SIMETRI BAB 19 ​~ Cermin Retak

​Kilatan cahaya flash terakhir menyambar seiring dengan seruan napas lega dari Rio.

​”Bungkus! Selesai! Sumpah, ini gila banget!” teriak sang fotografer gondrong itu.

​Rio menurunkan kamera DSLR-nya dengan dada naik turun. Sesi pemotretan perdana Maya yang memakan waktu nyaris empat jam tanpa henti akhirnya berakhir.

​Di tengah atrium utama Grand Atrium Mall, tempat yang selama bertahun-tahun hanya menjadi saksi bisu penderitaan dan air matanya, Maya kini berdiri tegak sebagai pusat gravitasi absolut.

​Tepuk tangan riuh dan siulan kagum pecah seketika. Menggema dari tim produksi, klien, dan puluhan pengunjung mal yang rela berdiri berdesakan berjam-jam di balik garis pembatas beludru merah hanya untuk menontonnya.

​”Luar biasa! Maya, kamu benar-benar menghidupkan produk kami!” seru Sandra.

​Direktur pemasaran jenama kosmetik itu berlari kecil mendekati set. Ia memeluk Kiki dengan penuh kegembiraan, tak henti-hentinya menatap Maya dengan kekaguman. “Aura elegan dan dinginnya itu lho, Ki! Mematikan! Nggak salah aku setuju bayar mahal buat booking anak ini dadakan.”

​Maya mengembuskan napas panjang. Ia membiarkan postur bahu high fashion-nya yang kaku sedikit mengendur.

​Gadis porselen itu tersenyum tipis ke arah kerumunan penonton. Ia memberikan sebuah anggukan kecil yang elegan. Gestur sederhana itu langsung dibalas dengan rentetan jepretan kamera ponsel yang menyilaukan dari para pengunjung.

​”Sempurna, Sayang! Absolutely flawless!” Kiki berlari menghampirinya.

​Pria nyentrik itu menyodorkan sebotol air mineral dingin yang berembun ke tangan Maya. Kiki menepuk-nepuk bahu porselen Maya dengan raut wajah bangga bak seorang ayah yang melihat anaknya juara dunia.

​”Minum dulu, Supermodel,” ucap Kiki. “Klien kita puas banget sama kerjaan kamu hari ini, May.”

​Maya menerima botol air itu. Tangannya sedikit gemetar karena sisa adrenalin yang masih memompa darahnya. “Terima kasih banyak, Kak Kiki. Semuanya bener-bener berkat Kakak. Kalau Kakak nggak kasih kartu nama kemarin…”

​”Sst! Berkat tulang rahang dan tatapan maut kamu, Sayang,” koreksi Kiki cepat, meletakkan telunjuk di depan bibirnya sambil mengedipkan sebelah mata.

​Kiki lalu mencondongkan wajahnya, berbisik dengan nada konspirasi. “Kamu tahu nggak? Mereka mau pakai foto close-up kamu hari ini untuk billboard raksasa di sepanjang jalan Sudirman bulan depan lho! Kontrak eksklusif kamu dijamin aman, May. Agensi eike pasti bakal kebanjiran tawaran komersial buat kamu mulai minggu depan. Kita bakal panen miliaran!”

​Mendengar kata miliaran, Maya tersenyum tulus.

​Kiki kemudian melirik tajam ke arah koridor pualam di ujung atrium, tepat di tempat Bu Ratna dan para cleaning service tadi dikumpulkan.

​”Ngomong-ngomong, ke mana perginya bos manajer kamu yang galak itu?” dengus Kiki sinis. “Tadi eike lihat dia udah ngilang pas pertengahan shoot.”

​”Mungkin beliau sibuk di ruangannya, Kak,” jawab Maya datar. Ia tahu Bu Ratna pasti bersembunyi di kantornya karena tak sanggup lagi menahan rasa malu dan ketakutan melihat Maya bersinar.

​”Baguslah kalau dia sadar diri,” Kiki mengibaskan tangannya. “Yaudah, kamu sekarang ke ruang VVIP, ganti baju kamu. Abis itu eike suruh supir pribadi agensi buat drop kamu ke rumah sakit atau ke mana pun kamu mau pergi hari ini.”

​”Saya boleh langsung pulang, Kak?”

​”Boleh dong, Sayang! Hari ini kamu bebas tugas. Istirahat yang cukup di rumah. Karena eike jamin, mulai besok pagi, ritme hidup kamu bakal berubah drastis jadi rollercoaster,” instruksi Kiki sambil menepuk pipi Maya pelan.

​Setengah jam kemudian.

