SIMETRI BAB 14 ~ ​Tawaran Kiki

​Menjadi pusat perhatian adalah hal yang paling dihindari oleh Maya seumur hidupnya.

​Selama dua puluh dua tahun ia bernapas, ia telah melatih dirinya dengan sangat keras untuk selalu menyatu dengan latar belakang. Menjadi bayangan abu-abu pudar yang menempel di dinding, menghilang di antara gemerlapnya kehidupan orang lain yang jauh lebih beruntung darinya.

​Namun hari ini… di bawah siraman cahaya puluhan lampu gantung kristal Grand Atrium Mall di lantai dasar… bersembunyi adalah sebuah kemustahilan yang mutlak.

​Pukul 13:00 siang.

​Jam sibuk mal sedang mencapai titik puncaknya. Ini adalah waktu di mana para pekerja kantoran dari gedung-gedung pencakar langit di sekeliling Sudirman berhamburan mencari makan siang. Waktu di mana para pengunjung dari kelas atas mulai berdatangan untuk sesi belanja santai.

​Maya sedang bertugas memoles pegangan kaca eskalator utama.

​Tangannya memegang kain microfiber dan botol semprot berisi cairan pembersih beraroma amonia. Gerakannya ritmis, naik dan turun mengikuti laju sabuk karet eskalator tersebut.

​Biasanya, pengunjung yang naik atau turun di eskalator akan langsung membuang muka. Mereka sibuk dengan layar ponsel cerdas mereka, atau sekadar menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Seolah Maya hanyalah bagian mekanis dari mesin eskalator itu sendiri, sebuah properti tak bernyawa yang tugasnya hanya untuk mengikis debu.

​Jika pun ada yang tak sengaja melihatnya, itu hanyalah tatapan sekilas yang memancarkan rasa tidak nyaman atau jijik terhadap seragamnya yang kusam dan kacamata patahnya.

​Tapi… tidak hari ini.

​Hari ini, poros dunia seolah bergeser secara paksa. Gravitasi di dalam mal raksasa ini seakan berpusat tepat di tempat seorang cleaning service berpakaian pudar itu berdiri.

​Setiap orang yang melintas di dekat area eskalator nyaris tanpa sadar memperlambat langkah kaki mereka.

​Kecepatan berjalan yang tadinya terburu-buru mendadak melambat hingga menyerupai efek gerak lambat di film-film. Beberapa pria berdasi rapi yang sedang memegang gelas kopi bermerek mendadak mengendurkan dasi mereka. Mereka menoleh hingga leher mereka terpelintir jauh ke belakang, hanya untuk mencuri pandang ke arah wajah Maya.

​Sekelompok wanita karier dengan riasan mahal saling sikut saat turun dari eskalator. Mereka menghentikan obrolan mereka secara mendadak, menatap Maya, dan mulai berbisik-bisik sambil menutupi mulut dengan tangan mereka.

​Bahkan, sekelompok mahasiswa dan mahasiswi modis yang sedang nongkrong santai di kafe seberang eskalator terang-terangan mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah Maya.

​Mereka berpura-pura sedang mengambil selfie atau merekam video suasana mal. Padahal, lensa kamera belakang mereka membidik secara presisi tepat pada sosok gadis berseragam biru kedodoran tersebut.

​”Eh, sumpah, lo lihat deh cleaning service yang lagi ngelap kaca itu,” bisik seorang mahasiswi berambut ombre kepada teman di sebelahnya.

​Suara bisikan itu mengudara menembus alunan musik jazz instrumental mal, tertangkap dengan sangat jelas oleh telinga Maya.

​”Gila, mukanya… lo liat mukanya nggak sih?” lanjut mahasiswi itu.

​”Iya, gue dari tadi perhatiin terus,” sahut temannya dengan kening berkerut bingung, setengah takjub setengah curiga. “Proporsi rahangnya cakep banget, gila. Kulitnya flawless parah, cerah banget, nggak ada pori-porinya sama sekali kayak porselen hidup.”

​”Tapi kok… seragamnya buluk banget gitu ya? Mana kacamatanya dilakban hitam pula, rambutnya diiket asal-asalan. Bau karbol lagi.”

​”Lagi ada prank acara TV atau social experiment buat YouTube kali ya?” tebak temannya. “Model disuruh nyamar jadi tukang bersih-bersih? Pasti ada kamera tersembunyi nih di sekitar tiang sini. Nggak mungkin ada babu secakep itu di dunia nyata.”

