SIMETRI BAB 26 ~ Kata yang Terucap

​”Halo, Cinderella palsu.”

​Empat kata itu meluncur tajam dari bibir Sari.

​Suaranya tidak keras. Namun, kalimat itu bergema memantul di dinding-dinding marmer yang sejuk, membawa nada ejekan yang sangat kental, berbisa, dan penuh kemenangan.

​Maya masih berdiri mematung di depan wastafel.

​Air dingin masih mengalir deras dari keran berbahan kuningan di hadapannya, membasahi sela-sela jari porselennya yang kini nyaris tak bisa lagi merasakan perbedaan suhu secara normal.

​Maya menatap lurus ke dalam cermin raksasa yang membentang di dinding. Ia mempertemukan tatapannya dengan tatapan liar Sari dari pantulan kaca tersebut.

​Di dunia luar, tepat di balik pintu kayu mahoni tebal yang baru saja dikunci oleh Sari dari dalam, Maya adalah seorang dewi. Ia dilindungi oleh dua orang pengawal berbadan besar, dipuja oleh ratusan pelanggan kelas atas, dan dielu-elukan oleh pihak manajemen mal.

​Namun di dalam ruangan kedap suara berukuran empat kali empat meter ini… realitas itu menguap tak bersisa.

​Hanya ada mereka berdua sekarang. Dua orang wanita yang diikat oleh masa lalu yang kelam, rasa iri yang mendidih, dan kebencian yang telah mengakar hingga ke dasar tulang.

​Maya perlahan memutar tuas keran air hingga tertutup rapat.

​Bunyi gemericik air berhenti. Ruangan itu seketika diisi oleh alunan musik klasik Vivaldi yang mengalun sangat pelan dari speaker tersembunyi di langit-langit toilet.

​Dengan gerakan yang sangat terukur, tenang, dan luar biasa elegan, Maya mengambil selembar tisu tebal dari wadahnya. Ia mengeringkan tangannya dengan perlahan. Ia sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan atas invasi ruang privasinya ini.

​Setelah tangannya benar-benar kering, ia membuang tisu itu ke tempat sampah. Lalu, ia memutar tubuhnya seutuhnya untuk berhadapan langsung dengan Sari.

​”Selamat sore, Sari,” sapa Maya.

​Nada suaranya datar. Sedingin es. Tanpa sedikit pun getaran ketakutan yang dulu selalu menjadi ciri khasnya jika berhadapan dengan wanita ini.

​”Kamu tahu,” lanjut Maya, menyilangkan tangannya di depan dada. “Menyelinap masuk ke toilet VIP dan mengunci pintunya dari dalam saat ada tamu agensi di dalam, adalah pelanggaran prosedur keamanan tingkat berat.”

​Maya menatap lurus ke mata Sari.

​”Jika saya berteriak sekarang… pengawal saya akan mendobrak pintu itu. Dan kamu, akan diseret keluar dari gedung ini oleh pihak kepolisian.”

​Sari sama sekali tidak bergeming.

​Wanita yang mengenakan seragam kebersihan biru pudar itu justru melangkah maju satu tindak. Tangannya mencengkeram erat gagang alat pel kayu di genggamannya layaknya sebuah tongkat pemukul.

​Penampilan Sari hari ini terlihat sangat mengerikan.

​Ia bukanlah Sari sang ‘Ratu’ kebersihan yang selalu tampil modis dengan riasan paripurna dan parfum menyengat. Riasan wajahnya hari ini terlihat sangat berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya membengkak parah, menandakan ia kurang tidur selama berhari-hari. Rambut lurusnya yang biasanya disisir rapi kini terlihat lepek dan kusam.

​Ada sorot kegilaan yang memancar dari bola matanya yang memerah. Sebuah obsesi tidak sehat yang telah menggerogoti kewarasannya secara perlahan.

​”Teriak aja. Teriak yang kencang, May,” tantang Sari.

​Senyum miring Sari melebar, memamerkan deretan giginya. “Biar semua bodyguard lo masuk. Biar Bu Ratna masuk. Biar semua wartawan di luar sana masuk mendobrak ke sini. Gue malah seneng.”

​Sari melangkah maju lagi.

​”Dengan begitu, gue bisa langsung nunjukin ke mereka semua, siapa lo sebenarnya. Gue bisa langsung telanjangi kebohongan busuk lo di depan kamera mereka hari ini juga.”

