SIMETRI BAB 2 ~ Mall, Jam Tiga

​”Heh! Maya! Jangan ke ruang ganti dulu! Berhenti di situ!”

​Gema teriakan itu memantul liar di dinding beton basement Grand Atrium Mall, menyergap Maya tepat saat ia baru saja melangkah menjauhi mesin absensi fingerprint.

​Tubuh Maya seketika membeku. Ujung sepatu bot karetnya tertahan di lantai yang lembap. Jantungnya berpacu brutal, memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Ia mencengkeram tali tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

​Dengan napas yang tertahan, Maya memutar tubuhnya perlahan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengarahkan pandangannya ke ujung sepatu pantofel hitam milik atasannya yang kini berderap mendekat dengan langkah penuh amarah.

​Bu Ratna berhenti tepat dua jengkal di hadapan Maya.

​Aroma parfum menyengat bercampur dengan bau keringat asam dari tubuh manajer tambun itu langsung menusuk hidung Maya. Dada Bu Ratna naik turun dengan cepat. Tangannya yang memegang clipboard kayu bergetar karena emosi yang meluap-luap di pagi buta.

​”S-selamat pagi, Bu Ratna…” sapa Maya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit. “A-ada apa, Bu? Apakah saya melakukan kesalahan?”

​”Kesalahan?!” bentak Bu Ratna, suaranya melengking tajam hingga seorang teknisi yang sedang lewat buru-buru menyingkir. “Kamu pikir absen tepat waktu itu sudah cukup untuk membuat saya senang hari ini, hah?!”

​Maya menelan ludah. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. “M-maaf, Bu… saya tidak mengerti.”

​”Tentu saja kamu tidak mengerti! Otakmu itu cuma tahu cara pegang sapu!” Bu Ratna memukul pahanya sendiri dengan clipboard itu. “Kamu tahu tidak, mulai jam dua belas malam tadi, kru panggung dari pihak Event Organizer sudah mulai membangun struktur utama di atrium lantai dasar! Mereka memotong kayu, memaku tripleks, dan menebar debu gergaji ke seluruh area marmer yang seharusnya steril!”

​Maya tetap menunduk, tak berani menatap mata atasannya. Ia hanya mendengarkan ocehan itu dengan patuh.

​”Tiga hari lagi, mal ini akan menjadi tuan rumah peluncuran kosmetik Lumière Merveille! Ini bukan acara murahan, Maya! Ini acara VVIP tingkat internasional! Dan manajemen pusat baru saja menelepon saya pagi ini, memaki saya karena lantai dasar terlihat seperti kapal pecah!”

​Napas Bu Ratna menderu marah. Wanita itu menunjuk tepat ke dahi Maya menggunakan ujung pulpennya.

​”Saya tidak peduli kamu baru datang atau belum ganti baju. Hari ini, tugasmu bukan sekadar mengepel. Kamu saya tempatkan khusus di area atrium utama! Kamu harus memastikan tidak ada satu butir pun debu kayu yang beterbangan ke area kafe! Kamu bersihkan semua sampah kabel dan paku yang dijatuhkan tukang! Paham?!”

​”P-paham, Bu. Saya akan bersihkan semuanya,” jawab Maya cepat, suaranya nyaris terdengar seperti cicitan tikus. Ia tidak berani menolak atau mengeluh, meskipun ia tahu membersihkan area proyek sendirian adalah sebuah hukuman fisik yang luar biasa berat.

​”Bagus. Kalau sampai saya lihat ada tamu VIP yang komplain soal debu di area depan panggung, gajimu hari ini saya potong habis!” ancam Bu Ratna mutlak.

​Wanita tambun itu kemudian memutar tubuhnya dengan kasar dan berjalan kembali menuju ruang kantornya, meninggalkan Maya yang masih berdiri gemetar di lorong beton yang dingin.

​Maya menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya sedikit rileks. Ia harus segera berganti pakaian. Ibunya membutuhkan obat nanti sore, dan ia tidak boleh melakukan kesalahan apa pun yang bisa menyebabkan gajinya dipotong.

​Dengan langkah gontai, Maya berjalan menyusuri lorong menuju ruang ganti khusus wanita.

​Ruang ganti itu adalah sebuah ruangan pengap yang dipenuhi oleh deretan loker besi berkarat berwarna abu-abu. Bau kapur barus murahan dan aroma keringat yang mengendap di kain seragam menyambut penciumannya.

