Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah ventilasi atap seng, menyinari sesosok tubuh yang meringkuk gemetar di sudut lantai dapur.
Pukul 06:00 pagi.
Maya terbangun dengan tubuh yang kaku dan sedingin es. Ia tertidur di lantai semen yang keras setelah kelelahan menangis semalaman akibat teror cermin retak itu. Matanya yang sembap perlahan terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah pantulan dirinya di cermin wastafel di atasnya. Cermin itu diam. Bisu. Memantulkan wajah porselennya yang sempurna tanpa ada distorsi, tanpa ada daging yang melesak, dan tanpa senyuman iblis.
”Itu… itu pasti cuma mimpi buruk,” gumam Maya dengan suara serak, memeluk kedua lengannya sendiri. “Aku halusinasi karena kurang tidur. Ya, cuma halusinasi.”
Namun, Maya tahu ia sedang membohongi dirinya sendiri.
Sensasi dingin dan kenyal dari kaca yang ia sentuh semalam masih tertinggal di ujung jari telunjuknya. Suara rintihan puluhan wanita yang menangis kesakitan itu masih bergema sayup-sayup di dasar tengkoraknya.
Tiba-tiba, nada dering nyaring dari ponsel bututnya memecah kesunyian kontrakan yang mencekam itu.
Maya tersentak. Ia merangkak dengan susah payah menuju kasur, meraih ponselnya yang bergetar hebat. Nama ‘Kak Kiki Agensi’ berkedip di layar retaknya.
Maya menarik napas panjang. Ia menelan semua kengerian semalam ke dalam perutnya, memaksakan diri kembali ke realitas dunia nyata yang tak kalah kejamnya. Ia menekan tombol jawab.
”Halo, Kak Kiki,” sapa Maya, berusaha keras membuat suaranya terdengar normal.
“Maya, Honey! Wakey, wakey! Udah mandi belum bidadariku?” Suara Kiki yang melengking ceria dan penuh energi langsung menghantam gendang telinganya.
”Sudah, Kak. Baru saja,” bohong Maya.
“Bagus! Eike udah suruh supir agensi buat jemput kamu di depan jalan raya gang rumahmu jam tujuh teng! Hari ini jadwal kita padat merayap, Sayang!” celoteh Kiki dengan kecepatan kilat.
Maya mengerutkan kening. “Pemotretan lagi, Kak?”
“Bukan pemotretan, Sayang! Hari ini adalah debut catwalk perdana kamu! Live fashion show!” pekik Kiki heboh. “Salah satu desainer baju top ibu kota butuh wajah baru buat buka peragaan busananya siang ini di Hotel Ritz. Dan eike berhasil masukin nama kamu sebagai model pembukanya!”
Jantung Maya serasa berhenti berdetak.
”Fashion show? Jalan di panggung, Kak?” suara Maya mendadak bergetar panik. “Tapi… tapi saya nggak pernah jalan di panggung. Saya nggak tahu caranya. Kemarin kan cuma foto diam aja, Kak.”
“Aduh, Sayang, tenang aja! Nanti eike ajarin kilat di belakang panggung. Modal muka porselen dan rahang pembunuh kamu itu udah cukup buat bikin penonton buta sama cara jalan kamu. Pokoknya kamu siap-siap sekarang. Ini bayarannya dua kali lipat dari kemarin lho!”
Mendengar kata ‘bayaran dua kali lipat’, segala alasan penolakan di lidah Maya seketika menguap.
Bayangan tagihan ruang ICU, biaya operasi pembersihan paru-paru ibunya, dan tabungan Pak Agus yang harus ia lunasi langsung menampar logikanya. Teror hantu di cermin dan ketakutan akan panggung harus ia kubur dalam-dalam demi uang itu.
”Baik, Kak. Saya siap-siap sekarang,” jawab Maya final.
“That’s my girl! See you in an hour, Gorgeous!”
Sambungan terputus. Maya menatap cermin retak di dapurnya untuk terakhir kalinya pagi itu.
Apapun yang ada di balik kulitku ini… aku tidak peduli, batin Maya dingin. Aku sudah menjual jiwaku. Tidak ada jalan untuk kembali.
Pukul 10:00 pagi. Ballroom Hotel Ritz, Sudirman.
