Langkah kaki Maya menghantam genangan air hujan di gang sempit itu dengan brutal.
Ia berlari menembus gelapnya malam. Napasnya tersengal-sengal. Ia tidak memedulikan cipratan lumpur yang mengotori sepatu desainer dan celana kulot putih bersih yang baru saja dibelikan oleh Kiki.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, daging di lehernya yang sedang mencair.
Begitu sampai di depan pintu kontrakannya, tangan Maya bergetar hebat saat memasukkan kunci ke dalam gembok.
Cklek. Pintu terbuka. Ia menerobos masuk, membanting pintu itu hingga tertutup, dan segera menggeser gerendel besinya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk menyalakan lampu ruang depan, ia langsung berlari ke arah dapur. Ia menyalakan lampu neon kuning yang berkedip suram, lalu melempar tas mewahnya ke atas kursi plastik.
Maya menarik ritsleting blazer-nya ke bawah dengan gerakan kasar. Ia menarik kerah kausnya hingga mengekspos area tulang selangka kirinya.
Di bawah cahaya lampu, ia menatap pantulan kulitnya di cermin retak wastafel.
”Ya Tuhan… nggak… jangan meleleh sekarang…” rintih Maya dengan suara bergetar dipenuhi kepanikan absolut.
Tiga garis merah bekas garukannya di rumah sakit tadi… kini telah berubah menjadi kehitaman. Kulit porselen di sekitarnya tidak lagi kencang. Area sebesar koin lima ratus rupiah di atas tulang selangkanya itu telah melesak ke dalam.
Dagingnya penyok. Teksturnya terlihat sangat basah, kenyal, dan lembek layaknya bubur daging yang ditinggalkan di udara terbuka.
Sebuah aroma yang sangat memuakkan, campuran antara bau tanah basah, bahan kimia steril, dan anyir darah busuk merembes keluar dari pori-pori kulitnya yang membusuk itu.
Maya tidak berani menyentuhnya. Ia takut jika jarinya menekan area itu, jarinya akan menembus dagingnya sendiri.
Ia berbalik, berlutut di depan lemari kayunya, dan menarik kotak hitam matte itu keluar dari bawah tumpukan baju.
Ia membawanya ke atas meja beton. Tangan porselennya dengan cepat membuka segel magnetik kotak tersebut. Desisan vakum ssshhh menguar, disambut oleh tangis kelegaan dari bibir Maya.
Ia meraih jar kaca frosted berbentuk bulat. Memutar tutupnya. Menyambar spatula obsidian hitam.
”Tolong… bekerja lagi. Tolong…” rapalnya seperti mantra.
Ia mengambil seujung kecil gel putih mutiara yang memancarkan pendaran perak itu. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Maya mengoleskan gel bersuhu es itu tepat ke atas area daging yang melunak di tulang selangkanya.
Ssssshhh!
Rasa dingin kriogenik yang luar biasa tajam langsung menyengat kulitnya. Menggigit dan membekukan jaringan dagingnya hingga ke dasar tulang kalsium.
Maya memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan perih yang menyiksa.
Dalam hitungan detik, rasa gatal, perih, dan lembek itu seketika terhenti. Digantikan oleh sensasi kebas yang menenangkan.
Maya membuka matanya perlahan. Di cermin, ia melihat sendiri bagaimana daging yang tadinya mulai membusuk itu… perlahan-lahan merajut dirinya sendiri kembali. Jaringannya memadat, menarik diri, dan mengunci bentuknya. Cekungan hitam itu memudar, lenyap tertutup oleh kulit porselen yang kembali mulus tanpa cela.
Maya merosot ke lantai dapur, menyandarkan punggungnya ke lemari kayu.
Napasnya terengah-engah. Ia menatap jar kaca di atas meja dengan tatapan ngeri sekaligus memuja.
Ia selamat malam ini. Kutukan itu berhasil ia tunda.
Namun, saat ia menatap isi jar kaca tersebut, sisa-sisa kepanikannya kembali membeku menjadi sebuah realitas yang mencekik.
Gel mutiara di dalam wadah itu telah menyusut melewati batas setengahnya.