​Maya menyipitkan matanya sedikit. Ia tetap mempertahankan postur tubuhnya yang angkuh. Gaun biru dongkernya jatuh dengan anggun, mempertegas kontras antara dirinya yang bak bangsawan, dengan Sari yang tampak seperti pelayan yang kelelahan dan gila.

​”Kebohongan apa yang sedang kamu bicarakan, Sari?” balas Maya dengan nada merendahkan, sengaja memprovokasi ego wanita itu. “Kamu terdengar seperti orang yang kehilangan akal sehat karena terlalu banyak menghirup uap karbol di gudang.”

​Urat di pelipis Sari langsung menonjol keras.

​Rahangnya mengeras mendengar hinaan halus itu, namun ia menahan diri untuk tidak langsung berteriak memukul. Ia menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh rasa jijik yang tak ditutup-tutupi.

​”Lo pikir lo pinter, May? Lo pikir lo bisa nipu semua orang dengan muka plastik lo ini?” desis Sari, mengikis jarak hingga mereka hanya tersisa dua meter.

​Sari menunjuk dada Maya dengan telunjuknya.

​”Semua orang di luar sana mungkin buta karena silau sama muka baru lo. Bu Ratna, Tante Sisca, manajer lo yang ngondek itu… mereka semua emang gampang dibodohin. Tapi gue enggak, May. Gue enggak akan pernah bisa lo tipu.”

​Sari mengangkat tangan kirinya, menuding tepat ke wajah porselen Maya. Kuku merah Sari terlihat mulai terkelupas kotor.

​”Gue tahu lo luar dalam, May. Gue tahu lo dari jaman lo masih mungut sisa makanan di kantin basement!” serkas Sari dengan napas memburu.

​”Nggak ada operasi plastik di dunia ini yang bisa ngerubah muka asimetris dan tulang rahang jelek lo jadi sesempurna itu cuma dalam waktu semalam. Nggak ada! Gue udah nanya dan ngecek ke dokter-dokter di klinik kecantikan!”

​Napas Sari semakin kasar karena luapan emosi.

​”Mereka bilang, butuh waktu berbulan-bulan buat bengkaknya kempes! Tapi lo? Lo datang-datang udah mulus kayak porselen tanpa bekas luka sayatan sedikit pun!” cecar Sari histeris.

​”Lo pake ilmu hitam, kan?! Lo pasang susuk gila dari dukun mana?! Atau lo pake produk ilegal selundupan yang belum diuji coba?!”

​Maya tetap terdiam. Ekpresinya tak terbaca bagai patung.

​Namun di dalam dadanya, jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang jauh lebih cepat. Analisis Sari terlalu presisi. Obsesi wanita ini ternyata membuatnya menyelidiki hal-hal medis yang tidak dipikirkan oleh orang lain.

​”Kamu terlalu banyak menonton sinetron murahan, Sari,” jawab Maya dengan nada sedingin es. “Jika itu saja yang ingin kamu sampaikan, minggir. Saya ada jadwal wawancara di luar, dan saya tidak ingin udara di sekitar saya tercemar oleh bau keputusasaanmu.”

​Maya melangkah maju dengan tegas, berniat untuk berjalan melewati Sari dan membuka kunci pintu.

​Namun dengan gerakan kilat, Sari menyodorkan gagang pelnya melintang, menghalangi jalan Maya.

​”Gue belum selesai ngomong, Jalang!” geram Sari.

​Matanya berkilat penuh kemenangan yang memuakkan.

​”Lo pikir gue cuma modal nebak-nebak doang? Lo pikir gue cuma cemburu buta sama kecantikan lo?”

​Sari menurunkan gagang pelnya sedikit, menatap Maya dengan seringai kejam.

​”Dengerin gue, May. Seminggu ini… gue ngikutin lo. Gue bayar orang buat nyari tahu di mana apartemen mewah sewaan lo itu.”

​Langkah Maya terhenti mendadak.

​Udara di dalam toilet itu seketika terasa membeku. Matanya membelalak tak kentara. Sari tahu di mana aku tinggal?

​Sari tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat kering dan serak, sangat menikmati melihat reaksi tubuh Maya yang mendadak menegang kaku.

​”Kaget? Takut?” ejek Sari puas.

​Ia memindahkan gagang pel ke tangan kanannya, lalu merogoh saku dalam seragam birunya.

​”Gue ngikutin lo sampai ke apartemen elit lo di Jakarta Selatan. Tadi malam… gue nyuap petugas pembuangan sampah di basement apartemen lo buat ngasih semua kantong sampah dari unit lo ke gue.”

