SIMETRI BAB 27 ~ Janji Randy

Sinar matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela apartemen mewah itu.

​Cahayanya jatuh tepat menyinari selembar kertas linen hitam yang tergeletak pasrah di atas lantai parket. Kertas dengan inisial ‘R.A’ itu seolah memancarkan radiasi ancaman yang tak kasat mata.

​Maya duduk meringkuk di atas karpet berbulu tebal di sudut ruang tamunya. Ia memeluk kedua lututnya dengan sangat erat.

​Sepanjang sisa malam tadi, setelah Kiki menutup teleponnya dengan nada riang yang sangat kontras dengan kengerian ini, Maya sama sekali tidak memejamkan mata sedetik pun.

​Pikirannya berputar liar layaknya badai topan. Badai yang menghancurkan segala fondasi logika dan rasa aman yang baru saja ia bangun susah payah. Kertas hitam bertinta perak itu terus menatapnya dari bawah meja, seolah mengejek keputusasaannya secara terang-terangan.

​Semalam, dalam ledakan panik dan lonjakan adrenalin yang membutakan, insting bertahan hidup Maya langsung mengambil kesimpulan yang paling fatal.

​Ia yakin bahwa Randy Adhitama adalah iblis pembuat formula itu. Ia yakin pria tersebut, dengan segala jaringan intelijen perusahaannya, tahu persis bahwa Maya telah mencuri kotak itu dari bawah panggung launching.

​Undangan makan malam eksklusif ini pastilah sebuah jebakan elegan yang disiapkan Randy untuk mengeksekusinya.

​Namun… seiring berjalannya waktu malam yang panjang, udara dari AC sentral apartemen perlahan mendinginkan otaknya yang mendidih.

​Sisi rasional Maya mulai bangkit mengambil alih kemudi. Sebuah sisi rasional yang sebenarnya hanya putus asa mencari pembenaran, agar ia tidak perlu melarikan diri, bersembunyi, dan membuang kehidupan glamor yang baru saja ia genggam.

Tunggu dulu, batin Maya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Pikirkan ini baik-baik, Maya. Jangan biarkan ketakutan membuatmu bertindak bodoh.

​Randy Adhitama adalah seorang miliarder.

​Dia adalah pemilik grup farmasi dan kosmetik raksasa yang mendistribusikan produk premium ke seluruh Asia. Tentu saja pria dengan kekayaan tak berseri seperti itu menggunakan kertas mahal berbahan linen tebal dan tinta perak metalik untuk semua korespondensi VVIP-nya.

​Kertas hitam elegan itu bukanlah bukti spesifik dari sebuah ilmu hitam atau sekte rahasia. Itu mungkin hanyalah standar kemewahan dari perusahaannya. Sebuah signature style seorang Randy Adhitama yang juga digunakan secara massal pada kotak-kotak hadiah khusus miliknya dan kemasan produk elitnya.

​Maya memberanikan diri merangkak maju. Ia memungut kertas hitam itu dari lantai.

​Teksturnya memang sama persis dengan kertas instruksi mengerikan di dalam kotak kosmetik misteriusnya. Hal itu tidak bisa dibantah.

Lalu bagaimana dengan kotaknya? Pikiran Maya terus berdebat liar di dalam kepalanya, menyusun skenario yang masuk akal.

Aku menemukan kotak itu di bawah kolong panggung acara peluncuran produk perusahaannya. Sangat masuk akal jika produk tanpa label itu adalah sebuah prototipe rahasia dari laboratorium R&D (Research and Development) miliknya yang bernilai triliunan.

​Mungkin saja, kotak itu tak sengaja terjatuh dari tangan salah satu direktur atau ilmuwan ceroboh yang membawanya saat persiapan acara. Atau, disembunyikan oleh staf rendahan yang berniat mencurinya dari perusahaan untuk dijual di pasar gelap, namun gagal mengambilnya kembali karena ada penjagaan Mandor Joko.

​Maya menelan ludah yang terasa seperti butiran pasir.

​Jika asumsi barunya ini benar… maka Randy Adhitama secara personal sama sekali tidak tahu bahwa Maya-lah pencuri prototipe tersebut.

​Miliarder itu, yang dikenal dingin dan tidak pernah peduli pada hal-hal remeh di lapangan, mungkin hanya melihat sosok Maya murni sebagai seorang model baru dengan struktur tulang dan kulit yang luar biasa sempurna.

​Randy tidak menyadari bahwa kesempurnaan yang ia puji-puji di ruang audisi tempo hari itu adalah hasil curian dari laboratoriumnya sendiri. Randy mengundangnya makan malam murni sebagai seorang CEO yang tertarik pada ‘aset’ baru perusahaannya, bukan sebagai seorang algojo yang datang untuk menagih nyawa dan membelah perutnya.

​Kesimpulan baru ini memberikan setitik kelegaan yang sangat memabukkan di dada Maya.

​Sebuah kelegaan yang sangat ia butuhkan untuk tetap waras pagi ini. Ia harus, dan wajib, percaya pada asumsi ini. Karena alternatif lainnya, bahwa Randy adalah dalang dari teror mistis yang mengincar jiwanya dan mengetahui semua rahasianya, terlalu mengerikan untuk dihadapi oleh mentalnya.

​Ia tidak bisa mundur sekarang.

​Kariernya sedang berada di puncak popularitas. Ia baru saja membungkam Sari. Ia baru saja mencicipi bagaimana rasanya dihormati oleh kelas atas. Dan yang terpenting, biaya rumah sakit ibunya serta gaji perawat pribadi itu bergantung mutlak pada uang dari perusahaan pria tersebut.

