Hingar-bingar fashion show itu perlahan mereda.
Di dalam ruang ganti eksklusif Hotel Ritz, udara terasa dingin menusuk tulang. Aroma hairspray, parfum mahal, dan sisa bubuk kosmetik masih pekat mengambang di udara.
Maya duduk sendirian di depan meja rias berlampu terang benderang.
Ia memandangi pantulan dirinya di cermin besar itu. Gaun sutra perak yang tadi ia kenakan di atas panggung catwalk telah ia lepas, digantikan oleh jubah mandi putih tebal berbahan handuk yang disediakan oleh pihak hotel.
Tangan Maya yang gemetar pelan meraih selembar kapas pembersih makeup.
Ia menuangkan cairan micellar water, lalu mulai mengusap kelopak matanya secara perlahan. Riasan eyeshadow cokelat gelap dan sapuan maskara tebal itu luntur, menempel di atas kapas putih.
Maya terus mengusap wajahnya, membersihkan setiap sisa riasan hingga tak ada satu pun bahan kimia kosmetik yang tersisa di kulitnya.
Ia menatap wajah polosnya di cermin.
Bahkan tanpa riasan tebal dari penata rias profesional, wajahnya tetap terlihat luar biasa mematikan. Kulit porselennya memancarkan pendaran cahaya yang sangat sehat dan flawless. Rahang tirusnya membingkai struktur wajahnya dengan presisi yang menakutkan.
Wujud ini… wujud yang ia ciptakan di dapur kontrakannya dengan penuh air mata kepanikan, kini telah resmi menjadi komoditas bernilai miliaran rupiah.
Trak. Trak. Trak.
Suara langkah sepatu berhak keras yang melangkah cepat dan setengah berlari memecah kesunyian lorong di luar ruang gantinya.
Pintu ruang rias itu didorong terbuka dengan sangat antusias.
Kiki melangkah masuk. Pria nyentrik dengan kemeja sutra bermotif floral itu nyaris kehabisan napas. Wajahnya memerah karena kegirangan yang tak terbendung, dan di tangannya ia memegang sebuah komputer tablet (iPad) yang layarnya menyala terang.
”Maya! Oh my God, Maya!” jerit Kiki histeris, suaranya melengking memantul di dinding ruangan.
Kiki berlari menghampiri Maya, lalu tanpa aba-aba langsung memeluk leher Maya dari belakang kursi.
”Eike bener-bener mau gila rasanya hari ini!” seru Kiki, menempelkan pipinya ke rambut Maya. “Kamu tahu nggak apa yang baru aja terjadi di luar sana?!”
Maya menelan ludah, sedikit terkejut dengan antusiasme yang meledak-ledak itu. “A-ada apa, Kak Kiki? Pemotretannya ada yang salah?”
”Salah apanya, Sayang?! Ini namanya sejarah baru!” Kiki melepaskan pelukannya dan berjalan ke sisi Maya.
Pria itu meletakkan iPad-nya tepat di depan wajah Maya. Layar itu menampilkan halaman sebuah aplikasi media sosial ternama.
”Lihat ini, Sayang! Lihat pakai mata kepala kamu sendiri!” perintah Kiki, mengetuk layar tabletnya berulang kali dengan jari lentiknya.
Maya menyipitkan matanya, membaca sederet teks dan melihat foto-foto yang bermunculan di layar tersebut.
Itu adalah foto-foto dirinya.
Foto saat ia sedang berjalan di atas panggung kaca tadi siang. Foto saat ia menatap dingin ke arah kamera di ujung panggung dengan gaun peraknya yang berkibar. Foto-foto itu diunggah oleh puluhan akun majalah fashion ternama, para desainer, dan influencer ibu kota.
Di bawah foto-foto tersebut, ribuan komentar mengalir deras layaknya air bah.
“Gila, siapa model pembuka ini?! Auranya fierce banget!” “Tulang rahangnya bisa buat motong kaca sumpah! Gorgeous!”
“Elegance Agency nemu berlian di mana lagi sih ini? Bikin merinding liat tatapannya.”
