SIMETRI BAB 3 ~ Tangan Yang Menyapu

Gema dari pengeras suara internal mal itu perlahan memudar, namun gaungnya terus menabrak dinding-dinding tengkorak Maya.

Lembur wajib. Tidak ada yang boleh pulang.

​Maya berdiri kaku di samping troli kuningnya. Tangannya yang memegang gagang pel bergetar hebat. Jari-jarinya terasa dingin, sekaku es batu.

​Di sekelilingnya, Atrium Utama Grand Atrium Mall masih berdenyut dengan kehidupan kaum elit. Pengunjung berlalu-lalang, tertawa, menjinjing tas belanjaan berlogo desainer, sama sekali tidak menyadari bahwa pengumuman statis barusan adalah vonis mati bagi seseorang.

​Napas Maya mulai memburu. Ritmenya kacau, pendek-pendek, dan tidak beraturan. Dadanya terasa seperti diikat oleh sabuk besi yang ditarik semakin kencang setiap detiknya.

Ibu. Satu kata itu meledak di dalam kepalanya, mengalahkan suara bor mesin dari panggung dan alunan musik jazz dari kafe La Rosier.

Obat Ibu habis. Kapsul terakhir sudah diminum tadi pagi. Nanti malam Ibu harus minum lagi. Kalau Ibu tidak minum obatnya… paru-parunya akan kembali infeksi. Ibu akan batuk darah lagi.

​Kepanikan yang luar biasa pekat mulai menelan kewarasan Maya. Pandangannya mengabur. Lampu-lampu kristal di atas panggung akrilik itu tampak berputar-putar.

​Ia tidak memikirkan rasa lelahnya. Ia tidak peduli bahwa pinggangnya serasa mau patah setelah merangkak membersihkan debu proyek sejak siang. Satu-satunya hal yang ia tahu adalah ia harus keluar dari gedung ini, pergi ke apotek, dan membawa pulang obat itu.

​Tapi ancaman Bu Ratna sangat mutlak.

Barang siapa yang berani absen atau diam-diam pulang sekarang, akan saya anggap mengundurkan diri dan surat pemecatannya akan saya siapkan malam ini juga!

​Jika ia pulang sekarang, ia akan mendapatkan obat untuk malam ini, tapi ia akan kehilangan pekerjaannya. Bulan depan, ia tidak akan punya uang untuk membayar kontrakan, apalagi membeli obat lanjutan. Jika ia tetap tinggal, ibunya akan tersiksa malam ini, dan mungkin kondisinya akan memburuk hingga ke titik kritis.

​Maya terjebak dalam sebuah dilema yang tidak memiliki jalan keluar yang benar. Dua-duanya berujung pada kehancuran.

​Gadis itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya di balik poni yang basah oleh keringat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa anyir darah.

​”Pikir, Maya… ayo pikir,” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat.

​Otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal, memilah setiap opsi yang mungkin ia miliki. Meminjam uang pada teman kerja? Tidak mungkin. Sari dan Icha akan menertawakannya. Rani sama miskinnya dengannya, dompet gadis polos itu hanya berisi uang belasan ribu.

​Lalu, sebuah ingatan melintas seperti kilat di tengah kegelapan otaknya.

Pak Agus.

​Pria paruh baya itu berjaga di pos keamanan loading dock (area bongkar muat) belakang mal. Sifnya diperpanjang hari ini. Dan Pak Agus memiliki ponsel.

​Maya segera mengangkat wajahnya. Ia melihat ke sekeliling atrium. Bu Ratna tidak terlihat di mana pun. Manajer tambun itu mungkin sedang sibuk mengoordinasikan jadwal sif sore di lantai atas. Para pekerja EO sedang sibuk membongkar kotak-kotak peralatan lighting.

​Ini adalah satu-satunya kesempatannya.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Maya melepaskan gagang trolinya. Ia memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah yang sangat cepat, setengah berlari, menuju lorong servis yang tersembunyi di balik pilar besar di dekat eskalator.

​Begitu ia mendorong pintu ganda bertuliskan Staff Only, suasana gemerlap atrium langsung lenyap.