​Maya perlahan bangkit berdiri. Ia mengalihkan pandangannya pada kotak hadiah hitam berukuran besar yang duduk manis di atas meja kacanya.

​Dengan tangan yang masih sedikit dingin, ia membuka simpul pita perak tersebut. Ia mengangkat penutup kotaknya.

​Di dalamnya, terbungkus rapi oleh lembaran kertas tisu berlogo butik desainer internasional dari Milan, terdapat sebuah gaun malam.

​Maya mengangkat gaun itu perlahan ke udara. Napasnya langsung tertahan di tenggorokan.

​Itu adalah sebuah gaun panjang berbahan sutra satin murni. Warnanya midnight blue, biru gelap yang pekat menyerupai langit malam tanpa bintang.

​Potongan gaun itu sangat berani, namun memancarkan keanggunan yang luar biasa intimidatif. Gaun itu memiliki model kerah halter-neck yang menutupi leher bagian depannya dengan rapat dan anggun.

​Namun… bagian punggung gaun itu dirancang terbuka sangat rendah. Kainnya dipotong habis hingga nyaris menyentuh sebatas tulang ekor pemakainya. Di bagian bawah, belahan kainnya menjuntai asimetris, membelah tinggi hingga ke paha atas.

​Gaun ini tidak dirancang untuk sembarang wanita.

​Ini adalah pakaian yang diciptakan khusus untuk membingkai anatomi tubuh pemakainya bagaikan lapisan kulit kedua. Tidak ada ruang untuk menyembunyikan lemak berlebih. Tidak ada corset penahan postur yang bisa disembunyikan. Dan mutlak, tidak ada ruang untuk menyamarkan cacat kulit, jerawat punggung, atau noda sedikit pun di bagian belakang tubuh.

​Gaun ini menuntut kesempurnaan fisik yang mutlak, dari ujung leher hingga ujung kaki.

​Maya merinding melihat gaun tersebut.

​Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia membayangkan sebuah skenario horor. Jika saja saat itu ia tidak nekat menguras habis seluruh sisa gel mutiara di jar kaca pertamanya untuk memahat punggung, meratakan pinggul, dan kakinya, gaun backless kiriman Randy ini pasti akan menjadi seragam eksekusinya hari ini.

​Kulit punggungnya yang asli dulu dipenuhi bekas luka dan warna yang tidak rata. Randy pasti akan merasa jijik melihatnya.

​Namun, karena keputusannya yang impulsif mengorbankan seluruh ‘bahan bakarnya’ hingga jar itu kosong melompong… hari ini, gaun itu berubah fungsi menjadi jubah kebesarannya. Punggungnya kini semulus porselen.

​”Dia benar-benar pria perfeksionis yang gila,” gumam Maya.

​Ia mengagumi kelembutan kain sutra mahal di tangannya. Meskipun ia tahu bahwa kulit porselennya kelak tak akan bisa merasakan kelembutan kain itu secara penuh karena sarafnya telah mati dan kebas, matanya tetap dimanjakan oleh kemewahannya.

​”Dia tidak menerima penolakan, dan dia secara halus mendikte bagaimana aku harus tampil malam ini,” bisik Maya, menempelkan gaun itu ke tubuhnya di depan cermin.

​Pukul tujuh malam tepat.

​Sebuah mobil limousine Mercedes Benz S-Class berwarna hitam pekat mengkilap tiba di pelataran lobi apartemen Maya. Mobil panjang itu membelah rintik hujan yang mulai mereda di aspal ibu kota.

​Sang supir, seorang pria paruh baya berseragam jas rapi lengkap dengan sarung tangan putih, keluar dan membukakan pintu belakang untuknya dengan sikap membungkuk hormat.

​Maya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma kulit baru dan lavender.

​Ia telah bersiap selama nyaris tiga jam penuh di depan cermin, memastikan tidak ada satu pun detail yang luput dari pandangannya.

​Rambut hitamnya yang panjang dan lurus ia biarkan tergerai natural, menutupi separuh punggungnya yang terbuka. Hal itu memberikan kesan misterius yang menggoda namun tidak murahan.

​Riasan wajahnya tidak berlebihan. Hanya bernuansa smokey eye elegan yang mempertegas mata elangnya, menonjolkan fitur porselennya tanpa menutupi kilau alami kulitnya. Sepasang sepatu hak tinggi bertali (strappy heels) berwarna perak melingkari pergelangan kakinya yang jenjang.

​Malam ini, ia terlihat seperti dewi malam yang turun ke bumi. Sebuah mahakarya berjalan yang sengaja didesain untuk membuat para pria berkuasa bertekuk lutut memujanya.

​Perjalanan menuju restoran rahasia itu memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Mereka membelah kemacetan ibu kota yang mulai berhiaskan pendaran lampu-lampu jalan.

​Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Maya menatap ke luar jendela. Ia memutar kembali putaran waktu di ingatannya.

​Semuanya terasa begitu surealis.

​Lebih dari sebulan yang lalu, ia masih berdiri di basement kotor Grand Atrium Mall. Ia dimaki habis-habisan oleh Sari. Ia dihukum lembur menyapu confetti oleh Bu Ratna. Dan ia menangis meratapi nasib ibunya yang batuk darah dengan sisa uang belasan ribu rupiah di saku kusamnya.

​Hari-hari di mana ia harus mengais sisa makanan di kantin dan selalu membungkuk pada dunia.

​Dan malam ini?

​Ia sedang duduk menyilangkan kaki jenjangnya di dalam kabin mobil mewah seharga miliaran rupiah. Ia dikawal oleh supir pribadi. Dan ia diundang makan malam secara eksklusif oleh salah satu pria terkaya, paling misterius, dan paling ditakuti di industri kosmetik Asia.

