Angin malam berembus membawa hawa dingin yang langsung menusuk hingga ke sumsum tulang.
Maya berjalan menyusuri jalanan aspal yang rusak menuju area perkampungannya. Di sebuah pos ronda yang ia lewati, jam dinding lusuh yang menempel di tiang kayu menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat malam.
Ketakutannya akan kemarahan Mandor Joko dan ancaman pemecatan dari Bu Ratna membuat Maya dan Rani mempercepat pekerjaan mereka secara gila-gilaan tadi. Mereka berdua menyapu sisa-sisa kemewahan panggung VVIP itu dengan sisa tenaga yang dipaksakan hingga melampaui batas maksimal fisik manusia.
Beruntung, setelah Rani berpisah dan naik angkot lebih dulu ke arah rumahnya, Maya menemukan seorang bapak ojek pangkalan yang berbaik hati mau mengantarnya sampai ke depan mulut gang dengan tarif seadanya yang tersisa di dompetnya.
Langkah sepatu bot karet Maya di dalam gang sempit itu terdengar bergema pelan.
Tap… tap… tap…
Tidak ada siapa-siapa di luar sana. Warga perkampungan padat itu sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Hanya ada seekor kucing kurus berwarna belang yang sedang mengais tumpukan tempat sampah. Kucing itu menoleh sekilas ke arah Maya, matanya menyala kuning tertimpa cahaya bulan, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan urusannya mencari sisa makanan.
Kedua tangan Maya mencengkeram erat tali tas ransel kanvasnya yang sengaja ia silangkan di depan dada. Ia memeluk tas itu layaknya seorang ibu memeluk bayinya di tengah badai.
Tas ransel itu terasa sepuluh kali lipat lebih berat dari biasanya.
Bukan karena beban fisiknya yang bertambah. Melainkan karena beban moral yang luar biasa pekat dari benda asing yang kini bersembunyi di baliknya.
Setiap kali ransel itu berayun seiring langkahnya dan berbenturan pelan dengan dadanya, Maya bisa merasakan sebuah sensasi dingin dan kaku yang menembus kain. Rasa dingin dari kotak hitam tersebut. Seolah-olah, benda itu memiliki denyut nadinya sendiri yang beresonansi dengan detak jantung Maya yang memburu liar.
Aku mencuri. Ya Tuhan… aku baru saja membawa pulang barang yang bukan milikku, batinnya terus berteriak panik.
Kalimat itu berputar-putar seperti kaset kusut di dalam kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Rasa bersalah mulai mencabik-cabik nuraninya yang selama ini ia jaga kebersihannya.
Keringat dingin mengalir menuruni pelipisnya, bercampur dengan debu sisa pekerjaan yang menempel di wajahnya.
Maya berjalan dengan setengah menunduk, namun matanya terus bergerak liar. Ia sering kali menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah, digerogoti oleh paranoia yang tiba-tiba merajai otaknya.
Ia merasa seolah ada sepasang mata tajam milik pria asing berjas tadi yang sedang mengawasinya dari balik bayang-bayang tiang listrik. Ia merasa seolah mobil patroli polisi dengan sirine menyala akan tiba-tiba muncul dan menyergapnya di ujung jalan berbatu ini.
Namun, setiap kali ia menoleh, gang itu tetap kosong, bisu, dan sunyi.
Sesampainya di depan pintu rumahnya yang terbuat dari tripleks tipis yang sudah mengelupas di bagian bawahnya, Maya menelan ludah. Kerongkongannya terasa sangat kering.
Tangannya gemetar hebat saat ia mengambil anak kunci dari sakunya. Ia harus mencoba tiga kali sebelum akhirnya ujung kunci yang berkarat itu berhasil masuk ke dalam lubang gemboknya.
Cklek.
Gembok besi itu terbuka. Maya melepaskannya, lalu mendorong pintunya perlahan.
Pintu berderit panjang, menampakkan ruangan sempit yang hanya diterangi oleh pendaran lampu neon lima watt yang temaram kekuningan.
