Malam panjang yang penuh siksaan fisik dan mental baru saja dimulai.
Maya menatap ke arah struktur baja hitam yang menopang panggung di atas kepalanya. Lorong gelap itu seolah memanggilnya masuk ke dalam, menelannya dari dunia yang terang benderang ke dalam sebuah realitas yang tak kenal ampun.
Ia mengusap sisa air matanya dengan punggung lengannya yang kotor. Tarikan napasnya masih bergetar, menyisakan isakan kecil yang tertahan di kerongkongan. Rasa panas yang membakar di pipi kirinya akibat tamparan Bu Ratna terus berdenyut, seolah mencetak sebuah stempel kehinaan abadi di wajahnya.
Dengan langkah yang diseret, Maya meraih gagang alat pel dan troli kuningnya. Ia mulai berjalan menyusuri lorong sempit di balik backdrop hitam panggung tersebut.
Tujuannya adalah ruang ganti VVIP dan lounge eksklusif yang letaknya tersembunyi di bagian paling belakang. Area ini dikhususkan bagi para petinggi Lumière Merveille, jajaran direksi, dan artis-artis ibu kota yang akan memeriahkan acara peluncuran esok hari.
Begitu Maya mendorong pintu ganda berlapis kayu mahoni itu, ia disambut oleh sebuah ruangan yang luar biasa megah.
Ukurannya sebesar lapangan bulu tangkis. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu mutiara yang terasa sangat empuk di bawah pijakan kaki. Dindingnya dihiasi wallpaper sutra bermotif floral klasik. Sofa-sofa kulit berwarna krem ditata melingkari meja-meja kaca berukir tembaga. Tiga buah lampu gantung kristal memendarkan cahaya hangat yang mewah.
Udara di dalam ruangan itu terasa sangat dingin, disaring oleh pendingin ruangan khusus, dan berbau bunga lili putih yang sangat menenangkan saraf.
Namun bagi Maya, kemewahan ini adalah sebuah penjara.
Ia menatap vacuum cleaner industri berukuran besar yang teronggok di sudut ruangan, tak jauh dari pintu menuju kamar mandi VVIP.
”Kerjakan, Maya,” bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menyemangati jiwa yang sudah hancur. “Kerjakan biar kamu nggak dipecat. Biar Ibu bisa tetap beli obat.”
Tangannya yang gemetar meraih kabel panjang mesin itu. Ia menancapkannya ke stopkontak di dinding, lalu menekan tombol daya.
WUUUUNGGG…
Dengungan keras mesin penyedot debu itu langsung mendominasi ruangan, menelan segala kesunyian. Maya mulai mendorong moncong mesin itu maju mundur di atas karpet tebal tersebut.
Setiap kali ia mendorong gagang besi yang berat itu, otot bahu dan pinggangnya menjerit protes. Kelelahan akibat merangkak di bawah panggung sejak siang tadi kini menumpuk menjadi siksaan fisik yang nyata.
Perutnya meronta dengan hebat. Rasa lapar yang melilit lambungnya kini telah berubah menjadi rasa perih yang menusuk-nusuk, membuat kepalanya pening dan pandangannya sedikit bergoyang. Belum ada sepotong makanan pun yang masuk ke perutnya hari ini.
Keringat dingin kembali menetes dari dahinya. Peluh itu jatuh membasahi kerah seragam birunya yang sudah kusam dan berbau debu.
Ia menundukkan kepalanya, membiarkan beberapa tetes air mata yang tersisa jatuh menetes ke atas karpet mahal tersebut. Air mata itu langsung tersedot oleh putaran mesin tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Ia merasa hidupnya persis seperti debu-debu itu. Disingkirkan, disedot, dan dibuang ke dalam ruang gelap agar tidak merusak pemandangan orang-orang yang berkuasa.
Satu jam berlalu dengan sangat menyiksa. Maya baru menyelesaikan setengah bagian karpet.
Tiba-tiba, dari arah pintu utama, terdengar bunyi klik yang sangat pelan dan hati-hati.
Maya langsung menegang. Ia mematikan mesin vacuum-nya. Jantungnya berdegup panik. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, tangannya menggenggam gagang mesin erat-erat, mengira Bu Ratna datang untuk melakukan inspeksi lebih awal dan mencari celah kesalahannya lagi.
