Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari sela-sela atap seng yang berlubang.
Sinar keemasan itu jatuh menembus udara dapur yang dipenuhi debu halus, mendarat tepat di atas permukaan cermin retak yang tergantung miring di atas wastafel.
Jam dinding plastik yang berdebar monoton menunjukkan pukul 05:15 pagi.
Maya berdiri kaku di depan wastafel tersebut. Ia sudah mengenakan seragam kebersihannya yang pudar, yang jahitannya mulai berbulu di bagian kerah.
Namun… sosok yang balas menatapnya dari balik pantulan cermin retak itu, sama sekali tidak terlihat seperti seorang petugas kebersihan dari perkampungan kumuh yang kelaparan.
Maya mengangkat sebelah tangannya yang masih bergetar sisa ketegangan semalam. Ujung jari telunjuknya menyentuh permukaan pipinya sendiri dengan gerakan yang luar biasa pelan, seolah takut wajah itu akan hancur jika disentuh terlalu keras.
Sensasi dari sentuhan itu membuat napasnya tertahan.
Kulit itu terasa sedingin porselen, namun memiliki kekenyalan layaknya sutra kualitas tertinggi.
Tidak ada lagi tekstur kasar dan bergelombang bekas jerawat masa puber. Tidak ada lagi pori-pori besar yang tersumbat debu jalanan. Tidak ada lagi warna gelap yang kusam akibat terpapar teriknya matahari ibu kota dan polusi knalpot.
Wajahnya di bagian bawah hingga ke tulang pipi kini berwarna cerah merata. Bersih tanpa noda setitik pun. Kulit itu memancarkan kilau sehat yang memukau, seolah ada cahaya perak tipis yang berpendar dari bawah lapisan dermisnya secara alami.
Bukan hanya kulitnya yang berubah drastis. Garis anatomi wajahnya telah sepenuhnya diredefinisi dalam satu malam.
Tulang pipinya kini sedikit menonjol ke atas, membingkai wajah ovalnya dengan proporsi simetris yang sangat mematikan. Hidungnya yang ia pijat pelan semalam saat fase plastisitas berlangsung, kini berdiri tegak dengan presisi lengkungan yang sangat elegan, seolah dipahat oleh seniman patung paling teliti di era Renaisans.
Dan bibirnya… bibir yang dulu selalu kering, pucat, dan pecah-pecah karena kurang minum, kini berubah menjadi penuh, lembap, dan berwarna merah muda alami tanpa membutuhkan setetes pun polesan lipstik murahan.
Semalam, selama lebih dari satu jam yang menyiksa saraf, Maya telah memahat dua sisi wajahnya dengan penuh keputusasaan dan cucuran air mata.
Ia menarik kulitnya, menekan dagingnya, dan meratakan setiap inci ketidaksempurnaan genetisnya. Ia berpacu dengan waktu sebelum jaringan daging buatan itu kembali mengunci.
Dan hasilnya pagi ini… sangat menakutkan sekaligus luar biasa memesona.
Wajah ini terlalu sempurna. Terlalu mulus dan tanpa cacat untuk menjadi sesuatu yang dilahirkan secara biologis oleh manusia biasa.
Maya mengambil kacamata berbingkai plastik hitamnya dari atas nakas beton. Kacamata yang gagangnya dililit selotip kabel berwarna hitam itu terlihat sangat kotor dan menyedihkan.
Dengan ragu, Maya memakai kacamata itu ke wajah barunya.
Kontras yang tercipta langsung terlihat sangat absurd dan tidak masuk akal.
Kacamata rongsokan yang miring itu kini bertengger di atas pangkal hidung mancung yang sempurna. Membingkai sepasang mata lelah namun dikelilingi oleh kulit porselen yang bersinar. Berpadu dengan seragam biru pudar yang membalut tubuh kurusnya.
Ia terlihat seperti seorang bidadari kahyangan yang sedang dihukum dan dipaksa memakai pakaian gembel jalanan. Wajahnya dan sisa kehidupannya kini berada di dua kutub kasta yang saling bertolak belakang.
”Maya… Nduk… kamu udah mau berangkat?”
Suara serak dan berderik milik ibunya tiba-tiba terdengar dari balik tirai, membuyarkan lamunan panjang Maya.
Maya tersentak kaget. Ia buru-buru menoleh ke arah ranjang. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Kepanikan baru melanda benaknya.
Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perubahan wajah sedrastis ini kepada ibunya. Ibunya pasti akan mengira ia telah menjual diri, atau menggunakan ilmu gaib, atau terlibat dalam kejahatan mengerikan.
”I-iya, Bu. Ini udah mau jalan,” jawab Maya.
Bahkan suaranya terdengar sedikit berbeda di telinganya sendiri, lebih jernih, lebih beresonansi, entah karena struktur rahang dan rongga mulutnya yang berubah, ataukah ini sekadar sugesti psikologisnya belaka.
Maya berjalan perlahan mendekati ranjang ibunya.
Namun, ia sengaja berdiri membelakangi arah cahaya lampu neon. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam agar wajah barunya tertutup oleh bayangan gelap dari tubuhnya sendiri.
