“IBUUUU!!”
Jeritan Maya merobek keheningan malam di gang sempit itu. Suaranya pecah, melengking sarat akan kepanikan absolut, bergema memantul di dinding-dinding batako basah yang ditumbuhi lumut.
Tas ransel kanvasnya terlepas dari bahu, jatuh tergeletak tak berdaya menghantam lantai semen yang dingin.
Kakinya melangkah gontai. Bumi seolah kehilangan gravitasinya, membuat pandangannya berputar. Ia terhuyung maju, menembus batas tirai pudar, mendekati ranjang besi tempat ibunya terbaring kaku bersimbah darah.
”Ibu! Ibu, bangun, Bu!”
Maya menubruk tubuh renta itu tanpa memedulikan apa pun lagi. Tangannya yang gemetar hebat merengkuh bahu ibunya yang terasa sedingin es batu.
”Ibu, buka matanya! Jangan tinggalin Maya, Bu!” tangis Maya meledak, mengguncang-guncang tubuh yang sangat kurus itu.
Mata ibunya terpejam rapat. Bibirnya yang biasanya hanya pucat pasi, kini berubah warna menjadi biru keunguan yang mengerikan.
Darah segar menodai selimut tipis bermotif kotak-kotak itu. Daster pudar ibunya basah oleh cairan merah pekat yang berasal dari sudut bibir wanita itu. Sebuah noda darah yang sangat besar, mengisyaratkan kerusakan fatal yang baru saja terjadi di dalam organ paru-parunya saat ia terbatuk sendirian di tengah malam.
”Tolong! Tolong! Siapa aja, tolong!” jerit Maya histeris ke arah pintu depan yang terbuka.
Air matanya tumpah menderas, membasahi wajahnya yang kotor oleh debu proyek mal. Ia menepuk-nepuk pipi ibunya dengan panik, mencoba mencari tanda-tanda kesadaran.
”Bu, sadar, Bu! Ini Maya udah pulang! Maya di sini!”
Jantung Maya berdebar sangat liar hingga terasa menyakiti tulang rusuknya sendiri. Kengerian absolut mencekik lehernya, membuatnya kesulitan bernapas.
Di tengah kepanikan yang membutakan itu, suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa terdengar dari arah luar.
Pak Agus, yang rupanya baru saja melajukan motornya beberapa meter dari mulut gang dan mendengar jeritan itu, berlari kembali bersama istrinya, Bu Ningsih, yang menyusul dari arah pos ronda.
Pintu kontrakan yang setengah terbuka didorong dengan sangat paksa hingga membentur dinding.
”Ya Allah, Gusti Pangeran! Maya! Ada apa ini?!”
Bu Ningsih masuk dengan wajah pucat pasi. Wanita gempal itu baru saja keluar sebentar untuk membelikan makanan hangat bagi Pak Agus yang baru pulang. Di tangannya, ia memegang sebuah kantong plastik berisi bubur kacang hijau.
Melihat pemandangan berdarah di atas ranjang dari celah tirai, kantong plastik di tangan Bu Ningsih langsung terlepas dan jatuh ke lantai. Isinya tumpah berantakan, namun wanita itu sama sekali tidak peduli.
”Bude! Pak Agus! Tolongin Ibu! Ibu banyak darahnya!” jerit Maya, memeluk erat tubuh ibunya yang tak berdaya.
Bu Ningsih dan Pak Agus langsung berlari mendekat.
Pengalaman Bu Ningsih sebagai ibu rumah tangga di kampung yang sering menghadapi situasi darurat warga, membuatnya bertindak jauh lebih rasional daripada Maya yang akal sehatnya sudah hancur lebur.
”Minggir sebentar, Nduk! Lepas dulu pelukanmu! Kasih ibumu udara!” perintah Bu Ningsih tegas, menarik bahu Maya dengan lembut namun bertenaga.
Maya mundur setengah langkah. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Pak Agus segera memegangi bahu Maya untuk menenangkannya.
Bu Ningsih segera menempelkan telinganya ke dada ibu Maya yang basah oleh darah. Ia memejamkan mata, memusatkan pendengarannya. Tangan kanannya dengan sigap meraba urat nadi di pergelangan tangan wanita tua itu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
”Masih ada detaknya!” seru Bu Ningsih, menoleh cepat ke arah Pak Agus dan Maya. “Cuma lemah banget, Nduk. Dia pingsan habis batuk darah hebat.”
”K-kita harus gimana, Bude? Ibu harus dibawa ke dokter!” racau Maya panik, meremas rambutnya sendiri.
”Ayo, kita nggak punya waktu buat nangis di sini!” Bu Ningsih langsung menyingsingkan lengan dasternya. “Pakne! Bantu angkat Yu Asih dari sebelah sana! Kita bawa ke klinik dua puluh empat jam di depan jalan raya sekarang juga!”
”T-tapi kita naik apa, Bude? Motor Bapak nggak bisa bonceng tiga orang sakit!” tangis Maya.
”Pakai becak motornya Kang Parman di ujung gang! Tadi Bapak lihat dia masih melek lagi ngopi di teras!” jawab Pak Agus cepat. “Ayo, angkat pelan-pelan!”
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, didorong oleh keputusasaan murni, Maya mengalungkan lengan ibunya ke lehernya.
Ia dan Pak Agus memapah tubuh lunglai itu bersama-sama. Tubuh ibunya terasa begitu ringan, nyaris hanya menyisakan kulit yang membalut tulang. Namun beban mental yang menindih pundak Maya malam ini jauh lebih berat dari gunung mana pun di bumi.
