Tangan Maya meraba gagang pintu kontrakan dengan kepanikan yang membutakan.
Di belakangnya, suara seretan daging basah di atas lantai semen terdengar semakin mendekat. Bau anyir darah membusuk dan tanah steril menyumbat rongga hidungnya, membuat isi perutnya bergejolak hebat.
“Pencuri…” rintihan gaib itu menggema lagi, seolah diucapkan tepat di depan gendang telinganya.
Maya berhasil memutar gerendel besi. Ia menarik pintu itu.
Namun, tepat saat ia bersiap untuk melesat lari menembus hujan malam, sebuah realitas yang jauh lebih mengerikan dari hantu mana pun menampar logikanya dengan sangat keras.
Pipi kanannya sedang meleleh.
Dagingnya penyok, melesak ke dalam. Darah hitam keperakan masih terus menetes dari dagunya.
Jika ia lari keluar sekarang dan meminta tolong pada tetangga, semua orang akan melihat wajah monsternya. Kariernya akan mati sebelum dimulai. Kontrak dari Lumière Merveille akan hangus. Dan yang paling fatal… ia akan meninggalkan satu-satunya benda yang bisa menyembuhkan kutukan ini di atas meja dapur.
Kotak itu! Aku nggak bisa pergi tanpa kotak itu! batin Maya menjerit.
Didorong oleh insting bertahan hidup yang mengalahkan rasa takutnya, Maya memutar tubuhnya kembali ke dalam kegelapan.
Ia tidak memedulikan sosok makhluk tanpa wajah yang sedang berjongkok di sudut ruangan. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, berlari membabi buta menabrak kursi plastik, dan menerjang ke arah meja beton.
Tangannya meraba-raba permukaan meja yang dingin dengan panik.
Jari-jarinya menyentuh permukaan matte dari kotak hitam tersebut. Maya langsung merengkuhnya ke dalam pelukan, menyambar tas ranselnya, dan berbalik.
Ia berlari sekencang mungkin, menerobos keluar pintu, dan menghilang ke dalam gelapnya gang sempit yang diguyur hujan sisa badai. Ia membiarkan pintu kontrakannya terbuka lebar di belakangnya, tak peduli lagi pada apa pun yang tertinggal di sana.
Maya berlari tanpa arah. Sepatu kets mahalnya basah oleh genangan lumpur.
Napasnya memburu liar. Hujan gerimis menyamarkan air mata ketakutannya dan membilas sebagian darah hitam yang menetes dari hidungnya.
Ia terus berlari hingga menemukan sebuah minimarket dua puluh empat jam yang sepi di pinggir jalan raya. Tanpa memedulikan tatapan aneh kasir yang mengantuk, Maya menerobos masuk dan langsung mengunci dirinya di dalam toilet sempit minimarket tersebut.
Di bawah cahaya lampu toilet yang berkedip, Maya menatap cermin.
Wajahnya benar-benar hancur. Pipi kanannya melesak ke dalam layaknya lilin yang ditekan paksa.
Dengan tangan bergetar hebat, ia meletakkan kotak hitam itu di atas penutup kloset. Ia membukanya, meraup gel mutiara dengan jarinya, dan langsung mengoleskannya secara kasar ke atas dagingnya yang meleleh.
Ssssshhh!
Rasa dingin kriogenik yang membekukan saraf kembali menyengat. Maya menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan jeritan.
Dalam hitungan menit, fase plastisitas itu kembali mengikat jaringannya. Ia memijat dan menarik pipi kanannya, merajut kembali struktur tulang dan dagingnya hingga kembali simetris. Saat rasa hangat mengunci bentuk wajahnya, Maya akhirnya merosot jatuh ke lantai toilet yang kotor.
Ia memeluk lututnya. Tubuhnya menggigil kedinginan dan ketakutan.
”Aku nggak bisa balik ke sana,” bisik Maya dengan gigi bergemeretak. “Aku nggak akan pernah mau menginjakkan kaki di kontrakan itu lagi.”