​Lorong servis ini adalah urat nadi tersembunyi dari Grand Atrium Mall. Dindingnya terbuat dari beton kasar yang dicat putih kusam. Pipa-pipa air dan kabel listrik raksasa melintang di langit-langit, mengeluarkan suara dengungan yang konstan. Udara di sini tidak didinginkan oleh AC, melainkan terasa pengap, panas, dan dipenuhi bau sampah dari tempat pembuangan sementara.

​Maya berlari menyusuri lorong beton itu. Sepatu bot karetnya berderap nyaring, menciptakan gema yang tergesa-gesa.

​Jarak dari atrium ke loading dock belakang cukup jauh, memakan waktu sekitar lima menit berjalan kaki. Namun Maya menempuhnya dalam waktu kurang dari tiga menit. Napasnya tersengal-sengal saat ia akhirnya mendorong pintu besi berat yang menjadi batas antara area dalam mal dan area luar.

​Udara sore yang berdebu langsung menyapu wajahnya.

​Matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, memancarkan sinar jingga kemerahan yang menembus celah-celah gerbang besi raksasa loading dock. Beberapa truk logistik sedang diparkir, mesinnya dimatikan. Area ini jauh lebih sepi dibandingkan pagi hari.

​Di sudut area, tepat di dekat palang pintu masuk kendaraan, berdiri sebuah pos keamanan berbentuk kotak kaca kecil.

​Maya berlari menghampiri pos tersebut. Kakinya terasa lemas, lututnya gemetar.

​Di dalam pos, Pak Agus sedang duduk di kursi plastik. Pria paruh baya berseragam safari biru dongker itu sedang mengaduk segelas kopi hitam panas, matanya menatap tajam ke arah sebuah buku catatan mutasi kendaraan.

​”Pak… Pak Agus!” panggil Maya dengan suara parau yang terputus-putus.

​Mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, Pak Agus langsung mendongak. Alis tebalnya yang mulai memutih seketika bertaut melihat kondisi Maya.

​Gadis itu berdiri di depan pintu pos dengan postur membungkuk, tangannya berpegangan pada kusen pintu kaca. Wajahnya luar biasa pucat, keringat membasahi seragam birunya yang kotor, dan dadanya naik turun dengan ritme yang mengkhawatirkan.

​”Ya Allah, Nduk Maya! Kamu kenapa?!” seru Pak Agus panik.

​Ia langsung meletakkan gelas kopinya, berdiri, dan melangkah keluar dari pos. Ia memegang bahu Maya, menuntun gadis itu untuk duduk di sebuah kursi plastik kosong di teras pos.

​”Duduk dulu, Nduk. Duduk. Tarik napas panjang. Kamu dikejar siapa? Ada yang macam-macam sama kamu di dalam?!” tanya Pak Agus dengan nada protektif yang sangat kental, matanya menyapu area loading dock dengan waspada.

​Maya menggeleng kuat-kuat. Ia duduk dengan lemas, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kasar dan memerah akibat cairan pembersih.

​”B-bukan, Pak… bukan dikejar orang,” isak Maya mulai terdengar, pecah dari balik tangannya. Pertahanan yang ia bangun susah payah di dalam atrium tadi akhirnya runtuh sepenuhnya di hadapan figur kebapakan ini.

​”Lalu kenapa kamu lari-lari sampai pucat begini, May? Coba minum dulu ini,” Pak Agus mengambil gelas air mineral kemasan dari dalam posnya, membuka segelnya, dan menyodorkannya pada Maya.

​Maya menerimanya dengan tangan gemetar. Ia meneguk air itu sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering kerontang.

​”Pak… s-saya nggak bisa pulang malam ini,” lapor Maya, suaranya diiringi isakan yang menyayat hati. Ia menatap Pak Agus dengan sepasang mata elangnya yang kini memerah dan dipenuhi air mata keputusasaan. “Bu Ratna baru saja ngasih pengumuman dari paging. Tim EO dari Swiss majuin jadwal gladi resik jadi malam ini. Semua staf sif pagi kena lembur wajib. Kalau saya pulang, saya langsung dipecat detik ini juga, Pak.”

​Pak Agus terdiam. Rahangnya mengeras. Ia sangat tahu bagaimana kejamnya sistem kerja di mal ini. Manajemen tidak pernah menganggap staf rendahan sebagai manusia yang memiliki kehidupan di luar jam kerja, mereka hanya dianggap sebagai mesin yang bisa dihidupkan kapan saja.

