SIMETRI BAB 18 ​~ Pergeseran Sikap

Bagi seorang Maya, pagi hari biasanya identik dengan rutinitas kemiskinan yang menyiksa.

​Pagi hari adalah suara denting panci aluminium yang berkarat. Bau minyak telon untuk menghangatkan dada ibunya. Dan dinginnya air keran kontrakan yang menusuk tulang.

​Namun hari ini… definisi pagi bagi seorang Maya telah dirombak ulang secara ekstrem.

​Pukul 06:00 pagi.

​Maya sudah duduk tegak di depan sebuah cermin raksasa. Cermin itu dibingkai oleh deretan lampu LED bulat yang terang benderang, terletak di dalam ruang rias eksklusif Elegance Model Management.

​Ia mengenakan jubah mandi berbahan sutra putih murni yang sangat lembut. Kain mahal itu membelai kulit porselennya dengan sebuah kelembutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​Di sekelilingnya, tiga orang penata rias (makeup artist) dan penata rambut profesional sedang sibuk bergerak ke sana kemari. Mereka menyiapkan berbagai palet warna, kuas-kuas berbulu halus, dan alat penata rambut elektronik.

​Kiki berdiri santai di belakang Maya. Pria modis itu menyesap kopi Americano dari gelas kertas bergambar logo gerai kopi terkenal.

​Mata Kiki tak lepas menatap pantulan Maya di cermin. Senyum bangga tak pernah luntur dari wajahnya.

​”Aduh, sumpah ya, eike bener-bener nggak habis pikir sama tekstur kulit kamu ini, May,” celoteh Kiki riang, menyentuh lembut bahu bersudut Maya.

​Kiki menoleh pada kepala penata riasnya. “Gita, coba deh kamu perhatiin baik-baik. Eike berani taruhan seratus juta tunai, anak ini nggak butuh foundation sama sekali!”

​Gita, sang kepala penata rias yang kebetulan baru saja memegang botol alas bedak cair dari merek Prancis seharga jutaan rupiah, menghentikan gerakannya.

​Wanita itu menunduk, mengamati kulit wajah Maya dari jarak hanya beberapa sentimeter. Matanya berbinar takjub tak percaya.

​”Bener banget, Bos Kiki. Ini gila sih,” ucap Gita, meletakkan kembali botol mahal itu ke atas meja rias.

​Gita menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Pori-porinya nyaris nggak kelihatan. Nol besar. Tekstur kulitnya rata sempurna, warnanya cerah sehat, lembapnya pas banget. Kalau aku paksa timpa pakai foundation, malah bakal merusak kilau aslinya.”

​Gita menatap mata Maya melalui cermin.

​”Maya, kamu beneran nggak pernah perawatan laser di klinik estetika Swiss atau semacamnya? Sumpah, ini tuh kulit impian semua wanita di bumi, tahu nggak?” tanya Gita penasaran.

​Maya menundukkan pandangannya sedikit. Itu adalah sebuah refleks lama dari kasta bawahnya yang masih tersisa.

​Ia kemudian memaksakan sebuah senyum tipis yang anggun. “Enggak, Mbak Gita. Saya belum pernah ke klinik perawatan mana pun. Saya cuma… rajin cuci muka aja pakai air bersih.”

Dan menggunakan ekstrak tulang dan daging entah milik siapa dari sebuah kotak hitam iblis, tambah Maya dalam hati nuraninya yang kelam.

​Namun, ia berhasil mengunci pikiran berdarah itu rapat-rapat. Pagi ini, ia tidak ingin mengingat genangan hitam berbau anyir di kamar mandinya. Ia menolak mengingat mimpi buruk tentang wajah yang meleleh yang merobek kewarasannya semalam.

​Pagi ini, fokusnya hanya satu, menaklukkan dunia yang dulu menginjak-injaknya tanpa ampun.

​”Yaudah, karena kanvas kulitnya udah flawless dari sananya, kita main di riasan mata sama bibir aja hari ini,” instruksi Kiki sambil menepuk tangannya sekali, memecah lamunan Maya.

​”Konsep klien kita hari ini kan City Glamour, Git. Jadi kita bikin Maya kelihatan elegan, mahal tak tersentuh, tapi tetap edgy dan dingin,” lanjut Kiki. “Kerjain yang cepat ya, Girls. Jam delapan teng kita udah harus standby di lokasi pemotretan.”

​Proses periasan itu memakan waktu tepat satu jam. Saat semuanya selesai, Maya nyaris tak bisa mengenali pantulan dirinya sendiri.