​Maya mendengar setiap suku kata dari bisikan itu.

​Ujung telinganya terasa memanas seketika. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, memompa aliran darah ke wajahnya. Denyut jantung itu memberikan rona merah alami di pipinya yang kini sehalus porselen, sebuah reaksi biologis yang justru membuatnya terlihat semakin hidup dan memesona secara tak sengaja di mata para pengamatnya.

​Ia buru-buru menundukkan wajahnya. Sebuah refleks pertahanan diri yang sudah mendarah daging dari seorang gadis miskin yang terbiasa diinjak oleh tatapan orang lain.

​Namun, sungguh aneh rasanya hari ini.

​Berbeda dengan rasa malu yang biasanya mencekik lehernya karena dihina atau diteriaki ‘babu dekil’… rasa malu kali ini terasa sangat berbeda. Sangat ganjil. Membingungkan. Namun di saat yang sama… luar biasa memabukkan.

​Ini adalah rasa canggung karena ia tidak pernah tahu bagaimana cara merespons sebuah kekaguman massal.

​Sebuah kontras yang sangat brutal sedang disajikan secara langsung di tengah atrium mal bergengsi itu.

​Wajah bidadari tanpa celah yang dibingkai oleh kacamata patah berselotip hitam. Tubuh kurus yang dibalut seragam biru pudar kebesaran. Dan sepasang sepatu bot karet kusam yang menapak di atas lantai marmer Italia.

​Maya terlihat seperti sebuah karya seni murni bernilai triliunan rupiah, yang dibungkus secara sembarangan menggunakan lembaran koran bekas pembungkus ikan.

​Ketidaksesuaian itu… paradoks visual itu… justru memancarkan daya tarik misterius yang membuat siapa pun tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

​Sambil terus menggerakkan kain microfiber-nya di atas kaca, Maya mencuri pandang ke arah pantulannya sendiri di permukaan logam eskalator.

Ini gila, batin Maya berteriak pelan, tak percaya dengan realitasnya sendiri.

​Tadi pagi di gang rumahnya dan di dalam ruang ganti, ia hanya merasakan percikan kecil dari perubahannya. Tapi di sini, di ruang publik kelas atas, di bawah gemerlap lampu mal yang menyorotnya tanpa ampun… efek dari wajah barunya ini bekerja seperti sebuah sihir hipnotis massal yang mengerikan.

​Ia mulai menyadari sebuah realitas baru yang sangat kejam sekaligus menakjubkan.

​Dunia ini… betapa pun munafiknya orang-orang berbicara tentang ‘kecantikan dari dalam hati’… pada kenyataannya akan selalu mendengarkan dan menunduk pada mereka yang memiliki visual sempurna. Dunia ini memberi jalan dengan sukarela pada mereka yang rupawan.

​Semua kepasrahannya selama bertahun-tahun. Semua doa-doanya di sepertiga malam agar dihargai karena ia selalu bersikap sopan dan berhati baik… rasanya menjadi lelucon kosong dibandingkan dengan kekuatan setebal beberapa milimeter daging di wajahnya saat ini.

​Kebaikan hati tidak bisa membeli pandangan kagum ini. Tapi seulas garis rahang yang tirus dan simetris, rupanya bisa menundukkan ratusan pasang mata dalam sekejap mata.

​Di sudut lain lantai satu, tersembunyi dari pandangan Maya.

​Tepat di balik pilar pualam besar di dekat deretan etalase sepatu kulit mewah, dua pasang mata sedang mengamati fenomena ganjil tersebut dengan perasaan yang sangat jauh berbeda dari para pengunjung mal.

​Sari dan Icha berdiri mematung di sana.

​Sari mencengkeram erat gagang sapu nilonnya hingga buku-buku jarinya memutih pasi, nyaris merobek sarung tangan kain yang ia kenakan.

​Napas wanita dominan itu memburu cepat. Dadanya naik turun dengan liar seiring dengan ritme amarah yang membakar ususnya. Matanya yang sengaja dipoles eyeliner tebal menatap tajam ke arah sosok Maya. Tatapan itu persis bagaikan mata seekor ular berbisa yang sedang memantau mangsa yang baru saja mencuri buruannya.

​Sari melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.

​Ia melihat tatapan memuja dan lapar dari para pria kantoran tampan yang melintasi eskalator. Ia mendengar bisik-bisik penuh kekaguman dan spekulasi liar dari para pengunjung wanita di sekitar kafe.

