Pukul 23:15 Waktu Indonesia Barat.
Lampu-lampu gantung kristal di Atrium Utama Grand Atrium Mall telah lama dipadamkan, menyisakan deretan lampu sorot kerja berwarna putih silau yang menyorot tajam ke arah panggung raksasa.
Udara malam di dalam mal yang biasanya sejuk dan wangi, kini terasa sumpek, berdebu, dan dipenuhi oleh bau keringat puluhan pekerja laki-laki.
Maya berdiri di sudut panggung akrilik hitam tersebut.
Tangannya yang berbalut plester luka memegang erat gagang alat pel berbahan sumbu kain. Lengan seragam birunya sudah basah kuyup. Rambut kuncir kudanya lepek menempel di dahi. Otot bahu dan pinggangnya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata akibat merunduk dan mengepel tanpa henti selama lebih dari lima jam berturut-turut.
”Woy! Yang baju biru! Sini bentar!”
Teriakan kasar itu menggema dari atas panggung. Pria ber- pomade dari pihak Event Organizer (EO) menunjuk ke arah Maya dengan wajah frustrasi.
Maya terkesiap. Ia segera meletakkan gagang pelnya, setengah berlari menghampiri pria tersebut. “I-iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?”
”Liat nih!” Pria itu menunjuk ke arah lantai akrilik hitam glossy di dekat susunan lampu panggung. “Tadi anak-anak lighting numpahin sisa pelumas kabel di sini. Lantainya jadi licin banget! Kalau besok model-model bule itu kepeleset pas gladi resik, kamu mau tanggung jawab bayar asuransi mereka?!”
Maya menunduk dalam-dalam. “M-maaf, Mas. Saya akan bersihkan sekarang juga.”
”Jangan dipel pakai air! Nanti malah makin licin menyebar ke mana-mana!” bentak pria itu tak sabaran. “Lap pakai kain kering! Gosok sampai minyaknya benar-benar hilang! Jangan sampai ada sisa buram di akriliknya. Cepat!”
Pria itu langsung berbalik dan berteriak memberikan instruksi lain kepada krunya, mengabaikan eksistensi Maya seolah gadis itu hanyalah mesin pembersih tak bernyawa.
Maya menelan ludah yang terasa seperti butiran pasir. Kerongkongannya sangat kering. Ia belum minum setetes air pun sejak di pos Pak Agus sore tadi.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Maya berlutut di atas lantai akrilik yang keras tersebut. Ia mengeluarkan lap microfiber kering dari saku celananya.
Bau pelumas kabel itu sangat menyengat, menyerupai bau oli mesin yang dicampur bahan kimia. Maya mulai menggosokkan lapnya ke atas noda minyak tersebut. Lantai akrilik hitam ini sangat sensitif, tekanan yang salah sedikit saja bisa meninggalkan goresan, dan Bu Ratna pasti akan memenggal kepalanya jika itu terjadi.
Srek… srek… srek…
Gerakan tangannya melambat. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang di balik kacamata selotipnya. Rasa lapar yang luar biasa parah membuat asam lambungnya naik, menciptakan rasa mual yang melilit di perutnya.
Dari sudut matanya, Maya bisa melihat Sari dan Icha berada di seberang panggung.
Kedua wanita itu juga terkena lembur wajib. Namun, tidak seperti Maya yang diperbudak oleh orang-orang EO, Sari dan Icha terlihat sangat santai. Mereka hanya memegang kemoceng, sesekali mengusap pinggiran pagar pembatas, lalu kembali mengobrol dan tertawa-tawa. Sesekali, Sari melirik ke arah Maya yang sedang merangkak, lalu membisikkan sesuatu pada Icha yang disambut dengan tawa cekikikan yang merendahkan.
”Sari… Icha… kalian tidak membersihkan area belakang layar LED?!”
Suara berat dan galak Bu Ratna tiba-tiba memecah tawa mereka. Manajer tambun itu muncul dari balik pilar dengan wajah ditekuk, matanya merah karena kelelahan mengawasi lembur.
