Udara di dalam kamar tidur utama yang mewah itu mendadak anjlok, turun drastis hingga menyentuh titik beku.
Hembusan pendingin ruangan sentral yang biasanya mengeluarkan desisan halus dan wangi lavender mahal, kini terdengar berubah. Suaranya berderak seperti embusan napas raksasa yang keluar dari kedalaman gua yang dipenuhi tumpukan mayat.
Di sudut ruangan yang gelap, siluet yang terbuat dari kegelapan dan cairan pekat itu berdiri membungkuk menatap Maya.
“Kau tidak bisa bersembunyi di balik kekosongan itu… daging yang kau curi ini… akan menuntut pemiliknya kembali.”
Suara itu bergema. Bukan merambat melalui partikel udara di kamar itu, melainkan beresonansi langsung menembus ke dalam tulang tengkorak Maya.
Suara itu bukanlah suara satu orang. Itu adalah paduan dari rintihan belasan pita suara yang basah, serak, dan membusuk. Menciptakan sebuah harmoni kepedihan absolut yang membuat seluruh rambut halus di sekujur tubuh Maya berdiri serempak.
Namun… apa yang berdiri di depannya saat ini tidak mengincar sisi emosionalnya.
Entitas ini mengabaikan pikiran logis, dan langsung menembak bagian paling purba di dalam otak manusia, Amigdala. Insting murni pertahanan diri untuk lari dari predator yang mematikan. Dan di hadapan horor absolut yang melanggar seluruh hukum fisika dan biologi ini… tameng kekosongan Maya hancur berkeping-keping.
Rasa takut yang luar biasa pekat, dingin, dan melumpuhkan… meledak seketika di dalam dadanya.
Makhluk tanpa wajah itu mulai bergerak.
Ia tidak melangkah layaknya manusia. Ia menyeret sebelah kakinya yang tak berbentuk, sementara tangan kirinya yang hanya berupa tulang berbalut lendir hitam mencengkeram lantai parket kayu.
Setiap kali makhluk itu menarik tubuhnya maju, terdengar suara gesekan basah yang luar biasa memuakkan.
Sreeett… kecipak… sreeett…
Langkahnya meninggalkan jejak cairan tebal yang pekat. Cairan itu langsung mendesis dan mengeluarkan asap tipis saat bersentuhan dengan permukaan lantai kayu mahal tersebut, seolah cairan itu memiliki sifat asam yang sangat korosif.
Jarak antara sudut ruangan dan sisi ranjang tempat Maya duduk terpaku hanya sekitar empat meter.
Namun, di bawah terangnya pantulan lampu kota Jakarta yang menembus kaca jendela, pergerakan lambat makhluk itu terasa seperti penyiksaan psikologis yang tak berujung bagi Maya.
Wajahnya…
Wajah makhluk itu benar-benar tidak memiliki struktur tulang kalsium yang menopangnya. Dagingnya melunak secara ekstrem. Meleleh ke bawah seperti adonan lilin panas yang ditarik oleh gravitasi.
Kelopak matanya telah jatuh dan mengelupas, mengekspos dua bola mata putih kusam tanpa pupil yang menatap lurus menembus jiwa Maya.
Tes… tes… plop.
Cairan hitam terus menetes dari dagunya yang hancur. Tetesan itu merusak karpet bulu domba Turki berwarna putih bersih di bawahnya. Asap tipis berbau karat besi dan belerang menguar dari tetesan tersebut.
Maya mencoba menjerit, namun kerongkongannya terkunci rapat.
Paru-parunya seolah lupa bagaimana cara memompa oksigen. Otot-otot porselennya membeku kaku.
Makhluk itu kini telah berada tepat di sisi ranjang king-size tersebut. Jarak mereka tak sampai satu meter.
Bau anyir bangkai busuk dan tanah kuburan basah menghantam indra penciuman Maya dengan intensitas yang tak masuk akal. Bau itu membuat lambungnya bergejolak hebat, nyaris memuntahkan sisa apel yang ia makan tadi.
Tangan kanan makhluk itu terangkat perlahan. Kumpulan tulang jari yang memanjang secara tidak wajar, dengan sisa-sisa daging hitam yang menempel dan menetes. Jari-jari tulang itu mengarah tepat ke wajah porselen Maya.
“Kembalikan… kembalikan kecantikan kami…” rintih makhluk itu.
Rahangnya yang putus setengah bergetar saat berbicara, memperlihatkan deretan gigi yang telah menghitam dan membusuk.
Di detik saat ujung tulang telunjuk makhluk itu nyaris menyentuh kulit hidungnya… kelumpuhan Maya pecah.
