Udara di dalam kontrakan sempit itu terasa seolah berhenti mengalir. Oksigen di ruangan itu seperti tersedot habis oleh kehadiran benda asing di atas meja.
Suara detak jarum jam dinding yang terbuat dari plastik murahan di atas pintu terdengar begitu mendominasi.
Tik… tik… tik…
Setiap detakannya terdengar bagaikan ayunan palu godam yang menghantam gendang telinga Maya di tengah kesunyian malam yang absolut. Di luar sana, tak ada lagi suara lolongan anjing atau deru motor. Dunia seakan menahan napasnya.
Di bawah cahaya lampu neon lima watt yang memancarkan pendaran kuning redup bak warna air seni, Maya masih duduk mematung di kursi plastik.
Kertas hitam pekat berbahan linen tebal yang baru saja ia keluarkan dari amplop bersegel lilin merah itu masih berada di tangannya. Kertas itu sedikit bergetar, bergerak seirama dengan napasnya yang mulai memburu dan tak beraturan.
Tinta perak mengkilat yang tercetak di atas kertas itu memantulkan cahaya pendar neon.
Deretan huruf-huruf itu terlihat sangat kontras, elegan, dan kelewat mewah untuk berada di dapur yang dipenuhi kerak daki dan noda kecap ini. Seolah deretan kalimat tersebut mengundang Maya untuk masuk, menyelami rahasianya yang paling pekat.
Maya menelan ludah. Kerongkongannya terasa sangat kering, menyisakan rasa perih akibat sisa-sisa isakan tangis, kepanikan mencuri, dan kelelahan seharian penuh yang menyiksa fisiknya.
Ia memicingkan matanya di balik kacamata tebalnya yang diselotip hitam. Jari telunjuknya yang kasar menelusuri baris pertama kertas itu.
Dengan suara berbisik yang serak, Maya mulai membaca kalimat pembuka yang tertulis di bagian paling atas dengan susunan huruf kapital yang anggun.
”Eksklusivitas melampaui batas natural. Selamat datang di era redefinisi absolut.”
Maya menghentikan bacaannya. Ia mengernyitkan dahi.
”Redefinisi absolut?” gumam Maya pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar canggung memecah kesunyian. “Maksudnya apa? Ganti kemasan? Atau ganti rumus kimia?”
Kalimat itu terdengar sangat berkelas. Begitu elitis, arogan, dan penuh kebanggaan.
Gaya bahasa seperti ini adalah gaya bahasa yang biasa ia dengar secara sayup-sayup dari iklan-iklan klinik kecantikan super mahal di layar televisi mal, iklan yang dirancang khusus untuk mencuci otak para istri pejabat atau pengusaha. Tidak ada kalimat yang menakutkan secara harfiah, hanya sebuah janji kemewahan yang terdengar sangat hiperbola.
Namun, rasa penasaran yang tak terbendung di dalam dadanya memaksanya untuk terus menurunkan pandangan ke paragraf selanjutnya.
Di bawah sebuah garis batas berwarna perak yang tipis, terdapat serangkaian poin instruksi yang ditulis dengan istilah-istilah dermatologi dan kosmetik tingkat lanjut.
Bahasanya terdengar sangat profesional dan rumit. Sangat jauh berbeda dari instruksi sabun cuci muka pasaran harga belasan ribu yang biasa ia gunakan.
Maya berdehem pelan, membasahi tenggorokannya, lalu kembali membaca instruksi itu dengan suara berbisik.
”Protokol Regenerasi,” eja Maya lambat-lambat. “Nomor satu. Purifikasi Kanvas.”
Matanya menyusuri penjelasan di bawah poin pertama tersebut.
“Pastikan area target berada dalam kondisi steril. Bersihkan secara menyeluruh dari segala residu kosmetik, peluh, dan debu lingkungan. Formula ini merespons paling optimal pada kondisi epidermis yang murni dan terbebas dari intervensi kimiawi eksternal.”
Maya mengangguk pelan saat membacanya.
”Kalau yang ini sih wajar. Masuk akal,” gumam Maya, sedikit merasa lega karena instruksinya terdengar seperti skincare biasa.
Semua krim wajah, pelembap, atau serum perawatan pasti mengharuskan penggunanya mencuci muka terlebih dahulu. Pori-pori harus bersih dari kotoran agar krimnya bisa meresap dan tidak menyumbat kulit yang bisa memicu jerawat.
Meskipun menggunakan istilah ‘Purifikasi Kanvas’ dan ‘Epidermis’, intinya hanyalah perintah untuk mencuci muka. Maya merasa otaknya masih bisa mencerna instruksi ini dengan baik.
Ia kemudian melanjutkan pandangannya ke poin kedua.
”Nomor dua. Reaksi Kriogenik dan Aplikasi,” bisik Maya, keningnya kembali berkerut menemukan istilah asing.
Ia mulai membaca kalimat penjelasan di bawahnya dengan sangat teliti.
