Cahaya temaram dari lampu koridor lantai dasar nyaris tidak mampu menembus pekatnya kegelapan di bawah kolong panggung utama.
Di area sempit setinggi setengah meter itu, area yang dibatasi oleh juntaian kain beludru hitam yang berdebu, udara terasa mati. Tidak ada sirkulasi.
Bau debu karpet yang apek, serbuk kayu gergajian, dan sisa lem silikon pabrik mengendap menjadi satu. Menciptakan sebuah aroma pengap yang membuat tarikan napas Maya terasa berat dan menyiksa paru-paru.
Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, Maya tidak lagi peduli pada udara pengap tersebut.
Seluruh perhatiannya, seluruh detak jantungnya, dan seluruh sisa kewarasannya kini tersita pada sebuah benda yang baru saja ia tarik keluar dari sela-sela pilar besi penyangga panggung.
Tangan Maya yang terbalut sarung tangan karet kuning kotor bergetar pelan.
Ia merangkak sedikit lebih maju, membawa benda itu mendekat ke arah celah cahaya putih yang mengintip dari luar sela-sela kain beludru.
Itu adalah sebuah kotak.
Bukan kotak kardus biasa. Apalagi kemasan tipis kosmetik pasaran yang sering ia lihat terbuang di tong sampah toilet mal.
Kotak itu berbentuk persegi panjang yang cukup tebal. Begitu tebal dan kokoh hingga memancarkan aura kemewahan yang sangat pekat, membuat Maya secara instingtif menahan napasnya.
Permukaannya berwarna hitam kelam. Namun, itu bukan warna hitam biasa.
Warna hitamnya terlihat matte, seolah material itu menyerap semua partikel cahaya di sekitarnya. Dan ketika Maya memiringkannya sedikit di bawah sorot cahaya redup, muncul sebuah sentuhan kilau iridescent. Sebuah gradasi warna-warni tipis yang bergerak-gerak, persis seperti tumpahan minyak mesin di atas genangan air jalanan.
Anehnya, tidak ada tulisan merek.
Tidak ada logo Lumière Merveille yang besar, norak, dan berwarna emas seperti yang terpampang di layar LED raksasa di atas panggung tadi. Bahkan, kotak ini sama sekali tidak memiliki deretan huruf yang bisa dibaca.
Satu-satunya identitas pada kotak itu hanyalah sebuah emblem kecil yang terbuat dari logam berwarna perak gelap.
Emblem itu tertanam presisi di tengah-tengah tutupnya. Ukirannya sangat rumit, meliuk-liuk dengan bentuk yang tidak lazim. Menyerupai akar pohon tua yang saling melilit dengan kuat, atau mungkin… susunan pembuluh darah yang memompa jantung.
Satu hal yang paling mengganggu pikiran Maya saat memegang kotak itu adalah suhunya.
Kotak itu terasa sangat dingin.
Sebuah dingin yang sepenuhnya tidak wajar. Suhu di kolong panggung ini memang lebih sejuk karena tersembunyi dari lampu sorot yang panas, tapi dingin dari kotak ini terasa sangat berbeda.
Dinginnya seolah memiliki nyawa. Dingin itu menggigit menembus lapisan tebal sarung tangan karet Maya, merambat masuk ke pori-pori kulitnya, membekukan aliran darah di telapak tangannya, dan menyisakan sensasi aneh yang membuat seluruh bulu kuduk di lengannya meremang serempak.
Barang siapa ini? batin Maya menjerit. Matanya tak berkedip menatap kotak misterius itu.
Apakah ini milik salah satu tamu VVIP tadi? Atau milik artis ganteng yang tadi tampil di panggung?
Akal sehat Maya yang terbiasa menganalisis keadaan langsung bekerja.
Ia menoleh ke arah titik di mana ia menemukan kotak itu. Posisinya sangat tersembunyi di sudut paling dalam, tepat di balik pilar penyangga bawah yang tertutup rangka baja.
Rasanya sangat tidak mungkin kotak ini tidak sengaja terjatuh dari atas panggung. Celah lantai panggung di atasnya terbuat dari lembaran papan mahoni yang dipasang sangat rapat. Tidak ada lubang sebesar kotak ini yang bisa membuatnya merosot ke bawah.
Benda ini seolah-olah… sengaja ditinggalkan di sana.
Atau mungkin, sengaja disembunyikan oleh seseorang yang memiliki akses tak terbatas di tengah hiruk-pikuk persiapan acara yang gila-gilaan tadi.
Sebuah dorongan rasa penasaran yang luar biasa kuat perlahan-lahan mulai meracuni otaknya. Mengalahkan rasa takutnya. Mengalahkan rasa lelah di tulang punggungnya.
Dengan gerakan pelan dan ragu-ragu, Maya melepas sarung tangan karet di tangan kanannya yang kotor.
Ia membuang sarung tangan itu ke lantai berdebu. Ia tidak ingin menodai barang yang terlihat sangat suci dan mahal ini dengan kotoran mal.