​”Kurang ajar betul orang-orang atas itu,” geram Pak Agus tertahan. Ia mengepalkan tangannya. “Ngasih lembur dadakan tanpa mikirin kondisi fisik karyawan. Kamu dari jam enam pagi belum istirahat benar kan, Nduk?”

​”Maya nggak peduli soal capeknya, Pak,” potong Maya cepat, air matanya kembali mengalir deras. Ia meremas pinggiran gelas plastik di tangannya hingga penyok. “Yang Maya pikirin itu Ibu, Pak. Ibu.”

​Mendengar kata ‘Ibu’, raut wajah Pak Agus seketika berubah menjadi jauh lebih tegang. Ia menyadari inti dari kepanikan gadis ini.

​”Obatnya habis ya, Nduk?” tebak Pak Agus pelan.

​Maya mengangguk patah-patah. “Sisa kapsul terakhir udah Ibu minum tadi pagi, Pak. Nanti malam Ibu harus minum lagi. Kalau Maya nggak pulang… siapa yang beliin obatnya? Ibu sendirian di rumah. Bude Ningsih tahunya Maya pulang sore ini. Kalau Ibu batuknya kumat terus sesak napas gimana, Pak?”

​Maya menundukkan wajahnya lagi, menangis tersedu-sedu. “Maya harus gimana, Pak? Kalau Maya maksa pulang buat beli obat, Maya dipecat. Bulan depan Ibu nggak bisa berobat sama sekali. Tapi kalau Maya di sini, malam ini Ibu bisa celaka. Maya bener-bener anak yang nggak berguna.”

​Mendengar ratapan penuh rasa bersalah itu, hati Pak Agus terasa seperti diiris sembilu. Ia teringat kembali pada sahabatnya, almarhum ayah Maya, yang dulu selalu membanggakan putri kecilnya yang pintar dan berbakti. Ia tidak bisa membiarkan gadis ini hancur karena sistem yang kejam ini.

​”Hus! Jangan pernah ngomong begitu, Maya,” tegur Pak Agus dengan nada tegas namun luar biasa lembut. Ia meletakkan tangannya yang besar dan hangat di atas puncak kepala Maya, mengusap rambut gadis itu yang terikat kuncir kuda.

​”Kamu itu anak yang paling berguna dan paling berbakti yang pernah Bapak kenal,” lanjutnya. “Kamu tenang. Urusan ibumu, biar jadi urusan Bapak. Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kamu duduk di sini, biar Bapak yang telepon Bude Ningsih sekarang juga.”

​Maya mendongak, menatap pria itu dengan pandangan yang dipenuhi oleh secercah harapan. “Bapak mau nelepon Bude?”

​”Iya. Sebentar, Bapak ambil HP dulu,” Pak Agus masuk kembali ke dalam posnya. Ia mengambil sebuah ponsel Android keluaran lama yang layarnya sudah banyak goresan, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat.

​Ia menekan tombol loudspeaker agar Maya bisa mendengarnya, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja pos.

Tuuut… Tuuut…

​Maya menahan napasnya. Ia berdoa dalam hati agar Bu Ningsih tidak sedang sibuk melayani pelanggan di warung nasinya.

​Pada dering keempat, panggilan itu terjawab. Terdengar suara latar yang cukup bising, suara wajan yang beradu dengan spatula, dan suara televisi dari warung.

“Halo, Pakne? Tumben jam segini nelepon. Bukannya lagi sibuk ngatur truk masuk?” sapa suara renyah Bu Ningsih dari seberang sana.

​”Iya, Bune. Ini Bapak lagi istirahat sebentar,” jawab Pak Agus dengan nada suaranya yang tenang, sengaja tidak menunjukkan kepanikan agar istrinya tidak ikut kaget. “Bune lagi sibuk banget di warung?”

“Nggak terlalu sih, ini lagi goreng tempe mendoan ronde terakhir. Ada apa, Pakne? Tumben.”

​Pak Agus menatap Maya, memberikan senyum kecil untuk menenangkan gadis itu. “Gini, Bune. Nduk Maya ini lagi ada di pos sama Bapak.”