Tempat itu sudah tercemar. Entitas dari dalam cermin itu telah menampakkan wujudnya. Ia butuh tempat baru. Tempat yang terang, steril, aman, dan sangat tertutup untuk menyembunyikan rahasia kelam ini.
Maya meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia melihat jam. Pukul 02:30 pagi.
Ia tidak peduli. Ia menekan nomor Kiki.
Panggilan itu tersambung pada dering kelima.
“Halo? Ya ampun, Maya, Sayang? Ini jam setengah tiga pagi lho. Ada apa? Kamu nggak bisa tidur saking senengnya habis ketemu Tuan Randy?” suara Kiki terdengar parau dan mengantuk.
”Kak Kiki… tolong saya,” ucap Maya. Suaranya diusahakan sedatar dan sedingin mungkin, menyembunyikan kepanikannya.
“Eh? Tolong apa, Sayang? Suara kamu kok tegang banget?” Kiki langsung terbangun sepenuhnya.
”Saya butuh tempat tinggal baru. Malam ini juga. Sekarang juga,” pinta Maya mutlak. “Kontrakan lama saya tidak aman. Atapnya bocor parah dan ada preman yang mabuk di depan pintu saya. Saya tidak bisa istirahat, dan saya tidak bisa menjaga penampilan saya untuk agensi di tempat kumuh ini.”
Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang telepon.
“Astaga, Sayang… bahaya banget itu! Ya udah, kamu tenang dulu,” balas Kiki dengan nada protektif. “Gini aja, kamu order taksi sekarang, langsung ke studio agensi kita. Tidur di ruang istirahat VVIP di sana malam ini. Kuncinya eike titip ke satpam lobi.”
”Lalu besok, Kak?” desak Maya.
“Besok pagi, eike yang urus semuanya,” janji Kiki mantap. “Agensi kita punya banyak koneksi unit apartemen mewah di Jakarta Selatan buat para model elit. Eike bakal sewa satu unit premium atas nama agensi buat kamu. Biaya sewanya kita potong dari nilai kontrak Lumière Merveille kamu yang miliaran itu. Gimana?”
Rasa lega yang luar biasa besar menyiram dada Maya. “Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak. Saya ke sana sekarang.”
Satu minggu kemudian.
Kehidupan Maya telah melesat dengan kecepatan cahaya, menembus atmosfer kasta sosial ibu kota dan mendarat tepat di puncak rantai makanan.
Kontrak eksklusif dengan Lumière Merveille telah resmi ditandatangani. Wajah porselen Maya, dengan tatapan ‘Fierce Unknown’-nya yang mematikan, kini terpampang nyata di dua billboard raksasa yang membentang di jalan protokol Sudirman.
Ia tak lagi menggunakan angkot. Agensi menyediakan mobil dan supir pribadi untuknya. Kiki juga menyewa dua orang bodyguard untuk mendampingi Maya ke mana pun ia pergi, menjaga ‘aset miliaran’ agensi tersebut dari serbuan penggemar dan wartawan.
Maya juga telah resmi pindah ke sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta Selatan.
Apartemen itu berada di lantai dua puluh. Dinding ruang tamunya terbuat dari kaca floor-to-ceiling yang menampilkan panorama kelap-kelip lampu kota. Lantainya berlapis marmer berkualitas tinggi. Udaranya disaring oleh mesin pemurni udara yang mahal.
Sangat terang. Sangat steril. Dan yang paling penting, tidak ada sudut gelap untuk hantu masa lalu bersembunyi.
Ibu Maya perlahan mulai pulih, dan telah dipindahkan dari ruang ICU ke kamar rawat inap kelas Super VIP. Maya menyewa perawat pribadi khusus untuk menjaga ibunya dua puluh empat jam penuh.
Uang mengalir deras ke rekeningnya. Semua masalah yang pernah mencekik lehernya telah terurai.
Namun… di balik semua kemewahan yang membutakan itu, Maya sedang sekarat di dalam kepalanya sendiri.
Pukul 19:00 malam.
