SIMETRI BAB 17 ​~ Kebaikan Pak Agus

Tes… Tes… Plop.

​Suara tetesan cairan kental yang menghantam lantai semen basah itu terdengar lagi.

​Bunyinya bergema lambat, menembus keheningan malam. Berasal tepat dari balik pintu kayu kamar mandi kontrakannya yang setengah tertutup.

​Udara di dalam ruangan yang tadinya hanya terasa dingin karena sisa hujan badai di luar, kini berubah menjadi luar biasa mencekam. Hawa dingin yang menguar dari arah kamar mandi itu terasa tidak wajar. Hawa itu membawa sebuah aroma yang sangat spesifik, aroma anyir darah basi yang bercampur dengan bau tanah steril. Bau kematian yang direndam dalam bahan kimia.

​Jantung Maya berdentum sangat hebat. Ritmenya menghantam tulang rusuknya seolah jantung itu memiliki kesadarannya sendiri dan ingin melarikan diri dari rongga dadanya.

​Keringat dingin merembes dari pori-pori kulit porselennya. Ia masih duduk mematung di pinggiran kasur busanya yang tipis. Kedua tangannya mencengkeram erat seprai yang sudah menipis hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Itu cuma halusinasi, batin Maya berteriak panik, mencoba merasionalisasi teror yang sedang menggerogoti akal sehatnya. Itu pasti cuma halusinasi pendengaran. Hanya air hujan yang bocor dari atap asbes kamar mandi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Aku sendirian.

​Namun, rasa gatal yang luar biasa menyiksa di pangkal lehernya, tepat di area tulang selangka kirinya yang ia bentuk semalam, terus berdenyut.

​Tiga garis merah bekas garukan kukunya sendiri kini terasa semakin perih. Di bawah lapisan kulit porselennya yang seharusnya kebas, ia bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa daging di bawah goresan itu telah kehilangan kepadatannya. Dagingnya melembek, seolah ikatan molekul mutiaranya perlahan-lahan terurai dan mencair kembali menjadi bentuk asalnya yang kusam.

​Kepanikan menyumbat kerongkongannya. Jika ia membiarkannya, apakah seluruh lehernya akan ikut meleleh dan membusuk seperti wanita tanpa wajah di dalam mimpinya tadi?

​Dengan napas yang memburu liar dan tubuh yang bergetar hebat, Maya memaksakan dirinya untuk berdiri.

​Kakinya yang telanjang menyentuh lantai semen kontrakannya yang sedingin es. Ia melangkah maju inci demi inci, menelan ludah yang kini terasa menggores tenggorokannya seperti bongkahan kaca. Matanya tak berani lepas dari celah gelap di balik pintu kamar mandi.

Tes… Plop.

​Suara itu terdengar lagi. Kali ini temponya lebih lambat, seakan cairan yang jatuh menetes itu volumenya semakin tebal dan semakin mengental.

​Maya mengulurkan tangannya yang gemetar. Ujung jari telunjuknya yang lentik menyentuh permukaan kayu pintu yang sudah lapuk dan dipenuhi jamur, lalu mendorongnya perlahan.

Krieet…

​Engsel pintu berderit panjang, membelah kesunyian malam layaknya jeritan seorang wanita yang tertahan.

​Cahaya redup dari lampu neon dapur menembus masuk, menyinari sebagian area kamar mandi berukuran satu setengah meter persegi itu. Bak mandi plastiknya kosong. Kloset jongkoknya bersih.

​Maya menahan napas. Matanya menyapu setiap sudut ruangan kecil itu.

​Tidak ada sosok wanita dengan wajah meleleh di sana. Tidak ada hantu dengan mata yang keluar dari rongganya seperti di dalam mimpi.

​Kamar mandi itu kosong.

​Maya mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Tubuhnya seketika lemas. Ia nyaris merosot ke lantai karena kedua lututnya benar-benar kehilangan tenaga. Ia menyandarkan kepalanya ke kusen pintu kayu tersebut, memejamkan mata.

​Ternyata itu benar-benar hanya halusinasinya akibat kelelahan fisik dan stres mental seharian ini.

​Namun… saat ia membuka matanya kembali dan menundukkan pandangannya ke arah lantai di dekat lubang pembuangan air (drainase)… sisa napasnya kembali terhenti secara paksa.

​Di sana, tepat di bibir lubang saluran air yang berkarat, terdapat sebuah genangan kecil.

​Itu bukan genangan air hujan yang bening. Genangan itu berwarna hitam pekat, kental, dan memantulkan cahaya layaknya minyak pelumas kotor. Bentuk dan warnanya persis seperti gumpalan cairan sisa tubuh makhluk yang ia lihat di dalam mimpi buruknya.

​Dari genangan kecil tersebut, aroma anyir bangkai yang luar biasa menyengat menguar kuat, menusuk hidung Maya dan meracuni udara steril yang ia ciptakan.

​Maya memundurkan langkahnya dengan sangat cepat. Tangannya bergerak refleks menutup mulutnya sendiri untuk menahan jeritan histeris yang siap meledak.

​Itu nyata.

​Halusinasi itu ternyata meninggalkan jejak fisik. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang berasal dari luar nalar akal sehat manusia sedang mencoba masuk melaluinya. Atau yang lebih mengerikan lagi… sesuatu itu mungkin berasal dari dalam dirinya sendiri, sebuah manifestasi fisik, residu buangan dari formula kutukan yang kini mengalir menyatu dengan darahnya.

​Gatal di lehernya tiba-tiba kembali menyengat dengan hebat, menarik kembali fokus Maya pada realitas fisiknya yang terancam.

​Ia tidak punya waktu untuk menyelidiki genangan hitam itu. Ia harus menghentikan pelunakan dagingnya sekarang juga, sebelum nekrosis (pembusukan sel) ini menyebar ke seluruh tubuhnya.

