Tangan Sari terulur membelah udara di ruang ganti yang sempit itu.
Kuku-kukunya yang dicat merah maroon dan dikikir runcing tampak seperti cakar pemangsa yang siap mengoyak wajah mangsanya. Ujung jari wanita dominan itu kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari tali masker kain biru dongker yang menutupi setengah wajah Maya.
Waktu seakan melambat.
Di dalam kepala Maya, alarm bahaya meraung dengan sangat memekakkan telinga. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergemuruh menabrak tulang rusuk.
Jika Sari berhasil menarik masker itu… jika wanita bermulut berbisa ini dan Icha melihat wajahnya yang asimetris, habislah sudah.
Sari tidak akan hanya menertawakannya.
Wanita itu pasti akan langsung mengeluarkan ponselnya, memfotonya secara paksa, menyebarkannya ke seluruh grup obrolan karyawan mal, dan menuduhnya memiliki penyakit kulit menular atau kutukan mengerikan. Maya pasti akan langsung dilaporkan, diseret ke hadapan Bu Ratna, dan diusir dari Grand Atrium Mall dengan cara yang paling memalukan pagi ini juga.
Insting bertahan hidup Maya, yang biasanya selalu pasif dan pasrah menerima nasib, tiba-tiba mengambil alih kendali otaknya dengan kecepatan kilat.
Tepat seperseribu detik sebelum kuku tajam Sari menyentuh kain maskernya…
Maya membungkukkan badannya ke depan dengan gerakan yang sangat kasar dan dramatis. Ia sengaja menepis tangan Sari menggunakan bahunya, lalu menarik napas pendek.
”UHUK! UHUK! HOEK!”
Sebuah suara batuk yang luar biasa keras, basah, dan menggema meledak dari balik masker Maya.
Suara batuk itu terdengar sangat mengerikan. Ia memaksakan tenggorokannya untuk berbunyi serak, seolah paru-parunya sedang berusaha memuntahkan segumpal dahak berdarah atau cairan infeksi yang menyumbat jalan napasnya.
Maya memegangi dadanya dengan kedua tangan. Ia meremas kemeja seragamnya kuat-kuat, melengkungkan punggungnya, dan terus terbatuk hebat hingga tubuh kurusnya berguncang-guncang di atas bangku kayu.
”UHUK! UHUK!”
Sari menjerit kaget.
Wanita itu buru-buru menarik tangannya dengan gerakan panik, seolah ia baru saja nyaris menyentuh bara api yang menyala. Sari melompat mundur dua langkah dengan refleks yang sangat cepat, hingga punggungnya menabrak tubuh Icha yang juga sama terkejutnya di belakang.
”Gila! Lo jorok banget sih, May!” lengking Sari dengan suara melengking tinggi.
Sari langsung menutupi hidung dan mulutnya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain mengibas-ngibas udara di depannya dengan panik. Wajahnya yang tadi dipenuhi rasa selidik yang angkuh kini berubah total menjadi topeng rasa jijik dan horor yang luar biasa.
Maya masih menunduk dalam-dalam. Ia sengaja meneruskan sandiwaranya, mengambil napas dengan bunyi desisan yang menyakitkan.
”M-maaf, Mbak Sari… uhuk! S-saya… saya lagi flu berat…” jawab Maya dengan suara parau yang dibuat-buat serak, seolah ia kesulitan menarik oksigen.
Maya terus memegang dadanya, menatap lantai.
”Batuk berdahak dari semalam, Mbak. D-dada saya sesak banget… uhuk! Makanya saya pake masker… saya takut nularin yang lain… uhuk!“
Mendengar kata ‘nularin’ dan ‘berdahak’, mata Sari semakin membelalak ngeri.
”Najis! Pantesan lo nutupin muka lo pake masker segede gaban!” bentak Sari dengan urat leher menonjol.
Sari melirik seragamnya sendiri dengan tatapan luar biasa panik, memeriksa apakah ada cipratan air liur tak kasat mata dari batuk Maya yang menempel di baju mahalnya.
”Kalau lo penyakitan kayak gitu, mending lo izin sakit aja sana di rumah! Nggak usah masuk kerja! Jangan bawa-bawa virus gembel lo ke mal ini! Lo mau bikin kita semua ketularan TBC, hah?!” caci Sari tak kenal ampun.
Icha, yang berdiri di belakang Sari, langsung menarik-narik lengan kemeja sahabatnya itu dengan ketakutan yang tak kalah besar. Icha adalah tipe orang yang sangat takut pada kuman.
”Udah, Sar! Ayo kita keluar aja sekarang! Nular nanti, bahaya banget!” rengek Icha sambil melangkah mundur mendekati pintu ruang ganti. “Udara di ruangan sempit ini pasti udah penuh kuman batuknya si Maya! Nanti kalau kita sakit, kita nggak bisa jalan bareng pacar kita ntar malam!”
Sari mendengus sangat kasar. Ia menatap Maya yang masih berpura-pura membungkuk dan terbatuk kecil, dengan pandangan merendahkan untuk terakhir kalinya.
