SIMETRI BAB 15 ~ ​Kesepakatan Kecil

Sisa hari itu di Grand Atrium Mall berjalan dengan ritme yang sangat ganjil dan mencekik.

​Maya menyelesaikan sisa pekerjaannya membersihkan eskalator dalam kondisi kewaspadaan tingkat tinggi. Tatapan tajam Sari dari balik pilar pualam tadi siang seakan terus menempel di punggungnya, membakar kulitnya dengan ancaman yang tak bersuara.

​Wanita dominan itu tidak lagi berteriak atau melempar hinaan murahan seperti biasanya saat mereka berpapasan. Sari memilih bungkam. Namun, keheningan Sari jauh lebih mengintimidasi daripada makian seribu kata. Itu adalah keheningan seekor predator yang sedang menyusun strategi mematikan untuk menerkam mangsanya dari titik buta.

​Di sisi lain, perlakuan dunia luar terhadap Maya terus berubah seratus delapan puluh derajat.

​Pengunjung mal yang biasanya menabrak trolinya tanpa minta maaf, kini secara otomatis menggeser tubuh mereka, memberikan ruang dan senyuman canggung saat berpapasan dengannya.

​Dunia benar-benar telah memutar porosnya hanya karena selembar wajah.

​Pukul empat sore, shift Maya akhirnya berakhir.

​Ia baru saja meletakkan alat pel dan trolinya di sudut gudang basement, bersiap menuju ruang ganti, ketika sebuah suara bariton yang sangat ia kenal memanggil namanya dari arah lorong parkiran motor karyawan.

​”Maya… Nduk?”

​Maya menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan dengan jantung berdebar.

​Di sana, berdiri Pak Agus. Pria paruh baya itu memegang sebuah kantong plastik kresek putih transparan berisi dua potong roti manis.

​Namun, senyum kebapakan yang biasanya selalu menghiasi wajah Pak Agus kini tak terlihat sama sekali. Pria itu berdiri kaku. Matanya yang mulai rabun menyipit di bawah remangnya lampu lorong, menatap Maya dengan raut wajah yang dipenuhi kebingungan luar biasa.

​”Pak Agus…” sapa Maya pelan.

​Tangannya meremas ujung seragam birunya. Ia sudah membohongi Rani dan rekan kerjanya yang lain dengan lancar tadi pagi, tapi membohongi Pak Agus… rasanya seperti mengkhianati mendiang ayahnya sendiri.

​Pak Agus melangkah maju dengan sangat ragu. Langkahnya berat. Matanya menelusuri wajah Maya.

​Ia melihat kulit porselen yang memancarkan cahaya sehat itu, hidung yang mancung, dan garis rahang yang simetris sempurna. Kontras yang luar biasa menyakitkan mata jika disandingkan dengan kacamata selotip dan seragam biru yang pudar.

​”Ini… ini beneran kamu, Nduk?” suara Pak Agus terdengar bergetar, seolah ia sedang berhadapan dengan orang asing yang kebetulan memiliki suara dan pakaian yang persis sama dengan Maya.

​Pria tua itu menunjuk wajah Maya dengan jari telunjuknya yang kasar. “Wajahmu… kok bisa begini? Kamu sakit bengkak? Atau… atau kamu habis diapain sama orang jahat di jalan, Nduk?”

​Kekhawatiran yang memancar dari mata pria tua itu begitu murni.

​Pak Agus tidak menatapnya dengan kekaguman dangkal atau nafsu seperti para pria di mal tadi siang. Ia menatap Maya dengan ketakutan murni seorang ayah, curiga anak perempuan kesayangannya baru saja terjerumus ke dalam lubang yang sangat berbahaya.

​Di mata orang tua dari kalangan bawah seperti Pak Agus, perubahan fisik yang drastis, instan, dan mahal pada seorang gadis miskin biasanya hanya berarti satu hal, gadis itu telah menjual harga dirinya, atau terjebak dalam utang rentenir gila-gilaan untuk mempermak penampilannya demi mencari pria kaya pelindung.

​Maya menelan ludah. Dada kirinya terasa nyeri bagai ditusuk jarum.

​”Maya nggak apa-apa, Pak. Maya sehat kok, nggak ada yang lukain Maya,” jawab Maya, memaksakan sebuah senyum untuk menenangkan pria itu.

​Maya menarik napas, lalu merapalkan alibi kebohongannya. “Ini… ini cuma efek dari krim wajah, Pak. Kemarin Maya dikasih krim tradisional sama tetangga lama yang kerja di klinik kecantikan. Katanya krim sisaan. Ternyata cocok banget di kulit Maya, ngelupas kulit matinya cepet.”

​Alibi itu adalah kebohongan yang sama persis yang ia gunakan pada Rani. Namun saat diucapkan di depan Pak Agus yang bijaksana, kata-kata itu terasa sangat murahan, hampa, dan menyedihkan.

​Pak Agus terdiam cukup lama.

​Ia adalah orang tua yang kenyang makan asam garam kehidupan keras Jakarta. Ia tahu persis tidak ada ‘krim sisaan’ di dunia ini yang bisa mengubah struktur tulang rahang seseorang dan memancungkan hidung dalam semalam.