Insting bertahan hidupnya mengambil alih kemudi secara brutal.
Maya menjerit sejadi-jadinya. Ia menarik selimut sutra tebalnya dan melempar kain itu dengan sekuat tenaga ke arah makhluk tersebut, menutupi wajah dan tubuh bagian atas entitas itu.
Di saat yang sama, Maya melemparkan dirinya ke arah berlawanan. Ia berguling melewati sisi ranjang yang lain hingga tubuhnya jatuh menghantam lantai dengan bunyi debam yang keras.
”Aaakh!”
Maya mengerang keras saat bahu kanannya membentur meja nakas kayu. Lampu tidur kecil di atas nakas itu jatuh dan pecah berkeping-keping.
Ruangan itu seketika menjadi jauh lebih gelap. Hanya menyisakan pendaran cahaya lampu jalanan dari jendela raksasa.
Di atas ranjang, makhluk itu meronta di balik selimut.
Cairan hitam dari tubuhnya seketika merembes menembus kain sutra putih itu. Menodainya dengan bercak-bercak kegelapan yang menyebar cepat. Selimut mahal itu mulai mendesis keras dan bolong, terbakar meleleh akibat kontak langsung dengan cairan asam tersebut.
Maya tidak membuang waktu sedetik pun untuk menatap.
Ia merangkak dengan panik melintasi lantai. Kakinya yang telanjang terpeleset beberapa kali di atas permukaan parket yang licin. Ia harus keluar dari kamar ini hidup-hidup.
Saat Maya berhasil bangkit berdiri dan berlari menuju pintu kamar, ia refleks menoleh ke belakang.
Makhluk itu telah menyingkirkan selimut yang setengah hancur. Makhluk itu memutar kepalanya yang meleleh dengan sudut patah seratus delapan puluh derajat ke belakang. Tulang lehernya berderak keras.
Dua mata putih kusam itu menatap tepat ke arah Maya yang sedang menggapai gagang pintu.
Sebuah jeritan yang tidak terdengar oleh telinga… namun mengguncang hebat isi kepala Maya… meledak dari rongga mulut makhluk itu.
”TIDAAAK!!” teriak Maya merespons rasa sakit di kepalanya.
Maya menarik gagang pintu ke bawah. Ia mendorongnya dengan kasar, dan menghambur keluar menuju lorong apartemennya yang gelap.
Ia membanting pintu kamar itu dengan sekuat tenaga hingga tertutup rapat.
Napas Maya tersengal-sengal liar. Dadanya naik turun dengan ritme yang menyakitkan tulang rusuknya. Keringat dingin membasahi kaus tipis yang ia kenakan untuk tidur.
Ia berdiri mematung di lorong apartemen, punggungnya menempel erat pada pintu yang baru saja ia tutup, seolah tubuh kurusnya bisa menjadi palang pintu ekstra.
Keheningan apartemen mewahnya di luar kamar terasa menulikan. Hanya ada suara napasnya sendiri dan detak jantungnya yang bergemuruh.
Apakah pintu kayu ini cukup untuk menahannya? batin Maya panik.
Matanya menatap liar ke arah ruang tengah yang luas. Lampu kota di luar sana masih bersinar terang, namun di dalam unit ini, bayang-bayang terasa hidup dan siap menerkamnya dari segala arah.
Tiba-tiba… sebuah tekanan yang luar biasa masif menghantam pintu kamar tepat di belakang punggung Maya.
BRAKK!!
Maya terlonjak ke depan sambil menjerit histeris. Tubuhnya terdorong jatuh tersungkur ke lantai lorong.
Pintu kayu mahoni tebal itu bergetar hebat hingga engselnya berdecit. Sesuatu yang sangat besar dan bermassa sangat berat baru saja melemparkan dirinya menabrak pintu dari arah dalam kamar.
BRAKK!! KRAAAK!!
Hantaman kedua datang menyusul lebih keras. Kali ini, terdengar suara papan kayu yang retak terbelah.
Maya membalikkan badannya sambil merangkak mundur. Matanya terbelalak ngeri melihat pemandangan di hadapannya.
Dari celah bawah pintu kamar tidurnya yang retak, cairan kental berwarna hitam pekat merembes keluar dengan sangat deras. Cairan itu menggenang di atas lantai lorong.
Cairan itu mendesis pelan, dan perlahan-lahan mulai menggerogoti pernis lantai parket kayunya. Lantai kayu itu melepuh, timbul gelembung-gelembung udara yang pecah menyebarkan bau busuk belerang yang menyengat.