Udara di dalam kontrakan itu terasa sangat pengap dan menyedihkan. Sebuah perpaduan antara bau dinding batako yang lembap, aroma minyak angin gosok, dan bau obat-obatan generik murah yang sudah sangat melekat di udara.
Aroma ini sangat, sangat kontras dengan wewangian mawar impor dan parfum musk mahal di koridor mal beberapa jam yang lalu. Seolah Maya baru saja terjun bebas dari awan kemewahan ke dasar jurang kemelaratan.
Maya melangkah masuk dengan cepat. Ia menutup pintu itu tanpa suara, dan segera memutar gerendel kayunya hingga berbunyi klik.
Tidak cukup sampai di situ, didorong oleh ketakutan irasionalnya, Maya menarik sebuah kursi kayu reyot dari area dapur. Ia meletakkan kursi itu tepat di bawah gagang pintu, mengganjalnya dari dalam. Sebuah tindakan kepanikan dari seseorang yang menyadari bahwa dirinya kini adalah seorang buronan nurani.
Setelah memastikan pintunya terkunci rapat, Maya menyandarkan punggungnya ke dinding di sebelah pintu. Ia memejamkan matanya erat-erat dan menghela napas panjang yang sangat bergetar.
”Aku udah sampai rumah… aku aman… aku aman,” bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar menyakitkan.
Dari balik tirai kain pudar yang membatasi area ruang tamu dan area tidur, terdengar sebuah suara pergerakan.
Suara napas yang berat dan serak, diikuti oleh gesekan selimut. Itu ibunya.
”Maya…?”
Suara ibunya terdengar sangat lemah dan parau memanggil namanya.
Maya seketika membuka matanya. Ia bergegas melepaskan sepatu bot karetnya yang kotor. Ia menaruh tas ranselnya yang berisi barang curian itu dengan sangat, sangat hati-hati di atas meja semen di area dapur. Ia tidak ingin menghasilkan bunyi benturan sedikit pun.
Setelah tasnya aman, Maya berjalan mengendap-endap mendekati batas tirai.
”Iya, Bu. Ini Maya,” jawab Maya dengan nada yang langsung dilembutkan, menyembunyikan segala kepanikannya. Ia menyibak tirai itu sedikit dan melangkah masuk ke area ranjang.
Ibunya sedang berbaring miring menghadap ke arahnya. Selimut tipis ditarik hingga sebatas leher.
Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, wajah ibunya masih terlihat sepucat kapas. Tulang pipinya menonjol menyedihkan. Namun, yang membuat Maya bisa bernapas lega adalah, setidaknya tidak ada noda darah segar yang baru di sudut bibir wanita itu seperti malam yang lalu.
Di atas nakas kayu di samping ranjang, terdapat segelas air putih yang isinya tinggal setengah. Botol obat antibiotik dan obat penahan pendarahan posisinya sudah bergeser dari tempat asalnya, menandakan bahwa Bu Ningsih telah benar-benar memenuhi janjinya untuk membantu meminumkan obat malam ini.
”Kok baru pulang, Nduk?” tegur ibunya dengan suara yang putus-putus. “Bude Ningsih nungguin kamu sampai ketiduran tadi di kursi. Terus jam duabelas Bude pulang karena Pak Agus udah jemput.”
Maya duduk di pinggiran kasur dengan perlahan. Ia mengambil tangan ibunya yang terasa sedingin es, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya yang kasar.
”Iya, Bu. Maaf Maya pulangnya telat banget hari ini,” Maya menelan ludah, memaksa bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman kecil. “Tadi di mal tiba-tiba ada pengumuman lembur wajib, Bu. Manajemen nyuruh semua anak sif pagi buat bersihin sisa panggung acara. Kalau nggak diikutin, besok gajinya bisa dipotong.”
Ibunya menghela napas panjang, menatap wajah kuyu putrinya dengan tatapan yang memancarkan rasa bersalah yang tak pernah usai. Tangan keriputnya membelai pipi kiri Maya.
”Kasihan kamu, Nduk. Badanmu sampai kurus begini kerja rodi tiap hari. Kamu pasti capek banget kan?” bisik ibunya, matanya mulai berkaca-kaca. “Makan malammu gimana? Udah makan belum di sana?”
