SIMETRI BAB 1 ~ ​Pagi yang Sama

Tik… tik… tik…

​Suara tetesan air yang menghantam dasar ember plastik berwarna hijau kusam itu adalah melodi pertama yang menyambut kesadaran Maya.

​Hujan deras yang mengguyur ibu kota semalaman memang telah berhenti. Namun, sisa-sisa air masih mencari jalan turun melalui celah genteng asbes yang retak, tepat di atas area dapur kontrakannya yang sempit.

​Maya membuka matanya perlahan.

​Udara di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu terasa sangat pengap. Ruangan itu dipenuhi oleh aroma obat gosok yang menyengat, uap air yang lembap, dan bau apak dari dinding batako yang dipenuhi bercak jamur kehitaman.

​Gadis itu bangkit dari kasur busa tipisnya. Kasur itu tergelar langsung di atas lantai semen yang dingin, tanpa alas ranjang.

​Ia tidak meregangkan tubuhnya layaknya orang yang baru bangun tidur dengan nyenyak. Otot-otot bahu dan punggungnya terasa kaku. Tidur selama kurang dari empat jam di atas permukaan yang mengeras tidak pernah memberikan istirahat yang sebenarnya. Tidur, bagi Maya, hanyalah sebuah jeda singkat dari rasa lelah yang abadi.

​Di sebelahnya, di balik sebuah tirai kain bermotif bunga pudar yang membagi ruangan itu menjadi dua, terdengar sebuah suara yang membuat jantung Maya seketika berpacu.

​”Uhuk! Uhuk! Hooekk…”

​Suara batuk itu terdengar sangat berat, basah, dan menyayat hati. Seolah paru-paru orang yang mengeluarkannya sedang berusaha merobek jalan keluar dari dalam rongga dada.

​Maya seketika menyingkap selimut tipisnya yang sudah robek di bagian ujung.

​Ia merangkak dengan cepat melewati batas tirai tersebut, mengabaikan rasa dingin yang menusuk telapak kakinya yang telanjang.

​”Ibu? Ibu belum tidur dari tadi malam?”

​Suara Maya terdengar serak. Wajahnya dipenuhi kepanikan yang sudah menjadi rutinitas harian yang menakutkan.

​Di atas sebuah dipan kayu reot yang berderit setiap kali ada pergerakan, berbaring seorang wanita paruh baya. Tubuh wanita itu sangat kurus, nyaris hanya menyisakan kulit yang membalut tulang. Wajahnya pucat pasi, tulang pipinya menonjol kaku, dan napasnya terdengar berderik setiap kali ia menarik udara.

​Itu adalah ibu Maya. Satu-satunya keluarga yang tersisa. Satu-satunya alasan mengapa Maya masih menolak untuk menyerah pada dunia yang menolak keberadaannya.

​Sang ibu memegangi dadanya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia berusaha keras meredakan batuknya sebelum menjawab panggilan putrinya.

​”Sudah… uhuk… Ibu sudah tidur sebentar tadi, Nduk,” jawab ibunya.

​Suaranya sangat parau, nyaris terdengar seperti bisikan angin yang kehabisan tenaga. Wanita tua itu mencoba memaksakan sebuah senyuman, memamerkan kerutan-kerutan dalam di sudut matanya yang sayu.

​”Hujannya deras sekali semalam. Atapnya bocor lagi ya? Kamu kedinginan tidak tidurnya, Maya?”

​”Maya nggak kedinginan, Bu. Selimut Maya kan tebal,” dusta Maya dengan sangat lancar. Ia menelan ludah untuk menutupi rasa dingin yang masih menggigit sumsum tulangnya.

​Maya duduk di pinggiran dipan dengan hati-hati agar tidak membuat kayunya berderit terlalu keras.

​Ia meraih segelas air putih hangat dari atas meja kayu reyot di samping dipan. “Minum dulu, Bu. Biar tenggorokannya agak lega. Pelan-pelan saja.”

​Ibunya mengangguk pelan.

​Maya menyelipkan satu lengannya di belakang leher ibunya, membantu mengangkat tubuh yang terasa seringan kapas itu. Ia menempelkan pinggiran gelas kaca kusam itu ke bibir sang ibu yang kering dan pecah-pecah.