​Namun, menatap mata Maya yang memelas dan bergetar, Pak Agus akhirnya menelan kecurigaannya. Ia memilih untuk tidak mendebat gadis itu lebih jauh. Ia tidak ingin menyudutkan anak yang pundaknya sudah memikul beban terlalu berat.

​Pria tua itu menghela napas panjang dan sangat berat. Ia menyodorkan kantong kresek berisi roti manis itu ke tangan Maya.

​”Ya sudah kalau memang begitu, Nduk,” ucap Pak Agus pelan, suaranya sarat akan kelelahan dan kekhawatiran yang tak terucapkan. “Bapak belikan roti ini buat ganjel perutmu di jalan pulang. Kamu belum makan dari siang, kan?”

​”M-makasih banyak, Pak,” Maya menerima plastik itu dengan tangan gemetar.

​”Tapi ingat satu pesan Bapak ini baik-baik, Maya,” Pak Agus menatap lurus ke mata Maya, suaranya memberat. “Jakarta ini kejam, Nduk. Sangat kejam.”

​Maya menundukkan wajahnya, tak sanggup membalas tatapan itu.

​”Jangan sampai karena kamu merasa terlalu putus asa dengan kemiskinanmu, kamu tergiur mengambil jalan pintas yang akhirnya merugikan dirimu sendiri,” lanjut Pak Agus, setiap katanya diucapkan perlahan. “Kecantikan itu memang bisa buka banyak pintu di dunia ini, May. Tapi sering kali… pintu yang dibuka itu adalah pintu menuju jurang. Jangan pernah lupakan siapa dirimu. Ibumu di rumah cuma butuh kamu pulang dalam keadaan sehat dan selamat, bukan butuh anak yang berubah jadi orang asing.”

​Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Agus bagaikan jarum panjang yang ditusukkan tepat menembus ulu hati Maya.

Jangan ambil jalan pintas. Jangan lupakan siapa dirimu. Nasihat tulus itu datang terlambat. Maya sudah mengambil barang curian dari bawah panggung. Maya sudah mengubah wujud manusianya dengan formula iblis. Ia sudah meneken kesepakatan kecil dengan sisi gelapnya sendiri.

​”M-makasih, Pak Agus. Maya… Maya janji bakal hati-hati terus,” bisik Maya dengan mata berkaca-kaca, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa bersalah mencekiknya.

​Setelah Pak Agus berlalu untuk melanjutkan patrolinya, Maya segera mengganti seragam birunya di ruang ganti. Ia memakai kaus katun lusuh dan celana bahan yang warnanya sudah memutih di bagian lutut.

​Ia keluar dari mal dengan langkah sangat cepat. Tangan kanannya terus berada di dalam saku celana, menggenggam erat kartu nama hitam berhuruf perak milik Kiki seolah sisa nyawanya bergantung pada benda sekecil itu.

​Sebelum pulang ke kontrakannya, langkah Maya berbelok menuju sebuah klinik kesehatan kecil yang letaknya tak jauh dari pangkalan angkot. Bukan klinik 24 jam tempat ia membawa ibunya malam berdarah itu, melainkan sebuah apotek yang merangkap klinik dokter umum yang harganya lebih murah.

​Lonceng pintu apotek bergemerincing pelan saat Maya mendorong pintu kacanya.

​Bau khas obat-obatan generik dan cairan antiseptik langsung menyergap penciumannya. Ia berjalan mendekati etalase kaca tempat seorang apoteker wanita paruh baya sedang sibuk mencatat stok obat di buku tebal.

​”Permisi, Bu,” sapa Maya pelan dan sopan.

​Apoteker itu mendongak, bersiap memberikan senyum lelahnya yang biasa ia berikan pada pelanggan sore. Namun, senyum itu membeku seketika saat matanya melihat wajah Maya.

​Mata wanita itu mengerjap beberapa kali di balik kacamata bacanya. Ia terpesona dan terkejut oleh kesempurnaan anatomi porselen yang berdiri di hadapannya dalam balutan baju lusuh. Wanita itu segera berdeham canggung untuk menutupi keterkejutannya.

​”Ehem, iya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu? Mau cari obat resep atau vitamin kulit?” tanyanya dengan nada yang sangat sopan dan halus, jauh lebih ramah dari nada biasanya saat melayani pelanggan bersandal jepit kotor.

​”Saya… saya mau tanya harga obat tebusan untuk resep ini, Bu,” ucap Maya.

​Ia merogoh saku jaket parasitnya, mengeluarkan selembar kertas resep yang sudah lecek dan sedikit robek di ujungnya akibat sering dilipat. Itu adalah resep dari dokter klinik malam itu, resep obat penahan darah dan antibiotik dosis tinggi untuk paru-paru ibunya yang tak mampu ia tebus penuh karena harganya terlalu mahal.

​Apoteker itu menerima kertas tersebut dengan kedua tangan. Ia memicingkan matanya membaca tulisan tangan dokter yang meliuk-liuk, lalu mulai mengetikkan beberapa nama obat di layar komputer kasirnya.

​Suara ketukan keyboard itu terdengar seperti detak bom waktu di telinga Maya.

​”Ini obat keras untuk tuberkulosis stadium lanjut dan komplikasi infeksi paru ya, Mbak,” ucap apoteker itu dengan nada prihatin. Ia menatap layar komputernya sejenak, lalu menatap Maya.

