Napas Maya dan Rani memburu saat mereka berlari keluar dari kegelapan lorong servis, menerobos pintu ganda bertuliskan Staff Only, dan kembali menginjakkan kaki di atas lantai marmer Atrium Utama.
Pemandangan di depan mereka telah berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu lima belas menit.
Grand Atrium Mall kini berada dalam status siaga satu. Puluhan petugas keamanan berseragam safari gelap membentuk barikade manusia di sepanjang jalur dari lobi utama menuju area panggung. Para pekerja Event Organizer (EO) yang tadinya berteriak-teriak kasar kini berdiri kaku di posisinya masing-masing dengan wajah tegang.
”May… gila, satpamnya banyak banget,” bisik Rani dengan suara gemetar. Ia menarik lengan seragam Maya, bersembunyi di balik tubuh kurus sahabatnya itu. “Kita harus ngapain ini? Kalau ketahuan Bu Ratna kita habis dari lorong, kita bisa mati.”
”Nunduk, Ran. Ambil alat pel kamu, pura-pura bersihin pinggiran pilar ini aja. Jangan lihat ke arah lobi,” instruksi Maya cepat. Sisi rasionalnya mengambil alih. Ia langsung meraih gagang sapu nilonnya dan mulai menyapu debu imajiner di sekitar pilar marmer putih.
Rani mengangguk panik. Ia langsung berlutut dan menggosok pinggiran lantai dengan lap microfiber-nya secara membabi buta.
Dari arah pintu masuk utama yang terbuat dari kaca putar raksasa, terdengar keriuhan yang tertahan.
”Delegasi VVIP masuk! Clear the path!” teriak komandan sekuriti melalui HT-nya.
Suasana mal yang tadinya dipenuhi suara obrolan pengunjung langsung hening. Para pengunjung elit yang sedang berbelanja ikut menepi, penasaran melihat siapa tamu penting yang dikawal begitu ketat layaknya seorang kepala negara.
Dari balik pintu kaca, melangkah masuk sebuah rombongan eksekutif.
Di barisan paling depan, dikelilingi oleh lima orang bodyguard bertubuh raksasa, berderaplah sosok pria yang menjadi pusat dari segala kepanikan siang ini.
Randy Adhitama.
Sang CEO dan pemilik kerajaan kosmetik Lumière Merveille.
Pria itu berjalan dengan postur tubuh yang luar biasa tegap, memancarkan aura dominasi absolut yang seolah menyedot seluruh udara di dalam atrium. Ia mengenakan setelan jas navy yang dijahit khusus dengan presisi mematikan, kemeja putih tanpa dasi yang kancing teratasnya terbuka, dan sepasang sepatu pantofel kulit buatan tangan yang berketuk tegas di atas lantai marmer.
Wajahnya… wajah itu adalah definisi dari ketampanan yang dingin dan tak tersentuh. Garis rahangnya keras dan persegi, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan dengan sorot yang luar biasa tajam, seolah segala kemewahan di sekelilingnya ini sama sekali tidak ada artinya.
Di belakang Randy, mengekor beberapa pria dan wanita asing berkulit putih, delegasi dari Swiss yang berpakaian sama formalnya, membawa koper-koper logam dan tablet digital.
Maya, yang sedang menunduk menyapu di dekat pilar, tidak berani mengangkat wajahnya. Ia hanya bisa melihat ujung sepatu mahal rombongan itu melintas dari sudut matanya.
Namun, dari arah seberang koridor, tepat di mana Sari dan Icha ditugaskan, situasinya sangat berbeda.
Sari berdiri mematung sambil memegang kemocengnya. Matanya membelalak lebar, tak berkedip menatap sosok Randy Adhitama yang sedang berjalan melintasi atrium. Wajah Sari yang dipenuhi makeup tebal tampak memerah. Ambisi dan gairah meledak di matanya.
”Cha… gila… sumpah, aslinya jauh lebih ganteng daripada di majalah,” bisik Sari dengan suara bergetar, tanpa sadar meremas kemocengnya. “Liat auranya. Itu baru cowok beneran.”