​Rambut hitamnya yang biasanya kusam, lepek, dan diikat asal-asalan menggunakan karet gelang… kini telah di-blow dan ditata lurus memanjang. Rambut itu jatuh tergerai seperti tirai sutra hitam yang membingkai sempurna wajah ovalnya.

​Alisnya dibentuk tegas. Matanya diberi riasan bernuansa cokelat hangat yang memanipulasi tulang alisnya, membuat tatapan elang Maya terlihat semakin dalam, tajam, dan mematikan. Bibir penuhnya dipoles dengan lipstik berwarna merah bata matte yang sangat elegan.

​Pakaian yang disiapkan oleh penata gaya (stylist) adalah sebuah mahakarya.

​Maya mengenakan sebuah gaun blazer asimetris berwarna putih tulang. Pakaian itu dipadukan dengan ikat pinggang kulit hitam tebal yang mempertegas lekuk pinggangnya yang sangat ramping.

​Sepatu bot karet kuningnya yang kusam dan bau karbol telah lenyap. Digantikan oleh sepasang sepatu hak tinggi (stiletto) kulit berwarna hitam mengkilap setinggi dua belas sentimeter.

​Ketika Maya berdiri dari kursi riasnya, seluruh orang di ruangan itu terdiam sejenak. Hening.

​Kiki menutupi mulutnya dengan tangan, menarik napas panjang yang dramatis.

​”Maya… kamu bukan lagi manusia biasa, Sayang. Kamu ini senjata pemusnah massal,” bisik Kiki takjub. “Siap-siap bikin serangan jantung masal buat semua bos-bos songong di mal tempat kamu kerja dulu.”

​Pukul 07:30 pagi.

​Maya, Kiki, dan tim produksi agensi berangkat menuju Grand Atrium Mall. Mereka menaiki sebuah mobil van mewah Toyota Alphard  berwarna hitam mengkilap dengan kaca gelap.

​Di dalam mobil yang ber-AC sangat sejuk dan beraroma lavender itu, Maya duduk di kursi kulit captain seat yang luar biasa empuk. Ia menatap keluar melalui kaca jendela.

​Di luar sana, jalanan ibu kota Jakarta sudah mulai macet total oleh lautan kendaraan para pekerja.

​Maya melihat antrean panjang orang-orang dengan wajah lelah di halte bus TransJakarta. Ia melihat orang-orang yang berdesakan di dalam angkot tanpa AC, mengelap keringat mereka dengan tisu kusam, persis seperti yang ia lakukan kemarin pagi.

​Hanya beberapa hari yang lalu, ia adalah bagian tak terpisahkan dari mereka.

​Berdiri di pinggir jalan berdebu, menghitung recehan ongkos agar bisa pulang, dan dihina oleh ibu-ibu tetangga.

​Kini, ia duduk di atas kursi berlapis kulit mewah, dihormati oleh semua staf elit di sekelilingnya, dengan uang puluhan juta tunai yang telah berhasil menyelamatkan nyawa ibunya dari cengkeraman maut.

Dunia ini memang tidak pernah adil, pikir Maya, matanya memantulkan bayangan jalanan yang bergerak cepat. Dan aku tidak lagi berniat untuk menjadi pihak yang berada di sisi korban ketidakadilan tersebut.

​”Udah siap mental, Sayang?” tanya Kiki, memecah keheningan di dalam kabin mobil. Pria modis itu sibuk memeriksa susunan jadwal di komputer tabletnya.

​”Balik ke tempat kerja lama, tapi sebagai ratu VVIP. Rasanya pasti agak surreal kan, May?” goda Kiki sambil tersenyum miring.

​”Saya siap, Kak Kiki,” jawab Maya mantap. Matanya tak beralih dari jendela. “Sangat siap.”

​Tepat pukul delapan kurang sepuluh menit, van hitam mewah itu berbelok memasuki area drop-off lobi utama Grand Atrium Mall.

​Itu adalah area penurunan penumpang yang biasanya hanya dan mutlak diperuntukkan bagi tamu VVIP, direksi, dan pejabat negara. Cleaning service bahkan dilarang keras melintas di area tersebut.

​Saat pintu otomatis van itu bergeser terbuka, seorang petugas keamanan mal yang berseragam rapi dan memegang HT bergegas mendekat. Maya sangat ingat wajah pria itu. Pria itu bernama Pak Herman, satpam lobi yang galak.

