Sore itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan tekanan yang menghimpit dada Maya. Mendung pekat menggantung rendah, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit dengan warna kelabu yang muram.
Mobil van mewah milik agensi Elegance membelah kemacetan ibu kota.
Maya duduk mematung di kursi penumpang belakang. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang digelapkan. Di luar sana, rintik hujan mulai turun membasahi kaca, mengaburkan pandangannya dari hiruk-pikuk manusia yang berdesakan di trotoar.
Di tangannya, ia masih menggenggam erat ponsel bututnya.
Layar ponsel itu sudah mati, namun gema dari percakapan teleponnya dengan Kiki sepuluh menit yang lalu masih terus berteriak di dalam kepalanya. Mengoyak-ngoyak sisa kewarasannya.
Randy Adhitama akan melihat fotonya. Miliarder berdarah dingin itu, CEO dari Lumière Merveille, sang pemilik asli dari kotak hitam misterius yang kini tersembunyi di dasar lemari kayunya. Pria itu sedang mencari sosok bidadari sempurna, dan Kiki baru saja menyodorkan Maya tepat ke atas meja sang predator.
”Mbak Maya, kita sudah sampai di Rumah Sakit Umum Pusat.”
Suara sopan sang supir agensi membuyarkan lamunan kelam Maya.
Mobil van itu berhenti mulus tepat di lobi utama rumah sakit. Maya tersentak, menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang sedari tadi berpacu liar.
”Terima kasih, Pak. Bapak bisa langsung pulang saja, tidak perlu menunggu saya,” ucap Maya dengan nada yang ia usahakan terdengar tenang dan profesional.
”Baik, Mbak. Hati-hati.”
Maya membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Ia mengenakan pakaian kasual mahal yang dibelikan Kiki tadi siang, sebuah blazer berwarna beige elegan, dipadukan dengan celana kulot putih dan sepatu flats desainer. Rambut porselen hitamnya tergerai indah, membingkai wajahnya yang sempurna tanpa cela.
Begitu ujung sepatunya menginjak lobi rumah sakit, semua pasang mata otomatis tertuju padanya.
Para satpam, perawat yang sedang melintas, dan keluarga pasien lain seketika menghentikan obrolan mereka. Mereka memberikan jalan dengan sukarela, terpesona oleh aura bintang yang menguar dari tubuh Maya.
Namun, semua tatapan memuja itu tak lagi membuat Maya merasa bangga. Hari ini, tatapan-tatapan itu terasa seperti ribuan jarum yang menembus kulitnya. Ia merasa ditelanjangi. Ia merasa setiap orang sedang mengagumi sebuah kebohongan besar yang ia curi dari iblis.
Maya mempercepat langkahnya menuju lift. Ia menekan tombol lantai tiga, tempat ruang ICU VIP berada.
Saat pintu lift terbuka, bau khas antiseptik dan karbol pembersih lantai langsung menyergap penciumannya. Bau yang dulu mengingatkannya pada hari-harinya mengepel mal, kini menjadi satu-satunya aroma yang membawanya kembali pada realitas keluarganya.
Ia berjalan menyusuri lorong yang sunyi, menuju kamar nomor 302.
Di depan pintu kamar VIP itu, Maya berhenti sejenak. Ia meletakkan tangannya di atas gagang pintu stainless steel.
Sebuah rasa gatal yang sangat tajam kembali berdenyut di pangkal lehernya, tepat di atas tulang selangka kirinya. Rasa gatal itu terasa seperti ada semut raksasa yang sedang menggali jalan keluar dari dalam dagingnya.
Maya meringis tertahan. Ia tidak berani menggaruknya. Ia tahu apa yang terjadi semalam saat ia menggaruknya. Dagingnya melembek.
Aku harus tahan. Cuma sebentar. Aku cuma mau lihat Ibu, batin Maya menyemangati dirinya sendiri.
Ia menekan gagang pintu dan mendorongnya terbuka perlahan.
Cklek.
Ruang rawat inap VIP itu sangat luas dan sepi. Jauh berbeda dengan ruang bangsal kelas tiga yang dulu sering ibunya tempati. Di sini ada sofa kulit empuk untuk penjaga, televisi layar datar, dan pendingin ruangan yang suhunya bisa diatur sendiri.
Di tengah ruangan itu, di atas ranjang medis otomatis yang canggih, ibunya terbaring lemah.