​Ia melihat bagaimana orang-orang secara sukarela memberikan ruang untuk Maya bergeser saat membersihkan kaca. Sebuah perlakuan sopan, segan, dan menghargai yang belum pernah Maya dapatkan seumur hidupnya di gedung ini.

​Sesuatu yang bahkan tidak pernah Sari dapatkan sama sekali… meskipun ia sudah menghabiskan waktu dua jam lamanya di depan meja rias sebelum berangkat kerja, memakai parfum mahal pemberian pacarnya, dan menjahit seragamnya agar terlihat ketat menggoda.

​”Gila… si Maya beneran kesambet apaan sih semalam, Sar?” bisik Icha di sebelahnya, benar-benar tak habis pikir.

​Mulut Icha menganga lebar hingga permen karet rasa stroberi yang sedang dikunyahnya terlihat dari luar.

​”Kok orang-orang sampai ngeliatin dia segitunya sih? Kayak lagi ngelihat artis film turun dari langit aja,” lanjut Icha polos. “Muka dia… beneran cantik banget dari jauh kalau kena pantulan lampu gitu. Tulang pipinya itu lho. Beda kelas banget, Sar. Seragam buluk sama kacamata selotipnya aja nggak bisa nutupin cantiknya muka dia sekarang.”

​Ucapan polos Icha yang tak disaring itu ibarat bergalon-galon bensin beroktan tinggi yang disiramkan tepat ke atas kobaran api cemburu di dalam dada Sari.

​”Diam lo! Tutup mulut lo kalau nggak mau gue robek mulut lo sekarang juga!” desis Sari buas.

​Sari menoleh ke arah sahabatnya itu dengan tatapan membunuh yang menyala-nyala. Urat di leher Sari menonjol keluar.

​Icha seketika bungkam. Ia merapatkan bibirnya dan mundur selangkah karena ketakutan melihat kemarahan sahabatnya yang meledak-ledak tak wajar.

​”Cantik dari mananya?! Lo buta apa gimana, hah?!” rutuk Sari dengan gigi bergemeretak, berusaha keras membohongi matanya sendiri dan merasionalisasi kekalahannya.

​”Dia itu cuma babu gembel, Cha! Babu rendahan yang kebetulan lagi hoki aja dapet krim racikan dukun kampung murah! Paling juga besok pagi mukanya hancur meleleh penuh nanah gara-gara merkuri! Cantik apanya, cih! Palsu itu semua!”

​Sari kembali menatap lurus ke arah Maya di kejauhan.

​Iri dengki yang absolut. Rasa tidak terima yang merobek-robek ego superioritasnya. Dan amarah yang mendidih. Semua emosi itu bersatu padu membentuk racun hitam yang mengotori sisa-sisa kewarasan Sari pagi ini.

​Selama bertahun-tahun bekerja di Grand Atrium Mall, Sari adalah ‘Ratu’ tak termahkota di antara para cleaning service. Ia yang paling menarik, ia yang paling modis, ia yang paling sering digoda oleh para satpam, teknisi, dan karyawan toko elit.

​Keberadaan Maya yang dekil, jelek, dan selalu pasrah selama ini adalah fondasi pijakan yang membuat Sari merasa jauh lebih superior di dunia bawah tanah basement. Maya adalah titik terendah yang membuat Sari merasa berada di tempat yang sangat tinggi.

​Kini… fondasi batu bata itu hancur berkeping-keping menjadi abu.

​Babu rendahan bertampang kampungan itu baru saja merebut singgasananya dalam waktu semalam. Tanpa perlu merias wajah sedikit pun, tanpa eyeliner, bahkan hanya dengan memakai kacamata rongsokan yang dibalut selotip hitam.

Nggak mungkin. Pasti ada yang salah. Ini nggak masuk akal, batin Sari menjerit histeris dalam diam.

​Sari mencengkeram gagang sapunya semakin kuat. Aku harus cari tahu rahasianya. Aku bakal telanjangi kebohongannya dan hancurin muka palsunya itu sebelum dia sadar dia udah menang mutlak dari aku.

​Sari merencanakan sebuah niat jahat. Rencana yang mulai tersusun rapi di kepalanya yang mendidih oleh kebencian tak beralasan.

​Sementara itu, di lantai dua mal.

​Tepat dari arah lorong panjang yang menghubungkan deretan butik desainer internasional, seorang pria melangkah santai menyusuri balkon kaca transparan yang menghadap langsung ke atrium lantai dasar.

