Waktu di dalam trailer mewah itu seakan berhenti berdetak. Membeku bersamaan dengan aliran darah di sekujur tubuh Maya.
Suara baling-baling kipas pendingin udara yang tadinya terdengar monoton, kini lenyap dari kesadarannya. Digantikan oleh sebuah dengungan statis yang sangat tajam di telinganya sendiri.
Maya berdiri kaku di depan cermin rias yang terang benderang.
Kedua tangannya masih menempel, gemetar hebat, di atas permukaan perut bagian bawahnya yang tertutup kain pakaian renang one piece berwarna putih basah.
Dug… dug…
Denyutan itu terjadi lagi.
Sangat pelan. Sangat konstan. Dan luar biasa dalam. Seolah ritme itu tidak berasal dari lapisan ototnya, melainkan dari kedalaman rahimnya.
Sensasi itu sama sekali tidak terasa seperti kedutan otot biasa akibat kelelahan berolahraga di dalam air dingin. Ini adalah sebuah pergerakan ritmis yang memiliki intensionalitas.
Sesuatu di balik lapisan kulit porselen dan otot perutnya sedang bernapas. Sesuatu itu sedang berevolusi, membelah diri, dan mengklaim ruang di dalam anatominya secara paksa.
Maya menelan ludah yang kini terasa seperti menelan serpihan silet berkarat.
Matanya membelalak sangat lebar. Pupil matanya mengecil, memancarkan sebuah teror primal yang tak bisa lagi dijabarkan oleh kosakata bahasa manusia.
Itu bukan janin manusia, jerit nalar Maya yang tersisa.
Ia belum pernah disentuh oleh pria mana pun seumur hidupnya, apalagi melakukan hubungan intim. Dan secara hukum biologis mana pun, sebuah janin manusia tidak akan menunjukkan tanda-tanda pergerakan yang bisa diraba dari luar hanya dalam kurun waktu satu malam.
Apa yang sedang bersarang dan hidup di rahimnya ini… adalah sesuatu yang jauh lebih gelap.
Sebuah tumor kehidupan.
Sebuah embrio parasit yang tercipta dari akumulasi sel-sel mati, jeritan penderitaan, dan daging transmutasi yang ia paksa menyatu semalam suntuk demi sebuah kesempurnaan.
Kengerian yang menginvasi mimpinya tadi malam, rupanya tidak hanya merusak pintu apartemennya. Entitas iblis itu telah menanamkan benih kutukannya langsung ke dalam pusat kehidupan rahim Maya.
”Tidak… tidak mungkin… kumohon, jangan begini…” racau Maya.
Suaranya nyaris tak terdengar, pecah oleh keputusasaan yang absolut. Air mata kepanikan mulai menggenang, lalu jatuh membasahi pipi porselennya yang dingin.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menekan perutnya sedikit lebih keras. Ia mencoba mencari tahu secara fisik seberapa besar massa benda asing tersebut.
Begitu jemarinya menekan lebih dalam ke arah bawah pusarnya… sesuatu di dalam sana bereaksi.
Benda empuk dan kenyal itu menggeliat pelan di dalam dagingnya. Seolah makhluk itu merasa terganggu oleh tekanan tangan Maya dari luar.
Lalu… entitas itu memberikan sebuah tendangan balik yang sangat, sangat halus ke arah telapak tangan Maya.
Sebuah respons kesadaran dari makhluk yang hidup.
”KYAAAA!!”
Maya menjerit tertahan. Ia langsung menarik tangannya dengan kasar seolah ia baru saja menyentuh inti bara api yang menyala.
Kakinya seketika lemas kehilangan tulang. Ia terhuyung mundur dengan langkah terseret hingga punggungnya menabrak pintu trailer.
Maya merosot jatuh terduduk di atas lantai karpet yang tebal. Ia memeluk kedua lututnya dengan sangat erat. Tubuh kurusnya berguncang hebat oleh isakan tangis histeris yang harus ia tahan di tenggorokannya agar tak terdengar oleh para kru di luar sana.
Bencana biologis ini telah melampaui segala skenario ketakutan yang pernah ia bayangkan.
Jika benda iblis ini terus tumbuh dan membesar setiap malam, perutnya akan membuncit layaknya wanita hamil sembilan bulan. Ia tidak akan bisa lagi mengenakan pakaian desainer yang ketat. Ia tidak akan bisa berjalan di atas catwalk tanpa dicurigai.
Kariernya yang bernilai miliaran rupiah akan hancur lebur sebelum sempat ia nikmati. Media akan memberitakan skandal kehamilan di luar nikah seorang supermodel.
Atau yang lebih buruk lagi skenarionya… jika perutnya membesar dan ia dibedah di meja operasi rumah sakit, para dokter tidak akan menemukan bayi manusia. Mereka akan menemukan seekor monster daging yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu medis manapun di dunia. Ia akan dijadikan kelinci percobaan.
”Aku harus menghentikannya… aku harus membunuhnya malam ini juga sebelum dia membesar,” bisik Maya pada dirinya sendiri dengan suara yang bergetar.
Ia mendongak. Sorot matanya yang dipenuhi air mata dan ketakutan kini perlahan-lahan berubah. Berubah menjadi tatapan sangat gelap dari seorang wanita yang dipojokkan oleh maut dan bersedia melakukan apa saja untuk hidup.