​Setelah membersihkan sedikit sisa tata rias beratnya di ruang ganti VVIP yang disediakan khusus untuknya, Maya berjalan keluar dari pintu utama Grand Atrium Mall.

​Ia tidak lagi mengenakan seragam biru pudar, dan ia tidak memakai kaus gembelnya tadi pagi. Ia mengenakan pakaian kasual yang baru saja dibelikan secara khusus oleh asisten Kiki. Sebuah sweter rajut berkualitas tinggi berwarna krem, dipadukan dengan celana jeans biru muda yang melekat pas di kakinya yang ramping, dan sepasang sepatu kets putih bersih keluaran merek ternama.

​Pakaian itu desainnya sangat sederhana. Namun, kain mahal itu membalut wujud sempurnanya dengan cara yang membuat setiap mata pengunjung di lobi kembali menatapnya tanpa berkedip.

​Maya masuk ke dalam mobil van mewah yang sudah menunggunya dengan mesin menyala.

​Saat mobil itu melaju mulus meninggalkan pelataran mal, Maya menatap lurus ke depan. Ia sama sekali tidak menoleh ke belakang.

​Ia tidak peduli lagi pada lantai marmer mal itu. Ia tidak peduli pada troli kuningnya yang usang. Dan ia sama sekali tidak memikirkan rekan-rekan kerjanya yang kini tertinggal jauh di bawah kasta sosialnya.

​Tujuan pertama Maya sore itu hanya satu, Rumah Sakit Umum Pusat.

​Sesampainya di lobi rumah sakit, ia langsung melangkah menuju lift dan menekan tombol lantai tiga, tempat ruang ICU VIP berada.

​Bau khas antiseptik dan obat-obatan rumah sakit langsung menyambutnya di lorong. Bau yang biasanya membuat perut Maya melilit hebat karena cemas akan tagihan medis. Namun hari ini, bau itu terasa netral. Sangat melegakan. Tagihan deposit ibunya sudah lunas. Semua obat impor terbaik sudah dibayar tunai.

​Maya berdiri kaku di depan jendela kaca tebal ruang perawatan.

​Di dalam sana, ibunya terbaring tenang di atas ranjang hidrolik. Suara mesin ventilator berdesis ritmis, bekerja memompa oksigen murni ke dalam paru-paru wanita tua yang sudah rusak parah itu.

​Warna kulit ibunya masih terlihat pucat, namun garis-garis kesakitan yang selalu mengerutkan dahinya selama beberapa bulan terakhir ini… kini telah memudar berkat obat penahan sakit dosis tinggi.

​Maya menempelkan telapak tangannya yang sehalus porselen ke permukaan kaca dingin tersebut. Ia menatap wajah ibunya lekat-lekat.

​Sebuah pemikiran filosofis yang sangat getir tiba-tiba merayap ke dalam benaknya.

​Ibunya, wanita renta yang melahirkannya itu, sedang mengalami fase pembusukan alami dari dalam. Daging, sel, dan organ ibunya perlahan-lahan menyerah pada penyakit dan waktu. Itu adalah sebuah realitas biologis yang tak bisa dihindari oleh manusia fana mana pun.

​Sementara dirinya?

​Maya menatap pantulan samar wajahnya sendiri di kaca ICU tersebut. Ia telah mencurangi realitas biologis itu dengan sangat kejam. Ia telah menghentikan waktu. Ia memutarbalikkan genetika, dan memahat ulang dagingnya sendiri dari luar menggunakan cairan mutiara yang asal-usulnya sama sekali tidak ia ketahui.

​Di balik kulit mulusnya yang bercahaya menawan ini, Maya merasa seperti seorang penipu licik yang baru saja berhasil mengelabui Tuhan.

​”Ibu harus cepat sembuh,” bisik Maya pelan pada kaca, suaranya bergetar menahan tangis yang mendesak. “Maya sekarang udah punya uang, Bu. Maya udah punya pekerjaan yang sangat bagus.”

​Ia mengusap kaca itu seolah sedang membelai pipi ibunya.

​”Nanti kalau Ibu udah keluar dari sini, kita pindah dari kontrakan sempit itu ya, Bu. Kita cari rumah yang ada tamannya, biar Ibu bisa hirup udara segar setiap pagi. Ibu nggak akan batuk lagi.”

​”Mbak Maya, ya?”

​Sebuah suara lembut menginterupsi lamunannya. Maya menoleh. Seorang perawat muda berseragam rapi berdiri di dekatnya sambil tersenyum ramah, membawa papan rekam medis.

​”Iya, Suster. Saya anaknya,” jawab Maya sopan. “Bagaimana kondisi ibu saya hari ini?”

