta merayap naik dari pangkal kerongkongannya menuju rongga mulutnya.
Ia batuk sekali lagi dengan suara menggelegak, dan memuntahkan isinya. Ia membuka telapak tangannya yang gemetar di depan mulutnya.
Dari dalam mulut porselennya yang sempurna… bukan dahak atau ludah bening yang keluar menetes.
Maya baru saja memuntahkan sebuah gumpalan rambut panjang berwarna hitam kelam.
Gumpalan rambut itu basah kuyup oleh liur kental dan cairan darah hitam. Sebuah gumpalan rambut lurus milik Sari… yang secara tak masuk akal… telah tumbuh dan berkembang biak dari dalam dinding lambung Maya.
Rambut panjang itu menolak untuk dicerna oleh enzim lambung. Ia terus tumbuh memanjang, berusaha mencekik Maya dari dalam tubuhnya sendiri.
Menjadi sebuah saksi bisu nan mengerikan dari kebangkitan horor masa lalu… yang kini benar-benar hidup dan bersemayam abadi di dalam tubuh porselen sang supermodel.