Suasana di belakang panggung peragaan busana itu benar-benar kacau balau, membuat kepala Maya pening.
Ruangan luas yang disekat oleh kain-kain hitam itu dipenuhi oleh puluhan model wanita bertubuh semampai, para makeup artist yang berlarian membawa palet bedak, penata gaya yang berteriak-teriak mencari peniti, dan staf acara yang hilir mudik membawa alat komunikasi HT.
Maya duduk kaku di depan cermin rias berlampu terang. Udara di ruangan itu sangat dingin, namun telapak tangannya berkeringat deras.
Seorang penata rias sedang memulas kelopak matanya dengan warna perak gelap, sementara seorang penata rambut sedang menarik kasar rambut hitamnya untuk diikat tinggi.
”Aduh, kaku banget sih bahu kamu, May,” tegur Kiki yang berdiri di belakangnya. Pria itu memijat bahu porselen Maya dengan gemas. “Santai dong, Sayang. Kamu ini mau jalan di panggung mewah, bukan mau digiring ke tiang gantungan!”
”Saya gugup banget, Kak Kiki,” bisik Maya pelan. Matanya melirik ke arah pantulan cermin, menatap para model lain yang lalu lalang. “Mereka semua kelihatan profesional banget. Jalannya anggun. Badan mereka bagus-bagus. Saya merasa… saya nggak pantas di sini, Kak.”
Sindrom ‘kampungan‘-nya, sisa-sisa mentalitas seorang cleaning service kasta bawah, tiba-tiba kembali menyerangnya. Maya merasa sangat inferior. Ia merasa bajunya, cara duduknya, dan bahkan cara bernapasnya salah di tempat ini.
”Heh! Mulutnya dijaga ya!” omel Kiki, menyentil pelan dahi Maya. “Eike udah bilang berapa kali? Tulang rahang dan muka kamu itu lebih mahal dari gabungan honor mereka semua di ruangan ini! Kamu itu mutiara, mereka cuma kerikil akuarium. Ngerti?”
Maya menundukkan wajahnya. “Tapi saya belum tahu cara pakai sepatu ini, Kak.”
Maya menunjuk ke arah sepasang sepatu hak tinggi (stiletto) berwarna perak yang tergeletak di bawah kursinya. Hak sepatu itu setinggi lima belas sentimeter. Tipis layaknya paku. Seumur hidupnya, alas kaki paling tinggi yang pernah ia pakai hanyalah sepatu bot karet mal.
Kiki membuang napas kasar. Ia baru saja akan menjawab ketika sebuah suara wanita yang sangat melengking dan dibuat-buat menyela percakapan mereka.
”Aduh, Kiki. Standar agensi lo sekarang makin anjlok ya?”
Maya dan Kiki menoleh bersamaan.
Berdiri di dekat meja mereka, seorang model senior bernama Valerie sedang melipat tangannya di dada. Valerie adalah supermodel berwajah blasteran yang terkenal angkuh. Ia menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat eksplisit.
”Ini anak baru yang lo bangga-banggain di grup agensi semalam?” cibir Valerie, tersenyum miring. Ia memindai postur duduk Maya yang membungkuk ketakutan.
”Muka sih lumayan lah, walau kayaknya dempulan filternya kenceng. Tapi body language-nya? Ih, kaku banget kayak kanebo kering. Duduknya aja bungkuk kayak tukang jamu. Yakin lo dia bisa jalan pakai heels lima belas senti? Nanti nyungsep lagi di panggung bikin malu brand.”
Darah Maya berdesir panas. Hinaan itu mengingatkannya pada cara Sari merendahkannya di mal.
”Eh, Valerie, mulut lo yang penuh filler murah itu tolong dijaga ya!” balas Kiki tajam. Pria nyentrik itu langsung pasang badan, berkacak pinggang menantang model senior tersebut. “Muka anak asuh gue ini aslinya miliaran kali lebih mahal dari hidung silikon buatan lo itu! Lo mending urusin catwalk lo sendiri deh, kaki lo yang udah mulai kendor itu!”
Wajah Valerie memerah padam akibat hinaan balasan Kiki. Ia mendelik tajam ke arah Maya.
