Siksaan itu datang tanpa peringatan sedikit pun.
Menabrak sistem saraf Maya dengan sebuah kebrutalan yang langsung melumpuhkan fungsi motoriknya.
Maya merintih tertahan. Tubuhnya ambruk di atas lantai parket kayunya yang dingin. Ia melengkung ekstrem ke arah depan, menyerupai postur janin yang meringkuk kesakitan di dalam rahim. Tangannya mencengkeram karpet bulu di bawahnya, berusaha menahan rasa sakit yang meledak hebat dari punggung kirinya.
Di bawah lapisan sweater cashmere putihnya yang mahal, tepat di area tulang belikat (scapula) kirinya… sebuah mutasi yang mengerikan sedang berlangsung.
Mutasi itu terjadi dengan kecepatan yang menentang seluruh hukum biologi manusia.
Daging porselennya yang sebelumnya padat dan terkunci sempurna, tiba-tiba memberontak liar. Rasanya seolah ada sebuah entitas hidup berwujud tulang tajam yang tumbuh secara instan dari dalam rongga dadanya. Tulang itu memaksa jalan keluar dengan cara merobek-robek serat otot dan jaringan lemaknya dari dalam.
Krek… krek… sreeett…
Suara pergeseran tulang rawan dan robekan daging basah itu terdengar sangat jelas di telinga Maya. Suara itu menggema dari dalam tubuhnya sendiri.
Benjolan seukuran kepalan tangan orang dewasa itu menonjol keluar secara agresif. Tonjolan itu menekan kain sweater-nya dari dalam hingga merenggang ke batas maksimal benangnya. Benjolan berdarah itu bergerak-gerak liar, berdenyut kencang seperti jantung kedua yang berdetak dengan ritme kacau.
”Aaaarghh… T-Tuhan… tolong aku… sakit…” erang Maya.
Napasnya terputus-putus. Air mata rasa sakit, rasa sakit asli yang merobek saraf dari dalam, bukan sakit di permukaan kulit mengalir deras membasahi pipinya yang kebas.
Ini bukanlah rasa gatal yang mengindikasikan penyusutan daging seperti pada lehernya waktu itu. Nekrosis membuat dagingnya mati dan menyusut ke dalam.
Namun, apa yang terjadi di punggungnya saat ini adalah kebalikannya. Ini adalah hiper regenerasi sebuah pertumbuhan massa jaringan dan tulang yang tidak terkendali (overgrowth). Sel-sel modifikasi di tubuhnya yang kekurangan pasokan gel mutiara iblis penstabil itu, kini kehilangan panduannya. Sel-sel itu membelah diri dengan gila dan bermutasi menjadi tumor tulang yang berusaha menembus keluar memecahkan kulitnya.
Jika benjolan tajam ini terus membesar dalam hitungan detik… kulit punggung porselennya akan robek robek. Ia akan berubah menjadi monster cacat yang sesungguhnya malam ini juga.
Didorong oleh insting bertahan hidup yang murni, Maya menyeret tubuhnya di atas lantai.
Ia tidak bisa berdiri. Keseimbangannya hancur lebur karena pusat gravitasi rasa sakit yang membelah punggungnya. Ia merangkak dengan kedua siku dan lututnya. Ia menyeret celana mahal dan sweater-nya di atas lantai kayu, beringsut inci demi inci menuju meja wastafel di area luar kamar mandinya.
Jarak lima meter dari ruang tengah menuju wastafel itu terasa seperti lima kilometer perjalanan. Melintasi padang gurun yang dipenuhi pecahan kaca.
Setiap kali ia bergerak untuk merangkak, benjolan di punggungnya bergesekan dengan kain bajunya dari dalam. Gesekan sekecil apa pun mengirimkan gelombang kejut rasa sakit yang membuat pandangan mata Maya memutih sesaat.
”Sedikit lagi… kumohon…” isaknya parau.
Akhirnya, jemarinya yang gemetar basah oleh keringat berhasil menggapai kaki meja wastafel marmer.
Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang didorong murni oleh keputusasaan, Maya menarik tubuhnya ke atas. Ia berpegangan erat pada pinggiran meja granit. Napasnya memburu liar dan bersuara menggelegak, seperti hewan buruan yang terpojok oleh pemangsa.
Tangan kanannya langsung menyambar kotak hitam matte yang sedari tadi tergeletak diam di sudut meja. Ia membuka segel magnetiknya dengan gerakan kasar yang nyaris merusak engselnya.