Menggunakan jari-jarinya yang telanjang, jari yang kasar dan dipenuhi kapalan akibat memeras kain pel bertahun-tahun, ia meraba sisi samping kotak tersebut. Ia mencari celah, sebuah engsel, atau tombol untuk membukanya.
Ia menemukan sebuah garis tipis di bagian tepinya. Ada sebuah segel magnetik yang dirancang dengan sangat presisi.
Saat jemari Maya menarik garis itu dengan tarikan yang sangat pelan, segel tersebut terbuka.
Klik.
Suara mekanisme magnet itu terdengar sangat halus namun memuaskan telinga. Disusul oleh sebuah suara desisan yang teramat pelan.
Ssssshhh…
Suara itu terdengar seperti udara vakum yang akhirnya terlepas dari dalam sebuah ruang kedap udara yang telah disegel selama puluhan tahun.
Aroma pertama yang menguar keluar dari dalam kotak itu membuat dahi Maya berkerut bingung.
Itu bukanlah wangi bunga mawar atau melati yang menyengat seperti parfum jutaan rupiah milik Tante Sisca. Bukan pula aroma stroberi sintetis seperti sabun cuci tangan yang sengaja ditumpahkan Sari siang tadi.
Aromanya sangat tipis. Nyaris tak tercium jika tidak dihirup dalam-dalam.
Aroma itu menyerupai wangi tanah basah setelah hujan pertama turun di tengah musim kemarau yang panjang. Sangat natural, menenangkan, namun di saat yang sama… bercampur dengan aroma sesuatu yang luar biasa steril. Seperti bau ruang operasi medis yang dingin dan tanpa emosi.
Celah cahaya remang dari lampu koridor luar kini perlahan menerangi isi dari kotak misterius tersebut.
Jantung Maya berdegup satu ketukan jauh lebih cepat. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan.
Di dalam kotak itu, tertanam dengan sangat rapi dan presisi di atas bantalan beludru hitam yang tebal, terdapat tiga buah wadah.
Satu buah botol kaca memanjang yang sepertinya berisi cairan serum. Dan dua buah jar berbentuk bulat pipih berbahan kaca tebal yang buram (frosted glass).
Sama seperti bagian luar kotaknya, ketiga wadah itu sama sekali tidak memiliki label kertas. Tidak ada komposisi bahan. Tidak ada cara pakai. Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Sangat bersih. Minimalis. Luar biasa elegan. Hanya ada satu ukiran perak kecil yang identik dengan logo di depan kotak, terpatri abadi di setiap tutup logam wadah tersebut.
Tangan Maya yang gemetar perlahan terulur. Ia menyentuh salah satu jar kaca berbentuk bulat itu.
Berat. Wadah itu jauh lebih berat dari kelihatannya. Di balik kaca buramnya, mata rabun Maya masih bisa melihat isinya dengan cukup jelas. Terdapat sebuah krim atau gel kental berwarna putih mutiara di dalamnya.
Namun, ada satu anomali yang membuat otak Maya berhenti memproses logika fisika.
Meski Maya sama sekali tidak menggerakkan atau mengguncang jar tersebut, cairan gel kental di dalamnya seolah memiliki pendaran cahayanya sendiri. Gel itu bergerak sangat lambat, memutar dirinya sendiri dari dalam, memancarkan sebuah kilau mutiara halus yang membius dan menghipnotis tatapan mata Maya.
Melihat ukurannya yang cukup besar, sekitar seratus mililiter per wadahnya, isi ketiga produk ini tampak lebih dari cukup untuk digunakan selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun.
Pikiran matematis Maya yang selalu terbiasa menghitung sisa recehan uang di dompetnya mulai bekerja liar.
Jika produk Lumière Merveille yang hanya berupa sebotol kecil saja dibanderol dengan harga lima puluh juta rupiah seperti yang digosipkan ibu-ibu sosialita saat itu… lalu berapa harga untuk tiga produk tanpa merek yang secara visual terlihat sepuluh kali lipat jauh lebih premium dan eksklusif ini?
Seratus juta? Lima ratus juta? Miliaran?
Angka-angka raksasa itu meledak di dalam kepala Maya bak kembang api di malam tahun baru.
Tangannya seketika bergetar sangat hebat hingga ia nyaris menjatuhkan kotak berat itu kembali ke tanah berdebu. Ia buru-buru menarik tangannya, menempelkan kotak itu erat-erat ke dadanya. Napasnya memburu tak terkendali.
Pikirannya melesat cepat menembus waktu. Terdorong ke memori malam lalu.
Ia kembali berdiri di lorong klinik yang berbau karbol menyengat itu. Ia kembali melihat wajah ibunya yang seputih kertas, terbaring kaku dengan noda darah segar mengering di sudut bibirnya. Ia mendengar kembali vonis dari dokter muda yang kelelahan itu.
Kondisi ibu Anda sudah kritis. Dua puluh juta untuk biaya deposit masuk ICU. Belum termasuk biaya operasi pembersihan paru-paru.