“Lho? Maya? Kok ada di pos? Emangnya dia udah pulang? Ini kan baru jam empat sore,” tanya Bu Ningsih heran.

​”Justru itu masalahnya, Bune,” Pak Agus menghela napas. “Manajemen malnya tiba-tiba ngasih aturan lembur paksa buat semua sif pagi. Gladi resiknya dimajuin. Maya nggak bisa pulang malam ini. Dia harus standby di dalam sampai mal tutup, mungkin sampai tengah malam.”

​Terdengar suara helaan napas panjang dari ujung telepon, diikuti decakan kesal. “Astaghfirullah… kebangetan banget bos-bosnya itu. Nggak punya hati apa nyuruh anak perempuan kerja dari pagi ketemu tengah malam. Terus gimana Nduk Maya? Dia kan pasti capek banget.”

​”Maya bukan mikirin capeknya, Bune,” sahut Pak Agus, suaranya melembut. “Dia lagi nangis tersedu-sedu di sini mikirin ibunya. Obat ibunya habis tadi pagi. Harusnya Maya beli pas pulang kerja. Kalau nggak diminum nanti malam, ibunya bisa sesak napas lagi.”

​Hening sesaat dari seberang telepon. Namun, keheningan itu hanya berlangsung dua detik sebelum Bu Ningsih merespons dengan nada yang luar biasa sigap dan penuh inisiatif.

“Ya Allah, kasihan banget bocah itu,” ucap Bu Ningsih cepat. “Yowis, Pakne. Kamu bilangin ke Maya, dia nggak usah nangis lagi. Nggak usah panik. Suruh dia fokus kerja aja cari duit yang halal di situ.”

​Terdengar suara api kompor yang dimatikan dari seberang sana.

“Bune sekarang juga bakal nutup warung lebih awal. Bune mau langsung jalan kaki ke apotek depan gang beli obatnya Yu Asih yang biasa itu,” lanjut Bu Ningsih dengan nada menggebu-gebu. “Habis itu Bune langsung ke kontrakannya Maya. Bune bakal suapin ibunya makan malam, kasih obatnya, sekalian Bune temenin tidur di sana malam ini biar ibunya nggak sendirian. Kalau ada apa-apa, Bune yang langsung urus.”

​Mendengar rentetan kalimat dari Bu Ningsih itu, Maya kembali menangis. Namun kali ini, itu adalah tangisan kelegaan yang luar biasa besar. Beban berton-ton yang sejak tadi menghimpit dadanya seolah diangkat begitu saja oleh kebaikan hati pasangan paruh baya ini.

​”B-Bude… ini Maya…” ucap Maya mendekat ke arah ponsel itu, suaranya parau dan bergetar hebat. “Bude, makasih banyak ya, Bude. Maaf Maya selalu ngerepotin Bude sama Pak Agus. Maya pinjam uang Bude dulu buat beli obatnya. Nanti kalau gaji Maya cair, pasti Maya ganti semuanya.”

“Halah, Nduk! Suaramu kok sampai sember begitu nangisnya,” omel Bu Ningsih dengan nada keibuan yang sangat hangat. “Udah, kamu nggak usah mikir utang-utangan. Obat ibumu itu harganya nggak seberapa dibanding nyawa. Kamu simpan aja gajimu nanti buat beli makan yang bergizi biar badanmu nggak kurus kering begitu. Urusan ibumu malam ini, Bude yang jamin aman seratus persen. Kamu percaya kan sama Bude?”

​”P-percaya, Bude. Sangat percaya,” isak Maya, menganggukkan kepalanya berulang kali meskipun Bu Ningsih tidak bisa melihatnya.

“Yowis. Bude tutup ya, mau siap-siap ke apotek. Pakne, kamu jagain Maya di situ ya. Kalau dia belum makan, beliin nasi bungkus di kantin supir!” perintah Bu Ningsih pada suaminya sebelum menutup telepon.

​”Iya, Bune. Siap laksanakan,” jawab Pak Agus sambil tersenyum.

​Sambungan telepon pun terputus.

​Pak Agus memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku safarinya. Ia menatap Maya yang kini sedang mengusap wajahnya dengan tisu yang diberikan Pak Agus.