Di dalam bantalan beludru hitam itu, dua dari tiga wadah telah menyelesaikan tugasnya.
Jar membulat berukuran besar yang tadinya berisi gel mutiara transmutasi telah kosong melompong. Tak menyisakan setetes pun keajaiban.
Di sebelahnya, botol serum panjang berisi cairan merah darah adalah penawar untuk nekrosis (penyusutan daging). Cairan darah itu fungsinya untuk meregangkan sel yang mati.
Logika Maya bekerja cepat di tengah rasa sakit. Jika ia meneteskan serum merah penumbuh daging itu ke punggungnya yang sedang tumbuh berlebihan, itu sama saja dengan menyiramkan bensin ke dalam kobaran api unggun. Benjolan tumor tulang itu akan tumbuh sepuluh kali lipat lebih besar dan akan langsung merobek kulit dan bajunya detik ini juga.
Satu-satunya harapannya kini hanya bertumpu pada objek terakhir. Benda yang belum pernah ia sentuh sejak malam pertama ia mencuri kotak ini.
Sebuah jar kaca frosted berukuran paling kecil.
Ukurannya hanya setengah dari jar gel mutiara. Bentuknya lebih pipih. Namun saat Maya mengangkatnya dengan tangan gemetar, wadah kaca kecil itu terasa luar biasa berat. Jauh lebih berat dari logam padat seukuran kepalan tangan.
Tutupnya terbuat dari logam perak gelap, dengan ukiran akar pohon yang meliuk-liuk rumit.
”Kumohon… kumohon berhasillah,” isak Maya memelas. Matanya menatap liar ke arah pantulan cermin di depannya.
Di dalam pantulan cermin besar wastafel itu, ia bisa melihat benjolan di punggung kirinya. Dari balik sweater-nya, benjolan itu semakin menajam ke atas. Seolah ada ujung bilah pedang tulang berdarah yang siap menembus kain rajut tersebut. Waktunya hanya tersisa beberapa detik sebelum kulit porselennya meledak tak sanggup lagi menahan tekanan dari dalam.
Dengan tangan kanan yang bergetar hebat, Maya meraih ujung kerah sweater cashmere-nya.
Ia menarik pakaian tebal itu melewati kepalanya dengan kasar, tanpa memedulikan rasa sakitnya, membiarkan pakaian seharga puluhan juta itu jatuh teronggok di lantai. Ia berdiri hanya dengan balutan pakaian dalamnya, membelakangi cermin sambil memutar lehernya kesakitan untuk melihat punggungnya sendiri.
Pemandangan itu membuat aliran darah Maya seakan membeku.
Di bawah kulit porselen punggung kirinya, sebuah tonjolan tulang berdaging yang berwarna kebiruan berdenyut kuat.
Kulit di atas tonjolan itu meregang hingga sangat tipis. Nyaris transparan. Memperlihatkan secara langsung jaringan otot dan pembuluh darah hitam yang bermutasi liar menggeliat di bawahnya.
Maya meletakkan jar kecil itu dengan kasar di atas meja. Ia menggunakan tangan kanannya untuk memutar tutup peraknya.
Tutup itu sangat seret. Tertutup jauh lebih rapat dari wadah lainnya. Maya mengerahkan seluruh kekuatannya, dan dengan satu sentakan putaran yang kuat… segel vakumnya akhirnya terbuka.
Tidak ada desisan udara seperti jar pertama. Tidak ada aroma wangi tanah steril sehabis hujan. Dan tidak ada bau anyir darah bangkai seperti botol serum merah.
Wadah kecil itu menguarkan sebuah aroma yang sangat asing dan mati.
Bau debu. Bau abu kremasi pembakaran mayat yang sudah sangat lama dingin, dipadukan dengan aroma kemenyan hangus yang luar biasa samar. Aroma itu tidak menusuk indra penciuman di hidung, melainkan meresap pelan masuk ke dalam paru-paru dan meninggalkan sebuah rasa hampa yang membekukan tenggorokan.
Maya menunduk, menatap ke dalam jar kecil tersebut.
Isinya bukanlah gel cair yang bercahaya, atau cairan serum yang kental. Isinya adalah sebuah pasta padat berwarna abu-abu gelap, nyaris hitam.
Teksturnya terlihat persis seperti campuran antara semen basah dan lumpur abu vulkanik. Tidak ada kilau mutiara iridescent. Tidak ada pendaran cahaya. Pasta itu terlihat sangat mati, menyerap seluruh pantulan cahaya lampu di sekitarnya layaknya sebuah lubang hitam mini.