​Maya membuka pintu lokernya yang engselnya sudah longgar. Ia mengeluarkan seragam biru pudar miliknya dan berniat untuk segera mengganti bajunya.

​Namun, belum sempat ia melepaskan jaket parasitnya, pintu ruang ganti didorong terbuka dengan sangat kasar.

​Suara tawa melengking yang renyah namun dipenuhi aura kesombongan langsung memenuhi ruangan yang tadinya sunyi itu. Aroma parfum mawar yang sangat kuat dan manis seketika membunuh bau kapur barus di udara.

​Maya langsung menegang. Tangannya yang sedang memegang kancing jaket terhenti.

​Sari melangkah masuk.

​Wanita itu adalah ‘Ratu’ tak resmi di divisi kebersihan. Meskipun jabatannya sama-sama cleaning service, penampilan Sari sangat jauh dari kesan seorang pekerja kasar. Seragam birunya sengaja dikecilkan oleh penjahit agar memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat ketat. Kancing teratasnya dibiarkan terbuka sedikit. Wajahnya dipoles makeup tebal yang rapi, foundation yang merata, eyeliner tajam, dan lipstik merah menyala. Rambut lurusnya dicepol ke atas dengan sangat elegan.

​Di belakang Sari, mengekor sosok Icha, sahabat sekaligus pelayan setianya. Icha memiliki tubuh yang lebih kurus dan tinggi dari Sari, dengan riasan wajah yang sama menornya. Icha selalu mengamini setiap ucapan Sari seolah itu adalah sabda suci.

​Sari menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Matanya yang tajam dan sinis langsung menangkap sosok Maya yang sedang berdiri kaku di sudut dekat loker.

​Sari memutar bola matanya malas. Ia mengangkat tangannya dan mengibas-ngibaskan udara di depan hidungnya dengan gaya yang sangat teatrikal.

​”Duh, Cha. Pantesan aja pas gue buka pintu tadi hawanya langsung bau apek. Ternyata ada sampah belum dibuang di sini,” sindir Sari dengan suara yang sengaja dilantangkan.

​Icha langsung tertawa terbahak-bahak, menutup mulutnya dengan tangan yang dihiasi cat kuku berwarna merah muda.

​”Iya ih, Sar. Bau banget. Bau debu jalanan campur bau kemiskinan,” timpal Icha, menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung sepatu bot karetnya dengan tatapan luar biasa jijik.

​Maya menelan ludah. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan matanya di balik poni rambutnya yang lepek. Ia tidak menjawab. Ia hanya mempercepat gerakannya, membuka jaketnya dan mengenakan kemeja seragam birunya dengan tangan yang sedikit gemetar.

​Melihat Maya yang hanya diam dan menunduk seperti anjing penurut, ego Sari semakin membengkak. Ia sangat menyukai rasa kuasa ini. Menginjak-injak orang yang lebih lemah adalah caranya untuk merasa menjadi seseorang yang penting di dunia ini.

​Sari melangkah santai menuju lokernya yang kebetulan hanya berjarak dua pintu dari loker Maya. Ia sengaja menabrakkan bahunya dengan cukup keras ke bahu Maya saat ia lewat.

Duk.

​Tubuh kurus Maya sedikit terhuyung ke samping, membentur pintu loker besi di sebelahnya.

​”Aduh, sori. Mata gue minus, nggak ngeliat ada orang. Abisnya aura lo redup banget sih, kayak lampu mau mati,” ejek Sari sambil membuka pintu lokernya, sementara Icha kembali cekikikan di belakangnya.

​”P-permisi, Mbak Sari… saya minta maaf kalau menghalangi jalan,” bisik Maya, suaranya sangat pelan dan penuh ketakutan. Ia merapatkan tubuhnya ke loker, memberikan ruang seluas mungkin untuk Sari.

​Sari mendengus meremehkan. Ia mengeluarkan sebuah kaca rias kecil dari lokernya dan mulai memeriksa lipstiknya.

​”Eh, Cha. Lo tahu nggak sih, si Kevin nanti sore mau jemput gue lagi,” Sari tiba-tiba mengubah topik pembicaraan, sengaja memamerkan kehidupan pribadinya.

​”Kevin pacar lo yang anak geng motor itu, Sar?” tanya Icha antusias, ikut bersandar di loker.