Maya sedang duduk di depan meja rias di dalam kamar apartemen mewahnya. Dua pengawalnya berjaga di depan pintu unit apartemennya.
Malam ini, ia diundang untuk menghadiri after party super eksklusif bersama para petinggi industri fashion, sutradara, dan model papan atas di sebuah klub malam elit bernama The Velvet.
Maya mengenakan gaun hitam backless (terbuka di bagian punggung) yang memamerkan struktur tulang selangkanya yang sempurna. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin besar.
Bukan rasa bangga yang ia rasakan, melainkan ketakutan yang terus menggerogoti ulu hatinya setiap detik.
Kotak hitam matte itu terletak di atas meja riasnya. Tutupnya terbuka.
Maya menatap jar kaca frosted di dalamnya.
Isi gel mutiara di dalam wadah itu kini hanya tersisa kurang dari seperempat.
Satu minggu menjadi model papan atas ternyata menuntut harga fisik yang sangat brutal. Sorotan lampu kilat studio yang panas, makeup berat, dan stres bekerja, rupanya mempercepat efek samping withdrawal dari kutukan tersebut.
Dagingnya terus-menerus mencoba meleleh dan membusuk setiap dua atau tiga hari sekali. Kadang di lehernya. Kadang di lengannya. Ia terpaksa terus ‘menambalnya’ dengan gel mutiara tersebut secara sembunyi-sembunyi di dalam apartemennya.
”Tinggal sedikit lagi…” gumam Maya dengan suara bergetar. Ia menutup jar kaca itu dengan rasa putus asa.
Botol serum merah seperti darah dan jar kecil lainnya di dalam kotak itu masih belum ia sentuh. Ia terlalu takut dengan apa fungsinya. Ia hanya butuh gel mutiara putih ini untuk bertahan.
”Maya, Sayang! Udah siap belum?!” Suara cempreng Kiki menginterupsi dari arah ruang tamu apartemennya. Pria itu baru saja diizinkan masuk oleh pengawalnya.
Maya buru-buru menutup kotak hitam itu, menyimpannya ke dalam laci meja riasnya yang terkunci, lalu memasukkan kuncinya ke dalam tas clutch pestanya.
”Sudah siap, Kak Kiki!” sahut Maya.
Ia keluar dari kamar tidur. Kiki langsung bersiul takjub melihat penampilannya.
”Gila! Kamu emang diciptakan buat nundukin Jakarta, May,” puji Kiki, menggandeng lengan Maya. “Ayo kita berangkat. Malam ini di The Velvet banyak banget klien potensial yang mau lihat ‘Bidadari Misterius’ dari Lumière secara langsung.”
Pukul 22:30 malam. Klub The Velvet, SCBD.
Suasana di dalam klub malam super elit itu luar biasa bising. Dentuman musik EDM dari DJ ternama menggetarkan dada. Lampu-lampu strobe berwarna ungu dan biru menari-nari membelah kegelapan. Bau alkohol mahal, asap cerutu, dan parfum puluhan juta bercampur menjadi satu.
Di area sofa VVIP yang dibatasi oleh pita beludru, Maya duduk dengan postur yang sangat elegan.
Ia memegang gelas kristal berisi champagne yang hanya ia sentuh bibirnya untuk formalitas. Di sekelilingnya, para pria kaya, desainer, dan selebritas berebut untuk mencari perhatiannya.
”Maya, struktur rahangmu itu benar-benar fenomenal. Siapa dokter bedahmu? Ayolah, beritahu aku rahasianya,” bisik seorang istri pejabat dengan nada iri yang tak ditutupi.
Maya tersenyum dingin. “Hanya genetik dan banyak minum air putih, Nyonya.”
Kiki yang duduk di sebelahnya tertawa puas melihat klien-kliennya memuja Maya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk pesta yang memekakkan telinga itu… alarm di dalam tubuh Maya tiba-tiba berbunyi.