​Pria itu bertubuh semampai, cukup tinggi, dan penampilannya luar biasa mencolok.

​Ia mengenakan kemeja sutra bermotif vintage floral yang dibiarkan terbuka tiga kancing teratasnya, memperlihatkan kalung rantai emas tipis yang menjuntai artistik di dadanya. Celana kulot berpotongan lebarnya melambai anggun setiap kali ia melangkah. Rambutnya dicat warna abu-abu ash, ditata dengan pomade hingga rapi klimis ke belakang. Di pergelangan tangannya bertengger sebuah jam tangan mewah yang memantulkan cahaya.

​Namanya Kiki.

​Seorang pencari bakat ( talent scout ) eksekutif sekaligus pengarah gaya ( art director ) lepas yang sangat sering wara-wiri di industri Fashion dan hiburan ibu kota.

​Meskipun gaya bicaranya melambai, suka menggerakkan tangan, dan gesturnya sangat gemulai, insting Kiki dalam menemukan ‘berlian mentah’ sangatlah tajam bak pisau bedah. Keputusannya sering kali menjadi jalan pintas bagi wajah-wajah baru untuk masuk ke sampul majalah bergengsi atau menjadi Brand Ambassador.

​Kiki sedang berjalan sambil berbicara melalui earphone nirkabelnya. Ia sedang mengomel panjang lebar kepada asistennya di ujung telepon.

​”Aduh, sumpah ya, pusing kepala eike ngelihat antrean casting pagi ini. Bener-bener garing kayak kerupuk melempem yang ditinggal semalaman!” celoteh Kiki tanpa jeda.

​Tangannya yang lentik bergerak-gerak di udara mengekspresikan kekecewaannya. Matanya menyapu deretan toko di bawah sana tanpa minat.

​”Muka-muka model jaman sekarang itu lho… aduh, kayak dicetak dari pabrik kosmetik yang sama persis! Nggak ada variasinya!” protes Kiki dengan nada lelah. “Hidung mancung suntikan benang, bibir dower kebanyakan filler, rahang yang ditarik sampai kaku nggak bisa senyum. Boring! Nggak ada karakternya sama sekali. Udah ya, eike mau cari kopi dulu ke lantai bawah buat benerin mood eike yang ancur ini.”

​Kiki mematikan sambungan teleponnya dengan dengusan kesal.

​Ia berjalan perlahan mendekati railing pembatas kaca di lantai dua. Sebagai orang yang matanya selalu terlatih untuk mencari detail-detail menarik di keramaian, Kiki secara kasual membuang pandangannya ke atrium lantai dasar.

​Ia melihat antrean panjang di sebuah kedai kopi. Ia melihat sekumpulan anak muda. Lalu, matanya bergulir melewati eskalator utama.

​Langkah Kiki mendadak terhenti.

​Kakinya seolah baru saja dipaku dengan pasak baja ke lantai pualam.

​Tangannya yang bersandar santai di pinggiran balkon kaca perlahan mencengkeram erat pinggiran tersebut. Tubuhnya sedikit condong ke depan, menekan kaca. Matanya yang tajam di balik riasan tipis menyipit, membidik lurus ke arah lantai dasar.

​Tatapannya menembus jarak puluhan meter ke bawah, terkunci pada sosok berseragam biru kedodoran yang sedang menunduk mengelap kaca eskalator.

​”Ya ampun… Mother of God…” gumam Kiki histeris. Ia nyaris terdengar seperti orang yang sedang merapal doa di tengah gereja.

​Awalnya, dari jarak sejauh ini, Kiki hanya melihat seragam cleaning service yang sangat norak, kuno, dan menyedihkan.

​Namun… saat gadis itu sedikit mendongak untuk memoles bagian atas kaca eskalator, dan cahaya lampu gantung menerpa setengah wajah bagian bawahnya secara langsung… napas Kiki benar-benar terhenti sesaat.

​Sebagai orang yang setiap hari membedah ratusan wajah cantik hasil sayatan operasi plastik presisi, dan melihat ribuan foto portofolio model papan atas, Kiki sangat hafal membedakan mana kecantikan buatan dokter bedah dan mana struktur tulang paripurna yang dianugerahkan secara absolut oleh semesta.

​Dan apa yang ia lihat pada petugas kebersihan bertubuh kurus kering di bawah sana adalah sebuah anomali murni. Sebuah mahakarya yang tidak seharusnya ada di sana, tersembunyi di balik lap pel.

