SIMETRI BAB 28 ~ Keragu-raguan Rani

​Gedung apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan itu menjulang angkuh, membelah langit ibu kota yang diselimuti awan kelabu. Di lobi utamanya yang berlapis marmer Carrara putih dan diterangi oleh lampu gantung kristal raksasa, sekelompok staf keamanan berseragam safari hitam berdiri tegap di setiap sudut, menyeleksi siapa pun yang berani melangkah masuk melewati pintu kaca putar.

​Rani berdiri di depan meja resepsionis yang melengkung elegan. Gadis berpipi tembam itu terlihat luar biasa salah tempat.

​Ia mengenakan kemeja katun kotak-kotak berwarna merah pudar yang biasa ia pakai untuk tidur, dipadukan dengan celana jeans yang ujungnya sedikit berserabut, dan sepasang sandal jepit berbahan karet. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah kantong plastik putih tipis yang memperlihatkan samar-samar kotak plastik transparan berisi donat.

​”Maaf, Mbak. Sekali lagi, unit berapa yang ingin Mbak tuju?” tanya resepsionis wanita di balik meja granit. Suaranya sangat sopan, namun matanya yang dihiasi bulu mata palsu tak bisa menyembunyikan kilatan merendahkan saat memindai penampilan Rani dari atas ke bawah.

​Rani menelan ludah. Ia sudah berdiri di sana selama sepuluh menit, merasa seperti seorang tersangka yang sedang diinterogasi. Ia mencengkeram tali tas selempang kanvasnya erat-erat untuk mengusir rasa gugup.

​”Unit 20-A, Mbak. Atas nama Maya. Saya temannya. Teman dekatnya,” jawab Rani, suaranya sedikit bergetar karena terintimidasi oleh kemewahan ruangan yang luas dan sunyi ini. Ini bukan seperti Grand Atrium Mall yang ramai dan bising. Tempat ini terlalu sepi, terlalu dingin, dan terlalu bersih.

​Resepsionis itu mendesah pelan, menekan tombol interkom di mejanya. “Baik, saya konfirmasi sekali lagi ke penthouse unit 20-A.”

​Rani menunduk menatap ujung sandal jepitnya, merasa pipinya memanas. Tadi pagi, saat Maya menelepon dan memberitahukan alamat apartemen barunya serta mengundangnya untuk datang di hari libur kerjanya ini, Rani merasa sangat antusias. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Sudah lebih dari sebulan sejak Maya mengundurkan diri secara dramatis dan tiba-tiba meledak menjadi model papan atas yang wajahnya terpampang di mana-mana.

​Namun kini, berdiri di lobi yang mungkin harga satu ubin marmernya setara dengan gaji bapaknya selama setahun, Rani mulai diserang oleh perasaan insecurity yang sangat pekat. Ia mulai ragu apakah ia masih memiliki tempat di dunia sahabatnya yang baru.

​”Mbak Rani?”

​Suara resepsionis itu membuyarkan lamunan Rani. “Nona Maya sudah mengonfirmasi kedatangan Anda. Silakan gunakan lift khusus tamu di lorong sebelah kanan. Aksesnya sudah saya buka dari sini.”

​Rani mengangguk kaku, mengucapkan terima kasih dengan terburu-buru, lalu berjalan setengah berlari menuju lorong yang ditunjuk. Begitu pintu lift berlapis cermin perunggu itu tertutup, ia mengembuskan napas panjang. Ia menatap pantulannya sendiri. Gadis sederhana, tanpa makeup, dengan rambut yang diikat asal-asalan. Ia benar-benar terlihat seperti seorang pengantar makanan, bukan tamu seorang supermodel.

Ting.

​Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Lantai ini hanya memiliki empat unit apartemen, menandakan betapa eksklusif dan mahalnya tempat ini. Rani melangkah keluar, menyusuri lorong yang dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah sandal jepitnya. Ia berhenti di depan pintu kayu mahoni besar dengan ukiran angka 20-A yang terbuat dari kuningan.

​Rani ragu sejenak. Ia mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, lalu menekan tombol bel pintu. Bunyi bel melodi dan empuk terdengar dari dalam.

​Tidak sampai sepuluh detik kemudian, terdengar bunyi klik ganda dari kunci elektronik, dan pintu mahoni itu berayun terbuka.

​”Rani.”

​Sapaan itu terdengar sangat lembut, mengalir jernih seperti denting gelas kristal.

​Rani mendongak, dan untuk kesekian kalinya sejak Maya bertransformasi, napas Rani kembali tertahan di pangkal tenggorokan.

​Maya berdiri di ambang pintu. Sahabatnya itu mengenakan pakaian rumahan yang sangat kasual, sebuah sweater rajut berukuran besar berbahan cashmere lembut berwarna putih tulang, yang bagian salah satu bahunya sedikit melorot, mengekspos tulang selangka porselennya yang mematikan. Kakinya yang jenjang dibalut oleh celana legging hitam. Rambut hitamnya digulung ke atas dengan jepitan acak, menyisakan beberapa helai anak rambut yang jatuh membingkai rahang tirusnya yang absolut.