”Kita lihat aja nanti di panggung. Anak kampung tetap aja anak kampung. Mau dipoles pakai emas juga pasti kelihatan aslinya,” desis Valerie berbisa, lalu berbalik dan berjalan mengentakkan hak tingginya menjauh dari mereka.
Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata-kata Valerie tepat mengenai titik kelemahannya.
Anak kampung. Ya, dia memang anak kampung. Seberapa pun cantiknya wujud yang ia curi dari kotak misterius itu, jiwa dan gerak-geriknya masihlah seorang Maya yang setiap hari mengepel muntahan pengunjung mal.
”Udah, nggak usah didengerin nenek sihir itu,” hibur Kiki, memegang bahu Maya. “Sekarang, kamu berdiri. Pakai sepatunya. Kita latihan jalan di lorong belakang itu sekarang juga. Eike nggak mau kamu kalah sama dia!”
Selama satu jam berikutnya, di tengah hiruk-pikuk backstage, Maya menjalani latihan kilat yang menyiksa dari Kiki.
Ia jatuh berkali-kali. Pergelangan kakinya terkilir ringan. Cara jalannya masih terlalu kaku, bahunya menunduk, dan langkahnya ragu-ragu. Ia terlihat persis seperti anak kecil yang baru belajar berjalan menggunakan sepatu ibunya.
Beberapa model lain yang lewat terang-terangan menertawakan kekikukannya. Maya nyaris menyerah dan menangis.
Namun, setiap kali ia ingin menyerah, Kiki akan membentaknya dengan menyebutkan biaya rumah sakit ibunya. Hal itu memaksa Maya untuk kembali berdiri dan menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.
Pukul 13:00 siang.
Alunan musik techno dengan dentuman bass yang menggetarkan dada mulai bergema kencang dari arah panggung utama di luar sana. Sorak-sorai penonton kelas atas, jurnalis fashion, dan jepretan ratusan kamera sudah terdengar riuh.
Kepanikan di backstage mencapai puncaknya.
”Maya! Standby di lorong pintu masuk sekarang! Kamu pembuka! Jalan lima detik lagi!” teriak pengarah acara melalui headset-nya, mendorong punggung Maya dengan kasar.
Maya berdiri di ujung lorong gelap yang tertutup tirai hitam. Di balik tirai itu, terbentang catwalk (panggung peraga) sepanjang dua puluh meter yang terbuat dari kaca hitam mengkilap.
Ia mengenakan sebuah gaun avant-garde berbahan sutra perak yang sangat ketat, menjuntai menyapu lantai, dengan belahan dada yang rendah menonjolkan tulang selangkanya yang sempurna.
Jantung Maya berdentum begitu keras hingga ia merasa tuli. Napasnya pendek-pendek. Tangannya yang dingin meremas ujung gaunnya.
Ia menunduk menatap sepatu hak tingginya. Kakinya gemetar hebat.
Aku nggak bisa. Aku pasti jatuh, batinnya panik. Aku cuma babu. Aku bukan model.
”Maya! Ingat kata eike!” Kiki tiba-tiba muncul di sebelahnya, mencengkeram kedua pipi Maya dengan tangannya. Mata pria itu menatap lurus ke dalam kepanikan Maya. “Jangan jalan pakai kaki kamu! Jalan pakai amarah kamu! Bayangin wajah semua orang yang udah ngehina dan nginjak-nginjak kamu seumur hidupmu. Telan mereka hidup-hidup pakai tatapanmu!”
Musik berubah tempo menjadi jauh lebih agresif.
”Jalan! Sekarang!” teriak pengarah acara, menarik kasar tirai hitam tersebut.
Cahaya putih benderang dari puluhan lampu sorot raksasa langsung menghantam wajah Maya, menyilaukan matanya secara absolut.
Suara musik meledak di telinganya. Ratusan pasang mata dari kursi penonton yang gelap langsung tertuju padanya dalam keheningan antisipasi.
Didorong oleh tangan Kiki dari belakang, Maya melangkah keluar dari kegelapan, menginjakkan kakinya ke atas panggung kaca yang mengkilap.
Satu langkah. Dua langkah.
Lutut Maya masih gemetar. Rasa tidak percaya dirinya, aura ‘kampungan’ yang bersembunyi di balik kulit mewahnya, tiba-tiba memancar keluar. Bahunya sedikit membungkuk. Langkahnya ragu dan terlihat sangat kaku.