“Gunakan selalu Spatula Obsidian khusus yang telah disediakan di dalam kemasan. Dilarang keras melakukan kontak langsung antara formula dengan jemari Anda secara prematur, guna menghindari reaksi plastisitas yang tidak diinginkan pada struktur ujung jari. Ambil formula secukupnya, dan aplikasikan secara merata pada area yang dituju. Sensasi penurunan suhu yang menyegarkan (kriogenik), diikuti oleh sedikit rasa perih mikroskopis, adalah pertanda wajar bahwa formula mulai melakukan penetrasi dan beradaptasi ke tingkat seluler dasar.”
Mata Maya langsung teralih dari kertas tersebut.
”Spatula khusus? Dilarang menyentuh langsung pakai tangan?” Maya bergumam bingung. Ia menatap kedua telapak tangannya yang terbiasa bekerja kasar. “Kenapa nggak boleh kena jari? Takut iritasi? Atau krimnya terlalu keras bahan kimianya?”
Ia buru-buru melongok kembali ke dalam kotak hitam yang masih terbuka lebar di atas meja beton.
Tadi, karena otaknya terlalu fokus dan terhipnotis pada tiga wadah kaca yang memancarkan kilau mutiara, ia melewatkan sebuah detail visual yang sangat penting. Di sisi paling kanan bantalan beludru hitam yang tebal itu, terdapat sebuah lekukan kecil memanjang yang menyatu sempurna dengan warna gelap kotaknya.
Maya menyelipkan kuku telunjuknya ke ujung lekukan itu dan menarik benda dari sana.
Sebuah aplikator kosmetik. Semacam spatula pengoles berukuran kecil.
Saat benda itu terlepas dari beludru, Maya menahan napas. Spatula itu terbuat dari material yang sangat unik dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Warnanya hitam pekat, sangat mengkilap memantulkan cahaya neon, dan yang mengejutkan, benda itu terasa seberat batu padat.
”Ini… ini bukan plastik. Ini batu asli?” bisik Maya takjub, menimang-nimang spatula itu.
Mungkin benda itu terbuat dari obsidian hitam murni yang dipoles, atau paduan logam medis bermutu tinggi. Ujungnya berbentuk pipih dan melengkung dengan presisi yang sangat elegan, seolah didesain secara khusus oleh seniman patung agar pas dengan kontur lekukan wajah, rahang, dan tulang pipi manusia.
Benda sekecil dan sesepele spatula ini saja sudah memancarkan aura kemewahan yang tak tertandingi, apalagi isi dari krim mutiara di dalamnya.
Namun, peringatan di kertas itu tiba-tiba kembali terngiang berputar di kepalanya.
Dilarang kontak langsung dengan jari… untuk menghindari reaksi plastisitas pada ujung jari.
”Reaksi plastisitas?” Maya mengulang kata asing itu. Lidahnya terasa kelu mengucapkannya. “Plastisitas itu apa? Kayak plastik? Maksudnya kulit jariku bakal berubah jadi kaku kayak plastik kalau kena krimnya kelamaan?”
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban di udara pengap. Maya meletakkan spatula obsidian itu kembali ke atas meja, berdekatan dengan jar kacanya.
Ia mengembalikan pandangannya pada kertas instruksi hitam di tangannya. Ia bersiap membaca poin ketiga. Poin ini adalah paragraf yang paling panjang di kertas tersebut.
Dan tanpa Maya ketahui, poin inilah yang akan membuat akal sehatnya seakan ditampar dan dihentikan secara paksa dari realitas dunia ini.
”Nomor tiga,” Maya menelan ludah, membacanya dengan suara yang semakin pelan. “Fase Plastisitas. Di dalam kurung… Redefinisi Kontur.”
Mata rabun Maya mulai menyusuri deretan huruf perak yang mengkilap itu.
“Tiga menit setelah aplikasi, area target akan memasuki fase restrukturisasi. Formula ini akan merekayasa tingkat elastisitas jaringan Anda. Selama masa transisi ini, struktur seluler Anda mencapai tingkat plastisitas tertinggi, di mana jaringan kulit, lemak subdermal, dan struktur otot penyangga akan melunak secara instan.”
Maya terdiam sesaat. Jantungnya berdebar janggal. Ia melanjutkan ke kalimat berikutnya dengan mata yang semakin membelalak.
“Dalam fase ini, Anda memiliki waktu terbatas kurang lebih tiga puluh menit untuk melakukan penyesuaian kontur secara manual. Gunakan ujung jemari Anda untuk menekan, membentuk, menarik, atau menyesuaikan simetri wajah sesuai dengan standar presisi estetika yang Anda dambakan.”
Hening.
Ruang dapur yang pengap itu terasa semakin membeku dalam kesunyian yang menulikan telinga.
Hanya terdengar dengung statis yang pelan dari trafo lampu neon kuning di langit-langit, bersahutan dengan tarikan napas serak ibunya dari balik tirai kamar, saling beradu dengan detak jantung Maya yang kini berdentum layaknya genderang perang.
Maya membaca ulang poin nomor tiga itu.
Sekali lagi.
Lalu ia membacanya untuk yang ketiga kalinya.
Ia mendekatkan kertas hitam itu hingga nyaris menyentuh hidungnya, memastikan bahwa matanya yang minus parah ini tidak sedang berhalusinasi atau salah menangkap deretan huruf perak tersebut karena kelelahan kronis.