​Tidak ada makeup tebal. Tidak ada gaun desainer. Namun, di mata Rani, Maya terlihat lebih tidak nyata dibandingkan saat berada di atas panggung peragaan busana. Kesempurnaan anatominya di bawah cahaya matahari pagi yang menembus jendela apartemen terlihat sangat menyilaukan, nyaris menyakiti mata siapa pun yang melihatnya.

​”May… ya ampun,” gumam Rani tanpa sadar, matanya berkaca-kaca karena campuran rasa rindu dan rasa takjub yang luar biasa.

​Senyum di bibir penuh Maya melebar. Untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, itu bukanlah senyum elegan yang ia latih di depan cermin, melainkan senyum tulus yang lahir dari sisa-sisa kemanusiaannya. Maya melangkah maju, merentangkan kedua lengannya yang panjang, lalu memeluk Rani dengan erat.

​”Aku kangen banget sama kamu, Ran. Masuklah,” bisik Maya di telinga sahabatnya itu.

​Rani membalas pelukan itu dengan tak kalah erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu Maya, memejamkan mata untuk meresapi kehangatan pertemanan mereka yang sempat terputus oleh takdir yang melesat terlalu cepat.

​Namun, di tengah pelukan yang seharusnya penuh emosi itu… tubuh Rani mendadak menegang sedikit.

​Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang sangat ganjil.

​Rani ingat betul bagaimana rasanya memeluk Maya di masa lalu. Saat mereka berpelukan di tangga darurat basement mal, tubuh Maya selalu terasa hangat, terkadang sedikit panas karena kelelahan mengepel, dan meskipun kurus kering, daging dan tulang Maya terasa seperti manusia normal yang berdenyut oleh kehidupan.

​Tapi pelukan hari ini terasa sangat berbeda.

​Saat pipi Rani bersentuhan dengan leher porselen Maya, dan saat tangannya merengkuh punggung Maya dari balik sweater cashmere mahal itu, Rani sama sekali tidak merasakan kehangatan suhu tubuh manusia. Kulit Maya terasa sangat dingin. Bukan dingin seperti orang yang kedinginan karena AC, melainkan suhu beku yang statis, persis seperti suhu permukaan patung marmer di dalam museum.

​Dan kepadatan tubuhnya… punggung Maya terasa terlalu keras, terlalu kaku. Tidak ada kelembutan alami dari lemak atau otot yang rileks. Tubuh Maya terasa seperti sebuah struktur baja solid yang dicetak menyerupai manusia.

​Rani perlahan melepaskan pelukannya, memundurkan tubuhnya selangkah dengan gerakan yang sedikit kaku. Ia menatap wajah Maya dengan dahi yang berkerut tipis, mencoba menyembunyikan kebingungan yang tiba-tiba menyusup ke dalam benaknya.

​”Kamu kedinginan, May? AC kamu kekencengan ya? Kulit kamu dingin banget, kayak es,” tanya Rani polos, mengusap lengannya sendiri yang ikut merinding akibat kontak fisik tadi.

​Mata elang Maya berkedip cepat. Sebuah kilatan kewaspadaan dan kepanikan yang berhasil ia tekan dalam hitungan milidetik melintas di bola matanya. Ia tidak menyadari bahwa ketidakmampuannya merasakan suhu (anestesi sensorik) membuat suhu permukaan kulitnya perlahan menyesuaikan diri dengan suhu ruangan, tanpa adanya produksi panas tubuh dari sistem metabolisme normal manusia.

​”Ah… iya, Ran. Apartemen ini AC sentralnya emang susah diatur, dari tadi malam dingin banget,” kilah Maya dengan tawa kecil yang terdengar sangat natural. Ia buru-buru menarik kerah sweater-nya untuk menutupi lehernya lebih rapat, memutus kontak visual Rani dari kulitnya. “Ayo masuk, Ran. Aku udah buatin teh hangat buat kita berdua.”

​Rani mengangguk, melepaskan sandalnya di depan pintu, lalu melangkah masuk dengan telanjang kaki.

​Begitu ia masuk ke ruang tengah, mulut Rani kembali terbuka lebar. Ia memutar tubuhnya perlahan, mengagumi interior apartemen studio tersebut. Lantai parket kayu yang mengkilap, sofa berbahan kulit asli berwarna karamel yang empuk, televisi layar datar berukuran raksasa yang menempel di dinding, dan sebuah jendela kaca floor-to-ceiling (dari lantai hingga langit-langit) yang menyajikan pemandangan lanskap kota Jakarta yang spektakuler. Semuanya tertata rapi, bersih, dan berbau sangat wangi.

​”Gila, May… tempat ini beneran kayak surga,” gumam Rani takjub. Ia berjalan ke arah sofa, namun ragu-ragu untuk duduk karena takut pakaian kotornya menodai kulit mahal itu. “Bulan lalu kita masih makan nasi bungkus sisa di lorong gelap, sekarang kamu tinggal di istana.”