​Pak Herman membukakan pintu dengan sikap membungkuk sangat hormat.

​”Selamat pagi, Ibu, silakan—”

​Ucapan ramah Pak Herman terputus seketika di tenggorokan.

​Satpam itu mendongak dan menatap wajah gadis yang baru saja melangkah turun dari kabin mobil mewah tersebut. Mata Pak Herman membelalak sangat lebar. Mulutnya sedikit terbuka, nyaris tak percaya.

​Ia seolah mengenali struktur rahang dan mata gadis itu. Namun otak logisnya menolak mentah-mentah untuk percaya. Bahwa gadis bidadari berbalut barang desainer mahal ini adalah Maya. Si cleaning service pudar dan kuyu yang dua hari lalu masih ia bentak karena terlambat membuang sampah lobi.

​”S-selamat… pagi…” gagap Pak Herman, mundur selangkah karena terintimidasi aura Maya.

​Maya tidak memedulikan tatapan syok satpam tersebut. Ia tidak menunduk.

​Ia melangkah turun dengan sangat anggun. Suara ketukan sepatu stiletto hak tingginya menghantam lantai marmer lobi, bergemuruh halus namun tajam. Sebuah irama dominasi yang jauh berbeda dari decit sepatu bot karet kusamnya dulu.

​Begitu ia melangkah masuk ke lobi utama yang luas, hawa dingin AC sentral langsung menyambutnya.

​Aroma kopi mahal dari Starbucks dan wangi amonia pembersih lantai yang biasa ia hirup… kini terasa berbeda maknanya. Dulu, ia mencium aroma karbol itu sebagai seorang pekerja kelas bawah yang ditugaskan untuk membersihkannya. Kini, ia menciumnya sebagai seseorang yang levelnya berada jauh di atas, yang akan dilayani di atas lantai mengkilap tersebut.

​Di tengah atrium utama, sebuah set pemotretan berskala menengah telah didirikan oleh tim produksi dari jenama kosmetik klien Kiki.

​Ada karpet putih bersih yang digelar, deretan kursi lipat kanvas untuk kru, layar pantul cahaya reflector raksasa, dan beberapa meja kaca elegan yang memajang produk kosmetik terbaru.

​Beberapa pekerja kebersihan berseragam biru pudar terlihat sedang sibuk mengepel area di sekitar set tersebut. Mereka diperintahkan untuk memastikan lantai marmer itu mengkilap sempurna sebelum bintang utamanya datang.

​Maya berjalan berdampingan dengan Kiki, diikuti oleh tim penata rias dan asisten di belakangnya. Kedatangan rombongan elegan yang memancarkan aura artis papan atas itu langsung menarik perhatian absolut semua orang di lantai dasar mal.

​Saat jarak rombongan mereka semakin dekat dengan area karpet putih set pemotretan, salah satu petugas kebersihan yang sedang berjongkok mengepel pinggiran set, mengangkat kepalanya.

​Itu adalah Yuni.

​Dan berdiri di sebelah Yuni, memegang pengki plastik dengan wajah polosnya yang khas, adalah Rani.

​Rani adalah orang pertama dari barisan pekerja biru itu yang menyadari kehadiran Maya. Gadis berpipi tembam itu melepaskan pegangan sapunya.

Brak! Sapu plastiknya jatuh berdebum ke lantai marmer.

​”M-Maya…?” panggil Rani tanpa sadar. Suaranya melengking menembus kebisingan musik mal, sarat akan ketidakpercayaan yang murni.

​Yuni ikut menoleh, mulutnya menganga lebar.

​Beberapa staf toko barang mewah di sekitar atrium yang sedang bersiap membuka gerai mereka juga menghentikan aktivitas. Semua mata, dari segala kasta di ruangan itu, kini tertuju tajam pada gadis bergaun putih tulang yang berjalan bagaikan dewi penguasa melintasi catwalk.

​Maya menoleh ke arah Rani.

​Gadis porselen itu menyunggingkan sebuah senyum ke arah sahabatnya. Sebuah senyum tipis yang luar biasa tulus, sebelum sedetik kemudian ia kembali mengunci otot wajahnya, memasang ekspresi profesional The Fierce Unknown yang sangat dingin.

​Maya melangkah naik ke atas karpet putih area pemotretan.

​Klien dari jenama kosmetik tersebut seorang wanita karier modis berdandan chic langsung menghampiri Kiki dan Maya dengan wajah berbinar-binar penuh pemujaan.