​Sari mencondongkan wajahnya. “Gue ngorek-ngorek tumpukan sampah lo kayak anjing gila, May. Dan tebak… apa yang gue temuin di sana?”

​Darah di seluruh tubuh Maya terasa ditarik turun dengan paksa menuju telapak kakinya.

​Kepanikan yang luar biasa hebat, yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik wajah porselennya, kini mulai meronta merobek kewarasannya. Apa yang ia buang tadi malam? Apa yang lupa ia hancurkan?

​Dari dalam saku seragamnya, Sari mengeluarkan sebuah kantong plastik ziplock (plastik klip bening) berukuran kecil.

​Di dalam plastik bening tertutup itu, terdapat sebuah gumpalan tisu yang sudah lecek dan mengeras. Tisu itu berwarna putih, namun di bagian tengahnya… terdapat sebuah noda pekat berwarna merah kehitaman yang sangat gelap dan berminyak.

​Mata Maya terpaku pada benda di dalam plastik tersebut. Paru-parunya seolah lupa cara memompa oksigen.

​Itu adalah tisu yang ia gunakan dua malam yang lalu saat ia mengalami mimisan di toilet klub The Velvet.

​Tisu yang ia gunakan untuk mengelap cairan residu hitam berbau anyir bangkai yang keluar dari rongga hidungnya. Ia ingat betul ia membuangnya di tong sampah apartemennya keesokan paginya karena panik dan terburu-buru bersiap untuk pemotretan. Ia mengira bahwa sampah itu akan dibakar dan lenyap begitu saja di tempat pembuangan akhir.

​Ia telah meremehkan seberapa jauh seekor monster yang cemburu mau menggali kotoran demi menjatuhkan musuhnya.

​”Lo tahu, May…” bisik Sari. Suaranya berubah menjadi sangat pelan, seolah sedang menceritakan sebuah rahasia kematian.

​Sari mengangkat plastik ziplock itu tinggi-tinggi hingga sejajar dengan wajahnya.

​”Waktu gue buka kantong sampah lo, baunya… ya Tuhan… baunya bukan kayak bau sampah rumah tangga biasa. Baunya kayak mayat tikus yang direndem di dalam cairan kimia.”

​Sari menatap Maya dengan pandangan yang dipenuhi oleh campuran antara rasa jijik yang murni dan ketakutan yang ia tutupi dengan arogansi.

​”Gue nemuin tisu ini. Awalnya gue pikir ini cuma darah haid lo atau darah mimisan biasa,” ucap Sari. Ia mengguncang plastik itu perlahan di depan wajah Maya.

​”Tapi pas gue perhatiin dari dekat… ini bukan darah manusia, May. Darah manusia yang udah kering itu warnanya cokelat. Ini warnanya hitam pekat! Kental kayak oli! Dan baunya… baunya bikin gue nyaris muntah di tempat sampah itu juga!”

​Sari melangkah semakin dekat, mengikis sisa jarak hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di kornea mata Maya.

​”Darah lo warna hitam, May?” bisik Sari tajam, meludahkan setiap kata seolah itu adalah kutukan. “Atau cairan apa ini?! Lo itu sebenarnya makhluk apa, hah?!”

​Sari mendorong bahu Maya dengan telunjuknya.

​”Muka lo emang porselen. Tapi di dalemnya lo itu busuk, kan?! Lo itu monster yang lagi nyamar jadi manusia!”

​Kata-kata Sari menghantam kewarasan Maya bertubi-tubi tanpa ampun.

​Ini adalah ketakutan terbesarnya yang mewujud menjadi kenyataan. Seseorang telah mengetahui anomali biologisnya.

​Jika Sari memberikan tisu berdarah hitam ini ke laboratorium, atau memberikannya pada wartawan gosip infotainment hari ini juga… hancurlah sudah seluruh karier miliaran rupiahnya. Randy Adhitama yang perfeksionis itu akan merasa jijik padanya, membongkar rahasianya, dan membatalkan kontrak seketika. Ia akan kembali menjadi gelandangan, dan ibunya tidak akan pernah bisa membiayai sisa pengobatannya lagi.

​Kehilangan segalanya adalah sesuatu yang tidak bisa Maya terima. Tidak setelah ia mengorbankan kemanusiaannya sejauh ini.