Ia mengambil tangan ibunya dan mencium punggung tangan yang keriput itu dengan penuh kelembutan.
Ibunya, yang pandangannya memang sudah mulai mengabur akibat penyakit komplikasi dan efek obat penahan sakit, menatap siluet Maya dengan sayu.
”Kamu hati-hati di jalan ya, Nduk. Jangan capek-capek,” pesan ibunya dengan suara parau. “Maafin Ibu ya, pagi ini Ibu belum bisa bangun masakin air hangat buat kamu mandi.”
Dada Maya terasa sesak. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang tertutup kacamata.
”Nggak apa-apa, Bu. Ibu nggak usah mikirin itu. Ibu istirahat aja yang banyak,” ucap Maya dengan suara bergetar menahan tangis. “Obatnya nanti siang jangan lupa diminum ya, Bu. Bude Ningsih nanti pasti mampir buat nengokin Ibu.”
”Iya, Nduk. Doakan Ibu cepat sembuh biar bisa kerja lagi bantu kamu,” balas ibunya lirih.
Maya menelan kepahitan di tenggorokannya. Jika saja ibunya bisa melihat wajahnya dengan jelas sekarang, wanita tua itu pasti tidak akan mengenalinya sebagai darah dagingnya sendiri.
”Maya berangkat ya, Bu. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam.”
Setelah memastikan ibunya kembali memejamkan mata dan menarik napas teratur, Maya mengambil tas ransel lusuhnya dari kursi. Ia membuka gerendel pintu, melepas gemboknya, dan melangkah keluar meninggalkan rumah kontrakannya, bersiap menghadapi kerasnya dunia di luar sana dengan senjata barunya.
Udara pagi di perkampungan padat penduduk itu masih sama seperti kemarin.
Sama sekali tidak ada yang berubah dari kemiskinan di sekitarnya. Bau selokan basah yang mampet bercampur dengan asap knalpot motor dua tak yang sedang dipanaskan oleh bapak-bapak yang akan berangkat ngojek. Suara tangisan balita dan teriakan ibu-ibu yang sedang mencuci piring saling bersahutan.
Maya berjalan menyusuri gang sempit yang becek itu dengan menundukkan kepala.
Jantungnya berdebar tak karuan menghantam tulang rusuknya. Keringat dingin merembes di lehernya. Ia sangat sadar bahwa pagi ini ia tidak lagi memiliki masker biru dongker untuk menutupi wajahnya. Masker itu kotor karena terkena debu, dan ia belum sempat mencucinya.
Ia merasa sangat terekspos. Ia merasa seperti sedang berjalan telanjang di tengah keramaian, di mana semua orang bisa melihat dosa pencurian dan transmutasinya secara langsung.
Di pertengahan gang, dari jarak lima puluh meter, Maya sudah bisa melihat warung sayur Bu Tejo.
Warung itu sudah ramai oleh sekumpulan ibu-ibu berdaster yang sedang memilih sayuran segar. Suara tawa melengking, tawar-menawar harga, dan bisik-bisik gosip pagi terdengar sangat riuh dari kejauhan.
Maya merapatkan ujung jaket parasit tipisnya. Ia mengencangkan tali tasnya, menguatkan mentalnya, bersiap menerima tatapan merendahkan dan cibiran pedas yang sudah menjadi sarapan hariannya selama bertahun-tahun melewati tempat ini. Ia bersiap mendengar mereka menyebut ibunya penyakitan atau menyebutnya sebagai babu mal.
Namun… saat Maya melangkah semakin dekat, dan akhirnya melintas tepat di depan gerobak warung sayur tersebut, langkah kakinya sejenak ragu.
Tiba-tiba, suara riuh obrolan ibu-ibu di warung itu terputus.
Bukan sekadar memelan menjadi bisik-bisik seperti yang terjadi kemarin pagi, melainkan mati total dalam hitungan detik. Hening. Seolah seseorang baru saja menekan tombol mute pada siaran televisi.
Maya mencuri pandang dari sudut matanya, berlindung di balik bingkai kacamata tebalnya.
Pemandangan di sana membuat napasnya tertahan.
Bu Tejo, si pemilik warung yang mulutnya paling pedas se-RT, sedang memegang seikat bayam yang setengah layu. Mulut wanita paruh baya itu sedikit terbuka, menatap lurus ke arah wajah Maya tanpa berkedip.
Ibu bertubuh subur di sebelahnya yang biasanya paling keras tertawa, mematung kaku. Sebuah tomat merah besar terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh menggelinding ke tanah basah yang becek, tanpa ia sadari sama sekali.
Dua ibu lainnya saling pandang dengan dahi berkerut keras. Mata mereka membelalak lebar, memancarkan keterkejutan dan kebingungan yang absolut.
Tidak ada bisikan yang mengiringi langkah Maya. Tidak ada tawa merendahkan. Tidak ada hinaan tentang “gembel jalanan”, “babu dekil”, atau “cewek suram”.
Mereka hanya menatap.
Sebuah tatapan yang sering kali Maya lihat hanya diberikan kepada artis-artis ibu kota yang tak sengaja lewat di layar kaca televisi warung mereka. Tatapan yang mengintimidasi murni karena kekaguman dan rasa inferior, bukan karena rasa jijik.