​”Iya dong. Dia baru aja ganti knalpot motor Ninja-nya. Warnanya pink neon, keren banget gila. Nanti sore gue mau diajak nongkrong di kafe daerah Kemang. Katanya sih mau nraktir gue makan steak,” Sari bercerita dengan nada pamer yang meluap-luap. Ia sengaja melirik Maya melalui pantulan kaca riasnya.

​”Wah, gila! Enak banget sih lo, Sar! Selalu dijemput cowok keren. Nggak kayak orang di sebelah lo tuh,” Icha melirik Maya dengan senyum mengejek. “Boro-boro dijemput cowok pakai motor gede. Pulang aja pasti jalan kaki nembus ujan. Eh, May, lo pernah pacaran nggak sih seumur hidup lo?”

​Maya yang sedang mengunci lokernya mendadak kaku. Pertanyaan itu menohok ulu hatinya, namun ia tahu itu hanyalah umpan untuk mempermalukannya lebih jauh.

​”S-saya permisi dulu, Mbak Icha, Mbak Sari. Saya harus ke area depan…” ucap Maya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Ia segera mengambil tas kecil berisi alat bersih-bersihnya, berniat untuk melarikan diri dari ruangan toxic tersebut.

​Tapi Sari tidak membiarkannya pergi begitu saja. Saat Maya melangkah melewatinya, Sari tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik paksa gagang kacamata Maya dari samping.

Krek!

​Kacamata itu terlepas dari wajah Maya. Gadis itu terkesiap kaget, pandangannya seketika mengabur. Ia mengangkat kedua tangannya dengan panik.

​”M-Mbak Sari… tolong… jangan…” mohon Maya dengan suara memelas, wajahnya memucat. Kacamata itu adalah benda paling berharga yang ia miliki untuk bisa bekerja.

​Sari memegang kacamata itu dengan ujung dua jarinya, seolah memegang bangkai tikus yang menjijikkan. Ia menatap lilitan selotip hitam tebal yang menyambung gagang kiri kacamata tersebut.

​”Ya ampun, May. Lo tuh bener-bener nggak punya malu ya?” Sari tertawa sinis, menunjukkan kacamata itu pada Icha. “Liat nih, Cha. Gagangnya disambung pake selotip hitam lakban kabel! Sumpah, gue geli banget megangnya. Lengket tahu nggak?!”

​”Ih, jorok banget! Buang aja deh, Sar. Bikin malu divisi kita aja kalau dilihat pengunjung,” sahut Icha mengipasi wajahnya.

​”Mbak… tolong kembaliin. Saya nggak bisa lihat jelas kalau nggak pakai itu. Saya harus kerja, Mbak,” Maya memohon, memberanikan diri melangkah maju dengan tangan gemetar terulur ke arah Sari. Matanya yang rabun jauh menyipit, berusaha memfokuskan pandangan.

​Sari mendecakkan lidahnya kesal. “Nih, ambil barang rongsokan lo! Bikin kotor tangan gue aja.”

​Sari melemparkan kacamata itu dengan kasar ke dada Maya.

​Maya dengan sigap menangkapnya sebelum benda itu jatuh ke lantai marmer. Ia segera memeluk kacamata itu ke dadanya seolah itu adalah nyawanya.

​”M-makasih, Mbak Sari. Maafkan saya,” ucap Maya, mengangguk cepat.

​”Udah sana pergi! Muka lo tuh ngurangin mood gue kerja hari ini, tahu nggak?!” usir Sari sambil mengibaskan tangannya dengan jijik.

​Tanpa perlu disuruh dua kali, Maya segera memasang kembali kacamatanya yang miring, lalu setengah berlari keluar dari ruang ganti tersebut. Dadanya sesak oleh rasa malu dan amarah yang tertahan, namun ia menelannya dalam-dalam. Di dunia ini, melawan hanya akan mempercepat kejatuhannya.

​Waktu merambat dengan sangat lambat.

​Pukul 15:00 Waktu Indonesia Barat.

​Jika ada sebuah tempat yang bisa mendefinisikan kontras antara surga dan neraka dalam satu ruangan yang sama, maka Grand Atrium Mall di sore hari adalah tempatnya.

​Bagi para pengunjung yang berlalu-lalang, mal ini adalah sebuah oase kemewahan. Udara di dalam atrium terasa sangat sejuk, disaring oleh mesin pendingin berteknologi tinggi. Alunan musik jazz instrumental mengalun lembut dari speaker yang tersembunyi di balik pilar-pilar pualam putih. Lampu gantung kristal raksasa yang menggantung di tengah kubah kaca memendarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat seperti istana kerajaan.