​Rasa takut yang mencekiknya tiba-tiba bermutasi. Berubah wujud.

​Dari dalam jurang keputusasaan yang paling gelap, lahir sebuah amarah yang luar biasa dingin dan brutal. Sebuah insting predator yang jauh lebih buas dan mematikan dari apa pun yang pernah dimiliki Sari seumur hidupnya.

​”Kembalikan benda itu padaku,” perintah Maya.

​Suaranya tidak lagi terdengar elegan. Suaranya terdengar sangat serak, rendah, dan menggetarkan molekul udara di sekitarnya.

​”Kembalikan? Lo gila?!” Sari tertawa keras. Tawa kemenangan yang histeris dan memekakkan telinga. Ia mengangkat plastik itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Maya.

​”Ini tiket VIP gue buat ngancurin lo! Gue bakal bawa ini ke infotainment! Gue bakal kasih lihat ke bos lo si Kiki itu, ke semua klien lo, kalau model pujaan mereka ini sebenarnya punya penyakit menular yang busuk, atau pake ilmu hitam yang najis!”

​Sari memelototkan matanya. “Lo bakal habis, May! Lo bakal balik jadi babu gembel yang ngemis-ngemis minta makan dari gue!”

​Maya tidak membuang waktu satu milidetik pun untuk berdebat lagi.

​Begitu kata ‘habis’ keluar dari mulut Sari, Maya menerjang ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seorang wanita yang mengenakan gaun sempit dan sepatu hak tinggi.

​Ia tidak bergerak seperti model yang anggun. Ia menyerang seperti seekor serigala yang kelaparan.

​Tangan kanannya melesat secepat kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan kiri Sari yang sedang memegang plastik ziplock tersebut dengan kekuatan yang luar biasa keras.

​Sari terkesiap kaget. Matanya membelalak tak percaya melihat agresi Maya. “Lepasin tangan gue, bangsat!” jerit Sari, meronta dengan panik.

​”Serahkan padaku!” bentak Maya.

​Ia menarik pergelangan tangan Sari ke bawah dengan kasar, berusaha merebut plastik itu dengan tangan kirinya.

​Pertarungan fisik yang tak seimbang pun pecah di dalam toilet mewah itu. Sari, yang terbiasa menggunakan kekerasan fisik di jalanan, langsung merespons dengan agresi murni.

​Dengan tangan kanannya yang bebas, Sari mengayunkan gagang pel kayu berujung logam keras itu ke arah Maya layaknya pemukul bisbol.

Buuuk!

​Gagang pel yang berat itu menghantam keras lengan atas sebelah kiri Maya.

​Benturan itu menghasilkan suara tumpul yang sangat nyaring, bergema di dinding granit toilet. Pukulan itu begitu keras hingga seharusnya cukup untuk meretakkan tulang lengan wanita dewasa normal. Atau setidaknya, meninggalkan memar biru pekat seketika dan membuat korbannya menjerit kesakitan hingga tersungkur.

​Namun… apa yang terjadi selanjutnya membuat darah di tubuh Sari seakan tersedot habis menuju dasar bumi.

​Maya tidak menjerit. Ia tidak meringis. Ia bahkan tidak melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sari sedikit pun.

​Gadis bergaun biru dongker itu hanya memiringkan kepalanya sedikit. Ia menatap lengan kirinya yang baru saja dihantam logam keras itu dengan ekspresi bosan. Lalu, ia menatap kembali ke arah mata Sari.

​Ekspresi wajah Maya sama sekali tidak berubah. Sepasang mata elangnya menatap Sari dengan tatapan kosong yang membekukan jiwa.

​Maya sama sekali tidak merasakan apa-apa.

​Kulit porselennya yang telah kebas permanen, otot-otot modifikasinya yang padat layaknya baja berlapis sutra… menyerap hantaman benda keras itu tanpa memberikan sinyal rasa sakit sedikit pun ke otaknya. Lengan itu tetap mulus. Tidak merah, tidak lecet.

​Seolah Sari baru saja memukul sebuah patung marmer padat, bukan daging manusia.

​Sari mematung ngeri. Napas wanita dominan itu tertahan di kerongkongan. Kegilaan dan arogansinya perlahan menguap, digantikan oleh horor psikologis yang murni dan melumpuhkan.

​”L-lo… lo…” Sari tergagap. Bibirnya bergetar hebat.