Tanpa berpikir panjang atau membaca instruksi, Maya meraih spatula obsidiannya yang bersih.
Ia menusukkan ujung spatula batu itu ke dalam pasta abu-abu tersebut. Teksturnya sangat liat dan berat, seperti mengaduk tanah liat murni yang padat. Ia berhasil menyendok segumpal kecil pasta hitam kelabu itu.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menguatkan diri terhadap rasa sakit kriogenik yang membekukan tulang, atau luka bakar api yang mungkin akan ditimbulkan oleh produk ketiga ini.
Ia mengangkat tangannya yang memegang spatula ke balik bahunya, memutar sendinya. Lalu, ia menekankan gumpalan pasta abu-abu itu dengan kasar tepat ke puncak benjolan mutasi yang sedang berdenyut liar di punggung kirinya.
Maya menahan napas. Rahangnya mengeras menanti siksaan itu datang.
Namun…
Reaksi biologis yang terjadi selanjutnya… benar-benar beroperasi di luar batas akal sehat manusia. Dan benar-benar di luar semua ekspektasi yang telah Maya bangun dari dua produk kosmetik gaib sebelumnya.
Tidak ada rasa dingin yang membekukan saraf dan tulang. Tidak ada rasa panas seperti timah mendidih yang membakar kulit.
Sebaliknya, tepat pada milidetik saat pasta abu-abu itu menyentuh permukaan kulitnya yang meregang…
Sebuah kekosongan absolut tiba-tiba tercipta.
Rasanya seolah ada sebuah saklar listrik utama di dalam sistem saraf punggungnya yang mendadak dimatikan secara paksa dari pusat.
Rasa sakit yang tadi merobek-robek kewarasannya, yang membuatnya bergulingan di lantai… seketika lenyap tanpa sisa. Bukan perlahan-lahan mereda seperti diberi obat bius, melainkan menghilang terhapus di detik yang sama, seolah rasa sakit brutal itu tak pernah ada.
Maya membuka matanya lebar-lebar. Ia ternganga, menatap pantulan punggungnya di cermin.
Pasta abu-abu itu tidak meresap perlahan ke dalam pori-porinya seperti gel mutiara. Pasta itu bertindak seperti sebuah asam pelarut yang beroperasi dengan presisi gila.
Warna abu-abu gelap dari pasta itu menyebar kilat. Warnanya melingkupi seluruh area kulit benjolan tulang tersebut bagaikan jaring laba-laba raksasa yang menyelimuti mangsanya.
Dan kemudian, proses pemaksaan itu terjadi.
Benjolan tulang dan otot daging yang tadinya memberontak liar, tiba-tiba tersentak pelan. Sesuatu yang sangat rakus dari dalam pasta abu-abu itu seolah menyerap dan menelan seluruh kelebihan energi seluler yang memicu mutasi tersebut.
Massa daging yang berlebih itu dipaksa menciut. Tulang rawan yang sempat memanjang menembus daging itu… ditarik mundur. Ditarik amblas kembali ke dalam dengan sebuah kekuatan hisap yang luar biasa brutal, namun sama sekali tidak menimbulkan sepercik pun rasa sakit fisik bagi Maya.
Dalam waktu kurang dari setengah menit… benjolan mengerikan itu perlahan-lahan amblas.
Kulit punggung porselennya yang tadinya meregang sangat tipis, kini merapat kembali. Jaringan sel yang berontak dipaksa tunduk sepenuhnya. Ditekan tanpa ampun hingga kembali sejajar dengan kontur tulang belikat aslinya yang datar, mulus, dan sempurna.
Pasta abu-abu itu kemudian perlahan memudar warnanya. Pasta itu meresap tanpa sisa ke dalam pori-pori kulit porselennya, meninggalkan punggung Maya kembali ke bentuk manekin mahalnya. Seolah mutasi daging yang mematikan tadi hanyalah sebuah halusinasi.
Maya berdiri mematung terengah-engah. Matanya tak berkedip menatap cermin.
Tubuhnya terselamatkan. Ia tidak akan berubah menjadi monster cacat yang tubuhnya meledak malam ini.
Botol ketiga ini… pasta abu-abu berbau debu kremasi ini, adalah sebuah stabilisator mutasi. Sebuah penekan biologis ekstrem yang dirancang untuk membunuh sel-sel yang tumbuh berlebihan dan memaksa jaringan kembali ke bentuk cetakan dasarnya secara paksa. Formula yang bertugas menjaga ‘kewarasan’ anatomi buatan ini dari kehancuran overgrowth.