Pintu ganda itu terbuka sedikit, tanpa suara bantingan. Hanya menyisakan celah sempit yang muat untuk dilewati satu orang.
Dari balik celah itu, menyembul sebuah kepala. Rambutnya diikat kuda namun terlihat agak berantakan, dihiasi jepit rambut berbentuk stroberi. Wajah gadis itu memancarkan kecemasan yang mendalam dan kepolosan yang tak pernah bisa dipalsukan.
”Pstt… May… Maya?”
Panggilan berbisik itu terdengar sangat lembut dan waspada.
Mata Maya langsung melebar lega. Helaan napas panjang terlepas dari bibirnya yang pucat pasi.
”Rani?” balas Maya dengan bisikan tak kalah pelan.
Maya buru-buru meletakkan gagang vacuum-nya dan berjalan dengan langkah cepat menghampiri pintu.
Rani menyelinap masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut. Ia menutup pintu kembali dari dalam dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara decit engsel. Gadis berpipi tembam itu terlihat sangat cemas. Matanya yang bulat besar melihat ke sekeliling ruangan yang mewah itu dengan takjub, sekaligus ketakutan.
”Ya ampun, May. Sumpah, kamu pucet banget. Bibirmu putih kayak mayat hidup,” ucap Rani saat melihat wajah sahabatnya dari dekat.
Tangan Rani langsung terulur, memegang kedua bahu Maya dengan penuh kekhawatiran. Matanya kemudian tertuju pada pipi kiri Maya yang memerah dan sedikit bengkak.
”May! Pipi kamu kenapa merah begini?! Ada cetakan jarinya!” pekik Rani tertahan, menutup mulutnya sendiri dengan tangan. “Kamu… kamu ditampar Bu Ratna ya tadi di luar?!”
Maya menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap mata sahabatnya. Ia mengangguk pelan.
”Gila! Mak Lampir itu bener-bener jahat banget!” Rani mengumpat dengan nada marah, matanya berkaca-kaca menahan emosi. “Udah gila apa main tampar anak orang?! Ini mal apa ring tinju sih?!”
”Sst, Ran. Pelan-pelan suaramu,” Maya memperingatkan, memegang lengan Rani. “Kamu ngapain nekat nyelinap ke sini? Di luar kan banyak satpam dan orang EO. Kalau ketahuan Bu Ratna kamu berani masuk ke area terlarang, kamu bisa dipecat lho, Ran.”
Rani memajukan bibir bawahnya, membentuk kerucut sebal yang khas.
”Biarin aja deh, aku nggak peduli sama aturan bos gila itu,” sahut Rani dengan nada bandel yang sangat jarang ia tunjukkan. “Masa temenku abis ditampar, disuruh lembur sendirian di tempat gede begini, aku cuma nonton doang di luar? Hatiku nggak tenang, May.”
Rani menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada CCTV yang mengarah ke pintu. Setelah merasa aman, ia membuka sedikit ritsleting jaket seragam birunya. Dari baliknya, dekat dengan perutnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik transparan yang terlihat agak penyok.
”Nih, May,” Rani menyodorkan bungkusan itu ke tangan Maya dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya.
Maya menunduk menatap benda di tangannya. Di dalam plastik itu, terdapat dua potong roti isi krim cokelat murahan dari minimarket dan sebuah botol air mineral ukuran sedang yang sudah berembun dingin.
”I-ini… dari mana, Ran?” Maya menatap roti itu tanpa berkedip, kerongkongannya tiba-tiba terasa sangat sakit menahan haru.
”Aku tadi curi-curi waktu pas disuruh mandor ngebuang sampah ke loading dock belakang,” jelas Rani bangga, menceritakan misi rahasianya. “Aku lari kenceng banget ke minimarket seberang jalan pakai sisa uangku. Mumpung lagi ada promo beli satu gratis satu, May! Cukup tuh buat beli roti dua biji sekalian air minumnya.”
Melihat roti murah dan air mineral itu, dinding pertahanan emosional Maya yang tadinya kokoh menahan siksaan Bu Ratna kembali runtuh seketika.
Hatinya yang tadinya membeku karena kebencian pada dunia ini, kini dihangatkan kembali oleh sebuah ketulusan yang luar biasa sederhana dari seorang sahabat.