​Ia menatap lengan Maya, lalu menatap wajah dingin gadis itu secara bergantian. “Tangan lo… kenapa keras kayak batu? Lo nggak ngerasa sakit?! Gila… lo beneran bukan manusia!”

​Rasa takut yang absolut membuat cengkeraman jari-jari Sari pada plastik itu melemah drastis.

​Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Maya. Ia tidak hanya merebut plastik ziplock itu dari tangan Sari.

​Ia menggunakan tenaganya yang tersembunyi tenaga monster yang dipompa oleh adrenalin tanpa dihalangi oleh ambang batas rasa sakit untuk mendorong Sari dengan sangat, sangat kasar.

​Maya menghempaskan tubuh Sari ke arah belakang.

​Wanita itu terhuyung mundur beberapa langkah, kehilangan keseimbangan karena lantai marmer yang licin. Hingga akhirnya, punggung dan belakang kepalanya membentur dinding granit hitam di belakangnya dengan suara debam yang memuakkan.

Braakk!

​Sari merintih kesakitan. Tubuhnya merosot turun ke lantai toilet yang dingin. Gagang pelnya terlepas dan jatuh bergemerincing di dekat kakinya. Ia memegangi bahunya yang ngilu dan kepalanya yang berdenging akibat benturan.

​Maya berdiri menjulang di atas Sari.

​Plastik ziplock berisi tisu hitam itu kini sudah aman di genggamannya. Ia melipatnya cepat dan memasukkannya ke dalam tas clutch mahalnya.

​Ia menatap Sari yang sedang meringkuk ketakutan di lantai. Wajah wanita yang dulu selalu menjadi mimpi buruknya itu, kini terlihat sangat menyedihkan, kerdil, dan tak berdaya. Maya telah sepenuhnya mengambil alih rantai makanan. Ia bukan lagi herbivora yang selalu menghindar, ia adalah puncak predator yang kejam.

​Maya berjongkok perlahan. Ia menekuk lututnya dengan sangat anggun agar wajahnya sejajar dengan wajah Sari yang pucat pasi.

​Sari menyusut ke sudut, mencoba menjauh, menempelkan punggungnya ke marmer. Napasnya memburu panik. “M-mundur lo… jangan deket-deket gue, monster!”

​Maya mengulurkan tangannya yang bersuhu dingin.

​Jari-jari porselennya yang lentik dengan lembut menyentuh dagu Sari. Lalu… dengan gerakan kilat, ia mencengkeram rahang wanita itu dengan paksa. Ia memaksa Sari untuk menatap lurus ke matanya. Cengkeraman Maya sangat kuat, jari-jarinya menekan rahang Sari hingga wanita itu meringis kesakitan.

​”Dengar baik-baik, Sari,” bisik Maya.

​Suaranya sangat halus. Sangat tenang. Namun memancarkan aura kematian yang membuat seluruh bulu kuduk Sari merinding ngeri.

​”Kamu benar. Aku memang monster. Aku adalah monster yang terlahir dari semua hinaan, ludah, dan tumpahan air pel yang kamu berikan padaku selama bertahun-tahun di mal ini.”

​Maya mencondongkan wajahnya lebih dekat. Aroma parfum mahalnya bercampur dengan hawa dingin yang menguar dari pori-porinya.

​”Kamu ingin menghancurkanku? Kamu ingin membongkar rahasiaku?” Maya tersenyum miring. Sebuah seringai yang sangat gelap dan iblis. “Lakukan saja, Sari. Bawa cerita konyolmu tentang tisu hitam dan muka plastik ini ke wartawan. Beritahu mereka semua bahwa Maya si model terkenal adalah seorang penyihir.”

​Mata Maya menajam, seolah menusuk langsung ke dalam tengkorak Sari.

​”Tapi ingat ini baik-baik,” ancam Maya, merangkai kebohongan dan menggertak dengan psikologis manipulatif tingkat tinggi. “Saat ini, uang yang ada di rekeningku cukup untuk membeli gedung mal ini beserta seluruh isinya. Aku punya koneksi pejabat, pengusaha, dan orang-orang berkuasa yang bisa membuat seseorang… menghilang tanpa jejak hanya dengan satu jentikan jari.”

​Maya mencengkeram dagu Sari semakin kuat.

​”Jika ada satu patah kata pun tentang kehidupanku yang keluar dari mulut busukmu ke media… aku bersumpah, bukan hanya kamu yang akan hancur. Aku akan pastikan kamu dan keluargamu tidak akan pernah bisa tidur nyenyak seumur hidup kalian.”

