SIMETRI BAB 11 ~ Uji Coba Pertama

​Napas Maya berhenti total di ujung tenggorokan.

​Matanya terbelalak lebar, menatap horor yang terpantul dari cermin retak di hadapannya.

​Di sana, di bawah cahaya lampu neon kuning dapur yang berkedip pelan, wajahnya tak lagi utuh.

​Bagian rahang kirinya yang tadi tak sengaja tersenggol oleh tangannya sendiri kini melesak ke dalam.

​Tidak ada memar kebiruan. Tidak ada darah yang menetes. Dan yang paling ganjil… sama sekali tidak ada rasa sakit.

​Hanya ada sebuah cekungan mulus, seukuran kepalan tangan bayi, yang mendistorsi bentuk wajah aslinya secara ekstrem. Daging dan tulang rahangnya di area itu tampak amblas. Seolah struktur kalsium keras di balik kulitnya tiba-tiba menghilang, menguap menjadi udara, digantikan oleh sesuatu yang berongga.

​Garis wajah kirinya kini miring sebelah, membuatnya terlihat sangat ganjil, cacat, dan mengerikan.

​Tubuh Maya gemetar hebat.

​Tangannya perlahan terangkat. Jari-jarinya meragu di udara, bergetar ketakutan, sebelum akhirnya ia memberanikan diri menyentuh cekungan di wajahnya sendiri.

​”A-apa ini…” bisiknya dengan suara tercekat.

​Sensasi sentuhan pertama itu membuat lambung Maya melilit mual hingga ia nyaris muntah.

​Permukaan kulit rahang kirinya terasa sangat dingin. Jauh lebih dingin dari suhu tubuh normal manusia. Namun, yang paling menghancurkan akal sehatnya adalah tekstur di balik kulit itu.

​Kulit dan daging itu terasa sangat lunak. Sangat empuk. Tidak ada perlawanan dari tulang rahang yang seharusnya keras menopang area tersebut. Rasanya persis seperti menyentuh adonan lilin mainan yang baru saja diremas, atau gumpalan tanah liat basah yang siap dibentuk oleh tangan seorang pematung.

​Ia mencoba menekan sedikit lebih dalam menggunakan ujung jari telunjuknya.

​Kulit rahangnya ikut melesak mengikuti tekanan jarinya. Dagingnya membentuk lubang kecil baru yang tak kunjung kembali ke bentuk semula meski jarinya sudah ditarik menjauh. Kulitnya tidak sobek. Dagingnya tidak berdarah. Area itu benar-benar pasrah, menuruti ke mana pun arah tekanan jarinya pergi.

​Kepanikan seketika meledak di dalam dada Maya, menghancurkan seluruh logikanya. Udara di dapur sempit itu mendadak terasa lenyap.

​”Ya Tuhan… Ya Tuhan! Apa yang aku lakuin?!” jeritnya tertahan, suaranya bergetar hebat.

​Ia mundur selangkah dengan kasar hingga punggungnya membentur ujung meja beton. Matanya melotot liar, mencari-cari kertas instruksi hitam bertinta perak yang tadi ia lempar begitu saja ke atas meja.

​Tangannya yang gemetar mengais-ngais kertas itu dengan panik. Ia mendekatkannya ke wajahnya, membaca ulang deretan kalimat peringatan yang tadi ia remehkan karena ia mengira itu hanya lelucon belaka.

“…Fase plastisitas berlangsung selama tiga puluh menit… Setelah itu, formula akan mengunci dan memadatkan jaringan secara permanen… mempertahankan bentuk kontur terakhir…”

​Mata Maya terlepas dari kertas itu dan langsung tertuju pada jam dinding plastik murahan yang tergantung di atas pintu dapur.

​Ia mengingat-ingat dengan panik. Ia mengoleskan gel mutiara itu ke rahang kirinya sekitar lima menit yang lalu.

​”Dua puluh lima menit…” gumam Maya dengan bibir pucat pasi. “Aku cuma punya waktu dua puluh lima menit!”

​Itu artinya, ia hanya memiliki sisa waktu kurang dari setengah jam sebelum jaringan daging dan tulang di wajah kirinya benar-benar kembali mengeras, membeku menjadi otot dan kalsium permanen.