​”Ya ampun, Kiki! Pilihan casting-mu emang nggak pernah salah!” puji sang klien sambil menyalami tangan Maya dengan penuh antusiasme. “Aslinya jauh lebih cantik, lebih elegan, dan stunning daripada foto test-shoot yang kamu kirim kemarin malam!”

​”Halo, Maya. Kenalkan, saya Sandra, direktur pemasaran brand ini. Selamat bergabung dengan keluarga besar kami, ya,” sapa klien itu ramah.

​”Terima kasih banyak, Ibu Sandra,” jawab Maya. Nada suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar elegan, tenang, dan berkelas.

​Saat Maya sedang berbincang ringan dengan Sandra, suara derap langkah sepatu pantofel hak tinggi yang kasar dan terburu-buru terdengar mendekat dari arah lorong eskalator.

​”Permisi! Tolong minggir semuanya! Ini area kerja saya! Jangan halangi jalan!”

​Seruan suara wanita paruh baya itu sangat familiar di telinga Maya. Suara yang selalu menjadi sumber mimpi buruknya.

​Itu adalah Bu Ratna.

​Manajer operasional kebersihan itu berjalan setengah berlari membelah kerumunan. Wajahnya terlihat sangat tegang dan panik.

​Di belakang Bu Ratna, mengekor dua orang supervisor kebersihan pria, dan tentu saja… Sari serta Icha yang membawa alat pel basah.

​Bu Ratna rupanya baru saja mendapat laporan darurat dari radio komunikasinya bahwa ada tamu VIP dan ‘artis’ untuk pemotretan yang sudah tiba lebih awal di atrium utama. Ia ingin memastikan secara langsung bahwa area tersebut bersih sempurna, murni agar ia bisa mencari muka pada pihak manajemen mal dan klien yang menyewa tempat.

​”Selamat pagi, Ibu-ibu, Bapak-bapak dari tim produksi,” sapa Bu Ratna. Nada suaranya mendadak dibuat semanis madu. Senyum lebar yang sangat menjilat dan dipaksakan mengembang di wajahnya yang berkeringat.

​Bu Ratna berjalan menunduk menghampiri Sandra dan Kiki.

​”Perkenalkan, saya Ratna, Manajer Operasional mal ini,” ucap Bu Ratna ramah. “Jika ada kotoran sekecil apa pun di karpet ini, atau butuh bantuan tenaga kebersihan tambahan, tolong langsung panggil saya saja. Kami dari manajemen ingin memastikan artis Anda merasa sangat nyaman selama—”

​Bu Ratna memutar tubuh tambunnya untuk menyapa sang “artis” utama yang sedang berdiri membelakanginya, yang saat ini sedang melihat ke arah layar monitor fotografer.

​”Selamat pagi, Mbak artis, perkenal—”

​Maya memutar tubuhnya secara perlahan. Sepatu stiletto hak tingginya berporos dengan sangat anggun di atas karpet putih.

​Maya menatap lurus, tajam, dan langsung ke manik mata Bu Ratna.

​Senyum manis dan menjilat di wajah Bu Ratna… seketika membeku.

​Lalu, dalam sepersekian detik, senyum palsu itu hancur lebur berkeping-keping menjadi serpihan kengerian yang absolut. Warna darah di wajah wanita paruh baya itu menguap secepat tetesan air yang jatuh di atas wajan menyala. Kulitnya pucat pasi bagai mayat.

​Tangan Bu Ratna yang tadinya terulur sopan untuk bersalaman, kini menggantung kaku di udara dengan canggung. Jari-jarinya gemetar hebat.

​Matanya membelalak tak percaya. Ia mengenali struktur tulang hidung itu. Ia mengenali kacamata selotip yang kemarin pagi masih bertengger di wajah gadis ini. Kacamata yang kini telah tiada, digantikan oleh riasan mewah dan tatapan mata elang yang luar biasa dingin, angkuh, dan menusuk jantungnya.

​”M-Maya…?” desis Bu Ratna. Suaranya sangat kecil, bergetar, nyaris seperti embusan napas orang tercekik.

​Kemarin pagi di ruang ganti, Bu Ratna memang sudah melihat wajah mulus porselen Maya. Namun saat itu, Maya masih mengenakan seragam biru pudar yang membuatnya terlihat seperti seorang bawahan yang kebetulan berwajah cantik. Bu Ratna masih memiliki kuasa atasnya.

​Namun hari ini… konteksnya telah dirombak total.