​Kurang dari empat puluh hari telah membalikkan poros dunianya secara total. Mengubahnya dari kasta terendah pencuci toilet, menjadi entitas yang nyaris tak tersentuh.

​Mobil limousine itu ternyata tidak mengarah ke hotel bintang lima komersial atau pusat perbelanjaan elit di Sudirman.

​Supir mengarahkan mobil memasuki sebuah kawasan perumahan paling eksklusif di Menteng. Area rindang nan sepi yang hanya dihuni oleh para pejabat tinggi negara dan konglomerat lama.

​Mobil berbelok tajam ke dalam sebuah gerbang tinggi berbahan besi tempa. Gerbang itu dijaga ketat oleh empat orang petugas keamanan berbadan tegap yang mengenakan jas hitam dan earpiece.

Limousine berhenti dengan mulus di pelataran sebuah mansion raksasa bergaya arsitektur Eropa klasik.

​Bangunan megah ini rupanya telah dialihfungsikan menjadi sebuah restoran private-dining yang sangat, sangat rahasia. Tidak ada papan nama. Tidak ada plang di luar.

​Ini adalah tempat di mana setumpuk uang tunai saja tidak akan pernah cukup untuk memesan satu meja. Seseorang harus memiliki kekuasaan, privilege, dan koneksi mutlak untuk bisa melangkah masuk ke dalamnya.

​Supir membukakan pintu. Maya melangkah turun dengan anggun, membiarkan ujung sepatu peraknya menyentuh karpet penyambutan yang tebal.

​Udara malam Jakarta yang hangat menyapu punggungnya yang terbuka secara frontal.

​Namun, seperti yang sudah ia duga dan sudah mulai ia biasakan… kulit porselen di punggungnya hanya merespons dengan sensasi kebas yang tumpul. Ia tidak bisa merasakan kehangatan angin malam itu yang membelai tulang belikatnya. Sebuah ironi yang mengingatkannya kembali pada kutukan diam yang bersarang di dalam tubuh manekinnya.

​Seorang maître d’ (kepala pelayan) berjas tuxedo rapi menyambutnya tepat di depan pintu kayu mahoni raksasa yang dihiasi ukiran rumit.

​”Selamat malam, Nona Maya. Sebuah kehormatan menyambut Anda. Bapak Randy sudah menunggu kedatangan Anda di ruang makan Orchid,” sapa pria itu seraya membungkuk sangat dalam.

​Meskipun ia sudah dilatih secara ketat dan profesional untuk tidak menatap tamu, mata kepala pelayan itu tetap memancarkan seberkas kekaguman yang harus ia tekan kuat-kuat saat melihat postur mematikan Maya.

​”Terima kasih,” jawab Maya singkat. Ia hanya mengangguk pelan, memberikan senyum misterius yang tidak memancarkan kehangatan.

​Ia mengikuti kepala pelayan itu melintasi lorong-lorong sepi yang berlantai marmer murni. Dinding di kiri dan kanannya dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik Eropa berbingkai emas. Lukisan itu tampak seperti barang asli dari lelang museum, diterangi oleh lampu gantung kristal temaram.

​Suasana di dalam bangunan itu sangat sunyi. Hanya ada alunan musik jazz piano yang dimainkan secara langsung dari ruangan lain, namun terdengar sangat pelan. Restoran raksasa ini sepertinya telah disewa secara eksklusif hanya untuk satu meja malam ini. Hanya untuk mereka berdua.

​Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu ganda berbalut kain beludru merah gelap.

​Kepala pelayan memutar tuas emasnya. Ia mendorong pintu itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun.

​”Silakan masuk, Nona.”

​Maya melangkah masuk. Pintu ganda itu ditutup kembali dari luar. Menguncinya di dalam sebuah dimensi kemewahan yang sangat privat.

​Ruangan itu berbentuk melingkar yang luar biasa luas.

​Satu sisi dindingnya dipenuhi oleh kaca jendela besar yang menghadap langsung ke sebuah taman belakang pribadi. Taman itu dihiasi oleh air mancur kecil dan lampu-lampu taman artistik yang memendarkan cahaya kekuningan di atas rerumputan yang basah oleh hujan.

​Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja makan kayu panjang yang dilapisi taplak putih bersih tanpa noda. Ada dua buah kursi berukir rumit di ujung yang saling berlawanan. Lilin-lilin tinggi menyala terang di atas penyangga perak di tengah meja, memberikan pencahayaan dramatis yang sangat romantis, sekaligus mengintimidasi.

​Di salah satu ujung meja, membelakangi jendela kaca, berdiri sesosok pria tinggi tegap. Ia sedang menuangkan anggur merah dari botol antik berdebu ke dalam dua buah gelas kristal bening.

​Randy Adhitama.

​Miliarder muda itu mengenakan setelan jas navy berpotongan tajam yang sangat pas membalut bahu lebarnya. Senada dengan warna gaun sutra yang dikirimkannya untuk Maya.

​Kemeja putihnya dibiarkan tak berdasi, dan dua kancing teratasnya terbuka. Hal itu memancarkan aura kasual yang luar biasa mahal dan maskulin. Wajahnya yang sangat tampan dan dingin diterangi oleh cahaya lilin yang bergoyang, menciptakan bayangan tegas di lekuk rahang perseginya, menonjolkan sepasang mata elangnya yang sedingin es.

​Mendengar derap ketukan sepatu hak Maya di atas lantai, Randy meletakkan botol anggur tersebut perlahan. Ia mendongak.

​Tatapan mereka bertabrakan dari seberang ruangan.