“Muka baru tapi jalannya udah kayak supermodel Milan. Kill it, Queen!”
Maya membeku. Matanya membaca komentar-komentar itu satu per satu.
Pujian. Kekaguman. Pemujaan.
Semua kata-kata manis yang selama dua puluh dua tahun hidupnya tak pernah ia dengar sekalipun, kini dilemparkan kepadanya secara massal oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. Oleh orang-orang yang kemarin mungkin akan menutup hidung jika berpapasan dengannya di angkot.
”I-ini… ini semua ngebahas saya, Kak?” tanya Maya, suaranya bergetar hebat tak percaya. Jari telunjuknya mengusap layar kaca tablet tersebut.
”Ya iyalah, Maya sayang! Emang ngebahas siapa lagi?!” Kiki tertawa renyah, sebuah tawa kemenangan absolut.
Kiki menarik kursi rias lain dan duduk di sebelah Maya. Pria itu menyilangkan kakinya yang panjang.
”Tadi siang, pas kamu balik ke backstage dengan tatapan pembunuh berdarah dingin itu… ponsel eike langsung meledak, May!” cerita Kiki menggebu-gebu. “Ada lebih dari lima belas brand pakaian, tiga majalah fashion ibukota, dan dua sutradara iklan komersial yang langsung nge-DM dan neken eike buat minta nomor kontak kamu!”
Dada Maya berdesir panas. Angka-angka kontrak mulai menari di kepalanya.
”Mereka mau kontrak saya, Kak?”
”Bukan cuma kontrak biasa, Sayang. Mereka mau rebutan booking jadwal kamu untuk bulan depan!” Kiki mengibaskan tangannya di udara. “Kamu baru aja jalan satu kali di panggung amatir, tapi impact-nya udah kayak bom atom! Nama kamu, Maya The Fierce Unknown, sekarang lagi jadi perbincangan panas di grup-grup WhatsApp para sosialita dan desainer.”
Kiki merogoh saku dalam kemeja sutranya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dan meletakkannya di atas meja rias, tepat di sebelah kapas kotor Maya.
”Dan ini,” Kiki menunjuk amplop itu dengan dagunya. “Ini adalah pelunasan bayaran kamu untuk acara hari ini. Bersih. Nggak dipotong komisi agensi sepeser pun sebagai bonus debut dari eike.”
Maya menatap amplop itu. Ketebalannya hampir sama dengan amplop uang muka yang ia terima kemarin siang.
”Ini… bayaran saya hari ini, Kak?” bisik Maya, tangannya perlahan terulur menyentuh kertas cokelat tersebut.
”Lima puluh juta Rupiah. Tunai,” jawab Kiki mantap, tanpa keraguan sedikit pun. “Klien desainernya puas banget. Dia bilang gaun peraknya langsung sold out dipesan sama istri menteri gara-gara kamu yang pakai di panggung.”
Tangan Maya yang menyentuh amplop itu bergetar parah.
Lima puluh juta.
Ditambah dengan tiga puluh juta kemarin, dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, ia telah menghasilkan uang sebanyak delapan puluh juta rupiah. Hanya dengan memamerkan tulang rahang dan menatap tajam ke arah kamera.
Dulu, ia harus menyapu lantai mal selama lima tahun penuh tanpa henti, mengepel muntahan pengunjung, dan menahan lapar setiap hari hanya untuk mengumpulkan uang setengah dari jumlah itu.
”Dunia ini emang gila ya, Kak,” gumam Maya tanpa sadar, suaranya sangat lirih dan terdengar luar biasa getir. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.
Kiki mengerutkan kening. Pria itu menangkap nada kesedihan yang janggal dari suara anak asuh barunya itu.
”Lho, Sayang? Kok malah nangis?” Kiki memegang pundak Maya lembut. “Kamu nggak seneng? Uang ini bisa buat bayar lunas semua sisa biaya rumah sakit ibumu, kan? Ibumu pasti bangga banget kalau tahu anaknya sekarang jadi bintang.”