”U-udah kok, Bu,” Maya berbohong lagi, mengabaikan perutnya yang kembali melilit perih. “Tadi sore Maya makan nasi bungkus di kantin bareng Rani. Ibu sendiri gimana? Ibu udah makan buburnya Bude Ningsih?”
Ibunya mengangguk pelan. “Udah. Bude-mu nyuapin Ibu telaten banget. Obatnya juga udah Ibu minum semua. Batuk Ibu udah mendingan, Nduk. Nggak sakit lagi dadanya.”
Melihat dada ibunya yang naik turun dengan ritme yang meski lemah namun teratur itu, pertahanan Maya nyaris runtuh. Air mata langsung menggenang di kelopak matanya. Rasa bersalah karena telah mencuri tadi kembali menghantamnya seperti ombak pasang, namun di saat yang sama, ia merasa lega karena ibunya masih bernapas.
”Syukurlah kalau Ibu udah mendingan,” isak Maya pelan, menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh punggung tangan ibunya.
”Lho, kok malah nangis toh, May?” ibunya mengusap rambut Maya dengan lemah. “Ibu nggak apa-apa. Jangan nangis, nanti cantiknya hilang.”
Cantik? Kata itu terasa seperti sebuah ejekan di telinga Maya. Ia tahu dirinya jauh dari kata cantik. Ia miskin, kusam, dan dekil. Dan karena alasan itulah dunia ini selalu menginjaknya tanpa ampun.
Maafkan Maya, Bu, bisik Maya di dalam hatinya yang kelam, suaranya tercekat oleh isakan yang tertahan di tenggorokan. Maya mencuri hari ini. Maya sudah melanggar sumpah dan janji Bapak. Tapi Maya bener-bener nggak punya pilihan lain. Maya cuma mau Ibu sembuh. Maya nggak mau Ibu mati.
Maya mengangkat wajahnya, mengusap air matanya dengan lengan seragam birunya. Ia memaksakan tawanya agar ibunya tidak curiga.
”Maya cuma terharu aja, Bu. Bude Ningsih baik banget sama kita. Nanti gajian Maya mau beliin martabak kesukaan Bude buat balas budi,” ucap Maya menutupi kebohongannya.
”Iya, Nduk. Kita banyak hutang budi sama keluarga Pak Agus,” ibunya tersenyum tipis, matanya mulai sayu karena efek kantuk dari obat yang keras. “Yaudah, kamu sekarang mandi yang bersih, terus langsung tidur ya. Jangan begadang. Besok pagi kamu harus berangkat kerja lagi kan?”
”Iya, Bu. Ibu tidur lagi ya. Mimpi yang indah.”
Maya membelai ujung selimut ibunya, merapikannya hingga menutupi bahu wanita tua itu. Ia menunggu selama lima menit dalam diam, mengusap punggung ibunya dengan ritme yang pelan dan menenangkan, hingga akhirnya tarikan napas ibunya berubah menjadi dengkuran halus pertanda ia telah terlelap kembali.
Setelah memastikan ibunya benar-benar sudah tidur pulas, Maya berdiri perlahan. Ia mundur dengan langkah berjingkat dan menutup kembali tirai kain tersebut.
Kini, di tengah kesunyian malam yang hanya dipecahkan oleh suara detik jarum jam dinding yang berdetak monoton, Maya akhirnya sendirian.
Tidak ada Bu Ratna. Tidak ada Sari. Tidak ada Rani. Dan ibunya sedang tertidur.
Hanya ada dia, dinding yang berjamur, dan sebuah rahasia kelam yang menunggu di dapur.
Maya mencuci tangan dan wajahnya yang penuh debu proyek di wastafel kecil. Air keran yang dingin sedikit membantu menyegarkan pikirannya. Ia mengambil handuk kecil, mengeringkan wajahnya, lalu berjalan mendekati meja beton.
Di atas meja yang catnya sudah mengelupas itu, tas ransel kanvas lusuhnya tergeletak diam.
Maya menatap tas itu selama beberapa detik. Jantungnya kembali bergemuruh liar. Rasa takut, penasaran, dan keputusasaan melebur menjadi satu emosi yang tak bisa dijabarkan.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Maya menarik tuas resleting tas ranselnya.