​”Dokter jaga spesialis paru baru saja selesai visitasi, Mbak,” ucap perawat itu, matanya tak bisa lepas mengagumi wajah Maya. “Dokter bilang kondisi ibu Mbak mulai menunjukkan tanda-tanda stabil. Respons beliau terhadap obat antibiotik sangat baik dan cepat.”

​Maya menghela napas lega yang luar biasa panjang. “Syukurlah…”

​”Iya, Mbak. Kalau grafiknya terus membaik begini, mungkin akhir minggu ini mesin ventilatornya sudah bisa dilepas pelan-pelan,” tambah sang perawat dengan nada optimis.

​”Alhamdulillah… terima kasih banyak, Suster,” ucap Maya, membalas senyum perawat itu dengan kelegaan yang membuncah. “Tolong… tolong berikan perawatan dan pengawasan yang paling maksimal untuk ibu saya, ya. Kalau butuh obat tambahan, tagihkan saja ke saya. Biayanya tidak usah dikhawatirkan, saya akan lunasi semuanya tepat waktu.”

​Perawat itu mengangguk hormat, sangat terpesona oleh kecantikan, tutur kata, dan aura elegan Maya yang memancarkan kekayaan, lalu berlalu pergi untuk mengecek pasien lain.

​Setelah menghabiskan waktu dua jam di ruang tunggu yang dingin hanya untuk memandangi dada ibunya yang naik turun dari balik kaca, Maya akhirnya memutuskan untuk pulang.

​Tubuhnya mulai menuntut hak untuk beristirahat. Transmutasi fisik ekstrem semalam, ditambah rentetan emosi dan sesi pemotretan berjam-jam yang menguras energi di mal tadi… telah membuat tulang-tulangnya terasa ngilu dan luar biasa lelah.

​Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Mewarnai langit Jakarta dengan semburat jingga kemerahan yang perlahan memudar, ditelan oleh awan biru gelap yang muram.

​Alih-alih meminta diantar oleh supir van agensi hingga ke depan mulut gangnya, Maya sengaja meminta diturunkan di jalan raya besar. Ia memilih untuk berjalan kaki sejauh beberapa ratus meter menembus jalanan perkampungan.

​Bukan tanpa alasan. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan di jalanan kumuh ini bukan sebagai “Maya si Babu Mal”, melainkan sebagai seseorang yang memiliki kekuatan dan kasta yang lebih tinggi. Ia ingin menikmati kemenangannya.

​Saat ia memasuki mulut gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding batako berlumut itu, hawa lembap sisa hujan tadi pagi langsung menyergap kulitnya. Lampu-lampu jalan di tiang kayu mulai menyala benderang dengan cahaya kuning yang redup.

​Beberapa warga kampung yang sedang duduk-duduk mengobrol di teras rumah mereka… mendadak menghentikan obrolan saat Maya lewat di depan pagar mereka.

​Mata mereka, tanpa berkedip, mengikuti setiap pergerakan kaki dan ayunan tangan Maya.

​Para pria paruh baya yang sedang asyik bermain catur di pos ronda, menahan bidak catur mereka di udara. Mereka menatap Maya dengan raut takjub. Ibu-ibu yang sedang menyuapi anak balita mereka di depan pintu, bergumam pelan satu sama lain sambil berbisik menutupi mulut.

​Mereka semua tahu itu adalah Maya anak Bu Asih. Gosip kilat dari warung sayur Bu Tejo tadi pagi telah menyebar ke seluruh RT dengan kecepatan cahaya.

​Namun, melihat perubahan wujud Maya dengan mata kepala mereka sendiri secara langsung di sore hari… dibalut dengan pakaian brand ternama yang terlihat sangat mahal… tetap saja memberikan efek syok visual yang sukses melumpuhkan kemampuan mulut mereka untuk mencibir atau menghina.

​Maya membalas tatapan mereka dengan tatapan yang sangat datar.

​Ia tidak memaksakan senyum ramah, tidak juga menundukkan pandangannya seperti biasa. Ia terus berjalan dengan punggung tegak, membelah kesunyian canggung di gang itu dengan langkah elegan.

​Namun… di tengah pusaran perasaan superioritas yang mulai menutupi hatinya, naluri bertahan hidup Maya yang sudah terasah oleh kerasnya jalanan tiba-tiba memberikan sinyal bahaya. Sebuah peringatan primitif.

Ada sesuatu yang salah.

​Saat ia berbelok di tikungan terakhir yang sepi menuju arah kontrakannya di ujung gang buntu, Maya merasa seolah udara di belakang punggungnya mendadak menjadi lebih berat dan padat.

​Bulu kuduk di tengkuknya berdiri serempak.