​Wanita tua itu meminumnya dengan tegukan-tegukan kecil. Air menetes sedikit dari sudut bibirnya, yang segera diusap lembut oleh Maya menggunakan ibu jarinya.

​Setelah meminum setengah gelas, ibunya kembali bersandar di tumpukan bantal kapuk yang sudah menipis dan kehilangan keempukannya. Matanya menatap nanar ke arah meja.

​”Obat Ibu… masih ada, Nduk?” tanya ibunya pelan, penuh kehati-hatian, seolah takut jawabannya akan menyakiti perasaan anaknya.

​Tangan Maya yang memegang gelas seketika membeku di udara.

​Ia melirik ke arah sebuah strip obat antibiotik yang tergeletak di atas meja. Di dalam strip aluminium foil yang sudah kusut itu, hanya tersisa satu butir kapsul berwarna merah kuning.

​Obat itu adalah resep dokter puskesmas yang harus diminum dua kali sehari untuk menekan infeksi parah di paru-paru ibunya. Satu butir berarti hanya cukup untuk pagi ini. Nanti malam, ibunya tidak akan memiliki penawar untuk batuknya.

​”Masih, Bu. Masih cukup buat hari ini,” Maya kembali berbohong.

​Ia memaksakan nada suaranya agar terdengar ceria dan tanpa beban, mengubur dalam-dalam rasa putus asa yang mencekik lehernya.

​”Nanti sore sepulang kerja dari mal, Maya mampir ke apotek depan gang buat beli lagi. Ibu nggak usah mikirin obat, ya. Pokoknya tugas Ibu cuma makan yang banyak dan istirahat biar cepat sembuh.”

​Sang ibu tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat.

​Tangan keriputnya yang dipenuhi bintik hitam terulur dengan gemetar. Ia mengusap pelan pipi Maya yang kering, kasar, dan tidak terawat. Sentuhan itu terasa sangat hangat, kontras dengan udara kontrakan yang membeku.

​”Maafkan Ibu ya, Maya,” rintih wanita tua itu.

​Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, membelah kerutan di pipinya yang cekung.

​”Gara-gara Ibu sakit-sakitan begini, kamu jadi harus kerja keras. Kamu harus jadi tukang bersih-bersih di mal… kamu dihina orang… kamu nggak bisa kuliah kayak teman-temanmu yang lain…”

​Napas ibunya tersengal, namun ia memaksa untuk melanjutkan.

​”Uang gajimu yang tidak seberapa itu habis cuma buat beli obat Ibu dan bayar sewa rumah rongsok ini. Ibu ini… Ibu ini cuma jadi beban buat kamu, Nduk. Andai saja Bapakmu masih hidup, kamu tidak perlu menderita begini.”

​Mendengar kata-kata yang menyayat hati itu, dada Maya terasa seperti dihantam oleh balok beton. Rasa nyeri yang luar biasa pekat mencengkeram ulu hatinya.

​”Ibu ngomong apa sih?!” Maya buru-buru meraih tangan ibunya yang berada di pipinya.

​Ia menggenggam tangan keriput itu erat-erat dengan kedua tangannya, lalu mencium punggung tangan ibunya dengan penuh takzim.

​”Ibu itu bukan beban! Jangan pernah ngomong begitu lagi!” suara Maya sedikit meninggi, didorong oleh kepanikan emosional. Ibu itu nyawa Maya. Kalau nggak ada Ibu, Maya mau hidup buat siapa lagi di dunia ini? Bapak udah nggak ada. Maya cuma punya Ibu.”

​Maya mengusap air mata ibunya dengan kelembutan yang sangat tulus.

​”Soal kerjaan… Maya ikhlas, Bu. Jadi cleaning service itu pekerjaan halal. Maya sama sekali nggak malu ngepel lantai. Biarin aja orang mau ngomong apa,” ucap Maya meyakinkan. “Nanti kalau tabungan Maya udah cukup, kita pasti bisa bawa Ibu ke dokter spesialis di rumah sakit besar. Ibu pasti sembuh.”