Ia baru saja menggunakan gel itu untuk sekadar ‘menambal’ kerusakan kecil. Bagaimana jika besok, kerusakan yang terjadi jauh lebih besar? Bagaimana jika besok wajahnya yang tiba-tiba meleleh saat ia sedang berhadapan dengan Randy Adhitama?
”Aku harus dapat kontrak itu besok,” bisik Maya pada dirinya sendiri di dalam kesunyian. “Aku harus dapat uang miliaran itu secepatnya. Kalau gel ini habis… setidaknya aku punya uang untuk pergi ke luar negeri, bersembunyi dari dunia, atau menyewa dokter terbaik untuk menghentikan pembusukan ini.”
Tiba-tiba, nada dering ponsel dari dalam tasnya memecah lamunannya.
Maya tersentak. Ia buru-buru berdiri, mengunci jar kaca itu, memasukkannya ke dalam kotak hitam, lalu menyembunyikannya kembali ke dalam lemari.
Ia berjalan ke arah kursi dan mengambil ponselnya.
Bukan Kiki. Nama yang tertera di layar adalah ‘Pak Agus’.
Jantung Maya berdesir. Perasaan bersalah yang tadi sempat ia kubur di rumah sakit, kini kembali mengambang ke permukaan. Ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
”Halo, Pak Agus?” sapa Maya lembut.
“Halo, Nduk Maya. Ini Bude, Nduk,” suara parau Bu Ningsih yang menjawab dari seberang sana. Terdengar suara bising mesin rumah sakit di latar belakangnya.
”Bude Ningsih? Ada apa, Bude? Ibu nggak apa-apa kan?!” tanya Maya panik, langsung memikirkan skenario terburuk.
“Ibumu nggak apa-apa, May. Ibumu stabil kok. Mesin nadinya juga normal,” jawab Bu Ningsih cepat untuk menenangkan Maya. “Cuma… ibumu dari tadi nanyain kamu terus, Nduk. Beliau nyariin kamu.”
Dada Maya terasa diremas dengan sangat kuat.
”Ibu nyariin Maya?”
“Iya. Ibumu gelisah nggak mau tidur. Tadi dia nanya ke suster, anaknya ke mana kok belum balik-balik dari toilet,” cerita Bu Ningsih dengan nada pelan. “Bude udah coba bohongin ibumu. Bude bilang kamu pulang sebentar buat ambil baju ganti. Tapi ibumu instingnya kuat, Nduk. Dia tahu kamu pergi kerja lagi.”
Terdengar suara kresek-kresek dari telepon.
“Sebentar, Nduk. Ibumu minta bicara sama kamu.”
Maya menahan napasnya. Telinganya berdenging menahan tangis.
“Maya…?” Suara ibunya terdengar sangat lemah, sangat rapuh, dan luar biasa kesepian menembus speaker ponsel itu.
”Iya, Bu. Ini Maya,” jawab Maya. Suaranya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di matanya. “Ibu kenapa belum tidur? Ini udah jam setengah sebelas malam, Bu. Ibu harus banyak istirahat biar paru-parunya cepat pulih.”
“Ibu nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu di sebelah Ibu, Nduk,” lirih wanita tua itu.
Sebaris kalimat sederhana itu meluncur dan menembus tepat ke ulu hati Maya, menghancurkan semua keangkuhannya hari ini.
Dulu, setiap malam, di kasur busa yang tipis dan keras, Maya selalu tidur memeluk ibunya. Ia selalu mengusap punggung ibunya saat batuk. Kemiskinan mengikat mereka dalam kehangatan yang tak bisa dibeli. Kini, di atas kasur VIP empuk seharga jutaan rupiah semalam, ibunya justru merasa kedinginan.
“Kamu beneran nggak bisa balik ke rumah sakit malam ini, Nduk?” tanya ibunya dengan nada memelas yang sangat menyayat hati. “Ibu kira… malam ini kita bisa tidur bareng lagi kayak dulu. Di sofa empuk itu.”
Maya memejamkan mata. Air mata akhirnya menetes membasahi pipi porselennya.