​Di sekeliling atrium, gerai-gerai merek desainer internasional berjejer angkuh. Manekin-manekin tanpa wajah di balik etalase kaca memamerkan gaun-gaun sutra dan tas kulit yang harganya lebih mahal dari harga rumah sewa Maya. Orang-orang kaya berjalan dengan langkah santai, tertawa, memegang gelas kopi mahal, dan menikmati hidup mereka tanpa sedikit pun beban.

​Namun, di tengah-tengah semua kemegahan yang menyilaukan mata itu, terdapat sebuah pulau debu dan penderitaan.

​Di pusat atrium, sebuah panggung raksasa sedang dibangun dengan kecepatan tinggi. Rangka-rangka baja hitam menjulang ke arah langit-langit. Papan-papan akrilik hitam glossy sedang dipasang oleh belasan pekerja pria yang berkeringat dan berteriak satu sama lain.

​Logo emas bertuliskan Lumière Merveille baru saja dinaikkan menggunakan katrol listrik, memantulkan cahaya lampu yang menyilaukan. Suara mesin bor listrik, gergaji mesin yang memotong tripleks, dan benturan palu baja menciptakan sebuah polusi suara yang menulikan telinga.

​Dan di bawah bayang-bayang panggung raksasa itulah, Maya bekerja.

​Gadis itu mengenakan masker kain berwarna biru pudar yang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Ia sedang berlutut di atas lantai marmer, tangannya yang kasar memegang sebuah sikat kecil bersapu nilon.

​Tugas yang diberikan Bu Ratna ternyata seribu kali lebih berat dari yang ia bayangkan. Setiap kali pekerja di atas panggung memotong kayu atau mengebor akrilik, debu-debu halus dan serbuk gergaji akan beterbangan seperti salju kotor, jatuh mengotori lantai marmer yang radiusnya mencapai belasan meter.

​Maya tidak bisa menggunakan sapu besar karena angin dari AC mal akan membuat debu itu kembali beterbangan ke arah kafe di sekitarnya. Ia harus menyemprotkan air sedikit demi sedikit ke lantai, lalu menyikatnya secara manual, mengumpulkan serbuk kayu yang basah itu, dan membuangnya ke dalam pengki plastiknya.

​Tulang punggung Maya menjerit kesakitan. Pinggangnya berdenyut nyeri setiap kali ia harus merangkak maju inci demi inci.

​Keringat dingin membanjiri leher dan punggungnya. Perutnya bergemuruh pelan, sebuah rintihan protes karena belum ada satu butir nasi pun yang masuk sejak sisa nasi kecap subuh tadi. Kepalanya terasa ringan dan pusing akibat menghirup debu proyek dan kurang tidur.

​”Permisi, Mas… tolong kakinya geser sedikit, saya mau sikat debunya,” ucap Maya dengan suara yang sangat pelan, nyaris tertelan suara bor mesin. Ia berbicara pada seorang pekerja proyek berbadan kekar yang sedang jongkok mengukur kabel.

​Pekerja itu menoleh, menatap Maya dengan alis berkerut kesal. “Aduh, Mbak! Nanti aja napa sih bersihinnya?! Orang kita masih kerja juga! Ribet amat bolak-balik ngepel!” bentak pria itu kasar, meniupkan asap rokoknya dengan sengaja ke arah Maya.

​Maya terbatuk pelan di balik maskernya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​”M-maaf, Mas. Tapi manajer saya nyuruh area ini harus bersih terus karena takut ada tamu mal yang lihat,” Maya menjelaskan dengan nada memelas.

​Pekerja itu mendecakkan lidahnya, lalu bergeser dengan sangat malas. Saat ia bergeser, ujung sepatunya yang penuh lumpur tanah dengan sengaja menendang pelan pengki plastik Maya, membuat sebagian debu basah yang sudah Maya kumpulkan kembali tumpah berserakan ke atas lantai marmer.

​Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Tarikan napasnya tertahan di kerongkongan. Ia melihat hasil kerja kerasnya selama lima belas menit terakhir hancur dalam hitungan detik.

​Namun ia tidak marah. Ia terlalu lelah untuk merasa marah. Rasa putus asa adalah emosi yang jauh lebih dominan di dalam dirinya.