​Untuk sesaat, ruangan kedap suara itu mendadak terasa kehilangan seluruh pasokan oksigennya.

​Pandangan Randy yang biasanya selalu datar, bosan, dan tak acuh pada eksistensi manusia di sekelilingnya, kini menyapu sosok Maya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan intensitas yang membakar.

​Pria itu menatap lekuk pinggang Maya yang dibalut gaun midnight blue pilihannya. Ia mengamati setiap inci kulit porselen yang terekspos tanpa malu-malu di bawah cahaya lilin temaram.

​Berbeda dengan tatapan analitis dan klinisnya saat mereka berada di studio waktu audisi pertama kali, tatapan Randy malam ini memiliki sebuah percikan lain yang sangat pekat. Sebuah rasa kepemilikan yang teramat arogan. Sebuah kepuasan mutlak dari seorang kolektor obsesif yang sedang menatap mahakarya paling langka dan paling sempurna di dalam galeri pribadinya.

​”Gaun buatan desainer Milan itu… ternyata sama sekali tidak bisa menandingi keindahan pemakainya,” ucap Randy.

​Suaranya yang serak, berat, dan bervolume rendah itu mengalun membelah kesunyian ruangan. Entah bagaimana, frekuensi suara itu berhasil menyusup dan menggetarkan sesuatu di dalam dinding dada Maya.

​Itu adalah pujian pertama yang pernah Maya dengar langsung dari mulut pria sedingin Randy. Pujian yang tidak terdengar seperti rayuan gombal seorang pria playboy hidung belang, melainkan sebuah pernyataan fakta yang diakui secara mutlak oleh seorang pengkritik estetika paling kejam di industri kosmetik.

​”Terima kasih atas kirimannya, Randy. Gaun ini sangat indah,” balas Maya.

​Ia mati-matian mengatur nada suaranya agar terdengar elegan, tidak terintimidasi, dan setara dengan pria di hadapannya. Ia sengaja memanggil nama pria itu tanpa gelar formal, menguji batasan yang telah diberikan.

​Maya melangkah maju perlahan, membiarkan gaun sutranya berdesir menyapu lantai karpet dengan suara swoosh yang sensual.

​Randy berjalan mengitari meja panjang itu, menghampiri kursi di seberang ujungnya, dan menariknya keluar untuk Maya.

​Sebuah sikap gentleman klasik yang membuat Maya sedikit terkejut di dalam hati. Di dunia aslinya dulu, para pria di sekitarnya hanya tahu cara bersiul merendahkan saat ia lewat mengenakan seragam biru, atau mengusirnya pergi dari toilet mal saat ia sedang mengepel.

​Randy mendorong kursi Maya masuk dengan gerakan yang perlahan dan sangat hati-hati.

​Saat Randy berdiri tepat di belakangnya, jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum vetiver, musk maskulin, dan wangi tembakau cerutu mahal menyergap indra penciuman Maya. Aroma itu begitu kuat dan mendominasi, menenggelamkan wangi lili dari parfum Maya sendiri. Membuat saraf-saraf biologisnya waspada, namun di saat yang sama, terasa memabukkan.

​”Sama-sama, Maya,” bisik Randy dari belakang kursinya. “Nikmati malam ini.”

​Randy kembali ke kursinya sendiri di ujung meja seberang.

​Di antara mereka, hamparan taplak putih itu dipenuhi oleh peralatan makan perak murni yang rumit tata letaknya, bersanding dengan gelas-gelas kristal yang memantulkan cahaya kuning.

​Dua orang pelayan mulai masuk tanpa suara dari pintu samping yang tersembunyi. Mereka menyajikan hidangan pembuka berupa scallop raksasa Hokkaido dan truffle hitam. Makanan itu dihias bagai karya seni abstrak dengan sejumput caviar di atasnya.

​Mereka makan dalam diam selama beberapa menit pertama.

​Keheningan itu terasa sangat berat dan menekan bagi Maya, mengingat beban teka-teki yang ia bawa di kepalanya. Namun anehnya, Randy terlihat sangat nyaman berkuasa di dalam kesunyian tersebut.

​Pria itu mengiris makanannya dengan keanggunan seorang aristokrat keturunan bangsawan. Matanya tak pernah benar-benar lepas menatap Maya, yang juga sedang memotong makanannya dengan sangat berhati-hati agar tidak terlihat canggung atau kampungan.

​”Kiki memberitahuku bahwa kau baru bergabung di industri modeling ini sedikit lebih dari sebulan yang lalu,” Randy memulai percakapan, memecah keheningan.

​Ia meletakkan pisau peraknya di sisi piring, lalu mengangkat gelas anggurnya.

​”Sebuah lompatan yang sangat tidak masuk akal, Maya. Dari seorang gadis antah berantah yang tak punya sejarah di majalah mana pun, menjadi pusat perhatian nasional dalam hitungan minggu. Publik, dan bahkan kritikus mode yang paling sinis sekalipun, menyebutmu sebagai sebuah anomali fashion.”

​Jantung Maya berdegup. Topik ini sangat berbahaya. Kata-kata Randy sedang mengikis garis batas antara kebohongannya dan kenyataan biologis dari tubuh curiannya.

​”Keberuntungan sedang sangat berpihak pada saya bulan ini, kurasa,” jawab Maya tenang, membalasnya dengan senyum dan nada merendah yang sangat terlatih.

​”Aku tidak pernah percaya pada keberuntungan, Maya. Aku hanya percaya pada perhitungan matematis dan modal dasar yang absolut,” Randy mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menopang dagu perseginya dengan sebelah tangan.

​Sepasang matanya yang segelap malam menatap tajam ke arah wajah porselen Maya.