Sebuah rasa panas yang sangat familier dan tidak wajar tiba-tiba menjalar di bagian dalam rongga hidungnya. Rasa panas itu dengan cepat berubah menjadi rasa gatal yang sangat tajam, seolah ada serangga yang mencoba merobek selaput lendirnya dari dalam.
Maya menelan ludah. Keringat dingin langsung merembes di kening porselennya.
Nggak… jangan sekarang. Jangan di tempat ini, rintih Maya dalam hati. Matanya membelalak panik. Ia tahu persis apa arti dari rasa gatal di hidungnya ini.
Tik.
Sebuah tetesan cairan kental dan hangat terasa turun dari lubang hidung kanannya.
Maya buru-buru mengangkat tangannya, menutupi mulut dan hidungnya dengan punggung tangannya.
Ia melirik ke arah tangannya di bawah cahaya lampu klub yang remang. Di sana, menempel setetes darah. Bukan darah merah segar. Melainkan cairan kental berwarna merah kehitaman, pekat layaknya oli, dengan kilau iridescent keperakan.
Mimisan kutukan itu datang lagi. Di tengah ratusan pasang mata.
Maya langsung berdiri secara mendadak. Gerakannya yang mengejutkan membuat beberapa orang di mejanya terdiam.
”Kak Kiki, maaf. Saya harus ke toilet sebentar. Perut saya mendadak mual,” alasan Maya dengan cepat. Suaranya dibuat senatural mungkin meski ia menahan napas.
”Eh? Mau eike anterin, Sayang?” tawar Kiki, setengah berdiri.
”Nggak usah, Kak. Toilet VIP-nya dekat kok. Saya bisa sendiri,” tolak Maya tegas, langsung berbalik dan berjalan cepat membelah kerumunan.
Ia melangkah dengan terburu-buru menuju lorong belakang klub yang dijaga oleh sekuriti. Ia menunjukkan gelang VIP-nya dan langsung menerobos masuk ke dalam toilet wanita.
Beruntung, toilet berlapis marmer hitam itu sedang kosong.
Maya berlari ke arah wastafel. Ia menundukkan wajahnya.
Tes… Tes…
Darah hitam keperakan itu mengalir semakin deras dari hidungnya, menetes mengenai permukaan wastafel porselen putih, menciptakan noda gelap yang sangat menjijikkan dan berbau anyir bangkai.
”Berhenti… kumohon berhenti…” isak Maya pelan, tubuhnya bergetar hebat. Kepanikan merenggut sisa-sisa ketenangannya.
Ia buru-buru menarik selembar tisu tebal dari kotak di atas wastafel. Ia menekan hidungnya dengan kuat menggunakan tisu tersebut, mendongakkan kepalanya ke belakang, dan memejamkan mata.
Ia berdiri kaku dalam posisi itu selama hampir lima menit penuh. Berdoa agar pendarahan kutukan ini berhenti sebelum seseorang masuk.
Perlahan, ia melepaskan tisu itu.
Mimisannya telah berhenti. Wajah porselennya masih utuh, tidak ada daging yang melembek kali ini. Efek samping itu tampaknya hanya membuang residu cairan melalui pendarahan.
Maya mencuci noda darah di wajahnya dan membersihkan wastafel dengan terburu-buru.
Ia kemudian menatap gumpalan tisu di tangannya. Tisu putih itu kini basah kuyup, diwarnai oleh noda pekat berwarna merah kehitaman yang sangat gelap. Darah itu terlihat sangat tidak manusiawi.
Bau busuk yang menguar dari tisu itu membuatnya mual.
Maya berniat membuang tisu itu ke tempat sampah toilet. Namun, insting paranoianya tiba-tiba menahannya.
Bagaimana kalau ada petugas kebersihan klub yang curiga melihat tisu penuh darah hitam ini? Bagaimana kalau ada wartawan yang diam-diam menguntitku? pikir Maya, ketakutannya mengambil alih akal sehatnya. Di dunia gemerlap ini, skandal sekecil apa pun bisa menghancurkan kariernya.
Ia tidak boleh meninggalkan jejak apa pun di tempat umum.