Sisi sosiopatnya. Insting bertahan hidup buas yang telah menyelamatkannya dari kerasnya basement mal dan teror apartemen semalam, kini kembali mengambil alih kemudi otaknya.
Ia tidak boleh hancur sekarang. Ia punya ibu yang harus dibiayai di ICU. Ia punya tagihan dan janji miliaran yang harus ia lindungi dan ia kejar.
Maya merangkak dengan cepat menuju tas clutch besar yang ia bawa dari apartemennya pagi tadi.
Tangan porselennya merogoh ke dalam tas tersebut secara serampangan. Ia membuang ponsel mahalnya, lipstik desainer, dan dompet kulitnya ke lantai trailer.
Hingga akhirnya, jemari dinginnya menyentuh permukaan matte dari kotak hitam tersebut.
Sejak kejadian semalam, Maya sengaja membawa kotak iblis itu ke mana pun ia pergi sekarang.
Ia tidak berani lagi meninggalkannya di apartemen. Ia terlalu takut jika efek withdrawal atau mutasi tiba-tiba menyerangnya di tengah lokasi syuting. Dan ia juga takut jika makhluk yang meleleh di apartemennya itu kembali datang dan menghancurkan kotak tersebut saat ia pergi.
Maya menarik kotak hitam itu keluar. Ia meletakkannya di atas meja rias, lalu membuka segel magnetiknya dengan gerakan kasar. Klik.
Tatapannya langsung menukik tajam, tertuju pada jar kaca terkecil di sudut kotak beludru itu.
Wadah pipih yang berisi pasta abu-abu gelap. Pasta yang teksturnya seperti campuran semen basah dan abu kremasi orang mati. Pasta yang sama yang telah berhasil membungkam dan membunuh tumor tulang raksasa di punggungnya tadi malam.
Logika putus asa Maya mulai merangkai benang merah.
Jika pasta ini bisa menekan hiper regenerasi sel di punggungku, mematikan rasa sakit dan membekukan mutasi tulang… maka secara teori, pasta ini juga pasti bisa menghentikan atau setidaknya membekukan parasit yang sedang membelah diri di perutku ini.
Dengan tangan yang masih gemetar parah, Maya memutar tutup perak jar kecil itu. Sssshhh.
Aroma debu kuburan yang mati dan hampa seketika menguar. Aroma itu menyebar, langsung menetralkan wangi tajam klorin dari air kolam yang menempel di tubuhnya.
Maya meraih ujung spatula obsidiannya. Ia menunduk menatap isi jar kelabu tersebut.
Hatinya kembali mencelos. Perutnya melilit.
Saat ia menggunakan pasta ini untuk meredakan tumor punggungnya semalam, ia telah mengambil sebuah gumpalan yang cukup besar karena panik. Kini… pasta abu-abu berharga itu hanya tersisa sangat sedikit. Hanya berupa lapisan tipis yang menempel di dasar kaca. Volume yang tersisa mungkin hanya akan cukup untuk dua atau tiga kali pemakaian darurat berskala kecil di masa depan.
Setiap kali ia berusaha menyelamatkan nyawanya dan menutupi cacatnya, ia selalu dihadapkan pada batas akhir dari “bahan bakar” kutukannya yang semakin menipis.
Tanpa ragu lebih lama, Maya menyendok pasta abu-abu itu secukupnya menggunakan ujung spatula.
Ia berdiri tegak. Ia menurunkan tali dan bagian atas pakaian renang one piece putihnya hingga sebatas panggul. Mengekspos perutnya yang rata secara sempurna di depan cermin.
Maya menatap perutnya sendiri. Dari luar, tidak ada yang terlihat salah. Kulitnya mulus, kencang, dan putih layaknya manekin. Namun, detak jantung kedua dari embrio parasit itu masih berdenyut ritmis menekan dagingnya dari baliknya. Dug… dug…
Dengan napas yang tertahan di kerongkongan, Maya menekankan spatula obsidian berisi pasta abu-abu itu tepat ke atas kulit perut porselennya. Sejajar dengan posisi rahimnya.
Sama persis seperti reaksi semalam, tidak ada rasa sakit kriogenik atau sensasi luka bakar.
Begitu pasta berwarna kematian itu menyentuh pori-porinya, sebuah kekosongan absolut dan hawa dingin yang luar biasa menenangkan langsung meresap ke dalam jaringan otot dan rahimnya. Pasta itu tidak memudar, melainkan menyebar bagaikan akar-akar pohon berwarna hitam kelabu di bawah kulit porselennya. Bergerak memeluk dan mengunci area perut bawahnya.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Ia meresapi reaksi kimia gaib yang terjadi di dalam tubuhnya.
Pasta abu-abu itu bertindak seperti obat bius dosis tinggi yang dirancang khusus untuk mematikan sel-sel mutasi kehidupan. Maya bisa merasakan hawa dingin absolut dari pasta itu menembus masuk lapisan lemaknya. Hawa dingin itu menyelimuti massa daging empuk yang berdenyut hidup di dalam perutnya.
Benda di dalam sana meronta pelan.
Sebuah kedutan panik dan memberontak terasa menendang di telapak tangan Maya yang memegangi perutnya.