”T-Tuhan… Tuhan, tolong aku…” rintih Maya dengan suara parau yang menyayat hati.
Sisi rasionalnya telah hancur lebur. Tidak ada penjelasan logis di sini. Tidak ada perhitungan agensi atau gemerlap kamera flash yang bisa menyelamatkannya. Kekayaan senilai lima miliar rupiah di rekening VVIP-nya tidak memiliki arti apa-apa di hadapan anomali kematian ini.
SREEEKK… SREEEK…
Suara kuku-kuku tulang yang tajam sedang mencakar bagian dalam pintu terdengar mengiris telinga. Makhluk itu sedang berusaha merobek jalan keluar.
Pintu kayu yang kokoh itu mulai melengkung di bagian tengah. Serat-serat kayunya berderak patah. Pintu itu tak sanggup menahan tekanan korosif dari entitas yang tidak mematuhi batasan fisika tersebut.
Maya tahu dengan pasti, ia tidak bisa berlari keluar dari apartemen.
Ia hanya memakai kaus tidur tipis. Tanpa kunci, tanpa dompet, dan tanpa telepon seluler. Jika ia berlari turun ke lobi dalam keadaan histeris seperti orang gila di tengah malam, kariernya akan hancur malam ini juga. Satpam akan memanggil polisi, manajemen Kiki akan tahu, dan rahasia kegilaannya akan terbongkar ke media. Ia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Instingnya menuntunnya pada satu-satunya tempat yang paling terang, paling kokoh, dan paling steril di apartemen itu. Kamar mandi utama.
Maya bangkit dan berlari tertatih menuju lorong sebelah kanan.
Ia menerobos masuk ke dalam kamar mandi marmernya yang luas. Ia membanting pintu kayunya, dan segera menggeser kunci slot berbahan baja tebal hingga berbunyi KLIK yang mantap.
Ia langsung menekan deretan saklar di dinding.
Seketika, seluruh lampu LED berwarna putih benderang menyala. Cahayanya menerangi setiap inci ruangan yang dilapisi pualam Carrara itu.
Terangnya cahaya yang menyilaukan ini memberikan sedikit rasa aman yang semu bagi Maya. Ia mundur dengan langkah gontai hingga punggungnya menabrak pinggiran bathtub porselen raksasa di sudut. Lalu ia merosot turun dan meringkuk memeluk lututnya di atas lantai yang membeku.
Di luar sana… di ruang tengah apartemennya… terdengar suara pintu kamar tidurnya yang akhirnya hancur lebur.
KRAAAKKK! BRUUKKK!
Pecahan kayu mahoni menghantam lantai.
Diikuti oleh suara seretan langkah kaki yang basah, licin, dan berat.
Sreeett… kecipak… sreeett…
Suara itu bergerak lambat. Menyeret sesuatu yang membusuk. Makhluk itu kini telah berada di ruang tamu.
Suara langkahnya membelah kesunyian. Berputar-putar di area dapur, menggeser kursi bar dengan bunyi derit besi yang memilukan. Entitas itu sedang mencari mangsanya.
Maya menekan kedua telapak tangannya ke telinganya. Ia menutup matanya rapat-rapat. Ia menggigit lututnya sendiri untuk menahan isakan tangis keputusasaan yang memberontak keluar dari dadanya.
Udara di dalam kamar mandi itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, melampaui batas kewajaran. Setiap embusan napas Maya kini membentuk kepulan kabut putih tipis di udara.
Sreeett… sreeett…
Langkah basah itu perlahan-lahan mendekat ke arah lorong kamar mandi.
Jantung Maya serasa berhenti berdetak di dalam rongga dadanya. Ia menahan napasnya sekuat tenaga hingga wajahnya memerah.
Langkah itu berhenti. Tepat di balik pintu kamar mandi.
Keheningan yang mencekam membungkus ruangan pualam tersebut. Hanya ada desingan statis halus dari lampu LED di atas kepala Maya.
Tidak ada suara cakar. Tidak ada suara gedoran di pintu.
Satu menit berlalu. Lima menit berlalu.
Apakah makhluk itu pergi? batin Maya berharap dengan putus asa. Apakah entitas itu menghilang saat mendekati cahaya lampu yang terang ini?
Perlahan, Maya menurunkan tangannya dari telinganya.
Ia membuka matanya yang sembap. Ia menatap lurus ke arah bagian bawah pintu kamar mandi. Pintu mewah itu memiliki celah sekitar satu sentimeter dari lantai marmer untuk sirkulasi udara.
Dari balik celah kecil itu…
Sebuah cairan hitam pekat mulai mengalir masuk secara perlahan ke dalam kamar mandi.