Ia ingin sekali berteriak ‘Iya’. Ia ingin berlari ke luar gang, menyetop taksi, dan kembali ke rumah sakit untuk memeluk ibunya. Ia sangat merindukan wangi minyak kayu putih dari tubuh rentanya.
Namun, bayangan wajah Randy Adhitama dan audisi besok pagi seketika menghalangi niatnya.
Ia tidak bisa tidur di rumah sakit. Wajahnya besok pagi tidak boleh terlihat sembap. Matanya tidak boleh berkantung hitam. Ia harus menjaga wujud porselen ini tetap sempurna tanpa cela di depan sang CEO Lumière Merveille. Satu kesalahan kecil besok pagi, satu kecurigaan dari Randy, maka bukan hanya kariernya yang hancur, nyawanya dan kebebasannya akan berakhir di balik jeruji besi.
”Maafin Maya, Bu…” isak Maya tanpa suara, menahan isakannya agar tidak terdengar di telepon. “Maya nggak bisa balik malam ini. Besok pagi jam enam, Maya harus udah ada di studio buat kerjaan besar, Bu. Kalau Maya bolos, Maya bisa dipecat. Uang muka yang kemarin bisa disuruh kembaliin.”
Hening sesaat dari seberang sana. Hanya terdengar helaan napas berat dari ibunya.
“Kamu sibuk sekali ya sekarang, Nduk…” suara ibunya berubah.
Bukan marah. Bukan membentak. Melainkan menyiratkan sebuah kekecewaan dan kepasrahan yang luar biasa dalam.
“Uangnya sudah cukup, Maya. Rumah sakit ini sudah lunas. Ibu sudah merasa lebih baik,” bujuk ibunya pelan. “Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk ngejar uang, Nduk… sampai kamu lupa jalan pulang.”
”Ibu nggak ngerti…” Maya membantah pelan, egonya mulai tersentuh.
Ia melakukan semua pencurian ini, ia merombak wajahnya, ia mempertaruhkan nyawanya dan menghadapi teror cermin… semua itu ia lakukan demi ibunya! Mengapa ibunya justru terdengar tidak bersyukur?
”Maya lakuin ini semua buat kita, Bu! Buat masa depan kita!” Maya bersikeras, suaranya sedikit meninggi. “Maya nggak mau lagi lihat Ibu batuk darah di kontrakan busuk ini! Maya mau kita pindah! Maya mau Ibu dirawat sama dokter terbaik terus! Ini semua demi Ibu!”
“Ibu nggak butuh rumah mewah atau dokter mahal, Maya,” potong ibunya lembut, namun setiap kata-katanya sangat tajam. “Ibu cuma butuh kamu. Ibu butuh anak perempuan Ibu yang dulu. Anak yang selalu ada di samping Ibu. Bukan anak yang wajahnya terasa asing dan dingin di tangan Ibu.”
Pernyataan itu menghentikan seluruh fungsi otak Maya.
Ibunya merasakan dinginnya kulit porselen itu. Ibunya merasa kehilangan dirinya, meskipun secara fisik Maya masih ada di dunia ini.
“Tidurlah, Nduk. Jangan lupa baca doa. Ibu tutup teleponnya ya,” pamit ibunya.
”Bu… Bu, tunggu—”
Klik. Sambungan telepon terputus.
Maya menurunkan ponselnya perlahan. Ia berdiri mematung di tengah ruangan kontrakannya yang lembap dan sepi.
Ia menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya terasa kosong. Kehampaan yang sangat mengerikan menggerogoti jiwanya.
Ia telah menukar wajah kusamnya dengan kecantikan miliaran rupiah. Ia telah menukar kemiskinannya dengan tumpukan uang tunai di tasnya. Namun sebagai bayarannya, ia baru saja membangun tembok beton yang memisahkan dirinya dengan satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat di dunia ini.
Maya berjalan gontai menuju wastafel. Ia menatap pantulannya di cermin retak itu.
