Audisi penentuan hidup dan mati itu telah resmi dimulai.
Maya berdiri kaku di atas karpet tebal ruang direksi Lumière Merveille.
Di hadapannya, hanya berjarak lima langkah kaki, berdiri pria yang mengendalikan seluruh kerajaan kosmetik ini. Randy Adhitama. Pria berdarah dingin yang menciptakan kotak hitam terkutuk di dalam lemarinya.
Mata elang yang tajam dan mematikan milik Randy bertabrakan langsung dengan mata Maya.
Ada sebuah keheningan yang luar biasa menekan di dalam ruangan kaca penthouse tersebut. Udara dari pendingin ruangan terasa membeku, seolah menyesuaikan diri dengan aura sang miliarder yang sangat mendominasi.
Kiki yang berdiri di sebelah Maya bahkan tanpa sadar menahan napasnya. Pria nyentrik yang biasanya cerewet itu mendadak bungkam, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun sebelum sang CEO berbicara.
Randy tidak tersenyum.
Wajah pria itu datar, kaku, dan dipahat dengan garis rahang yang sangat tegas. Ia mengenakan setelan jas navy berpotongan sempurna tanpa dasi. Tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana.
Mata Randy yang berwarna cokelat gelap menyapu penampilan Maya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu bukan tatapan pria hidung belang yang sedang mengagumi tubuh wanita.
Itu adalah tatapan seorang ilmuwan. Tatapan seorang perfeksionis sinting yang sedang meneliti sebuah spesimen di bawah mikroskop. Menghakimi setiap milimeter anatomi Maya.
”Kiki,” panggil Randy akhirnya.
Suara pria itu berat, dalam, dan menggema tenang di ruangan kedap suara tersebut.
”I-iya, Tuan Randy?” jawab Kiki gelagapan, segera menundukkan badannya dengan sangat hormat.
”Kau bilang di email tadi pagi, gadis ini belum pernah masuk agensi mana pun sebelumnya?” tanya Randy, matanya tak lepas sedetik pun dari wajah porselen Maya.
”Benar, Tuan. Maya ini murni penemuan eike… maksud saya, penemuan saya sendiri di lapangan,” jawab Kiki dengan nada profesional yang dipaksakan. “Dia belum pernah tersentuh pisau bedah dokter mana pun, Tuan. Wajahnya murni seratus persen.”
Randy mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Sebuah dengusan yang menyiratkan ketidakpercayaan.
Pria itu perlahan mengeluarkan tangannya dari saku. Ia mulai mengambil langkah pelan mendekati Maya.
Sepatu kulit buatan tangan asal Italia yang dikenakan Randy tidak menghasilkan suara ketukan di atas karpet. Gerakannya sangat halus namun memancarkan bahaya, layaknya seekor macan kumbang yang sedang mendekati mangsanya.
Jantung Maya berdentum gila-gilaan menghantam tulang rusuknya. Keringat dingin mulai merembes membasahi telapak tangannya.
Dia tahu. Dia pasti tahu barangnya kucuri, jerit batin Maya histeris. Ia ingin memalingkan wajahnya dan berlari keluar dari ruangan ini sekarang juga, namun kakinya seakan dipaku ke lantai.
”Siapa namamu?” tanya Randy. Pria itu kini berhenti tepat di depan Maya, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal.
Wangi parfum oude dan kayu cedar yang mahal dari tubuh Randy menusuk indra penciuman Maya, membuat kepalanya sedikit pening.
”M-Maya, Tuan,” jawab Maya. Ia mengingat instruksi Kiki pagi tadi, Jangan pernah menunduk. Maya memaksakan dirinya menengadahkan wajahnya. Ia menatap langsung ke dalam kornea mata Randy dengan tatapan ‘Fierce Unknown’ andalannya, mencoba menyembunyikan kepanikannya di balik topeng porselen yang dingin dan angkuh.
Melihat keberanian Maya membalas tatapannya, sebelah alis Randy terangkat tipis. Ada kilatan ketertarikan yang sangat singkat di matanya.