Namun, perlawanan hidup embrio itu hanya berlangsung sangat singkat. Hawa kematian dan kehampaan dari pasta abu-abu itu terlalu kuat. Pasta itu mencekik dan mengalahkan energi kehidupan parasit tersebut.
Perlahan-lahan, denyutan dug… dug… yang konstan itu mulai melambat. Iramanya semakin pelan, semakin lemah, semakin redam… dan akhirnya… berhenti total.
Keheningan absolut kembali mengambil alih anatomi perut Maya.
Tidak ada lagi pergerakan. Tidak ada lagi kedutan daging. Tidak ada lagi detak jantung kedua. Parasit itu telah ditekan paksa ke dalam fase dorman yang panjang di dalam rahimnya. Atau mungkin, Maya sangat berharap dengan putus asa, embrio itu telah dibunuh dan terurai kembali menjadi jaringan darah mati.
Bercak akar abu-abu di kulit perutnya perlahan memudar. Meresap ke dalam, dan menyatu kembali dengan warna porselennya, tidak meninggalkan bekas apa pun di permukaan.
Maya menyandarkan kedua tangannya yang lemas di tepi meja rias. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Gadis itu membuang napas panjang yang terdengar seperti rintihan angin malam.
Ia selamat lagi. Setidaknya untuk beberapa minggu ke depan, benda keparat itu tidak akan bisa membelah diri dan tumbuh membesar.
Namun, di saat yang bersamaan, efek samping mengerikan dari pasta abu-abu itu kembali bekerja menyusup ke otaknya.
Rasa hampa yang mematikan saraf emosinya merayap naik ke dadanya dengan cepat. Rasa panik, rasa ngeri akan memiliki anak monster, dan sisa-sisa tangisannya… menguap begitu saja ke udara tanpa bekas.
Otaknya kembali menjadi luar biasa dingin, rasional, dan kalkulatif.
Rasa empatinya mati. Maya kembali bertransformasi menjadi sebuah manekin tanpa perasaan yang siap melanjutkan pekerjaannya di depan kamera, seolah ia baru saja minum vitamin dan tidak pernah terjadi apa-apa di dalam trailer ini.
Tok… tok… tok.
”Maya? Kamu di dalam, Sayang? Waktu istirahat udah mau habis, nih!”
Suara panggilan Kiki terdengar menyela dari luar, bersamaan dengan ketukan pelan di pintu trailer.
Maya mengangkat kepalanya. Matanya yang tadi memerah karena menangis ketakutan, kini kembali terlihat datar, jernih, dan setajam elang.
Ia menarik kembali pakaian renang putihnya hingga menutupi dada dan bahunya, memastikan semuanya rapi tanpa lipatan. Ia mengambil selembar tisu. Ia membersihkan sisa maskara waterproof yang sedikit luntur di sudut matanya, dan memoles ulang lipstik merahnya dengan gerakan presisi tak bergetar.
”Iya, Kak Kiki! Aku keluar sekarang!” balas Maya.
Nada suara yang keluar dari mulutnya terdengar ceria, merdu, dan penuh energi artifisial.
Ia memasukkan kotak hitamnya kembali ke dalam tas clutch, meresletingnya dengan aman. Ia membuka kunci pintu trailer dan melangkah keluar dengan anggun, menyambut teriknya cahaya matahari siang dengan senyuman Brand Ambassador yang paripurna.
Suasana di area kolam renang vila mewah itu terlihat semakin sibuk dan bising.
Matahari telah bergeser sedikit ke arah barat, memberikan pencahayaan alami (golden hour) yang sangat dramatis dan sempurna untuk pengambilan gambar komersial bernuansa glamor.
Maya kembali masuk ke dalam kolam renang dangkal yang permukaannya dipenuhi oleh ribuan kelopak mawar putih.
Air kaporit itu terasa semakin dingin menerpa kulitnya, namun jaringan porselennya sama sekali tidak bereaksi menggigil. Ia berpose dengan profesionalitas tingkat tinggi yang membuat seluruh kru produksi di pinggir kolam menggeleng-gelengkan kepala karena takjub.
Tidak ada keluhan lelah. Tidak ada permintaan jeda. Maya memutar tubuhnya perlahan di dalam air, menatap lensa kamera crane di udara dengan tatapan yang menghipnotis. Ia memancarkan sebuah aura dominasi absolut yang sukses membungkam siapa pun yang melihatnya.
Sutradara di pinggir kolam terus meneriakkan instruksi dengan antusias melalui megafonnya.
”Bagus banget, Maya! Tahan dagunya sedikit ke atas! Tangannya bermain dengan air, ya… cipratkan sedikit! Mata lebih membunuh! Perfect!”
Di tengah keriuhan arahan dan jepretan lampu flash itu, Maya sedang melakukan pose setengah telentang, membiarkan rambutnya mengambang di air, dengan mata menatap sayu nan tajam ke arah kamera.
Namun… di detik berikutnya…
Sebuah keheningan yang sangat ganjil dan mencekam tiba-tiba merambat masuk dari arah pintu gerbang utama area kolam renang tersebut.
Satu per satu, suara kru mulai menghilang.
Asisten penata cahaya berhenti menggeser layar pantul. Penata rias yang biasanya mengobrol sambil menata kuas ikut bungkam. Bahkan sutradara yang cerewet itu… perlahan-lahan menurunkan megafonnya dari mulutnya, tak berani mengeluarkan suara.