”Ran… makasih banyak. Makasih banget,” isak Maya tertahan.
Ia memeluk bahu Rani dengan erat, membenamkan wajahnya di pundak gadis polos itu. Ia menangis tanpa memedulikan seragamnya yang kotor menempel pada baju Rani.
”Aku nggak tau harus bilang apa, Ran. Kamu selalu nyelamatin aku. Nanti kalau aku gajian, aku pasti ganti semua uangmu.”
”Halah, dibilangin nggak usah mikir ganti terus. Udah kayak utang ke rentenir aja,” balas Rani sambil terkekeh pelan, menepuk-nepuk punggung Maya dengan lembut layaknya seorang ibu. “Uang ceban doang mah santai, besok aku tinggal minta ibuku lagi dengan alasan buat beli buku tulis adikku. Udah, dilepas pelukannya, ntar ingusmu nempel ke bajuku, lho.”
Rani melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Maya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah sangat tegang.
”Kamu makan yang cepet ya, May. Dihabisin sekarang. Jangan sampai ketahuan orang,” peringat Rani, matanya melotot lucu mempertegas situasi.
”Kenapa emangnya, Ran? Ada apa di luar?” tanya Maya sambil membuka bungkus roti itu dengan tangan bergetar.
Ia tidak memedulikan etika makan lagi. Ia langsung menggigit roti itu besar-besar. Rasa manis dari selai cokelat murah yang meleleh di lidahnya terasa seperti hidangan yang membangkitkan detak jantungnya kembali.
”Soalnya di luar tuh lagi bener-bener sibuk dan kacau banget sekarang,” cerita Rani, berbisik sambil melirik pintu. “Anak-anak EO lagi pada teriak-teriak heboh di area panggung. Katanya jadwal gladi resik VVIP buat bos-bos gede itu bakal jalan terus sampai lewat tengah malam!”
Rani mendekatkan wajahnya ke telinga Maya, merendahkan suaranya menjadi bisikan yang sangat pelan.
”Terus ya, May… tadi pas aku ngepel deket tenda teknisi, aku denger bos EO yang rambutnya klimis itu ngomel-ngomel di telepon,” lanjut Rani dengan gaya bercerita yang antusias. “Katanya, besok pagi itu nggak boleh ada kesalahan sedikit pun. Soalnya produk yang mau di-launching besok itu harganya gila banget. Skincare yang bisa bikin orang kaya makin awet muda. Pengamanannya ketat banget di luar.”
Maya yang sedang mengunyah roti mendengarkan dengan saksama. Gosip tentang kehebatan produk Lumière Merveille memang sudah menyebar ke seluruh penjuru mal sejak tadi siang. Semua orang membicarakan janji kemudaan yang ditawarkannya.
”Y-ya udah, Ran. Kamu mending balik ke area kamu sekarang ya. Jangan sampai dicariin mandor,” Maya buru-buru menelan rotinya, menenggak air mineral itu setengah botol untuk mendorong rotinya turun ke lambung. “Nanti kalau Bu Ratna ngecek ke depan dan kamu nggak ada, kamu yang kena semprot.”
”Iya, ini aku mau balik. Kamu tahan-tahan ya kerjanya, May. Semangat terus! Anggap aja lagi olahraga malam,” Rani mengepalkan tangannya memberikan semangat.
”Nanti kalau shift kita udah kelar, kita janjian di loker aja. Pulang bareng. Pokoknya jangan pulang sendirian,” pesan Rani bersungguh-sungguh.
”Iya, Ran. Pasti. Makasih banyak ya rotinya.”
Rani mengangguk. Gadis tembam itu berjalan menuju pintu, perlahan membuka celah pintu VVIP itu sedikit, mengintip situasi di lorong luar untuk memastikan aman, lalu menyelinap keluar kembali ke dunia mal yang bising.
Maya tertinggal sendirian di dalam keheningan ruang VVIP tersebut. Ia menghabiskan sisa rotinya dalam diam. Tenaganya sedikit pulih. Rasa perih di lambungnya mereda. Ia mengambil napas panjang, kembali menyalakan mesin vacuum, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Pukul 22:30 Waktu Indonesia Barat.