Sari langsung menegakkan posturnya, senyum genitnya terpasang otomatis.
”Sudah, Bu Ratna! Area belakang layar LED sudah kami bersihkan sampai debu terakhirnya hilang,” jawab Sari dengan nada yang luar biasa meyakinkan. “Kami sekarang lagi standby jaga-jaga kalau ada kru yang butuh bantuan di area depan. Kasihan tuh Maya, dari tadi kerjanya lambat banget. Masa ngepel minyak aja nggak kelar-kelar.”
Bu Ratna mendengus, memutar matanya ke arah Maya yang sedang berlutut.
”Maya! Jangan berlaga seperti siput! Gosok yang cepat!” bentak Bu Ratna dari kejauhan. Wanita itu kemudian menoleh kembali pada Sari. “Bagus. Kalau area kalian sudah bersih, tunggu sampai koordinator EO memberikan lampu hijau. Jangan ada yang berani curi-curi waktu untuk tidur.”
”Siap, Bu Ratna!” sahut Icha dengan gaya hormat militer yang dibuat-buat.
Maya memejamkan mata. Ia memaksakan tangannya untuk bergerak lebih cepat. Ia menggosok dan terus menggosok hingga pelumas itu akhirnya hilang tak bersisa, mengembalikan kilau sempurna lantai akrilik panggung tersebut.
Pukul 00:30 tengah malam.
”Oke, clear! Semua lampu dimatikan! Kunci area panggung!” teriak sang Floor Director dari tengah atrium. “Terima kasih kerja kerasnya hari ini! Besok pagi jam enam standby untuk gladi resik! Bubar!”
Pengumuman itu terdengar seperti suara malaikat penyelamat di telinga para pekerja yang kelelahan.
Para kru teknis mulai membereskan peralatan mereka. Maya berdiri dengan susah payah. Punggungnya berderak kaku. Ia memungut alat pel dan troli kuningnya, mendorongnya dengan langkah yang sangat diseret menuju lorong basement.
Ruang ganti basement malam itu dipenuhi oleh helaan napas kelelahan. Tidak ada yang banyak bicara. Semua orang hanya ingin cepat-cepat mengganti seragam mereka dan pulang.
Sari dan Icha sudah pergi lebih dulu, berjalan tergesa-gesa sambil menelepon pacar-pacar mereka untuk menjemput di depan.
Maya mencuci tangan dan wajahnya di wastafel ruang ganti secara asal-asalan. Ia mengganti kemeja seragamnya dengan kaus oblong lusuh dan jaket parasutnya, lalu menyandang tas ranselnya.
Saat ia berjalan keluar menuju pintu loading dock di bagian belakang mal, udara malam Jakarta yang luar biasa dingin langsung menusuk tulang-tulangnya.
Di teras loading dock yang gelap, di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip redup, sosok Pak Agus sedang berdiri menyandar pada motor bebek tuanya. Pria paruh baya itu mengenakan jaket kulit tebal berwarna hitam, mengembuskan asap rokok kreteknya untuk mengusir kantuk.
Melihat Maya berjalan keluar dengan langkah gontai, Pak Agus langsung mematikan rokoknya.
”Ya Allah, Nduk. Wajahmu pucat banget kayak mayat,” seru Pak Agus, segera melangkah maju menghampiri Maya. Pria itu mengambil alih tas ransel dari bahu Maya. “Ayo, naik ke motor Bapak. Kita pulang sekarang.”
Maya hanya bisa mengangguk lemah. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk memaksakan sebuah senyuman.
”Tadi Bude udah nelepon Bapak,” lapor Pak Agus sambil menyerahkan helm standar yang kaca depannya sudah banyak goresan kepada Maya. “Ibumu udah makan, obatnya udah diminum, dan sekarang lagi tidur nyenyak banget. Bude Ningsih juga udah gelar tikar di sebelah dipan ibumu. Kamu nggak usah khawatir lagi.”