”Syukurlah… ya Tuhan, terima kasih…” bisik Maya pelan. Tubuhnya bergetar hebat karena sisa kelegaan yang absolut.
Ia meletakkan spatula obsidian itu ke atas meja, merasa telah memenangkan pertarungan melawan kematian untuk kesekian kalinya di dalam apartemen ini.
Namun…
Saat kelegaan fisik itu mulai menyelimuti dirinya, sebuah efek samping yang tak terlihat mulai merayap naik menelusuri saraf tulang belakangnya. Menyusup masuk dan menyerang sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak kasat mata dari sekadar daging dan tulang.
Meskipun rasa sakit fisiknya telah lenyap seratus persen… Maya tiba-tiba merasakan sebuah sensasi dingin yang sangat asing menjalar di dadanya.
Bukan dingin suhu di permukaan kulit, melainkan hawa dingin membeku yang berpusat tepat di dalam rongga hatinya.
Sensasi kekosongan absolut yang tadi menghentikan rasa sakit di otot punggungnya… kini perlahan-lahan mulai menyebar meracuni seluruh sistem saraf pusatnya, lalu menginfeksi pusat emosinya di otak.
Maya berdiri tegak mematung. Jantungnya berdetak dengan ritme yang sangat stabil. Napasnya teratur sempurna.
Namun ia merasa… sangat, sangat ringan. Terlalu ringan, hingga rasanya ia seperti cangkang patung yang tidak memiliki nyawa atau bobot jiwa di dalamnya.
Semua sisa adrenalin, rasa syukur, kepanikan karena hampir mati, dan kelegaan luar biasa yang baru semenit lalu masih membuat dadanya meledak-ledak… tiba-tiba memudar.
Semua emosinya menguap. Ditiup bersih oleh angin kehampaan yang lahir dari pasta abu-abu tersebut.
Rasa bersalahnya yang mendalam terhadap Rani yang ia usir tadi siang. Rasa khawatirnya yang mencekik pada ibunya di rumah sakit. Hingga rasa kemenangannya yang arogan atas Sari. Semua palet emosi manusiawi itu… tiba-tiba terasa seperti warna-warni lukisan cat air indah yang disiram oleh seember cairan pemutih industri kimia.
Pudar. Luntur. Menghilang.
Dan lenyap menjadi sebuah ruang hampa yang putih bersih tanpa makna.
Maya menatap telapak tangannya sendiri. Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah sempurnanya yang tanpa ekspresi di cermin wastafel.
”Aku… tidak merasakan apa-apa,” gumamnya pelan.
Suaranya saat mengucapkan kalimat itu terdengar sangat datar. Monoton. Dan kosong, tanpa ada sepercik pun rona emosi, intonasi, atau rasa takut sedikit pun.
Kring! Kring! Kring!
Tepat pada saat kekosongan jiwa itu menguasainya, sebuah nada dering yang khusus diatur untuk panggilan prioritas memecah keheningan apartemennya. Ponsel pintarnya yang terletak di atas meja kaca ruang tamu menyala benderang dalam gelap.
Dengan gerakan yang kaku, efisien, dan sangat mekanis tanpa adanya urgensi, rasa penasaran, atau antusiasme seperti yang biasanya ia tunjukkan, Maya melangkah keluar dari area wastafel. Ia memungut sweater mahalnya yang tergeletak di lantai dengan satu tangan, lalu berjalan pelan menuju ruang tamu.
Ia mengambil ponselnya. Nama ‘Kiki – Manajer’ berkedip heboh di layar. Ia menggeser tombol terima dengan ibu jarinya, menempelkan benda itu ke telinganya.
”Ya, Kak Kiki?” jawab Maya.
Nada suaranya sangat stabil. Terlalu stabil untuk seorang gadis yang dua menit lalu baru saja bergulingan di lantai menahan daging punggung yang nyaris meledak.
“Maya! Darling! Eike punya berita yang bakal bikin seluruh Jakarta gempar dan jantungan malam ini juga!” Teriakan heboh Kiki nyaris merusak speaker ponsel. Energi pria itu meluap-luap dari seberang sambungan.
“Kamu ingat kampanye Lumière Merveille yang kita tanda tangani tadi siang pas makan sama Pak Randy? Uang muka setengah miliarnya udah masuk, kan?”
”Sudah, Kak,” jawab Maya datar.