​Air mata ketakutan mengalir deras membasahi pipi Sari. Riasan eyeliner-nya luntur menjadi noda hitam yang menyedihkan. Ia mengangguk kaku. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Ia menyadari dengan absolut bahwa ia telah membangunkan iblis.

​”P-paham… gue paham, May… gue janji nggak akan ngomong apa-apa sama siapa pun…” isak Sari, suaranya pecah dan penuh keputusasaan murni.

​Maya menatap wajah menangis itu sejenak, mencoba mencari setitik rasa simpati di dalam hatinya.

​Ia tidak menemukannya. Hatinya telah sama kebasnya dengan kulit di tubuhnya.

​Maya melepaskan cengkeramannya pada dagu Sari dengan sentakan pelan, lalu berdiri. Ia berjalan menuju wastafel, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat pertarungan tadi, dan memperbaiki riasan bibirnya di depan cermin seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​”Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depanku lagi. Anggap aku sudah mati,” ucap Maya final, tanpa menoleh ke belakang.

​Ia berjalan menuju pintu, memutar kunci, dan melangkah keluar dari toilet VIP tersebut. Ia meninggalkan Sari yang menangis tersedu-sedu di lantai yang dingin, benar-benar dihancurkan oleh rasa takut yang murni pada ciptaannya sendiri.

​Begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Maya mengambil napas panjang. Ia mengubah raut wajahnya dalam sedetik, kembali menjadi topeng Brand Ambassador yang ramah dan elegan.

​Dua orang pengawal bertubuh besar yang berdiri berjaga di lorong menoleh menatapnya.

​”Ada masalah di dalam, Mbak Maya? Kami tadi seperti mendengar suara barang jatuh yang cukup keras,” tanya salah satu pengawal dengan sopan namun waspada.

​”Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya botol hand sanitizer besar yang tersenggol jatuh,” dusta Maya dengan senyum manis yang sangat meyakinkan. “Ayo, kita kembali ke atas. Kak Kiki dan wartawan pasti sudah menunggu lama.”

​Mereka berjalan menuju lift privat yang membawa mereka ke salah satu restoran mewah di lantai lima Grand Atrium Mall. Di sanalah konferensi pers dan sesi wawancara eksklusif sedang diadakan.

​Ketika Maya melangkah masuk ke dalam restoran yang telah disewa sepenuhnya itu, kilatan lampu kamera kembali menyergapnya bertubi-tubi.

​Ia duduk di kursi tengah yang telah disiapkan, diapit oleh Kiki dan Sandra sang klien. Di hadapannya, belasan jurnalis dari majalah mode dan stasiun televisi gaya hidup telah siap dengan alat perekam dan buku catatan mereka.

​Maya duduk dengan sangat anggun. Ia menyilangkan kakinya, dan tersenyum simpul ke arah kamera. Di dalam perutnya, adrenalin sisa pertarungan dengan Sari masih bergejolak liar, namun ia memaksakan dirinya untuk tampil paripurna.

​”Pertanyaan pertama untuk Maya,” seorang jurnalis wanita berbaju blazer kuning berdiri, mengarahkan mikrofonnya.

​”Maya, kemunculan Anda di industri ini sangat fenomenal dan terkesan instan. Publik, khususnya para wanita, sangat penasaran. Bagaimana cara Anda menjaga kulit agar tetap terlihat semulus dan secerah porselen di tengah jadwal yang begitu padat? Apakah ada rutinitas skincare rahasia, atau mungkin prosedur diet khusus?”

​Mendengar pertanyaan itu, sebuah ironi yang luar biasa memuakkan menyengat ulu hati Maya.

Cara menjaga kulit? batin Maya tertawa getir. Dengan mengoleskan gel mutiara misterius yang membekukan darahku, mengorbankan kewarasanku dan mematikan seluruh saraf sensorik di tubuhku hingga hantaman kayu pun tak terasa.

​Namun, Maya mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menatap para jurnalis itu dengan kelembutan yang sangat terlatih.

​”Rahasia saya sebenarnya sangat sederhana, Mbak,” jawab Maya dengan suara yang merdu dan tenang.

​”Selain menggunakan produk Lumière Merveille secara rutin setiap malam untuk meregenerasi sel kulit, saya sangat percaya bahwa kecantikan fisik itu selalu berakar dari ketenangan pikiran. Saya banyak minum air putih, menjaga pola tidur, dan berusaha untuk selalu berpikir positif terhadap lingkungan di sekitar saya.”

