SIMETRI BAB 16 ​~ Naik Pangkat

​”Halo, Kak Kiki. Ini Maya… dari Grand Atrium Mall.”

​Suara Maya mengalir sangat jernih di udara pagi yang dingin.

​”Saya siap menerima tawaran Kakak. Kapan saya bisa mulai bekerja?”

​Hening sejenak di ujung sambungan telepon. Hanya terdengar suara napas Maya yang tertahan dan rintik sisa gerimis yang memukul atap seng kontrakannya.

​Lalu, sebuah pekikan kegirangan yang melengking renyah membelah kesunyian dari speaker ponsel Nokia jadul tersebut.

​”Oh my God! Yaaas, Honey! Kiki tahu kamu anak yang pintar!” seru Kiki dengan antusiasme yang seolah bisa menembus kabel sinyal. “Eike udah feeling kamu pasti bakal nelepon pagi ini. Gimana? Udah siap buang sapu ijuk kamu ke tong sampah dan ganti pakai sepatu hak tinggi keluaran desainer?”

​Maya menelan ludah. Sudut bibir merah mudanya yang kini penuh dan simetris melengkung membentuk senyum tipis yang getir.

​”Saya butuh uang, Kak. Secepatnya,” jawab Maya lugas.

​Tidak ada lagi nada suara gadis penakut yang terbata-bata. Keputusasaan yang mendesak telah melucuti segala keraguannya.

​”Ibu saya butuh masuk ruang ICU dan butuh obat-obatan mahal hari ini juga,” lanjut Maya, menatap wajah ibunya yang tertidur pucat. “Kalau Kakak memang bisa memberi saya pekerjaan yang menghasilkan uang tunai hari ini juga, saya akan datang ke tempat Kakak sekarang. Kalau tidak bisa, saya harus mencari jalan lain.”

​Terdengar suara helaan napas pendek dari Kiki. Pria itu seolah sedang menyesuaikan frekuensinya dengan keseriusan Maya yang mengintimidasi.

​”Oke, Sayang. Eike ngerti. Dunia ini emang kejam kalau kita nggak punya uang,” ucap Kiki, suaranya berubah menjadi jauh lebih tenang dan profesional.

​”Kamu dengar baik-baik, Maya. Eike nggak cuma mau kasih kamu pekerjaan receh buat bayar utang warung. Eike mau kasih kamu kontrak eksklusif.”

​Jantung Maya berdebar.

​”Kalau kamu bisa buktikan di depan kamera eike hari ini bahwa struktur tulang kamu itu fotogenik… eike janji, siang ini juga eike cairkan uang muka (down payment) dari kantong eike sendiri buat biaya rumah sakit ibumu. Tiga puluh juta. Tunai. Deal?”

​Mendengar angka puluhan juta yang bisa dicairkan hari itu juga, lutut Maya nyaris lemas. Beban seberat puluhan ton yang sejak dua hari lalu menghimpit dadanya terasa menguap ke udara.

​”Deal, Kak,” jawab Maya mantap. “Saya harus ke mana?”

​”Datang ke kantor Elegance Model Management di kawasan Sudirman. Alamat lengkapnya eike SMS ke nomor ini sekarang juga. Jam sepuluh pagi teng eike tunggu di lobi.”

​”Baik, Kak.”

​”Oh, dan Maya…” Kiki menggantung kalimatnya sejenak. “Nggak usah repot-repot dandan atau pake lipstik menor kayak mbak-mbak mal. Cuci muka aja yang bersih. Pakai baju yang paling simpel yang kamu punya. Eike butuh kanvas kosong. Ngerti?”

​”Ngerti, Kak. Terima kasih.”

​Maya mematikan sambungan telepon tersebut.

​Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin retak. Wajah porselennya memantulkan cahaya fajar. Tubuh bagian atasnya, mulai dari leher yang jenjang, tulang selangka yang tegas, hingga lengan yang kencang dan mulus, terlihat seperti patung manekin kelas atas yang dihidupkan.

​Transmutasi skala besar semalam sukses sempurna. Wujud fisiknya kini adalah modal miliaran rupiah.

​Namun, sebelum ia bisa melangkah ke Sudirman, ada satu hal yang harus ia selesaikan pagi ini.