​Dengan tangan yang gemetar, Maya kembali mengayunkan sikat nilonnya, mengumpulkan kembali debu kotor itu satu per satu ke dalam pengki. Ia menghapus keringat di dahinya menggunakan punggung lengannya yang terbalut seragam biru. Ia menatap jam tangannya yang sudah usang.

​Pukul 15:15. Masih ada tujuh jam lagi sebelum sifnya berakhir. Tujuh jam penderitaan fisik sebelum ia bisa pulang dan membeli obat untuk ibunya.

​”Ih, gila. Debunya sampai ke sini lho, Cha. Bikin sesak napas aja.”

​Suara melengking yang sangat familiar itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Maya, menembus kebisingan proyek.

​Maya membeku. Gerakan sikatnya terhenti. Ia mengenal suara itu. Suara yang selalu menjadi pertanda buruk di hari-harinya.

​Maya memutar kepalanya perlahan, tanpa berani berdiri.

​Sekitar dua meter di belakangnya, berdiri Sari dan Icha. Kedua wanita itu memegang alat pel otomatis bergagang panjang, namun mereka sama sekali tidak terlihat sedang bekerja. Seragam mereka masih bersih mengkilap, wajah mereka tidak berkeringat. Mereka jelas sedang melakukan “patroli” memutari mal dengan dalih mengecek kebersihan, padahal hanya ingin bersantai.

​Sari menatap punggung Maya yang sedang berlutut di lantai dengan tatapan yang memancarkan kenikmatan sadis.

​”Rajin banget sih lo, May. Pantesan lantai mal ini tetap kotor, orang yang bersihinnya ngerangkak kayak kura-kura begini,” sindir Sari, suaranya dikeraskan agar terdengar menonjol. Wanita itu melangkah maju dengan ayunan pinggul yang arogan.

​Maya buru-buru berdiri, meskipun pinggangnya berderak sakit. Ia memutar tubuhnya menghadap kedua seniornya, menundukkan kepalanya, dan memegang sikat serta pengkinya erat-erat di depan perutnya.

​”Mbak Sari… Mbak Icha… lantai atas sudah selesai?” tanya Maya pelan, memaksakan diri bersikap sopan.

​Icha mendengus kasar. “Udah dong. Orang lantai atas mah isinya orang-orang kaya yang tahu kebersihan. Karpetnya aja wangi. Nggak kayak di sini, udah kayak proyek bangunan mangkrak.”

​Icha mengibaskan tangannya di depan hidung, berpura-pura jijik. “Makin deket sama lo, bau apeknya makin kecium, May. Lo tuh mandi pakai air kali ya di rumah?”

​”Bukan air kali, Cha. Emang dasar badannya aja yang penuh daki,” Sari tertawa renyah menimpali ejekan sahabatnya.

​Sari kemudian melangkah lebih dekat, mengelilingi Maya layaknya seekor predator yang sedang menilai kelemahan mangsanya. Mata tajam Sari memindai seragam Maya yang basah, sepatu botnya yang kotor, dan postur tubuhnya yang membungkuk.

​”Gue heran deh sama lo, May,” ucap Sari dengan nada yang sangat merendahkan. “Lo tuh nggak punya harga diri banget ya? Rela ngerangkak-ngerangkak di depan umum, diliatin orang-orang kaya yang lagi minum kopi enak di kafe sana. Lo nggak ngerasa malu apa idup kayak gembel begini?”

​Telinga Maya memanas. Rasa malu yang luar biasa perih membakar wajahnya di balik masker medis itu. Ia melirik sekilas dari balik kacamata selotipnya ke arah pengunjung mal yang melintas. Beberapa dari mereka memang menatapnya dengan pandangan kasihan, namun ada juga yang menatap dengan jijik.

​”S-saya butuh uangnya, Mbak Sari. Demi ibu saya,” jawab Maya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, mencoba memberikan alasan logis agar mereka berhenti menghinanya.

​”Alah, bawa-bawa ibu lo yang sakit-sakitan itu lagi,” Sari memutar bola matanya malas. “Alasan basi. Bilang aja emang takdir lo tuh cuma pantes jadi keset di dunia ini.”

​Sari melirik ke arah lantai marmer di dekat kaki Maya. Lantai itu sudah Maya sikat dan lap dengan kain setengah basah, sehingga terlihat bersih dan mulai memantulkan cahaya lampu lagi, kontras dengan area berdebu di sekitarnya.

​Sebuah ide licik terlintas di otak Sari. Ia tersenyum miring.