​”Banyak wanita di luar sana. Para sosialita, istri pejabat, dan artis-artis, yang rela menghabiskan uang miliaran rupiah. Mereka merekonstruksi wajah mereka berkali-kali di Seoul atau Los Angeles,” papar Randy dengan nada sinis. “Tapi mereka tidak pernah mencapai tingkat simetri dan kemurnian pori-pori yang kau miliki secara natural.”

​Tatapan Randy berubah menjadi intensitas yang memanaskan suhu ruangan.

​”Kau adalah bukti nyata, bahwa alam semesta terkadang sangat tidak adil dan sangat tidak rasional dalam membagikan anugerahnya.”

​Maya menelan ludah. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, menyembunyikan tangannya yang meremas kain gaun di bawah meja.

​Ini adalah momennya. Ia harus menguji batas pengetahuan Randy tentang kotak hitam misterius itu malam ini juga. Ia harus melakukannya dengan cara yang sangat halus, tanpa menimbulkan kecurigaan bahwa ia adalah pencuri yang mengambil prototipe tersebut dari bawah panggung.

​”Bicara soal kemurnian kulit dan sains, Randy…” Maya mengaduk-aduk truffle di piringnya dengan garpu perak, menghindari tatapan langsung pria itu.

​Ia berpura-pura menampakkan rasa penasaran layaknya orang awam. “Kiki sempat menyebutkan bahwa perusahaanmu, Lumière Merveille, sedang mengembangkan banyak teknologi baru yang luar biasa di laboratoriumnya.”

​Maya mengangkat wajahnya, menatap mata Randy.

​”Apakah perusahaan raksasa sebesar milikmu… sering membuat semacam prototipe rahasia? Atau formula eksperimen yang mungkin… bisa memberikan efek instan dan radikal pada struktur kulit dan tulang manusia?”

​Pisau di tangan kanan Randy, yang baru saja hendak meraih sisa daging kerangnya, mendadak berhenti bergerak di udara selama sepersekian milidetik.

​Sebuah jeda yang sangat, sangat singkat. Nyaris tak terlihat oleh mata telanjang orang biasa. Namun, pergerakan tertahan itu berhasil tertangkap oleh radar kewaspadaan Maya yang sedang memuncak.

​Randy meletakkan alat makannya secara perlahan dan presisi di atas piring keramik. Ia mengambil serbet linen putih, menepuk-nepuk bibirnya dengan tenang, lalu tersenyum miring.

​Sebuah senyuman yang membuat wajah pria itu terlihat luar biasa menawan, mematikan, sekaligus sangat berbahaya jika dipandang terlalu lama.

​”Industri kecantikan adalah industri yang dibangun murni di atas ilusi dan keputusasaan manusia untuk melawan waktu, Maya,” jawab Randy.

​Nada bicaranya mengalir santai, namun pemilihan kata-katanya penuh dengan muatan intelektual.

​”Setiap hari, ratusan peneliti dan dokter kulit di laboratorium utamaku di Swiss mencampur berbagai macam sel induk nabati dan bahan kimia sintesis. Kami menghabiskan dana riset triliunan, hanya untuk memundurkan proses penuaan wajah selama beberapa bulan. Kami, tentu saja, selalu memiliki ratusan ‘produk rahasia’ di dalam brankas penelitian.”

​Randy mengambil gelas kristalnya kembali. Ia memutarnya pelan dengan jemarinya, hingga cairan anggur merah darah di dalamnya beriak-riak membentur dinding gelas.

​Putaran cairan merah kental itu, entah bagaimana, langsung mengingatkan Maya pada cairan serum penyembuh darurat di dasar kotak hitamnya yang berbau anyir bangkai.

​”Tapi, sebuah produk yang memberikan efek perombakan instan? Produk yang mampu mengubah struktur tulang dan merombak jaringan daging secara absolut tanpa melalui proses bedah dan rasa sakit yang menyiksa?” lanjut Randy.

​Mata pria itu kini menatap lurus menembus kornea mata Maya. Seolah ia sedang membedah lapisan kejujuran gadis itu selapis demi selapis.

​”Itu adalah murni ranah fiksi ilmiah, Maya. Tubuh manusia adalah mesin biologi yang sangat kaku dan menolak perubahan mendadak. Perubahan yang instan selalu membutuhkan kerusakan jaringan. Membutuhkan perombakan fisik yang brutal, dan menuntut pengorbanan biologis yang sangat menyiksa.”

​Tatapan Randy tidak berkedip. “Tidak ada sihir kosmetik instan di dalam sains kami.”

​Randy menyesap anggurnya perlahan. Ia membiarkan keheningan menguasai ruangan sejenak sebelum memberikan konklusinya.

​”Jadi jawabannya, tidak. Perusahaanku tidak menjual ataupun menciptakan sihir semacam itu.”

​Jawaban Randy terdengar sangat logis, sangat berpijak pada prinsip saintifik, dan dilontarkan dengan keyakinan seorang CEO yang sangat meyakinkan.

​Maya mengembuskan napas panjang tanpa sadar dari hidungnya.

​Ketegangan yang mengunci otot bahunya sejak pagi tadi sedikit mengendur. Jawaban pria ini adalah konfirmasi yang mati-matian ia tunggu. Randy secara lugas membantah eksistensi produk ajaib instan di fasilitas penelitian resminya. Ia bahkan menganggapnya sebagai fiksi ilmiah yang konyol.

Itu berarti, pikir Maya dengan kecepatan penuh. Jika kotak hitam misterius itu memang berasal dari acara perusahaannya tempo hari, kotak itu mungkin hanyalah sebuah produk eksperimental ilegal yang sangat berbahaya. Diciptakan diam-diam oleh pihak ketiga tanpa sepengetahuan atasan.