”Iya, Sar. Merinding gue ngeliatnya. Kalau aja dia mau ngelirik kita dikit aja,” sahut Icha, ikut-ikutan membusungkan dadanya, mencoba memperbaiki postur tubuhnya agar terlihat lebih menarik.
Sari tidak mau membuang kesempatan. Saat rombongan itu melintas tepat di dekat area kerjanya, Sari memberanikan diri. Ia melangkah maju satu tindak dari barisannya, memiringkan kepalanya, dan menyunggingkan senyum paling menggoda yang ia miliki. Ia berharap sang miliarder akan menoleh, melihat kecantikannya yang selalu ia banggakan, dan mungkin dalam khayalan liarnya menyadari bahwa Sari terlalu cantik untuk sekadar menjadi tukang bersih-bersih.
Namun, realitas menampar ego Sari dengan sangat brutal.
Randy Adhitama berjalan melintas tanpa menoleh satu milimeter pun. Mata dingin pria itu terus menatap ke arah panggung utama. Bagi sang CEO, Sari, Icha, Maya, Rani, dan seluruh pekerja berseragam biru di tempat ini sama tidak terlihatnya dengan debu yang sedang mereka bersihkan. Mereka bukanlah manusia dalam pandangannya, mereka hanyalah properti pelengkap gedung.
Sari mendecakkan lidahnya dengan sangat kesal saat rombongan itu berlalu. Wajahnya ditekuk. “Sombong banget sih. Mentang-mentang kaya raya.”
Icha hanya tertawa canggung, mengusap lengan sahabatnya itu. “Udah, Sar. Namanya juga konglomerat. Emangnya gampang ditembus.”
Rombongan delegasi itu terus berjalan menuju area panggung. Randy Adhitama berhenti di depan podium akrilik hitam tersebut, melipat tangannya di dada, dan mulai mendengarkan penjelasan dari pria asing di sebelahnya dengan raut wajah sangat serius. Inspeksi dadakan itu telah dimulai.
Maya menghela napas panjang. Kakinya gemetar menahan lelah. Ia tidak peduli pada ketampanan CEO itu. Ia tidak peduli pada kekayaan mereka. Yang ia pedulikan hanyalah kapan ia bisa beristirahat dari rasa lapar yang menyiksa ini.
Pukul 14:00 Waktu Indonesia Barat.
Inspeksi VVIP dari delegasi Swiss akhirnya selesai. Randy Adhitama dan rombongannya telah pindah ke lantai atas, memasuki ruang meeting tertutup bersama jajaran direksi mal.
Atrium lantai dasar kembali dibuka sebagian untuk pengunjung. Ketegangan yang mencekik perlahan-lahan menguap, digantikan oleh keramaian sosialita yang berkumpul untuk menghabiskan waktu sore mereka.
Maya sedang mendorong troli kuningnya dengan langkah gontai menuju area La Rosier, sebuah kafe teh sore (high tea) berkonsep terbuka yang letaknya berhadapan langsung dengan panggung.
”Maya! Bersihkan kaca pembatas di dekat kafe itu sekarang juga! Jangan sampai ada bekas tangan pengunjung yang menempel!”
Perintah Bu Ratna kepada Maya berbunyi nyaring.
”Baik, Bu,” jawab Maya pelan.
Maya mengambil botol semprotan cairan pembersih kaca berwarna biru terang dan sehelai lap microfiber yang masih bersih. Ia berjalan mendekati pagar besi tempa berwarna emas yang membatasi area kafe mewah tersebut dari koridor mal.
Tepat di balik pagar besi yang sedang Maya bersihkan, duduklah sekelompok wanita yang mendominasi seluruh kebisingan di kafe tersebut.
Itu adalah Tante Sisca, Jeng Dina, dan Sis Monika.
Tiga serangkai istri penguasa ini adalah legenda di kalangan karyawan mal. Tante Sisca adalah istri dari salah satu pemegang saham terbesar mal ini. Jeng Dina adalah istri seorang pengusaha tambang batu bara dari Kalimantan, sementara Sis Monika adalah istri dari seorang perwira tinggi kepolisian.