Maya segera menghapus genangan air di matanya. Ia menggeleng cepat, memaksakan sebuah senyum profesional.
”Nggak, Kak. Saya seneng banget. Saya cuma… saya cuma masih nggak nyangka aja jalan hidup saya bisa berubah secepat ini,” kilah Maya, menyembunyikan realitas kelam di balik perubahan wujudnya.
Ia tidak menangis karena terharu. Ia menangis karena menertawakan betapa murahnya harga sebuah kemanusiaan di dunia ini. Kebaikan hatinya yang tulus tak pernah dihargai sepeser pun, namun kulit porselen palsu hasil curian ini justru dihargai puluhan juta dalam semalam.
”Udah, hapus air matanya. Bidadari eike nggak boleh nangis,” Kiki menepuk punggung Maya dengan sayang.
Kiki kemudian berdiri, meregangkan otot-otot pinggangnya yang kaku. Pria itu berjalan mondar-mandir kecil di dalam ruang rias, ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih serius dan penuh perhitungan.
”Tapi Maya, dengerin eike baik-baik,” ucap Kiki, menghentikan langkahnya dan menatap Maya dari cermin. “Ini semua baru pemanasan. Baru appetizer (makanan pembuka).”
Maya menoleh, mengerutkan dahi. “Maksud Kakak?”
”Lima puluh juta ini emang gede buat ukuran model pendatang baru,” jelas Kiki, melipat kedua tangannya di dada. “Tapi eike nggak mau kamu cuma berhenti jadi model catwalk kelas menengah. Muka kamu itu terlalu mahal buat sekadar muter-muter pakai gaun artis lokal.”
Kiki menarik napas panjang, matanya memancarkan ambisi seorang talent scout yang mencium aroma darah kesuksesan mutlak.
”Eike punya satu target gila buat kamu, May,” Kiki memelankan suaranya, seolah sedang membicarakan sebuah konspirasi tingkat tinggi. “Sebuah target yang kalau kita tembus… kamu nggak akan cuma dibayar puluhan juta. Kamu bakal dikontrak miliaran, dan wajah kamu bakal dipajang di seluruh Asia.”
Dada Maya berdesir. Kata miliaran kembali disebut. “Target apa itu, Kak?”
Kiki berjalan mendekat, menumpukan kedua tangannya di atas meja rias Maya, mencondongkan wajahnya hingga sangat dekat.
”Kamu ingat kan acara peluncuran besar-besaran di mal tempat kamu kerja kemarin lusa?” tanya Kiki.
Napas Maya seketika tertahan di tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa menyusut dan mendingin.
Acara peluncuran. Tentu saja aku ingat, batin Maya merinding. Di situlah aku menemukan kotak hitam terkutuk ini.
”I-iya, Kak. Saya ingat. Acara kosmetik Lumière Merveille, kan?” jawab Maya dengan sangat hati-hati, berusaha menjaga agar nada suaranya tidak bergetar karena panik.
”Tepat sekali, Sayang,” Kiki menjentikkan jarinya dengan semangat. “Itu bukan brand kosmetik sembarangan, May. Itu perusahaan raksasa dari Swiss. Dan mereka baru aja buka cabang utama di Indonesia dengan investasi triliunan.”
Kiki menegakkan tubuhnya, matanya menerawang jauh.
”Tadi pagi, eike dapet bocoran A1 (sangat akurat) dari temen eike yang kerja di Event Organizer acara mereka,” Kiki mulai berbisik lagi. “Katanya, pihak manajemen Lumière lagi kalang kabut dan pusing tujuh keliling hari ini.”
”Pusing kenapa, Kak?” pancing Maya, mencoba menggali informasi tanpa terlihat terlalu penasaran.
Apakah mereka sadar ada barang yang hilang? Jantung Maya berdetak liar. Apakah mereka sedang melacak keberadaan kotak hitam itu?
”Mereka pusing karena mereka lagi nyari seorang Muse (wajah inspirasi utama) lokal untuk mewakili lini produk anti-aging paling mahal mereka di pasar Asia,” ungkap Kiki, memecahkan teka-teki itu tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Maya mengembuskan napas lega yang nyaris tak terdengar. Ternyata bukan soal pencurian.