Di area itu, kini hanya terdengar bunyi mekanis shutter kamera yang dikendalikan oleh asisten fotografer, dan suara gemericik air kolam akibat gerakan pelan tubuh Maya.
Maya, yang menyadari perubahan atmosfer ekstrem yang mematikan itu, tidak mematahkan posenya. Ia tetap terlihat profesional. Ia hanya melirik tipis dari sudut matanya ke arah kerumunan kru di daratan.
Di sana… para kru dan asisten telah membelah diri.
Mereka menyingkir dengan cepat, memberikan sebuah jalan kosong (aisle) yang sangat lebar. Perilaku mereka bak barisan prajurit yang menyambut seorang raja tirani yang baru saja turun dari takhta berdarahnya.
Melangkah menyusuri jalan kosong di pinggir kolam itu, dengan postur yang luar biasa tegap, mengintimidasi, dan memancarkan karisma yang membekukan udara di sekitarnya… adalah Randy Adhitama.
Miliarder muda itu tidak seharusnya berada di sini siang ini.
Kiki tadi pagi di dalam mobil dengan sangat jelas mengatakan bahwa bos besar mereka itu sedang terbang menggunakan jet pribadi ke Singapura untuk urusan bisnis penting. Namun kenyataan visual yang ada di depan mata membantahnya. Randy berada di lokasi syuting ini.
Pria itu mengenakan pakaian yang sedikit berbeda dari gaya necis full suitnya yang biasa.
Ia tidak mengenakan jas lengkap. Ia memakai kemeja lengan panjang berbahan sutra berwarna hitam pekat. Tiga kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit bidang dadanya yang tegas dan maskulin. Lengan kemejanya digulung asal namun elegan hingga sebatas siku. Celana bahannya berwarna abu-abu gelap, dipadukan dengan sepatu loafers kulit senada tanpa kaus kaki.
Penampilan Randy terlihat sedikit kusut.
Namun, itu adalah sebuah kekusutan mahal dan memikat dari seseorang yang baru saja menghabiskan waktu berjam-jam di dalam jet pribadi, dan langsung meluncur menerjang kemacetan ke tempat ini tanpa sempat mampir ke hotel.
Kiki, yang wajahnya seketika pucat pasi melihat bos besarnya, buru-buru berlari kecil menghampiri Randy sambil membungkuk sangat sopan.
”B-Bos Randy! Selamat sore” sapa Kiki dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan. “K-kami kira Boss masih meeting di Singapura… ada hal mendesak yang bisa kami bantu? Apakah hasil laporan progres paginya ada yang salah?”
Kiki khawatir jika kedatangan bosnya yang sangat mendadak ini adalah untuk menginspeksi dan memecat seseorang di lokasi.
Randy tidak menoleh sedikit pun untuk menatap Kiki.
Sepasang mata elang sang miliarder, yang sedingin dasar palung laut itu, lurus terkunci secara absolut pada satu-satunya objek yang bergerak dengan anggun di tengah kolam renang, yaitu Maya.
”Aku mempercepat penyelesaian pertemuanku di Marina Bay, dan langsung terbang kembali ke Jakarta siang ini juga,” suara husky Randy mengalir pelan.
Suaranya tenang, tanpa intonasi marah, namun memiliki daya gema berat yang membuat semua kru di sekitarnya menahan napas.
”Aku ingin melihat secara langsung… bagaimana aset investasiku bekerja di lapangan, Kiki,” lanjut Randy, matanya masih menatap Maya. “Jangan pedulikan aku. Lanjutkan syutingnya seperti biasa.”
Meski sang miliarder menyuruh mereka melanjutkan dengan tenang, kehadirannya menciptakan teror tersendiri. Kehadiran sosok Randy membuat seluruh kru bekerja dalam tekanan performa yang mengerikan.
Sutradara menelan ludah. Ia kembali mengangkat megafonnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
”A-ayo semuanya, kembali ke posisi! Maya, kita take sekali lagi untuk adegan air ini! Action!”
Maya menelan ludah di dalam air kolam.
Kehadiran fisik Randy Adhitama adalah satu-satunya hal di dunia ini yang bisa menembus dinding kekosongan emosional yang diciptakan oleh pasta abu-abu di otaknya.
Tatapan mata pria itu terasa seperti bilah pisau bedah es yang sedang memotong lapisan pertahanan mental porselen Maya, selapis demi selapis.
Namun, Maya menolak keras untuk terlihat lemah dan tunduk.
Ia mengingat kembali janji manis dan memabukkan yang diucapkan pria itu semalam di meja makan rahasia mereka. Wanita paling tak tersentuh di benua Asia.
Maya kembali memutar kepalanya menatap kamera crane. Ia memasukkan semua elemen keindahan, dominasi, dan arogansi porselennya ke dalam satu pose mematikan.
Ia mengangkat sebelah lengan mulusnya dari dalam air, membiarkan butiran air menetes pelan menyusuri kulit porselennya yang berkilau layaknya embun di atas kaca.
Lalu… Maya menatap lurus menembus lensa kamera, memicingkan matanya. Ia mengarahkan tatapan ‘killer‘ yang menggoda sekaligus mematikan itu, secara tidak langsung, tepat kepada sang miliarder yang berdiri mengawasinya di pinggir kolam.