Sebuah harapan yang gelap dan beracun merayap naik dari lambungnya menuju ke otaknya.
Jika aku menjual barang ini… batin Maya menjerit liar. Jika aku bisa menemukan tempat di mana orang-orang kaya bodoh itu mau membuang uang mereka untuk barang langka seperti ini…
Ia memejamkan matanya, membayangkan skenario yang selama ini hanya berani ia impikan dalam tidurnya.
Ia tidak hanya bisa mengumpulkan dua puluh juta rupiah. Ia bisa menyelamatkan nyawa ibunya malam ini juga. Ia bisa menyewa ambulans terbaik. Ia bisa memindahkan ibunya ke kamar VIP. Dan lebih dari itu, ia bisa membawa ibunya pergi selamanya dari kontrakan kumuh yang atapnya selalu bocor bagai neraka itu.
Ia tidak perlu lagi mengemis uang pinjaman pada Pak Agus atau bude ningsih. Ia tidak perlu lagi menelan ludah dan air mata melihat Bu Ratna memukulnya dengan clipboard. Ia tidak perlu lagi bersujud di depan Tante Sisca. Ia akan merdeka.
Sebuah kesempatan emas, mungkin satu-satunya kesempatan yang akan pernah ia miliki seumur hidupnya baru saja jatuh dari langit, mendarat tepat di atas pangkuannya.
Di tempat yang paling gelap, terasing dari mata dunia, di saat ia merasa dunianya sudah benar-benar kiamat dan mencapai titik nadir. Bukankah ini yang sering diceramahkan ustaz di televisi? Bukankah ini yang dinamakan keajaiban? Bukankah Tuhan akhirnya menjawab ribuan doa yang selalu ia rapalkan sambil menangis berdarah-darah setiap malam?
Maya menatap kotak itu lagi. Matanya berkaca-kaca oleh air mata harapan. Ia merapatkan pelukannya pada benda bersuhu beku tersebut.
Namun, di detik berikutnya, saat tangannya nyaris memutuskan untuk menutup kotak itu dan membawanya lari…
Sebuah suara bergaung dari ruang ingatannya yang paling dalam dan paling suci. Suara yang hangat, berat, dan penuh wibawa. Suara seorang pria yang dulu selalu menggendongnya saat hujan turun.
Almarhum ayahnya.
“Maya, Nduk… dengerin Bapak ya,” suara ayahnya terngiang sangat jelas di telinganya, membawa kembali memori saat mereka duduk berdua di teras rumah yang bocor belasan tahun lalu.
“Seberat apa pun hidup kita nanti, semiskin apa pun kita… jangan pernah sekalipun tanganmu itu mengambil barang yang bukan milikmu.”
Di dalam ingatannya, ayahnya mengusap kepala Maya kecil dengan tangan yang sama kasarnya dengan tangannya sekarang.
“Harta haram itu nggak pernah bawa berkah, May. Cuma bakal jadi bara api yang pelan-pelan membakar perutmu dan keluargamu dari dalam. Biar kita miskin harta, Nduk. Asal jangan sampai kita miskin harga diri.”
Genggaman Maya pada kotak mewah itu perlahan mengendur.
Air matanya menetes, jatuh tepat mengenai permukaan logam logo yang meliuk-liuk seperti akar tersebut.
Hatinya yang tadinya membumbung tinggi, kini kembali terbanting ke dasar jurang. Fakta yang tak bisa ia sangkal menampar nuraninya.
Ini adalah sebuah pencurian.
Tidak peduli seberapa mahal barang ini. Tidak peduli seberapa putus asa kondisi ibunya yang sedang terbatuk darah di rumah. Mengambil barang yang tertinggal, terlebih barang yang nilainya mungkin melampaui harga nyawanya sendiri adalah sebuah tindakan kriminal absolut.
Jika ia ketahuan mencuri barang sekecil peniti saja, ia akan dipecat. Apalagi jika ia mencuri barang bernilai fantastis ini? Ia tidak hanya akan dipecat. Ia akan diseret, dipukuli, dan dijebloskan ke dalam sel penjara yang dingin.
Lalu, jika ia dipenjara, siapa yang akan merawat ibunya?
Ibunya tidak akan bisa bertahan seminggu tanpa dirinya. Ibunya akan mati sendirian dalam kehinaan, menyandang status terakhir sebagai ibu dari seorang narapidana pencuri kosmetik.
Lagipula, sisi rasional Maya kembali berbisik kejam.
Siapa di dunia ini yang akan percaya jika seorang cleaning service berwajah dekil, dengan kacamata dililit selotip, mencoba menawarkan dan menjual kosmetik super mewah tak bermerek ini?
Toko mana yang mau menampungnya? Mereka pasti akan langsung menuduhnya sebagai pencuri dan memanggil polisi di tempat.