Suara sreett dari resleting itu terdengar sangat nyaring di telinganya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam tas. Ia menyingkirkan gulungan kaus kotor, jaket parasitnya, dan seragam ganti yang ia gunakan sebagai penyamaran.
Di bagian paling dasar tas tersebut, benda bersuhu es itu menunggunya.
Maya menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya untuk menenangkan sarafnya, lalu mengangkat kotak hitam itu keluar.
Begitu kotak eksklusif itu diletakkan di atas meja beton yang kusam, kontras yang ditimbulkan langsung terlihat menyakitkan mata.
Meja beton itu dipenuhi noda cipratan kecap yang sudah mengering dan menghitam, retakan semen di ujung-ujungnya yang memperlihatkan bata merah, dan sebuah kompor gas satu tungku yang berkarat parah di sebelahnya. Semuanya adalah representasi kemiskinan yang absolut.
Sementara kotak itu… kotak itu adalah definisi fisik dari sebuah kemewahan kelas dewa.
Di bawah cahaya lampu neon kuning yang berkedip-kedip redup, permukaan hitam matte kotak tersebut tampak menyerap semua cahaya, seolah ia menolak untuk membaur dan berinteraksi dengan kemiskinan di ruangan itu. Ia berdiri angkuh. Emblem logam peraknya berkilat pelan saat tertimpa cahaya.
Maya menarik satu-satunya kursi plastik yang tersisa di dapur. Ia duduk, menopang dagunya dengan sebelah tangan, berhadapan langsung dengan benda bernilai fantastis tersebut.
Rasa penasaran kembali menguasai seluruh pembuluh darahnya. Tadi di bawah panggung, ia sedang dikejar waktu dan diburu kepanikan, sehingga ia tidak punya kesempatan untuk melihatnya dengan jelas.
Kini, dengan gerakan yang jauh lebih lambat, lebih rileks, dan penuh kehati-hatian, ujung jari telunjuk Maya menyentuh segel magnetik di sisi samping kotak.
Klik.
Segel itu terlepas. Suara hisapan udara vakum yang pelan
ssshhh
kembali terdengar, menandakan segel hampa udara itu telah dibuka.
Tutup kotak itu terangkat ke atas.
Bantalan beludru hitam yang melingkupi tiga wadah kaca di dalamnya terlihat sangat empuk dan pekat. Beludru itu jauh lebih lembut dan lebih tebal dari bantal tidur kapuk mana pun yang pernah Maya miliki seumur hidupnya.
Satu botol kaca tinggi ramping, dan dua jar kaca bulat yang memipih.
Ketiganya tertata dengan sangat rapi, elegan, dan menakjubkan. Tidak ada sehelai debu atau sidik jari pun yang menempel di permukaannya. Benar-benar sangat bersih dan steril. Tidak ada label kertas, tidak ada tulisan merek, tidak ada daftar komposisi, apalagi barcode harga layaknya barang toko.
Benda ini benar-benar tidak terlihat seperti produk komersial yang dijual bebas di pasaran. Benda ini lebih terlihat seperti sebuah prototipe dari eksperimen medis rahasia, atau produk pesanan khusus berskala militer yang dibuat secara eksklusif hanya untuk satu orang.
Maya memberanikan diri. Tangannya terulur dan mengeluarkan salah satu jar kaca bulat bertekstur frosted (buram) itu dari bantalannya.
Sangat berat. Sensasi dingin layaknya es batu yang baru dikeluarkan dari dalam freezer langsung menjalar ke telapak tangannya, menyengat saraf perasanya. Kaca buram itu sangat tebal, melindungi isi di dalamnya yang berwarna putih mutiara.
”Bagaimana cara membukanya?” gumam Maya pelan, meneliti wadah itu.
Maya meletakkan tangan kirinya di bagian bawah jar, sementara tangan kanannya memegang tutup logam peraknya. Ia memutarnya perlahan berlawanan arah jarum jam.
Tutup logam itu berputar tanpa hambatan sedikit pun. Sangat mulus. Tanpa suara decit atau gesekan kasar.