Itu adalah sebuah tantangan bisu. Sebuah unjuk kekuatan visual kelas tinggi yang seolah mengatakan “Lihatlah mahakarya mematikan yang kau miliki sekarang.”
Di pinggir kolam, Randy berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kainnya.
Saat Maya melemparkan tatapan mematikan itu ke arahnya, sudut bibir Randy perlahan melengkung naik. Membentuk sebuah senyum tipis yang sangat, sangat minim. Sebuah apresiasi diam, penuh rasa memiliki yang arogan, yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang paling teliti di lokasi itu.
”Selesai! Wrap! Bungkus semuanya untuk set ini!” teriak sutradara dengan nada kelegaan yang luar biasa setelah memastikan hasil rekamannya sempurna di layar monitor. “Kerja yang sangat fantastis, Maya! Istirahat semuanya, bersiap untuk set kering!”
Maya mendesah pelan, menurunkan posenya.
Air kolam yang tingginya sebatas dadanya tiba-tiba terasa sedikit lebih berat dan lengket saat ia melangkah menuju tepi tangga kolam.
Asisten Kiki sudah bersiap memegang jubah handuk tebal di pinggir kolam. Namun, sebelum asisten wanita itu sempat melangkah maju ke arah tangga…
Randy mengangkat tangannya sedikit. Ia memberikan sebuah isyarat tanpa suara. Gestur sederhana itu membuat asisten tersebut seketika mundur pucat dan membeku kaku di tempatnya.
Bahkan Kiki pun terdiam, tak berani bernapas terlalu keras saat melihat bos miliardernya melangkah perlahan. Randy mendekati tepi kolam renang, dan berhenti tepat di titik di mana Maya akan menaiki tangga.
Suasana kembali menjadi sunyi senyap.
Puluhan kru pura-pura sibuk merapikan kabel, merapikan lampu, atau mengecek lensa. Namun mata mereka semua secara sembunyi-sembunyi mencuri pandang ke arah drama romantis yang sedang terjadi di tepi kolam tersebut.
Maya mencengkeram palang tangga besi kolam renang yang dingin.
Ia melangkah naik inci demi inci, membiarkan air jatuh dari tubuh dan pakaian renang one piecenya. Rambut hitamnya yang panjang basah menempel di punggungnya.
Saat ia selesai menjejakkan kaki tanpa alasnya di atas ubin marmer pinggir kolam, Randy sudah berdiri tepat di hadapannya. Menjulang tinggi bagaikan bayangan hitam gagah yang menghalangi cahaya matahari sore dari wajah Maya.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Air menetes dari ujung pakaian renang putih Maya, jatuh tepat ke atas sepatu kulit mahal yang dikenakan Randy. Namun pria itu sama sekali tidak memedulikan sepatunya yang kotor.
Randy menundukkan wajahnya, mengunci pandangan mata Maya.
Ia memandangi kulit porselen gadis itu yang basah dan secara memukau memantulkan cahaya golden hour matahari. Mata pria itu menyusuri lekuk leher Maya, turun menatap tulang selangkanya yang menonjol elegan, dan berhenti sejenak di wajahnya yang masih memancarkan aura keangkuhan.
”Laporan progres dari sutradara yang masuk ke email-ku mengatakan… kau belum beristirahat selama lima jam penuh berendam di dalam air dingin ini,” ucap Randy.
Nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti seorang CEO yang sedang mengevaluasi jam kerja. Melainkan, terdengar seperti sebuah teguran halus yang mengandung nuansa protektif dan otoritas yang sangat kental.
”Itu sudah menjadi tuntutan profesional dari nilai kontrak fantastis yang Anda berikan kepada saya, bukan?” jawab Maya dengan sangat berani. Ia sama sekali tak memutus kontak mata yang membakar itu. “Saya hanya bekerja keras untuk memastikan investasi mahal Anda pada saya… tidak terbuang sia-sia siang ini.”
Sebuah dengusan tawa pelan dan sangat berat lolos dari hidung Randy.
Pria itu rupanya sangat menyukai pembangkangan kecil di dalam jawaban Maya. Di dunia Randy, semua wanita dari kalangan sosialita hingga artis papan atas, akan menunduk, mengangguk, dan mengiyakan apa pun yang ia katakan demi mencari secuil perhatian dan uangnya.
Maya adalah satu-satunya entitas di sekitarnya yang berani menatapnya balik dengan intensitas ego yang setara.
Tanpa memutuskan kontak mata yang mengunci itu, Randy perlahan melepaskan kancing lengan kemeja hitam yang ia kenakan.
Ia melonggarkan gulungan lengannya. Membuka sisa kancing di dadanya dengan gerakan yang luar biasa maskulin dan elegan. Lalu, ia melepaskan kemeja sutra mahal itu sepenuhnya dari tubuhnya, tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang menonton.
Di balik kemeja sutra itu, Randy hanya mengenakan sebuah undershirt berwarna hitam ketat. Kaos itu mencetak dengan jelas otot perut dan bidang dadanya yang sangat proporsional. Beberapa kru wanita di kejauhan tanpa sadar menahan napas dan saling mencubit melihat pemandangan alpha male tersebut.