​Maya berbalik dan berlari ke arah lemari kayunya. Ia membongkar tumpukan baju bekas di bagian bawah dengan kasar, melemparkannya ke segala arah, dan menarik keluar kotak hitam matte tersebut.

​Tangannya bergerak dengan kecepatan panik yang membutakan. Ia membawa kotak itu ke depan wastafel dapur. Ia membuka jar kaca frosted bulat itu, menyambar spatula obsidian, dan mengambil seujung kecil gel mutiara yang memancarkan cahaya keperakan.

​Ia berdiri menatap cermin retaknya, mendongakkan kepalanya ke belakang, dan mengoleskan gel beku itu tepat ke atas tiga goresan merah di tulang selangkanya.

Ssssshhh!

​Rasa dingin kriogenik yang ekstrem langsung menyengat kulitnya dengan brutal. Dingin itu menembus pori-pori, membekukan kembali jaringan dagingnya hingga ke dasar tulang.

​Rasa gatal dan perih yang menyiksa itu seketika lenyap, digantikan oleh rasa kebas yang familiar dan menenangkan.

​Dalam hitungan detik, di bawah cahaya redup, Maya melihat sendiri bagaimana daging di lehernya yang tadinya mulai melunak dan membusuk itu… kembali merajut dirinya sendiri. Jaringannya memadat, dan kembali mengunci bentuknya. Goresan merah akibat kuku itu memudar, lenyap tertutup oleh kulit porselen yang kembali mulus tanpa cela.

​Maya memejamkan mata erat-erat. Ia memeluk kotak hitam itu di depan dadanya yang masih naik turun.

​Ia selamat. Setidaknya, untuk malam ini, tubuhnya kembali aman.

​Namun, rentetan kejadian malam ini menanamkan sebuah kesadaran baru yang sangat mengerikan di benak Maya.

​Kesempurnaan fisik bernilai miliaran rupiah ini bukanlah sebuah anugerah yang diberikan secara cuma-cuma. Formula ini adalah sebuah kontrak berdarah yang mengikat nyawanya seumur hidup. Ia tidak bisa berhenti. Ia harus terus menggunakannya. Ia harus terus memiliki persediaan gel mutiara ini untuk memperbaiki jaringan tubuhnya, untuk me-reset pembusukan kapan pun efek samping withdrawal itu tiba-tiba muncul.

​Ia telah bergantung sepenuhnya pada keajaiban hitam di dalam kotak ini.

​Jika gel mutiara ini habis… Maya tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada daging, otot, dan tulangnya.

​Pagi hari menjelang dengan sangat lambat.

​Sisa-sisa badai semalam menyisakan langit ibu kota Jakarta yang kelabu muram dan udara yang terasa jauh lebih sejuk dari biasanya.

​Pukul 08:00 pagi.

​Maya sudah berada di lorong ruang rawat inap ICU VIP di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.

​Ia mengenakan jaket hoodie abu-abu tebal berukuran besar yang ia beli dengan harga sangat murah di pasar loak beberapa bulan lalu. Tudung hoodie-nya ia tarik ke depan, menutupi sebagian wajah porselen dan kepalanya agar tidak terlalu menarik perhatian para staf rumah sakit.

​Meskipun ia berusaha menyembunyikan diri, aura bintangnya tak bisa ditutupi. Beberapa perawat jaga dan dokter muda yang melewatinya tetap saja mencuri pandang ke arah postur tubuhnya yang tinggi elegan, dan kulit lehernya yang seputih susu menyembul dari balik ritsleting jaket.

​Maya duduk di kursi tunggu panjang berbahan stainless steel yang dingin. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca buram berlabel ruang ICU tempat ibunya dirawat.

​Dokter spesialis paru yang menangani ibunya tadi pagi membawa kabar yang sangat melegakan. Ia mengatakan bahwa masa kritis ibunya telah lewat dengan aman. Dengan bantuan antibiotik impor terbaik dan dukungan mesin ventilator paling modern, paru-paru ibunya yang rusak parah mulai merespons perawatan positif. Biaya deposit puluhan juta yang ia bayarkan secara tunai kemarin sore telah memastikan ibunya mendapatkan intervensi dan fasilitas medis nomor satu di negara ini.

​Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidupnya yang suram, Maya merasa bisa bernapas lega tanpa ada batu besar yang menindih rongga dadanya. Ibunya akan hidup.

​Saat Maya sedang melamun menatap lantai rumah sakit, telinganya yang sensitif menangkap suara derap langkah sepatu yang berat. Langkah itu sedikit diseret dari arah ujung lorong pendaftaran.

​Maya menoleh perlahan.

​Sesosok pria paruh baya berjalan gontai ke arahnya. Pria itu masih mengenakan seragam safari satpam berwarna biru tua yang persis sama seperti yang ia kenakan kemarin sore. Wajah pria itu terlihat luar biasa lelah. Lingkaran hitam tebal dan kantung mata menggantung jelas di bawah matanya yang mulai rabun. Di tangan kanannya yang kapalan, ia menggenggam erat sebuah amplop cokelat tipis yang ujung-ujungnya sudah agak lecek karena keringat.

​Itu adalah Pak Agus.

​Pria baik hati itu rupanya tidak pulang ke rumah untuk tidur setelah menyelesaikan shift malamnya di mal yang kejam itu pagi ini. Ia langsung menyempatkan diri datang menjenguk ke rumah sakit.

​Melihat kehadiran Pak Agus, Maya segera bangkit dari duduknya. Sebuah perasaan hangat sekaligus rasa bersalah yang menusuk mengalir beriringan di dalam dadanya. Pria ini adalah satu-satunya sosok pelindung tulus tanpa pamrih yang ia miliki setelah ayahnya tiada.