​”Nah, sudah dengar sendiri kan janji Bude-mu?” Pak Agus kembali duduk di kursinya. “Ibumu aman malam ini. Kamu nggak perlu takut dipecat, dan kamu nggak perlu takut ibumu kenapa-kenapa. Sekarang, hapus air matamu itu. Jangan sampai teman-teman kerjamu di dalam lihat kamu habis menangis. Nanti mereka malah makin cari gara-gara.”

​Maya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kepanikan yang membutakan tadi telah lenyap, digantikan oleh sebuah rasa aman relatif.

​Meskipun ia tahu malam ini ia akan disiksa oleh pekerjaan fisik yang berat, setidaknya pikiran utamanya telah tenang. Jangkar kewarasannya kembali menancap kuat.

​”Terima kasih banyak, Pak Agus,” ucap Maya dengan senyum tulus yang sangat tipis. Ia menatap pria itu dengan rasa hormat yang mendalam. “Bapak sama Bude adalah pahlawan buat keluarga Maya. Kalau nggak ada Bapak, Maya nggak tahu harus bertahan gimana lagi.”

​Pak Agus tersenyum hangat, garis-garis keriput di sekitar matanya terlihat jelas. “Pahlawan itu yang ada di film-film, May. Bapak ini cuma satpam tua. Kita ini hidup bertetangga memang harus saling bantu. Apalagi Bapak tahu persis gimana kerasnya bapakmu dulu berjuang buat keluargamu.”

​Pak Agus mengambil termos kecil dari dalam posnya, lalu menuangkan teh hangat ke dalam sebuah gelas plastik bersih. Ia menyodorkannya pada Maya.

​”Diminum dulu, May. Mumpung belum disuruh masuk ke area panggung lagi. Perutmu pasti kosong kan?”

​Maya menerima gelas itu. “Iya, Pak. Dari pagi baru makan nasi sedikit.”

​Ia meniup teh manis itu perlahan, lalu menyesapnya. Rasa manis dan hangat yang mengalir di kerongkongannya memberikan sedikit suntikan energi pada otaknya yang kelelahan. Angin sore yang berhembus di area loading dock terasa sejuk, mengeringkan keringat di lehernya.

​Untuk sesaat, dalam gelembung waktu selama lima belas menit ini, Maya merasa aman. Di tempat yang penuh debu dan berbau asap knalpot ini, ia menemukan secuil kemanusiaan yang tak pernah ia dapatkan di atas lantai pualam mal yang mewah.

​Namun, kedamaian di Grand Atrium Mall adalah sebuah privilese yang sangat langka dan mahal, terutama bagi seseorang yang berada di kasta terendah.

Trak… trak… trak…

​Suara ketukan hak sepatu yang beradu dengan lantai beton memecah ketenangan sore itu. Suaranya tidak tergesa-gesa, melainkan mengalun dengan ritme yang sengaja dibuat lambat, arogan, dan memancarkan dominasi.

​Maya langsung menegang. Teh yang baru ia telan terasa tersangkut di tenggorokan. Refleks biologisnya terhadap bahaya langsung aktif. Ia mengenal suara langkah itu. Ia sangat mengenal aroma parfum mawar murahan namun menyengat yang selalu mendahului kedatangan pemiliknya.

​Dari arah pintu lorong servis yang menghubungkan basement dengan loading dock, muncul dua sosok wanita berseragam biru.

​Sari dan Icha.

​Kedua wanita itu tidak terlihat sedang bekerja, meskipun pengumuman lembur wajib baru saja dikumandangkan setengah jam yang lalu. Seragam biru mereka masih terlihat sangat rapi, tidak ada noda debu, tidak ada peluh yang membasahi dahi mereka. Makeup mereka masih utuh sempurna. Sari bahkan sedang mengunyah permen karet dengan gaya yang menantang.

​Sari menghentikan langkahnya tepat di tengah area loading dock. Matanya yang dibingkai eyeliner tajam langsung memindai sekeliling, dan tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok Maya yang sedang duduk di kursi plastik dekat pos keamanan.

​Seringai yang luar biasa sinis terbit di bibir merah Sari. Matanya berkilat penuh antisipasi sadis, layaknya seekor predator yang baru saja menemukan mangsanya sedang beristirahat lengah di padang rumput.