Tingkat plastisitas tertinggi? Jaringan kulit, lemak, dan otot melunak secara instan? Menyesuaikan kontur secara manual dengan jemari? Menekan? Membentuk?
Kata-kata itu berputar-putar di otaknya bagaikan puting beliung.
Tiba-tiba, tanpa bisa ditahan oleh kendali logikanya, sebuah suara aneh keluar dari tenggorokan Maya.
Sebuah tawa.
Awalnya hanya kekehan pelan yang tertahan di balik bibir keringnya yang pecah-pecah.
”He… hehe…”
Namun perlahan, kekehan itu berubah menjadi tawa yang lebih keras. Tawa kecil yang terdengar sangat sumbang, dipenuhi nada meremehkan, dan memancarkan kepahitan yang pekat.
”Hah… hahaha… gila. Sumpah, ini gila,” bisik Maya, menggelengkan kepalanya dengan kuat hingga rambut kuncir kudanya ikut bergoyang.
Ia meletakkan kertas instruksi itu ke atas meja beton kusam dengan gerakan sedikit melempar, seolah kertas itu baru saja menghina tingkat kecerdasannya.
”Penyesuaian kontur secara manual? Lemak dan otot melunak?” gumam Maya sambil mengusap wajah kasarnya dengan kedua telapak tangannya yang kotor.
Tawanya masih tersisa, menyisakan jejak kepahitan di sudut bibir.
”Memangnya mukaku ini lilin mainannya anak TK? Atau mukaku ini adonan terigu yang bisa dipencet-pencet, ditarik, dan dibentuk-bentuk sesuka hati pakai jari telanjang?” protes Maya pada udara kosong. “Mereka pikir wajah manusia itu apa? Kerajinan gerabah?!”
Ia menatap jar kaca elegan, spatula obsidian, dan kertas hitam di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa kecewa luar biasa, namun di saat yang sama, ia merasa sangat bodoh dan tertipu.
Kini logikanya mulai mengambil alih kendali. Setidaknya, akal sehat manusianya berusaha keras membuatnya mengerti dan memberikan penjelasan paling rasional.
Ini pasti hanyalah trik promosi kosmetik super mahal.
Di dunia orang-orang kaya yang terlalu banyak uang dan kekurangan kebahagiaan sejati, perusahaan kosmetik raksasa seperti Lumière Merveille pasti bersaing menggunakan bahasa pemasaran yang sengaja dibuat hiperbola atau sangat berlebihan dan seolah-olah menggunakan teknologi medis revolusioner.
Kata-kata seram seperti “jaringan melunak” dan “penyesuaian kontur manual” pastilah hanya bahasa kiasan tingkat tinggi yang luar biasa pretensius. Mereka pasti hanya ingin menggambarkan betapa krim mutiara ini bisa membuat kulit terasa jauh lebih kenyal, kencang, kenyal layaknya jelly, dan mampu menyamarkan kerutan saat dipijat-pijat memutar di wajah.
Sama seperti iklan minuman berenergi di televisi yang mengatakan bisa memberi Anda sayap untuk terbang, tentu saja sang konsumen tidak akan benar-benar tumbuh sayap berbulu dari punggungnya. Itu hanya kiasan.
Dan Maya, gadis miskin bodoh yang memakan umpan kemewahan dan kepanikan itu mentah-mentah, sempat mengira ini adalah semacam keajaiban gaib atau medis yang bernilai ratusan juta.
”Sialan,” desah Maya kasar. Ia menyandarkan keningnya ke telapak tangannya yang kapalan, memejamkan matanya rapat-rapat. “Gara-gara kepanikan nyari uang dua puluh juta buat Ibu masuk ICU malam ini, otakku beneran udah konslet. Aku jadi gampang percaya hal-hal bodoh.”
Ia merutuki kebodohannya sendiri.
Ia baru saja melakukan dosa besar, melanggar prinsip kejujuran mutlak yang ditanamkan almarhum ayahnya sejak kecil, dan mengambil risiko mengerikan dituduh mencuri oleh pihak mal dan polisi hanya untuk sebuah krim anti-aging mahal yang bahasanya dibesar-besarkan sedemikian rupa untuk membohongi nenek-nenek sosialita yang takut keriput.
Ia tidak akan bisa menjual barang ini tanpa dicurigai. Ia tidak punya relasi. Produk ini benar-benar tidak berguna sama sekali untuk menyelesaikan masalah finansialnya. Ia telah mencuri sampah mewah yang tak bisa diuangkan.
”Besok pagi-pagi sekali, aku harus kembali ke mal dan meletakkan benda ini lagi di bawah panggung,” bisik Maya pada dirinya sendiri, merencanakan jalan keluarnya dari masalah ini. “Sebelum Mandor Joko atau orang EO sadar ada yang hilang.”
Maya baru saja akan meraih pinggiran kertas instruksi hitam itu, berniat untuk melipatnya, memasukkannya kembali ke amplop, dan membereskan semuanya ke dalam ransel.