Membawanya ke pasar gelap? Ia bahkan tidak tahu di mana jalan menuju pasar gelap itu. Menawarkannya secara langsung ke sosialita gila hormat seperti Tante Sisca? Itu sama saja dengan menyerahkan lehernya sendiri ke tiang gantungan. Ia tidak akan mendapat uang, ia hanya akan mendapat borgol.
Maya menutup kembali tutup kotak magnetik itu dengan tangan yang bergetar parah.
Hatinya hancur berkeping-keping. Surga yang sempat mampir di kepalanya selama lima belas detik, kini lenyap tanpa bekas.
Ia harus menyerahkan barang ini. Ia harus.
Ia akan menyerahkannya pada Mandor Joko yang sedang berjaga di luar. Atau ia akan membawanya ke bagian Lost and Found (Barang Hilang) di meja sekuriti depan.
Mungkin, batin Maya mencoba mencari hiburan sisa-sisa. Mungkin, kalau aku menyerahkan barang semahal ini, manajemen mal atau pemilik aslinya akan memberiku sedikit hadiah uang sebagai bentuk terima kasih karena kejujuranku. Uang seratus… atau mungkin dua ratus ribu rupiah. Cukup untuk membeli beras dan tambahan lauk untuk Ibu satu minggu ke depan.
Ya. Itu adalah jalan yang benar. Itu adalah keputusan yang logis. Itu adalah tindakan seorang anak yang berbakti dan bermoral tinggi seperti yang diajarkan ayahnya.
Maya meletakkan kotak itu kembali ke atas karpet berdebu di depannya. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk merangkak mundur keluar dari kolong panggung dan melaporkan temuannya.
Tetapi… sebelum lututnya sempat bergerak mundur satu sentimeter pun…
Sebuah visualisasi lain datang menyergap benaknya tanpa ampun. Mematahkan memori tentang ayahnya. Menghancurkan moralitasnya.
Ia kembali melihat senyum Sari yang menawan namun memuakkan beberapa jam lalu. Senyum merendahkan saat wanita itu menendang pengkinya dan menyuruhnya menyingkir karena ia “mengganggu pemandangan”.
Ia mendengar kembali tawa melengking Icha yang menertawakan kemiskinannya.
Ia mengingat tatapan jijik luar biasa dari Tante Sisca saat air pelnya tak sengaja menciprat ke tas Hermès-nya.
Dan yang paling menyakitkan, ia mengingat wajah beringas Bu Ratna yang menampar pipinya, memvonisnya dengan hukuman potong gaji hanya karena kesalahan kecil yang ia lakukan.
Dunia tidak pernah bermain adil padanya.
Orang-orang kaya dan cantik itu bisa berbuat sesuka hati, menginjak harga dirinya, tanpa pernah memikirkan karma. Dunia tidak peduli pada kejujurannya. Dunia tidak peduli pada moralitasnya yang tinggi.
Dunia ini hanya memuja mereka yang cantik. Memuja mereka yang wajahnya mulus tanpa cacat. Memuja mereka yang pakaiannya wangi, dan menunduk pada mereka yang punya kuasa. Orang-orang baik dan jujur namun miskin fisik seperti Maya… hanya akan berakhir menjadi keset lantai yang diinjak sampai hancur berkeping-keping.
Maya menatap kembali ke arah kotak hitam misterius yang tergeletak pasrah di depannya.
Bagaimana jika… Pikiran liar yang sangat berbahaya, sangat gelap, dan memabukkan, perlahan-lahan mulai menyelinap masuk melalui celah keputusasaannya yang paling rapuh.
Bagaimana jika aku tidak menjualnya?
Mata Maya terpaku pada emblem perak di atas kotak tersebut. Jantungnya berdebar dengan ritme yang melampaui batas kewajaran, memompa adrenalin yang membuat sekujur tubuhnya memanas.
Bagaimana jika… aku memakainya?
Bagaimana jika barang ini bisa mengubahku? Sebuah godaan yang luar biasa kelam, jauh lebih memikat dan menjanjikan daripada sekadar mendapatkan tumpukan uang kertas, mulai menyelimuti seluruh akal sehatnya.
Logikanya mulai merajut asumsi sinting. Jika sebotol kecil produk komersial Lumière Merveille seharga lima puluh juta saja bisa mengembalikan kemudaan dan mengencangkan kulit, apa yang bisa dilakukan oleh tiga botol produk misterius sekelas “Sampel Murni” ini?
Apakah produk tanpa nama ini bisa memperbaiki kulit wajahnya yang kusam dan gelap bagai aspal?
Apakah formula ajaib ini bisa menghilangkan kerutan di sudut bibirnya yang membuatnya selalu terlihat jauh lebih tua dari usianya?
Apakah produk ini… bisa membuat wajahnya berubah menjadi sesuatu yang akan membuat Sari berhenti menghinanya?
Apakah ini bisa membuat dunia memandang seorang Maya sebagai entitas manusia yang utuh, yang layak dihormati, dan bukan lagi dipandang sebagai kecoak menjijikkan yang pantas diusir dan dimaki?