​”Totalnya untuk satu minggu pemakaian penuh… enam ratus lima puluh ribu rupiah, Mbak.”

​Maya menelan ludah. Kakinya terasa lemas.

Enam ratus lima puluh ribu. Gaji bulanannya saja, di saat tidak ditahan atau dipotong Bu Ratna, hanya sebatas UMR standar. Dan kini ia tak punya pemasukan sama sekali akibat hukuman kemarin. Sisa uang di dompet plastiknya hari ini hanya dua belas ribu rupiah, itupun hasil dari menghemat ongkos jalan kaki.

​”Kalau… kalau saya beli untuk satu hari dulu aja, boleh nggak, Bu? Diecer per butir?” tanya Maya dengan suara bergetar, membuang jauh-jauh sisa harga dirinya demi ibunya.

​Apoteker itu menghela napas panjang, menatap Maya dengan iba yang nyata.

​”Maaf banget ya, Mbak. Ini antibiotik khusus dan obat penahan darah golongan keras. Sesuai aturan, harus ditebus satu paket atau minimal setengah resep. Pabriknya sudah mengemasnya dalam blister khusus segel,” jelas apoteker itu menyesal. “Kami dari apotek tidak berani mengecernya karena dosis pengobatannya harus dihabiskan tanpa putus sesuai jadwal dokter. Kalau putus, infeksinya kebal.”

​Dada Maya terasa sesak. Penolakan halus dan logis itu seperti palu godam yang kembali menghantam realitasnya hingga hancur.

​Wajah cantiknya ternyata tidak bisa digunakan sebagai alat tukar sah di apotek. Kecantikan tanpa uang di saku tetaplah sebuah tragedi kemiskinan yang dibungkus dengan pita yang lebih indah.

​”Baik, Bu. Terima kasih informasinya,” ucap Maya parau.

​Ia mengambil kembali kertas resep itu, melipatnya perlahan dengan tangan gemetar, dan berjalan keluar dari apotek dengan kepala menunduk dalam-dalam.

​Sore itu, mendung tebal berwarna kelabu tua menggantung sangat rendah di langit Jakarta. Angin berembus kencang, menyapu debu jalanan, membawa aroma tanah kering yang sebentar lagi akan diguyur badai hujan deras.

​Maya berjalan gontai menyusuri trotoar menuju pangkalan angkot. Air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah.

Dua puluh juta untuk deposit ICU. Enam ratus lima puluh ribu untuk obat mingguan. Angka-angka raksasa itu menari-nari liar di kepalanya. Mengejeknya. Menertawakan ketidakberdayaannya. Ia meremas saku celananya, merasakan sudut tajam dari kartu nama hitam milik Kiki menembus telapak tangannya.

“Kamu tahu nggak, muka kamu itu duit, Maya. Miliaran duit.”

​Kalimat Kiki siang tadi kembali terngiang di telinganya layaknya mantra keselamatan. Tawaran modelling itu adalah satu-satunya pelampung penyelamat yang dilemparkan kepadanya di tengah lautan keputusasaan yang siap menenggelamkannya.

​Jika ia menerima tawaran itu, ia bisa menjadi model. Ia bisa mendapatkan uang bayaran pertamanya dengan cepat. Ia bisa membawa ibunya ke rumah sakit besar, menebus semua obat mahal itu tanpa perlu mengemis pada apoteker, dan membebaskan ibunya dari penderitaan berdarah ini.

​Tapi… sebuah ketakutan dan keraguan yang sangat logis menyergap pikirannya.

​Menjadi model profesional bukan hanya bermodal wajah cantik.

​Maya menunduk, menatap tubuhnya sendiri saat ia duduk di sudut dalam angkot. Lengannya sangat kurus hingga tulang sikunya menonjol tajam menyedihkan. Kulit di lengannya gelap, kusam, dan penuh bekas gigitan nyamuk serta bekas luka gores kecil akibat sering membersihkan paku dan kayu di gudang mal. Tulang selangkanya menonjol mengerikan di balik kerah kausnya yang melorot, mencerminkan gizi buruk yang ia derita selama bertahun-tahun.

​Meskipun Kiki berkata dengan santai bahwa tubuh kurus kerempeng adalah standar runway internasional, Maya tidak bodoh. Ia tahu bahwa ‘kurus’ seorang supermodel internasional sangatlah berbeda dengan ‘kurus’ akibat kurang gizi. Model memiliki kulit tubuh yang sangat terawat, mulus bercahaya, dan lekukan tulang yang elegan dan bersinar, bukan tulang kusam yang terlihat rapuh seperti kerangka hidup siap mati.

​Jika ia datang menyerahkan diri ke agensi eksklusif Kiki dengan kondisi kulit tubuh aslinya seperti ini… mereka pasti akan menertawakannya. Mereka akan memintanya melakukan perawatan lulur dan spa kulit tubuh yang menghabiskan waktu berbulan-bulan. Atau yang lebih buruk lagi, mereka akan langsung menolaknya karena menganggap kulitnya berpenyakit.

​Waktu adalah sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki oleh ibunya saat ini. Ibunya bisa kembali terbatuk darah dan mengembuskan napas terakhir kapan saja di malam hari. Maya butuh uang dari Kiki itu sekarang juga. Secepat mungkin.