“Eike mau kasih tahu berita gila! Bos besar Randy baru aja telepon eike. Dia setuju buat naikin nilai kontrak kamu jadi DUA KALI LIPAT!” pekik Kiki girang. “Katanya, foto test-shoot kamu dinilai terlalu sempurna untuk harga awal! Dia mau memonopoli kamu sepenuhnya!”
Maya tidak tersenyum. Matanya hanya menatap kosong ke arah jendela kaca.
“Dan bukan cuma itu, Bidadariku!” lanjut Kiki menarik napas panjang. “Dua desainer perhiasan berlian Prancis paling top baru aja hubungin agensi kita! Mereka lihat foto kamu dari orang dalam, dan mereka mau kamu jadi muse (wajah inspirasi utama) mereka bulan depan buat fashion week di Paris!”
”Itu bagus, Kak,” ucap Maya pelan.
“Sayang, dengerin eike! Kamu resmi jadi supermodel paling mahal dengan bayaran tertinggi di agensi kita dalam sejarah! Total nilai kontrak yang bakal masuk ke rekening pribadi kamu minggu depan… mencapai nyaris LIMA MILIAR RUPIAH!” Kiki berteriak histeris, disusul suara tawa kemenangan. “Kita kaya raya, Maya! Kamu berhasil! Kita ada di puncak dunia sekarang!”
Lima miliar rupiah.
Sebuah angka magis yang tidak pernah bisa diimajinasikan secara logis oleh otak seorang Maya si petugas cleaning service mal.
Angka yang bisa membeli puluhan rumah mewah di kampung halamannya. Uang yang bisa membiayai perawatan VIP ibunya di fasilitas medis terbaik di luar negeri hingga puluhan tahun ke depan tanpa perlu bekerja lagi. Sebuah kemenangan finansial mutlak yang melampaui semua mimpi tergila yang pernah ia rajut di malam-malam ia menangis kelaparan di tangga darurat basement.
Di ujung telepon, Kiki masih terus berteriak kegirangan tanpa henti, merayakan kemenangan finansial mereka.
Namun… di dalam apartemen yang mewah dan sunyi itu, reaksi Maya benar-benar membeku. Mati total.
Maya berdiri di dekat kaca, menatap hamparan cahaya lampu kota Jakarta dari jendela kaca floor-to-ceiling apartemennya. Lampu-lampu kendaraan di jalan tol bawah sana terlihat seperti aliran sungai emas cair yang tak berujung. Gedung-gedung pencakar langit berbaris di bawahnya.
Kota metropolitan yang kejam ini… kini telah bertekuk lutut di bawah kaki jenjang porselennya.
Ia telah mendapatkan segalanya malam ini. Ia telah memenangkan segalanya. Keuntungan yang ia peroleh sangatlah masif, tak terhingga, dan absolut.
Namun… sekuat apa pun Maya mencoba mencari setitik saja rasa bahagia di hatinya… sekecil apa pun rasa bangga atau kelegaan di dalam dadanya… ia sama sekali tidak bisa menemukannya.
Hatinya tidak berdebar antusias mendengar angka lima miliar. Bibir merahnya tidak tertarik membentuk senyuman haru. Matanya tidak memancarkan air mata kebahagiaan karena terbebas dari kemiskinan.
Semuanya kosong. Hitam.
Pasta abu-abu penstabil mutasi itu memang telah berhasil menyelamatkan integritas fisik dagingnya dari kehancuran. Namun, bayaran yang pasta iblis itu curi darinya adalah sisa-sisa terakhir dari api kemanusiaannya.
Pasta abu-abu itu ternyata bertindak seperti parasit pemakan emosi. Ia menyerap kelebihan massa biologis tumor, sekaligus menelan seluruh kemampuan neurokimia otak Maya untuk merasakan kegembiraan, kesedihan, ketakutan, dan empati.
Maya telah bertransformasi menjadi entitas yang sempurna dari luar. Tapi di dalam… kesempurnaan itu adalah sebuah ruangan putih tanpa pintu, tanpa jendela, dan tanpa udara.
”Terima kasih atas kerja kerasnya, Kak Kiki. Itu berita yang sangat bagus,” jawab Maya menanggapi teriakan Kiki.
Suaranya terdengar sangat jernih, luar biasa sopan, namun mati secara spiritual. Persis seperti rekaman suara robot mesin customer service.
Kiki yang sedang larut dalam euforia di ujung telepon sama sekali tidak menyadari dan tidak peduli pada kehampaan di balik suara artisnya itu.