Namun… saat matanya menatap ke bagian bawah kertas itu, pandangannya menangkap satu paragraf terakhir yang tercetak di bagian paling bawah.
Paragraf itu dipisahkan dari poin ketiga, dan ditulis dengan tinta perak yang dicetak miring.
Sebuah Catatan Peringatan Operasional.
Tangan Maya yang hendak meraih pinggiran kertas itu terhenti menggantung di udara.
Sisa tawanya lenyap seketika, menguap ditelan oleh hawa dingin malam yang tiba-tiba terasa mencekam. Ia menatap kalimat catatan peringatan itu lekat-lekat. Keningnya berkerut semakin dalam, matanya menyipit fokus.
Ia membacanya di dalam hati.
Catatan Stabilisasi:
Selama kurang lebih 30 menit masa tunggu (fase plastisitas), sangat disarankan untuk menghindari tekanan eksternal atau benturan yang tidak disengaja pada area target wajah Anda. Formula akan secara perlahan mengunci dan memadatkan kembali jaringan Anda setelah waktu tersebut berlalu, mempertahankan bentuk kontur terakhir yang tercipta secara permanen. Namun jangan khawatir, jika terjadi asimetri, kesalahan pembentukan, atau hasil yang belum sempurna, formula ini didesain secara adaptif. Anda cukup mengaplikasikan ulang formula pada area yang sama untuk mereset tingkat plastisitas dan mengulangi proses redefinisi kapan pun Anda inginkan.
Mata Maya tak berkedip menatap kata “benturan yang tidak disengaja” dan “mempertahankan bentuk kontur terakhir secara permanen”.
Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang sakit.
Bahasa yang digunakan di paragraf terakhir ini… terlalu spesifik. Terlalu prosedural, harfiah, dan fungsional.
Tidak ada lagi bahasa pemasaran yang berbunga-bunga, tidak ada kata-kata hiperbola yang menjanjikan kecantikan. Paragraf ini terdengar murni seperti sebuah instruksi troubleshooting (pemecahan masalah dan mitigasi risiko) pada perangkat elektronik mahal, atau prosedur manual dari sebuah tindakan medis bedah sungguhan.
Hindari benturan yang tidak disengaja. Jaringan akan mengunci mempertahankan bentuk kontur permanen. Dapat diaplikasikan ulang untuk mereset plastisitas jika ada kesalahan bentuk.
Maya kembali menatap jar kaca di hadapannya.
Kaca frosted buram itu masih memancarkan aura misterius di bawah lampu neon, berdiri angkuh di atas meja beton yang penuh noda. Gel mutiara di dalamnya seolah masih bergerak pelan, bernapas dalam diamnya.
Pikiran logis Maya mulai goyah dan retak.
Jika ini semua hanyalah kiasan marketing tentang memijat wajah agar kenyal dan segar, untuk apa ada peringatan soal benturan keras yang bisa merusak bentuk wajah? Krim malam sekelas apa pun, semahal apa pun, tidak akan pernah membuat wajah seseorang menjadi penyok, cacat, atau asimetris hanya karena tak sengaja terbentur bantal atau tangan saat tidur.
Dan untuk apa ada jaminan prosedural yang menegaskan bahwa prosesnya bisa “direset ulang” dengan mengoleskan krimnya lagi jika bentuknya gagal atau mencong?
Apakah mungkin…
Maya menelan ludahnya yang terasa kental.
Apakah mungkin hiperbola di kertas ini bukanlah sekadar kiasan iklan kosmetik? Apakah instruksi ini benar-benar harus diartikan secara harfiah kata per kata?
Bagaimana jika di balik kemegahan dan dinding-dinding kaca tebal Grand Atrium Mall, di dunia gelap tempat orang-orang paling berkuasa, paling kaya, dan paling serakah ini hidup… memang ada teknologi mutakhir yang tak pernah diketahui oleh masyarakat kelas bawah sepertinya?
Sesuatu yang diciptakan secara diam-diam di laboratorium privat Swiss yang didanai dengan uang triliunan rupiah? Sebuah penemuan revolusioner, rahasia medis terbesar, yang menjanjikan manipulasi fisik dan kesempurnaan instan tanpa rasa sakit dari pisau bedah operasi plastik?
Sebuah formula yang benar-benar bisa membuat daging manusia menjadi selunak tanah liat?
Kepala Maya mulai berdenyut keras, seolah dua sisi otaknya sedang berperang hebat di atas ring.
Otak rasionalnya berteriak histeris, menyuruhnya membuang benda iblis ini karena semua ini adalah delusi dari pikirannya yang kelaparan dan stres berat. Namun, luka batin dan keputusasaannya yang telah lama bernanah, kini mulai berbisik manis, memprovokasi logikanya untuk mencari pembuktian.
Maya mendongakkan kepalanya perlahan. Ia menatap cermin kecil yang tergantung miring di atas wastafel dapur.
Cermin retak yang dipenuhi bercak jamur hitam di sudut-sudutnya.