​Ia harus terlihat sempurna. Sepenuhnya sempurna.

​Bukan hanya wajahnya yang porselen, tapi seluruh wujud anatominya harus merepresentasikan kecantikan kelas atas. Ia harus meyakinkan insting Kiki bahwa ia siap untuk langsung difoto di depan kamera profesional dan dipekerjakan hari ini juga tanpa perlu membuang waktu untuk perawatan.

​Sebuah pemikiran gila menyambar otaknya bagaikan kilat di langit mendung.

​Langkah Maya terhenti mendadak tepat di depan mulut gang rumah kontrakannya. Ia menatap kosong ke arah ujung gang yang mulai gelap ditelan awan mendung. Hujan gerimis mulai turun, menetes mengenai lensa kacamatanya.

Jika gel mutiara itu bisa mengubah struktur tulang dan kulit wajahku secara permanen… apakah gel itu juga bisa mengubah seluruh tubuhku?

​Pemikiran itu sangat berbahaya. Sebuah eksperimen biologis buta yang mempertaruhkan nyawa. Ia baru saja mengingat tatapan khawatir dan peringatan Pak Agus sore tadi tentang ‘jalan pintas’.

​Namun, bagi seseorang yang kedua kakinya sudah melangkah masuk dan mengambang di dalam jurang neraka, terjun lebih dalam rasanya bukan lagi sebuah pilihan yang bisa dihindari, melainkan sebuah keharusan mutlak untuk bisa terbang.

​Pukul 20:00 malam.

​Hujan badai mengguyur ibu kota dengan brutal. Suara jutaan rintik hujan yang menghantam keras atap seng berkarat kontrakan Maya terdengar sangat bising, meredam dan menelan segala suara dari dunia luar. Sesekali kilat menyambar terang, menerangi ruangan sempit itu melalui celah ventilasi udara, disusul suara guntur yang menggetarkan dinding tripleks rapuh tersebut.

​Ibu Maya sedang tertidur pulas akibat efek sisa obat penahan rasa sakit yang diberikan oleh Bu Ningsih tadi sore. Deru napas ibunya terdengar saling bersahutan dengan ritme suara hujan, kadang lancar, kadang tersendat memilukan.

​Maya berdiri kaku di area dapur kontrakannya.

​Di atas meja beton yang kotor dan dingin, kotak hitam misterius berbahan matte itu kembali terbuka lebar. Lampu neon kuning berkedip redup, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari liar di dinding batako.

​Malam ini, suasananya terasa jauh lebih kelam dan magis dibandingkan malam sebelumnya. Malam ini, Maya bukan lagi sekadar mencoba gel itu secara impulsif karena marah dan putus asa sesaat. Malam ini, dengan kesadaran penuh dan determinasi membunuh, ia telah membuat sebuah kesepakatan abadi dengan iblis di dalam kepalanya demi menyelamatkan nyawa ibunya.

​Ia meraih kertas instruksi berbahan linen tebal bertinta perak itu. Ia membacanya sekali lagi dari atas ke bawah dengan teliti.

​Tidak ada satu pun kalimat di sana yang melarang penggunaan formula tersebut pada bagian tubuh selain wajah. Kertas itu hanya menyebutkan “area target” dan “struktur jaringan”. Itu berarti, secara teori, formula kutukan ini didesain untuk merekonstruksi dan memanipulasi anatomi daging manusia di bagian mana pun yang diinginkan penggunanya.

​Napas Maya memburu. Tangannya perlahan meraih ujung kaus oblong lusuhnya. Ia menarik kaus itu ke atas melewati kepalanya, lalu melepaskannya hingga jatuh teronggok ke lantai semen. Ia menyusul melepaskan celana panjangnya, hingga ia hanya berdiri menggigil mengenakan pakaian dalamnya yang sudah pudar dan longgar.

​Udara malam yang sangat dingin bercampur percikan air hujan menyapu kulit tubuhnya yang dipenuhi merinding.

​Di bawah pendaran cahaya lampu neon, ia menatap pantulan tubuhnya di cermin kecil yang sengaja ia pindahkan dari dinding ke atas meja beton.

​Tubuhnya memang terlihat sangat menyedihkan. Tulang rusuknya menonjol dan bisa dihitung dengan mudah oleh mata telanjang. Kulit lehernya kusam kehitaman. Bahunya merosot turun tanpa tenaga, dan lengannya terlalu kurus layaknya ranting kering. Berbeda sangat jauh dengan keindahan wajah porselennya yang memukau. Kepalanya terlihat seperti milik orang lain yang dipasang di tubuh mayat hidup.

​”Maafkan Maya, Pak Agus… Maya janji ini yang terakhir,” bisik Maya pada dirinya sendiri, merapalkan permintaan maaf yang nyaris tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di langit. “Maya cuma butuh tubuh ini buat cari uang besok.”

​Ia meraih jar kaca frosted yang membulat tebal itu. Ia memutar tutup logam peraknya dengan gerakan mantap dan tanpa ragu. Desisan udara vakum kembali menguar, diikuti aroma tanah basah sehabis hujan dan bau steril medis yang kini entah mengapa terasa seperti aroma kebebasan di hidung Maya.