Maya mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju mulut gang. Ia menundukkan wajahnya lagi.
Dadanya bergemuruh hebat. Sesuatu di dalam dirinya, sebuah kesadaran gelap yang baru saja lahir mulai menyadari kekuatan mengerikan yang kini menempel di atas tulang tengkoraknya.
Kejadian aneh di luar nalar logikanya tidak berhenti sampai di batas gang itu.
Saat Maya tiba di jalan raya utama yang berdebu dan menunggu angkutan umum, sebuah angkot biru yang cukup usang berhenti tepat di depannya.
Bagian dalam angkot itu sudah cukup penuh oleh para pekerja kantoran, kuli bangunan, dan beberapa anak sekolah berseragam putih abu-abu.
Biasanya, di pagi hari yang sumpek seperti ini, saat Maya naik dengan seragam birunya yang kusam dan bau keringat tipisnya, para penumpang akan terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka. Mereka akan bergeser menjauh, menarik tas mereka merapat ke tubuh, atau menutup hidung seolah takut tertular penyakit menular dari seorang gadis miskin.
Pagi ini, skenario itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Saat Maya melangkah naik ke pijakan besi angkot dan menundukkan kepalanya mencari celah sempit di dekat pintu untuk duduk, seorang pria muda berseragam kantoran rapi yang sedang duduk nyaman di kursi tengah bereaksi.
Pria itu, yang biasanya tidak pernah peduli pada siapa pun di angkot, tiba-tiba beringsut mundur dan bergeser dengan sangat lebar, merelakan posisi nyamannya.
”Sini, Mbak. Duduk di dalam aja. Di dekat pintu bahaya, banyak debu,” ucap pria itu.
Suaranya terdengar sangat ramah, diiringi sebuah senyum canggung yang berusaha menyembunyikan kekagumannya. Pria itu bahkan menyingkirkan tas kerjanya dari pangkuannya agar Maya memiliki ruang yang lebih luas.
Maya tertegun kaku di ambang pintu angkot.
Ia menatap pria itu dengan ragu dan bingung. Lalu ia menatap penumpang lain di dalam angkot tersebut.
Beberapa penumpang wanita yang memakai makeup kantoran menatapnya dengan tatapan menilai yang tajam. Mata mereka menyusuri wajah mulus bercahaya milik Maya, turun ke jaket lusuhnya, lalu ke ujung sepatu bot karetnya yang kusam. Mereka terlihat sangat kebingungan dengan kontras yang tidak masuk akal tersebut, namun tidak ada satupun dari mereka yang mencibir. Beberapa penumpang remaja laki-laki bahkan sibuk mencuri pandang ke arahnya dengan wajah memerah.
”T-terima kasih, Mas,” cicit Maya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia duduk merapat di tempat yang ditawarkan, memeluk tas ransel kanvasnya erat-erat di depan dada sebagai tameng pelindung.
Sepanjang perjalanan yang diwarnai kemacetan ibu kota itu, pria di sebelahnya sesekali mencuri pandang ke arah profil samping wajah Maya, lalu buru-buru membuang muka saat Maya bergerak sedikit, terlihat sangat salah tingkah.
Maya menatap pantulan samar wajahnya di kaca jendela angkot yang berdebu.
Realitas yang memuakkan dan ironis ini perlahan mulai ia cerna di dalam otaknya yang cerdas.
Ia adalah Maya yang sama dengan kemarin. Ia memakai seragam pudar yang persis sama dengan kemarin. Rambutnya diikat dengan karet yang sama. Sepatunya sama dekilnya. Ia masih miskin. Isi dompetnya masih kosong. Ibunya masih terbaring sekarat di rumah kontrakan yang atapnya bocor.
Ia tidak mendadak berubah menjadi orang suci yang membagikan uang. Ia tidak melakukan aksi kepahlawanan semalam.
Satu-satunya hal yang berubah di dalam dirinya hanyalah tatanan sel di wajahnya. Hanya sebatas pergeseran bentuk daging dan warna kulit setebal beberapa milimeter.
Namun… dunia di sekitarnya seakan mendadak amnesia.
Dunia seakan mendadak memaafkan segala kemiskinannya. Dunia memberinya jalan. Dunia memberinya tempat duduk yang nyaman. Dunia berhenti menghinanya, dan mulai memujanya dalam diam.
Betapa dangkalnya manusia, batin Maya berteriak sinis.
Sebuah senyum getir dan dingin perlahan terbentuk di balik kerah jaketnya yang ia tarik ke atas.
Selama ini aku disiksa, dimaki, dan diinjak-injak bukan murni karena aku miskin, pikirnya, sebuah pencerahan yang sangat menyakitkan menghujam dadanya. Aku disiksa karena aku miskin DAN tidak enak dipandang. Mereka tidak hanya membenci status sosialku. Mereka membenci ketidaksempurnaan fisikku. Begitu fisikku sempurna, kemiskinanku tiba-tiba menjadi sesuatu yang bisa mereka toleransi.