​Sebuah beban masa lalu yang harus ia potong hingga ke akar-akarnya. Ia harus kembali ke Grand Atrium Mall. Bukan untuk mengambil alat pel, melainkan untuk melepaskan seragam kebersihannya selamanya.

​Pukul 07:15 pagi.

​Area basement Grand Atrium Mall masih berbau sama, campuran asap knalpot genset, kardus basah, dan tumpukan sampah.

​Maya melangkah menuruni jalan beton menuju pintu masuk khusus karyawan. Hari ini, penampilannya sama sekali berbeda. Ia tidak memakai seragam biru pudarnya dari rumah.

​Mengingat instruksi Kiki untuk tampil simpel, Maya mengenakan kaus oblong berwarna hitam polos yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu gelap. Dipadukan dengan celana jeans usang yang agak kebesaran di pinggangnya, dan sepasang sepatu kets putih yang sudah menguning dengan sol yang menipis.

​Itu adalah pakaian paling murah dan paling gembel yang ada di lemarinya.

​Namun, sungguh ajaib apa yang bisa dilakukan oleh anatomi tubuh yang sempurna terhadap sehelai kain rombeng.

​Kaus hitam polos yang kebesaran itu justru jatuh menggantung dengan sangat elegan di atas tulang selangkanya yang menonjol bersudut tajam. Lehernya yang kini jenjang tanpa kerutan membuat kepalanya terlihat tegak dan berkelas.

​Kulit lengan dan lehernya yang sehalus porselen mengilap di bawah lampu neon kuning basement, menciptakan kontras yang sangat mematikan dengan pakaian kumalnya. Ia terlihat seperti model sampul majalah yang sedang bergaya grunge.

​Ia tidak lagi memakai kacamata selotip tebalnya. Ia lebih memilih untuk melihat dunia sedikit buram hari ini daripada menyembunyikan ‘aset’ miliaran rupiahnya di balik bingkai plastik rongsokan.

​Langkah kaki Maya bergema tenang di lorong basement.

​Di tikungan menuju koridor ruang ganti, dua orang petugas kebersihan pria sedang bertugas memungut kardus bekas. Mereka adalah Budi dan Yanto. Dua pria yang biasanya bekerja bagai mesin tanpa ekspresi.

​Saat Maya melintas beberapa meter di hadapan mereka, Yanto yang sedang mengangkat tumpukan kardus tiba-tiba menghentikan gerakannya.

​Matanya membelalak lebar. Kardus di tangannya merosot perlahan hingga menyentuh lantai dengan bunyi brukk pelan. Budi yang sedang memegang gagang sapu juga ikut mematung.

​”Gila… artis mana tuh, To? Kok nyasar ke basement?” bisik Budi tanpa berkedip.

​”Nggak tau gue. Bening banget sumpah,” balas Yanto menelan ludah.

​Kedua pria malang itu ternganga. Mereka sama sekali tidak mengenali Maya tanpa seragam dan tanpa kacamatanya. Wangi sabun mandi murahan dari tubuh Maya menguar di udara, namun di penciuman kedua pria itu, wangi tersebut terasa lebih memabukkan dari parfum mahal.

​Maya menyadari tatapan lapar sekaligus penuh kekaguman itu.

​Ia tidak menunduk. Ia terus menatap lurus ke depan, dagunya terangkat dengan presisi seorang pemenang, meninggalkan Budi dan Yanto yang masih mematung seperti dua patung batu.

​Maya mendorong pintu ruang ganti wanita.

​Di dalam ruangan sempit itu, suasananya sudah ramai. Jadwal briefing pagi akan dimulai lima belas menit lagi. Rani sedang menyisir rambutnya. Dan di sudut ruangan, Sari sedang asyik memoles lipstik merah menyala di bibirnya, ditemani Icha yang mengunyah permen karet.

​Suara engsel pintu yang berderit membuat seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak ke arah pintu.

​Keheningan yang terjadi selanjutnya terasa sangat absolut. Seolah-olah seseorang telah menyedot seluruh oksigen dari dalam ruangan tersebut.