​Maya berdiri di hadapannya bukan sebagai bawahan yang gajinya bisa ia tahan sesuka hati. Maya berdiri berbalut pakaian desainer jutaan rupiah, dilayani oleh puluhan kru profesional, dikontrak dengan harga ratusan juta, dan berstatus sebagai tamu VVIP (Very Important Person ) yang harus Bu Ratna layani dan hormati.

​Hierarki kekuasaan di antara mereka berdua baru saja diputarbalikkan secara brutal oleh semesta.

​Di belakang Bu Ratna, reaksi yang jauh lebih ekstrem sedang terjadi.

​Sari, yang tadinya berdiri bersedekap dada dengan wajah arogan dan bosan, kini mematung kaku bagaikan disambar petir di siang bolong.

​Mulut wanita dominan itu tertutup sangat rapat, namun otot rahangnya menonjol keras karena ia menggigit bagian dalam bibirnya dengan sangat kuat hingga nyaris berdarah. Matanya yang memerah menatap Maya dari bawah ke atas. Kebencian murni, rasa iri yang membakar usus, dan rasa malu yang meremukkan harga dirinya mendidih di dalam dada Sari.

​Icha yang memegang alat pel di sebelahnya hanya bisa menelan ludah berkali-kali, tak berani menatap wajah Maya terlalu lama karena merasa sangat inferior.

​”Selamat pagi juga, Bu Ratna,” balas Maya.

​Suara Maya mengalir sangat jernih, tenang, dan luar biasa dingin. Tidak ada nada dendam yang meledak-ledak. Tidak ada teriakan marah. Ketenangannya yang absolut itu justru menjadi pisau bedah yang paling menyayat harga diri sang manajer operasional.

​”Terima kasih atas sambutan manisnya. Sebuah kehormatan bagi saya bisa kembali menginjakkan kaki di Grand Atrium Mall,” lanjut Maya, tersenyum miring penuh ironi.

​Sandra, sang klien kosmetik, memandang keduanya secara bergantian dengan kening berkerut bingung. “Lho, kalian berdua sudah saling kenal?”

​Kiki, yang mengetahui seluruh sejarah kelam penderitaan Maya dari cerita singkat mereka di mobil, tersenyum miring yang sangat tajam. Ia menyentuh lengan Sandra pelan.

​”Oh, mereka sangat kenal dekat lho, San,” sahut Kiki dengan nada ceria yang mematikan. “Maya ini dulu adalah anak emas, kesayangan di departemen kebersihannya Bu Ratna. Iya kan, Bu Manajer yang baik hati?”

​Pertanyaan Kiki adalah sebuah jebakan sindiran yang sangat terang-terangan dan tajam.

​Bu Ratna gelagapan. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai merembes membasahi keningnya.

​Sebagai seorang manajer yang oportunis sejati, insting bertahan hidup Bu Ratna langsung bekerja. Ia sangat tahu bahwa jika Maya membuka mulut dan membongkar perlakuannya yang semena-mena, pemerasan gaji, dan penamparan di depan klien VVIP ini… manajemen pusat mal bisa saja langsung memecatnya hari ini juga karena dianggap merusak hubungan baik dengan penyewa besar.

​Dalam sepersekian detik yang memalukan itu, Bu Ratna menelan ludah dan membuang seluruh sisa harga dirinya ke dalam tong sampah. Kemunafikan manusia bekerja dengan sangat luar biasa ketika berada di bawah tekanan ketakutan.

​”O-oh! Tentu… tentu saja kami kenal baik!” seru Bu Ratna tiba-tiba.

​Suaranya dibuat satu oktaf lebih tinggi, mencoba terdengar ceria dan bersahabat, meskipun tawa yang keluar dari mulutnya terdengar sangat sumbang dan bergetar.

​Bu Ratna melangkah maju dengan tergesa-gesa. Dan tanpa disangka-sangka oleh siapa pun, wanita paruh baya itu meraih kedua tangan Maya. Ia menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat, bertingkah seolah mereka adalah sepasang ibu dan anak kandung yang baru saja bertemu kembali setelah berpisah puluhan tahun.

​”Ya ampun, Maya, anakku sayang! Ibu benar-benar pangling lihat kamu pagi ini!” puji Bu Ratna dengan suara lantang.

​Ia sepenuhnya mengabaikan fakta logis bahwa baru beberapa hari yang lalu ia membentak Maya, menamparnya di depan sosialita, menahan gajinya, dan mengancam akan membuangnya ke jalanan.