Begitu tutupnya terbuka sepenuhnya, aroma steril yang menyerupai tanah basah sehabis hujan kemarau itu kembali menguar, meresap ke dalam penciumannya. Kali ini aromanya sedikit lebih pekat, seketika membunuh bau apak di dapur sempitnya.
Maya menundukkan wajahnya, menatap ke dalam jar tersebut.
Krim di dalamnya memiliki tekstur yang sangat unik, sesuatu yang belum pernah ia lihat di konter kosmetik mana pun yang sering ia bersihkan di mal. Tidak encer seperti lotion, tapi juga tidak padat seperti krim malam biasa.
Terlihat seperti sebuah gel cair yang sangat lembut dan kenyal, memancarkan pendaran cahaya perak yang teramat tipis dari dalam dirinya sendiri, seolah ada jutaan serbuk mutiara mikroskopis atau bahkan debu bintang yang diaduk di dalamnya. Ia terlihat seperti substansi yang hidup.
”Ini… ini harganya pasti mahal banget,” gumam Maya tanpa sadar. Suaranya serak memecah kesunyian malam, matanya tak bisa berkedip menatap keindahan gel tersebut.
Pikirannya langsung beralih secara otomatis pada kemungkinan material yang ada di depan mata.
Uang. Uang dua puluh juta rupiah.
Jika ini adalah barang eksklusif pesanan artis papan atas atau tamu delegasi Swiss, dan jika barang komersial biasa dari perusahaan itu saja dihargai lima puluh juta… maka harga prototipe “Sampel Murni” ini mungkin bisa mencapai seratus juta, atau bahkan nyaris satu miliar rupiah.
Uang sebanyak itu… bukan hanya bisa membayar uang deposit (DP) untuk biaya ruang ICU ibunya. Uang itu bisa membiayai operasi paru-parunya. Uang itu juga cukup untuk melunasi semua hutangnya di warung. Cukup untuk menyewa rumah petak yang memiliki atap utuh dan kamar mandi bersih. Cukup untuk membeli makanan bergizi setiap hari. Dan mungkin… mungkin Maya bisa membuka warung kecil agar tidak perlu lagi bekerja sebagai pelayan kotor berseragam biru yang dihina dan direndahkan setiap hari.
Sebuah harapan yang luar biasa terang mekar di dada Maya. Sebuah asa yang sangat indah, berwarna-warni, menjanjikan masa depan yang cerah di mana ia dan ibunya bisa tersenyum tanpa beban, berjalan tanpa perlu menundukkan kepala.
Namun…
Hanya dalam hitungan detik setelah khayalan itu melambung tinggi ke angkasa, harapan indah itu dihantam sangat keras oleh sebuah realitas logis yang menyakitkan. Menghantamnya hingga jatuh terjerembap kembali ke bumi.
Maya mengerutkan dahinya. Senyum tipis yang sempat terbit di sudut bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh sebuah kepanikan baru yang merayap dingin dari tengkuknya.
Tunggu dulu… pikir Maya, matanya membelalak menyadari sebuah fakta fatal yang ia lupakan dalam keputusasaannya di bawah panggung tadi.
Bagaimana caranya aku menjual barang ini?
Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana di otaknya, namun saat ia mencari jawabannya… itu adalah sebuah jalan buntu yang mengerikan dan tidak memiliki pintu keluar.
Ia tidak punya relasi. Maya hanyalah seorang cleaning service dari perkampungan kumuh. Teman-temannya hanyalah sesama pekerja rendahan seperti Rani, atau tetangga seperti Bude Ningsih. Ia tidak mengenal satu pun orang kaya selain atasannya yang galak di mal.
Lalu, kepada siapa ia harus menawarkan produk tanpa merek, tanpa sertifikat, dan tanpa surat jalan yang bernilai puluhan juta ini?
Membawanya ke tempat pegadaian pinggir jalan?
Maya menggeleng keras membayangkan skenario itu. Petugas pegadaian pasti akan menertawakannya. Atau yang lebih parah lagi, melihat penampilannya yang dekil dengan kacamata dilakban, petugas itu akan langsung diam-diam menelepon polisi karena curiga ada seorang gadis gembel membawa kosmetik mewah yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka pasti mengira, dengan tingkat akurasi seratus persen, bahwa ini adalah barang curian.