​Rani menjatuhkan sisir plastiknya. Mulut gadis polos itu terbuka membentuk huruf ‘O’ yang sangat lebar.

​Sari, yang tadinya sedang menatap cermin, membeku. Lipstik merahnya tertahan kaku di udara, tepat di depan bibirnya yang sedikit bergetar.

​Mereka semua mengenali siapa yang baru saja masuk. Itu adalah Maya. Namun pada saat yang sama, otak mereka menolak untuk mempercayainya.

​Maya kemarin pagi memang terlihat cantik karena wajahnya. Tapi hari ini, tanpa kacamata tebal, dan tanpa seragam biru kedodoran yang menyembunyikan struktur tulang leher dan bahunya… kesempurnaan Maya meledak tanpa ampun.

​”M-May… Maya…?” panggil Rani terbata-bata, memecah kesunyian yang mencekam. “Kamu… kamu kok nggak pake seragam? Kacamata kamu ke mana?”

​Maya tersenyum tipis ke arah sahabatnya. Sebuah senyuman yang sangat anggun.

​”Kacamataku patah, Ran,” jawab Maya lembut. “Dan aku ke sini bukan untuk pakai seragam.”

​Maya melangkah masuk dengan tenang. Ia berjalan lurus menuju loker besinya, memasukkan kunci, dan membukanya. Ia mengeluarkan seragam birunya yang masih tergantung di dalam, beserta sepatu bot karet kusam miliknya.

​Sari, yang akhirnya berhasil mengatasi syok visualnya, merasakan aliran darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa iri dan kebencian yang meledak keluar seperti gunung berapi.

​Sari membanting lipstiknya ke atas meja wastafel dengan suara trak! yang keras. Ia melangkah maju dengan kasar.

​”Ngapain lo ke sini pake baju gembel begini, hah?!” bentak Sari, suaranya melengking tinggi hingga urat lehernya menonjol. “Udah jam berapa ini?! Lo mau bolos kerja?! Lo pikir mentang-mentang muka lo habis ditarik dukun kampung, lo bisa seenaknya masuk ruang ganti tanpa seragam?!”

​Icha ikut membusungkan dadanya dari belakang Sari. “Tau tuh! Gaya lo selangit banget sih, May. Kalau Bu Ratna lihat lo masuk ke sini nggak pakai seragam, tamat riwayat lo!”

​Maya menghentikan gerakannya yang sedang melipat seragam birunya.

​Ia berbalik perlahan. Matanya menyipit sedikit untuk memfokuskan pandangan pada wajah Sari yang berjarak hanya satu lengan darinya.

​Dalam jarak sedekat ini, dengan postur Maya yang kini sedikit lebih tegap berkat tulang bahunya yang telah dipahat, ia bahkan terlihat sedikit lebih tinggi dari Sari.

​Dulu, tatapan melotot Sari selalu sukses membuat Maya gemetar dan menangis. Tapi sekarang? Maya hanya melihat seorang wanita paruh baya yang riasan bedaknya mulai retak (crack) di bagian garis senyum, dan kepanikan seorang pecundang yang berlindung di balik makian keras.

​”Saya tidak peduli dengan Bu Ratna, Sari,” jawab Maya dengan suara yang sangat tenang.

​Nada suaranya datar. Sedingin air es. Tidak ada getaran ketakutan sedikit pun, dan ia bahkan tidak menggunakan kata ‘Mbak’ lagi.

​”Dan saya ke sini memang bukan untuk kerja,” lanjut Maya, menatap tepat di kornea mata Sari. “Saya ke sini mau meletakkan seragam ini.”

​Ruangan itu kembali hening. Rani menutup mulutnya dengan kedua tangan, merasa hawa perselisihan yang sangat mematikan.

​”Apa lo bilang?!” Sari tertawa sinis, tawa yang dipaksakan untuk menutupi kegugupannya. “Meletakkan seragam? Lo mau resign?! Jangan mimpi lo, May!”

​Sari menunjuk dada Maya dengan kasar.

​”Lo pikir Bu Ratna bakal ngasih surat izin keluar? Gaji lo aja dipotong karena kelakuan lo yang nyiram air pel ke tas Hermès dan gaun Dior Tante Sisca kemarin! Lo nggak bisa lari dari ganti rugi itu!”