”Mendekatlah ke arah jendela,” perintah Randy mutlak, memberikan isyarat dengan kepalanya. “Aku butuh cahaya matahari langsung.”
Maya menelan ludah. Ia melirik Kiki sekilas. Kiki memberikan anggukan cepat, menyuruhnya menurut.
Dengan kaki yang bergetar di dalam sepatu hak tingginya, Maya melangkah perlahan mendekati dinding kaca raksasa yang menampilkan panorama ibu kota dari ketinggian. Sinar matahari pagi yang terang benderang langsung menampar wajahnya tanpa ampun.
Cahaya alami ini adalah musuh terbesar bagi makeup dempulan atau kulit yang rusak. Di bawah cahaya matahari, tidak ada yang bisa disembunyikan.
Randy melangkah menyusulnya. Pria itu berdiri di samping Maya, menatap wajah gadis itu dari profil samping.
”Tutup matamu,” perintah Randy lagi.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya naik turun dengan ritme yang memburu.
Tiba-tiba, Maya merasakan sebuah sentuhan di kulit pipinya.
Randy mengulurkan tangannya. Ujung jari telunjuk pria itu menyentuh garis rahang kiri Maya, tepat di titik di mana Maya pertama kali menekan daging lunaknya malam lalu untuk menghilangkan cekungan akibat benturan.
Sengatan listrik ribuan volt seakan meledak di dalam pembuluh darah Maya saat kulit mereka bersentuhan. Napas Maya tercekat di ujung tenggorokan.
Dia sedang mengecek karyanya. Dia sedang meraba formula mutiara itu, batin Maya meronta dalam kepanikan absolut.
Jari Randy bergerak perlahan, menelusuri garis rahang tirus Maya, naik menyentuh tulang pipinya yang menonjol elegan, lalu turun mengusap leher jenjangnya. Sentuhan itu tidak memancarkan nafsu, melainkan observasi medis yang sangat klinis.
”Menarik,” gumam Randy pelan. Suaranya terdengar sangat dekat di telinga Maya.
Maya membuka matanya dengan kaget. Ia menatap pria itu.
”Kulitmu…” Randy menarik jarinya, menatap ujung jarinya sendiri dengan kening berkerut. “…sangat dingin. Dan teksturnya terlalu padat untuk ukuran kulit manusia normal.”
Darah Maya seolah membeku menjadi es balok.
Ia ketahuan. Miliarder jenius ini menyadari anomali biologis pada dagingnya.
”S-saya… saya kedinginan karena AC di ruangan ini terlalu kuat, Tuan,” kilah Maya dengan suara bergetar parah, melontarkan kebohongan paling instan yang bisa dipikirkan otaknya.
Randy menatap mata Maya. Pria itu menatap lurus seolah mencoba menelanjangi jiwanya.
”Tidak ada pori-pori yang terlihat. Pigmentasi yang sangat merata,” gumam Randy lagi, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pria itu mengelilingi Maya, matanya memindai tulang selangka yang menyembul dari kerah gaun putih gading gadis itu.
”Struktur kalsium di tulang selangka ini… luar biasa simetris. Ini anatomi yang sangat langka. Terlalu sempurna untuk dilahirkan secara alami, namun tidak ada satu pun bekas sayatan mikroskopis dari pisau bedah plastik.”
Kiki yang berdiri di belakang mereka mulai berkeringat dingin. “Tuan Randy, eike berani jamin, Maya ini tidak pernah menyentuh operasi plastik sama sekali.”
Randy tidak memedulikan Kiki. Pria itu kembali berdiri di depan Maya.
”Apa rahasiamu, Maya?” tanya Randy tajam. Sorot matanya mendesak. “Skincare apa yang kau gunakan selama ini hingga kau bisa memiliki kanvas wajah seperti ini?”
Jantung Maya berdentum seperti genderang perang. Pertanyaan ini adalah jebakan. Jika ia salah menjawab, pria ini akan langsung menghubungkannya dengan produk curian dari bawah panggung.