​Ibunya hanya bisa membalas dengan isakan pelan. Ia tak sanggup lagi mendebat optimisme palsu putrinya. Ia tahu Maya berbohong soal tabungan. Tidak ada tabungan. Yang ada hanyalah tumpukan bon utang di warung sembako.

​”Sudah, Ibu jangan nangis lagi. Nanti napasnya sesak,” bujuk Maya.

​Ia melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan. “Maya mau masak air dulu buat mandi. Sekalian manasin sisa nasi semalam buat sarapan kita ya, Bu.”

​Maya beringsut mundur dari dipan. Ia berjalan menuju area belakang yang difungsikan sebagai dapur darurat.

​Di sana, terdapat sebuah kompor gas satu tungku yang sudah berkarat parah. Di sebelahnya, ada meja beton kecil yang digunakan untuk menaruh piring dan bahan makanan seadanya.

​Maya mengambil panci aluminium yang pantatnya sudah menghitam karena jelaga. Ia mengisinya dengan air dari keran yang mengalir sangat kecil, lalu meletakkannya di atas kompor. Ia memutar kenop kompor.

Cetek… cetek…

​Api biru yang sangat kecil dan lemah menyala. Gas di dalam tabung melon tiga kilogram itu sudah hampir habis. Maya harus mengetuk-ngetuk tabung itu beberapa kali dengan sendok agar aliran gasnya sedikit lebih lancar.

​Sambil menunggu air mendidih, Maya mengambil sebuah piring plastik. Ia membuka tutup panci penanak nasi kecil yang sudah rusak tombol penghangatnya.

​Di dalamnya, hanya tersisa dua centong nasi putih yang sudah dingin dan sedikit mengeras.

​Maya menatap nasi sisa itu dengan pandangan kosong. Di lemari kecil bawah meja, tidak ada lauk pauk. Tidak ada telur. Tidak ada tempe. Yang tersisa hanyalah setengah botol kecap manis dan sekantong kecil garam dapur.

​Perut Maya berbunyi nyaring, meronta minta diisi. Ia meremas perutnya sendiri.

​Dengan sangat berhati-hati, Maya mengambil satu setengah centong nasi dan meletakkannya ke atas piring plastik hijau. Ia menuangkan kecap manis secukupnya di atas nasi tersebut, lalu mengaduknya hingga warnanya berubah kecokelatan.

​Sisa setengah centong nasi di dalam rice cooker ia biarkan saja. Ia tidak akan memakannya.

​Maya membawa piring berisi nasi kecap itu kembali ke balik tirai.

​”Bu, ayo makan dulu mumpung air mandinya belum mendidih,” ucap Maya dengan nada riang yang dibuat-buat.

​Ibunya membuka mata. Melihat hanya ada satu piring di tangan putrinya, kening wanita itu berkerut.

​”Kamu tidak makan, Nduk? Nasinya cuma satu piring?” tanya ibunya curiga.

​”Maya udah kenyang, Bu,” Maya kembali merangkai kebohongan yang sudah sangat fasih ia ucapkan setiap pagi. “Tadi subuh pas kebangun karena atap bocor, Maya laper banget. Jadi Maya udah makan duluan pakai sisa mie instan kemarin. Ini buat Ibu aja biar bisa minum obat.”

​Ibunya menatap perut Maya yang rata, namun ia tak memiliki tenaga untuk berdebat.

​”Sini, Ibu makan sendiri,” ibunya mencoba meraih piring itu.

​”Nggak usah, biar Maya yang suapin. Tangan Ibu masih gemetar,” tolak Maya halus.

​Maya menyendok nasi kecap itu, meniupnya perlahan meskipun nasinya sudah dingin, lalu menyuapkannya ke mulut ibunya. Wanita tua itu mengunyah dengan sangat lambat. Setiap kunyahan terlihat membutuhkan tenaga ekstra.

​Hanya butuh lima suapan sebelum ibunya menggelengkan kepala.

​”Sudah, Maya. Perut Ibu rasanya mual. Tidak bisa masuk lagi,” tolak ibunya dengan napas yang kembali berderik.

​Maya tidak memaksa. Ia tahu memaksakan makanan hanya akan membuat ibunya muntah dan kehilangan lebih banyak cairan tubuh.

​”Ya sudah. Sekarang minum obatnya ya, Bu.”