​”Duduklah, Ran. Jangan kaku begitu, ini rumah temenmu sendiri,” ucap Maya, berjalan menuju area dapur bersih dan membawa sebuah nampan berisi teko keramik, dua cangkir teh, dan setoples biskuit mahal impor dari Eropa. Ia meletakkannya di atas meja kaca bundar di depan sofa.

​Rani akhirnya duduk dengan canggung di tepi sofa, meletakkan kantong kresek putihnya di atas pangkuannya. Ia menatap biskuit mahal yang tertata rapi di dalam toples kaca itu, lalu menunduk menatap kreseknya sendiri dengan perasaan malu yang kembali muncul.

​”Ini… aku cuma bawa ini, May,” Rani menyodorkan kotak plastik berisi dua potong donat kampung bertabur meses cokelat dan gula halus. Donat yang sama persis dengan yang ia berikan pada Maya di hari gajinya ditahan. “Ibuku yang bikin subuh tadi, khusus buat kamu. Tapi kayaknya… makanan ini udah nggak pantes disandingin sama kue-kue mewah kamu di sini.”

​Tangan Maya berhenti saat sedang menuangkan teh ke dalam cangkir.

​Tatapan matanya tertuju pada kotak plastik transparan tersebut. Memori kelam dan menyedihkan dari masa lalunya menghantamnya bagaikan gelombang pasang. Ia mengingat rasa lapar yang melilit perutnya siang itu di tangga darurat. Ia mengingat bagaimana donat sederhana itu terasa seperti makanan paling lezat yang pernah menyentuh lidahnya, dan bagaimana kepolosan Rani memberinya kekuatan untuk bertahan hidup satu hari lagi.

​Tanpa mengatakan apa-apa, Maya meletakkan teko tehnya. Ia mengambil kotak plastik itu dari tangan Rani, membukanya, dan langsung mengambil donat bertabur meses cokelat.

​Maya menggigit donat itu. Mengunyahnya perlahan. Ia menutup matanya.

​Tekstur adonannya masih sama empuknya. Rasa manisnya masih sama. Namun, seiring dengan kunyahannya, Maya menyadari sebuah realitas yang sangat menyakitkan tentang kutukannya. Lidahnya… indra pengecapnya, kini telah mengalami nasib yang sama dengan kulitnya.

​Ia bisa merasakan tekstur makanan itu, ia tahu ia sedang mengunyah sesuatu yang padat, namun rasa manis dari cokelat dan mentega itu terasa sangat hambar. Pudar. Seperti mengunyah sebuah gabus yang disemprot pewangi makanan sintetis. Transmutasi porselennya tidak hanya mengebalkan kulit luarnya dari rasa sakit, tetapi juga secara perlahan membungkam saraf-saraf perasanya. Kenikmatan manusiawi yang paling sederhana, merasakan makanan lezat kini telah dirampas secara paksa darinya.

​Meskipun lidahnya tak merasakan kemanisan itu, Maya memaksa dirinya untuk tersenyum lebar saat ia membuka matanya, menelan makanan itu dengan susah payah.

​”Ini donat paling enak yang pernah aku makan bulan ini, Ran. Sumpah,” ucap Maya tulus, namun air matanya tanpa sadar menetes setitik dari sudut mata kirinya. Ia menangis bukan karena donatnya enak, ia menangis karena ia meratapi kemanusiaannya yang telah mati.

​Rani, yang melihat setetes air mata itu, langsung panik. “Eh, May! Kamu kenapa nangis? Donatnya keras ya? Atau kemanisan?”

​Maya buru-buru menghapus air matanya dan tertawa renyah. “Enggak, Ran. Aku cuma terharu. Di dunia aku yang sekarang, semua orang ngasih barang-barang mahal berharga puluhan juta cuma buat cari perhatian atau nyari koneksi. Cuma kamu dan Pak Agus yang ngasih sesuatu karena tulus murni. Aku kangen sama ketulusan itu.”

​Mendengar nama Pak Agus, raut wajah Rani yang tadinya bingung langsung berubah menjadi murung. Gadis polos itu menghela napas panjang, bersandar ke sofa kulit karamel itu dengan bahu yang merosot.

​”Gimana kabar anak-anak di mal, Ran? Gimana kabar Pak Agus?” tanya Maya, meletakkan sisa donatnya di atas piring kecil, membiarkan pertanyaannya mengalir senatural mungkin, mencoba mengalihkan topik dari emosinya yang nyaris tak terkendali.

​Rani memutar-mutar cangkir teh hangat di tangannya, matanya menatap riak air kecokelatan di dalamnya. “Pak Agus sehat, May. Tapi beliau kelihatan jauh lebih pendiam sekarang. Kadang kalau pas giliran jaga di pos depan, aku sering lihat beliau ngelamun sendirian. Katanya beliau lagi pusing mikirin biaya sekolah anaknya di kampung.”