”Mereka udah ngetes puluhan artis papan atas kita dari minggu lalu, tapi nggak ada satu pun yang lolos kualifikasi,” lanjut Kiki dengan nada meremehkan. “Kamu tahu kenapa?”
Maya menggeleng pelan. “Kenapa?”
”Karena CEO mereka… pria yang megang kendali penuh atas perusahaan itu, orangnya perfeksionis sinting!” Kiki memutar bola matanya malas.
Kiki menyebutkan nama itu dengan penuh penekanan. “Randy Adhitama.”
Mendengar nama itu diucapkan, tubuh Maya kembali menegang kaku di atas kursinya.
Randy Adhitama. Nama itu seperti sebuah mantra kutukan yang tak asing di telinganya. Itu adalah nama yang digosipkan oleh Sari dan Icha dengan penuh nafsu. Itu adalah nama miliarder dingin yang berjalan melintasi atrium mal tanpa memedulikan keberadaan para pekerja kebersihan.
Dan yang paling krusial… itu adalah nama pria yang disebut-sebut oleh para pria berjas asing di bawah kolong panggung malam itu. Pria yang diklaim sebagai pemilik sah dari ‘Sampel Murni’ yang mungkin kini meresap dan mengubah daging di seluruh tubuh Maya.
”Si Randy itu cowok paling berkuasa di industri kecantikan sekarang,” Kiki melanjutkan ceritanya tanpa menyadari kepanikan di mata Maya.
”Dia itu iblis berdarah dingin, May. Dia nolak semua artis besar kita karena dia bilang muka mereka terlalu ‘pasaran’ dan terlalu banyak plastik operasi. Randy nyari muka yang bener-bener murni, natural, tapi punya struktur tulang yang nggak masuk akal secara anatomi. Dia nyari kesempurnaan yang mustahil.”
Kiki menatap lurus ke arah wajah Maya melalui cermin. Senyum lebar yang penuh intrik mengembang di wajah pria itu.
”Dan saat eike lihat syarat yang dia minta… eike langsung kepikiran satu orang, Sayang,” bisik Kiki penuh kemenangan. “Kamu.”
Darah Maya seolah membeku dan berhenti mengalir di pembuluh darah lehernya.
”S-saya?” tunjuk Maya pada dirinya sendiri dengan jari yang gemetar.
”Iya, kamu, Maya!” Kiki menepuk meja dengan antusias. “Muka porselen kamu yang tanpa cacat ini… struktur rahang kamu yang kayak dipahat malaikat ini… ini persis dengan apa yang dicari sama si Randy sinting itu! Eike yakin seratus persen, kalau Randy lihat foto kamu, dia pasti bakal langsung berlutut minta kamu jadi Brand Ambassador utama mereka!”
Pikiran Maya mendadak kosong. Ruangan rias yang dingin itu tiba-tiba terasa berputar hebat.
Bertemu dengan Randy Adhitama? Menjadi wajah utama dari perusahaan kosmetik miliknya?
Ini adalah sebuah langkah bunuh diri yang paling fatal.
Maya baru saja mencuri produk eksperimen paling rahasia dan paling mahal yang pernah diciptakan oleh perusahaan pria itu. Jika Randy adalah orang yang memegang kunci dari formula tersebut… pria itu pasti akan langsung tahu.
Randy pasti akan mengenali ‘karya’ produknya sendiri yang menempel di wajah dan tulang Maya. Pria perfeksionis dan berdarah dingin seperti Randy tidak mungkin bisa ditipu dengan alibi ‘krim tradisional racikan tetangga’.
Jika Randy menyadarinya, Maya tidak hanya akan kehilangan karier modelnya. Pria dengan kekuasaan absolut itu bisa menjebloskannya ke penjara, atau bahkan menghabisinya tanpa jejak karena telah mencuri rahasia miliaran perusahaannya.