​Kengerian absolut mencekik lehernya.

​Jika ia membiarkan wajahnya penyok dan melesak seperti ini sampai waktu tiga puluh menit itu habis, ia akan cacat seumur hidup. Ia akan memiliki wajah monster. Ia tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini lagi. Bu Ratna pasti akan langsung memecatnya karena penampilannya menakuti pengunjung, dan ia tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan apa pun dengan wajah asimetris yang menyeramkan itu. Ibunya akan kelaparan.

​”Nggak! Nggak boleh begini!” rintih Maya putus asa.

​Air mata ketakutan mulai mengalir deras, membasahi pipinya yang kuyu. Ia melempar kertas instruksi itu kembali ke meja dan berlari mendekati cermin retak.

​Ia harus mengembalikannya. Ia harus memperbaiki struktur wajahnya sekarang juga sebelum semuanya terlambat.

​Dengan kedua tangan yang bergetar tak terkendali, Maya menempelkan telapak tangannya ke area pipi dan rahang bawah kirinya.

​Ia mulai menekan daging lunak itu dari luar. Ia mencoba mendorong cekungan di rahangnya agar kembali menonjol keluar. Ia menekan dari bawah telinga, meremas pelan rahangnya, dan menggeser massa daging serta tulang lunak itu ke arah depan dengan gerakan mengurut.

​Rasa mual kembali menyerang perutnya. Sensasinya luar biasa menjijikkan saat ia bisa merasakan bagaimana dagingnya sendiri bergeser, berpindah, dan mengalir di bawah permukaan kulitnya layaknya adonan roti kental.

​Ia membuka mulutnya. Ia bahkan menggunakan ibu jari kanannya untuk menekan dari dalam rongga mulutnya, sementara jari-jari di luar menahan kulit pipi kirinya. Ia mendorong dari dalam ke arah luar dengan hati-hati agar cekungan mengerikan itu rata kembali.

​Pelan-pelan, cekungan parah akibat benturan tadi mulai menghilang. Dagingnya terisi kembali. Garis rahangnya mulai terbentuk.

​Maya menghela napas panjang yang sangat berat, menarik ibu jarinya dari dalam mulut. Ia mengusap air mata paniknya menggunakan punggung lengan bajunya.

​Ia menatap pantulannya di cermin dengan dada yang masih naik turun. Wajahnya di sisi kiri kini sudah kembali rata. Cekungan monster itu telah hilang. Tidak lagi penyok.

​Namun…

​Saat ia memajukan wajahnya, memperhatikan lebih teliti dari jarak yang sangat dekat di bawah lampu neon, ada sesuatu yang membuat sisa napasnya kembali tertahan. Tangannya perlahan turun.

​Area rahang kiri dan pipi bawah yang baru saja ia ‘perbaiki’ secara asal-asalan itu… kini terlihat sangat berbeda dari bentuk wajah aslinya di sisi kanan.

​Karena ia tadi menarik, meremas, dan meratakan dagingnya ke arah atas untuk menghilangkan cekungan, kulit dan daging di sisi kiri wajahnya kini ikut tertarik dan menegang. Tulang rahangnya di bagian itu tanpa sengaja membentuk sebuah sudut yang sedikit lebih tegas, lebih tirus, dan tidak secekung sisi kanannya yang kurang gizi.

​Bukan hanya bentuknya yang berubah secara magis.

​Di bawah cahaya lampu kuning yang berkedip, Maya bisa melihat dengan sangat jelas bahwa warna dan tekstur kulit di seluruh area yang tadi ia olesi gel mutiara itu telah bertransformasi total.

​Kulit kirinya yang tadinya berwarna gelap, kusam, dipenuhi flek hitam, dan bertekstur kasar akibat debu mal… kini berubah menjadi sehalus porselen murni. Warnanya naik beberapa tingkat lebih cerah, bersih tanpa ada satu pun noda hitam, bekas jerawat, atau bahkan pori-pori yang terlihat.

​Kulit di area rahang kiri itu tampak bercahaya, sehat, merona, dan luar biasa kenyal. Seperti kulit seorang bidadari yang tak pernah tersentuh sinar matahari kotor.