Trak!
Pada langkah ketiganya, hak sepatu stiletto peraknya sedikit meleset dari pijakan. Pergelangan kakinya goyah.
Maya nyaris kehilangan keseimbangannya. Ia terhuyung kecil ke kiri, tangannya refleks terangkat untuk mencari pegangan di udara kosong.
Di barisan depan, terdengar suara tawa cekikikan yang tertahan dari beberapa tamu wanita sosialita. Di ujung lorong panggung, Valerie yang sedang mengantre giliran menyeringai lebar penuh kemenangan, menertawakan kehancuran anak baru itu.
Waktu seakan berjalan sangat lambat bagi Maya.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Rasa malu yang luar biasa pekat menampar wajahnya. Ia teringat kembali saat ia disuruh merangkak mengambil ludah kuaci oleh Sari. Ia teringat saat Bu Ratna menamparnya di depan umum. Ia teringat tawa merendahkan Valerie di ruang rias tadi.
Di tengah kepanikan dan rasa malu yang mencekiknya di atas panggung itu… sebuah memori mengerikan dari malam tadi tiba-tiba menyela pikirannya.
Ia kembali melihat pantulan wajah asimetris yang melesak di cermin kontrakannya. Ia kembali mencium bau anyir darah. Ia kembali mendengar suara rintihan puluhan jiwa yang terjebak di dalam daging sempurnanya.
Jika wujudku ini adalah sebuah monster yang mencuri nyawa orang lain… batin Maya, matanya perlahan menggelap oleh sebuah realisasi yang gila.
Jika aku sudah menjual jiwaku pada kutukan ini… lalu untuk apa aku masih takut pada manusia-manusia fana di ruangan ini? Mereka hanyalah daging dan tulang yang lemah. Aku adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari mereka semua.
Dalam hitungan milidetik sebelum ia benar-benar terjatuh, Maya menegakkan tubuhnya dengan sebuah paksaan tenaga yang tidak wajar.
Ia memutar pergelangan kakinya, menemukan pijakannya kembali di atas kaca.
Ia menarik napas panjang. Dan saat ia membuang napasnya, Maya membuang seluruh sisa-sisa kepengecutan, rasa kampungan, dan rasa malunya. Ia menarik kebencian murni dari dasar jiwanya, mengalirkan monster dari dalam cermin itu ke dalam setiap inci otot wajahnya.
Maya mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Bahunya yang bersudut tajam ditarik ke belakang, membusungkan dadanya dengan arogansi yang absolut.
Mata cokelatnya yang tadi memancarkan ketakutan, kini menatap lurus ke arah ujung panggung dengan sorot yang benar-benar kosong, mati, dingin, dan mematikan. Sebuah tatapan ‘Fierce Unknown‘ yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Maya melangkah maju.
Kali ini, kakinya tidak lagi gemetar. Sepatu hak lima belas sentimeter itu menghantam panggung kaca dengan ritme yang agresif, kuat, dan luar biasa dominan. Trak. Trak. Trak. Gaun peraknya berkibar di belakangnya layaknya sayap malaikat maut. Pinggulnya berayun dengan presisi seorang predator tingkat tinggi yang sedang berpatroli di wilayahnya.
Suara tawa cekikikan di barisan depan seketika mati. Tercekik oleh perubahan aura yang begitu drastis dan menakutkan.
Orang-orang di barisan penonton ternganga. Mereka tak lagi melihat seorang gadis amatir yang kaku. Mereka melihat sesosok entitas keindahan yang memancarkan bahaya. Wajah porselen Maya di bawah sorot lampu kilat kamera terlihat terlalu sempurna, terlalu dingin untuk menjadi manusia biasa.
Klik! Klik! Klik! Flash kamera menyambar bertubi-tubi tanpa henti, menerangi wajahnya seperti badai petir.
Setiap kali Maya melangkah, ia membayangkan ia sedang menginjak wajah Sari. Setiap ayunan pinggulnya adalah tamparan balik untuk Bu Ratna. Setiap tatapan dingin yang ia lemparkan ke arah kamera jurnalis adalah balasan untuk dunia yang selama ini membuangnya ke tempat sampah.