Mesin ventilator yang besar dan menakutkan itu rupanya telah dilepas oleh dokter siang tadi. Kini, hanya tersisa selang kanula oksigen bening yang melingkar di hidung ibunya. Suara mesin monitor detak jantung berbunyi ritmis dan stabil.
”Ibu…?” panggil Maya dengan suara yang sangat lembut, nyaris seperti bisikan.
Kelopak mata wanita tua yang keriput itu bergerak pelan. Perlahan-lahan, mata yang sayu dan lelah itu terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar.
”Maya… Nduk…?” suara ibunya terdengar luar biasa serak dan parau, namun ada secercah kelegaan yang mengalun di sana.
Maya langsung berlari kecil menghampiri sisi ranjang. Ia meletakkan tas mahalnya di atas sofa, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di lantai samping ranjang ibunya.
”Iya, Bu. Ini Maya,” isak Maya tertahan. Ia meraih tangan kanan ibunya yang dipenuhi bekas suntikan jarum infus. Ia menggenggamnya erat dan menciumi punggung tangan itu berkali-kali. “Ibu udah sadar? Dada Ibu masih sakit? Masih sesak napasnya?”
Sang ibu tersenyum sangat tipis. Garis-garis penderitaan di wajahnya memang telah memudar, namun kelelahannya masih sangat pekat.
”Sudah mendingan, Nduk… Ibu udah nggak sesak lagi,” bisik ibunya lemah.
Wanita tua itu menolehkan kepalanya sedikit, menatap sekeliling ruangan yang mewah itu dengan pandangan bingung.
”Ini… kita di mana, Maya? Ini bukan klinik yang kemarin malam, kan? Ruangan ini bagus sekali. Terlalu bagus buat kita…”
Dada Maya terasa diremas kuat. “Ini rumah sakit pusat, Bu. Ruang VIP.”
”Ruang VIP…?” Mata ibunya membelalak lemah. Ketakutan akan kemiskinan kembali menghantui instingnya. “Ya Allah, Nduk… biayanya pasti mahal sekali. Uang dari mana kamu bayar semua ini? Jangan bilang kamu pinjam ke lintah darat, Maya. Ibu lebih rela mati daripada kamu dikejar utang.”
”Enggak, Bu! Maya nggak pinjam ke rentenir! Sumpah, Bu!” potong Maya cepat, mengusap air mata yang menetes di pipi porselennya.
Maya menarik napas panjang, menyiapkan skenario kebohongan yang sudah ia latih berkali-kali.
”Ibu ingat kan, waktu Bapak masih ada, Bapak bilang Maya punya bakat? Kemarin siang, ada pencari bakat dari agensi artis yang datang ke mal tempat Maya kerja, Bu,” cerita Maya dengan nada yang sangat meyakinkan.
”Dia… dia bilang Maya cocok jadi model majalah. Dia nawarin kontrak kerja, Bu. Uang mukanya besar sekali. Maya pakai uang muka itu buat bayar lunas semua biaya rumah sakit dan tebus obat Ibu. Ibu nggak usah mikirin biaya apa-apa lagi sekarang. Semuanya udah lunas.”
Ibunya terdiam mendengar penjelasan itu. Mata tuanya yang rabun mencoba memfokuskan pandangan, menatap wajah putrinya dari jarak dekat.
Wanita renta itu perlahan mengangkat tangan kirinya yang bebas dari selang infus. Dengan gemetar, jari-jarinya yang kasar menyentuh pipi Maya.
Sensasi dingin dari kulit porselen Maya langsung tersalurkan ke telapak tangan ibunya.
Alis sang ibu berkerut samar.
”Wajahmu…” gumam ibunya pelan, meraba garis rahang Maya yang kini setajam pisau. “Kamu… terlihat sangat berbeda, Nduk. Sangat cantik. Tapi… aneh.”
Jantung Maya berdegup kencang. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang canggung. “A-aneh gimana, Bu? Ini kan karena Maya sekarang didandanin sama orang agensi. Rambut Maya juga udah dilurusin di salon. Baju Maya juga bagus sekarang.”
”Bukan bajumu…” ibunya menggeleng lemah. Jari kasarnya mengusap kulit rahang Maya dengan ragu. “Kulitmu… terasa dingin sekali, Nduk. Nggak hangat seperti biasa. Dan… dan wajahmu ini… Ibu merasa seperti sedang menyentuh wajah orang asing.”
Kata-kata ‘orang asing’ itu menembus ulu hati Maya bagaikan peluru sniper.