​Instingnya menjerit. Ia merasa dengan sangat kuat, ada sepasang mata yang sedang mengamatinya lekat-lekat dari belakang.

​Itu bukan tatapan takjub dari warga kampung. Bukan tatapan memuja. Melainkan sebuah tatapan yang memancarkan kebencian murni, rasa iri yang mendidih, dan rasa penasaran yang mematikan.

​Langkah Maya sedikit melambat. Ia menajamkan pendengarannya, mencoba memisahkan suara-suara di sekitarnya.

​Di antara suara derik jangkrik dan sayup-sayup dialog sinetron televisi dari rumah tetangga, ia bisa mendengar samar-samar suara lain.

Tuk… srek… tuk…

​Suara langkah kaki lain yang sepertinya berusaha disamarkan agar tak terdengar. Berjarak hanya sekitar sepuluh atau lima belas meter di belakangnya. Langkah itu tidak menghasilkan bunyi kepakan sandal jepit karet khas warga kampung, melainkan bunyi ketukan dari sesuatu yang berbahan kulit atau sol karet keras. Seperti… sepatu pantofel kerja.

​Jantung Maya berdebar kencang. Ia tidak berani menoleh ke belakang.

​Mengingat kembali wajah Sari yang memerah padam menahan amarah di mal tadi pagi, ancaman bisu di mata wanita itu, dan bagaimana Sari tiba-tiba lenyap dari set pemotretan tanpa pamit… sebuah kesimpulan logis yang mengerikan melintas di kepalanya.

Apakah Sari mengikutiku sampai ke sini? batin Maya panik. Apakah dia membuntutiku untuk mencari tahu rahasiaku?

​Maya tak mau mengambil risiko. Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju pintu tripleks kontrakannya.

​Ia buru-buru merogoh sakunya, memasukkan anak kunci berkarat itu ke lubang gembok, memutarnya dengan tangan gemetar, dan mendorong pintu hingga terbuka.

​Begitu tubuhnya masuk, Maya membanting pintu itu tertutup dengan suara keras. Brak! Ia segera menggeser palang gerendel besinya hingga berbunyi klik nyaring, mengunci dirinya dari dalam.

​Maya berdiri bersandar di balik pintu, napasnya tersengal-sengal memburu. Ia memejamkan mata, menunggu dalam gelap, memasang telinganya tajam-tajam ke arah luar pintu.

​Hening.

​Tidak ada suara ketukan pintu. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara langkah kaki sepatu yang mendekat menginjak halaman semennya.

​Jika penguntit itu benar-benar Sari, wanita licik itu sepertinya cukup pintar untuk tidak melakukan konfrontasi langsung atau melabrak Maya di wilayah kampung padat penduduk ini. Sari mungkin hanya sekadar membuntuti untuk memantau di mana lokasi pasti Maya tinggal sekarang, bersiap untuk rencana yang lebih besar.

​”Sari nggak bakal bisa apa-apa,” gumam Maya pelan, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri. “Dia cuma cemburu buta. Dia nggak punya bukti apa-apa.”

​Namun, ucapan penenang itu terasa sangat hampa saat diucapkan di dalam ruangan yang mulai menggelap ini.

​Maya meraba dinding di sebelahnya, menekan saklar lampu utama.

​Lampu neon lima watt di tengah ruangan berkedip dua kali, berdengung bzzzt, sebelum akhirnya menyala penuh. Cahaya kuning redupnya menerangi seisi kontrakan sempitnya yang pengap, kusam, dan lembap.

​Kesunyian di dalam ruangan ini terasa sangat memekakkan telinga.

​Biasanya, saat ia pulang di jam segini, akan ada suara batuk parah ibunya yang menyambutnya dari balik tirai. Akan tercium wangi minyak kayu putih yang kuat.

​Kini, ruangan itu terasa mati. Kosong. Bagaikan sebuah makam tua yang tak berpenghuni.

​Kontras yang sangat tajam antara dunia luar yang memujanya dengan ruangan busuk yang mengurungnya ini membuat dada Maya terasa nyeri. Ia menyadari satu hal yang pahit, meskipun wajah dan tubuhnya telah berubah menjadi mahakarya bernilai miliaran rupiah… jiwanya masih terjebak kuat di dalam sangkar kemiskinan yang sepi ini.

​Langkahnya terasa sangat berat saat ia berjalan perlahan menuju area dapur kecilnya. Meja beton itu masih dipenuhi noda. Wastafelnya masih berkarat. Dan cermin kecil yang tergantung di dinding atas wastafel itu… masih retak melintang di tengahnya, dipenuhi jamur kehitaman di sudut-sudut kacanya.