“Sama-sama, Bintangku! Ini semua karena kerja keras dan aura kamu! Malam ini kamu istirahat yang nyenyak ya, minum vitamin! Besok pagi jam sepuluh kita ada jadwal ke bank pusat buat urus upgrade akun VIP kamu. Have a beautiful night, Sayangku!”
Klik. Sambungan diputus oleh Kiki.
Layar ponsel itu meredup, menyisakan layar hitam yang memantulkan wajah datar tanpa jiwa milik Maya. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kaca bundar dengan pelan.
Keuntungan yang luar biasa besar ini… uang lima miliar yang menunggunya… malam ini terasa tak lebih dari sekadar deretan angka-angka mati yang tercetak di atas layar digital.
Angka lima miliar itu tidak memberikan sensasi yang berbeda dengan angka harga sabun cuci piring yang dulu ia beli di warung kumuh Bu Tejo. Kepuasan dari sebuah kemenangan ternyata membutuhkan jiwa untuk merasakannya.
Dan Maya, secara harfiah dan kiasan, telah membuang jiwanya ke dalam tempat sampah.
Ia memutar tubuhnya perlahan. Ia menyapu pandangannya yang dingin ke seluruh sudut apartemen studionya yang sangat luas dan mewah.
Sofa kulit Italia berwarna karamel seharga seratus juta. Karpet bulu domba asli yang diimpor dari Turki. Televisi raksasa canggih. Dinding-dinding yang dicat dengan presisi artistik.
Semua benda mahal di ruangan ini adalah simbol dari pencapaian tertingginya.
Namun malam ini, di bawah kungkungan apati (ketiadaan emosi absolut) yang mengerikan akibat reaksi pasta hitam tersebut, Maya melihat benda-benda ini dengan kacamata dimensi yang berbeda.
Semua kemewahan ini terasa sangat palsu dan menyedihkan.
Sofa mahal itu hanyalah sekumpulan kulit hewan mati yang dikuliti dan dijahit manusia. Televisi raksasa itu hanyalah lempengan kaca, sirkuit, dan kabel plastik. Pemandangan kota yang memukau di luar sana hanyalah tumpukan beton berpolusi dan polusi cahaya yang merusak alam.
Tidak ada kehangatan di tempat ini. Tidak ada memori berharga. Tidak ada cinta dari ibunya.
Ini bukanlah sebuah rumah, ini adalah sebuah etalase pajangan toko yang megah. Dan Maya… ia sadar bahwa ia hanyalah boneka manekin utama yang mematung di tengah etalase tersebut.
Maya berjalan tanpa alas kaki menuju area dapur bersihnya. Ia membuka pintu lemari es dua pintu yang sangat besar. Lampu kulkas menyala terang.
Di dalamnya berjejer sangat rapi berbagai macam buah-buahan impor kualitas premium. Botol-botol air mineral mahal yang diimpor dari mata air pegunungan Alpen. Dan beberapa makanan siap saji dari restoran bintang lima yang dibelikan Kiki.
Tangan porselen Maya mengambil sebuah apel merah besar dari rak. Kulit apel Washington itu sangat mulus dan mengkilap tanpa cacat.
Ia menutup pintu kulkas dengan dorongan pinggulnya.
Maya menatap apel di tangannya. Di kehidupan masa lalunya, bisa memakan sebuah apel merah utuh adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa ia rasakan setahun sekali. Biasanya, hanya saat ada tetangga masjid yang berbaik hati membagikan berkat selamatan.
Dengan wajah yang sepenuhnya datar dan mata kosong, Maya menggigit apel tersebut.
Terdengar bunyi ‘kres’ yang sangat nyaring memecah kesunyian dapur saat gigi-gigi porselennya merobek daging buah itu. Ia mengunyah serpihan buah itu pelan.
Di dalam mulutnya, saraf motoriknya bekerja normal. Ia bisa merasakan tekstur renyah apel itu berderak di giginya. Ia bisa merasakan air sari buahnya yang membasahi lidahnya yang kering.
Namun… persis seperti saat ia memakan donat buatan ibunda Rani siang tadi… ia sama sekali tidak bisa merasakan manisnya apel tersebut.
Tidak ada rasa segar yang menyiram dahaganya. Tidak ada kenikmatan rasa buah.
Ia sedang mengunyah sebuah material padat yang hambar tak berasa. Rasa manis, rasa asam, rasa pahit, dan rasa gurih… semuanya telah dihapus bersih dari perpustakaan sensoriknya. Kutukan ini merampas segalanya.
Maya menelan gigitan apel yang terasa seperti ampas gergaji basah itu.