Ibunya tidak tahu tentang transmutasi gaib itu. Ibunya tidak tahu tentang kotak hitam. Namun, insting seorang ibu yang melahirkannya tidak bisa ditipu sepenuhnya oleh kesempurnaan porselen ini. Ikatan darah di antara mereka seolah terputus oleh dinding daging buatan yang kini membalut tengkorak Maya.
”Ini efek riasan makeup aja, Bu. Tadi kan Maya abis difoto-foto,” kilah Maya buru-buru, menurunkan tangan ibunya dan menggenggamnya kembali di atas kasur. Ia tidak ingin ibunya meraba lebih jauh.
Ibunya menghela napas panjang. Matanya menatap langit-langit kamar VIP itu dengan tatapan kosong yang menyiratkan kesedihan.
”Kamu sibuk sekali sekarang ya, Nduk?” tanya ibunya, suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin monitor.
”Bude Ningsih tadi pagi ke sini jenguk Ibu. Bude bilang, kamu pergi pagi-pagi buta buat pemotretan. Kamu nggak sempat pulang ke kontrakan, nggak sempat nengok Ibu kemarin.”
”Maafin Maya, Bu,” suara Maya pecah. Ia kembali menundukkan kepalanya. “Agensi minta Maya langsung kerja. Jadwalnya padat banget. Tapi Maya janji, mulai sekarang, setiap malam habis kerja Maya bakal nginep di sini nemenin Ibu tidur di sofa itu.”
Maya menunjuk ke arah sofa kulit yang empuk di sudut ruangan. Ia benar-benar berniat melakukan itu. Ia ingin berada di samping ibunya, membayar waktu yang hilang akibat ambisi mencari uangnya.
Namun, tepat saat kalimat janji itu terucap dari mulutnya…
Sebuah rasa perih yang luar biasa tajam menyengat pangkal leher Maya. Rasa gatal yang tadi hanya berdenyut pelan, kini meledak layaknya api yang membakar dari bawah kulitnya.
Maya tersentak. Tangannya refleks melepaskan genggaman tangan ibunya. Ia mencengkeram lehernya sendiri, menekan area tulang selangkanya dari balik kerah kemeja blazer-nya dengan sangat kuat.
Nggak… jangan sekarang! Tolong, jangan sekarang! jerit batin Maya panik.
Di balik kain bajunya, kuku-kukunya bisa merasakan dengan sangat jelas apa yang sedang terjadi.
Daging di sekitar goresan kuku yang ia buat semalam… kini tidak lagi terasa padat. Kulit porselennya di area itu mulai terasa lengket, kenyal, dan lembek. Persis seperti adonan jeli yang diletakkan di bawah terik matahari. Fase plastisitas itu memaksa membuka gemboknya sendiri secara prematur. Pembusukan jaringan telah dimulai lagi.
Jika ia membiarkannya lebih lama, daging lehernya akan melesak amblas, atau lebih buruk lagi, meleleh ke bawah dan membasahi kerah bajunya dengan cairan hitam seperti di dalam mimpinya.
Ia tidak bisa menginap di rumah sakit ini malam ini. Ia tidak membawa kotak hitam itu di tasnya. Kotak itu tersembunyi dengan aman di dasar lemari kontrakannya yang kumuh.
Satu-satunya cara untuk menghentikan pelunakan daging ini dan merajut kembali struktur tubuhnya adalah dengan mengoleskan gel mutiara itu malam ini juga. Jika ia terlambat, esok pagi ia akan berubah menjadi monster di depan Kiki.
”Maya? Kamu kenapa, Nduk? Kok pucat begitu?” tanya ibunya khawatir melihat Maya tiba-tiba membungkuk kesakitan memegangi lehernya. “Lehermu sakit?”
”E-enggak, Bu. Nggak apa-apa,” Maya buru-buru berdiri. Ia memutar tubuhnya membelakangi ranjang, menyembunyikan wajahnya yang panik dari pandangan ibunya. “Maya… Maya cuma agak masuk angin dikit.”
Maya menelan ludah. Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia menoleh ke arah ibunya dari balik bahunya. Hatinya hancur berkeping-keping saat ia harus membatalkan janji yang baru saja ia buat sepuluh detik yang lalu.
”Bu… maafin Maya…” suara Maya bergetar hebat. Ia tidak sanggup menatap mata ibunya. “Maya… Maya nggak bisa nginep di sini malam ini.”