​”Eh, May. Lo bersihin lantainya kurang bersih nih. Masih ada debu,” ucap Sari dengan nada riang yang dibuat-buat.

​”Di mana, Mbak? S-saya akan bersihkan lagi,” Maya langsung panik, melihat ke sekeliling lantainya.

​Sari tidak menjawab. Ia justru mengangkat kaki kanannya yang mengenakan sepatu pantofel hitam. Ia melangkah maju, lalu dengan sangat sengaja dan penuh tenaga, ia menggesekkan sol sepatunya yang tadi ia gunakan untuk menginjak sisa debu proyek di pinggir panggung, tepat ke atas lantai marmer bersih yang baru saja Maya selesaikan.

Sreeek…

​Sebuah noda hitam panjang bercampur lumpur debu tercetak jelas di atas pualam putih tersebut.

​Maya tersentak mundur, matanya membelalak ngeri melihat hasil kerja kerasnya yang menguras tenaga itu dihancurkan begitu saja di depan matanya.

​”Nah, sekarang baru kelihatan kotornya,” Sari tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. “Ayo dong, babu. Dibersihin lagi. Kali ini sikatnya yang kenceng ya, biar marmernya nggak malu-maluin dipandang bos-bos Swiss besok.”

​Icha tertawa terbahak-bahak di belakang Sari. “Gila lo, Sar! Tapi bener sih, ntar dia malah makan gaji buta kalau nggak ada kerjaan.”

​Dada Maya terasa sesak. Air matanya seketika menggenang di pelupuk mata. Ia telah menahan lapar, menahan lelah, dan menahan sakit pinggang. Melihat usahanya diinjak-injak hanya demi sebuah hiburan murahan benar-benar menghancurkan sisa-sisa mentalnya hari ini.

​Ia ingin marah. Ia ingin melemparkan pengki plastiknya ke wajah Sari.

​Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah sebuah penerimaan yang sangat menyedihkan.

​”B-baik, Mbak Sari… a-akan saya bersihkan lagi,” bisik Maya. Suaranya pecah, air matanya menetes jatuh ke balik maskernya.

​Maya perlahan menekuk lututnya yang gemetar. Ia kembali berlutut di atas lantai yang dingin itu. Ia mengambil lap basahnya, lalu mulai menggosok noda sepatu Sari dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh keputusasaan.

​Sari dan Icha menonton pemandangan itu dengan senyum penuh kemenangan. Mereka merasa seperti penguasa dunia.

​”May! Maya!”

​Tiba-tiba, dari arah pilar raksasa di dekat eskalator, terdengar sebuah suara panggilan yang riang dan bernada sedikit kebingungan.

​Sari dan Maya serentak menoleh.

​Dari balik pilar, muncul sosok Rani. Gadis berpipi tembam itu sedang mendorong sebuah tempat sampah plastik berwarna abu-abu yang cukup besar. Wajah Rani terlihat sangat kebingungan, dahinya berkerut dalam seolah ia sedang menghadapi masalah paling besar abad ini.

​Rani berjalan mendekati mereka, matanya memindai lantai di sekitar Maya tanpa memedulikan tatapan tajam Sari.

​”May, kamu ngeliat sapu ijukku nggak sih?” tanya Rani polos, menggaruk kepalanya yang tertutup ikat rambut. Ia berhenti di dekat Maya, menatap sahabatnya yang sedang berlutut. “Perasaan tadi pas aku habis ngepel lorong toilet, sapunya aku taruh di sebelah pot tanaman besar di sana. Pas aku balik habis buang sampah, eh sapunya udah hilang! Masa di mal semewah ini ada tuyul sih, May? Tuyulnya rajin amat nyuri alat pel.”

​Kepolosan dan kebodohan pertanyaan Rani itu sukses menghancurkan aura intimidasi dan ketegangan yang dibangun oleh Sari.

​Sari melongo sesaat, tak percaya dengan tingkat kebodohan gadis yang berdiri di depannya ini. Urat di leher Sari seketika menonjol kesal.

​”Eh, cewek lemot!” bentak Sari dengan nada tinggi, mengibaskan tangannya dengan kasar ke arah Rani. “Lo tuh buta atau otak lo emang lambat mikirnya, hah?! Kita ini lagi kerja, bukan lagi main petak umpet nyari sapu! Lo kalau mau cari barang rongsokan lo itu, cari di gudang sana! Jangan ganggu pemandangan gue di sini!”