”S-saya tidak memakai apa-apa, Tuan,” jawab Maya. Ia memaksakan wajahnya tetap kaku dan angkuh. “Saya berasal dari keluarga yang sangat tidak mampu. Saya tidak punya uang untuk membeli produk perawatan kulit apa pun.”
”Jadi, kau ingin mengatakan bahwa wajah porselen dan tulang rahang ini murni genetik?” Randy menyipitkan matanya, menguji mental gadis di depannya.
”Ini murni milik saya sejak saya lahir, Tuan,” dusta Maya tanpa berkedip, mempertahankan tatapan ‘Fierce Unknown’-nya. Ia bertaruh dengan nyawanya sendiri pagi ini.
Hening yang sangat panjang menyelimuti penthouse itu.
Randy dan Maya saling bertatapan. Sebuah adu kekuatan mental antara seorang miliarder pencipta formula dan seorang gadis miskin yang mencuri karya terbesarnya.
Hingga akhirnya… sudut bibir Randy Adhitama melengkung ke atas. Membentuk sebuah senyum tipis yang luar biasa misterius dan mematikan.
”Kau pembohong yang sangat buruk, Maya,” bisik Randy.
Kaki Maya lemas. Ia nyaris ambruk ke lantai.
”T-tuan… saya…”
”Tapi aku tidak peduli pada kebohonganmu,” potong Randy cepat, membalikkan badannya menjauhi Maya. Pria itu berjalan kembali ke arah meja kerjanya yang luas.
”Di industri ini, setiap model menyimpan kebohongan mereka masing-masing,” ucap Randy sambil menekan tombol interkom di mejanya. “Entah kau menggunakan susuk mistis, ramuan kampung, atau memang genetikmu yang anomali… aku tidak peduli.”
Randy menoleh ke arah Kiki yang masih berdiri mematung.
”Kiki, bawa kontrak eksklusif L’Éternité,” perintah Randy dengan nada mutlak. “Gadis ini… dia adalah manifestasi hidup dari slogan produkku. Dia yang aku cari. Wajah ini akan menguasai seluruh billboard di Asia bulan depan.”
Mendengar vonis tersebut, Kiki menjerit kegirangan tanpa suara, meninju udara dengan kepalan tangannya.
Sementara Maya… Maya merosotkan bahunya. Napasnya terlepas dalam satu embusan yang luar biasa panjang.
Ia selamat. Randy Adhitama tidak menyadarinya.
Miliarder jenius itu terlalu sombong untuk berpikir bahwa seorang gadis gembel berani mencuri prototipe miliaran rupiah dari bawah hidungnya. Randy mengira kecantikan tak wajar Maya hanyalah sebuah kebetulan genetika ekstrem yang sangat menguntungkan perusahaannya.
Kesepakatan iblis itu telah ditandatangani hari ini. Maya resmi menjadi wajah utama dari perusahaan sang pemilik formula tersebut. Ia baru saja masuk tepat ke dalam kandang singa, dan singa itu menyambutnya dengan karpet merah.
Pukul 21:00 malam.
Setelah melewati hari yang penuh dengan penandatanganan kontrak bernilai ratusan juta rupiah, wawancara internal dengan tim pemasaran Lumière Merveille, dan pengukuran gaun desainer, Maya akhirnya tiba di rumah kontrakannya.
Hujan gerimis kembali mengguyur ibu kota, menciptakan suara rintik yang konstan memukul atap asbes.
Maya membuka kunci pintu dengan tangan yang kelelahan. Ia masuk dan langsung mengunci gerendelnya.
Ia membuang tas mewahnya ke atas kursi plastik. Di dalam tas itu, terdapat buku tabungan baru atas namanya sendiri, dengan saldo awal uang muka kontrak senilai lima puluh juta rupiah yang ditransfer Kiki sore tadi.
Hidupnya telah berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu tiga hari. Ia kaya. Ia terkenal di kalangan elit. Ibunya aman di ruang ICU.
Semuanya berjalan terlalu sempurna.
Namun, saat Maya merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipis yang sepi tanpa ibunya, sebuah sensasi aneh mulai menjalar dari dalam tubuhnya.
Gatal.