Cairan itu tidak merembes mengikuti gravitasi seperti air normal. Cairan itu bergerak seperti benda hidup. Merayap maju dengan tentakel-tentakel kecil yang terbuat dari lendir pekat.
Cairan itu berhenti tepat di batas ubin marmer putih. Lendir itu mendesis pelan, mengeluarkan asap tipis yang membawa aroma tanah kuburan dan daging gosong ke dalam ruangan steril tersebut.
Lalu… tepat di celah sempit itu… sesuatu menghalangi cahaya dari luar lorong.
Dua buah bola mata putih kusam yang basah dan tanpa kelopak, mengintip dari balik celah bawah pintu. Bola mata itu menempel merata pada lantai, menatap lurus ke arah Maya yang sedang meringkuk di sudut bathtub.
Makhluk itu memiringkan kepalanya yang hancur hingga sejajar dengan lantai… hanya untuk mengawasi mangsanya dari celah bawah.
“Tubuh itu… daging itu… milik kami…”
Bisikan gaib itu meluncur dari balik celah pintu, mengalir menginvasi kamar mandi bersama udara beku.
Maya memejamkan mata dan berteriak sekeras-kerasnya. Sebuah jeritan tanpa suara yang merobek pita suaranya dari dalam.
Ia menekan wajahnya ke lututnya, menolak untuk melihat bola mata itu lagi. Ia memeluk dirinya sendiri, meringkuk sekecil mungkin. Mengunci pikirannya dari realitas yang menolak logika manusia ini.
Malam itu, di dalam sangkar kemewahan seharga miliaran rupiah di awan… sang supermodel pendatang baru paling dipuja di negara ini menghabiskan waktunya meringkuk menangis di atas lantai kamar mandi. Ditemani oleh tatapan makhluk dari dimensi lain yang terus mengawasinya dari celah pintu… hingga matahari terbit.
Cahaya matahari pagi yang terik akhirnya menembus kaca buram jendela kecil di bagian atas kamar mandi. Sinar itu memberikan rona kehidupan yang sangat dibutuhkan pada ubin marmer yang sedingin es.
Maya membuka matanya perlahan.
Tubuhnya luar biasa kaku dan ngilu karena tertidur dalam posisi meringkuk selama lebih dari enam jam di lantai keras. Lehernya kram. Otot-ototnya terasa seperti ditarik paksa.
Ia mendongak. Matanya yang merah dan bengkak langsung tertuju pada celah bawah pintu.
Kosong.
Tidak ada bola mata putih yang mengintip. Tidak ada cairan hitam yang merayap. Ruangan itu hanya berbau pengharum lavender yang sudah bercampur samar dengan sisa-sisa bau apak belerang. Cahaya pagi tampaknya telah berhasil mengusir manifestasi kengerian tersebut kembali ke tempat asalnya.
Maya menelan ludah. Kerongkongannya terasa sangat kering hingga perih.
Ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Ia berpegangan pada pinggiran bathtub untuk menopang kakinya yang masih gemetar.
Ia berjalan perlahan menuju pintu. Tangannya menyentuh kunci slot baja itu. Jari-jarinya ragu sejenak.
Bagaimana jika makhluk itu masih berdiri menunggunya di balik pintu? Bagaimana jika ruang tamunya telah berubah menjadi sarang pembusukan yang berlumuran darah?
Dengan satu tarikan napas panjang yang diiringi keputusasaan, Maya menggeser kunci slot baja itu. Klik. Ia memutar gagang pintu dan menariknya terbuka.
Pemandangan yang menyambutnya di luar sana bukanlah neraka yang ia bayangkan… namun tetap saja merupakan sebuah bencana yang mengerikan.
Apartemen mewahnya berantakan.
Namun bukan berantakan karena benda-benda dihancurkan, dibanting, atau dilempar. Melainkan berantakan karena korosi asam.
Jejak kaki besar dari cairan hitam itu tercetak di sepanjang lantai lorong kayu. Di mana pun cairan itu menetes dari tubuh makhluk semalam, lapisan pelindung lantai parketnya melepuh dan terkelupas. Meninggalkan lubang-lubang kayu yang menghitam seperti habis terbakar arang.
Maya berjalan gontai menuju ruang tengah.
Karpet bulu domba Turki seharga seratus juta yang terletak di bawah meja kaca itu… kini memiliki jejak hangus berlendir yang melintang dari ujung ke ujung.
Kursi kulit karamel di area dapur kotor oleh noda hitam. Noda itu berbentuk telapak tangan tulang yang mencengkeram sandarannya. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat berat, dipenuhi bau bahan kimia basi yang menusuk paru-paru.