​”Wah, wah, wah. Liat siapa yang lagi asyik nongkrong di sini, Cha,” seru Sari dengan suara melengking, sengaja dikeraskan agar beberapa sopir truk logistik di kejauhan bisa mendengar.

​Sari melangkah mendekat dengan ayunan pinggul yang berlebihan. Icha mengekor di belakangnya sambil menyilangkan tangan di dada, senyum mengejek tak pernah lepas dari wajahnya.

​Maya buru-buru berdiri dari kursinya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, memegang gelas plastik berisi teh hangat itu dengan kedua tangannya di depan perut. Ia mencoba mengecilkan postur tubuhnya, sebuah bahasa tubuh submisif yang ia harap bisa membuat Sari bosan dan pergi meninggalkannya.

​”P-permisi, Mbak Sari, Mbak Icha,” sapa Maya pelan, matanya menatap ujung sepatu pantofel Sari yang kini berhenti tepat satu meter di depannya.

​Sari meniup permen karetnya hingga meletus dengan bunyi pop kecil. Ia memiringkan kepalanya, menatap Maya dari ujung rambut yang lepek, turun ke kacamata berselotipnya, dan berakhir pada seragam biru Maya yang dipenuhi noda debu proyek.

​”Permisi? Lo pikir ini jalan nenek moyang lo, main permisi-permisi aja?” balas Sari dengan nada mendayu-dayu yang dipenuhi racun.

​Ia melangkah setengah tindak lebih dekat. Hidungnya berkerut, ia mengibaskan tangannya di depan wajah dengan gaya yang sangat teatrikal dan merendahkan.

​”Sumpah ya, Cha. Tiap kali gue deket-deket sama si Maya ini, bau apeknya itu lho, langsung nusuk hidung. Bau keringet campur debu got,” keluh Sari, melirik Icha yang langsung merespons dengan tawa cekikikan.

​”Iya, Sar. Namanya juga orang susah. Boro-boro beli parfum mahal kayak lo, beli sabun mandi aja mungkin dia mikir dua kali. Pantesan aja tadi pengunjung di atrium pada ngejauh pas dia ngepel,” timpal Icha dengan mulut jahatnya, menambahkan bahan bakar ke dalam api penghinaan.

​Pak Agus yang masih berdiri di dalam posnya langsung mengeraskan rahangnya. Ia melangkah keluar dari pos, berdiri di samping Maya dengan dada membusung. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat tegas dan tidak ramah.

​”Sari, Icha,” tegur Pak Agus dengan suara baritonnya yang berat, memancarkan otoritas seorang petugas keamanan. “Ini area loading dock. Kalau kalian tidak ada kepentingan logistik di sini, silakan kembali ke dalam. Jangan mencari keributan dengan rekan kerja kalian sendiri.”

​Sari memutar bola matanya dengan malas. Ia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh teguran Pak Agus. Di matanya, seorang satpam basement hanyalah pegawai rendahan yang tidak memiliki kuasa untuk menghukumnya, berbeda dengan manajer atau supervisor.

​”Duh, Pak Agus. Siapa juga yang mau cari ribut sih? Kita kan cuma lagi jalan nyari angin segar,” sahut Sari dengan nada genit yang meremehkan. Ia melipat lengannya di dada. “Lagian, Bapak ini ngapain sih belain banget si babu dekil ini? Udah kayak bapaknya sendiri aja. Hati-hati lho Pak, nanti ketularan virus miskinnya.”

​”Jaga mulutmu, Sari!” bentak Pak Agus, suaranya meninggi, sebuah peringatan keras. Matanya menatap tajam ke arah wanita dominan itu. “Kalian ini sama-sama kerja cari makan di sini. Sama-sama pakai seragam biru. Jangan merasa derajatmu lebih tinggi cuma karena kamu pintar cari muka di depan bos.”

​Teguran Pak Agus itu menohok tepat di ego Sari. Sindiran tentang ‘cari muka’ adalah rahasia umum di divisi mereka, di mana Sari sering terlihat sangat dekat dengan beberapa manajer pria untuk mendapatkan area kerja yang ringan.