​Maya tertegun. Mulutnya sedikit terbuka.

​Ia menyentuh area kulit kiri yang halus itu dengan ujung jarinya. Lalu ia memindahkan jarinya menyentuh pipi kanannya yang masih kasar, kering, dan kusam.

​Kontrasnya begitu brutal. Begitu nyata dan tak terbantahkan.

​Ia tidak sedang bermimpi. Benda dari bawah panggung itu bukan lelucon. Instruksi absurd di kertas hitam itu sama sekali bukan omong kosong.

​Rasa takut yang sejak tadi mencekiknya tiba-tiba menguap, digantikan oleh sebuah gelombang adrenalin yang sangat pekat, gelap, dan memabukkan. Jantungnya berdebar kencang, namun kali ini bukan karena panik. Melainkan karena sebuah kekuasaan yang baru saja ia sadari.

​Ia kembali menatap jarinya. Lalu menatap wajahnya di cermin.

“Gunakan ujung jemari Anda untuk menekan, membentuk, menarik, atau menyesuaikan simetri wajah sesuai dengan standar presisi estetika yang Anda dambakan.”

​Kalimat instruksi itu terngiang kembali di telinganya layaknya mantra sihir.

​Maya menelan ludah. Waktu terus berjalan tanpa ampun.

​Ia masih punya dua puluh menit tersisa sebelum fase lunak pada rahang kirinya ini berakhir dan terkunci permanen.

​Jika ia hanya meratakan rahangnya seperti bentuk semula, ia akan kembali menjadi Maya yang jelek. Ia akan kembali menjadi bulan-bulanan kekejaman Sari, bahan tawaan Icha, dan keset bagi Tante Sisca.

​Tapi saat ini… detik ini juga… ia sedang memegang kendali penuh atas anatomi tubuhnya sendiri. Ia adalah Tuhan atas dagingnya.

​Tangan Maya kembali terangkat, merayap mendekati rahang kirinya. Matanya menatap tajam ke cermin.

​Dengan gerakan yang jauh lebih tenang, lebih terfokus, dan didorong oleh dendam akan kemiskinannya, Maya menempatkan ibu jari dan telunjuknya di sepanjang garis rahang kiri.

​Ia mulai memahat wajahnya sendiri.

​Ia menekan bagian bawah rahangnya, menariknya perlahan ke arah atas, membuang sisa kulit kendur yang sering membuatnya terlihat kelelahan dan tua. Daging lunak itu menuruti sentuhannya dengan sangat sempurna tanpa perlawanan.

​Kemudian, ia meletakkan dua jarinya di bawah tulang pipi kirinya. Ia menekan perlahan ke arah dalam, dan sedikit menarik tulang lunak itu ke atas. Ia membentuk lengkungan tulang pipi yang tegas dan tinggi, lengkungan yang sama persis dengan yang sering ia lihat di wajah para model asing di majalah-majalah fashion yang sering ia buang dari tempat sampah mal.

​Setiap kali ia menarik, memijat, atau menekan, kulit dan jaringan lunak di bawahnya mengikuti tanpa putus. Ia terus memoles area kiri bawah wajahnya dengan luar biasa teliti, menghapus setiap jejak kemiskinan, penderitaan, dan kekusaman dari garis wajahnya.

​Jam dinding berdenting konstan.

​Maya menurunkan kedua tangannya.

​Ia berdiri mematung di depan wastafel, tidak berani bergerak satu milimeter pun. Napasnya diatur sepelan mungkin agar otot wajahnya tidak bergeser. Matanya terpaku pada jarum detik di jam dinding yang terus berputar mengitari angka.

​Fase transisi tiga puluh menit itu akhirnya mencapai batasnya.

​Perlahan-lahan, sensasi dingin seperti es yang sejak tadi menyelimuti sisi kiri wajahnya mulai mereda.

​Sebagai gantinya, sebuah rasa hangat yang sangat aneh menjalar dari bawah lapisan kulitnya. Maya bisa merasakan sesuatu sedang terjadi di dalam sana secara mikroskopis. Rasa hangat itu menyebar bagai aliran listrik kecil, mengikat kembali jaringan sel yang tadi tercerai-berai. Tulang-tulangnya seolah kembali merajut diri menjadi struktur kalsium yang sangat padat, dan otot-otot di bawah kulitnya menarik diri dengan sangat kencang, mengunci posisinya yang baru dengan presisi absolut.