Area lounge VVIP dan ruang makeup artis telah selesai Maya bersihkan hingga standar yang paling tinggi. Tidak ada sebutir debu pun yang tersisa di atas meja kaca. Karpet abu-abu mutiara itu terlihat sempurna tanpa jejak.
Kini, Maya berada di dalam kamar mandi khusus VVIP.
Kamar mandi itu tidak terlihat seperti toilet pada umumnya. Dindingnya berlapis marmer hitam Nero Marquina yang mengkilap elegan. Cermin-cermin raksasa menempel di atas wastafel yang terbuat dari batu alam utuh. Lampu downlight kuning menyorot lembut, menciptakan nuansa hotel bintang lima.
Maya sedang berjongkok, menyikat sela-sela ubin marmer menggunakan sikat gigi bekas dan cairan karbol khusus yang tidak merusak batu alam. Tangannya bergerak ritmis, meskipun seluruh persendiannya berteriak minta diistirahatkan.
Di luar kamar mandi, pintu ganda ruang VVIP kembali terbuka.
Kali ini bukan suara langkah yang mengendap-endap. Melainkan derap langkah sepatu pantofel yang berat, tegas, dan berjalan sangat cepat. Suara langkah itu disertai oleh percakapan dua orang pria yang terdengar menggema di ruangan luas tersebut.
Maya langsung menghentikan gerakan sikatnya. Ia membeku di lantai kamar mandi. Ia tidak berani berdiri atau mengintip keluar. Ia hanya menajamkan pendengarannya.
”Pastikan suhu di ruangan ini tetap stabil di angka dua puluh derajat celcius,” ucap sebuah suara pria. Nadanya sangat kaku, formal, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen asing (bule) yang cukup kental. “Tuan Adhitama tidak menyukai udara yang terlalu dingin untuk para tamu delegasinya.”
”Baik, Mister. Akan saya instruksikan ke tim teknisi gedung sekarang juga,” jawab suara kedua, yang terdengar sangat familier bagi Maya. Itu adalah suara sang Floor Director dari pihak EO, pria ber- pomade yang saat itu pernah meneriakinya.
Kedua pria itu berjalan melintasi ruangan VVIP, terdengar dari langkah mereka yang berpindah dari karpet ke lantai kayu di dekat jendela.
”Bagaimana dengan pengamanan prototype di podium utama?” tanya pria asing itu lagi. Nada suaranya sedikit merendah, menyiratkan topik yang sensitif.
”Sudah terkondisikan, Mister. Area panggung sudah kami kunci. Kamera pengawas di lorong servis belakang dimatikan sesuai protokol privasi yang Anda minta, tapi ada dua security bertubuh besar yang menjaga akses dari depan,” lapor sang direktur EO dengan penuh keyakinan.
”Bagus. Produk yang kita luncurkan besok adalah taruhan reputasi seluruh laboratorium di Swiss. Tuan Adhitama ingin semuanya sempurna tanpa cela,” ucap pria bule itu tegas.
”Pasti, Mister. Besok dunia akan melihat bagaimana Lumière Merveille mengubah sejarah kosmetik,” sang direktur EO tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana. “Mari kita lanjutkan inspeksi ke lorong sayap kiri.”
Langkah kaki mereka kemudian berputar arah, berjalan kembali menuju pintu utama. Pintu ganda itu dibuka, lalu ditutup dengan suara klik yang mantap.
Maya yang masih berjongkok di dalam kamar mandi mengembuskan napas lega. Ia mengusap dadanya yang berdebar kencang. Ia bersyukur para pria itu tidak masuk ke dalam toilet untuk melakukan pengecekan.
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya menyikat lantai marmer hitam tersebut. Pikirannya melayang pada obrolan kedua pria tadi.
Acara besok memang tampaknya sangat besar. Skala persiapan dan pengamanannya benar-benar di luar akal sehat manusia biasa. Produk yang akan diluncurkan itu dijaga ketat layaknya artefak bersejarah.
Namun bagi Maya, semua kemegahan itu tidak ada artinya. Ia tidak akan pernah mampu membelinya, dan ia tidak memiliki minat untuk mengubah wajahnya menjadi cantik jelita jika perutnya masih sering kelaparan. Prioritasnya malam ini hanyalah menyelesaikan pekerjaannya, mengambil gajinya bulan depan, dan merawat ibunya.