”Awas lo ya, May,” ancam Sari sambil menunjuk dari kejauhan. “Jangan berani-berani lo lewat di koridor lantai area gue hari ini. Gue nggak mau ngirup udara yang sama kayak orang miskin penyakitan kayak lo! Bikin sial aja pagi-pagi!”
Tanpa menunggu balasan, Sari membalikkan badannya dengan cepat. Ia mendorong pintu besi ruang ganti itu dengan kasar dan berlari kecil keluar bersama Icha.
Suara sepatu hak pantofel mereka berderap menjauh dengan sangat tergesa-gesa, seolah mereka sedang lari dari kejaran monster kelaparan.
Begitu pintu tertutup kembali dan keheningan menyelimuti ruangan, Maya perlahan-lahan menghentikan suara batuk palsunya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih naik turun dengan liar, namun kali ini murni karena sisa-sisa lonjakan adrenalin.
Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Peluh itu mengalir membasahi lehernya yang gelap. Tangannya yang masih gemetar perlahan naik untuk memegang maskernya, merapatkannya ke hidung, memastikan benda kain itu masih menutupi rahang kirinya yang sempurna dengan sangat aman.
”Huft…” Maya menghela napas lega yang sangat panjang.
Di sudut ruangan, Rani yang sedari tadi meringkuk ketakutan akibat kedatangan Sari, perlahan-lahan merayap mendekati Maya.
Penyelidikan Rani yang kritis tentang ‘kulit porselen’ dan ‘wajah tirus’ Maya beberapa menit lalu telah sepenuhnya menguap, terhapus oleh ketakutan dan digantikan oleh simpati yang sangat murni.
Gadis berpipi tembam itu menatap Maya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi rasa kasihan yang tulus.
”May… kamu beneran sakit parah ya?” ucap Rani cemas. Ia berjongkok di depan lutut Maya. “Batuk kamu tadi seram banget lho bunyinya. Kayak bapak-bapak perokok berat di kampungku yang lagi masuk angin duduk.”
Maya merasa sedikit bersalah karena telah memanfaatkan kepolosan dan membohongi sahabat satu-satunya ini lagi. Tapi ia tahu, ini demi keselamatan mereka berdua.
”A-aku cuma radang tenggorokan biasa kok, Ran,” dusta Maya dengan suara yang dilembutkan. Ia membelai bahu Rani. “Pasti karena aku terlalu banyak ngehirup debu gergaji kayu pas bersihin kolong panggung semalam.”
Rani mengangguk-angguk percaya dengan wajah memelas. “Oh, iya bener. Debu semalam kan emang gila banget tebalnya.”
”Makanya aku inisiatif pake masker tebal hari ini, Ran,” lanjut Maya, merangkai alibinya agar semakin kuat. “Biar debu mal hari ini nggak masuk lagi ke tenggorokanku, dan biar teman-teman yang lain juga nggak ketularan batukku.”
Rani mengusap lengan Maya dengan lembut.
”Yaudah, kamu hari ini jangan kecapekan ya, May. Nanti pas jam istirahat kamu banyakin minum air hangat. Beli teh tawar panas di kantin,” pesan Rani penuh perhatian. “Kalau siang nanti kamu merasa pusing atau badannya nggak kuat, bilang aja ke aku ya? Biar aku yang cover area pel-pelan kamu. Nanti aku yang ngadep Bu Ratna kalau dia nanya.”
Mendengar ketulusan tanpa syarat dari Rani, dada Maya terasa hangat. Ia tersenyum di balik maskernya.
”Makasih banyak ya, Ran. Kamu selalu baik sama aku. Ayo kita ke pos sekarang, keburu jam tujuh dan diabsen sama mandor.”
”Ayo!” Rani berdiri dengan semangat, mengambil alat pelnya.
Sepanjang shift pagi itu, bekerja menyapu dan mengepel di Grand Atrium Mall terasa seperti berjalan di atas hamparan ranjau darat tanpa pelindung bagi Maya.
Setiap detik terasa menegangkan.
Tugasnya hari ini adalah memoles dan membersihkan area koridor pualam di lantai dua. Mal kelas VVIP ini pada dasarnya adalah sebuah istana ilusi yang dibangun dari kaca, marmer, dan logam mengkilap. Ke mana pun Maya menolehkan kepalanya, selalu ada permukaan datar yang memantulkan bayangannya sendiri.
Setiap kali ia menyemprotkan cairan pembersih dan menyeka kaca etalase butik barang branded dengan alat pembersih karet, ia selalu tanpa sadar melihat pantulan samar dirinya di permukaan kaca tersebut.
Wajahnya yang tertutup masker biru dongker itu tampak biasa saja dari jarak jauh. Terlihat seperti seorang cleaning service standar yang sedang sakit.
Namun… Maya sangat tahu apa yang sedang bersembunyi di balik kain murah itu.