Namun kerusakan terparah berada di pintu kamar tidurnya.
Pintu kayu mahoni yang kokoh itu telah berlubang besar di bagian tengahnya. Serat-serat kayunya mencuat keluar, lapuk dan berwarna kehitaman. Seolah pintu itu telah direndam di dalam drum asam sulfat pekat selama bertahun-tahun. Engsel bawahnya patah, membuat pintu itu menggantung miring dengan sangat menyedihkan.
Maya berdiri di tengah ruang tamunya yang hancur. Jam di dinding digital menunjukkan pukul tujuh pagi.
Sisi profesionalnya yang dingin—sisi sosiopat yang telah dilatih keras oleh lingkungan Kiki selama sebulan terakhir dan disuntik oleh pasta abu-abu tiba-tiba mengambil alih otaknya dengan kecepatan mekanis.
Kepanikan tidak akan menyelesaikan apa-apa.
Ia tidak bisa menelepon polisi. Ia tidak bisa memanggil layanan kebersihan apartemen atau room service.
Jika mereka melihat kerusakan ini, terutama noda yang melelehkan kayu dan karpet, mereka akan mencurigainya memproduksi bahan peledak, memelihara hewan buas, atau meracik obat terlarang. Ia akan diusir.
Satu-satunya orang yang bisa membersihkan tempat kejadian perkara supernatural ini hanyalah dirinya sendiri.
Gadis yang dulunya adalah petugas kebersihan kelas bawah di basement mal. Sebuah ironi kosmis yang sangat, sangat kejam dan tepat sasaran.
Maya segera berlari ke gudang utilitas kecil di dekat mesin cuci.
Ia mengambil sarung tangan karet tebal berwarna kuning, masker wajah, dua botol besar cairan pemutih industri, sikat kawat kasar, dan setumpuk kain pel.
Ia membalut wajahnya dengan masker, mengikat rambut hitamnya ke atas menjadi cepol kaku, dan mulai bekerja.
Srek… srek… srek…
Maya menyiramkan cairan pemutih yang menyengat itu langsung ke atas karpet mahal yang ternoda cairan hitam.
Bau klorin yang sangat tajam seketika memenuhi ruangan, membakar rongga hidungnya. Namun bau klorin itu dengan sukses berhasil menetralkan aroma anyir bangkai yang ditinggalkan makhluk tersebut.
Ia berlutut. Ia menggosok noda di karpet, di lantai parket, dan di sofa kulitnya dengan tenaga kuli yang didorong oleh sisa-sisa kepanikan semalam.
Otot bahunya yang semalam nyaris robek meledak oleh tumor tulang mutasi kini dipaksa bekerja ekstra keras memegang sikat. Ia menggosok lantai hingga tangannya lecet di balik sarung tangan. Hingga napasnya tersengal-sengal di balik masker.
Ia harus menghancurkan setiap jejak keberadaan monster itu sebelum Kiki, supir, atau asistennya datang menjemput.
Selama proses pembersihan yang memakan waktu nyaris dua jam itu, otak Maya tidak berhenti bekerja. Otaknya sibuk menyusun potongan-potongan teka-teki yang semakin kelam.
Makhluk itu tidak muncul untuk membunuhku secara instan. Makhluk itu berbicara padaku. Makhluk itu menuntut ‘dagingnya’ kembali.
“Daging yang kau curi ini akan menuntut pemiliknya kembali.”
Kata-kata iblis itu berputar terus-menerus di kepalanya seperti kaset rusak.
Maya berhenti menyikat. Ia menatap lengannya sendiri yang terbalut sarung tangan karet.
Kulit porselen ini… tekstur sempurna yang kebas ini… kini ia mengerti dengan pasti.
Formula di dalam kotak hitam itu bukanlah sekadar stimulan genetika saintifik. Gel mutiara itu, cairan serum merah itu, dan pasta abu-abu penekan emosi itu… semuanya adalah ekstraksi murni dari penderitaan manusia.
Mungkin, itu adalah ekstrak seluler yang diambil secara paksa dari para wanita malang yang menjadi korban eksperimen gelap di laboratorium. Tubuh mereka diproses, dilebur, dan dijadikan bahan kosmetik cair dengan menelan jiwa pemilik aslinya.
Dan kini… karena ia telah menggunakan seluruh ‘bahan baku’ itu ke dalam tubuhnya secara rakus… jaringan seluler di dalam dirinya terhubung dengan energi kematian dan rasa sakit dari para korban tersebut. Dimensi mereka terbuka.