Rasa gatal yang sangat tajam dan menusuk itu kembali datang.
Bukan di lehernya seperti semalam. Kali ini, rasa gatal itu muncul di area pipi kanannya, tepat di bawah tulang pipi yang ia pahat.
Sensasi itu terasa sangat dalam, seolah ada serangga berkaki tajam yang sedang merayap di bawah lapisan dagingnya, mencoba menggigit jalan keluar menuju permukaan kulit porselennya.
Maya mengerang pelan. Ia bangkit duduk, mengusap pipi kanannya dengan telapak tangan.
”Jangan mulai lagi. Jangan sekarang,” rintih Maya. Ia mencoba menahan diri untuk tidak menggaruknya. Ia tahu apa akibatnya jika ia menggaruk kulit porselen itu dengan kuku.
Namun, sensasi gatal itu semakin brutal. Menyiksa sarafnya hingga ia nyaris gila.
Tak hanya gatal, kini rasa panas mulai menjalar di bagian dalam rongga hidungnya. Sesuatu terasa menggelitik di pangkal tenggorokannya. Napas Maya menjadi lebih berat.
Tik.
Setetes cairan jatuh mengenai punggung tangan kanannya yang sedang berada di pangkuannya.
Maya menundukkan pandangannya. Di bawah cahaya lampu neon kuning yang berkedip redup, ia menatap cairan yang baru saja jatuh dari lubang hidungnya tersebut.
Itu bukan ingus. Itu darah.
Maya sedang mimisan.
Namun… yang membuat mata Maya membelalak lebar dan jantungnya mencelos adalah warna dari darah yang menetes tersebut.
Darah itu tidak berwarna merah segar seperti darah manusia normal. Cairan yang keluar dari hidungnya itu berwarna merah yang sangat gelap, nyaris kehitaman, dengan tekstur yang luar biasa kental seperti oli mesin.
Dan yang paling mengerikan… di dalam cairan darah pekat itu, terdapat kilau iridescent keperakan. Kilau mutiara yang sama persis dengan tekstur gel formula di dalam jar kaca curiannya.
Tubuh Maya mulai bergetar hebat. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh hidungnya.
Tik. Tetesan kedua jatuh, kali ini menodai kaus putih mahalnya.
”Ya Tuhan…” bisik Maya dengan bibir gemetar. “Apa… apa yang terjadi sama darahku?”
Rasa gatal di pipinya meledak tak tertahankan.
Tanpa bisa dicegah, ujung kuku telunjuk Maya menggaruk pipi kanannya dengan kasar.
Begitu kukunya menggores permukaan kulit porselennya, daging di bawah goresan itu langsung terasa lembek. Kulit pipinya seketika kehilangan kekenyalannya. Dagingnya mulai mencair, menyusut ke dalam layaknya lilin yang didekatkan pada api panas. Fase plastisitas itu kembali mengoyak anatominya secara paksa dari dalam.
Maya melompat dari kasur. Kepanikan buta menguasai otaknya.
Ia berlari tersandung-sandung menuju wastafel dapur. Ia memutar keran air, berusaha membasuh hidungnya yang terus meneteskan darah hitam keperakan tersebut. Namun darah itu tak mau berhenti. Darah itu mengalir semakin deras, memenuhi wastafel berkarat itu dengan cairan kental berbau anyir dan tanah basah.
Maya mendongakkan kepalanya ke atas, menatap pantulannya di cermin retak yang kusam.
Pemandangan di cermin itu membuat napas Maya terputus.
Darah hitam mengalir dari hidungnya, melewati bibirnya, menetes ke dagunya. Pipi kanannya yang tadi ia garuk kini melesak penyok ke dalam, cacat dan mengerikan. Ia terlihat seperti monster yang sedang membusuk.
Ia harus mengambil gel itu. Ia harus mengoleskannya lagi untuk memperbaiki wajahnya.
Maya berbalik, bersiap berlari ke arah lemari kayunya untuk mengambil kotak hitam matte tersebut.
Namun… tepat saat ia berbalik membelakangi wastafel, lampu neon kuning di langit-langit kontrakannya tiba-tiba berkedip keras.