​Maya mengambil satu-satunya kapsul antibiotik dari dalam strip. Ia meletakkannya di telapak tangan ibunya, lalu memberikan segelas air. Setelah memastikan obat itu tertelan sempurna, Maya merapikan bantal ibunya, membiarkan wanita itu kembali berbaring dan memejamkan mata.

​Maya kembali ke dapur dengan membawa sisa nasi di piring.

​Ia berdiri di depan kompor. Air di dalam panci belum mendidih, hanya mengeluarkan buih-buih kecil karena api gas yang hampir mati.

​Maya menatap sisa nasi kecap di piringnya. Pertahanan logikanya menuntut kalori. Pekerjaannya di mal sangat menguras tenaga fisik. Jika ia tidak makan, ia bisa pingsan saat mengepel lantai.

​Dalam diam, Maya memakan sisa nasi kecap bekas ibunya itu. Ia makan sambil berdiri. Mengunyahnya dengan cepat tanpa meresapi rasanya. Baginya, makanan bukanlah sesuatu untuk dinikmati, melainkan sekadar bahan bakar agar tubuhnya tidak tumbang.

​Selesai makan, Maya mencuci piring plastiknya.

​Air di panci akhirnya mendidih. Maya mematikan kompor, mengangkat panci panas itu menggunakan kain lap kotor, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi kecil yang letaknya bersebelahan dengan dapur.

​Kamar mandi itu sangat sempit. Ukurannya hanya sekitar satu kali satu setengah meter. Lantainya terbuat dari semen kasar yang dipenuhi lumut hijau di sudut-sudutnya. Terdapat sebuah bak plastik berwarna merah yang airnya harus diisi secara manual, dan sebuah kloset jongkok yang porselennya sudah retak dan menguning.

​Maya mencampurkan air mendidih itu ke dalam ember berisi air dingin. Ia mandi dengan sangat cepat.

​Sabun batangan murah berwarna hijau yang ia gunakan hanya menyisakan busa tipis. Sabun itu membuat kulitnya terasa kesat dan semakin kering, sama sekali tidak memberikan kelembapan yang dibutuhkan oleh kulit yang terpapar debu jalanan setiap hari. Samponya dicampur dengan air agar bisa digunakan lebih lama.

​Tidak sampai sepuluh menit, Maya selesai membersihkan diri.

​Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang sudah kasar dan kehilangan ketebalannya. Sambil menggigil menahan dinginnya udara pagi yang masuk dari ventilasi yang bolong, Maya mengenakan pakaian kerjanya.

​Sebuah seragam kebersihan.

​Kemeja lengan pendek berwarna biru pudar dengan garis kuning kusam di bagian kerahnya. Celana bahan berwarna biru gelap yang potongannya tidak pas. Jahitannya di bagian paha dan lutut sudah mulai merenggang karena sering dicuci dan dikucek keras.

​Seragam itu terlihat kebesaran di tubuh Maya yang sangat kurus. Membuatnya terlihat seperti gantungan baju berjalan.

​Maya keluar dari kamar mandi. Ia berdiri di depan meja wastafel darurat di dapur.

​Di dinding batako tepat di atas keran air yang menetes pelan, tergantung sebuah cermin persegi berukuran kecil.

​Cermin itu adalah saksi bisu dari seluruh kemalangannya. Terdapat retakan panjang yang melintang diagonal di permukaannya, mulai dari sudut kiri atas, membelah bagian tengah, hingga berakhir di sudut kanan bawah. Pantulan siapa pun yang melihat ke dalamnya akan terlihat terpotong dan terdistorsi. Jamur-jamur mikroskopis berwarna hitam menggerogoti sudut-sudut bingkainya.

​Maya menatap pantulannya di cermin retak itu.

​Ia terdiam cukup lama.

​Wajah yang balas menatapnya dari balik kaca kusam itu adalah wajah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang telah dirampok masa mudanya oleh kemiskinan ekstrem.

​Kulit wajahnya berwarna gelap, kusam, dan terlihat sangat lelah. Tidak ada rona merah di pipinya. Tekstur kulitnya kasar, dipenuhi oleh flek hitam akibat paparan sinar matahari saat ia berjalan kaki, dan iritasi ringan akibat debu serta bahan kimia pembersih lantai yang selalu ia hirup setiap hari.