”Kang Parman! Tolongin, Kang! Darurat! Bawa ke klinik sekarang!” teriak Pak Agus saat mereka berhasil keluar dari gang.
Tetangga mereka yang sedang mengopi itu terkejut melihat darah. Tanpa banyak bertanya, ia langsung membuang rokoknya dan menyalakan mesin becak motornya.
Mereka menembus dinginnya angin malam Jakarta yang menusuk tulang. Maya duduk meringkuk di dalam bak becak, memangku kepala ibunya, terus membisikkan doa dan memanggil nama ibunya sepanjang perjalanan singkat menuju klinik terdekat.
Lampu neon putih berkedip-kedip menyilaukan mata di lorong klinik kecil yang sunyi itu.
Udara di sana dipenuhi oleh bau karbol pembersih lantai dan aroma obat-obatan murah yang sangat khas.
Maya duduk meringkuk di kursi tunggu plastik berwarna biru yang kakinya sudah berkarat. Seragam kerja birunya yang masih menempel di tubuhnya, kini tak hanya kotor oleh debu proyek dan sisa lem silikon, melainkan juga bernoda darah merah pekat—darah ibunya sendiri.
Sebuah lukisan tragis dari puncak penderitaannya malam ini.
Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya kosong, menembus pintu putih ruang tindakan darurat di depannya.
Bu Ningsih duduk di sebelahnya. Wanita gempal itu terus mengelus punggung Maya yang bergetar hebat. Mulut Bu Ningsih tak berhenti komat-kamit merapalkan doa-doa pelan untuk keselamatan tetangganya itu.
Sementara itu, Pak Agus mondar-mandir di dekat pintu masuk klinik, raut wajahnya tegang.
”Sabar, Nduk. Ibumu itu orang kuat. Dia pasti bisa lewatin cobaan ini,” bisik Bu Ningsih menenangkan.
Maya tidak menjawab. Ia terlalu takut jika ia membuka mulutnya, yang keluar hanyalah jeritan frustrasi yang akan meruntuhkan klinik ini.
Setelah hampir satu jam menunggu dalam siksaan mental yang terasa seperti satu abad, pintu ruang tindakan akhirnya berderit terbuka.
Seorang dokter muda dengan jas putih yang tampak kelelahan dan kurang tidur melangkah keluar. Ia melepaskan sarung tangan karetnya yang bernoda darah, lalu membuangnya ke tempat sampah medis di dekat pintu.
Maya langsung melompat berdiri dari kursinya.
”Dokter…” panggil Maya, suaranya serak, parau, dan bergetar hebat. “Gimana keadaan ibu saya, Dok? Ibu saya masih bisa diselamatkan kan? Darahnya udah berhenti kan, Dok?”
Dokter itu menghentikan langkahnya. Ia menatap Maya, lalu beralih menatap Bu Ningsih dan Pak Agus yang ikut mendekat.
Sorot mata dokter itu sulit diartikan, sebuah campuran antara rasa kasihan yang tulus dan keputusasaan profesional seorang tenaga medis yang dibatasi oleh fasilitas yang ada. Ia menghela napas panjang dan berat.
”Pendarahan di paru-parunya sudah berhasil kami hentikan untuk sementara waktu,” ucap dokter itu.
Kalimat itu memberikan sebuah kelegaan instan yang langsung mengendurkan ketegangan di dada Maya.
”Beliau juga sudah sadar sekarang, dan sudah kami berikan oksigen. Meskipun kondisinya masih sangat, sangat lemah,” lanjut sang dokter.
”Alhamdulillah…” Bu Ningsih mengusap wajahnya dengan kedua tangan, disusul oleh helaan napas lega dari Pak Agus.
Maya memaksakan sebuah senyum tipis yang bergetar. “Makasih, Dokter. Makasih banyak. Boleh saya bawa ibu saya pulang ke rumah sekarang? Saya akan tebus semua obatnya, Dok.”
Raut wajah dokter itu berubah menjadi jauh lebih tegang. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
”Itu masalahnya, Mbak,” ucap dokter itu dengan hati-hati. “Kondisi penyakit tuberkulosis dan komplikasi di paru-paru ibu Anda sudah masuk ke tahap yang sangat kritis. Jaringan paru-parunya sudah rusak parah akibat infeksi yang dibiarkan tanpa penanganan memadai.”
Senyum di wajah Maya memudar seketika. Jantungnya kembali berpacu. “M-maksud Dokter? Ibu saya nggak boleh pulang?”
”Klinik dua puluh empat jam ini tidak punya peralatan pendukung kehidupan yang memadai untuk menangani kerusakan organ separah ini,” jelas sang dokter, menatap lurus ke dalam mata Maya yang membelalak.
”Ibu Anda sama sekali tidak bisa dibawa pulang. Beliau harus segera dirujuk malam ini juga ke rumah sakit besar untuk dirawat intensif di ruang ICU.”
Udara di lorong klinik itu seketika terasa menyusut drastis, mencekik leher Maya hingga ia tak bisa bernapas.
”ICU?” ulang Maya, suaranya nyaris tak terdengar.
”Ya. Dan kemungkinan besar, setelah kondisinya sedikit distabilkan di sana, beliau memerlukan operasi pembersihan paru secepatnya untuk mengangkat jaringan yang sudah mati,” tambah dokter itu, memberikan vonis tanpa ampun. “Jika tidak dilakukan segera… pendarahan hebat seperti tadi akan terulang lagi kapan saja. Dan untuk serangan yang berikutnya, kami di sini mungkin tidak akan bisa menyelamatkan nyawanya lagi.”