”Lho? Kenapa, Nduk? Katanya tadi mau nemenin Ibu tidur?” suara ibunya terdengar sarat akan kekecewaan yang sangat mendalam.
”B-besok pagi buta Maya ada jadwal penting banget dari agensi, Bu. Maya harus siap-siap. Bajunya ada di kontrakan semua. Kalau Maya tidur di sini, Maya takut kesiangan besok,” dusta Maya dengan lidah yang terasa kelu. “Suster di sini baik-baik kok, Bu. Mereka bakal jaga Ibu dua puluh empat jam. Maya pulang ke kontrakan dulu ya, Bu?”
Hening yang sangat lama menyelimuti ruang VIP tersebut.
Hanya terdengar bunyi beep… beep… beep… dari monitor jantung.
Maya bisa merasakan tatapan ibunya yang menembus punggungnya. Tatapan seorang ibu yang menyadari bahwa putrinya perlahan-lahan sedang direnggut oleh dunia yang tidak ia kenal.
”Iya, Nduk,” jawab ibunya akhirnya. Suara wanita tua itu terdengar sangat lirih, penuh kepasrahan, dan luar biasa kesepian. “Pulanglah. Kerja yang bener. Ibu nggak apa-apa kok sendirian di sini. Ibu udah biasa.”
Kalimat “Ibu udah biasa” itu adalah tamparan paling keras yang pernah Maya terima, jauh lebih menyakitkan dari tamparan Bu Ratna.
Dulu, seberapa pun lelahnya Maya mengepel lantai mal, ia selalu pulang. Ia selalu tidur di kasur busa yang sama dengan ibunya, mengusap punggung ibunya saat batuk.
Kini, ia memiliki uang puluhan juta di rekeningnya. Ia menyewa kamar rumah sakit paling mewah dan termahal. Namun ironisnya, ia justru membiarkan ibunya sendirian. Kemewahan ini nyatanya tidak mendekatkan mereka, melainkan membangun tembok beton yang memisahkan mereka.
Kutukan kotak hitam itu menuntut seluruh waktunya, merampas kebebasannya untuk menjadi seorang anak perempuan yang normal.
”Maya pamit ya, Bu. Assalamu’alaikum,” bisik Maya, menyambar tas mewahnya dari sofa dan setengah berlari keluar dari kamar rawat inap itu tanpa berani menoleh lagi.
”Wa’alaikumsalam… hati-hati, Nduk,” lirih sang ibu, menatap pintu yang tertutup rapat, menyisakan dirinya dalam kesunyian ruangan mewah yang terasa sangat asing.
Begitu pintu ruang ICU VIP tertutup, Maya langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Ia menerobos masuk ke dalam pintu toilet umum terdekat, mengunci pintunya dari dalam, dan berdiri di depan wastafel. Napasnya terengah-engah. Ia meletakkan tasnya secara asal, lalu dengan tangan gemetar, ia menarik ritsleting blazer-nya ke bawah, mengekspos area pangkal lehernya.
Di bawah cahaya lampu toilet yang putih terang, Maya menatap pantulan kulitnya di cermin.
Matanya terbelalak ngeri.
Tiga garis merah bekas garukannya semalam kini telah berubah warna menjadi kehitaman. Kulit porselen di sekitarnya tidak lagi kencang. Area sebesar koin lima ratus rupiah di atas tulang selangkanya itu telah melesak ke dalam, penyok, dan bertekstur sangat lembek layaknya bubur daging.
Bau tanah basah dan anyir darah samar-samar kembali tercium dari pori-porinya sendiri.
”Nggak… nggak… aku harus pulang sekarang,” rintih Maya panik. Ia buru-buru menarik kerah bajunya kembali ke atas, menutupi area yang membusuk itu.
Ia harus segera kembali ke kontrakannya. Ia harus mengoleskan gel mutiara itu ke bagian ini untuk mengunci kembali dagingnya sebelum nekrosis ini melebar ke seluruh lehernya.
Tepat pada saat ia memutar badan untuk keluar dari toilet, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat.
Nada deringnya berbunyi nyaring.
Maya membeku. Jantungnya berpacu. Ia ragu sejenak, namun akhirnya merogoh tasnya dan melihat layar ponselnya.
Nama ‘Kak Kiki Agensi’ kembali berkedip.
Dengan tangan yang masih gemetar, Maya mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
”Halo, Kak Kiki?” sapa Maya, suaranya terdengar tegang dan terburu-buru. “Saya lagi di rumah sakit. Ada apa, Kak?”