Bzzzt! Bzzzt!
Lampu itu mati total. Kegelapan pekat seketika menelan ruangan sempit tersebut.
Maya menjerit tertahan. Ia meraba-raba meja beton dalam kegelapan, dadanya naik turun dengan kasar. “Lampu… nyala! Nyala!”
Di tengah kegelapan absolut itu, suara tetesan darah dari hidungnya yang jatuh ke lantai semen terdengar sangat nyaring.
Tes… Tes… Plop.
Ritme tetesan yang persis sama dengan yang ia dengar di dalam mimpi buruknya semalam.
Bulu kuduk di seluruh tubuh Maya berdiri serempak. Udara di dalam ruangan itu mendadak anjlok menjadi sedingin es. Hawa kriogenik yang berbau bangkai busuk menguar dari arah sudut dapur yang gelap.
Lalu… Maya mendengar sesuatu.
Itu bukan suara hujan di luar. Itu adalah suara langkah kaki yang basah.
Suara daging yang diseret di atas lantai semen. Sreek… sreek… plop.
Suara itu berasal dari sudut dapur kontrakannya. Hanya berjarak beberapa meter darinya.
Maya membeku. Tangan kanannya menutupi mulutnya sendiri untuk meredam isakan ketakutannya. Darah hitam keperakan masih terus menetes dari hidungnya, membasahi jari-jarinya.
”S-siapa di situ?” rintih Maya dengan suara parau.
Hening.
Namun kemudian, dari dalam kegelapan pekat di sudut dapur itu, terdengar suara tarikan napas yang sangat berat, basah, dan menggelegak.
Sebuah rintihan pelan membelah kesunyian. Suara seorang wanita yang sangat menderita. Suara yang sama persis dengan yang ada di dalam mimpi buruknya semalam.
Namun kali ini, Maya tidak sedang tertidur. Ia sedang berdiri, sepenuhnya sadar dan terjaga.
”Saaakiitt…”
Suara itu bergema di dalam ruangan. Gema dari puluhan suara wanita yang menangis merintih kesakitan, saling bertindihan dalam satu harmoni penderitaan.
Kilat menyambar dari luar, cahayanya menembus celah ventilasi dan menerangi dapur itu selama sepersekian detik.
Dalam kilatan cahaya putih yang singkat itu, mata Maya membelalak hingga nyaris robek.
Di sudut dapur, di dekat lemari kayunya, berjongkok sesosok tubuh wanita.
Pakaian wanita itu hancur, menempel di tubuhnya bagaikan plastik kresek hitam yang meleleh. Wajah wanita itu tidak memiliki bentuk. Kulit dan daging wajahnya meleleh jatuh melewati rahangnya, menetes ke lantai layaknya lumpur merah yang kental, memperlihatkan tulang tengkoraknya yang basah oleh darah hitam.
Wanita tak berwajah itu sedang memeluk lututnya, menatap lurus ke arah Maya.
Kilat mereda. Ruangan kembali gelap gulita.
Namun di dalam kegelapan itu, Maya bisa mendengar suara tulang yang berderak. Makhluk itu sedang berdiri perlahan.
Sebuah bisikan serak, basah, dan luar biasa dingin tiba-tiba terdengar mengalun tepat di telinga kanan Maya. Sangat dekat, seolah bibir makhluk itu sedang menempel di bahunya.
”Kembalikan dagingku, Pencuri…”
Maya menjerit sejadi-jadinya. Jeritan murni dari seseorang yang akal sehatnya baru saja dipatahkan menjadi dua.
Ia tidak peduli lagi pada rasa sakit. Ia berlari membabi buta dalam kegelapan, menabrak meja, menabrak kursi, berusaha mencapai pintu depan.
Kutukan itu tidak lagi bersembunyi di balik cermin atau di dalam mimpi. Sisi gelap dari kesempurnaan porselennya kini telah merobek batas realitas, melangkah keluar ke dunia nyata untuk menagih sisa-sisa jiwa dan kewarasannya malam ini juga.