Pakaian yang mereka kenakan hari ini lebih menyilaukan dari lampu panggung. Tante Sisca memakai gaun sutra Dior berwarna fuschia. Tas Hermès Birkin edisi terbatas diletakkan di atas meja seolah menjadi pusat pemujaan mereka. Jari-jari mereka penuh dengan perhiasan yang berdenting setiap kali mereka mengambil cangkir porselen.
Maya menyemprotkan cairan pembersih ke kaca pembatas, menggosoknya perlahan. Ia berusaha membuat dirinya sekecil mungkin, setidak terlihat mungkin. Namun, suara melengking mereka merobek gendang telinga Maya.
”Aduh, sumpah ya! Aku tadi nyaris copot jantungku waktu lihat Randy Adhitama jalan lewat lobi!” seru Sis Monika sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya yang lentik. “Gila! Gantengnya itu lho, nggak masuk akal! Beda banget sama suamiku yang perutnya udah maju ke depan itu.”
Jeng Dina tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. “Hush! Sembarangan kamu, Mon! Kalau suamimu dengar, bisa dicabut kartu kreditmu! Tapi emang bener sih. Auranya itu lho, dingin-dingin bikin penasaran. Sayang banget dia tertutup banget soal kehidupan pribadinya.”
Tante Sisca mendecakkan lidah, mengambil sepotong kue kering macaron dengan garpu perak kecil.
”Udah, udah. Jangan cuma bahas ketampanan CEO-nya aja. Kalian itu kurang wawasan!” potong Tante Sisca dengan nada sok tahu yang sangat khas. “Kalian tahu nggak kenapa aku maksa suamiku buat dapetin undangan VVIP duduk di barisan paling depan buat acara launching besok?”
”Kenapa emangnya, Jeng Sisca? Bukannya Lumière Merveille itu cuma produk kosmetik biasa dari Swiss? Aku juga udah sering titip beli krim malam mereka kalau pas ada temen ke Eropa,” jawab Sis Monika sambil menyesap teh kamomilnya.
Tante Sisca tersenyum merendahkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke tengah meja, matanya berbinar-binar penuh ambisi.
”Biasa apanya?! Produk yang bakal di-launching besok itu seri paling baru dan paling eksklusif yang pernah mereka buat! Namanya seri L’Éternité!” bisik Tante Sisca setengah berteriak. “Aku dengar bocorannya dari istri menteri perdagangan kemarin. Kalian tahu harganya berapa satu paketnya?”
Jeng Dina dan Sis Monika saling pandang, lalu menggeleng. “Berapa? Sepuluh juta? Dua puluh?”
”Lima puluh juta Rupiah, Sayang!” Tante Sisca menyebutkan angka itu dengan penuh penekanan. “Satu paket kecil cuma isi tiga botol krim sama serum! Lima puluh juta!”
Maya, yang sedang menggosok kaca di dekat mereka, tanpa sadar menghentikan gerakan tangannya. Napasnya tercekat.
Lima puluh juta.
Angka itu tidak bisa diproses oleh otak Maya. Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membayar lunas kontrakan rumahnya selama lima tahun. Uang sebanyak itu bisa membawa ibunya ke rumah sakit spesialis paru-paru terbaik dan menebus semua obat termahal. Namun bagi wanita-wanita ini, lima puluh juta hanyalah harga untuk sebotol krim wajah. Perih. Hati Maya terasa diiris sembilu yang sangat tajam.
”Gila! Mahal banget!” seru Jeng Dina, matanya membelalak, meski senyumnya menunjukkan bahwa ia tertarik membelinya. “Emangnya apa hebatnya krim lima puluh juta itu? Bisa bikin kita terbang?”
”Lebih hebat dari terbang, Dina!” Tante Sisca mengibaskan tangannya. “Klaim dari laboratorium Swiss-nya itu luar biasa. Produk L’Éternité ini katanya mengandung ekstrak sel punca (stem cell) dari bunga edelweis langka. Kalau kita pakai rutin tiap malam… dengerin ya… cuma dalam waktu tiga bulan pemakaian aja, kulit muka kita yang udah mulai kendur ini bakal kencang lagi kayak ketarik benang!”
Tante Sisca menunjuk-nunjuk pipinya sendiri yang sudah disuntik botox berkali-kali.