​Maya memberikan senyum tulus yang membius ruangan.

​”Saat kita hidup dengan damai dan menerima diri kita apa adanya, kulit kita akan secara alami memancarkan kilau dari dalam.”

​Mendengar jawaban yang sangat klise, palsu, dan diplomatis itu, Kiki tersenyum amat bangga di sebelahnya. Para jurnalis mengangguk-angguk setuju, mencatat setiap kata munafik itu seolah itu adalah ayat suci dari kitab kecantikan terbaru.

​Maya terus melontarkan kebohongan demi kebohongan selama satu jam penuh.

​Ia menceritakan betapa ia sangat mencintai kehidupan naturalnya, betapa ia menghargai proses yang sehat. Sementara di dalam tas mahalnya yang terletak di bawah meja… sebuah tisu dengan noda darah hitam berbau bangkai tergolek diam sebagai saksi bisu kebusukannya.

​Topeng yang ia kenakan kini sudah menyatu permanen dengan tulang tengkoraknya. Ia tidak bisa lagi membedakan mana kebohongan PR (Public Relations) dan mana realitas monsternya sendiri.

​Pukul sembilan malam.

​Setelah jadwal yang luar biasa padat itu berakhir, Maya akhirnya diantar kembali ke apartemen studionya yang mewah.

​Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci rapat, ketegangan Maya runtuh. Ia melemparkan tas clutch dan sepatunya ke segala arah.

​Ia langsung berlari menuju kamar mandi. Ia merogoh tasnya dengan kasar, mengambil plastik ziplock berisi tisu hitam itu, merobek plastiknya, dan membuang tisu itu ke dalam kloset.

​Ia menekan tombol flush berkali-kali. Ia menatap air yang berputar, hingga tisu berdarah hitam itu hilang ditelan pusaran air, membawa serta bukti fisik terakhir yang bisa menghancurkannya.

​Maya menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi yang dingin. Ia merosot turun ke lantai. Ia memegang lengan kirinya yang tadi siang dipukul dengan sangat keras oleh Sari menggunakan gagang pel.

​Ia mengangkat lengan kemeja sutranya.

​Lengan porselennya masih terlihat mulus sempurna di bawah cahaya lampu kamar mandi. Tidak ada memar, tidak ada lecet.

​Namun… saat Maya menggunakan tangan kanannya untuk menekan area yang terkena hantaman tadi, ia merasakan sebuah sensasi yang sangat aneh dan meresahkan.

​Di bawah lapisan kulitnya yang keras dan kebas, jauh di dalam serat dagingnya yang tak merasakan sakit… otot aslinya berkedut pelan. Otot itu bergetar seolah ada saraf tersembunyi yang sedang menangis diam-diam karena tekanan ekstrem tersebut. Tubuhnya kebal terhadap rasa sakit eksternal, namun hantaman itu ternyata memberikan trauma pada struktur internal yang tak kasat mata.

​Maya menelan ludah. Ia memandang ke arah meja rias di luar kamar mandi, tempat di mana kotak hitam matte itu ia simpan.

​Rasa takut yang baru kembali mencengkeramnya. Sari mungkin sudah ia bungkam dengan ancaman. Rahasianya mungkin aman untuk sementara waktu dari publik. Namun masalah terbesarnya sama sekali belum terselesaikan.

​Botol jar berisi gel mutiaranya telah habis total terpakai semalam. Ia hanya memiliki sisa cairan merah berbau darah di botol panjang, dan satu jar kaca kecil yang isinya masih menjadi misteri.

​Tubuhnya kini adalah bom waktu biologis.

​Jika efek samping penarikan itu kembali terjadi di area tubuhnya yang lain, seperti dagingnya yang menyusut, mengering atau meleleh secara tiba-tiba, ia tidak punya persediaan gel mutiara untuk me-reset kondisinya. Jika ia tidak segera mendapatkan gel tambahan, cepat atau lambat ia akan membusuk dari dalam di hadapan ribuan kamera.

​Maya berdiri dengan gontai. Ia berjalan keluar dari kamar mandi menuju ruang tengah apartemennya yang sepi.

​Ia harus melacak dari mana kotak ini berasal. Ia menemukan kotak itu di bawah panggung Lumière Merveille. Dan sekarang Kiki memberitahunya bahwa Lumière Merveille dimiliki oleh satu orang, Randy Adhitama. Miliarder perfeksionis itu.