Kesadaran akan Beauty Privilege (Hak Istimewa Kecantikan) ini mengubah cara pandang Maya terhadap dunia secara absolut. Rasa takutnya perlahan mengikis, digantikan oleh sebuah kepuasan gelap. Jika dunia ini begitu dangkal dan hanya menilai dari kulit luar, maka ia akan menggunakan kulit barunya ini sebagai senjata yang paling mematikan.
Pukul 06:40 pagi.
Di kedalaman perut bumi Grand Atrium Mall. Lorong beton basement itu terasa sedingin biasanya.
Maya mendorong pintu besi ruang ganti khusus wanita. Udara pengap yang bercampur dengan bau kapur barus dan sisa keringat langsung menyapa penciumannya.
Di dalam ruangan sempit yang diterangi lampu neon panjang itu, baru ada dua orang yang datang dan bersiap.
Di sudut wastafel, berdiri Rani yang sedang sibuk menguncir rambutnya dengan jepit stroberi andalannya. Dan di sebelahnya, ada Yuni, seorang rekan kerja divisi kebersihan yang baru saja sembuh dari cuti sakit tifus selama seminggu.
Mendengar suara derit pintu yang didorong, Rani memutar tubuhnya sambil merapikan ikatan rambutnya.
”Eh, Maya! Tumben banget kamu agak siang da—”
Kalimat sapaan Rani terpotong di udara. Bagaikan kaset yang pitanya tiba-tiba ditarik paksa.
Karet gelang yang sedang dipegang oleh tangan Rani terlepas dari jari-jarinya, meluncur jatuh menghantam lantai keramik dengan bunyi plap pelan.
Mata bulat gadis polos itu membelalak sangat lebar, membulat sempurna hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Ia mengerjap beberapa kali dengan tempo cepat, lalu meremas kedua matanya sendiri menggunakan punggung tangannya, seolah ia sedang memastikan bahwa matanya tidak sedang merajut halusinasi akibat kelelahan.
Yuni, yang sedari tadi sedang sibuk memoleskan lipstik ke bibirnya dari pantulan kaca wastafel, ikut menoleh melihat reaksi aneh Rani.
Namun, saat pandangan Yuni bertabrakan dengan sosok yang berdiri di pintu, tangan yang memegang lipstik itu seketika membeku kaku di udara. Mulut Yuni menganga.
Maya berdiri di ambang pintu.
Ia baru saja melepaskan jaket parasit tipisnya, mengekspos seragam biru pudar kebesarannya, dan menggantungkan jaket itu di pintu loker. Ia memutar tubuhnya menghadap mereka.
Cahaya terang dari lampu neon panjang di atas wastafel menyorot wajah Maya tanpa ampun. Tidak ada bayangan yang bisa menyembunyikan wajahnya sekarang.
Lampu itu memperlihatkan dengan sangat jelas kulit porselennya yang berkilau sehat sempurna, hidungnya yang mancung elegan layaknya keturunan bangsawan Eropa, dan garis rahang V-shape-nya yang tirus mematikan. Kesempurnaan itu diperparah oleh kontras kacamata selotipnya yang membuat wajahnya terlihat semakin surealis.
”M-May…?”
Rani melangkah maju perlahan, selangkah demi selangkah. Suaranya terdengar bergetar, menyerupai bisikan orang yang sedang melihat penampakan hantu bidadari di siang bolong.
”Ini… ini beneran kamu, kan? Maya? Temenku? Anaknya Bu Asih?” tanya Rani dengan wajah yang sepenuhnya dikuasai oleh kebingungan murni.
Maya menelan ludah. Ia memaksakan sebuah senyum canggung yang sudah ia latih di angkot tadi.
Ia harus menyiapkan alibi yang sangat kuat. Meskipun ia sadar, sekeras apa pun ia merangkai kebohongan, perubahan anatomi sedrastis ini dalam waktu semalam adalah sesuatu yang terlalu mustahil untuk dijelaskan dengan nalar manusia normal.
”Iya, Ran, ini aku. Siapa lagi coba?” jawab Maya, mencoba terdengar sesantai dan senatural mungkin, walau kedua tangannya gemetar saat ia merapikan isi lokernya yang berkarat. “Kenapa sih kalian berdua ngelihatin aku sampai segitunya? Kayak lihat alien aja.”
Rani menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia berjalan memutari Maya dalam putaran penuh, mengamati sahabatnya itu dari berbagai sudut. Persis seperti seorang kurator seni ternama yang sedang menilai keaslian sebuah lukisan masterpiece baru yang tak ternilai harganya.
”Ya Tuhan, Maya… muka kamu… kulit kamu ini lho…” Rani tergagap, tak mampu merangkai kata sifat yang cukup pantas untuk mendeskripsikannya.
Gadis polos itu menunjuk-nunjuk wajah Maya dari jarak dekat.
”Kemarin pas kamu pake masker biru itu, aku emang udah ngerasa ada yang aneh sama bentuk pipimu. Tapi ini… ini gila banget, May! Kamu kayak… kamu kayak habis operasi plastik V-line di Korea semalam suntuk!” pekik Rani heboh, memegangi kepalanya sendiri. “Muka kamu mulus banget, May! Sumpah demi apa pun, artis bule yang kemarin launching kosmetik di panggung itu aja kalah mulus sama kulit kamu sekarang!”