Mendengar kabar itu, rasa sesak di dada Maya seketika mencair, digantikan oleh kelegaan yang membuatnya nyaris merosot jatuh.
”Makasih… makasih banyak, Pak,” bisik Maya, suaranya teredam oleh helm yang kebesaran.
”Udah, jangan banyak omong dulu. Kamu simpan tenagamu. Pegangan yang kencang ke jaket Bapak, ya. Jangan sampai kamu ketiduran terus jatuh ke jalan,” pesan Pak Agus.
Maya naik ke kursi boncengan motor bebek itu. Ia mencengkeram sisi jaket kulit Pak Agus dengan erat.
Motor tua itu menyala dengan suara mesin yang kasar, lalu melaju membelah jalanan Sudirman yang sudah sepi. Angin malam menampar wajah Maya, namun ia merasa aman. Untuk malam ini saja, ia tidak perlu memikirkan kekejaman dunia.
Pukul 01:15 dini hari.
Motor Pak Agus berhenti tepat di depan mulut gang rumah kontrakan Maya yang gelap. Gang itu terlalu sempit dan becek untuk dilewati motor.
Maya turun dari boncengan, mengembalikan helm tersebut. “Makasih banyak tebangannya, Pak Agus. Maaf Maya ngerepotin sampai selarut ini.”
”Ngomong apaan sih kamu ini, May. Kayak sama siapa aja,” Pak Agus tersenyum hangat, menepuk bahu Maya. “Sana masuk. Bude Ningsih nungguin di dalam. Besok pagi Bapak libur sif, jadi kamu berangkatnya pelan-pelan aja. Istirahat yang cukup malam ini.”
”Iya, Pak. Hati-hati di jalan ya, Pak.”
Maya berdiri di ujung gang, menatap lampu belakang motor Pak Agus hingga menghilang di tikungan jalan. Setelah itu, ia membalikkan badan dan mulai berjalan masuk ke dalam gang kumuh yang gelap gulita.
Udara di perkampungan padat itu terasa pengap. Suara jangkrik bersahutan dengan dengkuran beberapa tetangga yang terdengar dari balik dinding-dinding tripleks.
Maya tiba di depan pintu kontrakannya. Gembok berkaratnya tidak terpasang. Pintu itu sedikit terbuka.
Ia mendorong pintunya perlahan. Krieet.
”Maya? Udah pulang, Nduk?”
Suara Bu Ningsih yang serak karena menahan kantuk terdengar dari arah ruang depan. Wanita paruh baya itu sedang duduk bersila di atas tikar plastik yang digelar tak jauh dari batas tirai kamar. Sebuah selimut tipis melingkari bahunya.
Maya buru-buru melepas sepatunya dan masuk.
”Bude… Bude belum tidur?” tanya Maya, suaranya bergetar. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya melihat wanita seusia ibunya harus tidur di lantai keras demi menjaganya.
”Baru aja merem sebentar, denger suara pintumu kedorong,” Bu Ningsih tersenyum lebar, mengucek matanya. Ia berdiri dengan agak susah payah. “Alhamdulillah kamu pulang selamat. Gimana kerjaanmu? Lemburnya disiksa banget ya sama bos-bosmu itu?”
”Cuma capek biasa kok, Bude. Ibu… ibu beneran udah tidur?” Maya melongok ke arah celah tirai.
”Udah, Nduk. Pulas banget tidurnya,” Bu Ningsih menepuk lengan Maya pelan. “Tadi sore Bude suapin bubur habis setengah mangkuk. Terus langsung Bude kasih obat yang kamu minta itu. Nggak lama abis minum obat, batuknya langsung reda. Sekarang ibumu lagi mimpi indah.”
Mata Maya berkaca-kaca. Ia tiba-tiba meraih tangan Bu Ningsih dan mencium punggung tangan wanita gemuk itu berulang kali.