Dengan gerakan cepat, Maya mengambil sebuah plastik ziplock kecil dari dalam tas clutch pestanya, plastik yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan anting-anting.
Ia memasukkan tisu berdarah hitam itu ke dalam plastik ziplock, menguncinya rapat-rapat untuk meredam baunya, lalu menyembunyikannya ke dasar tas clutch-nya.
Ia akan membuang tisu ini di tempat yang paling aman. Di apartemen mewahnya sendiri.
Maya merapikan riasan bibirnya yang sedikit luntur. Ia membuang napas panjang, memasang kembali topeng supermodelnya yang dingin dan tak tersentuh, lalu berjalan keluar dari toilet untuk kembali ke pesta.
Sama sekali tidak menyadari, bahwa keputusan kecilnya untuk membawa pulang tisu itu, kelak akan menjadi bumerang yang menghancurkan lehernya sendiri.
Keesokan paginya. Pukul 10:00 pagi.
Maya terbangun di ranjang king-size apartemen mewahnya dengan rasa sakit kepala yang luar biasa. After-party semalam benar-benar menguras energinya.
Ia berjalan gontai menuju dapur apartemennya yang minimalis dan super bersih.
Sambil menguap, ia membuka tas clutch pestanya semalam untuk mencari obat pereda nyeri. Tangannya justru menyentuh plastik ziplock kecil tersebut.
Plastik berisi tisu dengan noda darah hitam yang sudah mengeras.
Maya menatap plastik itu dengan rasa jijik yang mendalam. Ia ingin segera melupakan kejadian semalam.
Tanpa berpikir panjang dan diiringi rasa aman palsu di dalam hunian pribadinya, Maya langsung melempar plastik ziplock itu ke dalam tong sampah plastik di bawah wastafel dapurnya. Tong sampah itu dilapisi kantong plastik hitam besar.
”Selesai. Nggak ada jejak,” gumam Maya.
Ia mengikat kantong plastik hitam besar dari tong sampahnya, berniat untuk membersihkan apartemennya.
Mengenakan sandal tidurnya, Maya berjalan keluar dari unit apartemennya, membawa kantong sampah hitam tersebut menuju ujung lorong lantai dua puluh. Di sana, terdapat sebuah ruangan khusus (trash chute room) untuk membuang sampah bagi para penghuni elit.
Ia melempar kantong sampahnya ke dalam lorong pipa pembuangan, membiarkannya meluncur jatuh ke tempat penampungan di basement apartemen.
Maya berbalik dan kembali ke kamarnya, merasa rahasianya telah terkubur aman bersama tumpukan sampah ribuan penghuni lainnya.
Namun, yang tidak Maya ketahui adalah… di dunia ini, cemburu buta bisa menciptakan monster yang jauh lebih gigih dari detektif mana pun.
Selama satu minggu terakhir ini, ia tidak pernah benar-benar sendirian.
Ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari dalam bayang-bayang. Membuntutinya sejak ia keluar dari rumah sakit, mengikuti mobil agensinya, hingga berhasil melacak alamat apartemen mewah terbarunya di Jakarta Selatan ini.
Sosok itu adalah Sari.
Wanita itu telah mengambil cuti kerja dari mal dengan alasan sakit, hanya demi memuaskan obsesi gilanya untuk membongkar kebohongan Maya. Sari telah menunggu di luar gedung apartemen ini selama berhari-hari, memantau pergerakan masuk keluar sampah dari gedung basement.
Malam ini, di saat Maya sedang terlelap pulas dalam rasa aman palsunya, Sari turun ke basement pembuangan sampah apartemen tersebut. Dengan beberapa lembar uang ratusan ribu, ia menyuap petugas sampah di sana.
Malam itu, Sari mengorek-ngorek tumpukan kantong sampah dari lantai dua puluh seperti anjing gila yang kelaparan.
Dan pencarian menjijikkan itu… akhirnya membuahkan hasil yang paling mematikan.
Dua hari kemudian. Pukul 14:00 siang.