Pantulan dirinya di sana terlihat jauh lebih hancur dan lebih menyedihkan dari biasanya. Wajahnya begitu kuyu dan lelah. Tulang pipinya menonjol tajam seperti tengkorak yang kekurangan gizi bertahun-tahun. Kulitnya yang gelap terlihat kusam bagai tertutup abu sisa pembakaran. Bibirnya pecah-pecah kering, tak pernah tersentuh pelembap mahal. Dan kacamata tebalnya yang disambung dengan selotip kabel hitam itu menyempurnakan penampilannya sebagai bahan tertawaan dunia yang paling malang.
Sambil menatap pantulan cermin itu, bayangan kejadian-kejadian saat itu mulai berputar di benaknya seperti proyektor film tua yang rusak.
Ia melihat kembali wajah Tante Sisca yang angkuh. Ia mendengar pekikan nyaring wanita sosialita itu saat menamparnya dengan tas Hermès.
“BABU SIALAN! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA BAJUKU, HAH?!”
Ia mengingat tatapan tajam nan menjijikkan dari Bu Ratna saat memotong gajinya dan menghukumnya lembur di lorong gelap.
“Kamu itu cuma debu di mal ini, Maya! Kalau kamu merusak citra Grand Atrium, saya akan pastikan kamu masuk daftar hitam! Kamu tidak akan bisa kerja jadi babu di mana pun lagi!”
Dan yang paling menyayat hatinya, yang paling meremukkan harga dirinya, ia kembali mendengar rentetan tawa melengking Sari di dekat panggung peluncuran kosmetik mewah saat itu.
“Denger ya, babu. Orang sejelek dan sedekil lo tuh harusnya sadar diri. Keberadaan lo di dekat acara mewah begini tuh mengganggu pemandangan, ngerti?! Bikin malu seragam kita aja… Lo tuh cuma parasit dekil.”
“Cowok mana pun yang ngeliat lo pasti langsung jijik. Lo nggak punya nilai tawar di dunia ini. Lo bakal terus jadi babu dekil, yang kerjanya cuma nunduk-nunduk bersihin kotoran orang kaya, sampai badan lo ancur dan lo mati sendirian di kontrakan kumuh lo itu.”
Kata-kata beracun itu bergema keras.
Memantul-mantul di dalam tengkoraknya, menghantam dinding-dinding kesabarannya. Kesabaran yang selama ini ia bangun dengan susah payah menggunakan rapalan doa, air mata ibunya, dan nasihat ayahnya… hingga akhirnya malam ini, dinding itu runtuh berkeping-keping menjadi debu.
Parasit dekil. Mengganggu pemandangan. Babu tanpa nilai. Mati sendirian.
Maya mencengkeram tepi meja beton dengan kedua tangannya yang bergetar. Buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya yang kotor dan sompel menggores permukaan semen yang kasar hingga berbunyi ngeri.
Matanya yang minus terus menatap tajam pantulan dirinya yang menyedihkan di cermin. Rahangnya mengeras.
”Aku bukan parasit…” bisik Maya dengan suara bergetar yang sarat akan amarah tertahan. “Aku manusia. Aku juga manusia!”
Selama dua puluh dua tahun sisa hidupnya, ia selalu mencoba menerima takdir pahitnya dengan hati yang ikhlas.
Ia mencoba menjadi gadis yang sopan. Ia selalu menjadi pihak yang menunduk saat dimaki, yang merendahkan diri dan menerima setiap hinaan fisik dengan kata maaf, karena ia sadar ia berada di kasta terendah. Ia tidak punya kekuatan untuk membalas.
Ia selalu mengira dan meyakini, bahwa jika ia bersikap baik, bekerja keras tanpa mengeluh, dan tidak pernah melawan, dunia setidaknya akan berbelas kasih padanya. Dunia akan memberikan jalan dan membiarkannya hidup tenang untuk merawat ibunya yang sakit.
Tapi ia salah besar. Sangat besar.
Di dunia yang dipenuhi oleh gedung-gedung kaca raksasa dan lampu kristal ini, kebaikan tanpa rupa yang menarik… kebaikan yang dibungkus oleh kemiskinan dan keburukan fisik… hanyalah sebuah tanda kelemahan. Sebuah umpan yang lezat untuk dimangsa, dicabik-cabik, dan diinjak-injak oleh orang-orang berkuasa demi memuaskan ego mereka.
Kemarahan yang membara. Rasa iri yang gelap. Dan kebencian absolut terhadap ketidakadilan dunia yang selama ini ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya, kini meledak keluar layaknya gunung berapi.
Perasaan itu mengalir deras di setiap inci pembuluh darahnya seperti aliran lava panas, menyingkirkan logika, membakar sisa-sisa rasa takutnya, dan menghapus seluruh nuraninya.
Jika wajah menjijikkan ini yang membuatku selalu dihina, diinjak, dan tak dianggap manusia, desis batin Maya, menatap matanya sendiri di cermin dengan kilatan dendam. Lalu apa salahnya aku mencoba produk iblis ini? Jika ini ternyata hanya krim pelembap biasa, paling-paling kulit kasarku ini jadi sedikit lebih halus dan wangi besok pagi. Tapi bagaimana jika… bagaimana jika instruksi gila dan mustahil itu benar adanya?