​”Kamu luar biasa cantik, Maya!” racau Bu Ratna mencari aman. “Ibu dari dulu sudah tahu… dari dulu Ibu selalu bilang ke supervisor lain, kalau anak ini punya potensi besar, punya aura bintang rasi atas! Makanya Ibu selalu keras sama kamu pas kerja, biar kamu mentalnya kuat terbentuk kayak baja kalau masuk dunia artis!”

​Mendengar gaslighting murahan dan tak tahu malu yang keluar dari mulut Bu Ratna, beberapa karyawan kebersihan di sekitar mereka termasuk Rani dan Yuni saling pandang dengan ekspresi jijik yang tak ditutupi. Mereka semua tahu persis bagaimana kekejaman Bu Ratna memperlakukan Maya layaknya binatang peliharaan yang penyakitan selama ini.

​Namun, Maya sama sekali tidak menarik tangannya yang digenggam.

​Ia membiarkan Bu Ratna menggenggamnya. Ia menatap mata wanita paruh baya itu dalam-dalam, membiarkan Bu Ratna menikmati rasa malu, kepanikan, dan ketakutan yang terselubung di balik senyum palsunya yang bergetar.

​”Begitukah, Bu Ratna?” balas Maya.

​Nada suaranya sangat pelan, tajam, dan hanya bisa didengar oleh mereka berdua serta Kiki yang berdiri di dekatnya.

​”Terima kasih banyak atas ‘didikan keras’ Ibu yang membuat gaji bulanan saya ditahan dan dihanguskan dua bulan penuh… hanya untuk membayar tas Hermès dan gaun Dior milik Tante Sisca yang bahkan tidak pernah saya sentuh sedikit pun.”

​Senyum palsu di wajah Bu Ratna langsung berkedut parah. Tubuhnya menegang kaku layaknya papan kayu. Ia merasa seolah ada bilah pedang es yang sedang dikalungkan erat di lehernya oleh Maya.

​”I-itu… itu cuma salah paham operasional, Maya sayang,” bisik Bu Ratna memelas, matanya memancarkan kepanikan absolut.

​Ia memohon pengampunan, rela menjilat ludahnya sendiri dan merendahkan martabatnya demi menyelamatkan jabatannya dari laporan klien.

​”Nanti… nanti Ibu sendiri yang akan ganti uang tas Hermès itu pakai uang tabungan Ibu sendiri. Kamu nggak usah khawatir soal gajimu, ya?” bujuk Bu Ratna dengan napas memburu. “Yang penting sekarang, kamu udah sukses. Ibu bangga banget sama kamu, Nak. Kamu haus? Kamu mau minum apa? Ibu suruh anak-anak belikan kopi hangat yang mahal dari Starbucks depan ya?”

​Bu Ratna melepaskan genggaman tangannya dari Maya. Ia berbalik menatap bawahannya dengan panik. Matanya langsung tertuju pada Sari yang masih berdiri mematung kaku di barisan belakang.

​”Sari! Ngapain kamu bengong di situ kayak patung pajangan?!” bentak Bu Ratna.

​Ia kembali menggunakan nada otoriternya yang galak pada bawahannya. Bu Ratna melampiaskan rasa malunya dan kepanikannya pada Sari di depan umum.

​”Cepat kamu lari ke kedai kopi di depan sana! Belikan Maya kopi yang paling enak dan mahal, pakai uang saya ini!” perintah Bu Ratna, melemparkan selembar uang seratus ribu ke dada Sari.

​”Dan kalian berdua, Icha! Cepat jongkok, lap bagian lantai marmer di dekat kursi makeup Maya! Jangan sampai ada setitik debu pun yang nempel di sepatu mahal Maya! Cepat gerak!”

​Mendengar perintah itu, darah Sari seakan berhenti mengalir sepenuhnya. Urat di pelipisnya menonjol keras hingga nyaris meledak.

​Menyuruhnya berlari membelikan kopi untuk Maya? Menyuruh sahabatnya, Icha, berjongkok mengelap debu di ujung sepatu Maya?

​Ini adalah sebuah penghinaan sosial absolut yang melampaui batas kewarasannya. Sari adalah orang yang selama bertahun-tahun sengaja menumpahkan sabun, melempar sampah kuaci, dan memerintah Maya untuk menjilat lantai membersihkan kotorannya. Kini, hukum karma menamparnya. Ia disuruh melayani gadis kampungan itu bagai pembantu, disaksikan oleh puluhan mata kru produksi artis dan ratusan pengunjung mal.