​Atau mungkin, dibuang oleh seorang ilmuwan gila yang bermain-main dengan genetika terlarang dan memanfaatkan acara launching itu sebagai tempat transaksi pasar gelap. Dan sang CEO miliarder di hadapannya ini, nyatanya tidak mengetahui apa pun tentang eksistensi benda terkutuk tersebut.

Dia benar-benar tidak tahu apa-apa, batin Maya lega, merasa mendapatkan kembali kendali atas nasib situasinya.

​Ketakutan terbesarnya mulai memudar. Kertas linen hitam itu ternyata hanya kebetulan belaka, karena itu memang kertas standar perusahaannya. Pria tampan di depannya ini bukanlah dalang dari teror yang menghantuinya di cermin. Dia hanyalah seorang pengusaha ambisius yang sangat tertarik pada wajah ‘alami’-nya.

​”Kau terlihat sangat tegang dari tadi, Maya,” tegur Randy, memecah lamunan singkat dan spekulasi liar gadis itu.

​Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berukir. Aura dominasinya perlahan-lahan melunak menjadi sebuah pesona maskulin yang menenangkan.

​”Hanya sedikit lelah,” dusta Maya.

​Ia mencoba tersenyum lebih lepas dan santai kali ini. Ia menyandarkan punggungnya juga, membiarkan dirinya rileks untuk pertama kalinya hari ini.

​”Bulan ini, jadwal yang diberikan Kiki kepada saya sangat tidak masuk akal. Saya merasa seperti robot yang tidak berhenti dipotret dan berkeliling dari satu acara ke acara sosialita lainnya.”

​”Kiki memang terkadang bertindak seperti seorang lintah darat yang mengeksploitasi aset emasnya tanpa henti jika ia melihat celah keuntungan yang besar,” kekeh Randy pelan.

​Sebuah tawa dalam yang sangat jarang sekali ia perlihatkan di depan umum.

​”Kau tidak perlu khawatir soal itu lagi. Aku sudah menghubunginya secara pribadi sore tadi. Aku memintanya untuk mengosongkan seluruh jadwal agensimu setelah syuting kampanye utama kita rilis bulan depan.”

​Maya tertegun. Garpunya menggantung di udara. “Anda… memintanya mengosongkan jadwal saya? Bukankah itu akan merugikan pendapatan agensi Kiki?”

​Randy mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah Maya.

​”Aku adalah orang yang sangat selektif, Maya. Sangat posesif terhadap apa pun yang menjadi ‘wajah’ dari perusahaanku,” tegas Randy. “Saat aku melihat sesuatu yang sempurna, sesuatu yang bernilai triliunan, aku tidak ingin sesuatu itu menjadi ‘murah’ karena terlalu sering dipajang di majalah-majalah biasa, atau melayani acara pemotongan pita di mal kelas menengah.”

​Tatapan Randy berubah gelap dan penuh tekad.

​”Kemunculan pertamamu di catwalk sudah cukup untuk memberikan efek kejut bagi pasar. Mulai minggu depan, aku ingin kau membatalkan semua tawaran pemotretan dari merek lain. Aku ingin kau hanya fokus, dan hanya menjadi eksklusif mutlak, untuk Lumière Merveille.”

​Miliarder muda itu menatap Maya dengan pandangan yang membuat suhu tubuh gadis itu yang biasanya kebas akibat efek gel, entah mengapa terasa menghangat dari dalam perutnya.

​Di dalam tatapan dominan Randy, ada percikan ambisi yang kuat, kekaguman yang dalam, dan sebuah janji perlindungan yang anehnya membuat Maya merasa sangat aman.

​Selama dua puluh dua tahun hidupnya, Maya selalu berdiri sendirian di garda terdepan tanpa perisai.

​Ia menjadi tameng bagi ibunya. Melindungi mereka berdua dari kemiskinan, cacian penagih utang, dan kerasnya makian dunia di basement mal. Ia sering menangis sendirian di tangga darurat.

​Tidak pernah ada satu pria pun di dunia ini kecuali kemurnian kasih sayang almarhum ayahnya dan bantuan materi kecil dari Pak Agus yang secara sukarela menawarkan sebuah tameng pelindung emas untuknya.

​”Dunia yang baru saja kau masuki secara instan ini adalah dunia yang penuh dengan ular-ular berbisa, Maya,” suara Randy merendah dan melembut.

​Suaranya mengalun seperti sebuah melodi yang menghipnotis di tengah sunyinya ruangan elit tersebut.

​”Orang-orang di industri hiburan akan tersenyum manis memujamu di depan kamera. Lalu sedetik kemudian, mereka mencoba menghancurkan kariermu dan mencari-cari keburukan masa lalumu di belakang punggungmu karena mereka tak sanggup menahan rasa iri. Seorang gadis dari latar belakang sepertimu, yang namanya naik begitu cepat, sangat rentan untuk dikunyah dan dimuntahkan kembali oleh industri yang buas ini.”

​Randy mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja. Ia mengunci tatapan Maya sepenuhnya, tak membiarkan gadis itu memalingkan wajah atau lari dari kata-katanya.

​”Tapi dengarkan aku baik-baik. Selama kau memegang kontrak eksklusif dengan brand-ku… selama kau berada di bawah perlindungan naungan perusahaanku… aku berjanji padamu.”

​Randy menatap mata porselen Maya dengan intensitas mematikan.