Wajah porselen itu membalas tatapannya. Matanya yang tajam dan tirus, bibirnya yang penuh dan merah. Sempurna. Tidak ada jejak Maya si gadis miskin di sana. Wajah ini adalah wajah seorang predator, wajah seorang wanita kelas atas yang siap menaklukkan dunia.
Ibu tidak mengerti, batin Maya, hatinya mulai mengeras menolak rasa bersalah. Ibu sudah terlalu lama hidup miskin. Ibu tidak tahu bagaimana rasanya diinjak-injak setiap hari oleh orang seperti Sari.
Maya mengusap sisa air mata di pipinya. Ekspresi wajahnya perlahan berubah. Kesedihan dan rasa bersalah itu ia telan paksa, ia kubur dalam-dalam di sudut hatinya yang paling gelap.
Aku tidak bisa kembali menjadi tukang pel, putus Maya dalam hati. Matanya menatap dingin pantulannya sendiri. Aku tidak akan pernah kembali memakai seragam biru pudar itu. Jika aku harus menjadi orang asing bagi ibuku sendiri agar kami bisa hidup kaya raya dan dihormati, maka biarlah aku menjadi orang asing itu.
Maya mematikan lampu dapur. Malam itu, ia tertidur tanpa mimpi buruk. Bukan karena kutukannya menghilang, melainkan karena sisi gelap di dalam dirinya telah sepenuhnya mengambil alih kendali. Ia telah berdamai dengan monsternya.
Keesokan harinya. Pukul 06:00 pagi.
Sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilap berhenti tepat di depan mulut gang perkampungan kumuh itu. Kehadirannya yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar langsung menjadi tontonan warga yang hendak berangkat ke pasar.
Supir berseragam rapi keluar dan membukakan pintu penumpang belakang.
Maya melangkah keluar dari gang.
Pagi ini, ia tidak menundukkan kepalanya. Ia tidak peduli pada tatapan warga yang berbisik-bisik. Ia berjalan dengan punggung tegak lurus, dagu terangkat, dan tatapan mata yang sangat fokus ke depan.
Gadis porselen itu masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada supir.
Pukul 07:00 pagi. Kantor Elegance Model Management.
Kiki menyambut Maya di ruang rias VIP agensinya. Pria itu sudah menyiapkan secangkir teh chamomile hangat untuk Maya.
”Selamat pagi, Bidadariku! Tidurmu nyenyak semalam?” sapa Kiki riang, menatap wajah Maya yang terlihat segar tanpa kantung mata. “Sempurna. Nggak ada bengkak, nggak ada dark circle. Kamu emang dilahirin buat kamera, Sayang.”
”Pagi, Kak Kiki. Saya siap untuk audisinya,” jawab Maya tenang.
”Bagus. Semangat ini yang eike suka,” Kiki menepuk tangannya.
Pria itu memberi isyarat pada asistennya. Asisten itu membawa sebuah gaun dress selutut berwarna putih gading (ivory) yang modelnya sangat minimalis, tanpa kerah, dengan lengan panjang yang menempel ketat di tubuh.
”Randy Adhitama itu benci sesuatu yang berlebihan, May,” Kiki mulai memberikan instruksi sambil menata baju itu. “Dia benci makeup tebal. Dia benci aksesoris mencolok. Dia suka kemurnian. Dia suka sesuatu yang pure, bersih, dan elegan tanpa harus berusaha terlalu keras.”
Kiki menunjuk wajah Maya. “Makanya, hari ini kamu nggak bakal dipoles makeup apa-apa. Cuma pelembap bibir bening. Biar dia lihat sendiri kanvas murni dari kulit porselen kamu yang gila ini.”
”Saya mengerti, Kak,” angguk Maya.
Setelah berganti pakaian, Maya duduk di depan cermin. Penampilannya pagi ini benar-benar memancarkan aura kesucian yang elegan. Gaun putih gading itu membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna, menonjolkan tulang selangka dan leher jenjangnya. Ia terlihat seperti seorang dewi yang belum tersentuh noda duniawi.
Ironisnya, di balik penampilan suci itu, tersimpan sebuah dosa pencurian yang sangat besar.
Pukul 08:30 pagi.