​”Pak Agus…” sapa Maya dengan suara yang sangat lembut, setengah berlari menyambut pria tua itu dan membantunya duduk di kursi stainless di sebelahnya. “Bapak baru pulang kerja langsung ke sini? Kenapa nggak pulang dan istirahat dulu di rumah, Pak? Bapak kelihatan capek banget.”

​Pak Agus menghela napas panjang yang sangat berat, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang dingin.

​Pria itu menoleh perlahan, menatap Maya. Tatapan tua Pak Agus menelusuri wajah porselen Maya yang sedikit tertutup bayangan hoodie.

​Meskipun ia masih sangat terkejut dan takjub dengan perubahan fisik yang drastis itu, pagi ini, sorot mata Pak Agus jauh lebih redup. Tatapannya dipenuhi oleh sebuah kekhawatiran yang sangat mendalam dan tulus.

​”Bapak nggak bisa tidur, Nduk,” suara Pak Agus terdengar serak, parau, dan bergetar. Pria itu menelan ludah, menatap lantai rumah sakit yang mengkilap seolah mencari kekuatan di sana.

​Pak Agus menoleh kembali ke arah Maya, matanya memancarkan kesedihan.

​”Bapak tahu persis berapa biaya rumah sakit besar ini, Nduk. Apalagi ruang VIP. Semalam suntuk Bapak kepikiran kamu, Maya. Bapak sampai nggak fokus jaga loading dock. Dari mana… dari mana anak sekecil, sepolos, dan semiskin kamu bisa dapat uang puluhan juta tunai cuma dalam hitungan jam?”

​Maya terdiam mematung. Dadanya terasa sesak.

​Ia memang sudah menyiapkan jawaban kebohongan untuk pertanyaan ini. Namun, saat ia melihat wajah lelah Pak Agus yang dipenuhi keriput kekhawatiran, ia merasa seperti seorang pendosa besar yang sedang membohongi seorang malaikat.

​”Kemarin sore, pas Bapak ketemu kamu di parkiran basement… Bapak lihat muka kamu berubah total. Postur tubuhmu juga berubah elegan,” tutur Pak Agus, suaranya kini bergetar menahan emosi yang menyesakkan dada. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Maya.

​”Nduk… Bapak ini cuma orang bodoh. Bapak cuma satpam tamatan SD. Tapi, Bapak tahu persis betapa keras dan kejamnya hidup di Jakarta ini,” kata Pak Agus dengan nada bergetar. “Seorang gadis miskin yang tiba-tiba berubah wujud jadi sangat cantik menawan dalam semalam, lalu di hari yang sama tiba-tiba punya uang puluhan juta di tangannya… biasanya… biasanya cuma ada satu jalan gelap yang rela mereka ambil untuk dapatkan itu semua.”

​Mata Maya melebar dari balik hoodie-nya. Jantungnya berdenyut nyeri.

​Ia mengerti dengan sangat jelas ke mana arah pembicaraan ini. Pak Agus mengira ia telah melacurkan dirinya. Pak Agus mengira ia menjual harga dirinya kepada rentenir berhidung belang, atau terjerumus menjadi simpanan pria kaya di dunia prostitusi kelas atas demi membiayai pengobatan darurat ibunya.

​Kesimpulan itu sangat logis. Memang itulah satu-satunya penjelasan paling rasional di dunia nyata bagi seseorang yang melihat perubahannya dari kacamata realitas sosial.

​”Astaghfirullah, Pak! Enggak! Jangan mikir begitu!” Maya buru-buru meraih kedua tangan Pak Agus yang kasar dan kapalan. Ia menggenggamnya erat-erat, mencoba menyalurkan keputusasaannya.

​”Maya nggak melakukan hal kotor dan menjijikkan seperti itu, Pak. Maya bersumpah demi almarhum Bapak! Maya berani bersumpah!”

​Pak Agus menatap Maya lekat-lekat, matanya mencari-cari kebohongan di balik sepasang bola mata cokelat gadis itu. Pak Agus hanya melihat air mata kejujuran yang mulai menggenang di kelopak mata Maya.

​Maya menarik napas panjang, menstabilkan emosinya untuk meluncurkan cerita palsunya.

​”Kemarin, waktu Maya lagi kerja ngepel kaca di eskalator, ada seorang pencari bakat elit dari agensi model yang lihat Maya, Pak,” jelas Maya dengan suara yang meyakinkan. “Namanya Kak Kiki. Dia… dia bilang struktur wajah Maya ini sangat unik, berkarakter, dan cocok banget buat jadi model majalah fashion. Dia langsung nawarin kontrak kerja eksklusif di tempat, Pak.”

​”Model?” alis Pak Agus bertaut, masih belum sepenuhnya percaya.

​”Iya, Pak! Dan karena Maya jujur bilang kalau Maya butuh uang cepat buat biaya darurat Ibu hari itu juga… Kak Kiki langsung setuju ngasih uang muka puluhan juta secara tunai kemarin siang. Sebagai tanda jadi kontrak,” Maya terus merangkai kebohongannya. “Surat kontrak resminya ada di dalam tas Maya sekarang kalau Bapak mau lihat dan baca sendiri.”

​Maya mengucapkan kebohongan yang setengah benar itu dengan sangat lancar dan tanpa berkedip. Ia memang mendapat kontrak, ia memang telah bertemu Kiki, dan ia memang menerima uang muka. Tapi ia menyembunyikan kebenaran paling gelap dan mustahil tentang bagaimana ia mendapatkan ‘wajah unik’ tersebut di bawah kolong panggung.

​Mendengar penjelasan yang detail itu, raut wajah Pak Agus perlahan-lahan mengendur.

​Ketegangan yang membuat bahu tuanya kaku sejak semalam sedikit memudar. Ia menatap Maya, seolah sedang menimbang-nimbang logika dari cerita yang terdengar persis seperti naskah kisah Cinderella tersebut. Namun, mengingat wajah Maya saat ini memang benar-benar secantik dan seanggun model papan atas, cerita keajaiban itu menjadi terdengar sangat masuk akal bagi Pak Agus.