Ia berjalan hingga ke ujung panggung.
Ia berhenti. Memutar pinggangnya dengan sebuah putaran tajam yang memamerkan lengkung tulang selangkanya. Ia memberikan satu tatapan merendahkan ke arah ratusan penonton di bawah sana, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan kembali menuju lorong gelap backstage.
Ruangan ballroom itu meledak.
Sorak-sorai, tepuk tangan riuh, dan suitan kagum menggema memekakkan telinga. Para desainer dan jurnalis fashion berdiri dari kursi mereka, bertepuk tangan mengagumi karisma misterius dari model pendatang baru yang wajahnya belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Dendam telah menjadi bahan bakar terbaik untuk kesuksesannya.
Begitu Maya melangkah melewati tirai hitam kembali ke backstage, kakinya langsung lemas. Ia nyaris ambruk menabrak dinding kayu.
”Maya! Oh my God! Maya!”
Kiki berlari histeris dan langsung menubruk Maya, memeluk gadis itu dengan sangat erat hingga Maya kesulitan bernapas. Pria itu melompat-lompat kegirangan.
”Itu tadi gila banget! Gila banget, Sayang!” jerit Kiki di telinga Maya. “Pas kamu mau jatuh tadi, eike nyaris jantungan! Tapi pas kamu bangun terus natap penonton pakai muka pembunuh bayaran itu… sumpah, bulu kuduk eike merinding semua! Kamu berhasil, May! Kamu nguasain panggungnya!”
Maya membalas pelukan Kiki dengan tubuh yang masih bergetar. Keringat dingin membasahi leher porselennya.
Dari sudut ruangan, ia bisa melihat Valerie sang model senior berdiri mematung. Wajah blasteran wanita itu pucat pasi, tak mampu berkata-kata melihat bagaimana Maya baru saja merampas seluruh atensi yang seharusnya menjadi miliknya. Maya memberikan satu tatapan dingin ke arah Valerie, membuat model angkuh itu membuang muka dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
”Ganti baju kamu sekarang, Sayang. Malam ini juga, bayaran kamu cair dobel!” bisik Kiki bangga, melepaskan pelukannya. “Eike harus angkat telepon dulu, banyak klien yang nanyain nama kamu di luar sana.”
Kiki berlari keluar, sibuk dengan ponselnya.
Maya tertinggal sendirian di sudut lorong ruang ganti yang agak sepi. Napasnya masih memburu. Dadanya naik turun dengan cepat.
Ia menundukkan wajahnya, menatap kedua tangannya yang berkeringat.
Ia berhasil. Ia tidak lagi menjadi bahan tertawaan. Ia baru saja membuktikan bahwa ia bisa menginjak puncak dunia yang gemerlap ini. Ia akan kaya raya. Ibunya akan selamat. Ia bisa membeli apa pun yang ia mau.
Namun… di tengah euforia kemenangan dan tepuk tangan yang masih menggema di luar sana, Maya merasakan sebuah kekosongan yang luar biasa mengerikan di dalam dadanya.
Sebuah kehampaan yang tak bisa diisi oleh uang jutaan rupiah.
Ia mengangkat wajahnya, menatap pantulan dirinya sendiri di sebuah cermin rias besar di lorong tersebut. Wajah porselen yang memukau itu membalas tatapannya.
Tapi itu bukan wajahnya. Itu bukan Maya anak Bu Asih.
Itu adalah wajah seorang monster yang lahir dari kotak hitam berbau kematian. Ia menyadari satu fakta yang sangat menakutkan siang ini. Ketakutan dan trauma yang ia alami semalam akibat cermin retak itu, nyatanya tidak membuatnya berhenti menggunakan wujud ini. Teror itu justru mengajarinya bagaimana cara menggunakan ‘sisi gelap’ dari wujud tersebut untuk mengintimidasi manusia lain.
Aku tidak sedang menaklukkan dunia ini, batin Maya, sebuah senyum getir yang sangat mengerikan perlahan terbentuk di bibir sempurnanya. Air mata kesedihan yang tak bisa jatuh menggenang di pelupuk matanya.
Aku hanya baru saja masuk ke dalam neraka yang jauh lebih terang. Dan aku… aku telah berubah menjadi iblis yang siap menari di dalamnya.