​Sensasi penguncian itu berlangsung cepat, hanya memakan waktu sekitar dua atau tiga menit.

​Setelah rasa hangat yang mengikat itu sepenuhnya hilang, area wajah kirinya kembali terasa normal. Tidak ada lagi kebas. Tidak ada lagi rasa dingin. Semuanya kembali normal.

​Maya mengangkat tangan kirinya yang masih sedikit gemetar. Ia mengetuk pelan rahang kirinya dengan buku jarinya.

Tuk. Tuk.

​Keras. Padat. Terdengar bunyi tulang yang sehat.

​Sisi kiri wajahnya telah kembali menjadi tulang dan daging manusia biasa. Waktu memahatnya telah habis.

​Maya mencondongkan wajahnya ke arah cermin, mengamati hasilnya dari jarak yang sangat dekat.

​Ia nyaris tidak bisa mengenali sisi kiri wajahnya sendiri.

​Rahang kirinya kini terlihat tirus sempurna dengan sudut V-shape yang sangat elegan. Tulang pipinya sedikit lebih menonjol, memberikan dimensi wajah yang tegas dan mahal layaknya supermodel profesional. Dan yang paling mencolok, seperti yang ia sadari tadi, adalah tekstur kulitnya lembut, mulus, putih bercahaya, dan sama sekali tidak terlihat kuyu.

​Ini adalah sebuah keajaiban medis tingkat dewa yang tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan mana pun.

​Namun, senyum kemenangan di bibir kirinya hanya berumur beberapa detik.

​Ketika ia memundurkan langkahnya dan melihat wajahnya secara keseluruhan di cermin, sebuah realitas visual yang sangat mengerikan menamparnya.

​Wajahnya kini luar biasa asimetris. Tidak proporsional sama sekali.

​Sisi kirinya adalah sebuah mahakarya estetika porselen. Sementara sisi kanannya, masih murni merupakan wajah Maya yang lama, pipi yang cekung kusam, rahang yang lebih tumpul, dan kulit gelap yang dipenuhi noda lelah.

​Kontras antara setengah wajah bagian kiri dan setengah wajah bagian kanan terlihat begitu ekstrem. Ia terlihat seperti dua orang dari kasta sosial yang berbeda, yang wajahnya dibelah dan dijahit menjadi satu. Wajahnya secara keseluruhan kini jauh lebih aneh, ganjil, dan mengerikan daripada saat ia penyok tadi.

​”Astaga…” keluh Maya pelan, menutup mulutnya dengan tangan, ngeri melihat dirinya sendiri.

​Jika ia pergi bekerja besok pagi dengan wajah setengah bidadari setengah gembel ini, semua orang, terutama Bu Ratna dan Sari pasti akan langsung menyadarinya. Ia bisa saja dituduh mengidap penyakit aneh dan diusir dari mal sebelum sempat memegang gagang sapu.

​Ia harus menyeimbangkan wajahnya. Malam ini juga.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk ragu, Maya berlari ke meja dapur, meraih spatula obsidian dari dalam kotak hitam. Gerakannya kini tidak lagi dipenuhi oleh ketakutan, melainkan oleh tekad.

​Ia mengambil secuil gel mutiara dingin itu. Dengan penuh perhitungan matematis, ia mengoleskannya di seluruh area rahang, pipi bawah, dan dagu kanannya.

​Rasa dingin yang membekukan tulang kembali menyerangnya, secara instan meruntuhkan struktur seluler dan kalsium di sisi kanan wajahnya.

​Ia kembali menunggu selama tiga menit. Menahan napas, menahan diri agar tidak melakukan sentuhan prematur.

​Setelah tiga menit yang menyiksa itu berlalu dan area tersebut mulai terasa kebas, tebal, dan mengendur layaknya adonan, Maya mulai bekerja kembali.