Maya kembali menginjakkan kakinya di Grand Atrium Mall.
Namun kali ini, ia datang bukan sebagai pekerja, dan bukan untuk pemotretan. Ia diundang secara khusus oleh pihak manajemen mal sebagai bintang tamu VVIP untuk acara amal dan pemotongan pita peresmian butik internasional baru di lantai dasar.
Ia dikawal sangat ketat. Dua orang bodyguard dari agensi Elegance berjalan di sisi kiri dan kanannya. Manajer acara mal tergopoh-gopoh membukakan jalan untuknya, sementara ratusan penggemar berteriak memanggil namanya dari balik pembatas.
”Mbak Maya, acara pemotongan pitanya lima belas menit lagi,” bisik asisten Kiki yang mendampinginya.
”Saya mau ke toilet sebentar,” ucap Maya elegan. “Tolong pastikan toilet VIP-nya kosong.”
”Baik, Mbak.”
Kedua pengawal itu mengantar Maya menuju lorong toilet VIP yang berlapis marmer hitam dan emas. Setelah memastikan toilet luas berukuran empat kali empat meter itu kosong melompong, para pengawal itu berjaga di luar pintu.
”Kami tunggu di luar, Mbak Maya. Tidak akan ada yang bisa masuk,” ucap salah satu pengawal.
Maya mengangguk. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu kayu mahoni tebal itu menutup di belakangnya.
Suasana di dalam toilet VIP itu sangat sejuk, wangi, dan mewah. Alunan musik klasik dari komposer Vivaldi mengalun sangat pelan dari speaker tersembunyi di langit-langit, memberikan kesan eksklusif.
Maya berjalan ke arah wastafel marmer. Ia meletakkan tas mahalnya, lalu menatap wajah porselennya di cermin raksasa. Sempurna. Tidak ada cacat sedikit pun. Ia adalah seorang dewi di dunia ini.
Namun…
Saat Maya sedang mencuci tangannya yang halus, sebuah suara terdengar dari arah sudut ruangan. Bunyi gesekan kain seragam yang sangat pelan.
Maya membeku. Keran air berbahan kuningan di depannya masih menyala.
Di dalam pantulan cermin raksasa itu, dari bilik ujung yang sengaja diberi tanda ‘Rusak’, sesosok wanita perlahan melangkah keluar.
Wanita itu mengenakan seragam cleaning service biru pudar. Tangannya menggenggam erat gagang alat pel kayu. Penampilannya sangat berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya membengkak, dan matanya memerah memancarkan kegilaan murni.
Itu adalah Sari.
Sari entah bagaimana telah menyelinap ke dalam bilik rusak itu berjam-jam yang lalu, menunggu momen ini dengan sabar.
Sari melangkah mendekati pintu utama toilet, lalu dengan gerakan cepat, menekan kenop kunci putar di dalam pintu kayu mahoni tersebut.
Klik. Pintu itu terkunci rapat dari dalam. Memblokir akses kedua pengawal raksasa di luar sana.
Sari memutar tubuhnya perlahan, memandangi punggung gaun mahal Maya dengan senyum miring yang luar biasa berbisa dan penuh kemenangan.
”Halo, Cinderella palsu.”
Empat kata itu meluncur tajam dari bibir Sari. Suaranya tidak keras, namun bergema memantul di dinding-dinding marmer sejuk, membawa nada ejekan yang sangat kental dan menyayat.
Jantung Maya berhenti berdetak sesaat. Ia menatap lurus ke dalam cermin raksasa yang membentang di dinding, mempertemukan tatapannya dengan tatapan membunuh Sari dari pantulan kaca tersebut.
Di dunia luar, tepat di balik pintu kayu mahoni itu, Maya adalah seorang dewi yang dipuja.
Namun di dalam ruangan kedap suara ini, realitas itu menguap habis.
Hanya ada mereka berdua sekarang. Dua orang wanita yang diikat oleh masa lalu yang kelam, rasa iri yang mendidih, dan sebuah rahasia berdarah yang siap meledak.