Ruang ICU. Operasi besar.
Dua rangkaian kata itu adalah bahasa asing bagi orang-orang dari kasta seperti Maya. Itu adalah kosakata mewah milik orang-orang yang bisa dengan mudah membuang uang lima puluh juta rupiah hanya untuk sebotol serum awet muda di mal tempatnya bekerja.
Bagi Maya, dua kata itu adalah vonis kemustahilan yang absolut.
”B-biayanya…” Maya memaksakan dirinya untuk bertanya, meskipun ia tahu jawabannya akan membunuhnya dari dalam. Suaranya terdengar seperti cicitan tikus yang tercekik perangkap. “Kira-kira butuh biaya deposit berapa, Dok, untuk masuk ke rumah sakit besar itu?”
Dokter itu menelan ludah. Ia sangat sadar dengan siapa ia berbicara saat ia melihat sepatu bot karet yang kusam, kacamata yang dililit selotip, dan seragam lusuh Maya. Namun ia harus menyampaikan prosedur medis yang berlaku.
”Untuk bisa masuk ke ruang ICU, mendapatkan tindakan awal, serta penyewaan ventilator alat bantu napas di rumah sakit rujukan… biasanya pihak administrasi rumah sakit akan meminta deposit awal di depan,” jawab sang dokter pelan, tidak tega mengatakannya.
”Sekitar lima belas sampai dua puluh juta rupiah, Mbak. Itu pun belum termasuk biaya operasinya nanti.”
Dua puluh juta.
Angka itu menggema di dalam kepala Maya. Memantul-mantul dari satu dinding tengkorak ke dinding lainnya, menyiksa gendang telinganya, hingga menghancurkan seluruh dinding kewarasannya.
Tangan Maya perlahan merogoh saku celana seragamnya yang kotor. Jari-jarinya yang kasar menyentuh dompet plastik kecil yang selalu ia bawa.
Di dalam dompet itu, ia tahu persis, hanya berisi satu lembar uang sepuluh ribu yang lecek dan sekeping uang logam seribu rupiah.
Sebelas ribu rupiah.
Sementara gajinya yang tak seberapa untuk bulan depan sudah ditahan dan dipotong oleh Bu Ratna akibat insiden tas Tante Sisca. Kasbon di warung sembako sudah mencapai limit maksimal.
Dari mana ia bisa mendapatkan uang tunai dua puluh juta rupiah malam ini juga?
Menjual ginjalnya? Ia bahkan tidak tahu harus pergi ke pasar gelap mana untuk menawarkannya. Memohon pada orang-orang di mal? Mereka bahkan menganggapnya sebagai hama yang lebih rendah dari debu.
Maya mundur selangkah dengan tatapan yang sepenuhnya kosong. Punggungnya menabrak dinding klinik.
Kakinya tiba-tiba kehilangan semua persendiannya. Ia merosot perlahan menelusuri dinding itu, hingga akhirnya jatuh terduduk di atas lantai tegel yang dingin.
Ia menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang gemetar. Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan sangat kuat hingga beberapa helai rambutnya rontok.
Ia tidak menjerit. Ia tidak menangis histeris. Ia hanya terdiam. Membisu.
Sebuah keheningan yang jauh lebih memekakkan telinga daripada teriakan paling keras sekalipun. Keheningan yang lahir dari keputusasaan mutlak, saat seseorang akhirnya menyadari dan menerima bahwa ia telah benar-benar dikalahkan oleh takdir tanpa perlawanan yang adil.
”Maya… Nduk…” Bu Ningsih ikut berjongkok, memeluk tubuh gadis itu dengan air mata yang menetes deras. “Kita cari pinjaman ya. Bude besok pagi coba gadaikan motornya Pak Agus ke bank keliling…”
”Nggak akan cukup, Bude…” bisik Maya dari balik lututnya. Suaranya terdengar mati, tanpa intonasi kehidupan. “Hidup orang miskin itu sangat murah… tapi untuk menunda kematiannya, harganya selalu dibuat terlalu mahal.”
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan yang berkedip suram, sebuah tragedi kelas bawah kembali harus menelan kepahitan.
Dengan bantuan sedikit uang tabungan darurat milik Bu Ningsih, uang yang sebenarnya disiapkan untuk modal belanja warung besok pagi, Maya hanya mampu menebus obat penahan pendarahan dosis tinggi dan beberapa vitamin dari apotek klinik.
Rumah sakit besar dengan ruang ICU yang gemerlap itu hanyalah angan-angan kosong yang menguap bersama asap kendaraan.
Sang ibu, yang sudah sadar namun sangat lemah dan harus menggunakan selang oksigen portabel sewaan, menolak dengan tegas saat mendengar rencana Bu Ningsih untuk meminjam uang puluhan juta pada rentenir.
Wanita tua itu tahu betul bahwa hutang sebesar itu dengan bunga yang mencekik hanya akan membunuh nyawa putri satu-satunya secara perlahan seumur hidupnya.
”Ibu mau pulang saja, Maya,” bisik ibunya di ruang tindakan. Matanya menatap sendu pada putrinya, tangannya mengelus pipi Maya. “Ibu mau tidur di kasur kita sendiri.”
”Tapi Ibu harus dioperasi… kalau enggak, Ibu bisa…” Maya tak sanggup meneruskan kalimatnya, terisak menahan pilu.