​Dada Maya terasa nyeri. Uang dua setengah juta yang Pak Agus berikan padanya waktu itu pasti adalah uang yang seharusnya digunakan untuk anak-anaknya. Maya sudah berniat untuk mengembalikan uang itu sepuluh kali lipat setelah bayaran dari kampanye Lumière Merveille cair sepenuhnya dari pihak agensi bulan depan, namun rasa bersalah tetap saja menggerogotinya. Ia telah membuat pria baik hati itu menderita karena keegoisannya.

​”Dan Bu Ratna?” tanya Maya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dingin.

​”Oh, si Mak Lampir mah masih sama aja galaknya ke kita-kita,” dengus Rani kesal. “Tapi anehnya, tiap kali ada yang nyebut nama kamu, dia langsung ciut, May. Dia selalu melebih-lebihkan cerita ke orang-orang kalau dia yang pertama kali ‘menemukan’ bakat kamu. Cih, padahal dulu dia yang paling hobi nahan gaji kamu.”

​Maya hanya tersenyum miring mendengarnya. Kemunafikan manusia memang tak pernah memiliki batas akhir.

​”Kalau Mbak Sari… gimana?” Maya melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang sangat pelan, berhati-hati, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil setan ke dalam ruangannya yang steril.

​Tubuh Rani mendadak menegang. Ia mendongak, menatap Maya dengan sepasang mata bulatnya yang memancarkan ketakutan yang nyata. Gadis itu meletakkan cangkirnya ke atas meja dengan gerakan agak gemetar.

​”Itu dia yang mau aku ceritain ke kamu dari tadi, May,” bisik Rani, memajukan tubuhnya seolah takut ada yang menguping pembicaraan mereka. Suaranya dipenuhi oleh nada horor yang sangat asing bagi seorang Rani yang biasanya ceria. “Mbak Sari sekarang… gila, May.”

​Alis porselen Maya bertaut. “Gila gimana maksudmu?”

​Rani menelan ludah. “Sejak kamu keluar, dan sejak foto-foto kamu dipajang di majalah sama billboard, Mbak Sari berubah drastis. Dia udah nggak pernah dandan lagi. Rambutnya lepek, kantung matanya item banget kayak orang nggak tidur berhari-hari. Dia sering banget bolos kerja, dan kalau masuk, dia kerjanya berantakan banget.”

​Rani meraih tangan Maya, kembali mengabaikan fakta bahwa tangan Maya terasa sedingin mayat dan menggenggamnya erat-erat.

​”Tapi yang paling ngeri itu kelakuannya, May. Icha cerita ke aku sambil nangis ketakutan. Katanya, Mbak Sari sekarang sering banget kepergok lagi ngorek-ngorek tempat sampah di basement mal, nyari-nyari sisa barang bekas kamu yang lama. Dia juga sering ngomong sendiri di sudut gudang alat,” cerita Rani, napasnya memburu karena ngeri membayangkannya. “Icha pernah denger Mbak Sari gumam-gumam sambil cakar-cakar tembok. Mbak Sari bilang kalau kamu itu bukan manusia. Dia bilang kamu itu monster porselen yang darahnya warna hitam, dan kamu pake ilmu iblis buat ngerubah wujud kamu. Dia bilang dia bakal ngebuktiin ke seluruh dunia kalau kamu itu busuk.”

​Darah Maya seolah berhenti mengalir di pembuluh darahnya. Wajahnya tetap datar sempurna, namun di dalam kepalanya, alarm tanda bahaya meraung-raung dengan tingkat kebisingan yang menghancurkan kewarasan.

​Ia mengira ancamannya di toilet VIP waktu itu, ketika ia memelintir tangan Sari dan mengancam akan menghancurkan keluarganya sudah cukup untuk membungkam wanita dominan itu selamanya. Ia mengira Sari akan ketakutan dan mundur.

​Namun, ia salah perhitungan.

​Obsesi dan rasa iri Sari telah melampaui batas ketakutannya sendiri. Hinaan mutlak yang Maya berikan pada harga diri Sari justru memicu kerusakan mental permanen pada wanita itu. Sari tidak lagi bertindak berdasarkan logika seorang perisak yang oportunis. Sari kini bertindak berdasarkan insting seorang psikopat pendendam yang tak lagi peduli pada keselamatannya sendiri, asalkan ia bisa menyeret Maya hancur bersamanya.

Dia belum menyerah. Dia masih mencariku, batin Maya berdesir dingin. Ketakutan itu nyata. Sari adalah satu-satunya orang di dunia luar yang pernah melihat dan memegang bukti fisiknya secara langsung, tisu bernoda cairan hitam yang keluar dari hidungnya tempo hari.

​”May? Kamu nggak apa-apa? Muka kamu kok makin pucat?” tegur Rani, mengguncang tangan Maya pelan.

​Maya tersentak kembali ke realitas. Ia segera memaksakan tawa yang terdengar sangat sinis dan meremehkan, sebuah mekanisme pertahanan diri otomatis dari kehidupan lamanya.