”Bukan cuma kencang, tapi katanya bisa memutihkan kulit secara natural, ngilangin flek hitam total, dan bikin kita kelihatan dua tahun lebih muda dari umur asli kita! Dua tahun lebih muda dalam tiga bulan, tanpa perlu operasi potong rahang ke Korea, tanpa perlu sakit-sakit suntik filler!” jelas Tante Sisca dengan napas memburu karena antusias.
”Ah, masa sih? Jangan-jangan cuma iklan doang,” Sis Monika mengerutkan dahi, tampak ragu. “Kosmetik sekarang kan suka gitu. Klaimnya selangit, pas dipakai efeknya sama aja kayak pelembap seratus ribuan.”
”Monika, Sayang. Ini perusahaan Randy Adhitama yang kita bicarakan. Pria itu perfeksionis gila. Kalau dia berani klaim efeknya kelihatan dalam tiga bulan, berarti memang sudah terbukti secara medis!” debat Tante Sisca dengan nada tinggi. “Makanya aku bertekad bulat! Besok pas acara, aku bakal borong lima paket sekaligus biar suamiku di rumah makin lengket matanya ke aku!”
”Eh, Sisca, jangan serakah dong! Aku juga mau kalau emang beneran efeknya nyata. Aku titip beli satu paket ya besok, nanti uangnya aku transfer,” sela Jeng Dina tak mau kalah saing.
”Iya deh, aku juga mau nyoba. Siapa tahu beneran bisa lebih muda dua tahun,” Sis Monika akhirnya ikut terpengaruh oleh gengsi.
Maya kembali menggosok kaca itu. Rahangnya mengeras.
Tiga bulan pemakaian untuk terlihat dua tahun lebih muda. Sebuah produk hasil penelitian sains bernilai miliaran rupiah yang dirancang khusus untuk memuaskan obsesi orang-orang kaya terhadap penuaan. Sungguh dunia yang sangat tidak adil. Di saat ibunya berjuang setengah mati hanya untuk bisa bernapas tanpa rasa sakit hari ini, orang-orang ini justru menghamburkan lima puluh juta hanya untuk menghapus kerutan kecil di sudut mata mereka.
”Hhh… ngapain juga aku dengerin ginian,” gumam Maya pelan, menertawakan kemiskinannya sendiri. “Krim seharga rumah. Gila.”
Maya mencoba memblokir suara obrolan mereka. Perutnya sudah terlalu sakit untuk diajak berdiri tegap. Kepalanya pening. Ia hanya ingin menyelesaikan mengelap kaca ini, lalu bersembunyi sebentar di lorong servis untuk sekadar minum air putih.
Maya menggeser tubuhnya menyusuri pagar kaca tersebut, menjauh perlahan dari meja Tante Sisca. Ia menundukkan wajahnya, matanya mulai berkunang-kunang.
Karena terlalu fokus menahan rasa pusing dan sakit di lambungnya, Maya tidak menyadari bahwa posisi ember air pel miliknya yang berada di dekat troli kuning telah sedikit bergeser akibat tersenggol oleh pengunjung yang lalu lalang.
Tanpa sadar, Maya mengambil langkah mundur untuk menyemprotkan cairan ke bagian atas kaca.
Ujung sepatu bot karetnya menabrak bagian bawah ember plastik berwarna kuning tersebut.
Brak!
Ember itu oleng. Keseimbangannya hilang.
Air pel yang berwarna keruh, berbau karbol tajam bercampur debu sepatu pengunjung, tumpah keluar dari dalam ember.
Sebagian air itu menggenangi lantai koridor, namun sialnya… seperempat dari tumpahan air kotor itu menyiprat masuk melewati sela-sela pagar besi pembatas kafe. Cipratan air pel itu melayang tepat ke arah meja Tante Sisca.
Byuur!
Tetesan air karbol yang kotor itu menghantam ujung gaun sutra fuschia mahal Tante Sisca dan menciprat ke permukaan tas Hermès Birkin jingga yang tergeletak di atas kursi.
Keheningan yang luar biasa membekukan seolah menghentikan waktu di kafe La Rosier itu.