​Maya mengambil spatula obsidian yang berwarna hitam mengkilap. Benda dingin dan berat itu terasa sangat pas di genggamannya.

​Ia mencelupkan ujung spatula itu dalam-dalam ke dalam jar, lalu mengangkat gumpalan krim mutiara yang jauh lebih banyak dari yang ia gunakan semalam. Krim itu memancarkan kilau perak mikroskopis, melawan gravitasi tanpa menetes sedikit pun dari spatula.

​Dengan napas memburu dan mata yang dipenuhi ambisi gelap, Maya menempelkan spatula bersuhu es itu langsung ke leher depannya.

​Sensasi itu seketika menyergapnya.

​Rasa dingin kriogenik yang membekukan darah meresap secara instan menembus pori-pori lehernya. Diikuti oleh gigitan-gigitan perih mikroskopis di bawah lapisan dermis, layaknya ada jutaan semut es yang sedang merobek dan merajut ulang heliks DNA-nya secara paksa.

​Maya meringis, namun ia menahan erangannya. Ia meratakan gel bercahaya itu ke seluruh permukaan lehernya menggunakan tangannya.

​Lalu ia mengambil lebih banyak gel lagi. Ia mengoleskannya dengan kasar ke bahu kanannya, meratakannya menutupi tulang selangkanya yang menonjol, turun memoles bagian atas dadanya, dan melumuri seluruh permukaan lengan kanan dan kirinya. Ia bekerja dengan ritme yang sangat cepat dan brutal, menutupi seluruh bagian atas tubuhnya dengan topeng gel mutiara yang memancarkan cahaya keperakan di tengah kegelapan dapur.

​Begitu seluruh area target tertutupi secara merata, Fase Peleburan Jaringan itu dimulai.

​Rasa dingin yang tadinya menusuk seperti ribuan jarum es perlahan berubah menjadi rasa kebas yang sangat dalam dan nyaman. Maya bisa merasakan keanehan anatomi terjadi secara nyata di bawah kulitnya. Otot-otot lehernya, otot bahunya, dan jaringan di lengannya perlahan kehilangan seluruh ketegangannya.

​Tulang selangkanya yang biasanya keras seperti batu seolah melembek dan mencair menjadi cairan kental di dalam dagingnya. Gravitasi bumi seakan kehilangan kuasa penuh atas bagian atas tubuhnya. Dagingnya kini siap dibentuk ulang.

​Maya meletakkan spatula obsidian itu ke atas meja beton. Waktu tiga puluh menit untuk fase plastisitas telah berjalan. Jarum jam terus berdetak.

​Ia tidak punya waktu untuk merasa ngeri atau takjub. Berdiri di depan cermin retak, Maya mengangkat kedua tangannya yang juga telah kebas.

​Ia menempelkan jari-jarinya ke lehernya. Daging dan kulit lehernya terasa sangat empuk dan kenyal, persis seperti tanah liat basah kualitas terbaik di tangan seorang seniman keramik.

​Dengan penuh kehati-hatian, Maya mulai memijat dan menarik perlahan kulit lehernya ke arah atas, memanjangkannya sedikit dengan presisi estetika tinggi. Ia membentuk dan memberikan ilusi leher jenjang yang sangat anggun dan ramping, sekaligus menghapus dan meratakan garis-garis lipatan kulit kusam yang sebelumnya menumpuk di sana.

​Kemudian tangannya turun bergeser ke bahunya.

​Ia menekan bagian atas bahunya yang merosot layu, mendorong kumpulan daging dan tulang lunak itu ke atas dan ke luar agar membentuk postur bahu bersudut siku yang tegas dan simetris, postur bahu khas seorang supermodel high fashion yang membuat baju kain karung sekalipun akan terlihat seperti rancangan desainer mahal. Daging bahunya menuruti tekanannya dengan sangat patuh, mengisi celah-celah kosong dan memadat di tempat yang baru.

​Lalu, Maya meletakkan kedua ibu jarinya di atas tulang selangkanya yang tadinya menonjol mengerikan seperti kurang gizi. Alih-alih meratakannya sepenuhnya ke dalam daging, ia menekan bagian kulit di sekitarnya dan memahat ulang tulang selangka lunak itu agar tonjolannya terlihat lebih tumpul, simetris, halus, dan sangat artistik. Memberikan kesan tubuh kurus yang elegan dan eksotis, bukan kurus karena penyakitan.

​Terakhir, ia berpindah ke lengannya. Dengan kedua telapak tangan, ia mengusap dan menekan lengan atas dan bawahnya secara memutar. Ia menghaluskan tekstur kulitnya yang kasar, mendorong jaringan lunaknya agar tertarik lebih padat dan kencang ke atas, menutupi dan menyembunyikan urat-urat nadi kebiruan yang sebelumnya selalu menonjol di pergelangan tangannya.

​Maya bergerak dengan lincah seperti seorang pematung anatomi profesional yang sedang menciptakan dewi Yunani. Keringat dingin mulai membasahi dahinya karena tegang, namun ia tidak berhenti sedetik pun.

​Ia membuang semua jejak kemiskinan dan penderitaan fisik yang tercetak di tubuhnya selama dua puluh dua tahun terakhir. Ia sedang merangkai sebuah mahakarya baru. Seorang gadis baru yang siap menelan dunia dan kekayaannya.