”Kak Kiki… s-saya rasa… saya belum siap untuk klien sebesar itu,” ucap Maya dengan napas memburu, mencoba mencari alasan penolakan sehalus mungkin. Keringat dingin mulai merembes di kening porselennya. “Saya kan baru mulai hari ini, Kak. Saya masih amatir. Bagaimana kalau kita fokus ke majalah lokal aja dulu?”
Kiki mengerutkan dahinya, tampak sangat kecewa dan tak setuju dengan mentalitas kerdil anak asuhnya itu.
”Aduh, Sayang! Mental babu kamu tolong ditinggal di laci mal aja ya!” omel Kiki tajam, berkacak pinggang. “Di industri ini, kalau kamu mau main aman terus, kamu bakal dilindes sama model baru bulan depan. Kita harus hajar peluang sebesar ini pas nama kamu lagi naik daun!”
Kiki mencondongkan tubuhnya kembali, memegang bahu Maya dengan cengkeraman yang cukup kuat.
”Lagian, May… eike udah terlanjur ngirim portofolio foto killer kamu yang kemarin ke asisten pribadinya Randy tadi pagi,” ucap Kiki dengan nada polos yang luar biasa mematikan bagi Maya.
Jantung Maya mencelos. Hatinya seperti dijatuhkan dari lantai dua belas ke dasar aspal.
”K-Kakak udah… ngirim foto saya ke dia?!” suara Maya melengking tertahan, matanya membelalak lebar memancarkan teror murni.
”Udah dong! Fast response adalah kunci sukses eike!” Kiki tertawa riang, sama sekali buta terhadap kengerian yang baru saja ia timpakan pada nyawa Maya.
”Kita tinggal tunggu balasan dari pihak Lumière Merveille aja sekarang. Kalau mereka tertarik, besok atau lusa kamu bakal langsung dipanggil buat private casting berhadapan langsung empat mata sama Tuan Randy Adhitama. Oh my God, eike nggak sabar banget nunggu momen itu!”
Kiki menepuk-nepuk tangannya dengan gembira, lalu membalikkan badannya berjalan menuju pintu.
”Yaudah, kamu ganti baju ya, Sayang. Eike tunggu di lobi bawah. Supir udah standby.”
Pintu ruang rias itu tertutup rapat, meninggalkan Maya sendirian di dalam keheningan yang mencekik.
Maya duduk mematung di kursinya. Tubuhnya kaku, dingin, dan bergetar hebat. Amplop cokelat berisi uang lima puluh juta di depannya kini tak lagi terlihat menggiurkan. Amplop itu justru terlihat seperti uang pelayat untuk pemakamannya sendiri.
Tangan Maya secara refleks meraba pangkal lehernya.
Tepat di area tulang selangkanya yang semalam ia garuk hingga lecet. Di tempat di mana kulitnya sempat melunak dan membusuk sebelum ia olesi lagi dengan gel mutiara curian itu.
Ada sebuah denyutan pelan di sana.
Sebuah rasa gatal mikroskopis, sangat dalam, mulai kembali merayap di bawah lapisan dagingnya yang sempurna. Seolah-olah ‘monster’ di dalam cermin retaknya semalam mulai terbangun dari tidurnya, memperingatkan Maya bahwa waktu untuk bersembunyi telah habis.
Randy Adhitama akan melihat fotoku, batin Maya menjerit dalam keputusasaan yang absolut.
Ia memejamkan mata erat-erat, air mata ketakutan mengalir tanpa suara melewati pipinya yang mahal.
Pria itu akan tahu apa yang telah aku curi darinya. Dan ketika dia memanggilku untuk menatap wajahku secara langsung nanti… aku akan masuk ke dalam perangkap iblis yang tidak memiliki jalan keluar.
Popularitas ringan yang baru saja Maya cicipi hari ini nyatanya bukanlah sebuah anugerah keberuntungan. Popularitas ini hanyalah sebuah umpan beracun, yang secara perlahan namun pasti… sedang menarik Maya tepat ke dalam rahang sang pemilik asli dari kutukan tersebut.