​”Ya ampun, Ran. Kasihan sekali dia,” desah Maya, menarik tangannya perlahan dari genggaman Rani, berpura-pura mengambil cangkir teh. “Rasa cemburu dan kekalahan rupanya benar-benar merusak otaknya. Biarkan saja dia menggonggong. Orang gila yang bicara soal darah hitam dan monster porselen tidak akan pernah dipercaya oleh siapa pun, apalagi oleh media. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.”

​Rani mengangguk setuju dengan cepat. “Iya sih, emang halu banget omongannya. Tapi tetep aja horor, May. Tatapan matanya itu lho, kosong banget tapi penuh amarah. Kamu harus hati-hati ya, May. Jangan sampai kamu jalan sendirian kalau lagi nggak ada bodyguard atau Kak Kiki. Aku takut dia nekat nyelakain kamu.”

​”Aku akan hati-hati, Ran. Terima kasih sudah memberitahuku,” jawab Maya dengan senyum lembut yang menenangkan.

​Obrolan mereka kemudian beralih ke hal-hal yang lebih ringan. Rani dengan antusias menanyakan tentang proses pemotretan, tentang baju-baju mahal, dan bagaimana rasanya bertemu dengan artis terkenal. Maya menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar, menceritakan sisi glamor dari pekerjaannya tanpa menyebutkan tekanan psikologis yang mencekiknya setiap hari.

​Setelah satu jam berlalu, Rani tiba-tiba memegang perutnya.

​”Aduh, May. Teh kamu kebanyakan kayaknya, perutku tiba-tiba mules,” ringis Rani, menyilangkan kakinya dengan ekspresi lucu yang mengingatkan Maya pada hari-hari polos mereka di basement mal. “Boleh numpang ke kamar mandi bentar nggak?”

​”Boleh, Ran. Kamar mandinya ada di lorong sebelah sana, pintu kayu yang pertama,” tunjuk Maya santai, masih menyandarkan tubuhnya ke sofa kulit.

​Rani mengangguk dan segera berlari kecil menuju lorong yang ditunjuk. Ia membuka pintu kayu tersebut dan masuk ke dalam.

​Begitu pintu kamar mandi tertutup, keheningan kembali menguasai ruang tengah apartemen. Maya meletakkan cangkir tehnya, membuang senyum palsunya, dan menghela napas panjang yang sarat akan beban berat. Senyum dan tawa yang ia paksakan selama satu jam terakhir ini menguras sisa-sisa energi mentalnya yang sudah menipis akibat kurang tidur. Mempertahankan topeng kesempurnaan di depan sahabatnya sendiri terasa jauh lebih melelahkan daripada berpose sepuluh jam di depan kamera.

​Di dalam kamar mandi.

​Rani menyelesaikan urusannya dengan cepat. Ia berdiri di depan wastafel marmer yang sangat luas, mencuci tangannya dengan sabun cair organik yang wanginya seperti bunga lavender murni. Ia menatap pantulannya di cermin besar yang terang benderang itu, merapikan sedikit ikatan rambutnya.

​Kamar mandi ini lebih mewah daripada kamar hotel yang pernah Rani lihat di televisi. Dindingnya berlapis batu alam, dan sebuah bathtub porselen raksasa berdiri anggun di sudut ruangan. Semuanya terlihat sangat bersih, steril, dan tertata dengan presisi yang kaku. Tidak ada satu pun barang yang diletakkan sembarangan.

​Namun, saat mata bulat Rani menyapu area meja wastafel, perhatiannya tertarik pada sebuah benda yang terlihat sangat ganjil dan tidak pada tempatnya.

​Tepat di sudut paling ujung meja marmer, tersembunyi sebagian di balik bayangan tempat sikat gigi berlapis emas, terdapat sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam matte. Kotak itu terlihat sangat kontras dengan desain interior kamar mandi yang didominasi warna putih bersih.

​Rani memicingkan matanya. Kotak itu tidak tertutup dengan rapat. Ada celah kecil akibat segel magnetiknya yang dipasang dengan terburu-buru.

​Kepolosan Rani, yang sering kali mendominasi batas kesopanannya tanpa disadari, mengambil alih rasa ingin tahunya. Ia berpikir itu hanyalah sekotak skincare mahal atau perhiasan yang lupa Maya rapikan. Rani melangkah mendekat, berniat untuk merapatkan tutup kotak tersebut agar tidak kemasukan cipratan air dari wastafel.

​Namun, saat jari telunjuk Rani menyentuh permukaan luar kotak hitam tersebut, sebuah sengatan dingin yang sangat tajam menyetrum kulitnya.

​Rani tersentak, menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh balok es batu yang baru dikeluarkan dari dalam freezer. Ia menatap jarinya sendiri dengan bingung. Suhu di dalam kamar mandi ini hangat dan nyaman, namun kotak itu memancarkan hawa dingin yang sangat tidak wajar, nyaris membeku.

​Rasa penasaran yang murni mendorong Rani untuk mengulurkan tangannya kembali. Kali ini, alih-alih menutupnya, ia menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk menarik tutup kotak itu sedikit lebih lebar, mengintip ke bagian dalamnya.