”Bude, Maya bener-bener nggak tau harus balas budi pakai apa. Maya nggak pegang uang sama sekali hari ini. Nanti kalau gajian—”
”Sst! Bude jewer lho kalau ngomongin ganti uang lagi,” potong Bu Ningsih dengan gaya galak namun penuh kasih sayang. Ia menarik tangannya, lalu merapikan rambut Maya yang berantakan. “Bude ikhlas, Nduk. Ikhlas lillahi ta’ala. Kamu itu udah Bude anggap anak sendiri. Udah, sekarang kamu mandi, cuci kaki, terus tidur. Besok pagi kan kamu harus kerja lagi.”
”Bude mau pulang sekarang? Di luar gelap banget lho, Bude,” Maya menatap khawatir.
”Pak Agus udah nungguin di depan pos ronda gang sebelah. Tenang aja,” Bu Ningsih tersenyum, melipat selimut tipisnya. “Bude pulang dulu ya, Nduk. Kunci pintunya yang rapat.”
”Iya, Bude. Hati-hati.”
Setelah Bu Ningsih pergi, Maya mengunci pintunya. Ia berjalan mengendap-endap ke balik tirai, menatap wajah ibunya yang sedang terlelap. Benar kata Bu Ningsih, napas ibunya jauh lebih teratur. Kerutan kesakitan di dahi wanita tua itu telah memudar.
Melihat kedamaian itu, segala kelelahan fisik Maya terasa sedikit terbayar. Hinaan Sari, omelan Bu Ratna, dan debu panggung yang menyiksa paru-parunya seolah kehilangan taringnya.
Maya merebahkan tubuhnya yang remuk redam di atas kasur busa tipisnya tanpa sempat mengganti baju. Ia memejamkan mata, dan dalam hitungan detik, ia langsung ditarik ke dalam jurang ketidaksadaran yang pekat.
Keesokan harinya. Pukul 12:30 siang.
Hiruk-pikuk Grand Atrium Mall di jam istirahat makan siang karyawan terasa seperti pasar tradisional yang dipindahkan ke dalam gedung bawah tanah.
Kantin karyawan yang terletak di lorong paling ujung basement dipenuhi oleh ratusan staf, mulai dari SPG toko, satpam, teknisi, hingga petugas kebersihan. Bau minyak goreng bekas, aroma ayam penyet pedas, dan asap rokok mengepul tebal di udara. Suara tawa keras, obrolan tentang cicilan motor, dan keluhan tentang atasan saling bertabrakan, menciptakan polusi suara yang membuat kepala pusing.
Sari dan Icha sedang duduk di salah satu meja plastik panjang di sudut kantin, menikmati seporsi nasi soto ayam spesial lengkap dengan sate usus. Mereka asyik membicarakan sinetron tadi malam sambil sesekali melirik sinis pada SPG dari toko pesaing.
Namun, di tengah lautan manusia kelaparan itu, sosok Maya sama sekali tidak terlihat.
Maya tidak pergi ke kantin. Ia tidak punya alasan untuk ke sana.
Dompet plastiknya benar-benar kosong melompong. Uang belasan ribu yang ia miliki kemarin sudah habis untuk ongkos angkot berangkat pagi ini. Memasuki kantin dan duduk di sana hanya untuk mencium aroma makanan orang lain sama saja dengan menyiksa dirinya sendiri secara perlahan.
Gadis kurus itu memilih untuk mengasingkan diri.
Ia berjalan menyusuri lorong beton basement yang berlawanan arah dengan letak kantin. Ia berbelok memasuki Lorong G, sebuah lorong servis buntu yang sudah lama tidak digunakan secara aktif oleh pihak manajemen mal.
Lorong G adalah tempat pembuangan sementara untuk barang-barang mal yang rusak. Di sana, tertumpuk manekin-manekin plastik tanpa lengan, sisa-sisa banner promosi acara tahun lalu yang sudah robek, kardus-kardus kosong, dan beberapa pot tanaman hias mati yang menunggu dibuang.