”Ibu lebih suka mati di rumah kita sendiri, Nduk. Di tempat di mana ada sisa kenangan Bapakmu,” ibunya tersenyum sangat tipis, sebuah senyum perpisahan yang disiapkan perlahan-lahan. “Daripada Ibu harus melihat kamu jadi pengemis, diinjak orang, dan dikejar-kejar penagih hutang setiap hari cuma untuk bayar rumah sakit.”
Kalimat itu menancap di dada Maya seperti paku berkarat yang ditusukkan tepat ke jantungnya berulang kali.
Akhirnya, Maya membawa ibunya kembali pulang ke kontrakan menggunakan becak motor.
Semalaman suntuk, Maya tidak memejamkan matanya sedetik pun.
Ia duduk bersila di atas lantai semen, tepat di samping ranjang besi itu. Ia menggenggam erat tangan ibunya yang dingin, menatap wajah pucat yang sedang tertidur lelap karena pengaruh obat penahan sakit yang keras.
Mata Maya yang bulat perlahan kehilangan cahaya kepolosannya.
Di dalam ruang sempit yang bau obat gosok itu, sisi kemanusiaan Maya mulai terkikis habis. Ia merasa jiwanya membusuk.
Ada rasa benci murni yang mulai tumbuh, menjalar bagaikan parasit menyirami hatinya. Ia membenci Sari yang selalu menghinanya dan tak pernah membiarkannya bernapas. Ia membenci Bu Ratna yang memotong gajinya dengan sewenang-wenang. Ia membenci Tante Sisca dan tas satu miliarnya yang menjadi awal dari pemotongan gajinya.
Tapi lebih dari segalanya, ia membenci keadilan dunia ini. Ia membenci sistem yang membiarkan orang-orang miskin mati membusuk perlahan di dalam gang sempit, sementara orang-orang kaya di luar sana bisa berpesta pora menghamburkan puluhan juta rupiah hanya demi sebuah serum untuk memuaskan ego mereka.
Aku butuh keajaiban, batin Maya menatap langit-langit asbes yang bocor, matanya menggelap.
Atau sebuah kutukan. Aku tidak peduli lagi. Aku rela menukar jiwaku pada iblis mana pun asal ibuku bisa sembuh.
Hari H peluncuran produk kosmetik eksklusif Lumière Merveille akhirnya tiba.
Grand Atrium Mall telah bertransformasi total menjadi sebuah istana kemewahan absolut yang seolah-olah dipindahkan dari dimensi lain. Pemandangannya benar-benar mengintimidasi dan menyilaukan mata siapa pun yang dompetnya tidak cukup tebal.
Area panggung utama kini telah berdiri dengan sangat megah, mendominasi seluruh pusat lantai dasar. Karpet merah tebal dan sangat empuk, membentang panjang dari pintu masuk lobi utama hingga menyentuh anak tangga panggung.
Ratusan kursi berbahan beludru hitam yang diikat dengan pita sutra berwarna emas tersusun sangat rapi untuk para tamu undangan VVIP dan petinggi media.
Dekorasi bunga mawar putih asli yang diklaim diimpor langsung dari pertanian elit di Eropa menghiasi setiap sudut panggung. Bunga-bunga itu menguarkan aroma wangi yang sangat pekat, elegan, dan menyegarkan, mengalahkan wangi parfum branded dari pengunjung mana pun yang melintas di koridor.
Di atas panggung, layar LED raksasa terus memutar video promosi yang menampilkan keajaiban kosmetik tersebut secara berulang-ulang dengan efek sinematik. Di layar itu, tertulis sebuah slogan besar berwarna emas berkilauan yang mendominasi ruangan:
L’Éternité – Kembalikan Kesempurnaan Waktu Anda, Hanya Dalam Tiga Bulan.
Lampu-lampu sorot canggih bergerak menari ke segala arah, menyapu area atrium dengan cahaya warna-warni yang presisi. Alunan musik orkestra live bergema dari sudut kanan panggung, memainkan komposisi klasik yang megah dan menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya.
Ini adalah sebuah perayaan agung tentang kecantikan, kemudaan, dan tentu saja, kekuasaan yang hanya bisa dibeli dengan uang.
Dan di tengah segala kemegahan yang membutakan mata itu, Maya hadir bagaikan seonggok noda kotoran di atas kanvas putih yang bersih.
Gadis itu berdiri menyusut di balik bayang-bayang pilar raksasa di dekat area koridor samping, jauh dari kemilau karpet merah. Seragam birunya terlihat semakin pudar dan tidak bernyawa.
Lingkaran hitam berkantung tebal menghiasi bagian bawah matanya di balik kacamata yang dililit selotip. Wajahnya sekuyu kain pel yang usang. Tubuhnya terlihat semakin kurus kering, seolah nyawanya perlahan-lahan tersedot keluar dari pori-pori kulitnya setiap kali ia mengedipkan mata.
Pikirannya sama sekali tidak berada di mal yang bising ini.
Pikirannya tertinggal di rumah kontrakannya yang pengap, menghitung setiap tarikan napas ibunya yang semakin putus-putus. Ia hanya raga yang bergerak menjalankan insting untuk bekerja demi uang.
Malam ini, Maya kembali menjalani hukuman shift panjang mereka di bawah perintah absolut Bu Ratna. Tugasnya sangat sepele namun merendahkan, berpatroli di area pinggiran luar batas tamu. ia ditugaskan layaknya anjing penjaga, memastikan tidak ada secuil debu kotor atau sampah pun yang berani merusak pemandangan para sosialita dan artis papan atas yang hadir.