​Wajah Sari seketika memerah padam menahan amarah. Namun ia tahu, berdebat panjang dengan sekuriti bisa membuatnya mendapat laporan pelanggaran. Maka, ia memfokuskan kembali seluruh agresi dan racunnya kepada target yang paling lemah.

​Sari menatap Maya dengan pandangan yang luar biasa kejam, sebuah tatapan yang dirancang untuk menguliti harga diri seseorang hingga ke dasar tulangnya.

​”Lo dengerin gue baik-baik ya, May,” desis Sari, suaranya kini merendah, menekan setiap suku kata dengan penuh kebencian. Ia menunjuk tepat ke lambang mal yang ada di dada seragam Maya.

​”Itu seragam dikasih sama perusahaan buat dijaga. Buat lo pakai kerja yang benar. Bukan buat lo jadiin keset lantai!” Sari melirik noda-noda kotor di kemeja Maya. “Lo lihat seragam lo sendiri. Penuh noda, kucel, bau. Lo tuh bener-bener nggak tahu cara ngerawat diri ya?”

​Maya menelan ludah. Tangan kirinya tanpa sadar bergerak meremas ujung kemejanya, berusaha menyembunyikan noda debu gergaji yang menempel di sana. “S-saya tadi habis nyikat debu di bawah panggung, Mbak… makanya kotor.”

​”Nggak usah banyak alasan!” potong Sari tajam. Ia melangkah maju hingga ujung sepatunya nyaris menyentuh sepatu bot Maya.

​Sari menundukkan wajahnya, menyejajarkan pandangannya dengan mata Maya yang tertunduk di balik kacamata selotipnya.

​”Asal lo tahu ya, May,” bisik Sari, nadanya dipenuhi oleh kepuasan sadis. “Lo itu ngerusak pemandangan mal ini. Setiap kali pengunjung ngeliat muka lo yang suram dan baju lo yang dekil ini, mereka pasti mikir mal ini nggak punya standar karyawan yang bagus. Lo itu cuma bikin malu divisi kita.”

​Sari tersenyum miring, sebuah senyuman iblis yang mematikan sisa-sisa harapan di hati Maya.

​”Lo itu miskin, May. Jelek, kusam, nggak ada harganya sama sekali,” lanjut Sari, menyusun kata-katanya layaknya pisau bedah yang memotong mental Maya. “Cowok mana pun yang ngeliat lo pasti langsung jijik. Lo nggak punya nilai tawar di dunia ini. Lo bakal terus jadi babu dekil, yang kerjanya cuma nunduk-nunduk bersihin kotoran orang kaya, ngepel muntahan di toilet, sampai badan lo ancur dan lo mati sendirian di kontrakan kumuh lo itu.”

​Kata-kata itu meluncur tanpa hambatan, menghantam ulu hati Maya dengan telak.

​Itu bukanlah sekadar ejekan biasa. Itu adalah sebuah serangan psikologis yang sangat presisi, dirancang untuk menghancurkan insecurity terdalam yang Maya miliki. Sari tahu Maya miskin. Sari tahu Maya menderita. Dan Sari menggunakan fakta itu sebagai senjata untuk memastikan Maya tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa keluar dari lumpur penderitaan ini.

​Air mata akhirnya menetes dari sudut mata Maya, mengalir diam-diam di balik bingkai kacamatanya yang miring. Ia tidak terisak. Ia tidak membalas. Ia hanya menerima setiap kata-kata itu layaknya seorang pesakitan yang sedang menerima cambukan algojo. Dadanya terasa begitu sesak, namun ia mengunci mulutnya rapat-rapat.

​Pak Agus yang tidak tahan lagi melihat penyiksaan mental itu, langsung melangkah maju dan mendorong bahu Sari dengan cukup keras.

​”Mundur kamu, Sari! Keluar dari area saya sekarang juga!” teriak Pak Agus dengan suara yang menggelegar, wajahnya memancarkan amarah murni. Ia mengusir wanita itu layaknya mengusir hewan liar. “Kalau kamu masih berani buka mulut, saya akan seret kamu ke kantor HRD sekarang juga karena melakukan penindasan pada sesama karyawan!”