​Tulang pipinya menonjol kaku karena kekurangan gizi, membuat area di bawah matanya terlihat sangat cekung. Rahangnya sedikit asimetris, memberikan kesan wajah yang keras dan tidak seimbang. Kantung mata tebal berwarna kehitaman menggantung jelas di bawah kedua matanya, bukti dari malam-malam tanpa tidur demi menjaga ibunya yang terbatuk.

​Namun, dari semua ketidaksempurnaan fisik itu, yang paling mendominasi dan memperburuk penampilannya adalah sebuah kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.

​Kacamata itu berbingkai plastik tebal berwarna hitam yang modelnya sudah ketinggalan zaman satu dekade lamanya. Lensanya tebal karena silindernya cukup parah. Di bagian gagang sebelah kirinya, terdapat lilitan selotip hitam tebal yang melingkar tak beraturan.

​Selotip itu ia gunakan untuk menyambung gagang yang patah dua bulan lalu. Saat itu, ia sedang mengepel lobi mal dan tersenggol oleh sekumpulan anak muda kaya yang sedang berlarian. Kacamatanya jatuh dan terinjak. Mereka hanya tertawa dan pergi tanpa meminta maaf. Maya tidak punya uang untuk membeli bingkai baru, jadi ia merekatkannya sebisanya.

​Akibat lilitan selotip itu, kacamata Maya selalu terlihat miring saat dipakai. Melorot ke sisi kiri, membuat wajahnya terlihat semakin konyol dan tidak simetris.

​Maya menghela napas panjang. Helaan napas itu meniupkan sedikit uap ke permukaan cermin.

​”Kapan ya aku bisa ganti bingkai kacamata ini,” gumam Maya pelan, berbicara pada pantulannya sendiri. Ia menyentuh lilitan selotip hitam itu dengan ujung jarinya yang kasar. “Paling nggak biar nggak jatuh-jatuh terus kalau lagi nunduk ngepel.”

​Ia menatap matanya sendiri di cermin.

​Mata itu sebenarnya memiliki bentuk almond yang indah. Bola matanya berwarna cokelat gelap yang jernih. Namun keindahan kecil itu tenggelam oleh segala kekusaman yang membungkusnya.

​Di dunia ini, nilai seorang wanita sering kali ditakar dari seberapa indah wajahnya. Dan Maya sangat sadar diri, ia berada di urutan paling bawah dalam daftar tersebut. Ia telah menerima nasibnya bahwa ia tidak akan pernah dilirik oleh pria mana pun, tidak akan pernah dihormati oleh pengunjung mal, dan akan selalu menjadi objek hinaan rekan kerjanya.

​Maya mengalihkan pandangannya dari cermin. Ia tidak ingin merusak suasana hatinya lebih jauh.

​Ia mengambil sebuah sisir plastik yang giginya sudah banyak yang patah. Ia menyisir rambut hitamnya yang kusam, lepek, dan bercabang di ujungnya. Ia menarik seluruh rambutnya ke belakang, mengikatnya menjadi sebuah kuncir kuda yang sangat ketat dan kaku menggunakan karet gelang biasa.

​Standar penampilan dari manajemen mal sangat ketat, cleaning service tidak boleh memiliki rambut yang menutupi wajah atau terlihat berantakan saat sedang bekerja.

​Pukul 06:15 pagi.

​Waktunya berangkat. Maya kembali ke ruang depan. Ia mengambil tas ransel kanvas lusuhnya yang warnanya sudah pudar dari abu-abu menjadi putih kotor.

​Ia membuka dompet plastik kecilnya. Di dalamnya, hanya terdapat selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah sangat lecek, dan beberapa keping uang koin lima ratus rupiah. Totalnya mungkin tidak sampai dua belas ribu.

​Jantung Maya berdegup kencang menatap uang tersebut.

​Dua belas ribu rupiah. Ongkos angkot pulang-pergi ke mal adalah delapan ribu rupiah. Sisa empat ribu.

​Sementara harga satu strip obat antibiotik untuk ibunya adalah enam puluh lima ribu rupiah.