Maya menelan ludah. Sebuah keputusan nekat, sebuah lompatan buta menuju kegelapan yang dipicu oleh akumulasi rasa sakit hati yang absolut, akhirnya mengambil alih kemudi akalnya.
Aku sudah menjadi pencuri malam ini. Aku sudah kehilangan gajiku. Aku sudah dituduh maling oleh sosialita itu. Ibuku sedang terbaring meregang nyawa di ruangan sebelah tanpa kepastian esok hari. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. Tidak ada lagi yang bisa diambil dariku.
Maya mengepalkan tangannya di sisi tubuh.
Setidaknya… setidaknya malam ini biarkan aku merasakan bagaimana rasanya memakai kosmetik rahasia milik orang kaya. Biarkan aku merasakan kemewahan sebelum aku hancur besok.
Maya berdiri dari kursi plastiknya. Gerakannya kaku namun dipenuhi determinasi yang menakutkan, seperti sebuah robot usang yang baru saja dihidupkan kembali dengan tenaga baterai nuklir.
Ia berjalan cepat menuju wastafel kecil di bawah cermin retak itu. Ia memutar keran air plastik yang sudah karatan.
Air dingin mengalir membasahi tangannya. Maya mengambil sabun batang murah berwarna hijau kusam yang tergeletak di wadahnya, sabun yang sama yang biasa ia gunakan untuk mandi sekaligus mencuci piring kotornya.
Ia mengusapkan busa sabun yang sedikit itu ke wajahnya. Ia mencuci wajahnya. Menggosok kulit pipi, dahi, dan hidungnya dengan sangat kuat, berkali-kali, mengabaikan rasa perih di kulitnya.
Ia membersihkan lapisan debu gergaji panggung, keringat mal yang lengket, dan sisa-sisa air mata keputusasaannya secara menyeluruh. Ia secara tidak sadar sedang mematuhi instruksi ‘Purifikasi Kanvas’ dari kertas hitam tersebut. Membersihkan wajahnya dari segala intervensi lingkungan.
Setelah membilas wajahnya hingga terasa kesat, ia mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang seratnya sudah banyak yang putus.
Ia menatap sekali lagi wajah aslinya di cermin basah itu. Wajah miskin yang sebentar lagi akan menjadi saksi dari keputusasaannya yang paling gelap.
Maya membuang handuk itu ke keranjang cucian. Ia berjalan kembali ke meja beton. Ia berdiri menjulang di atas kotak hitam misterius itu, menatap benda itu layaknya seorang pengikut kultus menatap altar pemujaannya.
Tangannya tak lagi gemetar. Ketakutannya telah sepenuhnya menguap. Ia telah membulatkan tekadnya melewati titik tanpa jalan kembali (point of no return).
Ia merogoh ke dalam kotak, lalu meraih spatula obsidian yang terasa berat dan dingin di tangannya. Genggamannya pada alat aplikator itu sangat mantap.
Kemudian, tangan kirinya menyentuh tutup logam perak berukiran akar pada salah satu jar kaca membulat tersebut.
Mengingat peringatan di instruksi yang menyuruhnya menghindari benturan, akal sehat terakhirnya menyarankan sebuah tindakan preventif. Ia memutuskan untuk mencoba mengoleskan krim itu di satu area kecil terlebih dahulu di wajahnya, bukan di seluruh wajah sekaligus.
Maya memilih bagian sudut rahang sebelah kiri, sedikit memanjang ke area pipi bawahnya yang menurutnya terlalu cekung, asimetris, dan bertekstur paling kasar.
Jika ini memang krim pelembap mahal yang bagus, pikir Maya merasionalisasi tindakannya, setidaknya pipi kiriku akan terasa lebih kenyal dan cerah saat aku bangun besok pagi.
Dengan satu putaran pergelangan tangan yang mulus dan tak bersuara, tutup jar itu terbuka sempurna.
Ssssshhh…
Desisan vakum pelan kembali terdengar, melepas tekanan udara di dalam wadah. Aroma tanah basah yang steril itu menyeruak kembali, memenuhi seluruh udara dapur dan meresap ke paru-paru Maya.
Maya menatap gel kental berwarna putih mutiara di dalamnya. Di bawah cahaya redup, gel itu masih memancarkan pendaran cahaya perak mikroskopis yang bergerak perlahan, seolah menyambut kedatangannya.
Ia memiringkan ujung pipih dari spatula obsidiannya, lalu mencelupkannya dengan penuh kehati-hatian ke dalam genangan gel tersebut.
Krim itu terangkat dengan sangat mudah. Konsistensinya begitu aneh, unik, dan luar biasa lembut. Krim itu tidak encer, tidak menetes sama sekali ke bawah karena gravitasi. Sebaliknya, krim itu menempel sempurna pada lekukan spatula hitam tersebut, memeluk alat itu bagaikan lapisan sutra cair yang memantulkan cahaya pendar kemewahan.
Napas Maya memburu pelan.
Udara di ruang dapur itu mendadak terasa ikut mendingin, seolah terpengaruh oleh penurunan suhu mistis dari gel tersebut. Ia mengangkat spatula itu, membawanya mendekati sisi wajah kirinya.