​Mendengar tuduhan tentang insiden tas Hermès itu fitnah kejam, amarah lama di dalam dada Maya kembali tersulut.

​Namun, alih-alih meledak dalam teriakan, Maya menggunakan amarah itu untuk mempertajam pisau kata-katanya.

​Maya melangkah maju setengah tindak, menginvasi ruang personal Sari.

​”Jangan bahas soal tas dan gaun Tante Sisca itu, Sari,” desis Maya tajam.

​Sari membelalakkan matanya. Wajahnya memerah padam.

​”Lo—lo berani?! Kurang ajar lo ya, babu!”

​Tangan kanan Sari terangkat tinggi ke udara. Ia bersiap untuk mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi porselen Maya. Icha dan beberapa karyawan lain memekik tertahan.

​Namun, sebelum telapak tangan itu menyentuh kulitnya… tangan kiri Maya melesat dengan kecepatan tak terduga.

Grep!

​Maya mencengkeram erat pergelangan tangan Sari di udara. Cengkeraman Maya sangat kuat, diperkuat oleh adrenalin kemarahan, hingga Sari meringis kesakitan dan giginya bergemeretak.

​”Lepasin tangan gue, bangsat!” jerit Sari, meronta mencoba melepaskan tangannya.

​Maya tidak melepaskannya. Ia menarik pergelangan tangan Sari sedikit lebih dekat, lalu mencondongkan wajahnya hingga bibirnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga wanita itu.

​”Tampar saya…” bisik Maya dengan nada sedingin racun arsenik. “…dan saya pastikan seluruh orang di mal ini tahu bahwa Ratu Kebersihan mereka hanyalah seorang pembohong pengecut yang insecure karena kalah telak dari seorang babu gembel.”

​Suara Maya sangat pelan, namun getaran ancamannya menembus hingga ke dasar jiwa Sari.

​Mata Sari melebar. Rasa takut yang murni, untuk pertama kalinya dalam hidup wanita itu, merayap naik ke tenggorokannya. Ia menatap mata Maya dan menyadari bahwa ini bukan lagi Maya si penakut. Ini adalah sosok predator baru.

​Maya menghempaskan pergelangan tangan Sari dengan kasar. Sari terhuyung mundur ke belakang, menabrak Icha yang segera menangkapnya.

​”Simpan makianmu untuk orang lain, Sari. Kamu sudah tidak selevel dengan saya,” ucap Maya final, merapikan kaus hitamnya yang sedikit kusut.

​Ia mengambil seragam birunya yang sudah terlipat, lalu berjalan keluar dari ruang ganti, meninggalkan gema kekalahan absolut bagi Sari.

​Maya berjalan lurus menelusuri koridor basement, menuju ruang kantor manajerial.

​Pintu kantor Bu Ratna yang terbuat dari kayu tebal tidak dikunci. Maya mendorongnya terbuka tanpa mengetuk sama sekali.

​Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, Bu Ratna sedang duduk di balik meja besarnya, menyesap kopi hitam. Mendengar pintu didorong tanpa aba-aba, manajer paruh baya itu langsung mendongak dengan wajah murka.

​”Siapa yang berani masuk tanpa ketuk—”

​Kalimat Bu Ratna terputus secara memalukan. Kopi yang baru saja disesapnya nyaris menyembur keluar. Ia tersedak pelan, buru-buru meletakkan cangkirnya hingga berbunyi benturan keras.

​Bu Ratna menatap sosok semampai di ambang pintunya. Gadis berkaus hitam pudar dengan wajah porselen dan tulang selangka yang membingkai leher jenjangnya.

​”M-Maya…?” Bu Ratna terbata-bata, membetulkan letak kacamatanya dengan panik. “Kamu… apa-apaan kamu ini? Kenapa jam segini belum pakai seragam?!”

​Maya berjalan santai mendekati meja besar tersebut.

​Ia melemparkan seragam biru pudar dan sepasang sepatu bot karet kusamnya tepat ke atas tumpukan dokumen laporan bulanan Bu Ratna.

Bruk! Suara debam karet sepatu itu menggema di ruangan sunyi tersebut.