Pukul delapan malam.
Acara peluncuran tersebut sedang mencapai puncaknya.
Sorak-sorai dan tepuk tangan yang anggun namun penuh antusiasme terdengar menggema ke seluruh penjuru mal.
Dari balik tirai hitam di samping panggung, seorang aktor film paling terkenal di negeri ini, seorang pria tampan bertubuh atletis dengan senyum sejuta dolar yang mematikan melangkah naik ke atas panggung sebagai Brand Ambassador.
Aktor itu mengenakan setelan jas tuxedo putih yang sangat pas memeluk lekuk tubuhnya. Ia melambaikan tangannya dengan karisma yang tumpah ruah ke arah para tamu undangan eksklusif.
Melihat kehadiran aktor pujaan tersebut, ibu-ibu sosialita di barisan depan, termasuk rombongan Tante Sisca yang berhasil memamerkan gaun barunya bertepuk tangan kegirangan, beberapa bahkan memekik kecil kehabisan napas layaknya gadis remaja yang sedang kasmaran.
Sementara para petinggi dan orang kaya menikmati pertunjukan itu dari atas kursi beludru yang empuk, di area belakang batas penonton umum, suasananya jauh lebih riuh dan semrawut. Ratusan penggemar dan pengunjung biasa berdesak-desakan di luar garis tali beludru merah, mengangkat ponsel mereka tinggi-tinggi, berteriak-teriak ingin memotret aktor tersebut.
Di tengah keriuhan itu, Maya sedang berjongkok.
Dengan sisa tenaga yang sangat menyedihkan, ia berusaha mengorek sebuah bekas permen karet merah muda yang menempel kuat di marmer dekat tempat sampah berbahan stainless steel.
Saat ia sedang fokus memegang kape pengeruknya, ia melihat dua pasang kaki berseragam biru dengan sepatu pantofel melangkah mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya.
”Oh my God, Cha! Sumpah, aslinya seribu kali lebih ganteng daripada di TV! Ya ampun, senyumnya itu lho, bikin rahim gue anget!”
Itu adalah suara melengking Sari.
Wanita dominan itu melonjak-lonjak kecil sambil berjinjit di luar garis pembatas, mengangkat ponsel pintarnya tinggi-tinggi, berusaha keras merekam wajah sang aktor pujaan dari kejauhan. Di tangannya yang lain, ia masih memegang alat pel yang sama sekali tidak basah, murni sebagai properti agar terlihat sedang bekerja.
Icha, yang berdiri di sebelahnya, juga sibuk mengunyah permen karet. Matanya berbinar-binar penuh pemujaan menatap ke arah panggung.
”Bener banget, Sar! Gila, mulus banget cowok itu mukanya,” sahut Icha tanpa melepaskan pandangannya dari panggung. “Katanya dia juga di-endorse dan beneran pakai serum Lumière Merveille itu lho buat perawatan sehari-hari. Makanya mukanya bisa glowing parah kayak porselen gitu. Coba kalau kita punya uang lima puluh juta buat beli serum itu ya, Sar.”
Mereka berdua sebenarnya sedang dalam masa tugas untuk mengepel area koridor utara lantai satu yang malam ini sangat kotor akibat jejak sepatu pengunjung dari luar yang habis kehujanan. Namun, seperti kebiasaan lama mereka, mereka membolos dan meninggalkan pos tugas dengan seenaknya demi menonton idola mereka tampil.
Di tengah asyiknya merekam, pandangan Sari tak sengaja menunduk.
Matanya langsung bertabrakan dengan sosok Maya yang masih berjongkok memegang kape pengeruk di dekat ujung sepatunya.
Alis Sari yang digambar tebal seketika bertaut tajam. Ekspresi wajahnya yang tadinya penuh senyum pemujaan, berubah seketika menjadi rasa jijik yang luar biasa berlebihan, seolah ia baru saja melihat bangkai tikus berdarah di dekat kakinya.
”Heh, Maya,” panggil Sari pelan, namun nadanya sedingin silet yang mengiris daging.
Sari memajukan kaki kanannya, menendang pelan pinggiran pengki plastik milik Maya hingga benda itu bergeser dan berbunyi berderak di lantai marmer.
”Lo ngapain jongkok-jongkok di situ? Bikin sempit jalan gue aja,” desis Sari, menatap Maya dari atas. “Mending lo pindah dari sini sekarang juga. Lo ke sana, bersihin area tugas gue di koridor utara lantai satu. Lantainya banyak jejak lumpur cokelat dari luar tuh, jijik banget gue ngepelnya. Nanti kutu air lagi kaki gue kalau kena becek.”
Maya menghentikan gerakannya. Ia memegang pengeruk plastiknya erat-erat.
Gadis itu mendongak perlahan, menatap wajah sombong Sari dari bawah. Otot rahang Maya menegang kaku. Rasa lelah yang teramat sangat, ditambah dengan memori kelam tentang ibunya yang nyaris mati, membuat kesabaran Maya menipis, setipis kulit ari.
”I-itu… itu kan area tanggung jawab Mbak Sari sama Mbak Icha malam ini…” jawab Maya dengan suara parau yang serak. Ia berusaha keras menahan getaran kemarahan di tenggorokannya. “Saya nggak bisa ninggalin pos ini. Saya ditugaskan sama Bu Ratna buat standby bersihin sampah di area sekitar pinggiran panggung.”