Mobil van mewah agensi Kiki membawa mereka berdua membelah kemacetan menuju kawasan SCBD (Sudirman Central Business District).
”Dengerin eike baik-baik, Maya,” Kiki memecah keheningan di dalam mobil, nadanya kini sangat serius.
”Randy itu bukan klien biasa. Dia itu genius yang control freak. Dia bakal nanya hal-hal yang mungkin aneh buat kamu. Dia bakal merhatiin kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki kayak lagi ngecek barang cacat.”
Maya menelan ludah, telapak tangannya kembali berkeringat dingin.
”Kamu jangan pernah nundukin kepala pas ngomong sama dia. Tatap matanya. Jawab dengan tenang,” lanjut Kiki. “Kalau kamu berhasil bikin dia terkesan hari ini… masa depan kamu, dan masa depan agensi eike, terjamin seumur hidup.”
”Saya akan lakukan yang terbaik, Kak Kiki,” jawab Maya. Ia meremas ujung gaunnya.
Mobil van itu perlahan berbelok memasuki pelataran sebuah gedung pencakar langit yang seluruh dinding luarnya terbuat dari kaca hitam mengkilap. Bangunan itu menjulang tinggi membelah awan, memancarkan aura kekuasaan mutlak yang mendominasi gedung-gedung lain di sekitarnya.
Di lobi utama, sebuah logo emas raksasa terpampang angkuh di dinding marmer hitam.
LUMIÈRE MERVEILLE – ASIA HEADQUARTERS
Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat membaca logo tersebut.
Ini adalah kandang singa. Markas besar sang predator. Tempat di mana segala kemungkinan rahasia tentang kotak hitam dan formula mutiara yang kini menyatu dengan dagingnya berasal.
”Ayo turun, Sayang. Waktunya kita jemput takdir miliaran kita,” ajak Kiki, tersenyum lebar tanpa menyadari bahwa ia baru saja mengantarkan Maya tepat ke mulut jurang neraka.
Maya melangkah turun dari mobil. Sepatu hak tingginya menapak di atas lantai marmer lobi yang luar biasa bersih. Hawa dingin dari AC sentral gedung itu langsung menyapu wajahnya, mengingatkannya pada hawa dingin kriogenik dari gel mutiara tersebut.
Dikelilingi oleh penjagaan sekuriti bersetelan jas hitam yang ketat, Maya dan Kiki diarahkan menuju lift khusus direksi.
Di dalam lift kaca yang bergerak naik dengan kecepatan tinggi, Maya memejamkan matanya.
Tidak ada jalan untuk mundur, batin Maya, menekan rasa takutnya. Jika aku ketahuan, semuanya berakhir. Aku harus menjadi aktris terbaik hari ini. Aku harus meyakinkan pria itu bahwa kecantikan ini adalah milikku sejak aku dilahirkan.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Lantai penthouse direksi.
Seorang wanita cantik berseragam blazer ketat menyambut mereka dengan senyum profesional. “Selamat pagi, Bapak Kiki dan Nona Maya. Tuan Randy Adhitama sudah menunggu Anda berdua di ruang kaca utama. Silakan ikuti saya.”
Langkah kaki Maya terasa sangat ringan, namun dadanya terasa sangat berat.
Mereka berjalan menyusuri lorong berlapis karpet tebal yang kedap suara. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu oak gelap.
Wanita itu mendorong pintu ganda tersebut hingga terbuka lebar.
Maya melangkah masuk ke dalam ruangan yang luar biasa luas dan terang benderang. Dinding ruangan itu seluruhnya terbuat dari kaca, menyajikan pemandangan kota Jakarta dari titik tertinggi.
Di tengah ruangan itu, berdiri memunggunginya sambil menatap keluar jendela kaca, sesosok pria berpostur tegap dalam balutan jas navy yang mahal.
Pria itu perlahan berbalik.
Dan saat mata elang yang tajam dan mematikan itu bertabrakan langsung dengan mata Maya… napas gadis itu benar-benar terputus. Audisi penentuan hidup dan mati itu, kini telah resmi dimulai.