​”Model?” gumam Pak Agus pelan, suaranya sedikit lega. “Kamu beneran ditawari pekerjaan jadi model yang halal, Nduk? Bukan… bukan disuruh nemenin om-om orang kaya di klub malam?”

​”Sama sekali bukan, Pak. Ini murni pekerjaan foto katalog untuk majalah dan iklan,” jawab Maya mantap. Ia memaksakan senyum paling meyakinkan yang ia miliki.

​Pak Agus mengusap wajah rentanya dengan kedua telapak tangannya yang kasar. Pria itu membuang napas kelegaan yang luar biasa panjang hingga seluruh bahunya merosot turun ke sandaran kursi.

​”Alhamdulillah, Gusti Pangeran… Ya Allah…” ucap Pak Agus berkali-kali. “Bapak bener-bener lega dengarnya, Nduk. Bapak semalaman bener-bener ketakutan setengah mati, takut kalau kamu sampai hancur karena gelap mata melihat ibumu berdarah.”

​Pria tua itu kemudian menundukkan pandangannya. Ia menatap amplop cokelat lecek yang sejak tadi ia genggam di tangannya. Ia mengelus permukaan amplop itu sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian dan keikhlasan.

​Lalu, ia menyodorkan amplop itu ke tangan Maya.

​Maya terkejut, menatap amplop itu tanpa mengambilnya. “Ini apa, Pak Agus?”

​”Ini sedikit tabungan Bapak, Nduk. Jumlahnya memang nggak banyak, cuma ada sekitar dua juta setengah di dalamnya,” ucap Pak Agus dengan sebuah senyum tipis yang tulus tanpa pamrih.

​”Semalam, pas Bude-mu cerita kamu butuh uang puluhan juta buat ICU, Bapak langsung lari ke pos depan. Bapak telepon ketua koperasi satpam mal,” cerita Pak Agus dengan nada kebapakan. “Bapak pinjam kasbon dadakan potong gaji bulanan, ditambah narik sisa uang tabungan di ATM Bapak. Bapak niatnya memang mau kasih uang ini ke kamu pagi ini.”

​Mata Pak Agus berkaca-kaca menatap Maya.

​”Bapak berniat kasih ini buat nambah-nambah biaya rumah sakit, atau… kalau uang panas yang Bapak kira kamu pinjam dari rentenir itu nggak cukup, uang ini bisa buat nebus utangmu dari orang jahat itu. Bapak nggak mau kamu dikejar-kejar orang.”

​Mata Maya terpaku, terkunci pada amplop cokelat di tangannya. Amplop itu sudah berkerut karena terlalu lama dipegang oleh tangan yang gemetar dan berkeringat.

​Dua setengah juta rupiah.

​Bagi orang-orang yang kini berada di lingkaran sosial Maya yang baru seperti Tante Sisca, Kiki, atau Bu Ratna, uang dua setengah juta mungkin hanyalah uang receh yang hanya cukup untuk membeli sebelah sepatu branded, atau sekali makan malam steak di restoran hotel bintang lima.

​Namun bagi Pak Agus… seorang satpam outsourcing yang gajinya pas-pasan, yang memiliki istri dan anak usia sekolah di kampung yang harus dinafkahi di ibu kota… uang dua setengah juta adalah sebuah pengorbanan yang berdarah-darah.

​Itu adalah hasil dari memotong jatah makan keluarganya. Hasil ia menahan lapar saat bertugas malam. Hasil ia berhenti merokok selama berbulan-bulan.

​Pak Agus rela berutang pada koperasi hingga gajinya terpotong, rela hidup lebih sengsara bulan depan, hanya demi satu hal, menyelamatkan kehormatan dan nyawa anak sahabatnya.

​Dibandingkan dengan uang tiga puluh juta rupiah yang dilemparkan Kiki di atas meja kaca mewahnya kemarin sore, uang dua juta setengah di dalam amplop lecek ini… terasa jutaan kali lipat jauh lebih berat di tangan Maya.

​Uang dari Kiki adalah sebuah transaksi bisnis kotor. Sebuah eksploitasi visual atas keindahan fisik yang ia curi. Namun uang dari Pak Agus… amplop ini adalah wujud kemanusiaan yang paling murni, paling langka, dan paling suci yang tersisa di muka bumi ini.

​Pertahanan emosional Maya hancur berkeping-keping tanpa bisa ia cegah.

​Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah. Ia tidak peduli jika mata bengkaknya akan merusak kecantikannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, dan menangis tersedu-sedu di lorong rumah sakit yang sepi dan dingin itu.

​Tangisannya bukanlah tangisan kelegaan. Itu adalah tangisan rasa bersalah yang luar biasa masif dan meremukkan tulang rusuknya.

​Ia telah menipu pria berhati malaikat ini dengan kejam. Ia membiarkan Pak Agus tidak tidur semalaman dan tersiksa oleh kecemasan karena mengkhawatirkannya. Ia membiarkan pria tua yang lelah ini berutang demi dirinya, sementara ia sendiri… semalam dengan angkuhnya berdiri di depan cermin, mengagumi dan memoles wajah curian yang bernilai miliaran rupiah.

Aku adalah monster, rintih batin Maya pedih, air matanya menetes melewati sela-sela jarinya. Di balik wajah porselen yang sempurna ini, hatiku telah sepenuhnya membusuk. Pak Agus adalah orang yang jauh lebih mulia dari siapa pun di duniaku yang baru, dan aku membohonginya tanpa ampun.