​Ia memahat sisi kanannya. Ia menggunakan jari-jarinya sebagai alat ukur manual untuk memastikan lengkungan rahang kanan dan tinggi tulang pipi kanannya presisi serta simetris dengan sisi kiri.

​Matanya bolak-balik menatap cermin, menekan sedikit demi sedikit, menarik kulitnya ke atas, dan menghaluskan permukaannya. Ia sangat berhati-hati agar tidak salah menekan, yang bisa membuat wajahnya menjadi miring permanen.

​Sekali lagi, setelah ia merasa puas dengan simetrinya, Maya berdiri kaku selama setengah jam. Menunggu jaringan di sisi kanannya mengalami fase penghangatan, mengeras, dan mengunci bentuk secara permanen.

​Seluruh proses transmutasi itu akhirnya selesai.

​Maya membasuh wajahnya dengan air dingin dari keran untuk menghilangkan sisa-sisa keringat ketegangan yang membasahi dahi dan lehernya. Ia mengambil handuk bersih yang kasar, mengeringkan wajahnya dengan tepukan pelan, lalu menatap pantulannya di cermin sekali lagi.

​Wajah aslinya di bagian atas masih ada. Mata lelahnya yang minus masih berada di balik kacamata tebal yang diselotip. Hidung peseknya masih sama ukurannya. Dahi kusamnya masih tertutup poni rambut yang berantakan.

​Namun… dari batas tulang pipi ke bawah hingga ke dagunya, semuanya telah berubah total.

​Garis rahangnya kini tegas dan tirus, simetris sempurna di sisi kiri dan kanan. Kulit di area pipi bawah dan rahangnya begitu mulus, cerah, dan kencang tanpa cela.

​Maya mengangkat kedua tangannya, menutupi bagian atas wajahnya dari mata hingga dahi, hanya menyisakan bagian bawah wajahnya yang terlihat di cermin.

​Melihat bagian bawah itu saja, wajah tersebut benar-benar terlihat seperti milik wanita dari kelas sosial yang jauh berbeda. Kelas sosial yang biasa duduk di kursi beludru VVIP, bukan kelas sosial pemegang sapu lidi.

​Maya menurunkan tangannya. Ia membelai rahang barunya dengan rasa takjub yang menggetarkan jiwa.

​Tidak ada krim yang luntur di jarinya. Tidak ada rasa dempul palsu. Ini bukan riasan wajah. Ini adalah kulitnya yang asli. Ini adalah dagingnya yang asli yang telah berevolusi.

​Ia tersenyum. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sejak ayahnya meninggal, ia melihat lengkungan bibirnya di cermin tanpa disertai rasa benci pada dirinya sendiri.

​Namun, kelelahan ekstrem dari kurang tidur, lapar, dan beban emosional akhirnya menghantam fisiknya tanpa ampun. Tubuhnya terasa seperti baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer.

​Maya segera mengemasi jar kaca bulat dan spatula obsidian itu. Ia memastikannya tertutup rapat, memasukkannya kembali ke dalam kotak hitam, dan menutup segel magnetiknya.

​Ia berjalan ke arah lemari pakaian kayunya yang sudah lapuk di sudut kamar. Ia membuka pintunya yang berderit, lalu menyelipkan kotak hitam mewah itu ke bagian paling dasar, menumpuknya rapat-rapat di bawah tumpukan baju bekas dan selimut tuanya agar tidak ada yang bisa menemukannya.

​Ia berjalan gontai ke balik tirai kamarnya, menjatuhkan tubuh kurusnya ke atas kasur busa tipis, tepat di samping ibunya yang masih mendengkur halus. Begitu kepalanya menyentuh bantal kapuk yang keras, Maya langsung tertidur lelap, diselimuti oleh mimpi-mimpi tentang wajah yang baru.

​Pagi harinya.

​Matahari telah terbit. Grand Atrium Mall kembali bersiap memulai rutinitas hariannya yang kejam.

​Maya sedang duduk di atas bangku kayu panjang di ruang ganti karyawan basement. Pukul 06:45 pagi.

​Kepalanya masih terasa cukup berat karena hanya tidur kurang dari empat jam semalam. Namun entah mengapa, berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana ia merasa seperti mayat hidup, pagi ini ada dorongan energi yang aneh mengalir di dalam aliran darahnya. Sebuah antisipasi tersembunyi yang membuat matanya sedikit lebih melek.