​Apakah Randy yang menciptakan produk gila ini? Atau ada ilmuwan gila di perusahaannya yang tak sengaja menjatuhkan prototipe itu?

​Ia harus mencari cara untuk menanyakan tentang ‘produk rahasia’ ini pada Randy tanpa membuat pria itu curiga bahwa ia telah mencuri dan memakainya. Sebuah tugas yang nyaris mustahil dan bunuh diri.

​Saat ia sedang memeras otaknya mencari strategi, pandangannya tak sengaja tertuju pada meja kaca di ruang tamunya.

​Langkah Maya terhenti. Dahinya berkerut tajam.

​Di atas meja kaca bundar itu, terdapat sebuah kotak hadiah persegi berukuran sedang. Kotak itu berwarna hitam matte elegan, diikat dengan sebuah pita sutra berwarna perak.

​Jantung Maya berdebar kencang.

​Ia belum pernah melihat kotak itu sebelumnya. Pagi tadi, saat ia berangkat kerja, meja itu kosong melompong. Siapa yang mengirimkan paket ini? Bagaimana paket ini bisa masuk melewati resepsionis dan penjagaan ketat lobi apartemen mewahnya?

​Dengan langkah waspada, Maya mendekati meja tersebut. Ia menatap kotak hadiah itu lekat-lekat. Bentuknya biasa saja, terlihat seperti bingkisan gaun dari toko fashion mahal.

​Namun… yang membuat napas Maya tercekat dan darahnya berhenti mengalir adalah secarik kartu ucapan yang terselip rapi di bawah pita perak tersebut.

​Kertas kartu ucapan itu… warnanya hitam pekat. Dan teksturnya… Maya sangat mengenali tekstur kasar berserabut dari kertas itu. Itu adalah kertas linen tebal yang sama persis dengan kertas instruksi terkutuk yang ia temukan di dalam kotak kosmetiknya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Maya menarik kartu itu perlahan.

​Di atas kertas hitam tersebut, tertulis sebuah pesan singkat menggunakan tinta perak yang berkilap elegan di bawah lampu apartemennya. Tulisan tangan yang sangat rapi, bersudut tajam, dan memancarkan dominasi mutlak.

“Selamat atas kesempurnaan panggung pertamamu, Maya. Daging yang indah harus dibalut dengan kain yang pantas. Gunakan gaun di dalam kotak ini untuk makan malam privat kita besok. Aku menunggumu. – R.A”

​Ponsel Maya yang berada di dalam tas sofa tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan apartemen.

​Maya tersentak kaget hingga ia menjatuhkan kartu tersebut ke atas lantai karpet.

​Ia merogoh tasnya dengan panik dan mengangkat panggilan itu. Nama ‘Kak Kiki’ tertera di layar.

​”H-halo, Kak Kiki?” suara Maya terdengar parau dan sangat panik.

“Maya, Sayang! Sorry ganggu waktu istirahat kamu!” sapa Kiki riang, sama sekali tak menyadari ketegangan hebat di pihak Maya. “Eike baru aja dikabarin asistennya Bos Randy. Besok malam, Randy minta ketemu kamu secara personal di restoran privat buat ngomongin detail kampanye eksklusif kita!”

​”B-besok malam…?”

“Iya! Ini langka banget, Sayang! Randy nggak pernah mau makan malam berdua sama model agensinya,” pekik Kiki girang. “Katanya dia udah ngirim gaun khusus ke apartemen kamu lewat kurir VIP buat kamu pakai besok. Udah sampai kan paketnya?”

​Maya menatap kotak hadiah hitam di atas meja, lalu menunduk menatap kertas linen yang tergeletak di lantai.

R.A. Randy Adhitama.

​Bulu kuduk di seluruh tubuh Maya berdiri serempak. Hawa dingin merayap meremukkan sisa-sisa kewarasannya. Kertas instruksi iblis itu, kertas yang menawarkan ‘batas akhir kemanusiaan’, ternyata berasal dari jenis kertas yang sama persis dengan yang digunakan oleh sang miliarder.

​Sebuah kesadaran yang sangat mematikan baru saja menghantam dan menghancurkan logikanya.

​Randy Adhitama tidak pernah tertipu oleh kesempurnaan palsunya. Pria berwajah dingin itu, sejak awal mereka bertatap mata, dia sudah tahu. Dia tahu segalanya sejak awal.

​Karena pria itulah yang menciptakan neraka ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.