​”Lho, Nduk, kok malah nangis kejer begitu?” Pak Agus panik melihat bahu Maya bergetar hebat. Pria itu menggeser duduknya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Maya dengan sangat canggung. “Sudah, May, jangan nangis. Uang rumah sakit ibumu kan alhamdulillah sudah lunas dari uang mukamu itu. Kamu nggak perlu pusing lagi.”

​Maya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata penyesalan. Ia menyodorkan kembali amplop cokelat itu, menekan tangan Pak Agus agar pria itu menerimanya.

​”Pak Agus… Bapak bawa pulang lagi uang ini, ya? Kasihkan semua uang ini ke Bude Ningsih buat jajan dan biaya sekolah anak Bapak di kampung,” isak Maya, suaranya pecah dan sengau.

​”Maya nggak bisa terima uang ini, Pak,” lanjut Maya sambil menggeleng kuat-kuat. “Uang muka dari agensi Kiki sudah lebih dari cukup, Pak. Maya udah berutang nyawa sama kebaikan Bapak dan Bude. Maya nggak mau nambah utang materi lagi ke Bapak. Tolong, Pak, ambil lagi… jangan bikin Maya merasa jadi anak yang jahat dan nggak tahu diri.”

​Pak Agus menatap wajah Maya yang menangis, lalu menatap amplop cokelat di tangan gadis itu.

​Pria tua itu tersenyum. Sebuah senyuman kebapakan yang memancarkan kehangatan dan keikhlasan yang luar biasa. Ia menggeleng pelan, lalu menekan tangan Maya yang memegang amplop itu agar kembali menyimpannya di atas pangkuan gadis itu.

​”Bapak nggak nerima penolakan, Maya,” ucap Pak Agus tegas, namun nadanya mengalun sangat lembut dan menenangkan.

​”Uang dari agensi modelmu itu pasti sudah kamu pakai semua buat nutupin biaya DP ICU dan obat mahal ibumu, kan?” ujar Pak Agus bijak. “Sisa uang tunaimu di kantong pasti sudah habis atau tinggal sedikit. Kamu harus ingat, Nduk. Kamu ini baru mulai merintis karier di dunia model.”

​Pak Agus menepuk punggung tangan porselen Maya dengan tangannya yang kasar.

​”Kamu butuh ongkos buat pergi pemotretan. Kamu butuh beli makan siang yang bergizi biar badanmu nggak sakit. Kamu butuh beli pulsa buat terus hubungin bos agensimu itu,” nasihat Pak Agus. “Dan yang paling penting… kalau ibumu sadar nanti, dia pasti butuh dibelikan bubur yang enak dan buah-buahan segar biar cepat pulih.”

​Air mata Maya mengalir semakin deras mendengar setiap kata yang diucapkan Pak Agus.

​”Pakai uang di amplop ini buat biaya hidupmu sehari-hari sampai kamu dapat gaji pertamamu yang full sebagai model,” Pak Agus memaksakan amplop itu ke tangan Maya. “Anggap saja ini modal awal dari pamanmu sendiri. Nanti… kalau kamu sudah benar-benar sukses, kalau kamu sudah jadi artis terkenal yang fotonya dipajang segede gaban di billboard depan mal kita… baru kamu ganti uang Bapak. Gimana? Setuju, kan?”

​Mendengar ketulusan tanpa syarat dan kepercayaan yang begitu besar itu, Maya tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Tenggorokannya terkunci oleh haru.

​Ia hanya bisa mengangguk kuat-kuat. Ia meremas amplop cokelat lecek itu di depan dadanya, mendekapnya seolah itu adalah jimat pelindung, dan kembali menangis tanpa suara. Ini adalah utang budi dan utang nurani yang akan ia ingat dan bawa sampai mati.

​”Nah, gitu dong. Jangan cengeng lagi,” Pak Agus tersenyum lega, mengusap pelan pucuk kepala Maya yang tertutup hoodie.

​Pria paruh baya itu kemudian berdiri, meregangkan pinggang dan tulang punggungnya yang kaku karena duduk semalaman di motor dan di rumah sakit.

​”Ya sudah kalau semuanya aman. Bapak mau pulang ke kontrakan dulu, mau numpang tidur sebentar dua tiga jam sebelum giliran jaga shift sore di loading dock nanti,” pamit Pak Agus sambil membetulkan letak topinya. “Kamu jaga ibumu baik-baik di sini, ya. Kalau butuh bantuan tenaga atau ada apa-apa, langsung titip pesan saja ke pos satpam.”

​”I-iya, Pak. Pasti,” jawab Maya, mengusap air matanya dan berdiri untuk mengantar kepergian pria itu. “Bapak hati-hati bawa motornya di jalan. Makasih banyak untuk semuanya, Pak Agus.”

​Maya berdiri mematung di lorong ICU. Matanya menatap punggung tegap berbalut seragam safari biru itu yang berjalan perlahan menjauh, hingga akhirnya sosok Pak Agus menghilang di balik belokan lorong menuju lift.

​Di tangannya, amplop cokelat lecek itu terasa memancarkan kehangatan. Kebaikan murni Pak Agus hari ini berhasil kembali membumikan sisa-sisa kemanusiaan dan nurani Maya, yang semalam nyaris melayang ditelan ego, ambisi, dan monster yang ia ciptakan.

​Ia memejamkan mata, memeluk amplop itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Ia berjanji bahwa apa pun yang terjadi dengan kutukan ini, ia akan sukses. Ia akan menghasilkan uang miliaran rupiah secepat mungkin. Bukan hanya untuk kesombongannya atau ibunya, tapi juga untuk mengangkat derajat dan membalas budi pria tua yang telah rela mengorbankan darah dan keringatnya demi dirinya.

​Satu jam kemudian.

​Maya sedang duduk menenangkan diri sendirian di meja sudut kafetaria rumah sakit yang sepi. Di depannya terdapat segelas teh hangat yang belum ia sentuh.