Bagaimana kalau menjualnya secara online?
Maya menatap ponsel Nokia jadulnya yang layarnya sudah retak di atas meja, yang casing belakangnya diikat karet gelang. Ponsel rongsokan itu bahkan tidak bisa mengakses internet. Ia tidak punya akun media sosial bergengsi. Ia tidak tahu bagaimana cara memotret dan mengunggah barang jualan berkelas.
Dan bahkan jika ia meminjam ponsel orang lain dan bisa mempostingnya, siapa orang waras di internet yang mau membeli produk kecantikan tanpa nama merek, tanpa izin BPOM, tanpa komposisi bahan, dengan harga puluhan juta, dari sebuah akun anonim yang tidak dikenal? Tidak akan ada satu orang pun yang mau membeli kucing dalam karung semahal itu.
Lalu… bagaimana jika ia mencoba peruntungan terakhir? Bagaimana jika ia menawarkannya secara langsung dan diam-diam kepada para sosialita elit yang sering nongkrong di mal, seperti Tante Sisca atau Mami Dina? Mereka kan sangat menginginkan produk ini.
Membayangkan wajah arogan dan penuh kebencian dari Tante Sisca saja sudah membuat perut Maya melilit ketakutan, membuatnya mual.
Jika ia berani mendekati meja Tante Sisca besok dan berbisik menawarkan barang mahal ini, wanita sosialita itu pasti akan langsung mengenalinya. Tante Sisca tidak akan membelinya. Tante Sisca akan menjerit, memanggil seluruh petugas keamanan mal, menuduhnya mencuri prototipe dari laci tamu VVIP, dan mempermalukannya di depan ratusan pasang mata, sebelum akhirnya menyeret Maya ke penjara dengan pengawalan ketat.
Keringat dingin kembali mengucur deras di dahi Maya, menetes dari dagunya. Tangannya yang memegang jar kaca itu mulai bergetar hebat.
Dilema ini benar-benar mencekik lehernya layaknya tali tambang.
Ia sedang memegang sebuah harta karun yang nilainya secara teori bisa mengubah hidupnya dan keluarganya selamanya. Namun harta itu dikunci sangat rapat di dalam sebuah peti brankas tak kasat mata yang bernama Kasta Sosial.
Karena ia terlahir miskin, karena wajahnya kuyu, dan karena bajunya lusuh, barang semahal ini di tangannya kehilangan seluruh nilai tukarnya. Benda ini berubah fungsi dari sebuah ‘Solusi Keselamatan’ menjadi sebuah ‘Barang Bukti Kejahatan Murni’.
Barang mewah ini sama sekali tidak bisa diuangkan oleh orang miskin sepertinya.
Lalu untuk apa aku mencurinya?! jerit Maya dalam hati, memaki kebodohannya sendiri. Frustrasi yang luar biasa besar membuat napasnya memburu cepat.
Ia meletakkan jar kaca itu kembali ke dalam bantalan beludrunya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi benturan pelan.
Ia baru saja melakukan sebuah dosa besar. Ia telah melanggar prinsip hidup kejujuran yang ditanamkan ayahnya. Ia telah mengambil risiko mengerikan untuk masuk penjara. Ia telah dihantui rasa bersalah dan ketakutan sepanjang jalan pulang. Dan semua itu… semua pengorbanan moral itu ia lakukan hanya untuk sebuah barang yang tidak bisa ia jual untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Kepengecutannya, kebodohannya menyusun rencana, dan ketidakmampuannya berpikir jernih secara logis saat berada di bawah tekanan, kini membawanya pada kebuntuan nasib yang mutlak.
Maya menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menekan bola matanya dari balik kacamata, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
”Aku bodoh… aku emang bodoh,” isaknya lirih, merutuki dirinya sendiri. Ia merasa seperti orang paling bodoh dan paling sial di dunia. Air mata keputusasaan kembali mengalir melewati celah jari-jarinya, membasahi meja beton yang kotor.