​Garis rahang gadis itu begitu tegas, simetris, dan tajam seolah mampu membelah lautan. Tulang pipinya menonjol dengan lengkungan presisi yang biasanya hanya dimiliki oleh supermodel runway kelas dunia di Milan atau Paris. Kulit porselennya memancarkan pendaran cahaya yang sangat natural.

​Kiki bahkan secara otomatis mengabaikan fakta bahwa ada kacamata rongsokan mengerikan yang bertengger miring di hidungnya. Di mata Kiki, kacamata patah itu hanyalah aksesoris kecil yang tidak bisa menutupi potensi raksasanya.

​”Gila… gila banget… ini dia! Ini dia berlian mentahnya!” seru Kiki dengan nada histeris pada dirinya sendiri.

​Insting talent scout-nya menjerit kegirangan. Adrenalinnya memuncak.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kiki langsung membalikkan badan dan berlari kecil menuju anak tangga eskalator terdekat. Langkah panjangnya membelah kerumunan pengunjung tanpa peduli menabrak bahu beberapa orang.

​”Permisi! Excuse me! Lewat dong, eike lagi buru-buru!” seru Kiki sambil menuruni eskalator dengan setengah berlari.

​Di lantai dasar, Maya baru saja mengembuskan napas panjang. Ia akan berpindah untuk mengepel sisi luar eskalator yang lain, berusaha menghindari tatapan-tatapan orang yang membuatnya canggung.

​Namun tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya dengan sangat dramatis. Bau parfum musk mahal bercampur aroma kopi espresso yang kuat menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengalahkan bau amonia dari cairan pembersihnya.

​”Stop! Hold it right there, Honey! Berhenti ngepel detik ini juga!”

​Sebuah seruan melengking namun renyah meledak tepat di depan wajah Maya.

​Maya terlonjak kaget hingga nyaris melompat mundur. Kain microfiber dan botol semprotan di tangannya nyaris terlepas dari genggaman. Jantungnya mencelos.

​Ia mendongak perlahan. Matanya yang minus berkedip panik di balik lensa kacamata yang dililit selotip hitam. Ia menatap seorang pria nyentrik berkemeja bunga-bunga yang kini berdiri berkacak pinggang menghalangi jalannya dengan napas tersengal-sengal.

​”M-maaf, Mas… ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Maya buru-buru. Suaranya gemetar. Ia refleks kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​Insting pekerja kelas bawahnya langsung mendominasi otaknya. Ia mengira ia telah melakukan sebuah kesalahan tak kasat mata yang membuat pengunjung mal kelas atas ini murka dan menegurnya.

​”Lantainya ada yang kurang bersih, Mas? Di sebelah mana? Tolong jangan laporkan saya ke manajer ya, Mas, nanti saya ulangi pelnya sampai bersih,” ucap Maya memelas, siap-siap berjongkok.

​Pria itu menampar udara dengan tangannya yang lentik secara dramatis, seolah kata-kata kepatuhan Maya barusan adalah sebuah penghinaan besar bagi dunia Fashion.

​”Aduh, Mas, Mas. Panggil eike Kiki, Sayang!” seru Kiki dengan gemas, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan please, tolong angkat dagu kamu sekarang juga. Sayang banget tulang rahang paripurna dan muka mahal begitu disembunyiin menghadap lantai kotor. Lantai marmer ini nggak deserve lihat muka kamu!”

​Maya kebingungan setengah mati. Dahi dan alisnya berkerut di balik poninya yang berantakan.

​Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Ia ragu-ragu mengangkat kepalanya perlahan, menelan ludah, lalu menatap wajah pria modis itu dengan tatapan polos, takut, dan tak mengerti.

​Begitu wajah bawah Maya terangkat dan bertatapan langsung dengannya dalam jarak kurang dari setengah meter… Kiki menarik napas panjang.

​Sebelah tangannya refleks menutupi mulutnya yang sedikit terbuka karena takjub.

​”Gila… gila… aslinya lebih pecah lagi…” gumam Kiki berulang kali.

​Suaranya kini melirih, dipenuhi kekaguman yang absolut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kiki bahkan memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap lengkungan rahang dan tulang pipi Maya layaknya seorang kolektor seni yang baru saja menemukan artefak kuno legendaris.

​”Ini asli, kan? Sumpah ini muka asli tanpa filler kan?” oceh Kiki, matanya berbinar-binar. “Tulang pipi kamu ini bener-bener gila. Karakternya kuat banget, Sayang!”