Ia secara harfiah mengenakan pakaian dan kulit yang dijahit dari kematian orang lain. Tubuhnya adalah sebuah makam berjalan.
Pukul sembilan pagi. Proses pembersihan itu akhirnya selesai.
Karpet bulu domba yang hangus meleleh itu telah ia gulung rapat dan ia masukkan ke dalam kantong sampah hitam besar. Noda di lantai telah ia tutupi dengan menggeser letak karpet meja makan.
Pintu kamar tidurnya yang hancur ia biarkan terbuka lebar. Ia mencabut engselnya agar terlihat seperti kerusakan akibat engsel tua yang terlepas dan jatuh, bukan karena didobrak masuk oleh monster.
Ia telah menyemprotkan seluruh botol parfum ruangan Jo Malone miliknya untuk menutupi bau pemutih klorin dan bau anyir.
Maya berdiri di depan cermin wastafel. Ia melepaskan masker dan sarung tangan karetnya yang menghitam.
Tubuhnya remuk redam. Matanya merah dan menyiratkan kelelahan yang absolut.
Namun… saat ia membasuh wajahnya dengan air dingin dan menatap pantulannya kembali… wajahnya tetap terlihat tanpa dosa. Begitu cantik, begitu simetris, begitu bercahaya layaknya bidadari.
Wujud fisiknya ini sama sekali tidak mencerminkan jiwa yang baru saja selamat dari malam penyiksaan di neraka.
Ponselnya berdering keras dari arah ruang tamu. Itu pasti supir agensi atau Kiki.
Maya menarik napas panjang. Ia menekan segala gejolak traumanya jauh ke dasar palung jiwanya yang telah dimatikan oleh pasta abu-abu.
Ia mengambil alat makeup-nya. Ia memoles sedikit concealer di bawah matanya yang sembap, memakai lipstik merah bata, dan mengenakan blazer elegan berwarna hitam Dior.
Dalam hitungan menit, Maya sang petugas pembersih noda lendir monster telah lenyap. Digantikan secara total oleh Maya sang supermodel papan atas, The Fierce Unknown.
Sosiopati yang lahir dari insting bertahan hidupnya kini telah mencapai tingkat kematangan yang mengerikan. Ia bisa memisahkan teror supranatural dan kehidupannya di depan kamera dengan batas yang sangat tegas.
Maya mengangkat telepon itu sambil berjalan menuju pintu depan.
”Pagi, Kak Kiki. Ya, aku akan turun ke lobi sekarang. Mobilnya sudah standby di bawah, kan?” jawab Maya dengan suara yang mengalir merdu, stabil, tenang.
Sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun celah trauma dari kejadian semalam.
Ia melangkah keluar apartemennya. Mengunci pintu yang menyimpan kengerian itu rapat-rapat, dan berjalan menuju lift. Siap menelan dunia di luar sana.
Dunia di luar sana sangat cerah, bising, dan penuh dengan uang.
Pagi itu, Maya memiliki jadwal pertemuan penting di salah satu kantor cabang bank internasional di kawasan Thamrin. Ia datang untuk menandatangani dokumen pembukaan rekening investasi VVIP-nya dan mengurus beberapa asuransi jiwa premium.
Kiki menemaninya duduk di dalam ruangan kaca direktur bank tersebut.
Sang direktur, seorang pria eksekutif dengan rambut memutih di bagian pelipis dan jam tangan Rolex, melayani Maya layaknya seorang kepala negara. Kopi luwak disajikan dalam cangkir emas, dokumen-dokumen bernilai miliaran rupiah dibentangkan dengan hati-hati.
”Nona Maya, ini adalah draf kontrak pengelolaan dana Anda. Kami dari pihak bank memastikan akan memberikan bunga tertinggi dan keamanan mutlak untuk aset Anda,” ucap direktur itu dengan senyum menjilat.
Maya duduk bersilang kaki. Ia memegang pena merek Montblanc berlapis emas.
Ia mendengarkan penjelasan pria itu dengan saksama. Ekspresinya sangat profesional dan berkelas. Ia tersenyum pada waktu yang tepat, ia mengangguk elegan, dan ia menandatangani tumpukan kertas investasi itu dengan tanda tangan yang sudah ia latih.
Tidak ada satu orang pun di dalam ruangan itu, tidak sang direktur, tidak para asisten yang membawakan map, dan bahkan tidak Kiki yang menyadari apa yang sedang terjadi di kepala sang model.
Mereka tidak menyadari, bahwa gadis yang duduk mempesona di hadapan mereka ini sedang bertarung melawan sisa-sisa halusinasi di sudut matanya.