Saat ia sedang mendorong kain pelnya, ia sangat menyadari adanya sensasi kontras yang luar biasa aneh di wajahnya sendiri.
Kulit rahang dan pipinya terasa begitu kencang, padat, sangat kenyal, dan… sehat. Saat ia tersenyum tipis atau menelan ludah, ia sama sekali tidak lagi merasakan kulit kasarnya bergesekan dan tersangkut pada serat kain maskernya. Itu terasa seperti sutra yang dibasahi air dingin.
Saat Maya sedang fokus mengepel sisa tumpahan es krim di lantai dekat area eskalator utama, sekelompok pengunjung wanita yang usianya sebaya dengannya melintas turun.
Mereka berlima. Berdandan sangat modis, mengenakan gaun-gaun cantik musim panas, menebarkan wangi parfum bunga yang mahal, dan menenteng kantong belanjaan bermerek yang ukurannya cukup besar. Mereka tertawa lepas, membicarakan rencana liburan mereka ke Bali, wajah mereka memancarkan kebahagiaan tanpa beban.
Biasanya, jika berpapasan dengan kelompok elit seperti itu, insting Maya akan langsung bekerja. Ia akan segera menunduk dalam-dalam, menghentikan pekerjaannya, mundur ke pinggir, dan menyusutkan postur tubuhnya hingga sekecil mungkin agar eksistensinya yang dekil tidak merusak hari indah mereka.
Namun siang ini… entah ada dorongan sihir gelap dari mana… Maya menolak untuk menunduk.
Gadis bermasker itu justru perlahan-lahan menegakkan punggungnya yang pegal.
Ia memegang gagang pelnya dengan satu tangan. Ia melirik para pengunjung wanita itu dari balik kacamata selotipnya. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana garis rahang tirus mereka terbentuk saat mereka tertawa. Ia mengamati betapa mulusnya kulit wajah mereka yang dirawat di klinik kecantikan ternama. Ia menatap leher mereka yang jenjang dan putih bersih.
Aku juga punya kulit dan tulang seperti itu sekarang, bisik sebuah suara kecil di dalam kepalanya.
Suara itu tidak terdengar seperti suaranya sendiri. Itu berasal dari sisi gelap dan ambisi yang mulai mengakar kuat di benaknya sejak malam tadi.
Bahkan… bentuk rahangku sekarang mungkin jauh lebih simetris dan lebih halus dari milik mereka semua, lanjut suara itu berbisik menggoda. Jika saja masker ini kubuka… mereka tidak akan lagi memandangku dengan sebelah mata.
Tentu saja ia tidak membukanya. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Namun, hanya dengan membiarkan pikiran angkuh itu melintas di kepalanya saja… hal itu sudah cukup untuk memberikan sebuah percikan kecil di dalam dadanya.
Sebuah sensasi yang sangat, sangat asing, namun luar biasa memabukkan bagi seorang Maya.
Rasa percaya diri. Rasa superioritas rahasia.
Meskipun kesempurnaan itu hanya sebatas satu jengkal kulit yang tersembunyi di bawah maskernya, dan meskipun ia masih memegang kain pel kotor, kepemilikan atas sebuah ‘karya seni’ yang tak bisa dibeli oleh orang lain itu membuat Maya hari ini tidak lagi merasa sekerdil dan sehina biasanya.
Saat jam istirahat siang tiba, Maya segera mencari tempat persembunyian.
Ia dengan halus menolak ajakan Rani yang ingin menemaninya makan di kantin. Ia beralasan bahwa batuknya makin parah dan kepalanya sangat pusing, sehingga ia hanya ingin tidur dan tidak ingin menulari ratusan karyawan lain di kantin yang padat. Rani mengerti dan membiarkannya pergi.
Maya tidak pergi ke musala. Ia kembali bersembunyi di sebuah area tangga darurat di lantai dua yang sangat sepi, berdebu, dan jarang sekali dilewati kecuali jika ada alarm kebakaran.
Lampu darurat berwarna hijau di atas pintu memendarkan cahaya yang cukup remang-remang. Udara di tangga beton itu terasa pengap.
Maya duduk di atas anak tangga beton yang dingin. Ia memastikan pintu besi darurat di bawah dan di atasnya tertutup rapat.
Setelah yakin ia benar-benar sendirian, Maya perlahan-lahan mengaitkan jarinya ke tali masker dan menurunkannya hingga ke bawah dagu.
Ia merogoh saku celana seragamnya. Tangannya menarik keluar sebuah cermin lipat plastik murahan bergambar kartun pudar yang lensanya sudah banyak goresan tajam.
Ia membuka cermin kecil itu, mengarahkannya ke wajahnya. Ia harus sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mencari sudut yang pas agar cahaya hijau dari lampu exit di atasnya menyinari wajahnya.
Saat pantulan wajahnya terlihat, jari telunjuk Maya yang kasar perlahan terangkat. Ia mengelus rahang kirinya dengan gerakan membelai.
Sentuhan kulitnya sendiri itu tidak pernah berhenti membuatnya takjub hingga kebingungan.