​Maya mematung. Otaknya butuh beberapa detik ekstra untuk mencerna hujan pujian yang dilontarkan pria asing di hadapannya ini dengan kecepatan kilat.

​Ia melirik ke sekeliling dengan cemas. Para pengunjung yang tadi hanya berani melihat wajahnya dari jauh, kini mulai berhenti melangkah. Mereka terang-terangan menonton interaksi aneh antara seorang pria super modis dengan cleaning service dekil tersebut. Sorotan ratusan mata mereka membuat Maya merasa tercekik, takut Bu Ratna akan muncul sewaktu-waktu.

​”S-saya permisi dulu, Kak Kiki. Saya harus lanjut kerja,” ucap Maya sangat sopan. Ia menundukkan badannya sekilas, mencoba melangkah menyamping untuk menghindari pria itu. “Nanti saya dimarahi dan dipotong gaji sama manajer saya kalau ketahuan ngobrol sama tamu mal.”

​Namun Kiki dengan sigap bergeser ke kiri, kembali menghalanginya bagai tembok hidup yang wangi.

​”Eits, tunggu dulu dong, Cantik! Jangan buru-buru kabur. Manajer kamu siapa sih namanya? Suruh sini hadap eike sekarang juga,” celoteh Kiki tanpa jeda, tangannya berkacak pinggang membela Maya. “Berani-beraninya dia nyuruh bidadari haute couture ngepel lantai debu begini. Ngawur banget itu manajer!”

​Kiki kemudian menyilangkan tangannya di dada. Ia memundurkan tubuhnya selangkah. Ia menatap Maya dari ujung rambut hitamnya yang dikuncir kaku hingga ujung sepatu bot karetnya yang kusam. Ia sedang melakukan kalkulasi visual di dalam kepalanya.

​”Nama kamu siapa, Sayang?” tanya Kiki tiba-tiba.

​Nada suaranya kini melembut. Kali ini terdengar sangat serius dan profesional, menanggalkan sedikit nada bercandanya. Ia berubah memancarkan aura seorang pencari bakat sejati yang sedang berbisnis.

​”M-maya, Kak,” jawabnya nyaris berbisik. Tangannya meremas kain microfiber basah erat-erat untuk menyalurkan kegugupannya yang luar biasa.

​”Oke, Maya. Dengerin Kiki baik-baik ya,” Kiki mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap lurus menembus lensa kacamata retak berselotip milik Maya.

​”Kamu tahu nggak, struktur muka kamu itu komersial banget. Sangat high fashion. Terserah orang mau sebut apa. Intinya, muka kamu itu adalah duit, Maya. Muka kamu itu miliaran duit yang lagi jalan-jalan bawa botol semprotan kaca.”

​Kata ‘duit’ dan ‘miliaran’ menghantam telinga Maya seperti dentuman lonceng raksasa di tengah keheningan malam.

​Jantungnya mendadak berdebar dengan ritme liar, memompa darah ke seluruh tubuhnya hingga terasa panas. Pikirannya seketika melesat dan melayang pada ibunya yang sedang terbaring lemah di kontrakan pengap.

​Ia teringat pada vonis dokter di klinik kumuh itu. Ia teringat pada resep obat yang harus ia beli besok pagi. Dan yang paling menghancurkan… ia teringat pada angka dua puluh juta rupiah untuk biaya deposit ruang ICU, yang selama beberapa hari ini terus menghantuinya di setiap tarikan napas hingga ia nyaris gila.

​Melihat kilatan keterkejutan yang sangat kuat dan secercah keputusasaan kelam di sepasang mata cokelat di balik kacamata itu, Kiki tersenyum puas. Ia tahu persis bagaimana membaca raut wajah orang miskin yang putus asa. Ia telah mendapatkan perhatian gadis itu secara penuh.

​Kiki merogoh saku kemeja sutranya dengan gerakan elegan. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam tipis bermerek.

​Dengan jepitan dua jari lentiknya, ia menarik selembar kartu nama dan menyodorkannya ke hadapan wajah Maya.

​”Eike ini talent scout, Maya. Eike kerja nyari orang-orang yang punya potensi raksasa buat jadi supermodel besar, terus eike orbitin kalian ke dunia gemerlap,” jelas Kiki dengan penuh kebanggaan, menatap Maya dengan tatapan menjanjikan masa depan.