Tangannya yang gemetar, yang tak lagi memakai sarung tangan karet pelindung itu, bergerak maju perlahan. Seolah tangan itu memiliki kesadarannya sendiri, bergerak di luar kendali otaknya yang tersiksa.
Ia kembali menyentuh permukaan kotak yang dingin itu. Rasa dinginnya kali ini tidak lagi terasa mengancam jiwanya. Rasa dingin itu kini terasa seperti sebuah sentuhan janji.
Janji akan sebuah kelahiran kembali. Janji akan sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua yang tidak akan pernah datang dua kali seumur hidupnya yang menyedihkan.
Jika kotak ini adalah milik seorang artis ibukota, artis itu pasti sudah sangat kaya raya dan punya ribuan stok kosmetik mahal lainnya. Kehilangan satu kotak ini tidak akan membuat mereka jatuh miskin dan kelaparan.
Tapi bagi Maya, kotak ini adalah tiket VVIP untuk memanjat keluar dari neraka bawah tanahnya.
Perang batin antara sisa-sisa moralitas dan dendam di dalam dada Maya mencapai puncaknya yang mendidih. Napasnya memburu cepat, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga mengecap rasa anyir darah segar dari sariawannya.
Rasa bersalah berteriak-teriak di telinganya, berusaha mengingatkan wajah almarhum ayahnya. Namun, rasa sakit hati akibat tertindas, dihina, dan dianggap sampah selama bertahun-tahun di gedung ini meraung jauh lebih keras, membungkam segala kebaikan.
Dengan gerakan cepat dan penuh determinasi, sebuah keputusan impulsif yang lahir murni dari tumpukan luka dan keputusasaan, Maya meraup kotak berat itu dari lantai.
Ia mendekap benda dingin itu erat-erat ke dadanya.
Ia memutuskan.
Persetan dengan moralitas. Persetan dengan kejujuran. Persetan dengan aturan dunia yang hanya menguntungkan orang kaya.
Malam ini, ia memilih menjadi egois. Malam ini, ia akan mencuri hak istimewa para dewa. Malam ini, ia akan membawa kotak keajaiban ini pulang bersamanya ke neraka.
Saat ia sedang sibuk melirik ke kanan dan kiri di dalam kegelapan kolong panggung, mencari akal bagaimana cara menyembunyikan kotak besar nan berat ini di balik seragam birunya yang ketat—
Puk!
Sebuah tepukan yang cukup keras dan mantap mendadak mendarat tepat di bahu kanannya dari arah belakang.
”May!”
Tubuh Maya tersentak luar biasa hebat, melompat di tempat seolah punggungnya baru saja disengat aliran listrik bertegangan sepuluh ribu volt.
Jantungnya nyaris melompat keluar membelah kerongkongannya. Darahnya seketika membeku menjadi es. Matanya membelalak tak berkedip.
Saking kagetnya yang melumpuhkan akal, Maya hampir menjerit keras dan menjatuhkan kotak di tangannya. Namun, insting bertahan hidup pencuri amatirnya bekerja jauh lebih cepat dari pita suaranya.
Dalam sepersekian detik yang dilingkupi kepanikan buta, Maya memutar tubuhnya dengan kasar. Ia menjejalkan kotak hitam nan berat itu ke arah belakang punggungnya. Ia merapatkan punggungnya ke pilar besi, menyembunyikan benda curian itu sepenuhnya di bawah lipatan kain celemek birunya yang sedikit kedodoran.
Napas Maya memburu dengan sangat liar, tak beraturan. Dadanya naik turun dengan cepat. Matanya terbelalak ngeri menatap tembus di balik lensa kacamatanya yang berdebu.
Ia mendongak, bersiap menghadapi wajah garang Mandor Joko, satpam yang marah, atau bahkan Bu Ratna yang akan langsung mencengkeram kerahnya dan menyeretnya ke kantor polisi malam ini juga.
Namun… di bawah remangnya sisa cahaya koridor yang menerobos masuk menembus kain beludru ke kolong panggung itu, yang ia lihat bukanlah wajah penuh amarah dari aparat mal.
Melainkan seraut wajah bulat dengan pipi tembam yang sedang tersenyum cengengesan, memamerkan deretan giginya. Meski wajah itu tersenyum, napas gadis itu juga tampak tersengal-sengal kelelahan.
”Rani?!” desis Maya.
Suaranya tercekat di ujung tenggorokan, nyaris tak terdengar, perpaduan antara kelegaan yang ekstrem dan serangan jantung yang nyaris merenggut nyawanya.
Rani, sahabatnya yang paling polos itu, sedang merangkak masuk dengan susah payah ke bawah kain beludru hitam. Ia bermanuver di antara tiang besi dan akhirnya berhasil mensejajarkan posisinya di sebelah Maya.
Seragam biru Rani terlihat sangat berantakan. Kancing teratasnya terbuka, dan rambut jepitan stroberinya sedikit miring karena menyangkut debu.