Lampu neon di lorong itu sering berkedip-kedip, dan sebagian besar mati total, menyisakan pencahayaan yang sangat remang-remang. Udaranya lembap, pengap, dan berbau debu kardus yang khas. Sangat sepi. Tidak ada satu pun karyawan waras yang mau menghabiskan jam istirahat berharganya di tempat suram ini.
Bagi Maya, kegelapan dan kesunyian ini adalah satu-satunya tempat persembunyian yang tersisa. Tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura baik-baik saja, dan tidak perlu menahan rasa malu atas kemiskinannya.
Maya duduk di atas sebuah kardus kulkas tebal yang kosong, menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang kasar.
Ia menekuk kedua lututnya dan memeluknya erat-erat. Perutnya bergemuruh hebat, mengeluarkan suara keroncongan yang menyakitkan. Asam lambungnya naik, membuat kepalanya terasa berputar dan pandangannya sedikit berkunang-kunang.
Ia mengambil botol air mineral bekas dari tas ranselnya. Isinya adalah air keran yang ia masak dari rumah subuh tadi.
Maya meminum air itu dengan tegukan-tegukan besar. Ia berusaha menipu lambungnya, memenuhinya dengan cairan agar rasa lapar yang melilit itu sedikit mereda. Air tawar itu terasa hambar dan dingin, namun hanya itu yang bisa ia konsumsi.
Setelah menghabiskan setengah botol air, Maya meletakkannya di lantai. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Kelelahan ekstrem akibat lembur semalam, ditambah kurang tidur dan perut kosong, membuat mentalnya berada di titik terendah. Di luar sana, di lantai dasar, acara gladi resik Lumière Merveille sedang berlangsung megah. Suara musik bass yang menghentak bahkan bisa dirasakan getarannya hingga ke lantai lorong tempatnya duduk.
Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? batin Maya merintih, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang tersembunyi di balik kacamata selotipnya. Apakah aku benar-benar tidak ada harganya seperti yang dibilang Sari? Apakah takdirku cuma untuk disiksa dan mati kelaparan di sudut gelap seperti ini?
Di tengah keputusasaan yang menggelapkan pikirannya, telinga Maya tiba-tiba menangkap suara langkah kaki dari arah depan lorong.
Langkah itu tidak berderap tegas seperti langkah Bu Ratna atau satpam yang sedang patroli. Langkah itu terdengar ragu-ragu, menyeret sepatu, dan sesekali berhenti.
Maya langsung menahan napas. Ia mengangkat wajahnya dengan panik.
Apakah itu supervisor yang sedang melakukan razia karyawan yang bolos? Jika ia ketahuan bersembunyi di area barang bekas, ia bisa dituduh mencoba mencuri atau bermalas-malasan.
”Aduh, gelap banget sih di sini…”
Suara gerutuan yang melengking pelan, bernada manja dan sedikit ketakutan itu memantul di dinding beton.
Maya mengerjap. Ia sangat mengenali suara itu.
Dari ujung lorong yang remang-remang, muncul sebuah cahaya putih menyilaukan dari senter handphone. Cahaya itu menyapu ke sana kemari secara asal, menyorot tumpukan kardus dan manekin rusak.
Di balik cahaya itu, terlihat sosok seorang gadis berseragam biru dengan pipi tembam yang terlihat sedang merinding ketakutan.
Rani.
Gadis polos itu berjalan masuk perlahan, bahunya menyusut. Tangan kirinya memegang handphone yang senternya menyala, sementara tangan kanannya menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
”Ih, ngeri banget sih tempatnya. Kayak markas setan,” gumam Rani pelan, matanya melotot memindai sekeliling. “Kalau bukan demi Maya, ogah banget aku masuk ke lorong berhantu ini.”