​”Dan kamu ini… aduh, speechless eike. Kamu cuma butuh mandi kembang, creambath di salon, buang kacamata astaghfirullah kamu ini ke tong sampah, ganti baju desainer yang bener, dan boom! Kamu bisa jalan di catwalk dan nutup semua mulut orang yang pernah ngeremehin dan ngehina kamu selama ini.”

​Maya menatap kartu nama yang disodorkan Kiki seolah benda itu adalah tiket masuk ke pintu surga yang dijatuhkan langsung dari langit oleh Tuhan.

​Kartu itu terbuat dari kertas matte hitam pekat yang sangat tebal. Teksturnya… entah mengapa mengingatkan Maya pada tekstur kotak kosmetik misterius yang ia curi semalam. Di kartu itu, terdapat huruf-huruf timbul (emboss) berwarna perak mengkilap yang elegan.

Kiki – Executive Talent Scout / Creative Director.

​Tangan Maya yang kasar, yang telapaknya masih basah oleh cairan amonia pembersih kaca, bergetar pelan saat mengambil kartu tersebut. Ia mengambilnya dengan dua tangan, sangat berhati-hati agar tidak meninggalkan noda air yang merusak permukaan mewahnya.

​”M-model?” Maya mengulang kata itu seolah kata tersebut adalah mantra ajaib yang bahasa asingnya belum ia kuasai.

​”Tapi Kak Kiki… saya nggak punya pengalaman apa-apa,” ujar Maya ragu, menundukkan pandangannya melihat sepatu botnya. “Saya kalau jalan aja sering nunduk karena takut dimarahi. Badan saya kurus kerempeng kayak tripleks, saya… maksud saya… saya ini cuma petugas kebersihan dari kampung. Mana ada cerita model terkenal asalnya dari babu mal.”

​Kiki tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang sama sekali tidak merendahkan rasa rendah diri Maya. Itu adalah tawa seseorang di industri hiburan yang menganggap kekhawatiran Maya adalah hal yang paling mudah untuk diselesaikan dengan uang.

​”Aduh, Maya sayangku. Kurus kerempeng itu justru standar mutlak model internasional sekarang! Baju desainer miliaran rupiah itu jatuhnya paling bagus kalau dipakai di badan yang ramping kayak tripleks kamu itu,” celoteh Kiki sambil mengibaskan tangannya santai.

​”Soal pengalaman? Sayang, semua itu bisa diajarin di kelas! Cara jalan? Nanti eike cariin pelatih yang galaknya ngalahin ibu tiri sedunia. Soal latar belakang? Please deh, artis papan atas yang mukanya kemarin ada di billboard raksasa depan mal ini juga dulunya jualan gorengan di pinggir terminal. Nggak ada yang mustahil di industri ini.”

​Kiki mengangkat telunjuknya yang terawat rapi, menunjuk tepat ke wajah porselen Maya dengan tatapan yang mengintimidasi namun tulus.

​”Satu hal yang nggak bakal pernah bisa dipelajarin di kelas modelling mana pun, atau dibeli pakai uang miliaran operasi plastik sekalipun… adalah karakter wajah dan proporsi tulang sempurna yang kamu punya itu, Maya. Itu anugerah dari Tuhan.”

Bukan anugerah. Ini hasil dari transmutasi produk curian, batin Maya merintih dalam diam, menyadari kebenaran kelamnya.

​Namun, Maya menelan kenyataan pahit itu dalam-dalam. Ia menguncinya rapat-rapat di sudut otaknya yang terdalam bersama sisa-sisa nuraninya.

​Ia memandangi kartu nama hitam bertulisan perak itu sekali lagi.

​Pintu keluar dari rantai kemiskinan dan penderitaannya kini benar-benar telah terbuka lebar di hadapannya. Angka dua puluh juta untuk menyelamatkan nyawa ibunya terasa bukan lagi sekadar angan-angan kosong yang membuatnya menangis di pojok klinik. Ia hanya tinggal melangkah melewati batas garis ini. Jika ia menjadi model, tidak akan ada lagi makian dari Bu Ratna. Tidak akan ada lagi sisa sampah kuaci sosialita yang harus ia pungut menggunakan tangan telanjangnya.

​”Eike nggak maksa kamu buat resign dari kerjaan nyapu lantai mal hari ini juga kok,” Kiki menepuk pelan bahu Maya yang kaku, membuyarkan lamunan panjang gadis itu. “Kamu simpan kartu nama itu. Pikirin baik-baik tawaranku pas kamu pulang nanti.”