Gadis polos itu langsung meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat dengan panik agar Maya tidak bersuara terlalu keras.
”Sssshh! Pelan-pelan suaranya, May,” bisik Rani dengan nada yang dipenuhi kegirangan. Matanya berbinar-binar persis seperti anak kecil yang baru saja berhasil memenangkan permainan petak umpet tersulit.
”Aku berhasil balik lagi ke sini!” lanjut Rani dengan suara berbisik yang menggebu-gebu. “Sumpah ya, tadi aku beneran nekat sembunyi jongkok di dalam loker ruang ganti basement selama nyaris dua jam penuh, May! Gila, sumpek dan bau kapur barus banget tahu nggak?! Mana ada kecoa lewat depan kakiku, sampai aku sapa tuh kecoa saking bosennya nungguin Bu Ratna pergi.”
Rani menarik napas, wajahnya memancarkan kebanggaan atas misinya.
”Terus, pas aku ngintip monitor CCTV koridor dari celah pintu loker, aku lihat Bu Ratna udah jalan keluar naik taksi. Yaudah, aku langsung lari naik tangga darurat sampai lantai dasar sini buat nepatin janjiku bantuin kamu.”
Maya menelan ludah. Keringat dingin mengucur sangat deras menuruni punggungnya, membasahi kain celemek dan kemejanya yang sedang menutupi kotak kaku bersuhu dingin tersebut.
”K-kamu… kamu nekat banget, Ran,” tegur Maya, suaranya masih bergetar parah, efek terkejutnya belum reda. “K-kalau tadi pas naik tangga kamu ketahuan Mandor Joko gimana? Kamu bisa diskors tiga hari besok tanpa gaji, lho.”
”Ah, tenang aja! Aman terkendali!” jawab Rani dengan nada kelewat enteng, mengibaskan tangannya menyepelekan bahaya. Ia sama sekali tidak menyadari betapa kacaunya raut wajah dan bahasa tubuh Maya saat ini. “Mandor Joko tadi lagi sibuk banget di luar. Dia lagi neriakin orang-orang sound system yang lagi mindahin speaker gede di pintu keluar belakang. Di area depan panggung ini kosong melompong nggak ada yang jaga. Makanya aku bisa merangkak nyusup ke sini.”
Rani memicingkan matanya. Ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan kegelapan di dalam kolong panggung yang berdebu itu.
Ia memiringkan kepalanya, menatap postur tubuh Maya yang sangat kaku dan tidak natural. Maya sedang duduk bersimpuh dengan posisi tubuh sedikit condong ke belakang. Kedua tangannya disembunyikan rapat-rapat di balik punggungnya, menempel ke pilar, seolah gadis itu sedang menyembunyikan sebuah bom waktu berskala besar.
”May, kamu kenapa sih?” tanya Rani. Dahi halusnya berkerut bingung. Matanya menyusuri wajah sahabatnya. “Muka kamu pucat banget lho, May. Pucat banget kayak abis lihat hantu beranak. Terus… kamu lagi ngapain jongkok gelap-gelapan di sudut kolong begini? Sapu lidimu malah ditinggal tergeletak di luar kain sana.”
Rentetan pertanyaan polos tanpa dosa dari Rani itu bagaikan tembakan peluru senapan mesin yang memberondong dada Maya tanpa ampun.
Maya tidak pernah berbohong pada Rani dalam hal apa pun. Selama ini, Rani adalah satu-satunya tempatnya berbagi keluh kesah, berbagi tangis, dan berbagi secuil kebahagiaan di mal ini.
Tapi malam ini berbeda. Situasinya menyangkut kebebasan dan jeruji besi.
Jika ia memperlihatkan kotak mewah ini pada Rani, sahabatnya yang memiliki moral lurus, penakut, dan sangat patuh pada aturan itu pasti akan langsung memaksanya untuk melaporkannya ke meja pos keamanan. Atau yang lebih buruk lagi skenarionya, Rani akan sangat ketakutan melihat barang semahal itu dan tidak sengaja membeberkannya pada staf lain saat panik.
Maya harus melindunginya. Ia harus melindungi rencana rahasia ini, dan melindungi Rani dari keterlibatan pencurian ini. Meskipun itu berarti ia harus membohongi satu-satunya orang yang secara tulus peduli padanya di dunia ini.
”A-aku… uhuk!”
Maya sengaja memalsukan batuk kecil untuk mengulur waktu sepersekian detik dan menjernihkan suaranya yang gemetar. Ia memaksa otot wajahnya yang tegang untuk sedikit rileks, mencoba memasang ekspresi senormal mungkin.
”A-aku lagi nyari kalungku, Ran,” jawab Maya dengan nada terburu-buru. “Iya, kalungku hilang. Kayaknya tadi pas aku nunduk nyapu-nyapu di bawah sini, kalung rantai perakku yang ada bandul salib kecilnya itu nggak sengaja putus terus jatuh… atau mungkin nyangkut di pilar ini.”