​Di atas bantalan beludru hitam yang mewah, Rani melihat tiga buah wadah kaca frosted. Dua di antaranya berbentuk bulat (jar), dan satu lagi berbentuk botol memanjang dengan pipet. Semuanya tidak memiliki label atau merek, hanya sebuah ukiran logam perak berbentuk liukan akar pohon yang sangat rumit di atas tutupnya.

​Rani tidak mengenali logo tersebut dari majalah atau merek kosmetik mana pun yang sering diperbincangkan sosialita mal.

​Satu jar membulat yang berukuran paling besar terlihat kosong melompong. Jar yang lebih kecil masih tersegel. Namun, mata Rani terpaku pada botol kaca memanjang di sebelah kanan.

​Botol itu berisi cairan yang sangat aneh. Cairan kental berwarna merah kehitaman yang sangat pekat. Dari celah kotak yang terbuka, sebuah aroma yang sangat mengganggu menguar keluar secara perlahan, menyentuh indra penciuman Rani. Itu bukan aroma bunga, musk, atau bahan kimia skincare pada umumnya. Aroma itu berbau seperti… logam berkarat yang direndam dalam darah basi.

​Seketika, sebuah memori yang sangat mengerikan melintas di benak Rani.

​Ucapan histeris Sari yang ia dengar dari cerita Icha kemarin sore kembali bergema di kepalanya layaknya kaset rusak.

“Mbak Sari bilang kalau Maya itu bukan manusia. Dia bilang Maya itu monster porselen yang darahnya warna hitam, dan pake ilmu iblis buat ngerubah wujudnya…”

​Napas Rani tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, menatap cairan merah kehitaman di dalam botol serum mewah tersebut. Bulu kuduk di lengannya berdiri serempak. Hawa dingin dari kotak itu seolah merayap naik ke tangannya, mencekik keberaniannya. Jantungnya berdentum kencang, menghantam tulang rusuknya.

​Mungkinkah… mungkinkah racauan gila Sari yang selama ini ia tertawakan adalah sebuah kebenaran? Mungkinkah perubahan ekstrem wajah dan kulit Maya, yang mustahil dijelaskan oleh nalar medis manapun hanya dalam dua hari, berasal dari sesuatu yang gelap dan tidak wajar yang tersimpan di dalam kotak tanpa label ini?

​Logika polos Rani berbenturan keras dengan kengerian yang ada di depan matanya.

​”Ran? Kamu nggak kenapa-napa kan di dalam? Kok lama banget?”

​Suara panggilan Maya yang jernih dan tak terduga terdengar samar dari arah luar, menembus ketebalan pintu mahoni.

​Rani terlonjak kaget hingga bahunya menabrak rak kaca kecil di dinding. Jantungnya nyaris melompat keluar. Dengan gerakan refleks yang didorong oleh panik, ia segera mendorong tutup kotak hitam matte itu hingga tertutup rapat kembali. Klik. Segel magnetiknya mengunci.

​Ia memutar keran air dengan terburu-buru, mencuci tangannya kembali secara asal, mengeringkannya dengan handuk kecil, dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia menatap pantulannya di cermin, memaksa fitur wajahnya yang pucat pasi untuk kembali terlihat normal dan polos.

​Rani membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar, menyusuri lorong menuju ruang tengah.

​Maya sedang berdiri membelakanginya, menatap ke arah pemandangan kota dari jendela kaca floor-to-ceiling. Postur Maya yang tegap dan sempurna memancarkan aura seorang ratu yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. Namun bagi Rani, siluet mematikan itu kini diselimuti oleh sebuah bayang-bayang kelam yang tak kasat mata.

​”Udah, Ran? Perutnya masih sakit?” tanya Maya tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat tenang, mengalir konstan tanpa emosi.

​Rani menelan ludah. Ia berjalan perlahan, berhenti di dekat sofa. Matanya tak lepas dari sosok Maya. Kecurigaan yang sangat masif, bibit ketidakpercayaan yang baru saja ditanamkan oleh pemandangan di kamar mandi, kini mulai tumbuh menggerogoti hati tulus gadis itu.

​”U-udah mendingan kok, May,” jawab Rani, suaranya sedikit bergetar, meskipun ia berusaha mati-matian menyembunyikannya.

​Maya perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap wajah Rani. Sepasang mata elang yang dingin, tajam, dan memancarkan dominasi itu mengunci tatapan sahabatnya.

​Di dalam dunia masa lalunya, Maya mungkin bodoh, penakut, dan mudah diinjak. Namun di dunia barunya yang penuh dengan manipulasi ini, insting Maya telah berevolusi menjadi sangat tajam, layaknya predator yang bisa mengendus ketakutan sekecil apa pun dari mangsanya.

​Ia melihat perubahan warna pada wajah Rani yang memucat. Ia melihat bagaimana tangan Rani meremas tali tas kanvasnya dengan buku-buku jari memutih. Dan yang paling fatal, ia melihat keengganan di mata bulat Rani saat menatapnya, sebuah kilatan kewaspadaan yang tidak pernah ada sebelumnya.