Mendengar gumaman bodoh namun tulus itu, rasa panik Maya seketika menguap, digantikan oleh sebuah rasa haru yang tiba-tiba menyesakkan dada. Rani mencarinya. Di saat seluruh isi mal ini sibuk dengan perut mereka sendiri, gadis polos ini rela menembus lorong menyeramkan ini hanya untuk mencarinya.
Maya berdehem pelan. “Aku di sini, Ran.”
”Hwaaaa!! Setan!!”
Rani menjerit histeris, melompat mundur satu langkah dengan gerakan yang sangat konyol. Ia langsung mengarahkan senter handphone-nya tepat ke arah wajah Maya.
Cahaya putih terang itu langsung membutakan mata Maya. “Aduh, Ran! Silau! Ini aku, Maya, bukan setan!” protes Maya sambil menutupi matanya dengan sebelah lengan.
Rani menurunkan senternya, memicingkan matanya untuk memastikan. Saat ia melihat kacamata selotip dan wajah kuyu sahabatnya, napas Rani langsung terhela panjang dengan lega.
”Ya ampun, Mayaa!!” seru Rani dengan nada kesal bercampur lega. Ia berjalan tergesa-gesa menghampiri kardus tempat Maya duduk. “Kamu tuh ya, bikin jantungan aja! Aku kira tadi suara kuntilanak numpang batuk! Ngapain sih kamu mojok di sini gelap-gelapan? Lagi semedi nyari wangsit nomor togel apa gimana?!”
Maya tertawa pelan, tawa yang terdengar serak. “Enggak, Ran. Aku cuma lagi pengen sepi aja. Di kantin kan berisik banget, kepalaku pusing kalau dengar orang ngobrol.”
Rani mematikan senter handphone-nya, membiarkan mata mereka kembali beradaptasi dengan keremangan lorong. Ia meniup debu dari sebuah tumpukan koran bekas di sebelah Maya, lalu ikut duduk di sana dengan santai, sama sekali tidak peduli seragamnya akan kotor.
Rani memajukan bibir bawahnya, membentuk kerucut kekesalan andalannya.
”Alah, bohong,” tuduh Rani polos, menatap Maya dengan sepasang mata bulatnya yang tajam menembus kebohongan sahabatnya. “Kamu pasti nggak ke kantin gara-gara nggak punya duit kan buat beli makan? Dompetmu kosong melompong kan hari ini?”
Tembakan Rani terlalu akurat. Maya menundukkan wajahnya, memainkan ujung ritsleting tas ranselnya. Ia tidak bisa mengelak.
”Iya, Ran,” jawab Maya pelan, rasa malu kembali merayap. “Uangku udah habis buat ongkos. Nggak apa-apa kok, aku udah minum air putih sebotol. Perutku udah lumayan keisi.”
”Keisi air doang mah sama aja bohong, May! Ntar kalau kamu jalan, perutmu bunyi krucuk-krucuk kayak galon bocor,” omel Rani, persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang susah makan.
Rani kemudian tersenyum lebar. Ia menarik tangan kanannya yang sejak tadi disembunyikan di balik punggungnya.
Di telapak tangannya, tergenggam sebuah benda yang dibungkus oleh plastik bening tipis yang sangat lecek.
”Tadaaa!!” seru Rani bangga, menyodorkan benda itu tepat di depan wajah Maya.
Mata Maya membelalak. Di dalam plastik tipis itu, terdapat sebuah donat kampung.
Donat itu tidak lagi berbentuk bulat sempurna. Benda itu sudah penyok, pipih, dan agak hancur karena terlalu lama tergencet di dalam saku celana Rani saat gadis itu bekerja membersihkan eskalator sejak pagi. Taburan meses cokelat murahan di atasnya sudah mencair dan menempel lengket di dinding plastiknya, bercampur dengan butiran gula halus yang basah oleh suhu panas saku celana.