Itu adalah kebohongan yang sangat buruk dan bodoh. Rani bahkan tahu bahwa agama Maya adalah Islam, ia tidak memiliki kalung salib. Dan yang paling fatal, Maya bahkan tidak pernah sanggup membeli kalung perhiasan apa pun seumur hidupnya.
Namun Rani, dengan segala kapasitas kepolosannya yang luar biasa lambat memproses logika, justru langsung melebarkan mata dengan penuh simpati tanpa memedulikan detail ganjil tersebut.
”Hah? Kalung kamu jatuh? Ya ampun, kok bisa sampai putus sih, May! Padahal kan itu pasti barang berharga banget buat kamu,” pekik Rani tertahan, wajahnya menyiratkan kepanikan yang suportif.
Tanpa banyak basa-basi atau bertanya lebih jauh, Rani langsung merangkak maju menyapu lantai. Tangannya mulai meraba-raba lantai karpet berdebu di sekitar pilar tempat Maya duduk.
”Yaudah, ayo aku bantuin cari sekarang! Tadi jatuhnya di sebelah mana jatuhnya? Gelap banget sih di sini ampun deh, nggak kelihatan apa-apa. Coba aku nyalain senter HP-ku bentar biar terang—”
Rani mulai merogoh saku celananya, berniat mengeluarkan ponselnya.
”Eh, jangan! Nggak usah dinyalain senternya!”
Maya berseru, suaranya sedikit terlalu keras dan panik, memotong ucapan Rani seketika.
Menyadari ia berteriak, Maya buru-buru menarik salah satu tangan kanannya dari belakang punggung. Ia membiarkan satu tangan kirinya yang gemetar bekerja ekstra keras untuk menahan beban kotak misterius yang berat itu sendirian di bawah lipatan celemeknya.
Tangan kanan Maya mencengkeram lengan Rani dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat, menghentikan tangan sahabatnya yang hendak menarik ponsel keluar dari saku.
”K-kenapa, May? Kenapa nggak boleh?” Rani menatap Maya dengan raut terkejut dan bingung atas respons agresif tersebut.
”U-udah ketemu kok, Ran. Barusan banget aku pegang di balik pilar ini,” kilah Maya cepat, merutuki kebodohan dan kepanikannya sendiri di dalam hati yang nyaris membongkar kedoknya.
Ia menarik tangannya yang kotor. Menggunakan sisa kemampuan aktingnya, ia menjejalkan tangan kanannya yang masih terbalut debu itu ke dalam saku celananya, berpura-pura sedang memasukkan seutas kalung berharga ke dalam sana dengan aman.
”Iya, udah ketemu dan udah aku amanin di saku. Syukurlah nggak hilang,” ucap Maya memaksakan sebuah senyuman tipis.
Rani menghentikan gerakannya. Gadis tembam itu menghela napas lega yang sangat panjang, memegangi dadanya.
”Huft… syukurlah kalau udah ketemu, May. Bikin jantungan aja kamu. Kupikir bakal ilang beneran di lautan debu ini,” gerutu Rani dengan senyum tulus.
”Yaudah yuk, kita keluar aja dari kolong sempit ini. Bau apek banget sumpah, debunya tebel banget bikin hidungku gatal mau bersin terus,” ajak Rani, mulai bergerak mundur.
”Iya, ayo kita keluar,” jawab Maya setuju.
Rani mulai merangkak mundur perlahan terlebih dahulu. Ia menyibakkan kain beludru hitam yang menjuntai itu dan kembali menginjakkan kakinya ke area lantai marmer atrium yang lebih terang dan lapang.
Maya menyusul di belakangnya dengan sangat, sangat hati-hati.
Ia tidak merangkak maju seperti biasa. Ia bergerak menyamping, memastikan punggung dan celemeknya tetap membelakangi arah pandangan Rani.
Dengan kecepatan luar biasa yang didorong oleh suntikan adrenalin pencuri yang sedang terdesak, saat Rani sedang berdiri membelakanginya untuk membersihkan lutut celananya, Maya menarik kotak berat itu dari balik celemeknya.
Dalam satu gerakan mulus dan tanpa suara, ia memasukkan kotak misterius nan dingin itu, menyelipkannya ke dasar kantong plastik sampah hitam ukuran besar yang selalu terikat di samping troli kuningnya.
Ia segera menutupi bagian atas kotak itu rapat-rapat dengan serpihan kertas confetti sisa panggung, botol air mineral kosong, dan gumpalan kertas brosur bekas. Menguburnya dengan sempurna di bawah lautan sampah agar tidak mencolok.
Gerakannya begitu gesit. Sebuah keahlian bertahan hidup dan kamuflase yang mendadak bangkit di saat terdesak.
Ketika Rani berbalik menghadap ke arahnya selesai membersihkan debu, Maya sudah kembali berdiri tegak, memegang gagang sapu lidinya di depan troli, seolah ia baru saja merapikan alat kerjanya dan tidak pernah terjadi apa-apa.