​Tiba-tiba, ponsel jadulnya yang ia letakkan di atas meja bergetar panjang. Nada deringnya memecah lamunannya. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia menduga itu adalah Kiki.

​Maya segera menarik napas panjang, berdeham, dan mengangkat panggilan itu.

​”Halo?” sapa Maya.

“Maya, honey! Morning! Udah bangun kan bidadariku yang paling cantik?” Benar saja, suara melengking dan renyah Kiki langsung menyapa telinganya dengan energi yang meluap-luap.

​”Sudah, Kak Kiki. Ada apa Kak pagi-pagi telepon?” jawab Maya.

​Ia dengan cepat menghapus sisa-sisa air mata dan kesedihannya. Ia menegakkan posisi duduknya, mengubah nada suaranya, dan kembali mengaktifkan mode The Fierce Unknown yang elegan dan sangat profesional.

“Eike ada good news (kabar baik luar biasa) buat kamu, Sayang!” celoteh Kiki dengan tempo bicara yang menyamai kecepatan mobil balap. “Kamu tau kan kemarin foto tes kamera (test-shoot) kamu bareng Rio yang eike bilang hasilnya bagus banget dan killer itu?”

​”Iya, Kak. Kenapa dengan foto itu?”

“Semalam, eike nggak buang waktu! Eike langsung kirim portofolio dadakan kamu itu ke salah satu klien VVIP agensi kita yang lagi pusing nyari ‘wajah baru’ yang segar buat brand kosmetik lokal yang lagi naik daun banget. Dan tebak apa yang terjadi?!” Kiki memekik kegirangan. “Klien itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama lihat tulang pipi kamu! Mereka langsung ACC kamu buat jadi model utama katalog eksklusif mereka detik itu juga tanpa audisi lagi!”

​Jantung Maya berdebar kencang penuh antusiasme. Uang miliaran itu mulai mendekat. “Benarkah, Kak? Saya langsung dapat pekerjaan utama hari ini?”

“Yes, Honey! Rezeki anak cantik berbakti emang nggak bakal ke mana,” lanjut Kiki mantap. “Jadi kamu harus pulang dan siap-siap sekarang. Besok pagi jam delapan teng, kita ada jadwal pemotretan perdana kamu secara komersial. Tim stylist dan wardrobe udah eike siapin dan booking semua. Kamu nggak usah pusing, kamu cuma tinggal bawa badan dan wajah mahal kamu aja ke lokasi.”

​”Baik, Kak. Siap. Besok pagi saya akan datang tepat waktu ke studio agensi di Sudirman—”

“Oh, no, no, no, Sayang,” potong Kiki cepat, menghentikan asumsi Maya. “Pemotretan perdanamu besok bukan di studio agensi kita yang membosankan itu, Sayang.”

​”Bukan di studio?”

“Bukan! Brand kosmetik mewah ini maunya ngambil konsep ‘City Glamour’ yang realistis. Jadi semua sesi pemotretannya bakal dilakukan secara outdoor di lapangan langsung, tepatnya di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah dan elit di ibu kota.”

​Mendengar kata ‘pusat perbelanjaan’, sebuah firasat aneh dan hawa dingin tiba-tiba merayap di tengkuk porselen Maya. Tangannya yang memegang ponsel sedikit mengerat.

​”Di… mal mana lokasi pastinya, Kak?” tanya Maya dengan sangat hati-hati, berusaha menutupi getaran di suaranya.

​Kiki tertawa pelan dari seberang telepon. Tawa yang terdengar seolah ini adalah sebuah kejutan hadiah ulang tahun yang sangat menyenangkan dan diatur oleh semesta.

“Kebetulan banget, Sayang! Ini bener-bener kayak takdir! Klien kita berani bayar mahal buat nyewa area atrium utama di lantai dasar… di mal tempat kamu kerja kemarin! Yes! Besok pagi kita bakal pemotretan besar-besaran di Grand Atrium Mall!” seru Kiki dengan semangat yang meledak-ledak. “Gimana?! Pasti seru banget kan rasanya?! Kamu bakal balik ke sana, nginjak lantai marmer itu sebagai artis dan bintang tamu kehormatan, bukan sebagai tukang pel babu dekil lagi!”

​Darah di sekujur tubuh Maya seolah membeku seketika. Berhenti mengalir.

​Udara di kafetaria rumah sakit itu terasa lenyap.

Grand Atrium Mall. Tempat terkutuk itu. Tempat yang baru saja ia ludahi kehormatan manajernya kemarin pagi. Tempat di mana Bu Ratna yang pendendam itu pasti masih menyimpan rasa sakit hati dan amarah kesumat padanya.

​Dan yang paling berbahaya… tempat di mana Sari, wanita dominan yang gila itu, pasti sedang merencanakan sesuatu yang mematikan akibat rasa iri dan dengkinya yang meledak-ledak setelah dipermalukan. Sari pasti akan mencari celah untuk menghancurkan wajah porselennya di depan umum.

​Kiki menganggap momen ini sebagai sebuah drama kemenangan yang epik dan membanggakan. Namun bagi Maya… kembali menginjakkan kakinya ke dalam mal itu di saat ia belum sepenuhnya siap secara mental dan belum sepenuhnya menguasai ‘wujud barunya’ ini, adalah sebuah ujian bertahan hidup yang sangat berbahaya.

​”K-Kak Kiki…” Maya menelan ludah, mencari kalimat yang tepat. “Apakah… apakah lokasinya tidak bisa diganti atau dipindah ke mal elit yang lain saja?”

“Aduh, Sayang, ya jelas nggak bisa dong,” tolak Kiki dengan nada tegas, mematahkan harapan Maya. “Klien mereka udah bayar lunas sewa spot yang paling strategis di atrium itu dengan harga yang mahal banget. Tim dekorasi juga udah mulai bangun properti di sana.”