​Pukul 20:35 malam.

​Fase penguncian dan pemadatan jaringan itu akhirnya dimulai.

​Sensasi hangat yang luar biasa menenangkan menyebar dari dalam aliran darah, merajut kembali tulang-tulang kalsium yang tadi sempat melunak. Sensasi itu mengunci kuat otot-otot di posisinya yang baru, dan mengeraskan jaringan seluler tubuhnya secara permanen. Rasa hangat itu merayap turun dari leher hingga ke ujung jari tangannya, memberikan rasa kaku yang menusuk sesaat sebelum akhirnya peredaran darahnya kembali normal.

​Maya berdiri terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri, lalu menatap pantulannya di cermin.

​Hasil akhir dari karyanya… membuat sisa napasnya benar-benar terhenti di kerongkongan.

​Tubuh bagian atasnya kini seputih, secerah, dan semulus porselen murni, memantulkan pendaran cahaya lampu dengan kilau kulit yang sangat memukau dan sehat. Lehernya terlihat jenjang dan elegan layaknya angsa. Bahunya tegas dan bersudut sempurna. Tulang selangkanya memancarkan daya tarik Fashion yang misterius, dan kedua lengannya terlihat kencang tanpa noda sekecil apa pun.

​Bekas gigitan nyamuk, luka gores, dan warna kulit gelap yang kusam itu telah lenyap ditelan mutiara, diubah tanpa sisa.

​Ditambah dengan wajah porselennya yang sebelumnya sudah ia bentuk dengan sempurna, Maya saat ini benar-benar terlihat seperti sebuah manekin bernyawa bernilai puluhan miliar rupiah. Sebuah kesempurnaan anatomi buatan yang melampaui batas dan nalar kewajaran biologi manusia.

​Maya menyentuh bahunya sendiri dengan tangan kanannya. Padat. Keras. Hangat. Asli. Kulit mulus ini kini adalah miliknya yang sah.

​Tawa kelegaan yang luar biasa besar pecah dari bibir merah mudanya. Tawa itu menggema di dapur, mengalahkan suara rintik hujan di luar.

​Ia berhasil. Bereksperimen dengan seluruh bagian atas tubuhnya, dan ia selamat tanpa cacat.

​Besok pagi, ia akan menelepon nomor di kartu nama itu. Ia akan datang menemui Kiki di agensinya. Dan ia akan memastikan ibunya tidak akan pernah lagi memuntahkan darah di kontrakan busuk ini.

​Digerogoti oleh kelelahan yang sangat ekstrem akibat ketegangan mental yang brutal dan perombakan fisik selama proses transmutasi skala besar itu, Maya nyaris ambruk.

​Ia segera membersihkan diri dengan sisa air di bak mandi. Ia mengenakan kembali kaus lusuhnya, lalu membereskan kotak kosmetik hitam itu, memastikannya tertutup segel vakumnya, dan menyembunyikannya ke dasar lemari pakaian.

​Maya berjalan gontai, menjatuhkan tubuh kurusnya ke atas kasur busa di samping ibunya yang masih mendengkur halus. Dan hanya dalam hitungan detik, Maya kehilangan seluruh kesadarannya dan tertidur pulas dalam kegelapan malam.

​Namun… kedamaian tidur itu ternyata tidak berlangsung lama.

​Kosmetik misterius itu, dengan segala keajaiban anatominya, rupanya menuntut bayaran harga yang jauh lebih mahal dari sekadar keberanian untuk menahan rasa dingin dan memahat kulit.

​Harga itu tidak dibayar menggunakan uang tunai atau cek. Melainkan dibayar dan ditagih dengan sisa-sisa kedamaian di dalam alam bawah sadar penggunanya. Sebuah penyiksaan mental.

​Gelap. Pekat.

​Itulah hal pertama yang disadari Maya di dalam tidurnya. Tidak ada cahaya sekecil apa pun, seolah ia dilempar ke ruang hampa.

​Udara di sekitarnya terasa sangat lembap, berat, dan mencekik, seolah ia sedang menyelam tanpa alat bantu di dasar danau yang dipenuhi oleh cairan hitam yang sangat kental.

​Bau tanah basah yang steril, aroma yang persis sama dengan wangi gel mutiara di dalam jar itu menyeruak sangat tajam merobek rongga hidungnya. Namun kali ini… aroma tanah itu bercampur dengan bau yang luar biasa amis, anyir, dan memuakkan. Bau karat besi, atau mungkin… bau darah kental manusia yang sudah mulai membusuk di udara terbuka.

​Maya menyadari dirinya sedang berdiri di sebuah ruang tanpa batas. Kakinya yang telanjang memijak pada sesuatu yang licin dan berair. Setiap kali ia mencoba melangkah mundur, terdengar suara ‘kecipak’ yang sangat basah dan menjijikkan dari bawah telapak kakinya.

​”Halo…?” panggil Maya dengan suara bergetar. “Ibu?”

​Suaranya sama sekali tidak bergema. Suaranya seakan langsung tertelan oleh dinding kegelapan absolut di sekelilingnya.

​Lalu, dari arah depan, memecah kesunyian hampa itu, terdengar sebuah suara. Bukan suara langkah kaki manusia, melainkan suara tetesan cairan yang sangat berat.