Yuni yang sudah sadar dari keterkejutannya ikut melangkah mendekat. Matanya memindai wajah Maya dengan tatapan tak percaya yang perlahan bercampur dengan sedikit rasa iri yang menusuk.
”Astaga naga, May. Lo pake susuk pelet apaan sih?!” seru Yuni, tak bisa menahan keterkejutannya. “Kok bisa tiba-tiba jadi cantik badai begini? Pantesan kata anak-anak lo dua hari ini sibuk pake masker terus nutupin muka. Lo lagi perawatan dokter kulit mahal di klinik elit, ya? Gila, beda seratus delapan puluh derajat sama Maya yang dekil dulu!”
”E-enggak kok, Yun! Astaga, mana punya uang aku ke klinik elit,” kilah Maya cepat.
Wajah Maya sedikit bersemu merah saat dipuji bertubi-tubi. Namun semburat merah itu bukan karena ia merasa malu, melainkan karena ia belum terbiasa dengan euforia dipuja.
”Terus, lo diapain kok bisa rahangnya tirus gini?!” desak Yuni tak sabar.
”Aku… aku kemarin nyoba pake krim racikan dari tetanggaku di kampung,” Maya meluncurkan kebohongan terbesarnya dengan nada yang diatur agar terdengar sangat merendah. “Katanya sih dari ramuan tradisional herbal warisan leluhur. Dikasih gratis ke aku karena kasihan mukaku kusam banget.”
Maya menyentuh pipinya sendiri. “Aku juga nggak nyangka efeknya bakal secepat dan sedrastis ini. Terus soal masker kemarin itu… aku emang ngerasa kulitku agak perih dan mengelupas gara-gara krimnya lagi bereaksi, makanya aku tutupin takut infeksi kena debu proyek.”
Itu adalah kebohongan yang sangat bodoh, cacat logika, dan sangat tidak masuk akal secara medis. Krim herbal tradisional mana pun di muka bumi ini tidak akan pernah bisa mengubah struktur kalsium tulang rahang dan meninggikan tulang hidung hanya dalam waktu satu malam.
Namun, Rani dengan segala kepolosannya yang tak terbatas, dan Yuni yang terlalu fokus pada rasa irinya, menelan kebohongan murahan itu mentah-mentah.
”Wah, gila! Tetangga kamu dukun sakti dari gunung mana, May?!” rengek Rani luar biasa antusias. Ia menggoyang-goyangkan lengan Maya dengan manja. “Boleh dong besok aku minta dikit sisa krim racikannya! Biar pipi chubby-ku yang kayak bakpao ini agak tirusan dikit. Mau ya, May? Ya? Plis!”
”Iya, May! Gue juga mau pesen dong kalau ada! Berapa pun harganya gue bayar deh!” sahut Yuni tak mau kalah, matanya berbinar penuh harap.
”Sumpah deh, May, kamu cantik banget hari ini,” puji Rani lagi, menatap sahabatnya dengan penuh kekaguman tulus tanpa rasa iri. “Kalau aja seragam biru pudar kamu ini diganti pake gaun malam yang mahal, kamu udah cocok banget jadi Brand Ambassador kosmetik di atas panggung sana gantiin artis kemarin.”
Mendengar kata ‘cantik’ ditujukan tepat kepadanya untuk pertama kalinya seumur hidup, dada Maya berdesir hebat.
Selama bertahun-tahun ia bernapas, kata ‘cantik’ adalah sebuah benda pusaka yang hanya berhak diucapkan untuk orang-orang dari kasta atas. Kata itu adalah hak paten yang bukan miliknya. Namun hari ini, ia berhasil merebut paksa hak paten tersebut.
Namun, sebelum Maya sempat merespons celotehan Rani dan Yuni…
BRAK!
Pintu besi ruang ganti kembali didorong terbuka, kali ini dengan bantingan yang jauh lebih kasar hingga engselnya berderit panjang.
Suasana yang tadinya penuh tawa dan keheranan, mendadak menjadi hening, beku, dan sangat tegang.
Sari melangkah masuk. Di belakangnya, seperti seekor peliharaan yang setia, Icha mengekor.
Aroma parfum mawar sintetik yang sangat menyengat dan bossy langsung mendominasi udara di dalam ruangan, membunuh bau kapur barus. Seperti biasa, Sari melangkah dengan dagu terangkat tinggi menantang langit. Seragam birunya dijahit sangat ketat. Tas tangannya diayunkan dengan gaya angkuh seorang penguasa basement.
”Pagi, babu-babu,” sapa Sari dengan nada judes dan melengking yang menjadi ciri khasnya.
Mata tajam wanita dominan itu langsung menyapu ruangan, mencari target bully hariannya untuk sekadar pemanasan otot bibir. Pandangannya langsung tertuju pada sosok berseragam biru pudar yang sedang berdiri membelakanginya di dekat loker bersama Rani dan Yuni.
Sari menghentikan langkahnya dengan sangat mendadak tepat di tengah ruangan.
Icha yang berjalan terlalu dekat di belakangnya tak sempat mengerem, dan akhirnya menabrak punggung Sari.