Ini di luar akal sehat. Kulit kirinya ini benar-benar terasa seperti menyentuh kelopak bunga mawar yang basah oleh embun pagi. Daging di bawah kulitnya terasa padat, kencang, dan sangat elastis.
Ia menekan rahang tirus itu perlahan. Ia bisa merasakan lekuk tulang keras yang kemarin malam sempat ia bentuk ulang layaknya adonan menggunakan tangannya sendiri.
Ini nyata, batinnya berbisik. Ini bukan mimpiku yang saking lelahnya. Krim itu nyata.
Krieet.
Suara engsel pintu besi dari lantai atas yang tiba-tiba berderit membuat Maya tersentak hebat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia buru-buru menyentakkan maskernya ke atas, menutupi hidung dan mulutnya kembali, lalu menutup cerminnya dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia menundukkan kepalanya, berpura-pura sedang memijat lututnya.
Ternyata hanya seorang teknisi gedung yang turun melewati tangga, tidak memedulikan keberadaan Maya dan terus berjalan ke bawah.
Maya menghela napas, mengusap dadanya pelan.
Ia tidak bisa terus-terusan hidup dalam teror seperti ini. Memakai masker tebal setiap saat pasti pada akhirnya akan mengundang bencana.
Cepat atau lambat, Bu Ratna pasti akan menaruh curiga dan memaksanya melepaskan masker itu untuk membuktikan apakah ia benar-benar sakit atau hanya malas. Atau yang lebih menakutkan, Sari akan mencari cara lain untuk menarik masker itu secara paksa saat ia lengah.
Ia tidak boleh membiarkan wajahnya cacat asimetris seperti ini lebih lama lagi. Ia harus menuntaskan mahakarya yang telah ia mulai.
Malam ini, sekembalinya ke kontrakan, ia harus meratakan seluruh wajahnya. Memahatnya secara total. Menyatukan sisi kanan dan kirinya. Ia tidak punya pilihan lain jika ia ingin bertahan hidup.
Pukul 15:30 sore.
Sinar matahari sore menyorot dengan sangat terik, membakar jalanan ibu kota. Sinarnya memantul menyilaukan di kaca-kaca gedung perkantoran Sudirman saat Maya berjalan kaki menyusuri trotoar berdebu menuju halte angkot terdekat.
Shift paginya telah usai. Karena tidak ada jadwal lembur paksa yang menyiksa seperti kemarin hari, dan area mal sudah bersih setelah acara peluncuran, ia diizinkan untuk pulang tepat waktu hari ini.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam angkot yang pengap dan padat penumpang, Maya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar.
Pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan kondisi ibunya di rumah yang sudah meminum obat. Lalu pikirannya melompat pada kotak hitam pekat yang bersembunyi dengan aman di dasar lemari kayunya yang lapuk.
Ia membayangkan dengan liar apa yang akan ia lakukan malam ini. Mengoleskan gel mutiara bercahaya itu ke seluruh sisa wajahnya. Membekukan seluruh kepalanya dengan rasa dingin yang menusuk. Membiarkan daging dan tulangnya melunak seperti lumpur. Lalu memahatnya dengan kedua tangannya sendiri menjadi sebuah cetakan wajah baru yang sempurna.
Memikirkan proses body horror itu membuat bulu romanya merinding secara bersamaan. Ada kengerian yang sangat mendalam dan rasional, tapi di sisi lain, ada sebuah antisipasi dan adrenalin buas yang tak bisa ia bendung.
Tiga puluh menit kemudian, angkot itu berhenti.
Setibanya di mulut gang perkampungannya, matahari mulai turun ke ufuk barat. Sinar matahari memancarkan cahaya keemasan khas sore hari yang menyorot langsung masuk menerobos ke dalam lorong gang yang sempit, menciptakan siluet-siluet panjang di dinding.
Maya berjalan perlahan, langkah sepatu bot karetnya menghindari genangan-genangan lumpur air sisa cucian piring tetangga yang mengalir ke jalan.
Di pertengahan gang, seperti rutinitas sore biasanya, warung sayur milik Bu Tejo masih buka.
Di depan warung itu, berkumpullah tiga atau empat ibu-ibu berdaster yang sedang duduk santai di bangku kayu panjang. Mereka memegang keranjang plastik, sibuk memilah-milah tumpukan bawang merah segar, dan tentu saja… melakukan aktivitas utama mereka, menggunjingkan kehidupan tetangga.
Biasanya, jika Maya harus melewati warung ini, ia akan langsung menunduk dalam-dalam. Ia akan berjalan menempel sedekat mungkin ke dinding batako seberang, dan mempercepat langkahnya agar ia tidak perlu mendengar bisik-bisik atau hinaan terang-terangan mereka tentang seragam kusamnya, sepatunya, atau penampilannya yang selalu mereka sebut mirip ‘gembel jalanan’.
Hari ini pun, Maya secara refleks melakukan hal yang sama.