Mendengar perlawanan kecil dan argumen logis dari Maya, mata Sari langsung membelalak marah. Egonya terbakar hebat. Ia merasa otoritasnya sebagai ratu di divisi tersebut sedang ditantang oleh seorang pesuruh rendahan yang tak berharga.
”Berani lo ngebantah dan ngelawan perintah gue sekarang, hah?!” desis Sari, matanya memancarkan ancaman yang siap meledak.
Sari langsung mencondongkan tubuhnya ke bawah. Ia mencengkeram kain bahu seragam Maya dengan sangat kuat dan menariknya dengan kasar ke atas, memaksa Maya untuk berdiri terhuyung dari posisi jongkoknya.
Maya tersentak kaget, pengkinya terjatuh ke lantai.
”Denger gue baik-baik ya, babu,” Sari berbisik dengan gigi gemeretak, menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Maya. Bau permen mint bercampur aroma lipstik murahan dari napas Sari menusuk hidung Maya.
Sari mencengkeram rahang Maya dengan satu tangan, memaksanya menoleh dengan paksa ke arah panggung.
”Lo lihat panggung terang benderang di depan sana? Lo lihat artis itu dan orang-orang yang duduk di kursi beludru itu?” cecar Sari tanpa ampun. “Mereka itu orang-orang yang punya nilai di dunia ini, May! Orang-orang yang mukanya enak dilihat, yang pantas ada di acara semewah ini. Sedangkan lo?”
Sari melepaskan cengkeramannya pada rahang Maya, diakhiri dengan sebuah dorongan keras ke bahu gadis itu. Maya mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pilar marmer yang keras.
”Lo tuh cuma parasit dekil,” lanjut Sari dengan nada menghina yang disengaja agak keras agar beberapa penonton di sekitarnya menoleh dan mempermalukan Maya. “Orang sejelek dan sedekil lo tuh harusnya sadar diri sama kasta lo. Keberadaan lo dengan muka jelek di dekat acara mewah begini tuh mengganggu pemandangan, ngerti?! Bikin malu-maluin seragam divisi kita aja.”
Maya menunduk, napasnya memburu. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Sari melangkah mendekat, memberikan pukulan finalnya dengan senyum yang sangat kejam.
”Makanya, mending lo nyingkir dari sini sekarang juga, kerjain tugas gue ngepel lumpur di utara,” ancam Sari sambil menunjuk ke arah lorong jauh. “Atau… lo mau gue panggilin Bu Ratna sekarang juga? Biar gue bilang lo malas-malasan, nyari gara-gara, terus lo dipecat beneran malam ini juga? Kalau lo dipecat dan nggak gajian… ibumu yang penyakitan itu besok pagi pasti langsung mati kelaparan dan sesak napas di rumah, kan?”
Mendengar nama ibunya dan kata ‘mati’ disebut dengan begitu entengnya sebagai bahan ancaman, napas Maya seketika tercekat.
Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dunia di sekelilingnya mendadak menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan dering panjang yang menyakitkan di telinganya. Kalimat terakhir Sari bukanlah sekadar hinaan khas orang sombong, itu adalah sebuah kutukan berdarah yang sangat keterlaluan.
Maya mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap lurus ke dalam mata Sari.
Untuk sepersekian detik, sebuah insting pembunuh terlintas di otak Maya. Bayangan dirinya mengayunkan pengeruk besi yang ia pegang itu, dan menghantamkannya tepat ke arah wajah mulus penuh makeup milik Sari hingga hancur berkeping-keping, menari-nari dengan sangat jelas di pelupuk matanya.
Namun… realitas kembali menarik rantainya ke bumi.
Ketakutannya akan jeruji penjara, dan fakta bahwa uang gaji bulan ini adalah satu-satunya nyawa bagi kelangsungan napas ibunya, kembali memenjara emosinya dengan jeruji baja. Ia tidak bisa melawan. Jika ia dipecat, tidak akan ada operasi paru-paru.
Maya menelan seluruh amarahnya. Menelannya dalam-dalam hingga kerongkongannya terasa seperti dimasuki beling beracun yang mengiris pita suaranya hingga berdarah.
Dengan tangan yang bergetar hebat memegang sikat lantai, Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyerahkan harga dirinya yang terakhir pada iblis di depannya.
”B-baik, Mbak Sari…” bisik Maya dengan suara pecah yang nyaris tak bernyawa. “S-saya akan ke sana… saya akan bersihkan lumpur di lantai satu.”
Sari mendengus sangat puas. Ia tersenyum sinis penuh kemenangan ke arah Icha yang sejak tadi asyik menertawakan kekalahan telak Maya.
”Nah, gitu dong. Pinter dikit jadi babu. Tahu diri posisinya di mana,” cibir Sari sambil memperbaiki kerah bajunya. “Udah sana hus, pergi! Bau lo di sini bikin mood gue nonton artis rusak aja.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Maya membalikkan badannya. Ia memungut pengkinya, menyeret alat pelnya, dan berjalan menjauh dari gemerlap panggung mewah itu.
Ia melangkah gontai menuju lorong utara yang dingin, redup, dan dipenuhi jejak lumpur kotor. Ia meninggalkan Sari dan Icha yang kini sudah kembali asyik memekik kegirangan meneriakkan nama idola mereka.
Air mata kembali mengalir membasahi pipi Maya yang cekung. Namun kali ini, air mata itu terasa berbeda. Air mata itu terasa sangat panas, mendidih, membakar kulit kusamnya dengan rasa benci dan dendam yang mulai mengakar kuat dan takkan pernah bisa dicabut lagi dari dasar jiwanya.
Pukul sebelas malam.