“Maya, Sayang! Eike bawa berita super duper gila malam ini!” suara Kiki meledak dari speaker ponsel, memancarkan euforia yang nyaris histeris. “Pegang jantung kamu kuat-kuat, Sayang!”
Maya memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut. “Ada apa, Kak?”
“Mereka balas email eike, May! Tim manajemen Lumière Merveille baru aja telepon eike langsung barusan!” pekik Kiki kegirangan. “Mereka lihat foto-foto catwalk kamu di Atrium tadi siang yang viral itu! Dan tebak?! Mereka tertarik banget sama struktur tulang wajah kamu!”
Napas Maya seketika berhenti. Darahnya terasa membeku dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
“Mereka minta private casting buat kamu besok pagi jam sembilan teng di kantor pusat mereka di SCBD!” lanjut Kiki, tanpa menyadari teror yang baru saja ia sampaikan. “Dan yang bikin gila… Tuan Randy Adhitama sendiri yang bakal turun tangan buat wawancara dan ngecek fisik kamu secara langsung besok pagi!”
Ponsel di tangan Maya nyaris tergelincir jatuh.
Audisi tertutup? Bertatap muka langsung secara empat mata dengan Randy Adhitama? Besok pagi?
”K-Kak Kiki… b-besok pagi?” suara Maya bergetar luar biasa parah, ketakutan yang absolut merampas kontrol pita suaranya. “T-tapi Kak… saya belum siap. Saya belum punya portofolio yang banyak. Gimana kalau mereka…”
“Aduh, Sayang! Buang pikiran negatif kamu!” potong Kiki cepat, nada suaranya berubah menjadi sangat tegas dan memerintah. “Ini kesempatan sekali seumur hidup! Miliaran rupiah ada di depan mata kamu, May! Kamu nggak boleh nolak! Besok pagi jam enam teng, supir eike bakal jemput kamu di depan gang buat fitting baju dulu di agensi. Eike mau mastiin penampilan kamu besok bener-bener sempurna dan nggak ada cacat sedikit pun di depan Tuan Randy.”
”Kak, tapi saya…”
“Nggak ada tapi-tapian, Maya The Fierce Unknown! Pastiin malam ini kamu tidur cukup, dan besok pagi muka porselen kamu harus ready seratus persen. Eike tutup ya, mau nyiapin berkas kontrak kamu. Ciao!”
Klik. Panggilan terputus sepihak.
Maya menurunkan ponselnya perlahan. Telinganya berdenging keras.
Toilet rumah sakit itu terasa berputar di sekelilingnya.
Besok pagi. Jam enam ia akan dijemput. Jam sembilan ia akan berhadapan langsung dengan sang iblis pemilik formula yang ia curi.
Randy Adhitama adalah pria yang perfeksionis. Jika besok pagi Randy menatap wajah Maya dari jarak dekat… pria itu pasti akan menyadari bahwa kesempurnaan tulang rahang dan kulit porselen Maya bukanlah hasil genetika alami. Randy pasti akan mengenali ‘karya’ produknya sendiri yang menempel di wajah Maya.
Dan saat hal itu terjadi… Maya tidak hanya akan kehilangan pekerjaannya. Ia akan dikirim ke penjara, atau mungkin dihabisi tanpa jejak oleh kekuasaan sang miliarder.
Rasa gatal di tulang selangkanya kembali menyengat dengan brutal, menyadarkannya pada realitas yang lebih mendesak malam ini.
Dagingnya sedang meleleh. Ia harus memperbaikinya malam ini juga. Jika besok pagi Kiki atau Randy Adhitama melihat ada bagian dagingnya yang melembek dan menyusut di lehernya… rahasianya akan terbongkar dengan cara yang jauh lebih mengerikan.
Maya menatap pantulan dirinya di cermin toilet untuk terakhir kalinya.
Gadis miskin yang polos itu telah benar-benar mati.
Ia telah terjebak dalam sebuah labirin yang tak memiliki pintu keluar. Ia memutar kunci toilet, melangkah keluar ke lorong rumah sakit yang dingin, dan berlari menembus gelapnya malam Jakarta.
Ia harus kembali ke kontrakannya. Ia harus membuka kotak hitam itu lagi malam ini. Ia harus kembali menukar sisa jiwanya dengan iblis di dalam cermin, mempersiapkan topeng porselennya dengan sempurna… untuk menyambut sang pemilik asli yang telah menunggunya di ujung panggung kehancuran esok pagi.