Ia menunduk menatap ujung sepatunya. Ia merapatkan jaket tipisnya ke tubuhnya untuk menutupi seragam birunya. Dan maskernya masih terpasang rapi, menutupi setengah wajahnya.
Namun… ada satu variabel kecil yang tidak ia sadari.
Saat ia sedang berjalan menunduk di tengah gang, tali masker di telinga kirinya yang memang sudah sedikit kendur, perlahan-lahan merosot turun sekitar dua sentimeter.
Tali itu melorot. Gerakan itu mengekspos bagian kulit di bawah telinga kirinya, tepat di sepanjang garis rahang belakang hingga pangkal leher bagian kirinya. Kulit yang semalam ikut terkena sapuan luas dari krim ajaib pembentuk wajah itu.
Tepat pada detik Maya melintas di depan warung Bu Tejo, sinar matahari sore yang miring dari celah atap seng rumah tetangga menyambar dengan sempurna. Cahaya keemasan itu menyorot tajam, jatuh tepat menyinari area kulit leher dan rahang Maya yang terekspos tersebut.
Obrolan ramai ibu-ibu di warung itu mendadak terhenti seolah pita kasetnya diputus paksa.
Bu Tejo, yang tadinya sedang fokus menimbang setengah kilogram cabai keriting, menyipitkan matanya yang dibingkai kacamata baca. Wanita paruh baya bermulut tajam itu berhenti bergerak. Timbangan plastiknya menggantung diam di udara. Matanya terpaku lurus pada sosok Maya yang sedang berjalan melewatinya.
”Eh, Jeng…” bisik Bu Tejo pelan, menyenggol lengan ibu bertubuh subur berkaus daster hijau di sebelahnya. Matanya tak lepas menatap Maya yang mulai menjauh. “Itu si Maya anaknya Bu Asih yang sakit-sakitan itu, kan?”
Ibu bertubuh subur itu ikut menolehkan kepalanya, matanya mengikuti arah pandangan Bu Tejo.
”Iya lah, siapa lagi kalau bukan dia,” jawab ibu subur itu ketus. “Yang jalannya selalu nunduk kayak orang lagi nyari koin jatuh di got. Emang kenapa toh, Jo? Tumben kamu nanyain anak itu.”
”Coba kamu perhatiin bener-bener deh,” Bu Tejo menunjuk menggunakan ujung dagunya, suaranya dipenuhi rasa keheranan yang tak bisa disembunyikan.
”Tumben-tumbenan anak miskin itu kelihatan… bersih? Kamu lihat nggak sih kulit lehernya yang barusan kena cahaya matahari dari atap itu?”
”Kulit leher?” ibu subur itu memicingkan matanya, berusaha melihat lebih jelas ke arah tengkuk Maya yang berjalan menjauh.
”Iya!” tegas Bu Tejo, nadanya berubah sedikit iri. “Kok kelihatannya kulitnya putih bersih banget ya, nggak buluk dan kering kayak biasanya? Kulitnya itu lho, sampai glowing mantul gitu lho pas kena cahaya. Mengkilap sehat.”
Ibu subur itu melebarkan matanya saat melihat pantulan kulit yang dimaksud Bu Tejo dari celah rambut kuncir kuda Maya.
”Eh, iya lho! Beneran!” pekik ibu itu tertahan, nyaris menjatuhkan bawang di tangannya. “Biasanya kan kulit anak itu dekil banget, lehernya hitam penuh daki gara-gara debu. Tumben amat cerah begitu. Mana bentuk leher dan rahangnya dari belakang kelihatan lebih jenjang dan tirus gitu. Kayak artis-artis.”
Seorang ibu lain yang sedang memegang tempe di sudut bangku ikut menimpali gosip dadakan itu.
”Masa sih jenjang? Ah, paling itu cuma efek ilusi dari cahaya matahari sore aja, Jeng,” bantah ibu pemegang tempe itu sambil tertawa meremehkan. “Orang susah kayak dia mana punya uang buat beli skincare pemutih atau perawatan ke salon. Gajinya buat beli obat ibunya sama beli beras aja empot-empotan tiap bulan.”
”Iya juga sih tebakanmu,” kekeh Bu Tejo pelan, merasa sedikit terhibur, lalu melanjutkan timbangannya yang tertunda. “Tapi suer deh, tumben-tumbenan aja anak itu enak dipandang dari pinggir. Biasanya lihat punggungnya aja aku udah berasa nyium bau apak lantai mal.”
Bu Tejo tiba-tiba membelalakkan matanya, merendahkan suaranya seolah mendapat ide brilian.
”Atau jangan-jangan… dia diem-diem udah punya pacar cowok kaya dari mal tempat dia kerja kali ya? Om-om hidung belang mungkin? Makanya dia mulai dandan dan beli sabun mahal buat manjain pacarnya?” tebak Bu Tejo dengan nada penuh prasangka buruk.
”Halah, ngayal kamu Jo!” cibir ibu bertubuh subur sambil tertawa keras. “Om-om kaya mana yang mau sama cewek tepos kayak dia? Matanya picek kali kalau ada yang mau deketin. Paling dia mandi pake pemutih baju!”