​Rani langsung terlonjak kaget akibat bentakan Sari. Wajahnya yang tadinya bingung kini berubah menjadi pucat pasi. Ia mundur dua langkah, tangannya mencengkeram erat pinggiran tempat sampahnya seolah benda itu adalah tameng perlindungannya.

​”E-eh… M-Mbak Sari… m-maaf, Mbak. Saya nggak bermaksud ganggu,” gagap Rani, matanya berkedip-kedip cepat karena takut. “S-saya kira Maya lihat…”

​”Jauh-jauh lo berdua dari sini! Bikin minus pemandangan aja!” potong Sari dengan nada jijik. Ia memutar bola matanya, merasa muak dengan kelemotan Rani yang merusak mood ‘patroli’nya.

​Sari menyenggol bahu Icha dengan kuat. “Udah ah, Cha. Ayo kita cabut ke lantai dua. Males gue lama-lama di sini, ntar ketularan virus bodohnya si Rani lagi.”

​”Ayo, Sar. Lagian di sini bau debu, bikin sesak napas,” sahut Icha menyetujui.

​Kedua wanita itu berbalik dan berjalan melenggang meninggalkan area proyek tersebut. Suara ketukan sepatu pantofel mereka perlahan memudar ditelan hiruk-pikuk suara bor mesin dan lagu dari kafe di seberang sana.

​Setelah memastikan Sari dan Icha benar-benar sudah pergi jauh, barulah Rani melepaskan cengkeramannya dari tempat sampah. Ia menghela napas yang luar biasa panjang hingga dadanya mengempis.

​Gadis tembam itu buru-buru berjongkok di samping Maya yang masih terisak dalam diam sambil mengelap noda di lantai.

​”May… kamu nggak apa-apa?” tanya Rani, suaranya kini berubah menjadi sangat lembut dan penuh simpati. Ia menatap wajah Maya yang basah oleh air mata di atas maskernya.

​Rani mengerutkan keningnya dengan polos. “Lho, Mbak Sari tadi kenapa sih marah-marah banget? Kayaknya dia kurang minum air putih deh, May, makanya gampang emosi gitu. Atau dia lagi sariawan?”

​Di tengah isakan tangisnya dan rasa sakit di hatinya, pertanyaan absurd Rani itu bagaikan sebuah sengatan listrik kecil yang menggelitik saraf tawa Maya.

​Maya menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah Rani yang luar biasa polos dan tulus. Sahabatnya ini benar-benar hidup di frekuensi yang berbeda dengan kekejaman dunia. Rani tidak menyadari intrik, tidak memahami penindasan, ia hanya melihat dunia dengan kacamata kepolosannya yang tebal.

​Sebuah tawa pelan, serak, dan bercampur dengan isakan meluncur dari balik masker Maya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

​”Bukan, Ran. Dia nggak sariawan,” jawab Maya pelan, mengusap air matanya dengan punggung lengannya. “Dia cuma… dia cuma emang nggak suka sama aku.”

​Rani memajukan bibir bawahnya, terlihat sangat tidak setuju. “Ih, masa sih? Padahal kamu kan rajin banget kerjanya. Liat tuh, lantainya sampai kinclong begini. Kamu nangis ya, May? Pasti matamu perih kena debu gergaji kayu itu kan? Tadi aku juga kelilipan pas lewat depan.”

​Maya tidak berniat mengoreksi kesalahpahaman Rani. Biarlah Rani berpikir bahwa ia menangis karena debu, bukan karena hatinya dihancurkan oleh hinaan. Kepolosan Rani adalah perisai tak kasat mata yang membuat Maya merasa bahwa dunia ini tidak sepenuhnya berisi monster.

​”Iya, Ran. Debunya tebal banget,” Maya memaksakan sebuah senyum di balik maskernya, matanya menyipit menyiratkan kehangatan. “Makasih ya, Ran. Kamu udah datang ke sini nanyain sapu.”

​”Hehehe, sama-sama. Tapi beneran lho, sapuku hilang beneran, May!” Rani kembali pada masalah utamanya, menggaruk kepalanya lagi.

​”Nanti aku bantu cari pas istirahat ya,” ucap Maya lembut.

​”Oke deh! Aku lanjut keliling dulu ya, ntar ketahuan Bu Ratna kalau ngobrol kelamaan. Kamu semangat ya, May!” Rani berdiri dengan ceria, mendorong kembali tempat sampahnya dengan semangat baru.