Dari mana aku bisa dapat uang untuk beli obat nanti sore? batin Maya menjerit panik. Gajinya baru akan turun minggu depan. Kasbon (utang) di warung sembako sudah mencapai batas maksimal dan pemilik warung tidak mau memberinya utangan lagi.

​Maya menutup dompet itu dengan tangan gemetar dan memasukkannya ke dalam tas. Ia akan memikirkannya nanti. Ia mungkin harus memohon kasbon pada Bu Ratna, meskipun ia tahu manajer galak itu kemungkinan besar akan menolak dan mempermalukannya di depan karyawan lain.

​Maya menghampiri ibunya yang sudah kembali terlelap damai karena efek obat antibiotik terakhirnya.

​Ia membungkuk dengan sangat pelan, mencium kening ibunya yang berkeringat.

​”Maya berangkat kerja dulu ya, Bu. Ibu baik-baik di rumah. Jangan banyak bergerak,” bisik Maya penuh kelembutan, memastikan suaranya tidak membangunkan wanita itu. “Nanti sore Maya pasti bawain obat Ibu.”

​Ia melangkah mundur, mengambil jaket parasit tipis yang warnanya tak jelas lagi, lalu keluar dari kontrakan. Ia mengunci pintu dari luar menggunakan gembok besi karatan yang ukurannya cukup besar, memastikan ibunya aman dari orang asing.

​Maya membalikkan badannya dan mulai berjalan menelusuri gang sempit menuju jalan raya.

​Udara pagi di perkampungan padat penduduk itu sangat khas. Matahari baru saja terbit, namun cahayanya tertutup oleh jemuran pakaian yang membentang di atas gang.

​Bau tanah basah sisa hujan, asap knalpot motor dua tak yang sedang dipanaskan oleh bapak-bapak yang akan berangkat ngojek, dan aroma bawang putih dari penjual nasi uduk di pinggir jalan menyatu menjadi sebuah harmoni urban yang menyesakkan dada.

​Jalanan gang itu belum diaspal sepenuhnya. Permukaannya terbuat dari paving blok yang tidak rata dan tanah liat yang kini berubah menjadi genangan lumpur kecokelatan akibat hujan semalam.

​Maya berjalan menunduk. Ia merapatkan jaket tipisnya untuk menghalau angin pagi. Matanya fokus ke bawah, berhati-hati melangkah agar sepatu bot karet hitam kusam yang ia kenakan tidak menginjak genangan lumpur yang terlalu dalam. Jika seragamnya kotor sebelum sampai di mal, ia akan dihukum membersihkan toilet seharian penuh.

​Langkahnya membawanya melewati deretan rumah petak yang berdempetan.

​Di pertengahan gang, Maya melihat sekumpulan ibu-ibu berdaster sedang berkerumun di depan gerobak sayur keliling. Mereka sedang memilah-milah kangkung dan cabai sambil tertawa keras, bertukar gosip pagi yang menjadi hiburan utama mereka.

​Saat Maya melintas dengan kepala tertunduk, tawa riuh di kumpulan itu mendadak terhenti.

​Suasana berubah menjadi bisik-bisik. Pandangan mata ibu-ibu itu mengikuti setiap pergerakan Maya layaknya lampu sorot. Maya menajamkan pendengarannya. Meskipun mereka berbisik, jarak yang sempit membuat suara mereka terdengar sangat jelas.

​”Eh, lihat tuh anak yatim itu. Pagi-pagi udah jalan nunduk aja. Nggak pernah negur kalau lewat,” celetuk seorang ibu berdaster merah dengan rambut digulung rol.

​”Iya, sombong banget ya gayanya. Mentang-mentang kerjanya di mal besar di Sudirman. Padahal kan di sana juga cuma jadi babu tukang pel,” sahut ibu lainnya, mencibir sambil menimbang tomat di tangannya.

​”Kasihan banget sih ibunya. Sakit-sakitan begitu ditinggal kerja terus tiap hari dari pagi sampai malam. Kalau ada apa-apa di rumah gimana coba? Anak zaman sekarang emang lebih mentingin dandan keluar rumah daripada ngerawat orang tua,” timpal ibu yang pertama dengan nada sok prihatin namun sarat akan penghakiman.