Ia menoleh ke arah cermin retak di dinding dari tempatnya berdiri. Jaraknya hanya satu meter.
Pantulan dirinya membalas tatapannya. Sepasang mata cokelat gelap di balik lensa kacamata tebal itu menyiratkan sebuah ketakutan yang luar biasa atas apa yang akan ia lakukan. Keraguan kecil masih tersisa di dasar jiwanya, namun dengan cepat didominasi, dihancurkan, dan ditelan bulat-bulat oleh sebuah ambisi liar untuk mengubah nasibnya.
Ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada kulitnya setelah ini. Tapi ia tahu satu hal yang pasti, ia sudah muak menjadi pecundang. Ia sudah lelah menjadi yang terinjak.
Dengan satu tarikan napas panjang yang ia tahan kuat-kuat di dalam dada, Maya memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Perlahan, di tengah kesunyian malam yang mematikan dan terasa abadi, ujung spatula obsidian yang berlapis krim mutiara itu bergerak maju.
Dan akhirnya… spatula itu menyentuh permukaan kulit rahang kirinya yang gelap dan kusam.
Maya mulai mengoleskan krim itu dengan gerakan memutar yang pelan dan merata, sesuai dengan gaya facial yang sering ia lihat di majalah. Menyebarkan formula mutiara itu ke sepanjang garis rahang hingga batas pipi bawahnya.
Ia menanti rasa sakit.
Namun, begitu gel mutiara itu menyentuh dan menutupi kulitnya, sama sekali tidak ada rasa sakit yang menyiksa. Tidak ada hawa panas kimia yang membakar epidermisnya seperti ketakutan awalnya.
Sebaliknya, sebuah sensasi dingin kriogenik yang sangat menusuk, namun menyegarkan, langsung menyelimuti seluruh area rahangnya secara instan.
Rasa dingin itu terasa sangat nyaman, seperti kompres es yang diletakkan di atas otot yang meradang. Dingin itu perlahan meresap ke dalam pori-pori kulitnya yang lelah dan terbuka.
Kemudian, beberapa detik setelah hawa dingin itu meresap, muncullah sebuah rasa perih yang teramat tipis. Sensasinya persis seperti gigitan semut kecil yang lewat dengan sangat cepat dan hilang begitu saja. Rasa perih itu, sesuai dengan yang diklaim di kertas instruksi, adalah sebuah pertanda biologis bahwa formula tersebut sedang bekerja aktif, membelah sel, dan melakukan penetrasi ke tingkat lapisan dermis yang paling dalam.
Setelah rasa perih kecil yang berlangsung hanya beberapa detik itu hilang, sebuah kenyamanan anestesi yang luar biasa aneh mengambil alih seluruh saraf wajahnya.
Ketegangan otot rangka di rahang kirinya, otot yang selalu ia gunakan untuk mengertakkan gigi dengan keras karena harus menahan beban hidup, menahan tangis, dan menelan amarah di mal, kini benar-benar menjadi sangat rileks. Sangat, sangat rileks.
Rasanya begitu ringan dan melayang. Seolah beban gravitasi bumi yang membebani wajahnya selama puluhan tahun telah diangkat begitu saja secara sihir dari sebagian wajahnya. Sensasi relaksasi otot itu menjalar ke pipi bawahnya, memberikan perasaan nyaman tiada tara yang membuat Maya tanpa sadar membuang napas lega melalui hidungnya.
”Haaaah…”
Maya membuka matanya perlahan. Napasnya kembali teratur. Dadanya yang tadi bergemuruh kini terasa tenang.
”Tidak sakit sama sekali…” gumamnya pelan. Suaranya memancarkan nada sedikit terkejut sekaligus takjub akan kualitas produk tersebut.
Ia meletakkan spatula obsidian yang sudah bersih dari krim itu kembali ke atas meja, menjauhkannya dari tepi agar tidak jatuh.
Maya berdiri, lalu mengambil satu langkah maju untuk menatap pantulan dirinya ke arah cermin retak.
Ia memicingkan mata, meneliti kulit rahang kirinya.
Tidak ada perubahan instan yang ekstrem layaknya sihir di film-film. Wajahnya di cermin masih terlihat sama menyedihkannya. Rahangnya masih asimetris. Pipi kirinya masih cekung.
Hanya saja, area kulit yang baru saja diolesi krim mutiara tersebut tampak sedikit lebih lembap, segar, dan berkilau glowing memantulkan cahaya di bawah lampu neon, tidak lagi sekusam aspal.
Satu menit berlalu dalam keheningan.
Dua menit berlalu. Maya masih berdiri di depan cermin, menunggu reaksi apa pun.
Tiga menit berlalu. Tidak ada yang terjadi pada wajahnya. Tidak ada asap, tidak ada kulit yang terkelupas, tidak ada otot yang bergerak sendiri.
Maya menghela napas panjang, dan kali ini, ia tersenyum getir pada pantulannya sendiri.
Ia benar-benar menertawakan dirinya sendiri karena sempat merasa setegang itu, sempat merasa seolah ia sedang melakukan ritual sekte terlarang.