​Maya menatap punggung sahabatnya itu hingga menghilang di balik keramaian. Kehadiran Rani memberikannya sedikit kekuatan untuk melanjutkan sisa jam kerjanya yang menyiksa. Ia kembali menyikat lantai, mengabaikan rasa lapar dan lelah yang terus menggerogotinya.

​Pukul 15:55 Waktu Indonesia Barat.

​Siksaan fisik di lantai dasar akhirnya mendekati masa jeda. Para pekerja proyek EO mulai mematikan mesin-mesin mereka untuk beristirahat sore. Area atrium menjadi sedikit lebih tenang.

​Maya telah menyelesaikan pembersihan tahap pertama di sekitar panggung. Ia mendorong trolinya menuju pinggir pilar, bersiap untuk membereskannya dan menuju loker. Lima menit lagi sif paginya akan berakhir. Ia bisa mengambil tasnya, berlari ke apotek terdekat, membeli obat antibiotik untuk ibunya, lalu pulang dan beristirahat. Khayalan tentang kasur busanya yang tipis terasa seperti surga saat ini.

​Namun, di Grand Atrium Mall, mimpi para pekerja kelas bawah jarang sekali menjadi kenyataan.

​Tiba-tiba, suara statis yang sangat nyaring memecah kesunyian dari alat paging (pengeras suara internal) khusus staf yang terpasang tersembunyi di langit-langit setiap lorong mal.

Krrrrrshhh… krrrshhh…

​Maya menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup tak karuan. Jarang sekali pengeras suara internal itu digunakan kecuali ada keadaan darurat.

“Perhatian kepada seluruh staf kebersihan sif pagi. Saya ulangi, kepada seluruh staf kebersihan sif pagi!”

​Suara Bu Ratna yang berat, panik, dan penuh tekanan komando menggema di seluruh penjuru mal, terdengar jelas oleh setiap karyawan yang memakai seragam biru.

“Manajemen pusat baru saja mendapatkan konfirmasi darurat! Delegasi perwakilan dari Swiss untuk produk Lumière Merveille memajukan jadwal penerbangan mereka. Mereka akan tiba di mal ini untuk melakukan inspeksi VVIP dan gladi resik awal pada PUKUL SEMBILAN MALAM INI JUGA!”

​Mata Maya membelalak lebar dari balik kacamata selotipnya. Darahnya seakan tersedot turun ke dasar bumi.

“Oleh karena itu, seluruh jadwal kepulangan sif pagi DIBATALKAN! Ini adalah lembur wajib tanpa terkecuali! Semua staf sif pagi diwajibkan untuk tetap tinggal dan membantu sif sore mensterilkan seluruh area atrium, panggung, dan lorong VIP! Tidak ada yang boleh pulang sebelum panggung ini seratus persen steril!”

​Suara Bu Ratna meninggi menjadi sebuah ancaman yang tak terbantahkan.

“Barang siapa yang berani absen atau diam-diam pulang sekarang, akan saya anggap mengundurkan diri dan surat pemecatannya akan saya siapkan malam ini juga! Segera kembali ke pos masing-masing! Ganti!”

Krrrrssshh.

​Pengeras suara itu mati, meninggalkan gema keputusasaan yang melilit leher Maya.

​Gadis kurus itu berdiri mematung di samping troli kuningnya. Ia menatap ke arah panggung hitam raksasa bertuliskan Lumière Merveille yang berdiri angkuh di tengah atrium. Panggung itu terlihat seperti sebuah altar pengorbanan yang sedang menanti darahnya.

​Lembur wajib. Malam ini.

​Maya tidak memikirkan rasa lelahnya. Ia tidak memikirkan rasa lapar yang melilit lambungnya. Satu-satunya hal yang menjerit histeris di dalam kepalanya adalah selembar resep obat dan bayangan wajah ibunya yang pucat pasi di rumah.

Ibu… obat Ibu habis… siapa yang akan membelikannya? jerit batin Maya dalam kepanikan yang absolut.

​Di tengah hiruk-pikuk pengunjung yang tak peduli, Maya menyadari bahwa ia telah sepenuhnya terjebak. Ia tidak bisa lari. Panggung kosmetik mewah di hadapannya ini telah menjadi penjara tanpa jeruji yang menahan nyawanya dan nyawa ibunya, tanpa ia ketahui bahwa panggung yang sama juga menyimpan sebuah kotak hitam yang akan mengubah realitasnya menjadi mimpi buruk yang jauh lebih gelap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.