​”Tidak akan ada satu orang pun di negara ini yang berani menyentuhmu atau merendahkanmu. Jika ada lalat yang berani mencoba menghancurkanmu, mereka harus berhadapan denganku lebih dulu. Aku akan membangunkan dinding emas yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun untukmu. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling tak tersentuh di seluruh benua Asia.”

​Kata-kata pria itu jatuh bagaikan tetesan hujan lebat di atas tanah kemarau panjang di dalam hati Maya.

Wanita paling tak tersentuh. Sebuah janji keamanan absolut. Itulah yang dicari Maya dari ujung keputusasaannya selama ini.

​Ia ingin merasa aman dari kemiskinan yang mencekik lehernya. Ia ingin aman dari hinaan dendam masa lalu seperti Sari. Ia ingin aman dari tatapan merendahkan Bu Ratna. Dan entah bagaimana logika di kepalanya bekerja… ia berharap kekuasaan tak terbatas pria ini bisa membuatnya merasa aman dari teror cerminnya sendiri.

​”Kau menjanjikan terlalu banyak hal untuk seorang model pendatang baru yang belum membuktikan apa-apa, Randy,” ucap Maya.

​Ia mencoba menantang pria itu secara verbal. Meskipun jauh di dalam dadanya, hatinya mulai luluh dan terbuai oleh pesona maskulin serta kekuasaan luar biasa yang ditawarkan sang miliarder.

​”Aku tidak pernah menjanjikan apa pun pada sembarang orang, dan aku bukan pria yang suka membuang kata-kata,” balas Randy cepat.

​Senyum miringnya kembali muncul, memberikan kesan pria berengsek namun luar biasa tampan yang tahu persis bagaimana mendapatkan apa yang ia inginkan.

​”Aku hanya berinvestasi pada mahakarya seni yang tidak ternilai harganya. Dan kau, Maya… tanpa kau sadari, kau adalah invetasi terbaik dan paling memuaskan yang pernah kumiliki di perusahaan ini.”

​Makan malam mewah itu berlanjut dengan suasana yang jauh lebih cair, intim, dan akrab.

​Randy ternyata bisa menjadi sosok yang sangat memikat ketika ia meruntuhkan sedikit tembok keangkuhan CEO-nya.

​Ia menceritakan tentang perjalanannya membangun kerajaan kosmetik. Bagaimana ia menghadapi para direksi tua yang meremehkan usianya, lalu berekspansi sukses ke pasar Eropa setelah mengambil alih perusahaan peninggalan ayahnya. Ia bercerita tentang visinya yang ekstrem mengenai estetika anatomi manusia.

​Pria ini sangat cerdas, wawasannya luas, dan bicaranya terstruktur dengan rapi. Dan yang paling membuai bagi Maya, Randy memperlakukan Maya bukan seperti seorang bawahan, bukan seperti pesuruh mal, melainkan seperti seorang ratu yang sedang ia puja kecerdasannya.

​Maya mendengarkan setiap ceritanya dengan penuh kekaguman. Ia meminum anggur merahnya beberapa teguk. Ia membiarkan sedikit efek alkohol dari wine mahal itu menumpulkan rasa waspada dan trauma psikologisnya tentang cermin dan gatal di kulitnya.

​Di bawah cahaya lilin yang romantis ini, berhadapan dengan pria paling diinginkan, paling tampan, dan paling berkuasa di seluruh negeri yang kini sedang memfokuskan seluruh atensi penuhnya hanya padanya… Maya merasa seperti tersedot ke dalam pusaran magnet.

​Pria ini bukanlah monster pembunuh berdarah dingin. Dia hanyalah seorang perfeksionis kesepian yang sedang mencari kesempurnaan di dunia yang penuh cacat.

​Dan Maya, berkat kotak hitam di lemarinya, telah berhasil menyajikan kesempurnaan absolut itu tepat di atas piring peraknya.

​Pukul setengah sebelas malam. Jamuan makan malam rahasia itu akhirnya usai.

​Dua orang pelayan telah membereskan sisa makanan dan gelas kristal di meja mereka tanpa suara. Alunan musik jazz piano mengalun menuju komposisi penutup yang melankolis.

​Maya dan Randy berdiri saling berhadapan, bersiap meninggalkan ruangan kaca tersebut.

​Saat Maya membalikkan badannya sedikit untuk meraih tas clutch kecilnya dari atas kursi, gaun sutra backless yang ia kenakan bergeser mengikuti gerakannya. Kain biru gelap itu tersingkap, mengekspos lekuk punggung porselennya yang mulus tanpa cela secara frontal.

​Tiba-tiba, Maya merasakan sebuah sentuhan yang sangat halus di area punggung terbuka tersebut.

​Sentuhan itu tidak kasar. Tidak juga menuntut atau kurang ajar. Melainkan sangat berhati-hati dan intim. Hanya sebuah usapan lembut yang sangat pelan menggunakan ujung ibu jari dan telunjuk tangan seorang pria.

​Maya tersentak pelan. Tubuhnya langsung mematung tegak.

​Saraf-saraf aslinya yang terperangkap jauh di bawah lapisan kulit porselennya seolah berkedut, mengirimkan sinyal kejut peringatan ke otaknya. Meskipun secara harfiah kulit permukaan porselennya sama sekali tidak bisa merasakan sensasi kehangatan kulit atau tekstur tangan dari sentuhan tersebut, gesekan fisik itu memicu reaksi psikologis yang sangat kuat di kepalanya.

​Itu adalah tangan Randy.

​Miliarder itu rupanya telah melangkah maju tanpa suara dan berdiri sangat dekat tepat di belakangnya. Aroma parfum musk pria itu mengelilingi Maya dari belakang, memberikan sensasi hangat dan maskulin. Hal itu membuat perut Maya melilit oleh percikan ketertarikan biologis yang baru pertama kali ia rasakan terhadap seorang pria dewasa.