​”Maya! Apa maksud kelakuan kurang ajar kamu ini?!” bentak Bu Ratna, wajahnya memerah menahan marah dan kebingungan.

​”Saya mengembalikan seragam dan sepatu saya, Bu Ratna,” jawab Maya dengan nada datar yang sangat profesional. “Mulai detik ini juga, saya mengundurkan diri dari Grand Atrium Mall.”

​Mulut Bu Ratna sedikit terbuka. Ia tidak pernah menyangka gadis yang paling membutuhkan pekerjaan di divisinya akan membuang pekerjaannya begitu saja.

​”Mengundurkan diri?” Bu Ratna mendengus sinis, bersandar di kursinya. “Kamu pikir semudah itu kamu keluar dari sini? Kamu masih punya utang ganti rugi pembersihan tas Hermès dan gaun sutra Nyonya Sisca!”

​Bu Ratna menggebrak mejanya. “Kalau kamu resign hari ini tanpa surat resmi, gaji kamu bulan ini dan dua bulan ke depan hangus total! Saya tidak akan mencairkan sepeser pun hak kamu!”

​Ancaman potong gaji itu adalah senjata pamungkas Bu Ratna. Namun, ancaman itu dihancurkan berkeping-keping oleh seutas senyum miring yang terbit di bibir Maya.

​”Ambil saja semua gaji itu, Bu Ratna,” ucap Maya ringan. Nadanya seolah sedang menyumbangkan koin receh kepada pengemis. “Anggap saja itu uang sedekah dari saya untuk ibu manajer yang sudah rela menampar saya demi melindungi sosialita sombong. Saya sudah tidak butuh uang recehan dari mal ini.”

​Mata Bu Ratna membelalak nyaris melompat keluar dari kelopaknya. Wajah wanita paruh baya itu memucat seketika. Seorang bawahan baru saja mengatai gajinya sebagai ‘uang receh’.

​”K-kamu… kamu sudah gila, ya?!” Bu Ratna mencoba melontarkan penghinaan terakhirnya.

​”Mungkin,” jawab Maya dingin.

​Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah keluar dari ruangan itu. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Maya menoleh dari balik bahunya.

​”Tapi satu hal yang pasti, Bu Ratna. Mulai besok, jika saya menginjakkan kaki di mal ini lagi, saya akan datang melalui lobi depan. Dan Ibu, akan menundukkan kepala untuk menyambut saya sebagai tamu VVIP.”

​Meninggalkan kalimat mematikan itu menggantung di udara, Maya melangkah keluar, menutup pintu kantor dengan suara bantingan keras.

​Bebas.

​Beban bertahun-tahun yang mengikat kakinya di basement kotor itu telah hancur. Kemenangannya atas Sari dan Bu Ratna pagi ini adalah bayaran pertama yang sangat memuaskan dari pengorbanan transmutasinya.

​Pukul 09:45 pagi. Kawasan Bisnis Sudirman.

​Maya turun dari bus TransJakarta. Angin pagi ibu kota menerpa wajah dan rambut hitamnya yang kini ia biarkan tergerai menutupi sebagian punggungnya.

​Di hadapannya, menjulang sebuah gedung pencakar langit dengan arsitektur full kaca biru yang memantulkan awan. Itu adalah gedung agensi Elegance Model Management.

​Maya melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis. Hawa dingin AC sentral yang tajam langsung menyambutnya.

​Saat ia mendekati meja resepsionis berbahan granit hitam, seorang wanita muda cantik berseragam blazer elegan menoleh. Saat melihat pakaian kumal Maya, ia langsung mengerutkan kening, bersiap untuk mengusirnya.

​Namun, ketika Maya berada di jarak yang cukup dekat, dan wajah porselennya terekspos jelas oleh cahaya lampu lobi, resepsionis itu terbungkam.

​”S-selamat pagi, Mbak… ada yang bisa dibantu?” sapa resepsionis itu dengan nada yang luar biasa sopan.

​”Pagi. Saya ada janji temu dengan Kak Kiki,” jawab Maya tenang.

​”Oh! Dengan Bapak Kiki… baik, sebentar saya teleponkan.”