​Maya meletakkan tas jinjing barunya, tas bermerek yang diberikan oleh tim stylist Kiki tadi pagi ke atas meja beton.

​Hal pertama yang ia lakukan sesampainya di rumah bukanlah melepas lelah atau mencuci muka. Insting ketakutannya membawanya berjalan lurus menuju lemari pakaian kayunya di sudut ruangan.

​Ia harus melihat kotak itu lagi.

​Rasa cemas yang menggantung menyiksanya sejak semalam tentang volume gel mutiara ajaib yang menyusut sangat drastis kembali menghantui pikirannya.

​Maya berlutut di lantai semen yang dingin. Ia membuka pintu lemari yang berderit nyaring, menyingkirkan tumpukan baju bekas dan selimut, lalu menarik kotak hitam matte itu keluar dari tempat persembunyiannya.

​Ia membawanya dan meletakkannya di atas meja beton. Dengan tangan yang kembali berkeringat dingin, ia membuka segel magnetiknya.

Sssshhh. Desisan pelan khas kotak kedap udara itu menguar, membawa aroma tanah basah.

​Mata Maya langsung tertuju pada jar kaca frosted berbentuk bulat tersebut. Ia memutar tutup logam berukiran akar itu dengan cepat.

​Perasaannya kembali dihempaskan dengan keras ke dasar jurang.

​Isi gel mutiara bercahaya itu masih sama persis seperti yang ia lihat semalam, nyaris setengahnya telah habis. Menguap.

​Tidak ada keajaiban tambahan di mana gel itu bisa meregenerasi dirinya sendiri atau bertambah banyak secara magis. Apa yang telah ia pakai, benar-benar telah hilang selamanya.

​Logika matematis Maya mulai bekerja.

​Jika ia menghitung luas permukaan kulit wajah, leher, dada, bahu, dan lengannya yang ia ubah semalam… itu baru mencakup sekitar tiga puluh persen dari total permukaan kulit tubuh keseluruhannya.

​Jika suatu hari nanti ia ingin memahat bagian perutnya, meratakan punggungnya, dan memanjangkan kedua kakinya agar proporsinya menjadi sempurna seutuhnya sebagai supermodel, sisa gel di dalam jar pertama ini pasti tidak akan pernah cukup.

​Belum lagi… jika ia harus menggunakan gel ini secara mendadak untuk memperbaiki “kecacatan” atau melawan efek samping withdrawal gatal yang membuat dagingnya melunak, seperti yang terjadi di pangkal lehernya.

​Maya mengalihkan pandangan cemasnya ke dua wadah lain di dalam kotak beludru itu.

​Satu jar kaca berukuran pipih yang lebih kecil, dan satu botol kaca memanjang seperti tabung serum. Di dalam botol serum itu berisi cairan kental berwarna merah gelap. Warnanya nyaris menyerupai darah, namun memancarkan kilau iridescent perak jika terkena cahaya.

​Kertas instruksi hitam bertinta perak itu tidak menyebutkan apa pun tentang fungsi spesifik dari kedua wadah tambahan ini. Apakah itu untuk tahap penyempurnaan selanjutnya? Atau untuk mengubah bagian organ tubuh yang berbeda? Maya tidak berani mencobanya tanpa panduan yang jelas.

​”Aku harus hemat,” bisik Maya pada dirinya sendiri.

​Suaranya terdengar serak memantul di ruangan kosong itu. “Aku harus sangat irit. Sampai aku dapat uang seratus juta dari Kiki, sampai aku bisa pindah rumah dari tempat busuk ini, dan menyewa detektif untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang memproduksi barang ini… aku harus menahan diri untuk nggak pakai lagi.”

​Dengan tangan gemetar, ia menutup rapat jar kaca itu. Ia mengunci kotak hitamnya dan menyimpannya kembali ke dasar lemari, menumpuknya dengan tumpukan baju yang lebih tebal. Ia memastikan tidak ada celah sekecil apa pun yang bisa dilihat orang lain jika ada penguntit yang berhasil mendobrak masuk ke rumahnya.

​Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.

​Hujan rintik-rintik kembali turun. Suara air yang menetes memukul atap seng menambah kesan muram dan terisolasi di dalam kontrakan Maya.

​Gadis porselen itu berdiri di depan wastafel beton, memutar keran air plastik. Ia harus membersihkan wajahnya dari sisa-sisa polusi jalanan, debu, dan sisa makeup ringan dari studio.

​Sebuah paranoia kecil sempat melintas di benaknya yang lelah, Bagaimana jika sabun cuci muka murahan seharga lima belas ribu ini merusak sel kulit porselenku? Bagaimana jika air keran yang kotor dari toren ini membuat efek gel ajaib itu luntur dan wajahku kembali penyok?