Bagi orang-orang kaya yang sedang menyantap hidangan katering mewah di tenda VVIP di lantai atas, donat penyok berlumur cokelat cair itu mungkin terlihat seperti seonggok sampah yang tidak layak disajikan bahkan untuk hewan peliharaan.
Namun bagi Maya… di saat kelaparan memelintir lambungnya dan rasa putus asa membutakan matanya… donat penyok itu terlihat bagaikan bongkahan berlian yang diturunkan langsung dari surga.
”I-itu… Ran… kamu dapet dari mana?” tanya Maya takjub, suaranya bergetar hebat. Matanya tak bisa lepas dari roti manis tersebut.
”Dapet dari mana lagi, ya beli dong pakai uangku sendiri di warung depan gang tadi pagi,” jawab Rani dengan senyum cemerlang yang membuat pipi tembamnya semakin menggemaskan.
Rani mulai membuka belahan plastik lecek itu dengan hati-hati. Tangannya yang masih kasar dan belum dicuci bersih sehabis bekerja sama sekali tidak ragu. Dengan sangat natural, Rani membelah donat yang sudah penyok itu menjadi dua bagian. Pembagiannya sama sekali tidak rata, satu bagian jauh lebih besar dari yang lain.
Rani menyodorkan bagian yang paling besar ke arah tangan Maya.
”Nih! Aku beliin ini emang khusus buat kamu, May,” ucap Rani dengan nada memerintah yang manis. “Soalnya aku tahu kamu pasti belum gajian dan bokek. Ayo ambil, jangan diliatin doang!”
Maya menatap uluran tangan sahabatnya itu. Air mata kembali menggenang deras di pelupuk matanya. Hatinya yang tadinya membeku oleh kebencian pada dunia, perlahan mencair dihantam oleh ketulusan yang luar biasa murni ini.
”Ran… kamu kenapa repot-repot gini sih?” isak Maya pelan. Ia menerima potongan donat besar itu dengan kedua tangan yang gemetar. “Kamu kan juga butuh uang buat ongkos pulang. Harusnya donat ini kamu makan sendiri aja.”
”Idih, siapa bilang aku belum makan?” Rani nyengir lebar. Ia mengangkat potongan donat yang lebih kecil di tangannya sendiri. “Aku juga ikutan makan kok ini. Lagian ya, May…”
Rani memiringkan kepalanya, menatap sisa donat di tangannya dengan dahi berkerut, seolah ia baru saja menemukan sebuah teori filsafat yang sangat mendalam.
”Kalau dipikir-pikir, donat ini kan tengahnya bolong,” gumam Rani dengan wajah luar biasa serius. “Nah, bentuknya itu persis banget kayak perut kita sekarang kan, May? Sama-sama bolong, keroncongan minta diisi. Jadi kalau kita makan donat bolong ini, bolong di perut kita ketutup deh sama roti! Masuk akal kan teori aku?!”
Mendengar analogi yang luar biasa bodoh namun dilontarkan dengan wajah seserius itu, pertahanan emosional Maya akhirnya runtuh.
Sebuah tawa yang sangat tulus, lepas, dan renyah meluncur dari bibir Maya. Ia tertawa di sela-sela tangisannya, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Gelak tawanya menggema di lorong gelap itu, mengusir aura suram yang sedari tadi mencekiknya.
”Ya ampun, Rani!” kekeh Maya, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Teori dari mana coba donat bolong bisa nutupin perut bolong? Kamu ini ada-ada aja sih mikirnya. Lola banget astaga.”
”Ih! Enak aja dikatain lola! Ini tuh ilmu biologi tahu!” sungut Rani memajukan bibirnya, tapi kemudian ia ikut tertawa renyah melihat sahabatnya akhirnya bisa tersenyum.
”Udah ah, cepetan dimakan mumpung bos Mak Lampir lagi rapat sama orang EO di atas!” perintah Rani. Gadis itu langsung memasukkan sisa donatnya ke dalam mulut dengan sangat rakus, mengunyahnya dengan pipi menggembung penuh kepuasan, mengabaikan fakta bahwa meses cokelatnya berantakan di sudut bibirnya.