​Kiki kemudian melembutkan suaranya, mencoba memotivasi Maya.

“Lagian, May… percayalah sama eike. Ini adalah momen balas dendam terbaik kamu seumur hidup! Eike aja udah nggak sabar pengin lihat muka bos manajer kamu yang galak itu pas dia sadar dan tahu kalau babu yang sering dia hina-hina, ternyata besok balik lagi ke wilayahnya sebagai model elit dengan bayaran ratusan juta. Kita bikin mereka semua jantungan berjamaah besok!”

​Kiki tertawa puas. “Udah ya, Sayang. Eike harus tutup teleponnya, mau meeting dulu sama vendor lampu. See you tomorrow, Supermodelku! Jangan lupa pakai masker tidur biar kulitmu makin glowing! Bye!”

Klik. Sambungan telepon terputus sebelum Maya sempat mencari-cari alasan logis lain untuk membatalkannya.

​Maya meletakkan ponselnya yang layarnya perlahan meredup di atas meja kafetaria. Tangannya gemetar pelan.

Besok pagi. Ia harus kembali ke Grand Atrium Mall. Ke tempat kelahirannya kembali. Bukan lagi bersembunyi di dalam ruang ganti basement yang gelap, melainkan berdiri tepat di bawah sorot lampu kilat kamera yang sesungguhnya. Dikelilingi oleh ratusan pasang mata dari para mantan rekan kerjanya yang membencinya.

​Jika dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara, maka besok adalah panggung balas dendam yang disiapkan oleh takdir dengan plot yang sangat kejam.

​Maya memejamkan mata porselennya, lalu mengangkat tangannya untuk memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

​Ia tidak boleh terlihat ketakutan besok. Ia tidak boleh membiarkan mereka melihat celah kelemahannya. Ia adalah Maya yang baru. Maya The Fierce Unknown. Ia akan membuktikan kata-kata Kiki, bahwa wujud kesempurnaannya ini bisa membungkam seluruh mulut buas yang pernah menghinanya.

​Namun… di tengah segala persiapan mentalnya untuk menghadapi arena gladiator besok pagi, ada satu detail kecil namun vital yang terus mengganggu sudut pikiran Maya.

​Sebuah detail mengerikan yang membuatnya tak bisa bernapas tenang sejak terbangun semalam.

​Malam ini, ia harus kembali ke kontrakannya yang kumuh itu. Ia harus bersiap menghadapi hari esok. Dan yang paling penting sebelum ia tidur… ia harus mengecek kembali ‘kesepakatan’ biologis di dalam tasnya.

​Pukul sembilan malam.

​Hujan ringan membasahi atap asbes. Maya tiba di rumah kontrakannya yang kini terasa luar biasa luas, kosong, dan sepi tanpa kehadiran batuk ibunya.

​Begitu masuk, ia segera memutar gerendel dan mengunci pintu tripleks itu rapat-rapat.

​Langkahnya yang tergesa-gesa langsung tertuju pada lemari pakaian kayunya yang lapuk di sudut ruangan. Ia berlutut di lantai semen, membongkar paksa tumpukan baju bekasnya, dan mengeluarkan kotak hitam matte yang sedingin es tersebut.

​Ia membawanya dan meletakkannya di atas meja beton dapur, tepat di bawah cahaya lampu neon kuning yang berkedip suram.

​Tangannya sedikit bergetar saat ia mencari celah segel magnetik kotak tersebut.

Klik. Ia membukanya.

​Bantalan beludru hitam di dalamnya masih terasa selembut sebelumnya. Ketiga wadah kaca frosted dan botol serum itu masih tertata sangat rapi di tempatnya masing-masing.

​Maya mengulurkan tangannya. Ia mengambil jar kaca membulat ukuran besar yang ia gunakan semalam untuk mengubah secara massal seluruh kulit wajah, leher, dada, tulang selangka, dan lengannya. Wadah itu terasa lebih ringan.

​Ia memutar tutup logam peraknya perlahan. Ssssshhh.

​Saat tutup itu terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan isi di dalamnya, napas Maya seketika tertahan di tenggorokan.

​Matanya membelalak sangat lebar. Jantungnya mencelos jatuh menghantam perutnya.

​Semalam, saat ia menggunakannya dalam kepanikan dan rasa sakit, ia merasa hanya mencelupkan spatula obsidiannya beberapa kali. Ia mengambil beberapa olesan tebal. Karena jar kaca itu ukurannya cukup besar dan terlihat penuh, logika Maya mengira isinya akan cukup untuk digunakan sebagai ‘bahan perbaikan’ selama berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, jika ia hanya menggunakannya sedikit-sedikit di masa depan.

​Namun… kenyataan visual yang kini terpampang di depan matanya sangat membantah dan menghancurkan logikanya secara brutal.

​Isi gel kental berwarna putih mutiara di dalam jar itu… kini telah menyusut dengan sangat drastis.

​Nyaris setengah bagian dari volume gel berharga tersebut telah lenyap tanpa bekas. Meninggalkan rongga kosong yang menganga gelap di dalam dinding kaca buram tersebut.

​Pemakaian skala besar yang ia lakukan semalam untuk memahat seluruh wajah, memperbaiki struktur rahang, menarik leher, membentuk tulang selangka, dan menghaluskan lengan hingga ke siku ternyata mengonsumsi volume formula iblis itu dalam jumlah yang sangat rakus dan boros.

​Hanya dalam dua kali pemakaian singkat, setengah dari ‘nyawa cadangan’ di jar pertama ini sudah habis menguap.

​Kenyataan ini menghancurkan rasa aman Maya.