​Kiki memiringkan kepalanya, tersenyum tulus tanpa tendensi.

​”Kalau suatu hari nanti kamu udah capek dihina-hina orang… capek jadi keset lantai orang kaya… dan pengen bisa pegang duit puluhan juta di tanganmu cuma dengan modal nunjukin muka… kamu call eike ya. Nomor eike aktif dua puluh empat jam buat kamu.”

​Maya mendongak, menatap pria nyentrik berhati baik itu dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

​Di balik penampilannya yang melambai, Kiki adalah orang asing pertama di gedung raksasa yang super kejam ini yang secara sukarela menawarinya sebuah tangga emas untuk naik dari dasar neraka.

​”T-terima kasih banyak, Kak Kiki,” bisik Maya dengan nada yang luar biasa tulus. Ia memeluk kartu nama hitam itu di depan dadanya. “Saya akan pikirkan baik-baik tawaran Kakak ini.”

​”Eike tunggu dering telepon kamu secepatnya ya, Sayang. Ciao!”

​Kiki memberikan ciuman jarak jauh (kiss bye) yang dramatis ke udara. Ia membalikkan badannya yang semampai, lalu melangkah pergi membelah keramaian pengunjung dengan gaya berjalan bak model catwalk di runway Paris. Pria itu melenggang pergi, meninggalkan wangi parfum mewah yang tertinggal nyaman di udara mal yang sebelumnya hanya berbau amonia.

​Maya berdiri terpaku di dekat eskalator selama beberapa saat.

​Tangannya yang gemetar perlahan memasukkan kartu nama hitam berhuruf perak itu ke dalam saku celana seragamnya. Ia mendorong kartu itu masuk sangat dalam ke dasar sakunya, memastikan tiket kebebasannya ini tidak akan hilang.

​Jantungnya masih berpacu liar. Ia membuang napas perlahan untuk meredakan adrenalinnya, lalu kembali menggenggam botol semprotannya.

​Perasaan ragu tentang wajah palsunya masih ada. Namun untuk pertama kalinya seumur hidup, secercah kebanggaan dan harapan mulai mekar secara nyata di dalam dadanya. Ia memutar tubuhnya, bersiap untuk kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan kaca dengan semangat yang benar-benar baru.

​Namun… saat ia menoleh santai ke arah deretan pilar pualam di ujung atrium…

​Napas Maya seketika tertahan di kerongkongan. Senyum tipis harapan yang baru saja terbentuk di bibirnya lenyap seketika tak bersisa.

​Dari jarak sekitar dua puluh meter. Tersembunyi dari keramaian namun terlihat jelas oleh Maya.

​Berdiri di balik pilar besar itu… Sari sedang menatap lurus ke arahnya.

​Wanita itu tidak lagi terlihat seperti orang yang sekadar marah karena bad mood. Wajah Sari pucat pasi, seperti darah telah tersedot habis dari wajahnya. Namun matanya… matanya memancarkan aura permusuhan yang sangat gelap, pekat, dan mematikan.

​Kedua tangan Sari terlihat meremas gagang sapunya dengan sangat kuat, buku-buku jarinya memutih, seolah ia sedang membayangkan sedang mematahkan leher Maya.

​Sari melihat semuanya dari awal hingga akhir.

​Ia melihat bagaimana Maya menjadi pusat perhatian para pengunjung mal. Ia melihat Kiki, seorang figur yang sangat dikenal di kalangan fashion dan sering wara-wiri di ibu kota berhenti, mengemis perhatian pada Maya, memuja wajah babu itu, dan memberikan kartu namanya yang eksklusif.

​Tatapan yang dilontarkan Sari dari kejauhan itu bukanlah tatapan seorang rekan kerja yang sedang iri hati.

​Itu adalah tatapan seorang tiran kejam yang kerajaannya baru saja diruntuhkan dalam waktu semalam, dan kini sedang bersumpah di dalam hatinya untuk membakar segalanya hingga rata dengan tanah.

​Di bawah gemerlap lampu kristal Grand Atrium Mall, sebuah perang dingin berdarah baru saja diumumkan secara sepihak dan tanpa suara. Dan Maya, dengan kartu nama hitam yang menjanjikan miliaran rupiah di sakunya, tahu dengan pasti bahwa ia tak bisa lagi mundur, atau sekadar bersembunyi di balik sapu lidinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.