Maya membeku. Matanya terbelalak ngeri dari balik kacamatanya yang miring. Semprotan kaca di tangannya terlepas dan jatuh bergemerincing ke lantai marmer. Napasnya terhenti total di tenggorokan.
Jeng Dina dan Sis Monika yang sedang memegang cangkir teh mereka, mematung dengan mulut setengah terbuka, menatap tetesan air kotor yang menodai gaun sahabat mereka.
Tante Sisca menundukkan wajahnya perlahan. Ia menatap noda air kelabu yang meresap cepat ke dalam serat sutra gaunnya, lalu menoleh ke arah tas kulit buayanya yang kini dihiasi bercak-bercak air karbol yang berbau menyengat.
Wajah sosialita itu, yang tadinya dipenuhi tawa dan arogansi, berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
”KAAAAAAMUUUU!!!”
Jeritan Tante Sisca menggelegar dahsyat, melengking hingga menembus batas pendengaran manusia normal. Suaranya terdengar seperti raungan monster yang baru saja ditusuk dadanya.
Semua pengunjung di dalam kafe dan orang-orang yang melintas di koridor atrium langsung menghentikan langkah mereka. Puluhan pasang mata seketika menoleh ke arah sumber keributan.
Tante Sisca melompat berdiri dari kursinya dengan kasar hingga kursinya terguling ke belakang. Ia menuding wajah Maya yang pucat pasi dari balik pagar besi. Matanya melotot penuh kebencian murni.
”BABU SIALAN! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA BAJUKU, HAH?!” teriak Tante Sisca histeris. Ia meraba gaun sutranya yang basah dengan tangan gemetar. “Ini Dior! Ini sutra asli dari Milan! Dan kamu… kamu menyiramnya pakai air pel got yang bau busuk ini?!”
”S-saya nggak sengaja, Bu… M-maafkan saya… Ya Tuhan, maafkan saya, Bu,” Maya langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai koridor yang basah. Air mata kepanikan dan ketakutan absolut langsung tumpah membasahi wajahnya yang kuyu. Ia menundukkan kepalanya hingga nyaris menyentuh lantai. Tangannya yang kasar mencoba menggapai dari sela-sela pagar, memegang lap microfiber kotor, berniat secara refleks untuk mengelap tas wanita itu.
Melihat tangan Maya yang kotor mendekati tasnya, Tante Sisca berteriak semakin menggila.
”JANGAN SENTUH TASKU DENGAN TANGAN KOTORMU ITU, JALANG!!” Tante Sisca memukul tangan Maya dengan tas kecilnya yang keras.
Plak! Pukulan itu mengenai punggung tangan Maya dengan telak. Maya menarik tangannya sambil meringis kesakitan, memeluk tangannya sendiri di dada.
”Kamu tahu nggak harga tas ini berapa, hah?!” Tante Sisca mengangkat tas Hermès Birkin itu tinggi-tinggi seolah itu adalah bayi yang baru lahir. “Ini harganya nyaris satu miliar rupiah! Dan kamu nodain pakai air pel murahanmu! Kamu jual seluruh organ tubuhmu, jual keluargamu di kampung, tetap nggak akan bisa ganti kerugianku hari ini!”
”S-saya bersihin, Bu… saya lap pelan-pelan… s-saya mohon jangan lapor manajer saya, Bu,” rintih Maya dengan suara yang hancur berkeping-keping. Ia bersujud di depan pagar itu, memohon belas kasihan pada hati yang telah lama mati oleh kekayaan. “Ibu saya lagi sakit parah di rumah… saya butuh pekerjaan ini buat beli obat Ibu. Saya mohon ampun, Ibu Sisca…”
”Persetan dengan ibumu yang penyakitan itu!” bentak Tante Sisca tanpa sedikit pun rasa empati. Rasa malunya di depan teman-teman arisannya telah membakar habis akal sehatnya. “Orang miskin ceroboh kayak kamu nggak pantes hidup di tempat mewah begini! Dina! Panggil keamanan! Panggil manajer kebersihannya sekarang juga! Aku mau gembel ini dipecat dan dipenjarakan karena merusak barang mewahku!”
Jeng Dina, yang ikut panik, langsung melambaikan tangannya ke arah dua orang satpam yang berlari tergesa-gesa mendekati lokasi kejadian.