Pukul 23:45 Waktu Indonesia Barat.
Lampu-lampu utama mal di seluruh lantai telah dipadamkan, menyisakan lampu-lampu lorong yang temaram. Toko-toko desainer internasional telah menurunkan rolling door mereka. Suara bor dan palu dari arah panggung utama sudah lama berhenti.
Atrium utama kini diambil alih oleh kesunyian malam yang bergema mengerikan di dalam bangunan beton raksasa tersebut.
Maya akhirnya menyelesaikan tugas terakhirnya di area VVIP.
Ia berdiri di tengah lounge, menatap ke sekeliling ruangan yang kini benar-benar steril dan wangi. Tidak ada kulit kuaci, tidak ada noda teh, dan tidak ada jejak sepatunya sendiri. Ia telah memenuhi tuntutan gila dari Bu Ratna.
Ia membereskan botol-botol pembersihnya, memasukkannya ke dalam keranjang kecil, lalu mendorong vacuum cleaner itu keluar dari ruangan.
Begitu ia melangkah keluar ke lorong servis belakang panggung, suasana terasa sangat berbeda. Lorong ini sangat sepi dan sedikit gelap. Hanya ada beberapa lampu neon yang menyala di langit-langit beton.
Maya berjalan gontai menuju ruang briefing di basement untuk mengembalikan peralatannya. Sepatu botnya berderet pelan. Punggungnya melengkung ke bawah. Rasa lelahnya sudah melampaui ambang batas.
Di ruang ganti yang sunyi, ia bertemu dengan Rani yang sedang duduk menunggu di depan lokernya dengan mata setengah terpejam.
”May… akhirnya kamu kelar juga,” Rani langsung berdiri, menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya. “Gila, badanku rasanya kayak abis digebukin sekampung.”
”Maaf ya lama, Ran. Kamu pasti nunggu dari tadi,” Maya membuka lokernya, memasukkan keranjang alatnya, lalu mengambil tas ranselnya. Ia tidak punya tenaga lagi untuk mengganti seragam. Ia hanya memakai jaket parasit tipisnya untuk menutupi kemeja birunya yang kotor.
”Nggak apa-apa. Yuk ah buruan balik. Udah jam setengah satu pagi ini,” ajak Rani, merangkul lengan Maya.
Kedua gadis itu berjalan keluar dari ruang ganti, melangkah menyusuri lorong basement menuju pintu keluar karyawan di area loading dock.
Di luar sana, udara malam Jakarta menyergap mereka dengan hembusan angin yang sangat dingin. Sisa-sisa genangan air dari hujan kemarin siang memantulkan cahaya kuning dari lampu jalanan.
Pos keamanan loading dock terlihat sepi.
Maya mencari-cari sosok pria paruh baya yang biasa menunggunya. “Pak Agus mana ya, Ran? Tadi sore dia bilang mau nemenin kita nunggu angkot di depan.”
”Tadi pas aku ke sini duluan, kata satpam yang jaga sif malam, Pak Agus udah pulang duluan dari jam sepuluh tadi, May,” jawab Rani sambil menggosok-gosok kedua lengannya kedinginan. “Katanya ada urusan keluarga mendadak gitu.”
Mendengar itu, Maya mengangguk paham. “Oh, mungkin Bude Ningsih butuh bantuan di rumahku. Ya udah, kita jalan ke depan cari taksi atau angkot malam aja.”
Jalan Sudirman di dini hari itu terlihat sangat lengang dan sedikit menyeramkan. Gedung-gedung tinggi tertidur dalam kegelapan. Hanya ada beberapa mobil pribadi yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Maya dan Rani berdiri di pinggir trotoar yang sepi, menembus dinginnya malam. Beruntung, setelah menunggu sekitar sepuluh menit, sebuah angkot yang beroperasi dua puluh empat jam melintas dan berhenti di depan mereka.
”Yuk, May. Naik.”
Perjalanan pulang di dalam angkot yang kosong itu diisi oleh keheningan. Rani tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca jendela angkot yang bergetar. Sementara Maya, matanya menatap kosong ke arah jalanan yang gelap.
Meskipun tubuhnya luar biasa lelah, otaknya menolak untuk tertidur.
Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dadanya. Sebuah sensasi gelisah yang tidak memiliki alasan logis. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengusir perasaan itu dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ibunya aman bersama Bude Ningsih. Namun, insting seorang anak perempuan terhadap ibunya sering kali menembus batas logika.
”Kiri, Bang,” ucap Rani tiba-tiba saat angkot itu mendekati pertigaan jalan menuju rumahnya. Rani terbangun, mengusap matanya. “Aku turun duluan ya, May. Kamu hati-hati. Sampai ketemu besok pagi.”
”Iya, Ran. Kamu juga hati-hati masuk gangnya,” balas Maya.
Angkot kembali melaju, dan tak lama kemudian, berhenti di mulut gang kawasan kontrakan Maya.
Maya membayar ongkosnya, lalu turun dari angkot.
Pukul 01:15 dini hari.
Kawasan perkampungan padat penduduk itu benar-benar sunyi senyap. Lampu jalan di mulut gang berkedip-kedip redup, nyaris mati. Suara lolongan anjing liar dari kejauhan menambah nuansa mistis dan sepi di malam itu.
Maya melangkah masuk ke dalam gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding batako berlumut. Sepatu bot karetnya menginjak genangan air sisa hujan dengan bunyi kecipak yang menggema di kesunyian.
Semakin ia melangkah masuk mendekati kontrakannya, perasaan gelisah di dadanya semakin membengkak. Udara malam yang menampar wajahnya terasa jauh lebih dingin dan menusuk.
Langkah kakinya dipercepat. Rasa lelahnya menguap, digantikan oleh adrenalin kepanikan yang muncul entah dari mana.
Ia melihat rumah kontrakannya di ujung gang buntu.
Lampu neon lima watt di teras depan kontrakannya menyala terang. Namun, ada yang salah.
Pintu tripleks rumahnya tidak tertutup rapat. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar satu jengkal.
Maya berlari kecil menghampiri pintu tersebut. Napasnya memburu tak terkendali. “Bude? Ibu?” panggilnya dengan suara tertahan.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Maya meletakkan tangannya yang gemetar di permukaan pintu tripleks itu, lalu mendorongnya terbuka lebar. Krieet.
Udara dari dalam kontrakan berhembus keluar, langsung menampar wajah Maya.
Hidung Maya seketika menangkap sebuah aroma yang sangat tajam dan pekat. Bukan aroma obat gosok yang biasa ia hirup setiap pagi. Bukan juga bau apek dari dinding berjamur.
Itu adalah bau anyir. Bau karat besi yang luar biasa menyengat. Bau amis dari cairan kehidupan yang keluar dari tempatnya.
Mata Maya yang rabun membelalak lebar, mencoba memfokuskan pandangannya ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu redup tersebut.
Di ruang depan, Bude Ningsih tidak terlihat. Tikar plastik yang sedianya disiapkan untuk wanita itu tidur terlihat berantakan, tergeser hingga menabrak kaki meja.
Pandangan Maya meluncur ke arah celah tirai kain yang terbuka lebar. Ke arah dipan kayu di sudut ruangan.
Apa yang ia lihat di detik berikutnya membuat seluruh darah di tubuh Maya seolah membeku menjadi es.
Di atas ranjang besi berkarat itu, ibunya terbaring dalam posisi yang sangat tidak wajar. Tubuh renta itu kaku, kepalanya terkulai ke samping hingga nyaris jatuh dari bantal. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya, dan daster pudar yang ia kenakan, tidak lagi berwarna kusam.
Warna-warna itu telah tenggelam oleh noda merah pekat yang sangat besar.
Darah.
Darah segar dalam jumlah yang sangat banyak membasahi seprai, menetes dari sudut bibir ibunya yang membiru, dan menggenang di atas lantai semen di bawah dipan.
Mata ibunya terpejam rapat. Wajahnya yang pucat kini sepucat mayat.
Waktu seolah berhenti berdetak di dalam gang sempit itu. Tali tas ransel kanvas lusuh yang sejak tadi bertengger di bahu Maya merosot perlahan, lalu jatuh terhempas tak berdaya menghantam lantai semen yang dingin.
Sebuah kengerian absolut, yang lebih kelam dari malam terdalam, merenggut seluruh sisa kewarasan gadis itu dalam satu tarikan napas panjang yang mencekik.