​Sari menatap lurus ke arah Maya dengan napas yang memburu karena benci.

​Maya membalas tatapan itu dengan sangat tenang.

​Maya tidak tersenyum mengejek. Maya tidak tertawa menang. Ia juga tidak memalingkan wajahnya.

​Maya hanya menatap mata Sari dengan tatapan dingin nan kosong dari seorang pemenang, yang bahkan sudah tidak lagi menganggap keberadaan Sari sebagai sebuah ancaman yang layak untuk direspons emosinya.

​Tatapan kosong meremehkan itu… jauh lebih menyakitkan bagi ego Sari daripada sebuah tamparan fisik.

​”Sari! Kamu dengar perintah saya tidak?! Atau mau saya pecat kamu sekarang juga?!” tegur Bu Ratna lagi dengan suara melengking karena Sari tak kunjung bergerak mengambil uangnya.

​Dengan tangan yang bergetar hebat menahan amarah yang menghancurkan jiwanya, Sari menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​”B-baik, Bu Ratna… Saya belikan sekarang,” desis Sari parau, memungut uang itu dari lantai.

​Wanita itu berbalik dengan gerakan kaku seperti robot, menghentakkan kakinya menjauh dari area pemotretan menuju kedai kopi. Di belakangnya, Icha buru-buru mengambil kain pelnya dan mulai berlutut mengelap area di sekitar karpet putih, wajahnya menunduk dalam menahan malu, tak berani mengangkat mata pada Maya.

​Maya menarik napas panjang. Ia membiarkan Bu Ratna yang terus meracau mencari muka mengoceh di dekatnya tanpa direspons. Ia menoleh ke arah kamera, bersiap untuk memulai pemotretan profesional pertamanya.

​Balas dendam yang paling mematikan memang bukanlah membalas hinaan dengan kebencian dan teriakan. Melainkan membuktikan dalam diam, bahwa orang yang dulu menghinamu… kini harus membungkuk sangat rendah hanya untuk melayanimu.

​Tiga jam berlalu. Sesi pemotretan komersial itu berjalan dengan sangat luar biasa sukses.

​Maya membuktikan dirinya sebagai mutiara hitam yang mematikan di industri tersebut. Ia menyerap setiap arahan fotografer dengan sangat cepat. Ia tahu secara insting bagaimana menonjolkan rahang tirusnya, bagaimana menggunakan tatapan dingin penderitaannya untuk membuat produk brand kosmetik yang diiklankan terlihat sangat premium dan tak tersentuh.

​Area atrium lantai dasar itu perlahan menjadi sesak. Dipenuhi ratusan pengunjung mal yang rela berdiri berjam-jam hanya untuk menonton proses pemotretan. Mereka semua terpesona dan terhipnotis oleh gadis tanpa nama yang tiba-tiba muncul bagaikan bintang jatuh di tengah-tengah mereka.

​Dari kejauhan… tersembunyi di lantai dua mal.

​Tepatnya di area koridor yang agak sepi di dekat toilet VIP, sepasang mata terus mengamati gerak-gerik Maya tanpa berkedip sedikit pun.

​Sari berdiri menyandar di balik pilar pualam tebal.

​Di tangannya, ia memegang segelas es kopi mahal yang tadi ia belikan untuk Maya, namun tak pernah ia berikan karena egonya menolak menyerahkannya. Es di dalam gelas plastik itu telah mencair sepenuhnya.

​Sari meremas gelas plastik itu kuat-kuat dengan kuku-kukunya. Minuman kopi itu meluap keluar dari tutupnya, menetes membasahi tangannya dan mengotori lantai, namun ia sama sekali tidak peduli.

​Matanya yang memerah tak lepas dari sosok Maya yang sedang asyik berpose di bawah sana.

​Kebencian di dalam hati Sari telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap, beracun, dan berbahaya. Itu bukan lagi sekadar rasa iri hati antar wanita karena kalah cantik.

​Ini adalah sebuah obsesi yang mematikan. Egonya yang hancur lebur di depan umum tadi pagi menuntut sebuah pembalasan dendam yang setimpal.

​”Nggak mungkin,” bisik Sari pada dirinya sendiri.

​Suaranya mendesis pelan seperti ular derik yang siap mematuk di tengah kesunyian lorong. Gigi-giginya bergemeretak keras.

​”Nggak mungkin ada orang miskin yang bisa berubah wujud sesempurna dan semulus itu… cuma dalam waktu kurang dari dua hari.”