Randy melangkah maju satu tindak. Ia mengikis sisa jarak di antara mereka berdua hingga hidung Maya nyaris menyentuh bidang dadanya.
Pria itu mengangkat kemeja hitam mahalnya yang masih menyimpan suhu panas tubuhnya. Ia menyampirkan kemeja itu dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, menutupi punggung dan bahu Maya yang basah kedinginan.
Sentuhan kain kemeja sutra yang tebal dan hangat itu membelai kulit porselen Maya.
Aroma parfum musk maskulin, vetiver, dan wangi khas seorang Randy Adhitama yang berkelas tinggi… seketika membungkus tubuh Maya, mengusir bau bahan kimia kaporit dari air kolam.
”Investasi yang sangat berharga… tidak seharusnya dibiarkan membeku sendirian di pinggir kolam renang setelah memberikan sebuah mahakarya pada lensa kamera, Maya,” bisik Randy. Suaranya serak tertahan.
Tangannya yang besar dan kokoh dengan sangat lembut merapatkan ujung kerah kemejanya di depan dada Maya, memastikan bahu dan dada gadis itu tertutup rapat dari angin sore.
Selama proses romantis itu berlangsung, buku-buku jari hangat Randy tanpa sengaja bersentuhan tipis dengan kulit basah di area leher dan tulang rahang Maya.
Sebuah getaran aneh, setruman statis, merambat di seluruh sistem saraf Maya akibat sentuhan kecil tersebut.
Itu bukanlah getaran karena jatuh cinta pada pandangan pertama layaknya drama picisan.
Melainkan… itu adalah reaksi biologis yang jauh lebih misterius dan gila. Saat kemeja Randy membungkus tubuhnya, dan aroma maskulin pria itu mendominasi penciumannya… Maya tiba-tiba merasakan sebuah ketenangan yang sangat ganjil menembus hingga ke dasar selnya.
Pasta abu-abu di dalam perutnya, yang tadi siang ia gunakan untuk menidurkan tumor parasitnya dengan paksa… terasa bereaksi.
Hawa dingin dari pasta itu seolah menyerap energi kehidupan dari kehangatan kemeja Randy. Atau mungkin, pasta itu menyerap feromon pria itu sendiri, menciptakan sebuah dinding penstabil seluler yang jauh lebih tebal, lebih kokoh, dan lebih nyaman di dalam anatomi modifikasi Maya.
Rasa mual yang sempat menghantui, rasa takut akan parasit di perutnya, dan ancaman pembusukan daging yang selalu mengintai pikirannya di siang bolong… perlahan-lahan surut tak bersisa.
Di dekat pria ini, di bawah perlindungan mutlak dari aromanya… kutukan biologis Maya terasa jinak.
Seolah-olah, sel-sel daging transmutasi yang liar di dalam tubuhnya… mengenali otoritas absolut dari pria ini. Dan sel-sel iblis itu memilih untuk tunduk, patuh, dan berhibernasi dengan damai di dekat penciptanya.
Maya menatap rahang Randy dengan mata yang sedikit melebar, menyadari fenomena biologis yang tak masuk akal ini.
Apakah kehadirannya secara fisik bisa menstabilkan kutukan di dalam tubuhku? batin Maya berteriak mencari jawaban. Apakah ini alasannya dia terlihat tidak peduli dengan efek samping kutukan ini semalam di meja makan, karena tubuhnya sendiri secara alami memancarkan penawar biologis bagi daging ini? Ataukah ini hanya sekadar sugesti psikologisku belaka karena dia berjanji akan melindungiku?
Apa pun jawaban saintifiknya, Maya menyadari satu hal yang bersifat mutlak sore ini.
Ia tidak hanya sekadar membutuhkan uang dari kontrak miliarder ini untuk hidup kaya. Secara biologis dan emosional, jaringan tubuh mutasinya mulai membutuhkan keberadaan fisik pria ini untuk bertahan waras dari kutukan yang menggerogotinya. Ia telah terikat pada Randy Adhitama dengan rantai biologi tak kasat mata, yang ikatan simpulnya jauh lebih kuat dari selembar kertas kontrak perusahaan.
”Tanganmu sangat dingin, Maya. Bahkan bibirmu sedikit pucat kedinginan,” ucap Randy.
Pandangan mata tajam pria itu melembut. Ia menyadari bahwa di balik sikap menantang dan keras kepala gadis porselen itu, ada kelelahan fisik murni yang tak bisa disembunyikan dari air kolam.
”Syuting hari ini selesai. Ganti pakaianmu. Aku akan membawamu pulang sekarang,” titah Randy.
Maya tidak menolak. Ia memegang erat ujung kemeja hitam itu di depan dadanya, meresapi dan menghirup sisa kehangatan tubuh Randy yang meresap menenangkan pori-porinya.
”Kak Kiki yang mengurus jadwalku dan transportasiku hari ini, Randy,” jawab Maya pelan. Nada defensif angkuhnya telah lenyap, digantikan oleh sebuah kepatuhan terselubung yang sangat halus.
Randy tidak membalas ucapan Maya.
Pria itu hanya menolehkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah Kiki yang masih berdiri membeku dengan wajah pucat di dekat tenda wardrobe.