”Satpam! Cepat ke sini! Amankan anak ini! Dia udah kurang ajar sama Bu Sisca!” teriak Jeng Dina nyaring.
Kerumunan pengunjung mulai terbentuk, melingkari Maya yang sedang berlutut menangis di atas genangan air pelnya sendiri. Bisik-bisik menghakimi terdengar dari segala arah. Tidak ada satu pun tatapan kasihan. Mereka semua menatap Maya layaknya melihat serangga hama yang harus diinjak mati.
Dari ujung eskalator, terdengar suara derap langkah berat yang diseret dengan panik.
Bu Ratna.
Manajer operasional kebersihan itu muncul dengan wajah yang memucat seputih kertas. Ia baru saja turun dari lantai dua ketika mendengar jeritan Tante Sisca di HT keamanan.
Saat Bu Ratna membelah kerumunan dan melihat Tante Sisca berdiri dengan gaun basah dan wajah murka, sementara Maya berlutut menangis di balik pagar, Bu Ratna merasa seolah kariernya baru saja dihancurkan oleh sambaran petir.
Tante Sisca bukanlah pelanggan sembarangan. Suami wanita itu adalah salah satu pemilik saham di Grand Atrium. Satu kata dari mulut Sisca, seluruh divisi kebersihan termasuk Bu Ratna bisa ditendang keluar hari ini juga.
”A-astaga… Ya Tuhan… Ibu Sisca!” Bu Ratna menerobos masuk melewati pagar kafe, menundukkan tubuh tambunnya hingga punggungnya melengkung 90 derajat. Napasnya tersengal-sengal. “I-Ibu Sisca… mohon ampun, Bu. Apa yang terjadi? Apakah anak buah saya yang tidak berguna ini melakukan kesalahan?”
Tante Sisca mendengus kasar seperti banteng yang terluka. Ia menunjuk Maya dengan jari yang gemetar.
”Ratna! Buka matamu lebar-lebar!” teriak Tante Sisca tepat di depan wajah manajer itu. “Babu dekil yang kamu pekerjakan ini baru aja numpahin air pel kotor ke gaunku dan ke tas Birkin kesayanganku! Kamu lihat noda ini?! Ini bau karbol!”
”Ya ampun… mohon ampun beribu ampun, Bu Sisca. Ini keteledoran yang luar biasa fatal,” Bu Ratna menelan ludah, seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Ia mencoba tersenyum menjilat. “S-saya berjanji akan bertanggung jawab penuh. Kami akan membayarkan biaya dry cleaning terbaik di Jakarta untuk gaun dan tas Ibu… berapapun harganya akan saya potong dari gaji anak ini.”
”Kamu pikir ini masalah cuci baju, Ratna?!” bentak Tante Sisca, tidak terima. “Harga diriku yang jatuh di depan teman-temanku dan pengunjung mal ini! Aku tidak mau dengar alasan apa pun. Aku mau kamu seret anak ini dari hadapanku, dan aku mau pastikan dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di mal ini! Pecat dia sekarang juga!”
Kata ‘Pecat’ itu menggema di telinga Maya bagaikan lonceng kematian.
Maya mendongakkan wajahnya yang sudah berantakan oleh air mata. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Bu Ratna.
”B-Bu Ratna… tolong jangan pecat saya, Bu,” isak Maya dengan suara yang merobek dada. Ia merangkak sedikit mendekati kaki atasannya itu. “Saya akan kerja tanpa digaji bulan ini… saya akan ganti semuanya… tapi tolong jangan pecat saya, Bu. Ibu saya… siapa yang mau beli obat buat Ibu saya… tolong, Bu…”
Melihat Maya merangkak di bawah kakinya, bukannya merasa kasihan, Bu Ratna justru merasakan amarah yang meledak tak terkendali. Anak ini baru saja menghancurkan reputasinya di depan pemegang saham.
Bu Ratna memutar tubuhnya, menatap Maya dengan sepasang mata iblis. Ia mengangkat tangan kanannya, dan tanpa sedikit pun keraguan…
Plakkk!!
Sebuah tamparan yang luar biasa keras mendarat telak di pipi kiri Maya.