​Namun, mengingat instruksi di kertas hitam tentang “menjaga kanvas agar tetap steril”, Maya meyakinkan dirinya sendiri bahwa air dan sabun adalah hal yang wajar dan diizinkan.

​Ia menangkup air dingin dan membasuh wajahnya.

​Sensasi dingin dari air keran itu terasa sangat berbeda dari sensasi beku kriogenik gel mutiara. Air ini hanya menyentuh dan membasahi permukaannya. Air ini tidak merasuk ke dalam pori-pori, dan tidak merobek ikatan struktur selnya.

​Ia menggosok wajahnya perlahan dengan busa sabun, memastikan tidak ada kotoran yang tersisa di sela hidung dan pipinya, lalu membilasnya bersih-bersih dengan air mengalir.

​Maya mengulurkan tangan, meraih handuk kecil yang kasar dari gantungan. Ia menepuk-nepuk lembut wajahnya hingga kering.

​Ia menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya. Ia bersiap membuka mata dan melihat hasilnya di cermin. Harapan terbesarnya malam ini hanyalah… wajahnya tetap sempurna, tidak ada daging yang tiba-tiba menyusut, dan tidak ada kulit yang kembali kusam akibat bahan kimia sabun.

​Perlahan, kelopak mata berbulu lentik itu terbuka.

​Lampu neon kuning yang mulai berumur di atas kepalanya tiba-tiba berkedip pelan. Lampu itu mengeluarkan suara bzzzt statis yang mengganggu, membuat pencahayaan di area dapur itu sedikit meredup menjadi temaram, lalu kembali terang menyilaukan dalam hitungan detik.

​Maya menatap pantulannya di cermin persegi yang pinggirannya sudah gompel dan berjamur itu.

​Cermin itu memiliki sebuah retakan panjang yang cukup dalam. Retakan itu melintang diagonal, mulai dari sudut kiri atas, membelah bagian tengah kaca, hingga berakhir di sudut kanan bawah. Retakan itu sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu, hasil dari pertengkaran lempar piring tetangga sebelah sebelum Maya dan ibunya menyewa tempat ini.

​Wajah porselen Maya masih ada di sana. Utuh. Sempurna tanpa cela.

​Rahangnya masih tirus mematikan. Hidungnya kokoh. Matanya memancarkan kedalaman yang memikat. Sabun cuci muka murah itu rupanya sama sekali tidak melunturkan atau merusak kesempurnaan anatomi gaibnya.

​Maya mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang hingga bahunya merosot turun.

​”Terima kasih, Tuhan,” desahnya pelan. Meskipun jauh di dalam hatinya, ia sadar betul bahwa menyebut nama Tuhan untuk mensyukuri hasil produk iblis ini adalah sebuah ironi yang sangat kelam dan berdosa.

​Ia menyandarkan kedua tangannya di pinggiran wastafel beton. Ia menatap wajahnya di cermin. Ia sedikit memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, mengagumi garis rahangnya yang terpantul dengan presisi.

​Namun… saat matanya menatap tepat ke bagian tengah cermin, fokusnya terganggu oleh garis retakan kaca tersebut.

​Garis retakan itu melintang tepat membelah pantulan wajah kirinya. Seolah-olah garis tajam itu membelah mata dan pipi porselennya menjadi dua bagian yang terpisah di dalam dimensi alam kaca.

​Itu sangat mengganggu estetika kesempurnaan yang sedang ia nikmati malam ini.

​Entah karena dorongan iseng yang bodoh, atau karena rasa perfeksionis berlebihan yang tiba-tiba muncul berkat status barunya sebagai model bayaran mahal… Maya mengangkat tangan kanannya.

​Ujung jari telunjuknya yang lentik bergerak mendekat ke arah permukaan cermin retak itu.

​Tujuannya hanya satu, ia ingin menyentuh retakan kaca itu. Mungkin mencoba menggosok dan membersihkan debu atau jamur hitam mikroskopis yang menempel di sela-sela retakannya, agar pantulan wajahnya besok pagi tidak lagi terdistorsi oleh kotoran.

​Kulit jari telunjuknya yang dingin bersentuhan langsung dengan permukaan kaca cermin yang sama dinginnya.

​Maya mulai menggeser jari telunjuknya perlahan. Ia menelusuri garis retakan diagonal itu dari sudut atas menurun ke bawah.

​Saat telunjuknya melintasi bagian kaca cermin yang memantulkan area pipi kirinya, Maya memberikan sedikit tekanan kuat pada kaca tersebut untuk menggosok jamur hitam yang membandel.