​Mendapat dorongan fisik dan ancaman HRD, Sari akhirnya mundur beberapa langkah. Ia membetulkan kerah seragamnya yang sedikit berantakan akibat dorongan Pak Agus. Ia tidak terlihat takut, melainkan terlihat sangat puas karena berhasil membuat Maya menangis.

​”Santai aja dong, Pak. Nggak usah main fisik. Satpam kok kasar,” cibir Sari dengan tawa meremehkan. Ia menoleh pada Icha yang sedari tadi menonton dengan asyik. “Yuk, Cha. Kita ke atas. Mending kita bantuin orang EO setting panggung VIP daripada ngeladenin satpam baperan sama babu nangis ini.”

​”Yuk, Sar. Bikin aura kita ikutan miskin aja lama-lama di sini,” sahut Icha menyetujui.

​Sari memberikan satu tatapan terakhir yang luar biasa merendahkan ke arah Maya. “Selamat nikmatin sisa hidup lo yang nyedihin itu ya, May. Jangan lupa ngepelnya yang bersih.”

​Kedua wanita itu berbalik dan berjalan melenggang dengan angkuh meninggalkan area loading dock. Suara tawa cekikikan mereka menggema di lorong servis, perlahan-lahan memudar hingga akhirnya lenyap sepenuhnya.

​Begitu mereka pergi, keheningan yang menyakitkan kembali menyelimuti pos keamanan tersebut.

​Maya masih berdiri menunduk. Tetesan air matanya jatuh ke atas lantai beton yang kotor, meninggalkan bercak-bercak basah yang kecil. Ia masih memegang gelas teh plastiknya erat-erat.

​Pak Agus menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kasar dengan kedua tangan. Pria tua itu merasa gagal melindungi gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Ia berjalan perlahan menghampiri Maya.

​”Sudah, May… sudah. Jangan dimasukkan ke hati omongan perempuan iblis itu,” bujuk Pak Agus dengan suara baritonnya yang kini bergetar karena menahan haru. Ia menepuk punggung Maya dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang. “Dia itu cuma orang berhati kotor yang iri karena dia nggak punya ketulusan seperti kamu.”

​Maya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Pak Agus dengan senyum yang dipaksakan hingga bibirnya bergetar.

​”Mbak Sari nggak salah kok, Pak,” bisik Maya, suaranya terdengar luar biasa lelah dan pasrah. “Dia ngomong fakta. Maya emang miskin. Maya emang dekil. Maya nggak punya nilai apa-apa di dunia ini selain jadi tukang bersih-bersih.”

​”Maya! Jangan ngomong begitu!” bantah Pak Agus tegas.

​”Nggak apa-apa, Pak. Maya udah terima takdir ini,” Maya menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya dengan kasar. Ia meletakkan gelas teh yang sudah kosong itu ke atas meja pos.

​Sebuah pengumuman dari HT di pinggang Pak Agus berbunyi statis, mengingatkan Maya bahwa waktu istirahat curiannya telah habis. Lembur wajibnya baru saja akan dimulai.

​”Maya pamit ke dalam dulu ya, Pak. Bu Ratna pasti udah nyariin untuk bersihin sisa panggung di atrium,” ucap Maya, menyandang tas ranselnya kembali. Ia membungkuk sekilas, memberikan rasa hormat terakhirnya. “Sekali lagi, tolong sampaikan terima kasih Maya yang paling besar buat Bude Ningsih ya, Pak. Malam ini, Maya bisa kerja dengan tenang karena ada kalian.”

​Tanpa menunggu balasan dari pria paruh baya yang matanya mulai berkaca-kaca itu, Maya membalikkan badannya.

​Ia mulai melangkah menyusuri lorong servis yang gelap dan panjang, berjalan kembali menuju perut bumi Grand Atrium Mall. Langkah kakinya terasa luar biasa berat. Punggungnya melengkung, memikul beban kemiskinan, rasa malu, dan keputusasaan yang tiada akhir.

​Di dalam kepalanya, suara tawa merendahkan Sari terus menggema, memakan sisa-sisa harga dirinya, dan secara perlahan… tanpa Maya sadari… menumbuhkan sebuah bibit kegelapan yang kelak akan mengubahnya menjadi entitas yang tak pernah bisa dihentikan oleh siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.