​Ia sudah mengenakan seragam biru kebersihannya yang pudar dan kusam.

​Saat ia sedang mengikat rambut hitamnya menjadi kuncir kuda yang kaku ke belakang, tangannya tanpa sadar mengelus rahangnya sendiri. Tekstur kulit wajahnya di bagian bawah terasa sangat berbeda dari tekstur kulit lehernya. Kulit rahangnya sangat halus, dingin, dan kencang.

​Maya segera menarik tangannya ke bawah, menyadari bahwa ia tidak boleh terus-terusan menyentuh wajahnya di tempat umum agar tidak mengundang kecurigaan.

​Ia membuka pintu loker besinya. Dari dalam tas ranselnya, ia mengambil sebuah masker kain berukuran cukup besar berwarna biru dongker, masker yang biasa ia gunakan saat bertugas menyapu area loading dock yang terlalu berdebu.

​Ia mengaitkan tali masker itu ke telinganya.

​Masker kain itu cukup besar untuk menutupi wajahnya dari bagian bawah mata hingga melewati dagu dan menutupi sebagian leher depannya. Ia merapatkan ujung-ujung maskernya, bercermin di kaca kecil lokernya, memastikan tidak ada sedikit pun kulit rahang atau pipi bagian bawahnya yang mulus itu terlihat dari luar.

​Ia sangat sadar bahwa wajahnya saat ini hanya berubah setengah. Kontras warna kulit di bagian bawah yang tiba-tiba seputih porselen, berpadu dengan dahi dan hidungnya yang masih gelap kusam, pasti akan memancing banyak pertanyaan mematikan dari rekan kerjanya. Untuk saat ini, bersembunyi di balik kain masker adalah jalan keluar yang paling logis dan aman.

​Pintu besi ruang ganti berderit pelan. Maya menoleh.

​Rani melangkah masuk. Gadis dengan jepit rambut stroberi andalannya itu tampak berjalan sedikit lesu. Ia menguap lebar-lebar tanpa ditutupi sambil menyeret kakinya ke arah deretan loker. Sisa kelelahan akibat lembur semalaman masih tercetak jelas di wajah polosnya yang sedikit berminyak.

​Namun, begitu Rani melihat Maya sedang duduk menunggunya di pojok ruangan, mata bulat gadis itu langsung berbinar-binar cerah.

​Rani berlari kecil menghampiri Maya dan menjatuhkan tubuhnya duduk berhimpitan di sebelah sahabatnya itu.

​”May! Astaga naga, kamu beneran langsung masuk kerja pagi ini? Kamu nggak capek apa badannya?!” seru Rani, suaranya sedikit cempreng memecah kesunyian ruang ganti. “Aku aja pas bangun tadi subuh rasanya pinggangku mau copot lepas dari badanku. Bapakku sampai nawarin mau bikinin surat izin sakit lho ke kantor. Eh, kamu semalam pulangnya aman kan?”

​Maya mengangguk pelan. Suaranya sedikit teredam oleh kain masker tebal yang ia kenakan.

​”Aman kok, Ran. Aku langsung dapet angkot di depan jalan raya, nggak nunggu lama,” jawab Maya. “Lagian aku nggak bisa izin sakit hari ini, Ran. Kamu tau sendiri gajiku kan. Kalau aku bolos, nanti aku malah dituduh melawan dan kena denda potong gaji lagi.”

​Rani meringis mendengarnya. Ia merasa bersalah karena telah menyinggung soal gaji dan insiden kemarin.

​”Iya juga sih. Mak Lampir satu itu emang kebangetan banget jahatnya,” gerutu Rani memajukan bibirnya. “Eh, tapi seenggaknya ada untungnya ya acara launching kosmetik ribet itu udah kelar. Hari ini kita bisa balik ke rotasi normal. Ngepel lantai biasa, nggak usah berurusan sama serbuk kayu dan orang-orang EO yang galak-galak itu lagi.”

​Rani berdiri. Ia membuka pintu lokernya, mengambil kemeja seragam birunya, dan mulai bersiap mengganti baju.