Ia tidak punya pilihan lain. Logikanya akhirnya memenangkan perdebatan malam itu.
Jika barang ini tidak bisa dijual dan diuangkan, maka ia harus mengembalikannya sebelum ada yang menyadari kehilangannya.
Besok pagi-pagi sekali, saat shift pagi baru dimulai, ia harus diam-diam membawa kotak ini kembali ke mal. Ia akan menyelinap ke bawah kolong panggung sebelum Mandor Joko sadar atau sebelum orang EO memeriksanya. Ia akan menaruhnya kembali di dekat celah laci itu. Atau, jika panggung sudah dijaga ketat, ia akan meletakkannya di meja keamanan atau di Lost and Found secara anonim saat tidak ada yang melihat, lalu lari menjauh.
Ya. Itu adalah jalan satu-satunya. Satu-satunya skenario logis untuk melepaskan diri dari kutukan ini sebelum ia ditangkap.
Maya mengusap air matanya menggunakan ujung kausnya dengan kasar. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Keputusannya sudah bulat.
Ia menatap kembali kotak hitam tersebut dengan tatapan penuh penyesalan, bersiap untuk menutupnya dan menguncinya di dalam tas ransel.
Namun, saat pandangannya menyapu isi kotak itu, matanya tertuju pada dasar pelindungnya.
Tadi, karena otaknya terlalu fokus dan terhipnotis pada wadah-wadah kaca yang berkilauan, ia tidak menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di bagian dalam kotak tersebut.
Di balik tutup kotak utama, tertempel rapi pada lapisan kain beludru bagian atas, terdapat sebuah celah potongan yang sangat tipis dan presisi.
Jari telunjuk Maya bergerak pelan, meraba celah tersebut. Ia merasakan tekstur kertas. Ia menyelipkan jarinya, lalu menarik sesuatu dari sana.
Sebuah amplop kecil.
Amplop itu terbuat dari bahan kertas tebal yang bertekstur kasar, menyerupai kain linen kualitas tinggi. Sama persis seperti desain kotaknya, warna amplop itu hitam kelam, tanpa corak apa pun di bagian depannya.
Maya membalikkan amplop tersebut. Di bagian belakangnya, sebagai penutup, terdapat sebuah segel lilin tradisional berwarna merah darah yang dicap dengan logo perak yang sama persis, ukiran akar pohon atau urat darah yang meliuk-liuk rumit.
Rasa penasaran kembali mengambil alih kendali tubuhnya, mengalahkan akal sehatnya yang tadi sudah berencana mengembalikannya.
Maya meletakkan tutup kotak utama ke atas meja, lalu memegang amplop hitam itu dengan kedua tangannya.
Segel lilin merah darah itu tampak sangat kuno, klasik, namun mengintimidasi. Seolah keberadaannya mengisyaratkan sebuah peringatan tegas bahwa isi dari surat ini bukanlah sesuatu yang boleh dibaca, apalagi dipahami, oleh sembarang orang dari kasta bawah sepertinya.
Namun tangan Maya menolak untuk berhenti. Dengan hati-hati, Maya menyelipkan kuku ibu jarinya yang kotor ke bawah tepian segel lilin merah tersebut.
Krak.
Lilin merah keras itu patah menjadi dua bagian dengan suara yang renyah.
Jantung Maya berdegup semakin kencang. Ia membuka lipatan amplop hitam tersebut. Dari dalamnya, ia menarik keluar dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat tiga dengan sangat rapi.
Kertas itu tebal dan juga berwarna hitam pekat. Namun, yang membuat napas Maya seketika tertahan adalah tulisannya. Huruf-huruf di atas kertas itu dicetak menggunakan tinta khusus berwarna perak mengkilap, yang memantulkan cahaya dari lampu neon ruang kontrakannya, membuatnya terlihat bercahaya di dalam kegelapan.
Itu bukan sekadar surat ucapan terima kasih dari perusahaan kosmetik. Dari format bullet points dan susunan paragrafnya, Maya bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah semacam brosur pedoman instruksi, atau tata cara pemakaian produk yang ada di dalam kotak.