​Tidak sampai lima menit kemudian, denting pintu lift khusus berbunyi. Kiki, mengenakan setelan cardigan panjang berwarna maroon dan celana kulit hitam, melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

​”Maya! My absolute goddess!” pekik Kiki heboh.

​Pria itu setengah berlari menghampiri Maya. Ia merengkuh kedua lengan Maya, memundurkan tubuhnya, lalu memindai Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mata tajam Kiki langsung menangkap detail-detail perubahan tubuh yang tidak ada pada hari kemarin.

​”Ya ampun… ya Tuhan…” Kiki menarik napas takjub, tangannya meraba udara di sekitar bahu dan leher Maya tanpa berani menyentuhnya. “Kemarin leher kamu ketutup kerah seragam. Tulang selangka kamu ini… dan postur bahu kamu… this is madness! Ini bukan proporsi manusia biasa, Maya!”

​Maya hanya tersenyum tipis. Ia berhasil menipu mata profesional Kiki dengan tubuh barunya.

​”Ayo naik ke atas. Studio foto kita ada di lantai dua belas. Eike udah panggil Rio, fotografer paling galak tapi paling mahal di agensi kita buat ngetes kamu hari ini,” ucap Kiki, langsung menarik tangan Maya menuju lift.

​Di lantai dua belas, ruangan studio itu sangat luas, didominasi warna putih bersih. Di tengah area pemotretan raksasa berlatar putih, berdiri seorang pria berambut gondrong dengan kamera DSLR berat di lehernya. Ia sedang merokok dengan wajah bosan. Itu adalah Rio.

​”Yo, Rio! Wake up, darling! Kanvas impian kita udah datang,” seru Kiki.

​Rio membuang puntung rokoknya. Matanya yang mengantuk menyapu penampilan Maya. Kaus kumal. Sepatu dekil. Namun, saat pandangan Rio naik ke arah garis rahang, leher, dan bahu porselen Maya, wajah pria gondrong itu seketika berubah tegang.

​”Bawa dia ke ruang ganti. Cepet,” perintah Rio pendek, suaranya berat dan serak. Ia langsung menyambar kameranya dengan energi yang meluap-luap.

​Kiki menarik Maya ke ruang rias dan melempar sebuah slip dress, gaun sutra tali spageti yang sangat tipis, minimalis, dan berwarna hitam polos.

​”Ganti baju kamu pakai ini. Nggak usah make up, nggak usah sisiran. Biarin rambut kamu tergerai gitu aja,” instruksi Kiki cepat.

​Maya mengenakan gaun sutra itu di bilik ganti. Kain mahal itu jatuh menggantung dengan sangat elegan di tubuhnya, menonjolkan tulang selangka dan bahu bersudutnya secara absolut.

​Maya melangkah keluar. Ia naik ke atas kertas latar putih raksasa yang dihujani oleh cahaya lampu sorot (softbox) yang luar biasa terang. Suhu di area itu terasa sangat panas, sangat kontras dengan dinginnya krim mutiara yang membentuk wujudnya semalam.

​”Berdiri di titik tengah. Jangan banyak gerak,” instruksi Rio dari balik lensa kameranya.

​Maya berdiri kaku. Kedua lengannya lurus di samping tubuh. Wajahnya tegang. Ia tidak pernah difoto seumur hidupnya. Aura penakutnya yang sudah mendarah daging tiba-tiba kembali mendominasi postur tubuhnya. Ia menundukkan dagunya, bahunya merosot turun.

Klik. Klik. Dua kilatan cahaya kamera membutakan mata Maya sesaat.

​Rio menurunkan kameranya. Ia mendengus kasar.

​”Kiki, muka dia emang haute couture tingkat dewa, tapi body language-nya nol besar!” keluh Rio tanpa basa-basi. “Posturnya kayak maling ayam ketangkep basah. Bungkuk, ketakutan, matanya kosong. Ini mah sama aja bohong!”

​Kepanikan menyergap Maya. Jika ia gagal dalam tes ini, Kiki tidak akan memberinya uang. Ibunya tidak bisa masuk ICU. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​Kiki melangkah masuk ke dalam area backdrop. Pria itu memegang kedua bahu porselen Maya, memaksanya untuk berdiri tegak sempurna.