”Duh, Sar, ngapain sih tiba-tiba berhenti di tengah jalan? Sakit nih idung gue nabrak punggung lo,” gerutu Icha sambil mengusap hidungnya.
Ucapan Icha terputus begitu saja saat matanya melewati bahu Sari, dan melihat ke arah objek yang sedang ditatap dengan ngeri oleh sahabatnya itu. Icha langsung ternganga lebar.
Sari mematung layaknya patung batu.
Matanya yang dihiasi eyeshadow tebal berwarna gelap menyipit dengan sangat tajam, mencoba memfokuskan penglihatannya. Alisnya yang disulam menukik sangat dalam hingga nyaris menyatu.
Wanita itu terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun selama hampir sepuluh detik. Sebuah rekor keheningan terlama yang pernah ia ciptakan sepanjang sejarah eksistensinya di dalam ruang ganti ini.
Otak Sari seolah sedang mengalami korsleting (error) berskala besar. Otaknya sedang berusaha keras mencerna ketidaksesuaian yang sangat ekstrem, antara memori yang ia miliki tentang seorang ‘Maya yang jelek dan dekil’, dengan visual sosok bidadari porselen yang berdiri nyata, menatapnya balik dari seberang ruangan saat ini.
Wajah Sari yang tadinya angkuh perlahan berubah menjadi merah padam. Urat di lehernya mulai mencuat.
Matanya berkilat, memancarkan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar rasa tidak suka atau sentimen senioritas. Itu adalah kilatan ancaman. Ancaman dari seorang predator alfa yang baru saja menyadari dengan penuh kengerian, bahwa ada predator baru yang jauh lebih mematikan, lebih cantik, dan lebih sempurna, baru saja memasuki wilayah kekuasaannya.
”Lo…” Sari mendesis panjang. Suaranya terdengar bergetar menahan amarah yang tak berdasar.
Sari melangkah maju dengan cepat, menghantam lantai dengan hak sepatunya, lalu berhenti tepat setengah meter di depan wajah Maya.
Tinggi mereka nyaris sama. Namun pagi ini, dengan postur wajah Maya yang baru, leher yang tampak lebih jenjang, dan rahang yang tirus… Sari entah mengapa terlihat sedikit lebih tua. Riasan wajah Sari yang selama ini ia banggakan, tiba-tiba terlihat sangat menor, berlebihan, dan murahan jika disandingkan berdampingan dengan kecantikan natural Maya.
Sari menatap wajah Maya tanpa berkedip sedetik pun.
Mata Sari menelusuri setiap inci kesempurnaan anatomi tersebut. Ia mencari pori-pori besar untuk ia hina. Ia mencari noda bekas jerawat. Ia mencari hidung pesek dan rahang bengkok yang baru kemarin sore masih ia tertawakan habis-habisan.
Nihil. Sari tidak menemukannya. Tidak ada satu pun celah kecacatan yang bisa ia gunakan sebagai bahan hinaan pagi ini.
”Lo habis nipu om-om hidung belang mana sampai bisa punya duit buat operasi plastik kilat begini, hah?!” bentak Sari tiba-tiba. Suaranya melengking sangat tajam, memecah keheningan ruang ganti layaknya pecahan kaca.
Icha menganga semakin lebar di belakangnya, sementara Rani buru-buru memundurkan langkahnya, berlindung ketakutan di balik punggung Maya.
”Jawab gue, parasit!” Sari menunjuk tepat ke depan hidung mancung Maya. Kuku panjangnya yang dicat merah nyaris menyentuh lensa kacamata selotip Maya. “Kemarin lo masih jelek kayak tikus got! Lo pake ilmu hitam?! Lo ngepet?! Berapa duit mal yang lo curi buat permak muka gembel lo ini ke klinik, hah?!”
Tuduhan-tuduhan tanpa dasar itu meluncur liar dari mulut Sari yang dipenuhi bisa kecemburuan.
Biasanya, jika dibentak dan dituduh dengan suara setinggi ini, Maya akan langsung menciut. Ia akan menunduk menatap lantai, bahunya akan merosot layaknya kain basah, dan ia akan menggumamkan kata maaf berulang-ulang dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Namun pagi ini… situasi telah berubah.
Entah karena pengaruh psikologis dari wajah barunya yang memberikan kepercayaan diri tak terlihat, atau karena sisa-sisa amarah dan dendamnya yang kini telah menemukan salurannya… Maya sama sekali tidak menunduk.
Gadis berseragam kusam itu berdiri tegak.
Ia mengangkat dagu sempurnanya sedikit ke atas. Ia menatap lurus ke dalam bola mata Sari dari balik lensa kacamatanya yang retak.
Sorot mata Maya sangat tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang sedang dituduh mencuri. Tidak ada setitik pun riak ketakutan yang terpancar di sana. Keheningan Maya pagi ini bukanlah keheningan seorang pengecut yang pasrah diinjak-injak, melainkan keheningan sebuah jurang gelap yang siap menelan siapa pun yang berani melompat masuk ke dalamnya.