​Ia masih memiliki bagian perut, punggung, pinggul, dan kedua kakinya yang sama sekali belum ia ubah dan masih berwujud kusam. Belum lagi… persediaan gel mutiara ini mutlak harus ia simpan untuk masa depan. Jika sewaktu-waktu terjadi goresan yang merobek kulit porselennya, atau jika efek samping penyusutan daging itu menyerang tiba-tiba saat ia sedang bekerja seperti yang ia takutkan semalam, ia harus menggunakan gel ini untuk merajut kembali dagingnya.

​Mata Maya beralih ke sisa persediaan di dalam kotak itu.

​Ada dua wadah lain di dalam kotak beludru itu. Satu jar kaca berbentuk pipih yang ukurannya lebih kecil dari jar pertama, dan satu botol serum memanjang berisi cairan merah. Maya belum mengetahui sama sekali apa fungsi spesifik dari kedua benda cadangan tersebut.

​Jika formula gel perombakan di jar utama ini habis… apa yang akan terjadi pada tubuh manekinnya? Jika ia tidak bisa mendapatkan atau membeli produk ini lagi (karena ini jelas bukan barang yang dijual di toko), apakah dagingnya akan meleleh dan ia akan membusuk hidup-hidup?

​Rasa panik dan kengerian murni mulai merayap pelan bagaikan es yang menjalar menaiki tulang punggungnya.

​Maya mulai menyadari sebuah kutukan baru. Ia sedang berpacu dengan waktu. Ia harus menggunakan kecantikannya ini untuk memeras uang sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya, sebelum waktunya sebagai manusia atau persediaan gel ajaibnya ini benar-benar habis tak bersisa.

​Dengan tangan yang kembali bergetar, Maya menutup jar kaca itu rapat-rapat. Ia mengunci kotaknya dan menyembunyikannya kembali.

​Ia lalu berdiri menatap cermin retak di hadapannya di atas wastafel.

​Maya menatap wajah porselennya yang memukau dan sempurna. Ia menarik napas panjang berulang kali, mencoba menekan kepanikannya. Ia memaksakan sebuah senyum percaya diri yang sangat elegan, mencoba berlatih mengatur ekspresi mikro untuk menghadapi puluhan kamera di pemotretan besok.

​Ia menatap matanya sendiri lekat-lekat, mencoba memunculkan kembali tatapan dingin, mematikan, dan angkuh, tatapan ‘killer ‘ yang ia temukan di dalam studio Kiki kemarin siang. Tatapan yang akan membungkam Bu Ratna dan Sari besok pagi.

​Ia menahan posisinya selama lima detik.

​Ia tersenyum. Sangat sempurna. Cantik dan tak tersentuh.

​Setelah merasa cukup puas dengan latihan mentalnya, Maya membuang napas, menghilangkan senyum palsunya, memalingkan wajahnya dari cermin, dan memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk berjalan menuju area kasur.

​Namun…

​Tepat saat otot leher dan kepalanya sudah sepenuhnya berpaling dari arah cermin…

​Di sudut terluar matanya, dalam sepersekian milidetik yang fatal, sebelum pandangannya benar-benar terputus dari batas bingkai cermin kusam tersebut…

​Maya menangkap sebuah kejanggalan visual yang luar biasa gila. Sebuah fenomena yang membuat aliran darah di sekujur tubuhnya langsung membeku menjadi es.

​Pantulan bayangannya di dalam cermin retak itu… tidak ikut berbalik.

​Hanya selama kurang dari satu detik yang menghancurkan hukum fisika. Di saat tubuh asli Maya sudah memutar ke arah belakang, pantulan gadis porselen di dalam kaca cermin itu tetap berdiri kaku, menatap lurus ke arah depan (menatap ke arah punggung Maya di dunia nyata).

​Dan yang paling membuat jantung Maya serasa diremas… senyum anggun yang dipaksakan di wajah pantulan itu tidak menghilang. Sebaliknya, senyum di bibir pantulan itu perlahan-lahan melebar. Sangat, sangat lebar, hingga sudut bibir merahnya tertarik secara tidak wajar dan nyaris menyentuh tulang pipinya.

​Sebuah seringai iblis yang memiliki nyawanya sendiri.

​Maya menjerit tertahan, suara seraknya tertelan di tenggorokan.

​Didorong oleh refleks kepanikan murni, ia langsung menoleh dan memutar tubuhnya kembali ke arah cermin dengan sangat cepat.

​Cermin itu kembali normal.

​Hanya ada pantulan dirinya yang biasa. Pantulan seorang gadis yang sedang mematung dengan bahu menegang, mata terbelalak lebar memancarkan ketakutan absolut, dan postur yang sama persis dengan tubuh aslinya di dunia nyata.

​Tidak ada senyum mengerikan yang merobek pipi. Tidak ada pantulan yang membelakangi hukum alam. Tidak ada keterlambatan gerak (lag).

​Maya mundur perlahan dengan langkah terseret. Punggungnya membentur pintu kayu dengan keras. Napasnya tersengal-sengal liar, dadanya naik turun dengan kasar. Ia mengangkat tangannya yang dingin dan mengucek kedua matanya dengan kasar.

Itu cuma halusinasi. Pasti halusinasi karena mataku lelah, karena kurang tidur, dan karena syok mikirin obat Ibu, rapal Maya berulang-ulang di dalam hati, mencoba mati-matian meyakinkan akal sehatnya yang mulai tergerus teror.

​Namun, di dalam relung hatinya yang paling gelap dan paling jujur, Maya tahu kebenarannya.

​Kesepakatan yang ia buat dua malam lalu tidak hanya merombak daging, otot, dan struktur tulangnya. Kosmetik tanpa label itu menyimpan sebuah kutukan. Ada ‘sesuatu’ yang berdiam dan hidup di dalam formula tersebut. Sesuatu yang kini telah meresap dan menjadi satu dengan sel-sel kulit porselennya. Sesuatu yang kini sedang mengawasinya dari dalam cermin, menunggu dengan sangat sabar untuk mengambil alih kendali tubuhnya di saat yang paling tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.