Acara peluncuran kosmetik mewah yang menguras biaya miliaran rupiah itu telah berakhir sejak setengah jam yang lalu.
Para artis, model, dan ibu-ibu sosialita telah melenggang pergi meninggalkan gedung dengan mobil-mobil mewah mereka yang menjemput di lobi. Mereka tersenyum puas, menenteng bingkisan tas eksklusif berisi sampel serum wajah. Lampu-lampu sorot warna-warni yang tadi menari telah dimatikan dari pusat kendali, menyisakan lampu pendar putih standar mal yang cukup terang untuk proses bongkar muat.
Area atrium utama yang beberapa jam lalu terlihat seperti representasi surga duniawi, kini berubah wujud menjadi seperti lokasi usai kerusuhan kecil.
Karpet merahnya kini terlihat sangat dekil, dipenuhi noda jejak ratusan sepatu mahal dan tumpahan minuman manis. Jutaan helai confetti dari letusan meriam puncak acara berserakan menutupi seluruh lantai marmer bak daun kering di musim gugur yang muram. Gelas-gelas kaca berisi sisa sampanye, brosur-brosur mewah yang dibuang begitu saja karena tak dibaca, dan sisa makanan ringan berceceran di bawah kursi-kursi tamu.
Semua karyawan mal shift malam sudah mulai berbondong-bondong pulang. Pekerja loading dari pihak EO sedang sibuk membongkar kerangka sound system di bagian loading dock belakang gedung.
Di tengah lautan sampah sisa kemewahan orang kaya itu, hanya tersisa Maya.
Bu Ratna, yang wajahnya tampak lelah namun memancarkan kepuasan karena acara berjalan lancar tanpa teguran berarti, berdiri di pinggir karpet merah. Wanita itu melipat tangannya di dada, menatap Maya yang sedang memegang sapu lidi dengan tatapan memerintah yang absolut.
”Maya, pastikan seluruh area pengunjung di depan panggung dan di area kolong panggung ini bersih total malam ini juga!” perintah Bu Ratna tanpa kompromi. “Jangan tinggalkan satu helai confetti pun! Besok pagi area ini akan langsung dibuka untuk umum lagi.”
Di sudut ruangan, tak jauh dari tempat Bu Ratna berdiri, Rani sedang berdiri memeluk sapu plastiknya. Gadis polos berpipi tembam itu matanya sudah sembap karena sudah menangis selama lima belas menit memohon pada manajernya agar diizinkan membantu Maya lembur lebih lama.
”T-tapi Bu Ratna… area ini luas banget. Sampahnya banyak banget,” isak Rani, tak tega melihat sahabatnya yang sudah terlihat sangat kuyu seperti mayat hidup. “Nggak mungkin Maya bisa bersihin ini sendirian malam ini, Bu. Izinkan saya ikut lembur bantu Maya ya, Bu? Saya nggak usah dibayar juga nggak apa-apa, saya ikhlas.”
”Tidak bisa!” bentak Bu Ratna keras, menolak mentah-mentah permintaan tulus itu.
Manajer itu menunjuk ke arah koridor karyawan dengan telunjuknya. “Jadwal kerjamu sudah selesai dari jam sepuluh tadi, Rani! Kamu malah bikin sempit area sini! Pulang sana! Angkot terakhir ke arah rumahmu sebentar lagi lewat. Kalau kamu masih berani ngeyel di sini dan mengganggu instruksi saya, besok kamu saya skorsing tiga hari tanpa gaji!”
Mendengar ancaman pemotongan gaji dan skorsing, nyali Rani langsung menciut drastis. Ia terkesiap ketakutan. Ia menatap Maya dengan air mata berderai, merasa sangat tidak berguna.
Maya yang sedang memegang sapu lidi panjang, memaksakan sebuah senyuman di balik wajahnya yang kuyu. Ia mengangguk pelan pada Rani, memberikan isyarat agar gadis itu menuruti perintah manajer galak tersebut daripada ikut mendapat masalah.
”Pulanglah, Ran. Kejar angkot terakhirmu. Angin malam dingin,” ucap Maya dengan suara parau yang menenangkan. “Aku bisa nyelesaiin ini sendiri kok. Sebentar lagi juga kelar.”
”T-tapi May…” Rani mengusap ingusnya dengan lengan seragam, menatap Maya dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
Sebelum berbalik pergi, Rani mengambil langkah perlahan mendekati Maya, berpura-pura memberikan sapu plastiknya.
Saat posisinya cukup dekat, Rani setengah berbisik ke telinga Maya, memastikan Bu Ratna yang berdiri agak jauh tidak mendengarnya.
”May… kamu sabar ya. Aku pura-pura pulang turun ke basement sekarang,” bisik Rani nekat. “Nanti… nanti aku sembunyi dulu di dalam ruang loker. Kalau Bu Ratna udah pulang dan taksinya keluar… aku bakal naik lagi lewat tangga darurat buat bantuin kamu nyapu diem-diem. Aku janji, May.”
Mendengar bisikan rencana nekat dari sahabatnya itu, Maya hanya bisa tertegun. Ia ingin melarang Rani bertindak ceroboh, tapi gadis tembam itu sudah keburu berbalik dan berlari kecil menuju koridor karyawan sambil menundukkan kepala melewati Bu Ratna.
Setelah memastikan Rani benar-benar sudah pergi, Bu Ratna merapikan blazer-nya. Wanita itu menguap pelan karena kantuk.