”Kenapa diam?! Bisu lo sekarang?!” Sari semakin terpancing dan menggila oleh ketenangan absolut Maya. Wanita dominan itu merasa harga dirinya sedang diinjak-injak dan tidak dihargai oleh diamnya sang bawahan.
”Mentang-mentang muka lo udah nggak kayak pantat panci lagi, lo pikir lo bisa nantang dan ngeremehin gue, hah?!” teriak Sari serak, wajahnya nyaris menempel ke wajah Maya. “Lo inget ya, May! Lo tuh tetep babu! Lo kasta paling bawah! Seragam lo itu pudar! Sepatu lo bau lumpur! Muka lo yang palsu hasil ilmu hitam ini nggak bakal bisa nutupin kemiskinan dan kebusukan hidup lo!”
Maya tetap diam membisu. Ia tidak terpancing untuk berteriak membalas.
Ia hanya terus menatap mata Sari dengan intensitas yang mengintimidasi.
Dalam jarak sedekat ini, dengan sepasang mata elangnya yang terfokus penuh, Maya tiba-tiba menyadari sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan karena ia selalu menunduk ketakutan.
Kulit wajah Sari tidaklah semulus yang ia kira selama ini.
Di balik sapuan bedak padat dan foundation yang sangat tebal itu, Maya bisa melihat dengan jelas garis-garis halus penuaan di sudut mata wanita itu. Ia bisa melihat tumpukan komedo di hidungnya, tekstur kulit yang tidak rata, dan bentuk hidung Sari yang sebenarnya sedikit bengkok jika diperhatikan tanpa makeup contouring.
Sari sama sekali tidak sempurna. Sari hanyalah seorang manusia biasa yang dipenuhi rasa insecure, yang kebetulan memiliki uang sedikit lebih banyak dari Maya untuk membeli alat rias sebagai topengnya.
Dibandingkan dengan kesempurnaan transmutasi biologis absolut yang Maya miliki sekarang, riasan mahal Sari terlihat seperti coretan krayon anak TK di atas selembar kertas kusut.
Melihat Maya sama sekali tidak bergeming atau meneteskan air mata ketakutan seperti biasanya, napas Sari semakin memburu liar. Dadanya naik turun.
Kecemburuan, sebuah racun psikologis yang paling mematikan bagi wanita haus validasi seperti Sari, kini mulai mendidih di dalam darahnya, membakar habis sisa akal sehatnya. Ia tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa gadis yang selama bertahun-tahun ia jadikan keset injakan, kini dalam semalam terlihat sepuluh kali lipat jauh lebih memukau darinya.
Tepat saat amarah Sari memuncak, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Entah ia berniat untuk menampar wajah porselen itu, atau sekadar mendorong bahu Maya hingga terjatuh.
Namun, sebelum tangan berhias kuku merah itu sempat mendarat…
”Ada apa ini ribut-ribut?! Suara jeritan kalian sampai terdengar ke ujung lorong depan!”
Pintu besi ruang ganti didorong lebar-lebar dengan kasar.
Bu Ratna berdiri di ambang pintu dengan clipboard andalannya. Manajer operasional yang berbadan tambun dan galak itu tampak sangat kesal karena rutinitas paginya terganggu oleh teriakan staf bawahan.
”Ini nih, Bu!” Sari buru-buru menoleh ke arah bosnya. Ia menuding wajah Maya dengan telunjuknya yang bergetar. “Si Maya ini aneh banget, Bu! Dia tiba-tiba berubah muka dalam semalam! Pasti dia pakai ilmu hitam atau mencuri uang kas mal buat operasi plastik ke dokter! Ibu lihat aja sendiri mukanya yang palsu itu! Nggak wajar, Bu!”
Bu Ratna menghela napas kasar dari hidungnya. Ia membetulkan letak kacamata bacanya yang melorot, lalu menoleh menatap Maya yang masih berdiri dengan sangat tenang.
Bu Ratna membuka mulutnya lebar-lebar, menarik napas dalam, bersiap untuk mengeluarkan rentetan makian tajam nan mematikan yang sudah menjadi rutinitas sarapan pagi untuk Maya.
Namun… begitu mata tuanya benar-benar fokus menangkap wajah Maya yang kini diterangi langsung oleh lampu neon ruangan…
Mulut Bu Ratna terkatup rapat seketika.
Clipboard kayu di tangannya sedikit merosot turun tanpa ia sadari. Mata manajer paruh baya itu membelalak sangat lebar. Kerutan di dahi lebarnya menjadi semakin dalam akibat kebingungan yang meremukkan logikanya.
Bu Ratna mengerjap beberapa kali, meremas matanya sendiri. Ia melangkah maju perlahan, mendekati Maya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah ia sedang mendekati sebuah patung pualam bernilai triliunan atau sebuah ilusi optik yang ia takutkan akan menghilang jika ia bernapas terlalu keras.
”Maya…?” panggil Bu Ratna.
Suara manajer yang biasanya selalu menggelegar itu kini terdengar sangat pelan, nyaris menyerupai sebuah bisikan yang dipenuhi keraguan mendalam.
Tidak ada bentakan. Tidak ada nada tinggi yang menyiksa telinga. Nada suara Bu Ratna berubah menjadi sangat aneh, sebuah campuran antara kebingungan total, syok, dan secara mengejutkan, sebuah bentuk kekaguman murni yang tak bisa disembunyikan oleh wanita mana pun saat melihat keindahan absolut.