​”Maya sayang, dengerin eike,” ucap Kiki lembut namun sangat tegas. “Model yang hebat bukan cuma jualan tulang. Mereka jualan emosi. Jualan ‘jiwa’. Kamu lagi takut sekarang karena kamu miskin dan nggak pernah masuk studio mewah?”

​Maya mengangguk pelan, bibirnya bergetar.

​”Buang rasa takut itu,” desis Kiki tajam. “Tutup mata kamu. Bayangin muka orang yang paling kamu benci di dunia ini. Bayangin orang yang bikin ibu kamu menderita. Bayangin orang yang ngeludahin harga diri kamu setiap hari.”

​Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, instruksi Kiki bekerja bagai mantra pemanggil iblis.

​Wajah Sari muncul dengan seringai jahatnya. Wajah Tante Sisca yang melengking memanggilnya babu dekil. Hinaan mereka. Bau amonia dari cairan pel. Dan vonis dua puluh juta dari dokter yang menghukum ibunya pada kematian.

​Kebencian yang sangat murni, amarah yang telah lama membeku di dasar jiwanya, kini mendidih dan meledak menghancurkan setiap dinding kepengecutannya. Darahnya mendesir panas. Otot-otot wajahnya menegang keras.

​”Sekarang buka mata kamu, dan bunuh mereka pakai tatapanmu!” perintah Kiki, mundur selangkah.

​Maya membuka matanya perlahan.

​Kepalanya sedikit tertunduk, namun bola matanya menatap lurus menembus lensa kamera Rio dengan intensitas yang sangat mematikan. Tidak ada lagi Maya si gadis penakut. Yang ada di sana adalah seorang predator yang lapar akan pembalasan dendam. Rahang tirusnya mengeras. Auranya berubah menjadi sangat gelap, elegan, dan mengintimidasi.

​Rio terkesiap di balik kameranya.

​”Bagus… tahan di situ. That’s it, killer!” seru Rio parau. Jari telunjuknya menekan tombol rana (shutter) dengan kecepatan gila-gilaan.

Klik! Klik! Klik!

​Kilatan cahaya lampu menyambar bertubi-tubi seperti petir. Cahaya itu menyorot kulit porselennya yang memantulkan kilau bagai kaca, menangkap kedalaman emosi liar dari sepasang matanya yang membunuh. Ia menyalurkan seluruh keputusasaan dan amarahnya ke lensa kamera tersebut.

​Tiga puluh menit sesi pemotretan itu terasa seperti tiga puluh detik.

​”Selesai! Gila, magic!” teriak Rio, napasnya terengah-engah. Ia menatap layar digital kameranya dengan takjub. “Kulitnya, tulangnya… perfect. Dia natural killer di depan kamera, Ki.”

​Kiki melompat kegirangan. “Eike bilang juga apa! Kamu ganti baju dulu, May. Setelah ini, kita ke ruangan eike. Kita urus masalah uang ibumu.”

​Dua puluh menit kemudian, Maya duduk di kursi kulit empuk di dalam ruang kerja Kiki. Di atas meja kaca di hadapannya, terletak dua buah benda.

​Sebuah dokumen kontrak kerja eksklusif setebal sepuluh halaman. Dan sebuah amplop cokelat tebal yang isinya terlihat sangat padat.

​”Itu uang muka (down payment) penandatanganan kontrak kamu,” ucap Kiki, mengembuskan asap rokoknya. “Tiga puluh juta rupiah tunai. Cukup buat bayar ICU ibumu. Bulan depan, setelah foto kamu hari ini rilis, bayaran kamu bakal naik di atas seratus juta per proyek.”

​Mendengar angka tiga puluh juta, pandangan Maya mengabur karena air mata. Ia menyentuh amplop cokelat itu. Ketebalannya, dan bau khas uang kertas seratus ribuan baru yang menguar dari celah amplop itu terasa sangat nyata.

​Tanpa ragu sedetik pun, Maya meraih pena emas yang disediakan Kiki, dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas dokumen tersebut.

​Kesepakatan besar telah ditandatangani.

​Pukul 15:00 sore. Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.