Jantung Maya masih berdegup liar seperti akan meledak, namun ia berhasil menata ekspresi wajahnya, memaksakan sebuah senyum tipis yang hangat untuk menyapa sahabatnya.
”Makasih banyak ya, Ran. Kamu bener-bener berani banget nekat balik lagi ke sini demi ngebantuin aku nyapu,” ucap Maya. Dan kali ini, di balik semua kebohongannya, kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar terasa sangat tulus. Ia merasa sangat bersalah telah membohongi dan memanfaatkan kepolosan gadis berhati emas ini.
”Santai aja kali, May. Kayak sama siapa aja pakai makasih segala. Kita kan saling bantu,” Rani tersenyum lebar, menepuk pundak Maya dengan akrab.
Gadis itu lalu menunduk, memungut kain pelnya sendiri yang tadi ia bawa dari area lantai atas.
”Ayo ah, kita beresin sisa sampah kertas confetti di depan panggung itu cepat-cepat. Makin diliat makin kayak lautan kertas aja,” ajak Rani bersemangat. “Biar kita bisa buruan pulang sebelum Mandor Joko keliling ngecek kebersihan. Aku udah ngantuk banget ini.”
”Ayo,” angguk Maya.
Malam itu, mereka berdua bekerja berdampingan dalam diam selama tiga puluh menit berikutnya.
Rani sesekali bersenandung pelan menyanyikan lagu dangdut kesukaannya, mengayunkan kain pel basahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, menyikat sisa-sisa kotoran yang menempel di marmer.
Sementara itu, Maya sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
Setiap kali ia mengayunkan sapunya, matanya terus mencuri pandang dengan gelisah ke arah kantong plastik hitam besar yang menggantung di sisi trolinya.
Benda yang terkubur di dasar tumpukan sampah dalam plastik itu seolah memiliki medan gravitasinya sendiri. Menarik seluruh atensi dan pikirannya tanpa jeda. Rasa berat dari kotak eksklusif itu seolah menular ke seluruh saraf tubuhnya, membuatnya merasa sedang memikul sebuah dosa yang sangat mematikan di punggungnya.
Pukul setengah satu pagi.
Pekerjaan membersihkan atrium utama akhirnya selesai dengan sempurna. Lantai marmer kembali mengkilap, dan panggung akrilik hitam itu telah terbebas dari segala noda.
Setelah lolos dari pengecekan singkat Mandor Joko yang berdiri menguap di depan panggung dengan mata setengah mengantuk, Maya dan Rani akhirnya diizinkan pulang.
Mereka berdua menenteng tas masing-masing, berjalan keluar melalui pintu area bongkar muat basement yang telah dibuka sebagian.
Karena tidak ada lagi angkutan umum atau bus yang beroperasi di jalur lambat Sudirman pada jam selarut ini, mereka terpaksa berjalan kaki menyusuri trotoar berdebu sejauh satu kilometer menuju perempatan jalan raya utama, untuk mencari taksi malam atau ojek pangkalan yang biasanya mangkal di sana.
Sepanjang perjalanan pulang, di bawah temaram cahaya kuning lampu jalanan ibu kota yang mulai lengang, Maya tidak banyak bicara.
Ia memeluk tas ransel kanvasnya erat-erat di depan dadanya. Kotak misterius nan berat itu kini telah berpindah tempat. Bersemayam dengan aman di dalam tas tersebut, disembunyikan dalam balutan lipatan kaus ganti dan kemeja seragam kotornya.
Rani yang berjalan di sebelahnya masih terus berceloteh tanpa henti tentang betapa betis kakinya terasa mau putus, dan betapa ia ingin segera memakan mi instan kuah panas sesampainya di rumah nanti. Gadis polos itu sama sekali tidak menyadari perubahan drastis pada aura dan diamnya sahabat yang berjalan di sebelahnya.
Di dalam kepalanya, Maya sudah tidak lagi mendengarkan celotehan Rani tentang mi instan. Pendengarannya telah tuli dari urusan duniawi.
Otaknya dipenuhi oleh gemuruh antisipasi yang mendebarkan dan menakutkan.
Suhu dingin yang tidak wajar dari kotak yang tersimpan di dalam ranselnya itu seakan merembes keluar menembus lapisan kain kanvas tebal, menyentuh dan meresap ke kulit dadanya.
Sensasi dingin itu perlahan-lahan merayap naik menelusuri lehernya, membekukan sisa-sisa keraguannya akan moralitas, dan mulai membisikkan janji-janji kemewahan yang menanti untuk dieksekusi begitu ia tiba dan mengunci pintu kamarnya nanti.
Sebuah kesalahan absolut dan paling fatal baru saja dibuat oleh tangan kurus tersebut.
Dan Maya, dengan kesadaran penuh akan konsekuensinya, memeluk kesalahan itu erat-erat, membawanya melangkah semakin jauh menuju gerbang kehancuran yang tak akan pernah bisa ia tutup kembali.