Maya mendekatkan kertas hitam itu ke wajahnya. Ia memicingkan matanya di balik lensa kacamatanya yang tebal dan miring, bersiap untuk membaca bait pertamanya.
Namun, tepat saat ia membaca deretan kata pertama, keningnya langsung berkerut dalam. Alisnya bertaut.
Jantungnya, yang baru saja mulai sedikit tenang akibat keputusannya untuk mengembalikan kotak itu, kini kembali berdebar dengan ritme yang sangat janggal dan meresahkan.
Kalimat pembuka yang tercetak di kertas itu… sama sekali tidak ditulis seperti instruksi kosmetik komersial pada umumnya yang sering ia baca di majalah bekas. Tidak ada kalimat manis yang menjanjikan “kulit cerah merona seketika,” “hidrasi lembut sepanjang hari,” atau “pesona awet muda.”
Bahasanya terkesan terlalu kaku, aneh, sangat bernuansa medis tingkat lanjut, namun dibalut dengan pemilihan kosa kata kelam yang terdengar lebih menyerupai sebuah perjanjian gaib daripada panduan kecantikan.
Di bagian paling atas, tertulis dengan tinta perak yang bersinar:
“Bagi Anda yang telah dipilih oleh keputusasaan, selamat datang di batas akhir kemanusiaan.”
Kalimat pertama itu membeku di dalam benak Maya.
Ia mengerjapkan matanya. Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali berturut-turut, memastikan bahwa otaknya yang kelelahan tidak sedang berhalusinasi atau salah membaca huruf.
Dipilih oleh keputusasaan? Batas akhir kemanusiaan? batin Maya berteriak kebingungan.
Perusahaan kosmetik raksasa dan waras macam apa yang menggunakan kalimat pemasaran dan instruksi semengerikan, sekelam, dan seaneh ini untuk produk perawatan kulit seharga puluhan juta rupiah? Ini tidak masuk akal.
Maya menelan ludah. Suasana di dapur sempit yang tadinya pengap itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Ia merasa seolah suhu ruangan turun drastis menembus angka nol derajat. Hawa mistis menyapu kulit lengannya, membuat seluruh bulu romanya berdiri tegak serempak.
Namun, rasa ingin tahunya terlalu besar. Matanya tak bisa berhenti bergerak ke baris berikutnya.
Ia terus membaca baris demi baris pedoman instruksi yang tertulis dengan tinta perak tersebut. Dan semakin jauh ia membaca, tata cara pemakaian yang dijelaskan di sana semakin lama terasa semakin absurd, semakin tidak masuk akal, dan secara radikal menyalahi semua hukum anatomi dan biologi dasar yang Maya ketahui.
Di salah satu poin instruksinya, ia membaca sebuah istilah yang digarisbawahi tebal: “Fase Peleburan Jaringan”.
Lalu di bawahnya, terdapat sebuah peringatan wajib: “Waktu tunggu absolut tiga puluh menit sebelum dimulainya proses Pembentukan Ulang Struktur Daging.”
Maya ternganga. Mulutnya setengah terbuka.
Peleburan? Pembentukan ulang struktur daging?
Kata-kata ganjil itu… itu adalah kalimat instruksi yang seharusnya hanya ada di dalam buku petunjuk penggunaan tanah liat, lilin mainan anak-anak, atau proses pandai besi. Bukan kalimat yang seharusnya ditujukan pada krim pelembap wajah yang diaplikasikan ke atas pori-pori kulit manusia.
Maya membaca kertas itu tanpa berkedip. Matanya membelalak semakin lebar. Tangan kasarnya yang memegang kertas hitam itu bergetar hebat hingga kertasnya bergetar dan mengeluarkan suara gemerisik pelan di kesunyian dapur.
Ia duduk membeku di kursinya. Ia tidak tahu apakah ia harus tertawa keras karena merasa bahwa ini semua hanyalah sebuah lelucon konyol yang sengaja dibuat oleh orang kaya sinting, ataukah ia harus menjerit ketakutan karena ia baru saja menyadari implikasi medis yang sangat mengerikan dari apa yang sedang dipegangnya malam ini.