Tes… Tes… Plop.

​Bunyi gumpalan cairan kental yang jatuh menghantam genangan air di bawah kakinya. Suara itu berulang dengan ritme konstan, semakin lama temponya terdengar semakin cepat.

​Suhu di dalam ruangan hampa itu mendadak merosot drastis menembus angka beku. Rasa dingin kriogenik yang sangat familiar, dingin yang sama saat gel itu menyentuh kulitnya kembali merayap naik dari ujung kakinya. Namun kali ini dinginnya tidak memberikan rasa kebas yang nyaman, melainkan terasa menyiksa seperti ribuan jarum es yang dipenuhi aura kematian.

​Maya menggigil hebat, giginya gemeretak. Ia mencoba memeluk tubuhnya sendiri untuk mencari kehangatan.

​Namun… saat telapak tangannya menyentuh kulit lengannya sendiri di dalam kegelapan itu… ia tidak merasakan daging yang padat dan kulit yang mulus seperti yang baru saja ia buat.

​Kulit lengannya terasa sangat lengket. Kenyal seperti jeli busuk. Dan… basah oleh cairan yang tebal. Maya mencoba menarik tangannya, tapi tangannya seolah menempel pada daging lengannya yang meleleh.

​”T-tolong…”

​Sebuah rintihan parau, suara seorang wanita yang terdengar sangat menderita dan disiksa, memecah kesunyian mematikan di dalam mimpinya. Suara itu terdengar luar biasa dekat. Hanya berjarak beberapa jengkal di depan wajah Maya.

​Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dari dalam pekatnya kegelapan itu, sebuah lampu sorot redup berwarna merah darah menyala terang, menyorot lurus ke satu titik tepat di hadapan Maya.

​Maya menjerit tertahan, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetar basah. Jantungnya seakan diledakkan dari dalam rongga dadanya.

​Di bawah pendaran cahaya merah darah itu, berdiri sesosok tubuh wanita.

​Pakaian wanita itu telah hancur lebur, meleleh menempel di tubuhnya bagaikan plastik kresek yang dibakar. Namun yang membuat seluruh kewarasan Maya meronta-ronta, ingin keluar dari kepalanya, adalah pemandangan wajah wanita tersebut.

​Wanita itu menatap lurus ke arah Maya.

​Namun, sepasang matanya sudah terlepas dari rongga tengkoraknya, menggantung mengerikan di ujung otot mata yang merah dan basah di atas tulang pipinya.

​Wajahnya… wajahnya sama sekali tidak memiliki bentuk manusiawi. Daging wajah wanita itu seolah terjebak abadi dalam fase plastisitas, namun tidak pernah mengunci dan mengeras.

​Kulitnya, pipinya, rahangnya, dan hidungnya meleleh ke bawah seperti lelehan lilin panas yang sangat tebal. Gumpalan daging merah itu merosot jatuh secara perlahan melewati rahangnya, lalu menetes ke atas genangan lantai dengan bunyi ‘plop’ yang menjijikkan, memperlihatkan tulang rahang dan tengkoraknya yang basah oleh cairan darah berwarna hitam pekat.

​Wanita tak berwajah itu mengangkat tangannya. Tangan itu juga sedang mengalami fase meleleh, daging jari-jarinya terkelupas dari tulang putihnya dan jatuh ke genangan air di bawah kakinya dengan suara basah.

​”Kau… kau mencurinya…” rintih makhluk itu.

​Suaranya menggelegak dari rongga kerongkongan yang telah dipenuhi cairan tebal. Ia menyeret kakinya yang tinggal tulang putih, melangkah mendekati Maya sejengkal demi sejengkal.

​Hawa dingin kematian dan bau anyir bangkai langsung menyelimuti wajah Maya, membuatnya nyaris muntah.

​”T-tidak… jangan mendekat! Pergi! Pergi!!” teriak Maya sambil menangis histeris. Ia berusaha keras melangkah mundur, namun kakinya seolah dipaku kuat menggunakan beton di atas genangan lengket tersebut. Ia tidak bisa bergerak satu sentimeter pun.

​”Itu dagingku… kembalikan kecantikanku… kembalikan kesempurnaanku…” bisik makhluk mengerikan itu, suaranya kini terdengar seperti paduan suara puluhan rintihan yang dijadikan satu.

​Tangan makhluk itu, yang hanya berupa tulang berlumur darah hitam kental, terulur menembus udara dingin, mengarah tepat mencekik wajah porselen Maya yang sempurna.

​”JANGAN!!” teriak Maya.

​Makhluk itu menerjang ke depan, membuka rahangnya yang tak berdaging.

​”TIDAAAK!!”

​Mata Maya terbuka sangat lebar seketika.

​Tubuh kurusnya tersentak bangun dari posisi tidur dengan sangat brutal, meronta hebat hingga ia nyaris jatuh terguling dari pinggiran kasur busa.

​Napas Maya memburu liar dan sangat pendek, seolah ia baru saja ditarik paksa dari dasar lautan setelah tenggelam kehabisan napas. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri dahi, leher, dan dadanya, membuat kaus lusuhnya basah kuyup seolah habis diguyur air hujan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga menciptakan suara dengingan statis yang memekakkan telinga.