​”Dandan apanya? Liat aja tuh mukanya. Gelap, dekil, kacamata dilakban gitu. Sampai perawan tua juga nggak bakal ada laki yang mau nengok. Suram bener nasibnya.”

​Kekehan merendahkan terdengar dari kerumunan itu.

​Telinga Maya memanas. Rasa panas itu menjalar hingga ke ubun-ubunnya. Tangannya meremas tali tas ranselnya sangat kuat.

​Ia ingin sekali berhenti berjalan. Ia ingin menoleh, menatap ibu-ibu itu, dan berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah berniat menjadi sombong, ia menunduk karena ia terlalu lelah untuk tersenyum. Ia ingin membentak mereka yang dengan mudahnya menghakimi bahwa ia menelantarkan ibunya, padahal ia mempertaruhkan tulang punggungnya setiap hari justru agar ibunya bisa bernapas satu hari lebih lama.

​Tapi Maya menelan semua kemarahan itu kembali ke kerongkongannya.

​Ia tidak membalas. Ia tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan dengan ritme yang sedikit dipercepat, membiarkan dirinya menjadi samsak tinju bagi keangkuhan sosial warga sekitarnya.

​Melawan mereka hanya akan membuat gosip itu semakin liar. Mereka akan mengatakan bahwa anak Bu Asih kurang ajar dan tidak punya sopan santun. Dan jika gosip itu sampai ke telinga ibunya, wanita tua itu pasti akan menangis sedih. Maya tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia rela dihina ribuan kali asalkan ibunya tenang.

​Sesampainya di mulut gang yang terhubung langsung dengan jalan raya utama, Maya berdiri di pinggir trotoar yang berdebu. Suara klakson mobil dan deru mesin bus kota langsung menyerang pendengarannya.

​Ia menghentikan sebuah angkutan kota berwarna biru yang sedang melaju pelan mencari penumpang.

​Maya naik ke dalam angkot yang sudah cukup penuh itu. Ia memilih duduk di sudut paling pojok, di dekat pintu keluar. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding angkot, menarik kakinya agar tidak menyentuh sepatu penumpang lain yang terlihat jauh lebih bersih dan rapi darinya.

​Angkot itu melaju membelah kemacetan ibu kota.

​Melalui kaca jendela angkot yang terbuka dan berdebu, Maya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di sepanjang jalan Sudirman. Ia melihat mobil-mobil mewah mengkilap melintas di sebelahnya, dikemudikan oleh orang-orang dengan kemeja rapi dan wajah yang cerah.

​Dunia ini terbagi menjadi dua dimensi yang tidak akan pernah bersinggungan. Ada mereka yang duduk di dalam mobil mewah ber-AC dingin, dan ada dirinya yang duduk di pojok angkot yang berbau asap knalpot.

​Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Angkot akhirnya menepi di sebuah halte modern yang halte busnya terbuat dari kaca dan baja ringan.

​Maya menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah kepada supir angkot. “Kiri, Bang,” ucapnya pelan.

​Ia melangkah turun dari angkot.

​Tepat di hadapannya, menjulang sebuah bangunan raksasa yang menutupi sinar matahari pagi. Desain arsitekturnya bergaya Eropa kontemporer yang sangat megah dan mendominasi. Dinding luarnya terbuat dari panel-panel kaca raksasa yang memantulkan awan kelabu Jakarta bagaikan cermin raksasa. Pilar-pilar pualam putih berdiri kokoh menyangga atap lobi utamanya.

​Itulah Grand Atrium Mall.

​Bagi jutaan penduduk Jakarta kelas menengah ke atas, tempat ini adalah surga dunia. Pusat perbelanjaan paling elit, tempat mencari hiburan, mencicipi kuliner luar negeri, dan memamerkan status sosial tertinggi. Di dalam gedung ini, barang termurah yang dijual di etalase butiknya mungkin setara dengan biaya makan keluarga Maya selama satu bulan penuh.

​Namun bagi Maya, kemegahan bangunan itu tidak memberikan kebanggaan. Baginya, Grand Atrium Mall adalah sebuah penjara kapitalis berpendingin ruangan. Sebuah arena gladiator tanpa ampun di mana ia ditempatkan di posisi paling dasar dari rantai makanan manusia.