Maya menatap donat di tangannya. Ia menggigitnya perlahan.
Tekstur rotinya sudah sedikit keras dan apek karena terpapar udara sejak pagi. Meses cokelatnya terasa menempel sangat lengket di langit-langit mulutnya. Tapi… saat rasa manis murahan dari gula dan cokelat itu meledak di lidahnya, Maya memejamkan matanya rapat-rapat.
Rasa manis dari donat penyok dan persahabatan tulus ini… terasa jauh lebih nikmat, jauh lebih mahal, dan jauh lebih mewah dibandingkan seluruh hidangan daging steak atau caviar yang sedang dinikmati oleh para elit di lantai atas sana.
Ini adalah sebuah perjamuan kecil yang suci bagi mereka yang terlupakan oleh dunia.
Mereka berdua menghabiskan waktu istirahat yang tersisa dalam kegelapan lorong itu, mengunyah donat dan berbagi air mineral dalam keheningan yang nyaman. Maya merasa baterai kehidupannya kembali terisi penuh. Selama ia masih memiliki sahabat seperti Rani dan keluarga Pak Agus, ia yakin ia bisa bertahan menghadapi kegilaan di mal ini.
Namun, dunia ini memang tidak pernah membiarkan orang kecil menikmati senyumannya terlalu lama.
Tepat saat Maya baru saja menelan gigitan terakhir donatnya dan membersihkan ujung bibirnya…
KRRRSHHHH!!
Suara statis yang sangat memekakkan telinga mendadak meledak dari alat komunikasi HT yang tergantung di ikat pinggang seorang teknisi listrik yang kebetulan sedang berjalan masuk ke lorong servis tersebut dari arah pintu utama.
Volume HT teknisi itu disetel terlalu keras. Suara yang keluar dari speaker HT tersebut memantul tajam di dinding beton sempit, mengejutkan Maya dan Rani hingga mereka nyaris melompat dari tempat duduk kardus mereka.
“PERHATIAN!! PANGGILAN DARURAT UNTUK SELURUH KEPALA DIVISI! KEPALA DIVISI KEAMANAN DAN KEBERSIHAN SEGERA MENUJU ATRIUM UTAMA SEKARANG JUGA!”
Itu bukan suara Bu Ratna. Itu adalah suara Manajer Operasional Gedung, atasan tertinggi dari semua manajer di mal tersebut. Nadanya terdengar luar biasa histeris dan panik.
“Tamu VVIP, Bapak Randy Adhitama dan delegasi Swiss telah tiba di lobi utama sepuluh menit lebih awal dari jadwal gladi resik! Saya ulangi, CEO telah tiba! Sterilkan seluruh koridor! Kosongkan area panggung dari staf rendahan sekarang juga! Ini kode merah!”
Maya dan Rani saling bertatapan dalam kegelapan. Wajah mereka yang tadinya dihiasi sisa senyuman kini langsung memucat seputih kertas.
”M-May… bos besar udah datang?” bisik Rani, suaranya bergetar ngeri. “Bukannya gladi resiknya masih jam satu nanti?”
”Ayo, Ran! Berdiri! Kita harus balik ke pos sebelum Bu Ratna nyariin kita buat ngepel sisa karpet VIP!” Maya langsung melompat berdiri, menarik tangan Rani dengan panik.
Ia mengambil botol airnya, mengabaikan remah-remah cokelat di seragamnya. Jantung Maya berpacu gila-gilaan. Kedatangan CEO secara mendadak berarti malapetaka bagi staf kebersihan. Satu kesalahan kecil yang terlihat oleh mata sang bos besar bisa berujung pada pemecatan massal.
Dengan langkah tergesa-gesa yang diiringi ketakutan absolut, dua sahabat itu berlari keluar dari lorong servis yang gelap, kembali menuju lautan cahaya dan kepalsuan di atrium utama.