Mereka bertiga pun kembali tertawa lepas, menertawakan kemiskinan Maya, lalu beralih ke topik gosip lain yang tak kalah panas.
Namun, di tengah hiruk-pikuk tawa itu…
Maya, yang pendengarannya sudah terlatih menjadi sangat tajam dan sensitif untuk menangkap setiap hinaan yang dilemparkan padanya, mendengar keseluruhan percakapan itu dengan sangat jelas dari jarak lima langkah di depan mereka.
Langkah kaki Maya mendadak melambat.
Jantungnya berdebar kencang, menghantam dadanya seperti palu. Tangan kanannya meremas ujung jaket parasitnya hingga kusut.
Telinganya sama sekali tidak salah dengar. Ia merekam setiap kata yang diucapkan Bu Tejo dan gerombolannya.
Bersih. Glowing. Tumben enak dipandang dari pinggir.
Dada Maya terasa sesak. Namun bukan karena sedih.
Ini adalah pertama kalinya… pertama kalinya seumur hidup seorang Maya, ia mendengar orang lain di perkampungan yang kejam ini membicarakan penampilannya dengan konotasi yang tidak sepenuhnya negatif dan menghina.
Mereka memperhatikan kulitnya. Mata mereka tertuju pada perubahannya. Mereka melihat kemulusan itu, meskipun hanya secuil kulit di bawah telinga dan rahang bawah yang terekspos tak sengaja. Dan mereka memujinya secara tak sadar, meskipun Maya sedang memakai masker murahan dan jaket yang sangat lusuh.
Dada Maya bergemuruh oleh sebuah emosi raksasa yang membuncah, meruntuhkan tembok kerendahan dirinya.
Ia sama sekali tidak merasa marah karena di akhir kalimat mereka masih meremehkan dan menuduhnya menjadi simpanan om-om.
Sebaliknya… saat ini, berdiri membelakangi mereka di tengah jalan becek… Maya merasa seolah ia sedang memegang sebuah senjata pemusnah massal. Ia merasa sedang berdiri angkuh di ambang pintu sebuah kemenangan yang absolut.
Sebuah logika sosiopat mulai berputar di dalam otaknya yang lelah.
Jika, batin Maya berteriak girang. Jika hanya dengan mengoleskan sisa krim pembentuk itu di pinggiran rahangku saja, aku sudah berhasil membungkam mulut Bu Tejo dan memaksa mereka menatapku dengan kekaguman yang terselubung iri…
Napas Maya memburu.
Lalu bagaimana… bagaimana jika aku mengoleskannya ke seluruh permukaan wajahku?
Bagaimana jika aku melepaskan kacamata tebal dan jelek ini untuk selamanya? Bagaimana jika malam ini, aku merombak seluruh struktur kulitku, tulang hidungku, dan pipiku yang kusam ini menjadi sebuah porselen yang sempurna dari ujung ke ujung?
Bayangan kemenangan itu membanjiri otaknya.
Mereka tidak akan pernah lagi berani memanggilnya si dekil. Ibu-ibu ini akan menunduk padanya. Sari tidak akan lagi punya alasan fisik untuk memanggilnya parasit yang merusak pemandangan. Icha akan mati karena iri hati. Mereka semua akan bertekuk lutut di hadapan wajah yang takkan bisa mereka beli dengan gaji seumur hidup.
Mata Maya, di balik lensa tebal yang retak dan diselotip, mendadak memancarkan kilatan ambisi yang luar biasa tajam, liar, dan sangat gelap.
Langkah kakinya yang tadinya diseret gontai karena kelelahan, kini berubah total. Langkahnya menjadi lebih mantap, lebih lebar, dan jauh lebih cepat.
Ia tidak sabar untuk sampai di rumah. Ia tidak sabar untuk menyambut malam dan kegelapan yang akan menjadi saksi bisu dari kelahirannya kembali.
Pukul 23:00 malam.
Kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter itu telah diselimuti oleh kesunyian yang sangat pekat.
Ibu Maya sudah meminum obat rutinnya satu jam yang lalu. Wanita renta itu kini telah tertidur pulas di balik tirai kain. Deru napas ibunya terdengar berat, sesekali terbatuk pelan, namun nadanya jauh lebih stabil dari malam-malam krisis sebelumnya.
Di area dapur, Maya berdiri kaku di depan meja beton.
Ini adalah tempat yang sama di mana ia menangis putus asa kemarin malam. Lampu neon kuning masih berkedip dengan ritme yang sama, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.
Namun malam ini, ada yang berbeda.
Gadis yang berdiri di sana bukan lagi seorang Maya yang gemetar karena ketakutan, rasa bersalah, dan keraguan akan moralitas. Malam ini, ia adalah seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh kewarasannya, seluruh kepatuhannya, pada satu kata yaitu Ambisi.
Kotak hitam pekat itu sudah terbuka lebar di atas meja beton.