​Maya tahu. Detik itu juga, ia tahu bahwa Rani telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat di dalam kamar mandi.

Dia melihat kotaknya. Dia menyentuhnya, batin Maya berdesir sangat dingin, bagaikan air es yang disiramkan ke atas kepalanya. Celah pada kotak itu… ia lupa merapatkannya kembali tadi malam saat ia setengah sadar menahan rasa sakit menyusutnya daging kakinya.

​Maya melangkah maju satu tindak, mengikis jarak di antara mereka. Suasana di ruang tamu yang tadinya hangat karena nostalgia, kini berubah menjadi tegang, beku, dan memancarkan aura ancaman yang sangat halus.

​”Kamu kelihatannya pucat banget, Ran,” ucap Maya, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang sangat elegan namun mengintimidasi. “Kamu… lihat sesuatu yang bikin kamu takut di dalam sana?”

​Pertanyaan langsung itu menghantam Rani telak. Gadis polos itu terkesiap, tubuhnya mundur selangkah secara otomatis, sebuah bahasa tubuh yang mengonfirmasi kecurigaan Maya seratus persen.

​”E-enggak! Enggak ada apa-apa kok, May. A-aku… aku cuma masuk angin aja kayaknya,” gagap Rani, memaksakan senyum yang luar biasa canggung dan memilukan. Kebohongan adalah keahlian yang sama sekali tidak dikuasai oleh Rani. Matanya bergerak liar ke segala arah, menghindari tatapan menusuk Maya.

​Di dalam kepalanya, Maya sedang menimbang-nimbang opsi terburuknya.

​Jika Rani benar-benar menyadari bahwa kotak itu adalah sumber dari transformasi tak wajarnya… jika Rani menghubungkan kotak aneh bersuhu beku itu dengan racauan gila Sari tentang “monster berdarah hitam”… Rani bisa menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada Sari. Karena Rani adalah orang yang tahu di mana apartemennya berada. Rani adalah orang yang memiliki akses masuk.

​Maya mencengkeram ujung sweater cashmere-nya erat-erat untuk menahan getaran tangannya yang kebas. Sisi gelap dari ambisinya, monster psikologis yang lahir dari gel mutiara iblis itu berteriak di telinganya untuk membungkam gadis ini sekarang juga. Tutup mulutnya. Ancaman sekecil apa pun harus dibasmi.

​Maya melangkah semakin dekat, menatap mata ketakutan sahabatnya itu. Ia mengangkat tangannya yang bersuhu sedingin mayat.

​Namun, tepat sebelum jemari porselen Maya yang lentik menyentuh bahu Rani… pertahanan emosional gadis polos itu meledak.

​Rani tidak sanggup lagi menahan tekanannya. Air mata yang sejak tadi menggenang di matanya tumpah ruah. Bahunya bergetar hebat. Bukannya lari menghindar atau menuduh Maya dengan kata-kata kasar seperti yang dilakukan Sari, Rani justru mengambil langkah maju, dan secara impulsif memeluk tubuh kaku Maya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada Maya.

​Maya tersentak hebat. Tangannya yang tadinya siap untuk mengintimidasi, terhenti di udara.

​”Aku nggak peduli kamu pake apa, May… hiks… aku nggak peduli…” isak Rani, suaranya pecah dan bergetar hebat membasahi kain cashmere Maya.

​Isakan tangis itu adalah tangisan murni yang lahir dari rasa kehilangan yang mendalam. Rani memeluk sahabatnya itu dengan sisa-sisa kehangatan manusiawi yang ia miliki, seolah berusaha menularkan detak kehidupan pada patung porselen dingin di dalam pelukannya.

​”Kamu berubah, May. Kamu bener-bener beda,” rintih Rani disela isaknya. “Bukan cuma muka kamu… tapi kamu dingin. Suhu badan kamu kayak es. Tatapan kamu ke aku tadi… tatapan kamu persis kayak cara Mak Lampir dan orang-orang kaya itu natap kita dulu. Kamu kayak boneka, May. Sempurna banget… tapi aku takut… aku takut suatu saat nanti kamu pecah dan hancur berkeping-keping sendirian di tempat mewah ini.”

​Rani mendongak, menatap mata elang Maya yang mematung dengan wajah yang basah oleh air mata.

​”Aku ini sahabatmu, May. Dari zaman kita berdua masih mungut recehan. Apapun rahasia yang kamu sembunyiin di tempat ini, seburuk apapun cara kamu dapet muka ini… aku nggak bakal pernah bocorin ke siapa-siapa,” bisik Rani penuh permohonan, membuktikan loyalitas absolut dari seorang gadis kelas bawah yang tulus. “Aku cuma khawatir sama kamu. Jangan sampai kamu ngorbanin jiwa kamu sendiri cuma buat dunia palsu ini.”

​Kata-kata Rani menembus lapisan pertahanan mental Maya seperti belati panas yang dihunus ke dalam mentega.