​Otak licik Sari mulai bekerja keras. Ia menyusun kepingan teka-teki dari setiap serpihan informasi dan observasi yang ia kumpulkan.

​Sari bukanlah gadis polos yang gampang ditipu seperti Rani. Dan ia bukanlah orang tua lugu yang gampang dibohongi oleh cerita casting jalanan seperti Pak Agus.

​Sari adalah wanita kota yang sangat sering keluar masuk klinik kecantikan murah, ia sangat paham tentang prosedur bedah plastik, proses tanam benang, suntik botox, hingga terapi suntik putih. Ia tahu proses medis.

​”Luka sayatan operasi plastik tulang rahang itu butuh waktu berbulan-bulan buat sembuh total,” gumam Sari pelan, matanya menyipit penuh kecurigaan analitis. “Bengkak memarnya aja butuh waktu berminggu-minggu buat kempes. Apalagi operasi hidung. Tapi dia… dia nggak ada bengkak sama sekali. Nggak ada perban. Kulitnya mulus rapet tanpa ada satu pun bekas luka jahitan.”

​Sari mengingat kejadian dua hari yang lalu. Maya masih berwajah kampungan, kusam, pesek, dan asimetris.

​Sari juga ingat betul, dengan sangat rinci, bagaimana Maya menangis terisak-isak diam-diam di tangga darurat karena seluruh gajinya ditahan oleh Bu Ratna. Maya tidak punya uang sama sekali. Bahkan untuk beli obat ibunya pun Maya harus mengemis.

​Lalu… bagaimana secara logika, seorang gadis miskin yang tidak punya uang sepeser pun, bisa mendapatkan prosedur operasi plastik tingkat dewa, tanpa melalui masa pemulihan medis, dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam?

​”Ada yang nggak beres. Ini nggak natural,” desis Sari, matanya berkilat memancarkan kelicikan murni. Senyum miring yang menakutkan kembali terbentuk di sudut bibirnya yang dilapisi lipstik pudar. “Dia pasti pakai sesuatu yang ilegal. Sesuatu yang sangat rahasia dan disembunyikan dari semua orang.”

​Rasa penasaran yang tinggi dan kedengkian yang membara menyatu di dalam dadanya, memberikan Sari sebuah tujuan hidup baru.

​Ia tidak akan hanya duduk diam di pojokan sambil melihat Maya merebut semua perhatian dunia dan menghancurkan harga dirinya.

Jika aku tidak bisa mengalahkan kecantikan si Maya secara fisik, maka aku harus menghancurkan fondasi kecantikannya itu dari dalam, batin Sari merencanakan. Aku harus menemukan rahasia apa di balik perubahan instan tersebut. Aku harus mencari tahu barang apa yang sebenarnya digunakan oleh gadis kampungan itu.

​”Tunggu aja tanggal mainnya, May,” bisik Sari ke arah atrium bawah. Ia membuang gelas kopi yang ia remas itu dengan kasar ke dalam tong sampah terdekat.

​”Lo boleh sombong dan senyum-senyum di depan kamera hari ini. Lo boleh jadi ratu sehari. Tapi gue janji, gue bakal kuliti semua kebohongan dan topeng lo. Gue bakal cari tahu kelemahan lo, dan saat gue nemuin rahasia lo itu… gue bakal hancurin lo sampai lo ngemis-ngemis minta mati di depan kaki gue.”

​Sari membalikkan badannya. Ia berjalan menjauh dari balkon kaca.

​Langkah pantofelnya kini tidak lagi terdengar seperti orang yang baru saja kalah dan dipermalukan. Melainkan, langkah itu terdengar mengancam, seperti langkah seorang penguntit psikopat yang sedang bersiap menggali kuburan untuk musuh terbesarnya.

​Ia bertekad bulat untuk mulai menguntit Maya. Menyelidiki isi loker ruang gantinya. Memeriksa tasnya. Dan jika perlu, ia akan membuntuti gadis itu hingga ke rumah kontrakannya di perkampungan kumuh tersebut.

​Bayangan kehancuran Maya adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Sari kembali tersenyum hari ini.

​Pergeseran sikap masal di Grand Atrium Mall hari ini memang telah menciptakan seorang bidadari porselen yang dipuja. Namun di saat yang bersamaan, ketidakadilan itu juga telah melahirkan seekor monster pendendam yang kini mengintai diam-diam dari dalam bayang-bayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.