Bantalan beludru hitamnya memamerkan sebuah jar kaca frosted dan botol serum yang masih tersegel. Di sebelah jar tersebut, tergeletak sebuah spatula obsidian hitam yang mengkilap angkuh, memantulkan cahaya lampu.
Maya menatap benda-benda itu dalam diam selama beberapa menit. Mempersiapkan mentalnya.
Lalu, ia mulai bergerak.
Maya menanggalkan pakaiannya satu per satu dengan gerakan perlahan. Ia melepaskan kaus lusuhnya dan melemparnya ke lantai. Ia melepas celana pendek karetnya. Terus berlanjut hingga ia berdiri hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih yang warnanya sudah pudar dan karetnya mulai melar.
Udara malam ibu kota yang lembap dan dingin menyapu kulit tubuhnya yang sangat kurus. Tulang rusuknya dan tulang selangkanya tercetak jelas di balik kulit perutnya yang gelap, kusam, dan kurang gizi. Namun, ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada sebuah api obsesi yang membakar dadanya dari dalam, memanaskan aliran darahnya.
Ia melangkah mendekati meja wastafel retak di sudut dapur.
Sesuai dengan instruksi dari kertas hitam yang menyebutkan perlunya “Purifikasi Kanvas”, Maya menyalakan keran air. Ia membasuh dan membersihkan seluruh area wajahnya, lehernya, hingga batas bahu dan dada atasnya menggunakan air dingin dan sabun mandi murah.
Ia menggosok kulitnya dengan sangat kuat, memastikan tidak ada setitik debu, keringat, atau sisa minyak pun yang tertinggal di pori-porinya yang bisa merusak proses peleburan.
Setelah merasa kulitnya kesat dan bersih, ia mengeringkan tubuh atasnya dengan handuk. Ia menarik napas panjang.
Maya berdiri di depan cermin retak di atas wastafel tersebut.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menarik tali masker kain biru yang sejak pagi telah menjadi pelindung sekaligus penjaranya. Ia membuka dan membuang masker itu.
Di cermin itu, ketidaksempurnaan mutlaknya terpampang nyata tanpa filter.
Wajahnya dari tulang pipi ke bawah terlihat seperti bidadari, putih, kencang, dan tirus. Sementara sisa wajahnya adalah sang buruk rupa yang selalu menjadi sasaran caci maki. Wajah asimetris yang mengerikan.
”Malam ini, aku akan mengakhiri semuanya,” bisik Maya pada pantulannya sendiri, matanya menatap tajam pantulan sepasang matanya di cermin. “Aku tidak akan pernah menunduk lagi di depan manusia mana pun di dunia ini.”
Ia berbalik, melangkah menuju meja beton.
Tangan kanannya yang tak lagi ragu meraih jar kaca bulat tersebut. Ia memegang dasar kaca buram itu dan memutar tutup logam peraknya. Tutup itu bergeser dengan sangat mulus.
Ssssshhh.
Desisan vakum yang pelan kembali terdengar, melepaskan udara terkurung.
Seketika, aroma tanah basah sehabis hujan dan aroma steril medis menguar memenuhi dapur, kini terasa begitu familiar dan memabukkan bagi sistem penciuman Maya.
Maya mengambil spatula obsidian itu.
Berbeda dengan malam kemarin di mana ia dengan takut-takut hanya mengambil seujung kecil krim untuk eksperimen, malam ini… gerakannya sangat buas.
Maya mencelupkan spatula itu dalam-dalam, dan mengeruk gel mutiara bersinar itu dalam jumlah yang sangat banyak.
Krim kenyal dan lembut itu menumpuk tebal di atas spatula hitam, memancarkan pendaran cahaya perak mikroskopis yang seolah hidup, bergerak, dan bernapas di ujung alat tersebut.
Maya telah bertekad. Ia tidak akan melakukan proses menyakitkan ini sedikit demi sedikit. Jika ia harus menahan rasa dingin yang menembus tulang dan melumpuhkan sarafnya lagi, ia akan menahannya sekaligus malam ini. Ia akan merombak semuanya dalam satu waktu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk berpikir ulang, Maya mengangkat spatula obsidian itu, mengarahkannya ke wajahnya, dan mulai mengoleskan gumpalan krim tebal tersebut secara langsung ke dahi bagian kanannya yang gelap.
Sensasi itu… datang dan menghantamnya seketika.
Dingin yang luar biasa ekstrem meledak di kulitnya. Namun itu bukan rasa sakit seperti menyentuh balok es yang membekukan. Itu adalah sebuah rasa dingin yang menyegarkan secara brutal dan tak wajar.
Krim itu meresap cepat menembus pori-pori epidermisnya dalam hitungan milidetik. Sesaat setelah meresap, cairan itu membawa sensasi gigitan-gigitan kecil dari dalam. Terasa seperti ada ribuan semut es berukuran mikroskopis yang berjalan merayap, masuk ke bawah kulitnya, dan mulai memakan ikatan sel-sel lamanya.