​Hujan gerimis kembali mengguyur kota, namun Maya tidak peduli. Ia berlari melewati pintu geser kaca otomatis IGD rumah sakit. Di tangannya, ia memeluk tas ransel lusuhnya dengan sangat erat.

​Di dalamnya terdapat sisa uang setelah ia menyelesaikan pendaftaran ruang ICU VIP, membayar lunas deposit, dan menebus obat-obatan paling bagus untuk ibunya.

​Setengah jam yang lalu, ia menyewa ambulans swasta untuk menjemput ibunya dari kontrakan busuk mereka dan memindahkannya ke rumah sakit ini. Pak Agus dan Bu Ningsih ikut mendampingi, terlihat sangat kebingungan dari mana Maya mendapat uang tunai sebanyak itu dalam waktu setengah hari, namun mereka tidak berani banyak bertanya karena prioritas utama adalah nyawa ibu Maya.

​Maya menatap dari balik kaca jendela ruang ICU yang dingin.

​Ibunya kini terbaring di atas ranjang medis yang canggih. Selang oksigen terpasang rapi, namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, wajah ibunya tidak terlihat tersiksa. Monitor jantung di sampingnya berbunyi teratur.

​Maya menangis dalam diam. Air matanya menetes bebas membasahi pipi porselennya.

Ibu akan sembuh. Maya janji. Mulai sekarang, Maya yang akan melindungi Ibu, batinnya merapal sumpah.

​Malam harinya, Maya duduk di atas kasur busa di kontrakannya yang kini terasa sangat sepi dan kosong tanpa kehadiran ibunya.

​Ia telah mencapai apa yang ia inginkan. Ia telah menyelamatkan nyawa ibunya. Ia memiliki pekerjaan baru dengan bayaran miliaran di depan mata.

​Namun, di tengah kesunyian kemenangan itu… sebuah sensasi aneh menyela euforianya.

​Maya meletakkan sisa uangnya di atas kasur. Ia mengangkat tangan kanannya, dan meraba pangkal lehernya, tepat di atas tulang selangka kirinya yang ia bentuk semalam.

​Area kulit porselen di bagian itu… tiba-tiba terasa gatal.

​Bukan gatal karena gigitan nyamuk di permukaan kulit. Rasa gatal itu terasa sangat dalam, seolah berasal dari lapisan daging yang melekat dengan tulangnya. Sensasinya seperti ada puluhan semut mikroskopis yang sedang merayap dan menggigit jaringan selulernya dari bagian dalam tubuhnya, berusaha menerobos keluar mencari udara.

​Maya mengerutkan kening. Secara refleks, ujung kuku telunjuknya menggaruk area kulit yang gatal tersebut sedikit agak keras untuk meredakan rasa tidak nyaman itu.

​Namun, saat ia menundukkan pandangannya ke arah lehernya…

​Tiga goresan merah tipis bekas garukan kukunya tertinggal di atas kulit mutiaranya. Dan yang paling mengerikan… daging di bawah goresan kemerahan itu tiba-tiba terasa sedikit lembek. Kulit itu kehilangan kekenyalannya, seolah fase plastisitas berusaha memaksa membuka gemboknya kembali dari dalam.

​Maya menelan ludah. Mata elangnya melebar menatap luka garukan tersebut. Jantungnya kembali dipacu oleh ritme ketakutan purba.

​Di tengah keheningan absolut malam itu, telinga Maya tiba-tiba menangkap sebuah suara dari arah kamar mandi kecil di sudut kontrakan.

​Sebuah suara tetesan cairan yang sangat berat dan kental.

Tes… Tes… Plop.

​Ritme tetesan yang persis sama dengan yang ia dengar di dalam mimpi buruknya semalam. Tetesan cairan daging yang meleleh menghantam lantai semen.

​Bulu kuduk di seluruh tubuh Maya berdiri serempak. Hawa dingin kriogenik yang berbau anyir darah seolah berembus pelan dari celah bawah pintu kamar mandi, membelai telapak kakinya yang telanjang.

​Sebuah bisikan serak yang tak memiliki wujud sayup-sayup terdengar menggema di dalam batok kepalanya.

“Kembalikan dagingku…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.