Setiap kali Maya berkedip terlalu lama, ia masih bisa melihat bayangan cairan hitam yang menetes lambat dari langit-langit ruangan kaca bank tersebut. Namun ia tidak bereaksi sedikit pun. Ia telah mematikan tombol ketakutannya secara sadar.
”Selesai! Wah, resmi sudah artis eike jadi salah satu klien termuda dan terkaya di bank ini!” seru Kiki girang setelah pertemuan berakhir. Kiki menjabat tangan direktur itu.
”Habis ini kita langsung ke lokasi shooting komersial Lumière Merveille, ya May. Hari ini agendanya take di dalam kolam renang yang dipenuhi kelopak mawar putih. Super romantis!”
”Baik, Kak Kiki,” jawab Maya singkat seraya berdiri, merapikan pinggiran blazer-nya dengan anggun.
Perjalanan menuju lokasi syuting komersial kosmetik itu memakan waktu satu jam. Lokasinya berada di sebuah vila mewah bergaya Bali di kawasan pinggiran Jakarta.
Maya menghabiskan waktu di mobil dengan memejamkan mata, memulihkan energi fisiknya. Sementara otaknya terus bekerja keras menyusun strategi.
Aku tidak bisa terus-terusan hidup dalam teror ini, batin Maya.
Ia harus menemukan sumber formula tersebut. Mengingat Randy Adhitama telah membantah secara logis tentang eksistensi obat ajaib itu di meja makan, Maya harus mulai mencari tahu dari arah yang berbeda. Ia harus menyelidiki siapa saja ilmuwan gila atau divisi riset rahasia yang mungkin bekerja secara independen dan ilegal di dalam bayang-bayang perusahaan Lumière Merveille.
Setibanya di lokasi syuting vila, kesibukan industri langsung menelannya bulat-bulat.
Puluhan kru produksi berlarian membawa kabel dan reflektor. Penata gaya memakaikan pakaian renang one piece berwarna putih padanya. Penata rias merapikan riasan waterproof di wajahnya.
Pemotretan di dalam kolam renang dangkal yang dipenuhi ribuan kelopak mawar putih itu sangat menguras tenaga fisik.
Maya harus berpose setengah telentang di dalam air yang cukup dingin. Ia harus menatap kamera raksasa dari atas dengan ekspresi datar namun menggoda. Cahaya matahari siang menyorot tajam tanpa ampun, membakar punggung para kru, namun tidak memberikan efek kepanasan apa pun pada kulit porselen Maya yang kebas.
”Tahan posisinya, Maya! Angkat dagu sedikit! Mata lebih tajam ke arah lensa! Jangan banyak kedip!” teriak sang sutradara dari pinggir kolam memakai toa.
Maya menuruti setiap perintah itu dengan presisi seorang robot Artificial Intelligence.
Di dalam air kolam yang dingin itu, pikirannya justru melayang pada ibunya.
Apakah perawat barunya memberikan makan siang dengan benar hari ini? Apakah Ibu masih menatap pintu menunggunya datang menjenguk? Apakah wanita tua itu benar-benar menganggap bahwa jiwa Maya telah mati?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir deras di benaknya. Namun, berkat sisa efek pasta abu-abu semalam yang masih mengakar di sistem sarafnya, ia tidak merasakan kepedihan yang terlalu dalam hingga ingin menangis. Ia hanya menyadarinya sebagai sebuah fakta statistik yang harus diterima.
”Oke, cut! Sempurna! Bintang kita luar biasa! Istirahat tiga puluh menit untuk setup pencahayaan adegan berikutnya!” seru sutradara, membunyikan peluit kecilnya puas.
Kru langsung bubar untuk mengambil jatah makan siang.
Asisten Kiki segera berlari menghampiri Maya yang berjalan naik menapaki tangga kolam renang. Ia menyampirkan jubah handuk tebal yang hangat ke bahu gadis itu.
”Ini teh hangatnya, Mbak Maya,” tawar asisten itu.
”Makasih. Saya mau istirahat sendiri dulu di trailer,” tolak Maya halus.
Maya berjalan menuju tenda wardrobe dan ruang ganti khusus yang disediakan mewah untuknya di sudut halaman vila.
Ia masuk ke dalam ruang trailer sendirian. Ia mengunci pintu dari dalam, dan membiarkan udara dari kipas pendingin portabel mengeringkan tubuhnya yang basah.
Ia duduk di depan cermin rias berlampu kelap-kelip yang ada di dalam trailer tersebut. Suasana di dalam ruangan kecil itu cukup sepi, hanya terdengar sayup-sayup keributan dan tawa kru dari luar.