​Tepat pada saat ujung jarinya menekan keras permukaan kaca cermin itu…

​Sebuah distorsi visual yang menentang dan merobek seluruh hukum alam semesta terjadi di depan matanya.

​Mata Maya seketika membelalak lebar hingga urat-urat merah di sklera matanya bermunculan. Napasnya tercekik hebat di pangkal tenggorokan. Ia merasa seolah ada sebuah tangan tak kasat mata berlumuran es yang baru saja mencekik lehernya dari belakang.

​Di dalam cermin…

​Tepat di titik di mana ujung telunjuk Maya menekan permukaan kaca yang keras itu… pantulan wajah Maya bereaksi.

​Kulit pipi kiri pada pantulan di dalam cermin itu tiba-tiba melesak ke dalam.

​Pipi pantulan itu amblas, penyok ke dalam, mengikuti arah dan besaran tekanan jari Maya dari luar kaca. Bentuk pipi pantulan itu melengkung parah, mendistorsi tulang pipi dan rahang refleksinya. Menciptakan sebuah cekungan gelap yang dalam, seolah wajah bidadari di dalam cermin itu hanyalah sebuah topeng tipis yang terbuat dari tanah liat lunak yang baru saja ditekan paksa oleh jari raksasa.

​Waktu seakan berhenti berdetak di dalam kontrakan yang lembap itu. Detak jantung Maya berhenti memompa darah.

​Maya mematung total. Otaknya yang rasional mencoba keras memproses apa yang baru saja dilihat matanya, namun gagal total. Kesalahan sistem.

Ini nggak mungkin… ini nggak mungkin terjadi, jerit batin Maya histeris.

​Ia tidak sedang menyentuh wajah aslinya. Tangan kirinya berada memegang pinggiran wastafel. Ia tidak menyentuh pipi kirinya sendiri sama sekali! Ia hanya menyentuh kaca cermin benda mati! Kulit dan tulang pipi aslinya di dunia nyata terasa padat, normal, dan tidak merasakan tekanan apa pun.

​Namun pantulannya di cermin… pipi kiri refleksinya kini penyok parah. Membentuk lekukan cacat yang sangat mengerikan, bergerak secara real-time mengikuti presisi tekanan telunjuk Maya pada kaca.

​Tangan kanan Maya yang menempel di kaca gemetar hebat.

​Udara di sekitar wastafel mendadak turun hingga ke titik beku. Bau anyir darah segar yang amis, bercampur dengan aroma tanah basah steril yang ia cium di dalam mimpi buruk tadi malam, tiba-tiba kembali menguar entah dari mana. Aroma itu merembes keluar dari balik celah wastafel, menusuk lubang hidungnya dengan sangat agresif dan menyesakkan.

​Dengan napas tersengal-sengal yang terdengar mengerikan seperti rintihan hewan terluka, Maya tidak menarik jarinya. Ia justru, dengan dorongan rasa ngeri yang menghipnotis, perlahan menggerakkan jarinya yang masih menempel menekan kaca. Ia menggesernya ke arah bawah mengikuti garis retakan.

​Di dalam cermin… distorsi daging itu mengikuti gerakannya.

​Saat jari Maya bergeser ke bawah di atas kaca, lekukan cekung di pipi pantulan itu ikut bergeser turun. Tekanan itu menarik turun daging dan kulit porselen refleksinya layaknya adonan karet cair yang ditarik paksa.

​Tarikan itu membuat sudut mulut pantulan di dalam cermin itu ikut tertarik miring ke bawah secara asimetris dan ekstrem. Pergerakan itu mengubah wujud wajah bidadari tersebut menjadi wujud monster yang cacat, stroke, dan luar biasa mengerikan.

​Dan yang membuat Maya nyaris kehilangan kewarasannya…

​Mata pantulan itu… mata yang seharusnya hanyalah sebuah replika visual dari pergerakan Maya di dunia nyata… tiba-tiba memutar bola matanya sendiri.

​Mata pantulan yang bibirnya tertarik ke bawah itu menatap lurus ke arah mata Maya yang asli. Menatapnya dengan tatapan kosong, mati, menderita, dan dipenuhi oleh kebencian purba yang membekukan jiwa.

​Sebuah rintihan pelan yang sangat basah… tidak terdengar secara fisik di udara dapur, melainkan bergema langsung di dalam batok kepala Maya, merambat masuk menembus tulang telinganya.

“Saaakiitt…” Suara itu bukanlah suara satu orang. Suara itu adalah paduan suara gaib dari puluhan suara wanita yang sedang menangis dan merintih kesakitan. Suara-suara itu saling bertindihan dalam sebuah harmoni penderitaan yang absolut dan abadi.