​Namun, saat Rani membalikkan badannya untuk menutup pintu loker, gerakannya tiba-tiba terhenti secara mendadak.

​Gadis tembam itu berdiri mematung. Ia memicingkan matanya, dan menatap Maya lekat-lekat dari jarak sekitar satu meter. Dahinya yang halus berkerut dalam, seolah ia sedang berusaha menganalisis sebuah teka-teki visual yang sangat sulit ia pecahkan.

​Melihat tatapan Rani yang tidak biasa itu, Maya merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.

​Maya buru-buru menunduk. Ia membetulkan letak kacamatanya yang dililit selotip, lalu mencoba terlihat sibuk merapikan isi tas ranselnya agar tidak harus bertatapan langsung dengan Rani.

​”Kenapa, Ran? Ada kotoran ya di seragamku?” tanya Maya, berusaha keras agar nada suaranya terdengar santai, meskipun jantungnya mulai berdebar lebih cepat.

​Rani tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah maju satu tindak mendekati Maya. Dahinya masih berkerut. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.

​”May… kamu…” Rani menggantung kalimatnya. Matanya menelusuri wajah Maya yang tertutup masker dengan sangat teliti, dari atas ke bawah. “Kamu beda deh hari ini. Ada yang aneh dari kamu.”

​Darah Maya berdesir kencang. Ia mencengkeram erat pinggiran tas kanvasnya.

Apakah maskernya kurang rapat? Apakah batas warna kulit porselennya terlihat dari celah masker?

​”A-aneh gimana maksudmu, Ran? Kan aku emang lagi pake masker hari ini. Aku agak flu sedikit gara-gara kebanyakan ngehirup debu semalam,” kilah Maya cepat dan defensif. Ia secara refleks mengangkat tangannya, memegang dan menarik ujung maskernya ke atas untuk memastikan posisinya menutupi rahang dengan sempurna.

​”Bukan maskernya, May…” gumam Rani pelan.

​Gadis polos itu mencondongkan wajahnya lebih dekat ke wajah Maya, membuat Maya secara insting memundurkan kepalanya hingga punggungnya bersandar mentok ke loker besi di belakangnya.

​”Aku perhatiin dari tadi pas kamu ngomong,” lanjut Rani, menunjuk dengan telunjuknya ke arah wajah Maya. “Bentuk rahang dan pipi kamu di balik kain masker itu… kok kelihatan lebih tirus dan ngebentuk banget ya? Kemarin kan agak cekung ke dalam.”

​Napas Maya tertahan. Jantungnya berdentum gila-gilaan menghantam tulang rusuknya, seolah ada burung yang terjebak di dalam dadanya.

​”Terus…” Rani memicingkan matanya lagi, mengamati bagian sisi wajah Maya. “Kulit kamu yang kelihatan ngintip sedikit di dekat bawah telinga sama tali masker situ… kok putih cerah banget? Tumben. Kamu pake bedak dempul ya pagi ini buat nutupin bekas tamparan Bu Ratna?”

​Maya terkesiap. Ia lupa. Ia benar-benar lupa bahwa kulit di sekitar pangkal rahang dan bawah telinganya tidak sepenuhnya tertutup oleh tali maskernya yang tipis. Kulit yang kini telah berubah menjadi cerah bersinar itu, jelas terlihat sangat kontras dengan kulit lehernya yang gelap dan kusam.

​Kepolosan Rani, yang sering kali membuat gadis itu lambat dalam memproses hal-hal rumit, ternyata juga membuatnya sangat jeli, blak-blakan, dan jujur dalam mengamati hal-hal fisik kecil yang ada di depannya tanpa filter prasangka apa pun.

​”Eh? Masa sih kelihatan tirus?” Maya memaksakan sebuah tawa yang terdengar sangat canggung, bergetar, dan kaku.

​Maya buru-buru mengangkat tangannya, pura-pura menggaruk lehernya sambil menarik kerah seragam birunya ke atas, lalu menundukkan kepalanya, berusaha menutupi area bercahaya yang ditunjuk Rani.