​”Luar biasa,” bisik Randy.

​Suaranya terdengar jauh lebih parau dari sebelumnya, bergetar tepat di dekat telinga kanan Maya. Embusan napas pria itu yang hangat menggelitik rambut di leher jenjang Maya.

​”Bahkan kulit di punggungmu… memiliki tekstur dan kepadatan yang sama persis dengan wajahmu. Tidak ada satupun pori yang terbuka. Tidak ada noda. Begitu padat. Begitu… murni.”

​Jemari kokoh Randy bergerak pelan ke atas. Ia menelusuri garis lekukan tulang belakang Maya dari pertengahan punggung, merambat naik secara perlahan menuju tengkuk lehernya.

​Sentuhan itu adalah sentuhan pemujaan. Pemujaan dari seorang seniman gila yang sedang meraba permukaan kanvas terbaik yang pernah ia sentuh seumur hidupnya.

​Maya memejamkan matanya. Ia menahan napasnya yang mulai tak beraturan. Jantungnya berdebar liar, memompa darah ke seluruh wajahnya. Tubuhnya menegang, namun ia sama sekali tidak berusaha menghindar.

​Ia membiarkan pria itu menyentuhnya. Ia menikmati perasaan dipuja oleh sang penguasa.

​Jika saja sentuhan intim ini terjadi lebih dari sebulan yang lalu… saat ia belum nekat mentransmutasikan seluruh bagian punggung dan kakinya dengan sisa gel terakhir… Randy pasti akan merasakan kulit kasarnya. Randy akan meraba tulang rusuknya yang menonjol akibat kurang gizi. Dan semua rencana besarnya akan hancur malam ini juga.

​Keputusannya yang nekat menguras habis sisa tetes terakhir gel mutiara dari jar kacanya kala itu… ternyata adalah langkah paling krusial yang menyelamatkan takdirnya malam ini.

​”Terima kasih, Randy,” balas Maya dengan suara yang berubah serak, menahan gemuruh di dadanya.

​Maya mendongakkan kepalanya sedikit ke belakang, mengizinkan jemari pria itu menyentuh tengkuknya. “Makan malam yang sangat luar biasa.”

​Randy perlahan menurunkan tangannya. Ia menyingkirkan pesona intimnya sejenak, lalu melangkah ke samping Maya dan tersenyum menawan bagai seorang pangeran pelindung.

​”Mari kuantar kau kembali ke mobilmu, Queen.”

​Malam itu, saat Maya masuk kembali ke dalam kabin limousine yang akan membawanya pulang ke apartemen, ia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi kulit dengan perasaan yang membuncah hebat.

​Dadanya dipenuhi oleh rasa kemenangan, kekuasaan, dan sebuah letupan gairah yang aneh dan baru.

​Ia memang masih memiliki masalah besar dengan pasokan gel mutiara yang telah habis, dan mimpi buruk tentang makhluk tanpa wajah yang terus membuntutinya setiap malam.

​Namun, untuk pertama kalinya sejak ia mencuri kotak itu dan hidup dalam pelarian ketakutan… ia merasa telah menemukan seorang sekutu yang sangat kuat. Ia merasa aman di bawah sayap perlindungan mutlak perusahaan Randy Adhitama. Pria tampan itu telah berjanji dengan nyawanya untuk menjadikannya wanita yang tak tersentuh di benua Asia.

​Namun… Maya sama sekali tidak tahu realitas yang tertinggal di belakangnya.

​Di saat mobil mewahnya melaju mulus meninggalkan pelataran mansion klasik tersebut dan perlahan menghilang ditelan jalanan ibu kota yang basah… Randy Adhitama masih berdiri mematung di ambang pintu ganda restorannya.

​Pria berjas navy itu berdiri dalam diam di tengah kegelapan pelataran. Kedua tangannya dimasukkan kembali ke dalam saku celananya dengan postur kaku.

​Cahaya lampu taman menyinari sebagian wajahnya, menciptakan siluet separuh terang dan separuh gelap yang menyorotkan aura iblis yang sangat kontras.

​Tatapan matanya tak berkedip, terus mengikuti arah perginya lampu belakang mobil limousine yang mengangkut Maya, hingga cahaya merah itu benar-benar lenyap ditelan kegelapan malam.

​Dan tepat pada detik cahaya mobil itu menghilang… senyum memikat dan aura gentleman penuh pesona yang ia pasang dengan sangat apik selama makan malam tadi, menguap tanpa sisa dari wajahnya. Lenyap bagai embun di bawah sinar matahari gurun.

​Wajah tampan Randy mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

​Ekspresinya kini menjadi luar biasa kosong. Sedingin lapisan gletser di kutub. Pria itu memancarkan sebuah aura dominasi absolut yang sangat kelam, kejam, dan tak tertembus belas kasihan.

​Matanya menyipit tajam. Tidak ada lagi pendaran romantisme di korneanya. Tidak ada lagi kekaguman bisnis seperti yang ia perlihatkan di meja makan tadi.

​Yang tersisa di wajah miliarder muda itu hanyalah sebuah perhitungan matematis yang sangat berdarah dingin.

​Sebuah tatapan predator alfa yang sedang mengawasi…

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada kepala pelayannya yang menunduk ketakutan di belakang, Randy membalikkan badannya dengan sangat tajam.

​Pria itu berjalan masuk kembali ke dalam kedalaman mansion-nya, ditelan oleh bayang-bayang lorong yang bisu dan menyimpan seribu satu kengerian eksperimennya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.