Tatapan itu tidak memuat ancaman fisik yang kasar, namun mengandung otoritas mutlak yang tak terbantahkan oleh makhluk mana pun di tempat itu.
”Kiki,” panggil Randy dengan volume suara yang tidak keras, namun cukup berwibawa untuk membelah jarak mereka di pinggir kolam.
”Urus semua perlengkapan Maya dan selesaikan sisa urusan administrasi take hari ini dengan sutradara,” perintah Randy. “Maya akan pulang bersamaku menggunakan mobilku. Dan dengarkan ini baik-baik… batalkan semua agenda makan malam atau undangan party sosialita untuknya minggu ini. Dia butuh istirahat total, bukan dijadikan pameran sirkus untuk kolega-kolegamu.”
Kiki langsung mengangguk patuh berkali-kali. Pria stylist itu mengiyakan perintah sang bos tanpa berani mendebat atau beralasan sedikit pun.
”B-baik, Bos Randy! Siap! Laksanakan segera perintahnya! Have a safe and beautiful trip, Maya Sayang!”
Randy kembali menatap Maya. “Ayo. Mobilku menunggu di depan gerbang.”
Maya melangkah tanpa alas kaki, mengikuti di sebelah pria itu, meninggalkan area kolam renang yang mendadak hening.
Ia berjalan perlahan melintasi puluhan kru yang menatapnya dengan campuran rasa iri hati, takjub, dan rasa hormat yang mendalam. Para kru itu semua menjadi saksi mata tak bersuara, melihat bagaimana seorang CEO miliarder yang terkenal tak punya hati dan sedingin es, baru saja melepas kemeja sutranya dan mengorbankan waktu bisnisnya yang berharga hanya untuk memastikan seorang model baru tidak kedinginan.
Di mata dunia dan infotaiment, adegan itu adalah sebuah epik romantis yang keluar dari halaman negeri dongeng. Menghidupkan rumor ‘Cinderella’ baru di ibu kota.
Namun di dalam mata dan pikiran Maya… tindakan protektif itu adalah awal dari sebuah paku ketergantungan yang luar biasa mengerikan.
Setengah jam kemudian.
Mobil SUV mewah antipeluru berlapis baja milik Randy melaju dengan sangat tenang di atas aspal jalan tol ibu kota. Jalanan mulai lengang karena menjelang pergantian malam.
Kaca mobil yang sangat gelap total memisahkan mereka berdua dari pandangan dunia luar yang bising. Di bagian depan kabin, terdapat partisi kaca buram kedap suara tebal yang diangkat, membatasi area penumpang belakang dengan supir pribadi Randy. Fitur itu menciptakan sebuah ruangan berjalan yang sangat privat, tertutup, dan luar biasa intim di kabin belakang.
Maya duduk di sebelah kiri. Ia masih mengenakan kemeja sutra hitam milik Randy yang kini telah ia kancingkan rapat untuk menutupi pakaian renangnya yang basah. Sementara gaun kasualnya yang disiapkan oleh agensi Kiki, terlipat rapi di dalam tas belanja di kursi depan.
Aroma musk di dalam kabin mobil yang tertutup ini semakin pekat terhirup. Aroma itu bekerja bak obat penenang, menenangkan segala gejolak mutasi sel di dalam perut dan punggungnya sepenuhnya. Parasit di rahimnya kini benar-benar tertidur pulas dalam kegelapan.
Randy duduk di sebelahnya.
Pria itu menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi kulit mahal dengan mata terpejam. Postur tubuhnya menunjukkan sisa-sisa kelelahan akibat terbang di atas awan, setelah meeting internasionalnya yang tak ia tunjukkan pada siapa pun di luar sana.
Hanya dengan mengenakan kaus dalam hitam ketat yang mempertegas otot dadanya, pria itu terlihat sangat maskulin, memancarkan dominasi yang mengisi penuh ruang sempit kabin tersebut.
Hening.
Namun keheningan di dalam SUV ini terasa sangat berbeda dengan keheningan mencekam di ruang makan VIP tempo hari. Keheningan di dalam mobil ini terasa sangat intim, aman, dan memabukkan. Seperti keheningan antara dua orang yang sudah saling memahami bahasa kelam tanpa harus terucap kata.
”Kau berbohong pada para jurnalis sialan itu tempo hari, Maya.”
Suara berat dan husky Randy tiba-tiba memecah kesunyian kabin, diucapkan dengan nada santai sementara matanya masih terpejam.
Maya sedikit tersentak dari lamunannya menatap jalan. Ia menoleh perlahan menatap profil samping wajah pria itu. “Berbohong soal apa, Randy?”
”Tentang… klaim bahwa ‘tidur yang cukup dan selalu berpikir positif’ adalah rahasia di balik kecantikan sempurna porselenmu itu.”
Randy membuka sepasang matanya secara perlahan. Ia menoleh, balas menatap Maya. Jarak mereka di kursi belakang SUV itu cukup dekat, dipisahkan oleh arm-rest (sandaran lengan) kulit di tengah.
”Sore ini,” lanjut Randy, menatap kornea mata Maya. “Meskipun kulitmu memantulkan cahaya matahari golden hour dengan sangat sempurna, dan matamu menatap lensa kamera dengan berani… aku bisa melihat ada kelelahan akut yang sangat dalam di dasar pupilmu.”