Bunyi tamparan itu bergema nyaring, membuat kerumunan pengunjung seketika terdiam dan menahan napas.
Kepala Maya terlempar ke samping akibat kerasnya tamparan tersebut. Kacamata berselotipnya terlepas dari wajahnya, terlempar ke atas genangan air kotor di lantai marmer. Pipi kirinya seketika memerah, meninggalkan cetakan jari telapak tangan Bu Ratna yang gemuk.
Rasa kebas, panas, dan perih meledak di pipi Maya, diiringi oleh dengungan panjang di telinga kirinya.
Maya jatuh terjerembap ke samping, telapak tangannya menahan tubuhnya di atas lantai yang basah. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk memegangi pipinya yang sakit. Ia hanya menatap kosong ke arah kacamata bututnya yang tergeletak mengenaskan di dalam kubangan air karbol.
”TUTUP MULUTMU, MAYA!!” jerit Bu Ratna dengan urat leher yang mencuat keluar. Wanita itu benar-benar kehilangan kontrol profesionalnya. “Kamu telah mempermalukan saya! Kamu telah mempermalukan divisi kebersihan mal ini! Tidak ada ampun untuk kelakuan idiot ini!”
Dari jarak beberapa meter di luar kerumunan, Sari dan Icha berdiri menonton pertunjukan itu dengan senyum seringai yang sangat lebar. Mereka tidak perlu melakukan apa-apa hari ini. Maya telah menghancurkan dirinya sendiri.
Bu Ratna mencengkeram kerah belakang seragam kemeja biru Maya dengan sangat kasar. Ia menarik Maya secara paksa untuk berdiri, menyeret tubuh kurus yang sudah setengah lemas itu seperti menyeret karung beras busuk.
”Berdiri kamu! Jangan bikin saya tambah malu di depan tamu VIP!” desis Bu Ratna, menyeret Maya menjauh dari area kafe tersebut.
Sepanjang tarikan yang merendahkan martabat itu, Maya tidak melawan. Matanya yang rabun jauh menatap buram ke arah lantai. Ia tidak bisa mengambil kacamatanya. Ia diseret menjauh, diiringi oleh tatapan jijik dari ratusan pasang mata, dan suara gerutuan Tante Sisca yang masih terus memaki di belakangnya.
Air mata Maya jatuh tak bersuara. Semuanya selesai. Ia telah dipecat. Dan bersamaan dengan pemecatannya, napas ibunya di rumah kontrakan sana juga akan segera berakhir. Dunia ini benar-benar tidak menyisakan ruang baginya untuk hidup.
Bu Ratna menyeret Maya melewati koridor samping yang sepi, menjauh dari keramaian atrium, lalu mendorong gadis itu masuk ke dalam sebuah lorong panjang dan gelap yang berada tepat di belakang struktur panggung raksasa.
Bu Ratna melepaskan cengkeramannya, mendorong Maya hingga punggung gadis itu menabrak keras dinding beton kasar.
Bruk!
Maya merosot perlahan ke lantai. Ia memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya yang merah dan bengkak akibat tamparan. Ia menangis terisak-isak, tubuhnya bergetar hebat.
Bu Ratna berdiri di depannya, berkacak pinggang, dadanya naik turun dengan ritme amarah yang belum padam.
”Kamu benar-benar membuat saya ingin membunuhmu hari ini, Maya,” desis Bu Ratna, suaranya sangat rendah dan mengancam, memantul di dinding lorong yang sunyi. “Kamu tahu kalau Ibu Sisca benar-benar melaporkan ini, saya bisa dicopot dari jabatan manajer?!”
”M-maafkan saya, Bu… saya mohon ampun…” rintih Maya di sela isakannya. Ia tidak punya kalimat lain selain meminta maaf.
Bu Ratna memijat pelipisnya yang berdenyut, memejamkan mata mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia sangat ingin memecat Maya detik ini juga.
Namun, di tengah amarahnya, sebuah realitas yang sangat pahit menghantam logika manajer operasional itu.