​Ia menatap liar ke sekeliling ruangan kontrakannya dengan pupil mata yang membesar ketakutan.

​Lampu neon kuning masih menyala dengan pendaran redup. Ibunya masih tertidur pulas tanpa gangguan di sampingnya. Suara hujan badai di luar rupanya sudah mereda, hanya menyisakan suara rintik-rintik sisa gerimis pagi buta yang menenangkan.

​Tidak ada ruang hampa. Tidak ada genangan darah. Tidak ada makhluk tanpa wajah yang meleleh.

​Maya mencengkeram dadanya yang naik turun dengan kasar. Itu hanya mimpi. Ya, itu murni hanyalah sebuah mimpi buruk. Sebuah proyeksi alam bawah sadar yang terasa begitu nyata, terlalu nyata secara visual dan sensorik… hingga bau amis darah membusuk itu seolah masih tertinggal samar di ujung penciumannya.

​Dengan tangan yang masih bergetar sangat hebat, seolah ia baru saja terserang demam tinggi, Maya menyibak selimutnya dan langsung berlari ke arah meja dapur.

​Ia meraih cermin kecilnya dengan panik yang tak terbendung.

​Ia harus memastikannya. Ia harus segera memastikan secara visual bahwa wujud fisiknya tidak ikut meleleh menjadi cairan daging seperti wanita mengerikan di dalam mimpinya tadi.

​Dalam pantulan cermin yang sedikit buram itu, Maya melihat wajah dan lehernya.

​Kulit porselennya masih utuh menempel. Hidung mancungnya masih berdiri kokoh. Ia menarik kerah kausnya, memeriksa leher, tulang selangka, dan bahunya dengan panik, semuanya masih kencang, bersinar, dan sempurna.

​Tidak ada jaringan daging yang melunak, tidak ada kulit yang meleleh ke bawah. Transmutasi ekstrem yang ia lakukan semalam benar-benar berhasil dan terkunci secara permanen.

​Maya menjatuhkan cermin itu ke atas meja beton. Trak.

​Gadis itu merosot jatuh dan duduk di atas kursi plastik. Ia menelungkupkan lengannya di atas meja, lalu menyembunyikan wajahnya di sana. Tangis lega bercampur kepanikan yang luar biasa mendalam tumpah ruah memecah kesunyian pagi buta itu.

​Mimpi buruk tadi pastilah sebuah peringatan keras dari alam bawah sadarnya. Sebuah manifestasi logis dari rasa bersalahnya karena telah mencuri barang milik orang lain, atau mungkin… insting manusianya mencoba memberitahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap, berdarah, dan jahat yang tersembunyi di balik formula krim mutiara ajaib tersebut.

​Sebuah efek samping gaib yang tidak tertulis di dalam kertas instruksi berhuruf perak itu.

​Namun Maya menggelengkan kepalanya keras-keras, mengusap air mata dan keringatnya. Ia memaksa dirinya mengusir sisa-sisa kengerian mimpi itu dari kepalanya.

Itu cuma mimpi buruk biasa. Aku cuma stres mikirin utang dan kondisi Ibu, batinnya menenangkan diri dengan rasionalisasi. Itu cuma efek panik. Ia tidak peduli jika kutukan ini mengharuskannya dihantui mimpi buruk setiap kali ia menutup mata, asalkan wujud fisiknya di dunia nyata ini bisa menghasilkan uang miliaran rupiah untuk membiayai operasi ibunya dan mengubah nasibnya.

​Matahari mulai menyingsing dari ufuk timur, menyelipkan seberkas cahaya keemasannya menembus celah ventilasi asbes kontrakan.

​Jam di dinding menunjukkan pukul 06:00 pagi.

​Maya berdiri. Ia mengambil ponsel jadulnya yang layarnya sudah retak. Dari saku celana seragam kotornya, ia mengeluarkan kartu nama hitam elegan berhuruf perak tersebut.

​Ibu jarinya yang kini bertekstur sehalus sutra mengusap deretan nomor telepon genggam yang tercetak rapi di atas kartu itu. Keputusannya sudah bulat bagai baja. Kesepakatan kecil dengan iblis yang ia buat semalam, tak bisa lagi dibatalkan atau ditarik mundur.

​Dengan jemari yang sedikit bergetar penuh antisipasi, Maya menekan keypad ponsel bututnya, menyalin dua belas digit nomor tersebut dengan teliti, lalu menekan tombol panggil hijau.

​Terdengar nada sambung panjang tiga kali.

“Halo, dengan Kiki di sini. Who’s this gorgeous early bird?” Suara renyah, ceria, dan sangat hidup dari Kiki di seberang sambungan langsung memecah sisa-sisa kengerian kegelapan malam di kepala Maya.

​Maya menarik napas panjang. Ia menegakkan bahunya yang kini bersudut sempurna layaknya supermodel, mengangkat dagunya, dan menatap pantulan dirinya di cermin retak dengan sebuah tatapan determinasi yang dingin dan mematikan.

​”Halo, Kak Kiki. Selamat pagi,” ucap Maya, suaranya mengalir sangat jernih dan penuh keyakinan. “Ini Maya… cleaning service dari Grand Atrium Mall kemarin. Saya siap menerima tawaran pekerjaan dari Kakak. Kapan saya bisa mulai?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.