Tatapan Randy menajam. “Sebuah kepanikan yang kau kunci rapat-rapat di balik ketenanganmu. Kau mungkin bisa menipu ratusan kru, wartawan, dan jutaan pasang mata orang awam di luar sana dengan aktingmu, Maya. Tapi kau tidak akan pernah bisa menipu mataku.”
Jantung Maya berdegup kencang. Ia meremas ujung kemeja Randy yang menutupi pahanya.
Analisis pria jenius ini terlalu tajam dan sangat berbahaya. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi. Randy seolah bisa membaca, bahwa Maya semalaman suntuk baru saja bertarung hidup dan mati melawan monster cairan hitam di apartemennya, dan meredakan tumor tulang di punggungnya.
”Aku… aku hanya mengalami sedikit masalah pribadi semalam,” dusta Maya dengan suara bergetar pelan, mencoba membangun kembali sisa tamengnya. “Sedikit masalah sulit tidur karena beradaptasi.”
Randy tidak mendebat kebohongan itu.
Pria itu menggeser posisinya, memutar pinggangnya, menghadap sepenuhnya ke arah Maya. Pria itu mengangkat tangan kanannya perlahan, mendekati wajah Maya.
Lalu, jari-jari kasar namun elegan itu… menyelipkan beberapa helai anak rambut basah yang menempel di pipi porselen Maya, memindahkannya ke belakang telinga gadis itu.
Sentuhan kulit tangan Randy ke pipi Maya terasa sangat lembut. Namun, sengatan listrik biologis yang ditimbulkannya jauh lebih kuat dari sengatan sebelumnya di kolam renang.
Maya tanpa sadar memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan itu. Mendambakan kehangatan manusia yang tak bisa lagi kulit matinya rasakan, namun bisa menenangkan insting biologis daging di bawahnya.
”Sudah kukatakan padamu semalam saat makan malam, bukan?” bisik Randy.
Jarak wajah mereka kini terpaut kurang dari dua jengkal. Embusan napas pria itu yang berbau mint dan tembakau menyapu wajah Maya.
”Saat kau berada di bawah sayap perlindunganku… kau tidak perlu lagi menghadapi masalah duniawi sendirian, Maya. Apa pun yang membuatmu tidak bisa tidur di malam hari… apa pun yang mengganggu pikiranmu hingga membuatmu pucat di lokasi syuting seperti ini… katakan saja padaku.”
Randy membelai rahang tirus Maya.
”Aku akan melenyapkannya dari dunia ini untukmu.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada datar, namun bukanlah sekadar rayuan kosong playboy hidung belang. Itu adalah sebuah janji berdarah, janji absolut dari seorang pria yang memiliki kuasa untuk mengubah tatanan hukum negara ini, dan membunuh siapa saja, jika ia menginginkannya.
Di saat mendengar janji perlindungan itu… Maya merasakan dinding pertahanan sosiopatnya benar-benar mulai runtuh tanpa bisa dicegah.
Ia tiba-tiba merasa sangat lelah. Ia sangat lelah bertarung sendirian melawan kutukan. Ia lelah menyembunyikan kotak hitam itu setiap malam. Ia lelah menyikat karpet berdarah dan membuang tisu. Ia lelah dibenci oleh ibunya sendiri yang menganggapnya monster.
Di hadapan pria kokoh yang menawarkan dunia dan keamanan absolut di telapak tangannya ini… Maya merasa… sangat aman.
Sebuah ikatan emosional yang sangat gelap dan berbahaya, sebuah pesona Stockholm Syndrome terhadap kekuasaan dan dominasi pria ini… perlahan-lahan mulai mengakar, menjalar di dalam hatinya yang telah membeku.
Ia tidak lagi melihat Randy Adhitama sebagai bos perusahaan, atau sebagai ancaman pembuat formula yang bisa memenjarakannya.
Ia melihat Randy sebagai jangkar kewarasannya. Satu-satunya tempat ia bisa bernapas.
”Tidak ada yang perlu dilenyapkan, Randy,” jawab Maya pelan.
Ia menatap lurus ke dalam mata gelap penuh misteri pria itu. Ia memberanikan diri untuk sedikit mencondongkan kepalanya mendekat, membiarkan aroma maskulin pria itu menyapu wajahnya lebih kuat.
”Malam ini… berada di sini, di dalam mobil bersamamu… kurasa itu sudah cukup aman untuk membuatku bisa tidur dengan sangat nyenyak nanti malam.”
Sebuah senyum miring yang sangat menawan perlahan terbentuk di bibir tegas Randy.
Pria itu tidak menarik tubuhnya menjauh dari Maya. Sebaliknya, ia membiarkan jarak di antara mereka tetap intim. Membiarkan kehangatan tubuhnya dan hawa maskulinitasnya memberikan perlindungan pada gadis porselen yang rapuh, namun penuh rahasia ini.
Di dalam kabin mobil yang terus melaju menembus dinginnya malam ibu kota itu… sebuah fondasi romansa gelap yang luar biasa kompleks mulai dibangun dengan sangat kokoh.
Sebuah tarian tarik-ulur yang mematikan, antara rahasia berdarah, kuasa absolut, dan ketertarikan biologis antarsel yang tak bisa dijelaskan oleh sains.