Ia tidak membuangnya dengan marah. Ia juga tidak menangisi kehilangan inderanya. Emosinya terlalu mati untuk merespons dengan kesedihan.
Ia hanya meletakkan sisa apel yang baru digigit satu kali itu ke atas meja dapur marmer. Meninggalkannya begitu saja teronggok di sana.
Tidak ada gunanya manusia makan jika tidak ada rasa yang bisa dinikmati di lidah. Ia tidak akan lagi makan untuk kepuasan. Mulai sekarang, ia hanya akan makan apel hambar secukupnya, murni sekadar untuk memastikan tubuh modifikasinya memiliki kalori dasar untuk berdiri di depan kamera.
Malam semakin larut. Jarum jam raksasa di ruang tengah menunjukkan pukul satu dini hari.
Suasana di dalam apartemen penthouse yang berada di lantai dua puluh itu sangat hening. Terisolasi sepenuhnya dari kebisingan mesin jalan raya ibu kota di bawah.
Maya berjalan masuk menuju kamar tidurnya yang luas. Ia menyalakan lampu tidur kecil bertenaga sentuh di atas nakas, yang memancarkan cahaya kuning redup.
Ia merebahkan tubuhnya yang ringan ke atas ranjang king size yang empuk. Ia menarik selimut sutra tebal berwarna perak hingga menutupi sebatas dadanya. Matanya tak berkedip, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang dihiasi lampu downlight modern.
Ia tidak merasa mengantuk sedikit pun.
Obat penstabil mutasi berbentuk pasta abu-abu di punggungnya tadi telah menekan paksa semua kelelahan fisik dan mentalnya. Pasta itu telah menyetel ulang jam biologis otaknya menjadi sebuah garis lurus yang konstan, menolak kebutuhan manusia akan istirahat.
Di tengah keheningan yang memekakkan telinga itu, tanpa ada secuil pun emosi yang bisa mengalihkan perhatiannya untuk gelisah atau overthinking, indra pendengaran dan penglihatan Maya yang tersisa mulai beradaptasi maksimal dengan lingkungan apartemennya.
Kekosongan emosional yang diciptakan oleh pasta abu-abu itu ternyata membuka sebuah celah sensorik lain di dalam otaknya. Ketika emosi dasar manusia seperti rasa takut, rindu, dan sedih dimatikan secara total… radar biologis terhadap hal-hal yang tidak rasional justru menajam beribu kali lipat.
Maya yang terbaring diam mulai menyadari satu hal.
Apartemen yang disewanya dengan harga puluhan juta sebulan ini… terasa terlalu luas dan hampa untuk dihuni hanya oleh satu entitas yang kesepian. Ruangan yang sangat kosong, biasanya cenderung mengundang hal-hal dari dimensi lain untuk datang dan mengisi celahnya.
Dari posisinya berbaring kaku, pandangan mata elang Maya tanpa sengaja menangkap sebuah pergerakan bayangan dari arah luar jendela kamarnya.
Awalnya, logika dinginnya berpikir itu hanyalah bayangan pantulan dari lampu mobil yang melintas di jalan tol bawah sana, yang memantul masuk ke kaca jendelanya.
Namun… ini adalah lantai dua puluh. Cahaya lampu mobil jalanan tidak mungkin bergerak merayap dengan sudut pandang vertikal menanjak seperti itu.
Bayangan gelap yang sangat panjang itu merayap perlahan dari kaca jendela. Bayangan itu melintasi dinding putih kamarnya tanpa suara, bergerak menjauh dari jendela menuju ke arah sudut ruangan yang paling gelap.
Sudut area di dekat lemari pakaian besar, tempat di mana ia selalu menyembunyikan kotak hitam misterius itu.
Mata Maya mengikuti setiap inci pergerakan bayangan itu tanpa berkedip. Ia mengamatinya.
Anehnya, jantung Maya tidak berdebar panik. Ia sama sekali tidak merasa takut. Pasta abu-abu di dalam sistem sarafnya telah membunuh kemampuan amigdala-nya di otak untuk memproduksi hormon ketakutan secara instan.
Ia tidak bisa merasa ngeri. Ia hanya merasa… waspada. Sebuah kewaspadaan rasional yang sedingin es, layaknya lensa mesin kamera perekam keamanan.
Bayangan di sudut ruangan lemari itu perlahan-lahan mulai memadat. Kegelapan di sana tampak terpilin seperti asap hitam yang pekat, merangkai dirinya sendiri dari ketiadaan molekul udara.