Benar saja, logika awamnya adalah pemenangnya. Ini hanyalah krim anti-aging biasa. Krim pelembap yang sangat mahal, yang memberikan sensasi dingin kriogenik yang menenangkan otot, tapi tetaplah sebuah krim kosmetik biasa. Tidak lebih dari itu.
Semua kata-kata seram dan hiperbola di kertas instruksi hitam itu benar-benar hanya strategi marketing elit yang berhasil menipu psikologis dan kepanikannya mentah-mentah. Tidak ada yang namanya “Fase Plastisitas”. Tidak ada “Daging yang melunak”. Semua itu hanyalah omong kosong orang Swiss.
Merasa sudah cukup puas melakukan eksperimen nekatnya malam ini, Maya memutuskan untuk beristirahat. Tubuhnya sudah tak sanggup lagi berdiri.
Ia memutar badannya dengan gerakan sedikit lelah. Ia berniat untuk merapikan kembali botol dan jar tersebut, memasukkannya ke dalam kotak hitam, dan menyembunyikannya di dalam ranselnya kembali untuk diamankan.
Namun, karena rasa kantuk yang luar biasa berat mendera matanya, Maya menjadi kurang berhati-hati. Saat ia menunduk untuk meraih tutup jar di meja, bahu dan lengannya bergerak dengan koordinasi yang buruk.
Dan tanpa sengaja… gerakan tangannya meleset.
Pangkal pergelangan tangan kirinya yang menonjol keras, mengayun, dan menyenggol agak keras area rahang kiri bagian bawahnya sendiri. Tepat di area kulit yang baru saja ia olesi krim mutiara tersebut tiga menit yang lalu.
Duk.
Benturan itu terjadi.
Tidak ada rasa sakit sama sekali saat benturan tulang pergelangan tangan dengan tulang rahang itu terjadi. Tidak ada rasa ngilu. Hanya ada sebuah perasaan kebas, empuk, dan rileks yang sangat aneh di area yang terbentur itu. Seolah pergelangan tangannya baru saja menyenggol sebuah bantal busa, bukan tulang manusia.
Namun, ketika Maya menarik tangannya dan kembali menegakkan postur tubuhnya…
Ketika tanpa sengaja pandangannya kembali menangkap bayangan siluet wajahnya di cermin retak yang kusam itu…
Napas gadis itu seakan dirampas secara paksa dari paru-parunya oleh sebuah tangan gaib.
Mata rabun Maya membelalak lebar, sangat lebar, hingga urat-urat merah di matanya terlihat jelas.
Jantungnya, yang baru saja tenang, kini bergemuruh gila-gilaan, jauh lebih kencang dari sebelumnya. Darahnya berdesir dingin, membeku secara instan, mengalir cepat dari ubun-ubun kepala menembus tulang belakang hingga ke ujung jari kakinya.
Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara jeritan yang mampu keluar dari tenggorokannya yang lumpuh oleh teror murni.
Ia menatap pantulan cermin itu dengan kengerian absolut yang membuat seluruh sel saraf di tubuhnya membeku.
Di dalam pantulan cermin tersebut, bagian sudut rahang kirinya yang tadi tak sengaja tersenggol oleh pergelangan tangannya sendiri…
Kini tak lagi memiliki bentuk rahang manusia.
Ada sebuah lekukan ke dalam yang sangat mulus di sisi wajahnya. Sebuah cekungan dalam, yang ukurannya sama persis dengan bentuk dan ukuran tulang pangkal pergelangan tangannya yang membenturnya tadi.
Dagingnya yang tipis… otot pengunyahnya… dan yang paling mustahil di luar nalar sains… tulang rahang bawahnya… semuanya telah mengendur sempurna.
Struktur wajahnya di sisi itu telah melesak amblas ke dalam, benar-benar tunduk dan mengikuti tekanan dari benturan kecil tadi tanpa ada perlawanan keras dari struktur tulang sama sekali.
Wajahnya di sisi kiri kini terlihat penyok menjorok ke dalam dengan tingkat kelembutan yang ekstrem.
Persis… persis seperti segumpal tanah liat basah yang baru saja ditekan dan dicetak oleh ibu jari seorang pematung ahli.
Sebuah deformasi fisik yang sangat tidak wajar, mengerikan, menentang seluruh hukum anatomi Tuhan, namun anehnya… sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit fisik bagi Maya.
Dan pada detik yang membekukan waktu itulah, saat Maya menyentuh pipinya yang penyok dan meremas dagingnya sendiri yang kini terasa seperti adonan lunak… Maya akhirnya menyadari satu kebenaran yang mematikan.
Instruksi itu bukanlah bahasa kiasan.
Ia tidak sedang memakai kosmetik pelindung kulit orang kaya. Ia telah membuka sebuah kotak Pandora yang menyimpan rekayasa transmutasi biologis tingkat dewa.
Dan malam ini, dengan mengoleskan formula itu ke wajahnya, Maya baru saja mengukir takdirnya untuk merubah bukan hanya wajahnya, tetapi juga sisa-sisa kemanusiaannya, menuju sebuah kesempurnaan yang akan menghancurkan segalanya.