​Napas Maya tercekat. Kerongkongannya mendadak terasa sakit karena menahan gejolak emosi yang membuncah. Selama berhari-hari ini, ia menganggap semua orang adalah musuh yang harus ditaklukkan, atau mangsa yang harus ia manipulasi. Ia lupa, bahwa di tengah dunia yang penuh kepalsuan ini, gadis polos yang sedang memeluknya inilah satu-satunya manusia yang benar-benar mempedulikan nyawanya, bukan sekadar memuja kecantikannya.

​Tangan Maya yang menggantung di udara perlahan turun. Ia membalas pelukan Rani, merengkuh punggung sahabatnya itu, meletakkan dagunya di atas puncak kepala Rani. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi rambut sahabatnya.

​Itu adalah air mata terakhir dari seorang manusia bernama Maya, sebelum ia benar-benar tenggelam dalam lautan gelap kesempurnaan artifisialnya.

​”Maafin aku, Ran… maafin aku,” bisik Maya dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, sebuah permintaan maaf yang merangkum segala dosanya pada dunia.

​Pukul dua siang, Rani pamit pulang karena harus mengambil shift sore di mal.

​Setelah pintu utama mahoni itu ditutup dan dikunci kembali, keheningan absolut yang mematikan kembali mengambil alih apartemen studio raksasa tersebut. Sisa kehangatan dari pelukan Rani menguap secepat embun yang disinari terik matahari gurun pasir, digantikan oleh hawa steril dari pendingin ruangan yang membekukan jiwa.

​Maya berdiri sendirian di tengah ruang tamunya yang mewah, dikelilingi oleh furnitur kulit mahal, meja kaca desainer, dan pemandangan gedung pencakar langit di luar sana.

​Ia memiliki segalanya. Namun di saat yang sama, ia sangat menyadari bahwa ia baru saja kehilangan sahabat terakhirnya. Meskipun Rani berjanji tidak akan membocorkan apa pun dan tetap setia, Maya tahu bahwa jembatan di antara mereka telah hangus terbakar. Kepolosan Rani tidak akan pernah bisa menerima kengerian yang tersembunyi di balik kulit porselennya, dan ketakutan Maya akan terbongkarnya rahasia itu tidak akan pernah membiarkan Rani kembali mendekat ke lingkaran terdalam kehidupannya.

​Ia kini benar-benar terisolasi. Sendirian di puncak menara gading. Persis seperti apa yang Rani takutkan.

​Maya berjalan gontai menuju sofa, berniat menjatuhkan tubuhnya yang lelah secara psikologis.

​Namun, sebelum lututnya menekuk untuk duduk…

​Sebuah rasa sakit yang menyengat tajam, setajam jarum suntik raksasa yang dihunjamkan langsung ke dalam sumsum tulangnya, mendadak meledak di area punggung sebelah kirinya, tepat di bawah tulang belikatnya.

​Maya menjerit tertahan. Tubuhnya langsung melengkung ke depan, jatuh berlutut di atas lantai parket kayunya yang keras. Tangannya secara refleks menggapai ke arah punggung kirinya, mencengkeram kain rajut sweater mahalnya.

​”Aargh… T-tidak… jangan sekarang…” rintih Maya, matanya membelalak lebar, napasnya memburu menahan siksaan yang membakar itu.

​Sensasi ini bukanlah sekadar rasa gatal. Ini bukanlah nekrosis penyusutan daging seperti yang terjadi pada betisnya tempo hari. Ini adalah sesuatu yang sepenuhnya berbeda, reaksi biologis anomali yang jauh lebih agresif.

​Di bawah lapisan kulit porselennya yang kebas, Maya bisa merasakan dengan sangat jelas melalui indra proprioseptif ototnya yang tersisa, bahwa sesuatu di dalam punggung kirinya sedang bergerak. Daging dan jaringannya terasa seolah sedang memisahkan diri, saling bergesekan dengan kecepatan tinggi, mengembang dan menegang hingga ke batas maksimal elastisitasnya, menolak hukum kohesi biologis manusia.

​Maya memutar kepalanya dengan panik, mencoba melihat punggungnya sendiri dari sudut cermin dinding di seberang ruangan.

​Apa yang terpantul di cermin itu membuat jeritan ngeri meledak dari kerongkongan Maya.

​Dari balik sweater cashmere putihnya, tepat di area tulang belikat kirinya yang sedang tersiksa, kain tebal itu menonjol keluar. Sesuatu dari dalam tubuh Maya sedang mendorong kain tersebut dengan sangat kuat. Benjolan itu semakin lama semakin membesar, menajam, dan bergerak-gerak liar seperti sebuah parasit raksasa berwujud tulang yang berusaha merobek jalan keluar dari dalam punggungnya.

​Tubuh modifikasinya, yang kehabisan pasokan gel mutiara iblis penstabil jaringan, kini benar-benar memberontak. Waktu telah habis. Kutukan fisik itu telah dimulai, dan Maya sama sekali tidak memiliki sisa bahan penawar untuk menghentikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.