Suhu di dalam kamar tidur yang sudah diatur pada posisi hangat dan nyaman itu… mendadak merosot drastis menembus titik nol.
Udara dari AC sentral yang tadinya berbau pengharum ruangan wangi lavender mahal, kini lenyap, digantikan oleh embusan udara yang sangat apak. Bau tanah kuburan yang basah akibat diguyur hujan lebat, dicampur dengan aroma anyir karat besi dan pembusukan daging. Bau yang sangat ia kenal dari dalam cermin wastafelnya, dari dalam mimpi buruknya, dan dari genangan hitam di kamar mandinya malam itu.
Maya perlahan mendudukkan dirinya di atas kasur. Ia menyibak selimut sutranya tanpa mengeluarkan suara gesekan sedikit pun.
Di sudut ruangan dekat lemari, kegelapan pekat itu kini telah mengambil wujud sebuah siluet fisik. Siluet seseorang.
Bukan, itu bukan manusia. Itu adalah gumpalan anatomi daging yang gagal mengunci wujud manusianya.
Maya bisa melihatnya dengan cukup jelas berkat sisa pantulan cahaya lampu kota dari luar jendela kaca. Siluet itu berdiri dengan postur yang sangat membungkuk dan patah-patah, seolah tulang belakang makhluk itu telah patah dan remuk di beberapa titik persendian. Pakaian yang dikenakannya hanyalah serpihan kain hitam kotor dan lecek yang menempel ketat di tubuhnya yang basah oleh cairan hitam.
Dari wajah dan lengan siluet yang menunduk tersebut, terdengar suara tetesan genangan yang sangat pelan namun konstan.
Tes… tes… plop.
Cairan hitam kental berbau busuk menetes jatuh dari rahang makhluk itu yang melesak cacat. Cairan itu menghantam lantai parket apartemen Maya, menciptakan sebuah genangan kecil yang perlahan melebar di sudut ruangan.
Meskipun lampu tidur di sebelah Maya sangat redup, ia bisa melihat bahwa wajah sosok itu perlahan terangkat. Makhluk itu sedang menatap lurus ke arahnya di atas ranjang.
Sebuah wajah tanpa fitur manusia yang jelas. Hanya sebuah massa daging mentah yang meleleh ke bawah bagai adonan lilin panas yang terbakar, menyisakan dua rongga mata hitam gelap. Dua rongga yang memancarkan kebencian murni dan absolut, melampaui batas dimensi. Kebencian dari sebuah jiwa yang dicuri, disembelih, dan diperas dagingnya di dalam laboratorium untuk menciptakan sebotol kesempurnaan.
Sosok itu mengangkat tangan kanannya perlahan. Tangan itu hanya terdiri dari tulang jari yang membusuk dibalut cairan hitam lengket. Makhluk itu menunjuk lurus ke arah dada Maya.
Sebuah suara bisikan gaib yang sangat parau, serak, berair, dan menggetarkan selaput telinga terdengar menggema di dalam ruangan itu. Suara itu tidak lagi bergema di dalam kepala Maya, melainkan beresonansi secara fisik di udara terbuka apartemennya yang steril. Makhluk itu telah berhasil menyeberang ke dunia nyata.
“Kau tidak bisa bersembunyi di balik kekosongan emosi itu… tubuh yang kau curi ini… daging kami… akan menuntut pemiliknya kembali.”
Maya duduk terpaku di atas ranjang. Ia menatap sosok yang meleleh itu dengan sepasang mata porselennya yang kosong, tanpa ada satu pun ekspresi ketakutan yang tergambar di wajah sempurnanya.
Ketiadaan emosinya menjadi perisai sekaligus kutukannya malam ini.
Jutaan, bahkan miliaran uang di rekening banknya yang baru saja ia rayakan kemenangannya siang tadi bersama Kiki… tak mampu membeli dinding pembatas baja antara dunia manusia kelas atas yang glamor, dengan dimensi kutukan berdarah yang kini mulai menagih utang-utangnya di tengah malam yang paling sunyi ini.
Gemerlap kehidupannya sebagai supermodel telah memudar sempurna di dalam ruangan gelap ini.
Maya telah menjadi miliarder dalam waktu singkat. Tapi pada saat yang sama, kehadiran fisik makhluk itu baru saja memastikan satu hal mutlak: bahwa apartemen mewahnya seharga puluhan juta ini, hanyalah sebuah ruang tunggu VIP untuk eksekusi penyiksaan nyawanya.
Panggung teror yang sesungguhnya… bukan lagi sebatas mimpi buruk… kini baru saja dibuka.