​”Ah, perasaanmu aja kali, Ran,” Maya menyusun kebohongan dengan cepat. “Mana mungkin aku pake bedak dempul pagi-pagi buta begini. Ini tuh cuma bedak tabur murahan sisaan Ibuku di rumah. Aku pake dempul agak tebal asal-asalan emang buat nutupin bekas merah tamparan kemarin… biar kulitku nggak kelihatan belang banget kalau keringatan.”

​”Bedak tabur murahan?” Rani tampak sama sekali tidak yakin dengan jawaban itu. Ia mengerucutkan bibirnya, maju selangkah lagi. “Tapi alus banget lho kelihatannya dari sini, May. Nggak ada dempul bedak yang bisa se-nempel itu. Warnanya tuh kayak kulit bayi. Kayak porselen. Terus bentuk pipi kamu itu beneran kayak—”

Brak!

​Pintu ruang ganti didorong dengan sangat kasar dari arah luar. Pintu besi itu menghantam dinding dengan suara keras yang memekakkan telinga, seketika memotong kalimat interogasi Rani.

​Udara di dalam ruang sempit yang tadinya berisi kehangatan persahabatan, mendadak berubah menjadi tegang, beracun, dan dingin.

​Sari melangkah masuk.

​Di belakangnya, seperti biasa, mengekor Icha.

​Sari mengenakan seragam birunya yang dijahit ketat memeluk dada dan pinggang. Rambutnya dicepol rapi ke atas. Wajahnya dipoles makeup tebal yang flawless. Namun pagi ini, aroma parfum mawarnya yang menyengat tidak bisa menutupi raut wajah wanita itu.

​Wajah Sari terlihat sangat keruh. Matanya memancarkan kekesalan, kelelahan, dan mood yang luar biasa buruk, seolah ia siap menerkam dan melampiaskan amarahnya pada siapa saja yang berani bernapas di dekatnya pagi ini.

​Sari menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Maya dan Rani yang sedang duduk berdua di bangku kayu sudut.

​Sari mendengus kasar.

​”Heh, kalian berdua,” panggil Sari dengan suara yang sangat tajam, melipat kedua tangannya di depan dada. “Pagi-pagi bukannya buruan nyiapin alat pel sama air karbol ke lantai atas, malah asyik ngerumpi di sini. Kalian pikir mal ini warung kopi tempat arisan?!”

​Mendengar bentakan senior yang sangat ditakutinya itu, Rani yang tadinya masih penasaran dengan wajah Maya, seketika menciut ketakutan. Bahunya menyusut. Ia buru-buru menunduk, mengalihkan pandangannya, dan mengambil tas kerjanya tanpa berani menjawab.

​Di balik maskernya, Maya justru menghela napas panjang yang sarat akan kelegaan absolut.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya bekerja di Grand Atrium Mall, Maya merasa sangat bersyukur atas kedatangan Sari. Kehadiran ‘Mak Lampir’ dan bentakannya itu telah secara sempurna menyelamatkannya dari interogasi mematikan dan observasi tajam Rani.

​Namun… kelegaan Maya ternyata hanya berumur hitungan detik.

​Saat Sari melangkah maju mendekati lokernya yang kebetulan bersebelahan persis dengan loker Maya, wanita dominan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

​Mata tajam Sari perlahan menyipit. Ia menatap lurus ke arah Maya yang sedang duduk meringkuk menunduk dengan masker kain biru besarnya.

​Ada sebuah keheningan sesaat yang terasa sangat menyesakkan dada di dalam ruang ganti tersebut.

​Hingga akhirnya, sudut bibir merah Sari melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum culas yang luar biasa memuakkan.

​”Lo ngapain pagi-pagi buta di dalam ruangan gini pake masker segede gaban?” sindir Sari dengan suara pelan, namun sarat akan ancaman dan insting mem-bully.

​Sari tidak menunggu jawaban Maya. Tangan wanita itu dengan cepat terulur ke depan, bergerak berniat meraih ujung masker kain Maya untuk membukanya secara paksa.

​”Kenapa muka lo ditutup-tutupin begitu, May? Takut ketahuan belum mandi, atau emang bekas tamparan kemarin bikin muka lo bener-bener udah nggak bisa diselamatin lagi bentuknya?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.