​Puncak dari teror itu terjadi dalam hitungan detik berikutnya.

​Ketika Maya, didorong oleh kepanikan dan refleks murni pertahanan diri, tiba-tiba menarik jari telunjuknya menjauh dari permukaan cermin dengan sebuah sentakan keras.

​Bukannya kembali memantul datar normal seperti cermin pada umumnya… wajah refleksi di dalam cermin itu justru mengalami reaksi penarikan fisik yang mustahil.

​Saat jari Maya terlepas dari kaca, kulit dan daging pantulan di bagian pipi yang tadi melesak ke dalam itu… justru tertarik memanjang ke arah luar kaca.

​Daging porselen pada pantulan itu menonjol panjang mengikuti arah tarikan jari Maya. Daging itu memanjang seperti gumpalan lilin panas atau permen karet yang ditarik secara paksa. Tonjolan daging itu membentur dari dalam permukaan kaca cermin, mendesak batas dua dimensi, seolah entitas di dalam sana ingin keluar merobek kaca dan mencengkeram tangan Maya di dunia nyata.

​”KYAAAAA!!”

​Maya menjerit histeris. Suaranya pecah melengking merobek malam.

​Ia melompat mundur dengan sangat kasar dan liar hingga kakinya tersandung kaki kursi plastik merah di belakangnya.

Braakk!

​Tubuh Maya terjerembap keras ke belakang. Ia jatuh menghantam lantai semen yang dingin dan kotor. Kursi plastik itu terguling dan menabrak lemari dengan bunyi nyaring.

​Rasa sakit akibat benturan merambat naik di tulang punggungnya, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak ada artinya. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan teror psikologis ekstrem yang baru saja memperkosa kewarasannya hingga hancur berkeping-keping.

​Maya menggeser tubuhnya mundur menjauh dari wastafel. Ia merangkak mundur menggunakan kedua sikunya dengan panik. Napasnya memburu liar seperti penderita asma akut yang kehabisan persediaan oksigen. Matanya yang melotot ngeri tak berani lepas dari cermin retak di atas wastafel tersebut.

​Lampu neon kuning di atasnya kembali berkedip bzzzt… mati total sesaat, menciptakan kegelapan yang mencekam, sebelum akhirnya menyala terang kembali.

​Begitu lampu menyala stabil, cermin itu telah kembali normal.

​Pantulan di dalam bingkai kaca itu kosong, memantulkan dinding kosong di seberangnya, karena tubuh Maya sudah terkapar di lantai, tak lagi tertangkap oleh sudut pandang cermin. Dapur kecil itu kembali hening, hanya menyisakan suara tetesan hujan di atap dan detak jantung Maya yang bergemuruh seperti genderang perang.

​Tidak ada wajah yang melesak. Tidak ada daging lilin yang ditarik keluar.

​Tapi Maya sangat tahu apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

​Sentuhan dingin es di ujung jarinya saat menekan kaca, dan suara paduan rintihan wanita di dalam kepalanya tadi adalah bukti yang tak terbantahkan oleh logika apa pun.

​Formula mutiara di dalam kotak hitam itu bukan sekadar produk kimia yang mengubah ikatan sel biologisnya. Formula itu adalah sebuah portal. Benda itu menghubungkan tubuh fisik Maya dengan sebuah dimensi entitas gaib yang berisi rasa sakit yang tidak berujung.

​Daging kesempurnaan porselen yang ia kenakan sebagai topeng saat ini… pada hakikatnya adalah sebuah penjara fisik bagi jiwa-jiwa wanita yang telah hancur. Dan cermin retak itu, hanyalah sebuah jendela tipis dan rapuh yang memisahkan kehidupan mewah Maya dari kenyataan horor absolut yang sesungguhnya berada di bawah kulitnya.

​Air mata ketakutan yang sangat pekat mengalir deras membasahi wajah mulusnya.

​Gadis yang siang tadi berjalan begitu angkuh bak dewi penakluk dunia di tengah mal mewah, kini meringkuk gemetar hebat di sudut lantai dapur kontrakannya yang gelap dan kotor. Ia memeluk kedua lututnya sendiri, menggigil kedinginan.

​Rasa takut yang murni, gelap, dan melumpuhkan jiwa, kini telah mengambil alih takhta tertinggi di dalam hatinya.

​Ia telah resmi menjual jiwanya pada kesempurnaan. Dan iblis pemilik formula di dalam dagingnya itu… kini mulai mengetuk cerminnya dari dalam. Iblis itu sedang tersenyum, bersiap untuk mulai menagih bunga utang berdarah yang tak akan pernah bisa Maya lunasi seumur hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.