Maya memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengatupkan rahang kirinya, membiarkan seluruh tubuhnya bergidik hebat menahan gigitan es tersebut.
Ia menarik napas dalam-dalam dari mulutnya. Ia tidak berhenti. Ia mengambil lebih banyak gumpalan krim mutiara itu dari dalam jar, lalu mulai mengoleskannya dengan sapuan panjang yang terarah dan berani.
Ia mengoleskannya dalam jumlah tebal ke pelipis kanannya. Turun ke pipi kanannya yang cekung kusam. Melumuri seluruh hidung peseknya dengan gel tersebut. Meratakannya ke dahi kirinya, lalu menyapukannya turun ke leher dan tulang selangkanya yang menonjol.
Maya meratakan gel berkilau itu ke seluruh area wajah dan lehernya tanpa ada ruang yang terlewat, layaknya sedang memakai topeng tebal yang terbuat dari es cair.
Spatula obsidian itu bergerak dengan sangat lincah di tangannya, mengikuti kontur tengkoraknya.
Setiap sentuhan krim dari spatula itu seolah membawa sebuah gelombang relaksasi magis yang luar biasa aneh ke dalam sistem sarafnya. Otot-otot di wajahnya, otot yang selama bertahun-tahun kaku karena selalu menahan tangis, tekanan hidup, dan senyum palsu, kini perlahan-lahan mulai kehilangan ketegangannya. Semuanya mengendur pasrah.
Rasa dingin yang menyegarkan itu terus mengebor menembus lapisan kulit yang lebih dalam.
Lapisan epidermisnya mendingin. Disusul oleh lapisan dermisnya yang kebas. Rasa kebas yang sangat nyaman mulai merayap naik ke ubun-ubun. Maya bisa merasakan ikatan kalsium pada rahang kanannya yang keras perlahan-lahan mengendur menjadi seperti karet. Kulit di dahinya seolah kehilangan cengkeraman pada tulang pelindung otak di baliknya.
Beban gravitasi yang selama ini menarik otot-otot wajahnya ke bawah seolah menghilang sepenuhnya. Kepalanya terasa sangat ringan. Ringan seperti tanpa bentuk.
Maya membuka matanya perlahan.
Ia meletakkan spatula obsidian yang sudah bersih dari krim ke atas meja beton.
Proses transmutasi biologis baru saja dimulai. Hitung mundur waktu tiga puluh menit fase plastisitasnya telah berjalan sejak sentuhan pertama.
Ia mendongak, menatap lekat bayangannya di cermin retak itu.
Gel mutiara tebal yang tadi menutupi wajahnya, dengan cara yang sangat tidak masuk akal, kini perlahan-lahan meresap masuk, ditelan bulat-bulat oleh pori-porinya. Gel itu lenyap tanpa sisa dari permukaan kulitnya, meninggalkan wajah Maya terlihat sedikit basah, sangat mulus, dan pucat pasi di bawah pantulan lampu neon.
Fase pembekuan telah tiba.
Maya perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia membuka telapak tangannya.
Ujung-ujung jarinya yang kasar, dipenuhi kapalan, dan berhias plester luka, perlahan mendekat ke wajahnya sendiri yang kini telah sepenuhnya mati rasa dan kehilangan tulang penopangnya.
Ia menempelkan ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya dengan sangat presisi ke sisi-sisi tulang hidungnya yang pesek.
Dengan gerakan yang sangat perlahan, menahan napasnya, Maya memberikan sedikit tekanan ke arah dalam. Lalu, dengan gerakan mengurut yang lembut… ia menarik pangkal hidung itu ke atas.
Sebuah sensasi ganjil kembali terjadi.
Daging dan tulang rawan hidungnya… menuruti tarikan tersebut tanpa protes.
Kulit dan dagingnya melesak ke atas dengan sangat mudah, empuk layaknya gumpalan tanah liat basah yang sangat lembut. Tidak ada rasa sakit, tidak ada perlawanan dari tulang. Tepat di bawah jepitan jari-jarinya, ia berhasil membentuk dan menarik kontur hidung baru yang jauh lebih tinggi, lebih ramping, dan mancung sempurna.
Maya menarik napas pendek yang gemetar hebat melalui mulutnya. Matanya membelalak takjub, menatap hidung mancung barunya di cermin yang baru saja ia buat dalam waktu kurang dari lima detik.
Kekuatan yang bersemayam di ujung sepuluh jarinya saat ini… adalah sebuah kekuatan absolut milik seorang Sang Pencipta.
Malam ini, di dalam area dapur yang kumuh, bau gas, dan bocor ini, sosok Maya bukan lagi seorang petugas kebersihan yang malang, tertindas, dan tak memiliki harga.
Ia adalah seorang pematung anatomi. Dan wajahnya sendiri, adalah sebongkah mahakarya tanah liat murni yang siap ia bentuk, ia remas, dan ia ukir ulang menjadi sebuah senjata estetika paling mematikan untuk menaklukkan egoisme dunia di luar sana.