Maya membuka jubah handuknya.
Ia memandangi wujud tubuhnya sendiri di cermin. Kulitnya yang basah oleh air kolam renang tampak berkilau sangat sehat, merefleksikan cahaya lampu. Tulang selangkanya sempurna. Punggung kirinya yang semalam nyaris meledak telah kembali rata dan kokoh.
Ia meraih selembar tisu tebal. Ia mulai menepuk-nepuk pelan area wajah, leher, dan bahunya untuk mengeringkan sisa air kaporit.
Namun… saat tangannya turun mengeringkan area perutnya yang rata dan kencang…
Gerakan tangan Maya tiba-tiba terhenti kaku di udara.
Handuk kecil di tangannya terlepas, jatuh ke lantai kayu trailer.
Napas Maya tertahan menyakitkan di kerongkongan.
Ia memajukan tubuhnya perlahan mendekati cermin besar itu. Matanya membelalak kaku, menatap lurus ke arah bayangan perut porselennya.
Di sana…
Tepat di bawah pusarnya, di area perut bagian bawah yang tertutup oleh kain pakaian renang one piece putihnya yang basah… kulitnya tidak rata.
Ada sebuah pergerakan yang sangat, sangat halus dari dalam permukaan perutnya.
Sebuah denyutan kecil yang bergerak menekan kulit dari dalam.
Dug…
Maya mematung. Itu bukan denyut jantungnya. Detak jantungnya berpusat di rongga dadanya, dan jantungnya sedang berdegup dengan ritme yang sangat cepat karena panik.
Denyutan di perut bagian bawahnya ini memiliki ritme yang sepenuhnya berbeda.
Ritme itu jauh lebih lambat. Lebih konstan. Lebih dalam.
Dug… dug…
Maya menelan ludah. Keringat dingin merembes deras dari pori-pori dahinya.
Tangan kanannya yang bergetar hebat perlahan terulur ke bawah. Jari-jari porselennya yang lentik menyentuh permukaan kulit perutnya sendiri. Ia menekannya dengan sangat lembut.
Kulit porselennya yang selama ini tebal, kebas, dan mati rasa terhadap sentuhan luar, entah bagaimana… mampu menghantarkan sebuah getaran dari dalam jaringan otot modifikasinya.
Ada sebuah ritme kehidupan yang berdenyut pelan, tersembunyi di bawah berlapis-lapis sel buatan tersebut.
Sebuah detak jantung kedua.
Maya menahan napasnya hingga wajahnya memucat bagai kertas. Ia menekan perutnya sedikit lebih dalam menggunakan tiga jarinya.
Di balik tangannya… ia bisa merasakan dengan sangat jelas.
Ada sesuatu yang empuk, basah, dan memiliki masanya sendiri, bergeser pelan menanggapi tekanan jarinya. Sesuatu di dalam rahim daging transmutasinya itu sedang bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman.
Sesuatu itu… hidup.
Kengerian yang memutarbalikkan seluruh konsep akal sehat, menghantam sisa-sisa kewarasan Maya layaknya ledakan bom nuklir.
Daging yang ia pahat dengan susah payah menggunakan gel mutiara ini… bukanlah sekadar sel-sel mati yang dihidupkan kembali layaknya operasi plastik.
Anatomi baru yang ia paksakan terbentuk di tubuhnya… ternyata menyimpan sebuah embrio parasit.
Benjolan tumor tulang di punggungnya kemarin malam, ternyata hanyalah sebuah awal mutasi. Kini… sel-sel iblis korban eksperimen itu telah berkumpul, memadat, menyatu dengan rahimnya, dan mulai merangkai sebuah entitas kehidupan yang baru di dalam tubuhnya.
Maya… hamil.
Hamil oleh daging, kutukan, dan penderitaan dari wanita-wanita mati yang menjadi korban eksperimen Lumière Merveille.
Dan entitas parasit yang tumbuh di dalam perutnya itu, kini mulai mengambil alih fungsi tubuhnya dari dalam. Menyerap nutrisi, darah, dan nyawanya perlahan-lahan untuk membentuk wujud aslinya.
Di dalam trailer mewah yang terang benderang itu, di puncak kesuksesan dan kekayaan lima miliarnya yang nyaris tanpa batas… Maya berdiri mematung menatap cermin.
Gadis itu menyadari fakta terakhirnya. Bahwa kematiannya kini bukan lagi datang dari monster yang mengetuk pintu atau mengawasinya dari cermin.
Kematiannya… sedang tumbuh berkembang dengan sangat subur di dalam rahimnya sendiri.