Besok pagi adalah gladi resik VVIP. Area belakang panggung, ruang tunggu, dan lorong privat artis harus disterilkan malam ini juga, dikerjakan hingga tengah malam. Staf kebersihan yang ada sudah dibagi habis untuk membersihkan atrium utama dan lantai-lantai atas yang luas. Tidak ada satupun karyawan yang mau mengambil jatah lembur membersihkan area tertutup belakang panggung karena areanya terlalu sempit, pengap, dan banyak kabel berbahaya.
Jika ia memecat Maya sekarang, ia kehilangan satu tenaga kerja kasar gratis yang bisa ia suruh-suruh untuk pekerjaan kotor yang tak diinginkan staf lain. Dan Bu Ratna terlalu licik untuk membiarkan sebuah tenaga kerja terbuang percuma sebelum diperas habis-habisan.
Mata Bu Ratna terbuka kembali. Ia menatap Maya yang meringkuk menyedihkan di lantai dengan pandangan yang jauh lebih dingin dan penuh perhitungan.
”Dengar baik-baik, Maya,” ucap Bu Ratna, nada suaranya berubah dari amarah menjadi ancaman yang absolut. “Saya tidak jadi memecatmu hari ini.”
Isakan Maya seketika terhenti. Gadis itu mendongakkan wajahnya yang rabun perlahan, menatap siluet kabur manajernya dengan ketidakpercayaan yang membuncah.
”B-beneran, Bu? Ibu… Ibu nggak jadi mecat saya?” tanya Maya, secercah harapan kecil menyala di dadanya.
”Jangan senang dulu!” potong Bu Ratna kejam. Ia memperbaiki letak jasnya. “Sebagai gantinya, kamu saya hukum. Hukuman yang harus kamu bayar dengan tulang dan keringatmu malam ini.”
Bu Ratna menunjuk ke arah ujung lorong yang gelap, yang mengarah tepat ke bagian bawah dan belakang struktur panggung akrilik raksasa tempat penyimpanan berbagai properti rahasia dan kabel-kabel tegangan tinggi.
”Mulai detik ini, kamu dilarang keras menampakkan wajahmu yang suram itu di area publik mal ini. Kamu saya asingkan ke belakang panggung,” perintah Bu Ratna tanpa kenal ampun.
”Malam ini, sementara staf lain membersihkan area depan, kamu saya tugaskan sendirian untuk membersihkan seluruh lorong teknis di belakang panggung, kolong panggung utama, dan membersihkan lantai gudang peralatan EO. Kamu kerjakan sendirian. Menggunakan tanganmu. Sampai jam dua belas malam nanti. Dan gajimu hari ini tetap saya potong separuh untuk mengganti biaya dry cleaning gaun Ibu Sisca.”
Maya menelan ludah. Hukuman itu jauh melampaui batas kemampuan fisiknya yang sudah kelelahan tanpa makan. Bekerja sendirian di kolong panggung yang gelap dan berdebu hingga tengah malam adalah penyiksaan mutlak.
Namun, ia masih memiliki pekerjaannya. Ia masih memiliki sisa separuh gaji untuk membeli obat ibunya minggu depan.
Dengan sisa-sisa harga diri yang telah lama mati, Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah lantai beton.
”B-baik, Bu Ratna. Terima kasih… terima kasih karena tidak memecat saya. Saya akan kerjakan hukumannya sekarang juga,” bisik Maya, suaranya parau dan bergetar hebat.
”Bagus. Kalau saya sampai melihat ada debu sekecil kerikil di kolong panggung itu besok pagi, kamu tidak akan pernah melihat mal ini lagi,” ancam Bu Ratna sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan lorong gelap itu, meninggalkan Maya sendirian dalam kengerian malam.
Maya masih duduk meringkuk di atas lantai beton. Ia sendirian di lorong belakang panggung yang dingin dan berbau debu kabel. Pipi kirinya berdenyut menyakitkan akibat tamparan tadi.
Gadis malang itu hanya bisa menangis dalam diam, meratapi ketidakadilan dunia yang menginjak-injaknya tanpa ampun.
Malam panjang yang penuh siksaan fisik dan mental baru saja dimulai. Ia menatap ke arah struktur baja hitam yang menopang panggung di atas kepalanya. Lorong gelap itu seolah memanggilnya masuk ke dalam.