Ia menoleh sinis ke arah Maya untuk memberikan pesan terakhirnya. “Kerjakan tugasmu sekarang juga. Mandor Joko dari tim sekuriti yang akan mengawasi kerjamu sebelum dia mengunci seluruh akses area panggung ini. Ingat, saya tidak mau lihat ada sampah kertas tersisa besok pagi!”
Wanita paruh baya itu pun berlalu pergi.
Kini, hanya ada kesunyian yang mencekam di area atrium tersebut, diselingi bisingnya suara sayup pekerja membongkar kerangka baja di bagian loading dock belakang.
Jam digital di dinding raksasa mal menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Hawa pendingin ruangan (AC) yang mulai dikurangi kapasitasnya membuat udara terasa sedikit lebih pengap, namun sisa hawa dingin dari lantai marmer masih terasa menusuk menembus telapak kaki Maya.
Maya mulai menyapu. Langkahnya diseret. Tangannya bergerak kaku dan berulang, persis seperti mesin rusak yang telah kehabisan pelumas.
Sreek… Sreek… Sreek…
Suara sapu lidinya bergesekan dengan marmer, menyapu ribuan kertas confetti emas yang terlihat sangat kontras, mengejek seragam birunya yang kusam.
Setiap ayunan sapunya terasa begitu berat. Dadanya kembali sesak saat pikirannya melayang memikirkan ibunya.
Apakah Ibu tertidur pulas malam ini? Atau Ibu terbangun dan sedang menahan sakit pendarahan tanpa ada seorang pun di sampingnya untuk memegang tangannya?
Air mata keputusasaan kembali jatuh. Tetesan air mata itu menetes ke atas tumpukan kertas confetti emas yang sedang ia sapu, merusak kilau kertas tersebut.
Dua jam berlalu dengan sangat lambat.
Maya telah berhasil menyingkirkan sebagian besar sampah di area terbuka dan lorong tamu. Kini, ia mulai menyisir area di bawah bibir panggung.
Bagian bawah ini terbuat dari rangka besi penyangga setinggi setengah meter, yang ditutupi sepenuhnya oleh kain beludru hitam tebal yang menjuntai dari bibir panggung hingga menyentuh lantai marmer, area yang biasa disebut sebagai kolong skirting panggung.
Area ini sangat gelap karena lampu sorot di atasnya sudah lama dimatikan, hanya mengandalkan cahaya remang-remang putih dari lampu koridor mal di kejauhan.
Maya harus berjongkok. Ia merayap masuk sedikit ke balik kain beludru hitam yang berbau debu dan pengap itu, menggunakan sapu lidinya untuk menarik keluar sisa-sisa botol air mineral plastik dan tisu yang sengaja dilempar ke bawah oleh kru selama acara berlangsung.
Di dalam kolong panggung ini, hawanya terasa jauh lebih dingin. Sangat sunyi. Dan luar biasa temaram.
Maya menekan ujung sapunya ke sudut paling dalam, menyapu area di antara pilar penyangga besi dan dinding partisi panggung bagian dalam yang tersembunyi jauh dari pandangan luar.
Saat ia sedang mengayunkan sapunya di sudut kegelapan tersebut… ujung gagang sapunya membentur sesuatu.
Tuk.
Bunyinya pelan. Sedikit teredam, dan padat. Bunyi itu sama sekali tidak terdengar seperti bunyi sapu membentur botol plastik kosong atau gelas kaca. Itu adalah bunyi benturan benda padat yang cukup berat.
Gerakan tangan Maya terhenti seketika.
Ia memicingkan matanya di balik lensa kacamata tebalnya, mencoba menembus pekatnya kegelapan di kolong panggung itu.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang terselip sangat rapi di sudut paling gelap. Seolah benda itu tidak sengaja terjatuh dari atas panggung melalui celah papan saat keributan acara berlangsung, atau mungkin… sengaja disembunyikan di sana oleh seseorang di bawah kelengahan panitia.
Maya meletakkan sapu lidinya di lantai marmer.
Dengan tangan kanannya yang masih terbalut sarung tangan karet basah dan kotor, ia memberanikan diri merangkak lebih dalam ke balik kain beludru hitam tersebut. Ia mendekati sumber benturan.
Rasa lelah yang meremukkan tulangnya mendadak menguap, digantikan oleh sebuah rasa penasaran yang aneh dan sangat kuat. Udara di dalam kolong itu mendadak terasa sedikit lebih pekat, seolah ada medan magnet tak kasat mata yang menarik tubuhnya untuk terus maju.
Tangan Maya terulur, meraba-raba lantai marmer dalam kegelapan.
Jari-jarinya menyentuh sesuatu.
Permukaan benda itu terasa luar biasa halus, sangat keras, dan memancarkan hawa yang sangat dingin, jauh lebih dingin dari suhu marmer di mal itu. Bentuknya berupa sebuah kotak kaku dengan tekstur matte yang terasa sangat asing di telapak tangannya.
Maya menarik napas perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya.
Dengan gerakan ekstra hati-hati, tangannya mencengkeram sisi kotak tersebut. Ia menarik benda yang cukup berat itu keluar dari balik bayang-bayang pilar besi penyangga.
Ia merangkak mundur, membawa benda itu keluar dari balik kain beludru hitam, membawanya ke bawah celah cahaya remang dari lampu koridor mal yang menyala.
Saat cahaya lampu menyinari benda di pangkuannya, mata rabun Maya melebar seketika. Napasnya membeku di kerongkongan, terpukau dan bingung melihat apa yang baru saja ia temukan di tengah lautan sampah tersebut.