​Ia tidak berjalan menuju pintu kaca lobi utama yang megah dan dijaga oleh pria-pria bersetelan rapi itu. Ia tidak pantas masuk dari sana.

​Maya menundukkan wajahnya, berjalan menyusuri trotoar luar, lalu berbelok ke arah sebuah jalan menurun berbahan beton kasar yang letaknya tersembunyi di sisi paling kiri gedung.

​Itu adalah jalur logistik dan pintu masuk khusus karyawan. Tempat di mana truk-truk pengangkut sampah dan supplier barang beroperasi. Tempat di mana orang-orang dengan seragam kusam seperti dirinya harus menyembunyikan eksistensi mereka agar tidak merusak keindahan pemandangan para pengunjung elit di lantai atas.

​Begitu Maya melangkah menuruni ramp beton itu, cahaya matahari seketika lenyap, digantikan oleh temaram lampu neon basement. Udara segar tergantikan oleh hawa lembap yang sangat pekat, berbau campuran gas buang diesel dari generator mal dan bau busuk samar dari tempat penampungan sampah di ujung terowongan.

​Maya melangkah masuk ke dalam perut bumi Grand Atrium.

​Ia berjalan menyusuri lorong beton yang panjang dan bergema. Tujuannya adalah ruang fingerprint (mesin absensi) dan loker karyawan.

​Langkah sepatunya berdecit pelan. Suasana basement pagi itu masih belum terlalu ramai, hanya ada beberapa petugas security dan staf teknisi yang berlalu lalang dengan wajah mengantuk.

​Maya mendekati mesin absensi yang tertempel di dinding beton. Ia menempelkan jari telunjuknya yang kasar ke pemindai kaca berwarna hijau tersebut.

Tit. Terima Kasih. Suara mesin otomatis itu menandakan bahwa ia tepat waktu. Jika ia telat satu menit saja, mesin itu akan berbunyi berbeda dan gajinya hari itu otomatis dipotong dua puluh persen. Sebuah sistem tanpa toleransi.

​Maya membalikkan badannya, berniat menuju ruang ganti khusus wanita untuk meletakkan tasnya sebelum jadwal briefing pagi dimulai.

​Namun, baru dua langkah ia berjalan menjauhi mesin absensi, sebuah suara teriakan yang melengking sangat tajam dan kasar membelah kesunyian lorong basement tersebut, menggema memantul di dinding beton.

​”Heh! Maya! Jangan ke ruang ganti dulu! Berhenti di situ!”

​Maya terlonjak kaget. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan.

​Ia memutar tubuhnya dengan cepat. Dari arah ujung lorong dekat pintu lift barang, seorang wanita sedang berjalan cepat menghampirinya dengan raut wajah yang merah padam karena emosi.

​Itu adalah Bu Ratna. Manajer operasional kebersihan.

​Wanita tambun berseragam blazer abu-abu itu memegang sebuah papan jadwal (clipboard ) kayu di tangannya, mengetuk-ngetukkannya dengan kasar ke pahanya sendiri. Napasnya memburu, matanya melotot tajam mengunci posisi Maya.

​Melihat kedatangan atasannya yang sedang mengamuk di pagi buta seperti ini, perut Maya mendadak mual. Keringat dingin merembes di pelipisnya.

​Ia belum mulai bekerja. Ia belum menyentuh alat pel. Apa yang salah? Kesalahan apa yang ia buat kemarin yang baru diketahui hari ini? Apakah ia akan dipecat sebelum sifnya dimulai?

​Pikiran Maya berputar liar mencari jawaban, sementara hak sepatu Bu Ratna semakin dekat berketuk di lantai beton, bersiap menerkamnya di dalam kegelapan basement yang tak memiliki jalan keluar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin Anda Suka ini
SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 38 ~ Puncak Mahakarya

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 37 ~ ​Kebangkitan Sang Predator

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 36 ~ ​Penjara Anggrek Hitam

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 35 ~ Gravitasi Predator

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 34 ~ Bayang-bayang Pengintai

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

SIMETRI BAB 33 ~ Titik Didih

Populer
No popular posts within this time range.