Maya menundukkan kepalanya sedikit. Namun kali ini, ia menunduk bukan karena takut, melainkan untuk memberikan gestur hormat yang sangat formal dan palsu.
”Iya, Bu Ratna. Selamat pagi,” jawab Maya dengan senyum sangat tipis. “Ada yang salah dengan penampilan saya pagi ini?”
Suara Maya yang jernih, mengalun tenang, dan sangat sopan itu membuat Bu Ratna gelagapan.
Wanita tambun yang biasanya memiliki kemampuan super untuk menemukan ribuan celah kesalahan untuk memarahi Maya, pagi ini mendadak kehilangan perbendaharaan katanya. Ia hanya bisa menatap wajah mulus tanpa pori itu, menatap hidung yang sempurna dan rahang tirus yang simetris itu.
Anehnya, seragam biru pudar yang dikenakan Maya pagi ini justru bertindak seperti sebuah kanvas gelap yang membuat kecantikan wajahnya semakin menonjol dan dramatis. Maya terlihat persis seperti sebuah berlian tak ternilai yang tak sengaja terjatuh di atas tumpukan kain rombeng.
”K-kamu… kamu sedang sakit, May? Mukamu beda…” tanya Bu Ratna akhirnya, otaknya berusaha mati-matian mencari-cari alasan logis atas fenomena tak masuk akal di depannya.
”Sudah agak mendingan, Bu. Kemarin saya hanya kena radang sedikit karena terlalu lelah dan banyak menghirup debu,” jawab Maya dengan kelembutan yang mematikan.
Bu Ratna berdeham dengan sangat canggung. Ia merapikan kerah blazer-nya yang sedikit miring untuk menutupi salah tingkahnya.
Otoritas mutlaknya sebagai seorang atasan diktator seakan menguap begitu saja, luntur ke udara saat ia dihadapkan pada estetika fisik tingkat tinggi yang kini dimiliki oleh bawahannya itu. Otak bawah sadar manusia memang selalu diatur untuk takluk pada keindahan.
”Ehem… baguslah kalau kamu sudah sembuh. Cepat ambil alat pel kalian dan kumpul ke area briefing. Kita tidak punya waktu untuk mengobrol gosip murahan pagi ini,” perintah Bu Ratna dengan nada yang sangat netral dan datar.
Manajer itu tidak memarahi siapa pun. Ia langsung berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah tergesa-gesa, seolah sedang melarikan diri dari ketidakmampuannya sendiri untuk memproses apa yang baru saja ia lihat.
Tidak ada makian. Tidak ada ancaman pemecatan. Tidak ada potong gaji.
Bu Ratna, sang diktator basement, baru saja mundur dari garis pertarungan tanpa melepaskan satu pun tembakan.
Rani dan Yuni yang berdiri di sudut saling berpandangan dengan mulut menganga takjub. Ini adalah kejadian langka, sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi sepanjang sejarah berdirinya Grand Atrium Mall. Bu Ratna, Sang ‘Mak Lampir’, baru saja kehilangan taringnya sepenuhnya di hadapan seorang cleaning service rendahan.
Maya menatap pintu besi yang baru saja tertutup itu. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, kembali terbentuk di sudut bibir porselennya.
Lalu, dengan sangat perlahan dan anggun, Maya memalingkan wajahnya. Ia menatap kembali ke arah Sari.
Sari masih berdiri kaku di tempatnya. Wajah wanita dominan itu sepucat mayat, namun matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya.
Sari baru saja menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana otoritas Bu Ratna, senjata pemusnah yang biasanya selalu ia gunakan untuk menindas Maya setiap hari mendadak tumpul dan tak berguna sama sekali hanya karena dihadapkan pada sebuah wajah yang cantik.
Kekalahan telak di pagi hari ini meremukkan pondasi harga diri Sari hingga menjadi serpihan debu. Ia telah kehilangan senjatanya.
Maya tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membalas hinaan Sari tadi. Kemenangan terbesar tidak membutuhkan kata-kata.
Gadis itu memungut kain lap kusamnya dari dalam loker, menutup pintu loker itu dengan pelan tanpa suara bantingan, lalu berjalan melewati Sari dengan dagu sedikit terangkat.
Saat bahunya yang kurus tak sengaja bersinggungan tipis dengan bahu Sari di ruangan sempit itu, Maya bisa merasakan getaran amarah, rasa malu, dan kecemburuan dari tubuh wanita yang dulu ia takuti itu.
Maya melangkah keluar dari ruang ganti menuju koridor basement yang luas, bersiap menaiki lift menuju area mal di mana cahaya lampu-lampu kristal mewah menunggunya.
Pagi ini, untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan ke dunia yang kejam ini, Maya merasa bahwa udara kotor yang ia hirup terasa sedikit lebih segar. Dan lantai marmer keras yang ia pijak tidak lagi terasa seperti sebuah kutukan kerja paksa, melainkan terasa seperti sebuah panggung di mana ia adalah tokoh utamanya.